cover
Contact Name
Muhrisun Afandi
Contact Email
risonaf@yahoo.com
Phone
+6282242810017
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat
ISSN : 25983865     EISSN : 26143461     DOI : https://doi.org/10.14421/panangkaran
Jurnal Panangkaran merupakan jurnal Assosiasi Peneliti Agama-agama yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai media komunikasi hasil penelitian para peneliti, ilmuwan dan cendekiawan. Tujuannya adalah untuk mewadahi, menyebarluaskan dan mendialogkan wacana ilmiah di bidang penelitian sosial keagamaan. Naskah yang dimuat dalam jurnal berasal dari hasil-hasil penelitian maupun kajian-kajian kritis para peneliti agama atau akademisi yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sosial keagamaan, kelekturan, pendidikan dan keagamaan, agama dan sains. Jurnal terbit setahun 2 kali pada bulan Juni dan Desember.
Articles 161 Documents
Peranan Etnis Arab Melayu dalam Pengembangan Moderasi Beragama Alamsyahbani
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i1.4237

Abstract

Religious moderation is a religious attitude that is not extreme, balanced, and open to differences. In the pluralistic society of Jambi City, moderation values play an important role in maintaining social harmony. This study aims to analyze the role of the Arab-Malay ethnicity in strengthening religious moderation in Jambi City. The method used is descriptive qualitative with an ethnographic approach. Data were collected through observation and interviews with Arab-Malay community leaders. The results showed that the Arab-Malay ethnicity plays an active role through religious, educational, social activities, and interfaith dialog. The example of daily behavior is the main means in spreading the value of moderation to fellow religious communities. This finding confirms that the role of the Arab-Malay community is very important in building social harmony and stability in Jambi City.   [Moderasi beragama adalah sebuah konsep yang mengacu pada cara pandang, sikap, dan perilaku beragama yang moderat, tidak ekstrem, dan terbuka terhadap perbedaan. Indonesia merupakan Negara yang majemuk, yang didalamnya terdapat berbagai agama dan kepercayaan, termasuk di kota jambi. Mayoritas penduduk kota jambi memeluk agama islam, namun terdapat juga pemeluk agama lain, seperti katolik, protestan, hindu, budha dan lain sebagainya yang juga hidup berdampingan, aman, damai, dan sejahtera. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran etnis Arab Melayu dalam pengembangan moderasi beragama di Kota Jambi. Sebagai salah satu kelompok etnis yang memiliki pengaruh signifikan dalam sejarah dan budaya lokal, etnis Arab Melayu memiliki peran penting dalam mempromosikan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan beragama di masyarakat Jambi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografis, yang melibatkan observasi, serta wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etnis Arab Melayu di Kota Jambi berkontribusi secara aktif dalam penyebaran paham moderat melalui berbagai kegiatan seperti kegiatan  keagamaan, pendidikan, dan sosial. Menurut mereka salah satu cara penyebaran paham moderat yang efektif dalam beragama ialah dengan menunjukkan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari kepada sesama muslim maupun non muslim, sehingga masyarakat nantinya akan merasakan keindahan dan kesejukan dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka juga terlibat dalam dialog lintas agama yang bertujuan untuk memperkuat kerukunan dan toleransi antarumat beragama, karena sejatinya, semua agama selalu mengajarkan kedamaian dan cinta kasih, bukan saling mencaci maki, merendahkan, ataupun menjelekkan agama lain. Kesimpulannya, peran etnis Arab Melayu sangat krusial dalam membangun dan memelihara moderasi beragama di Kota Jambi, yang pada akhirnya berkontribusi pada stabilitas sosial dan harmonisasi antar komunitas.]
Evaluasi Sistem Seleksi Pamong Desa oleh LPPM UIN Sunan Kalijaga Tahun 2019- 2022 Sa'adah, Nurus
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i1.4248

Abstract

The selection system is made so that the selection process and results are maintained in accuracy. But in reality, the selection of village leaders in several places causes problems. In order to avoid problems as in some places, it is necessary to evaluate the village head selection system by LPPM UIN Sunan Kalijaga which started from 2019 to 2022. Therefore, this study aims to evaluate the accuracy of assessment instruments, the accuracy of the selection process, and the accuracy of the assessment decision mechanism in the village head selection activities carried out by LPPM UIN Sunan Kalijaga in serving the selection of village head for three years, namely in the 2019-2022 range. To obtain maximum results, this research was conducted using the CBR (Community Based Research) model with FGD techniques involving  representatives of the Bantul Regency PMK Office, deputy village officials, and internal assessor. The results show that the selection instruments, selection process, and selection decision-making mechanism used by the LPPM UIN Sunan Kalijaga are appropriate in accordance with their respective regional regulations.   [Sistem seleksi dibuat agar proses dan hasil seleksi terjaga akurasinya. Namun pada kenyataannya, seleksi pamong desa di beberapa tempat menimbulkan permasalahan terkait akurasi hasil. Agar tidak muncul masalah sebagaimana di beberapa tempat, maka perlu dilakukan evaluasi sistem seleksi pamong desa oleh LPPM UIN Sunan Kalijaga yang dimulai sejak tahun 2019 hingga 2022. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketepatan instrumen asesmen, ketepatan proses/tahapan seleksi, dan ketepatan mekanisme keputusan asesmen dalam kegiatan seleksi pamong desa yang dijalankan oleh LPPM UIN Sunan Kalijaga dalam melayani seleksi pamong desa selama tiga tahun yaitu pada rentang tahun 2019-2022. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model CBR (Community Based Research) dengan teknik FGD (Focus Group Discussion) yang melibatkan wakil Dinas PMK Kabupaten Bantul,  wakil pamong desa, dan asesor internal. Hasil menunjukkan bahwa instrumen seleksi, proses seleksi, dan mekanisme pembuatan keputusan seleksi yang dilakukan LPPM UIN Sunan Kalijaga sudah tepat sesuai dengan peraturan daerah masing-masing.]
Keadilan sosial dalam perspektif Alquran dan Pancasila Jamiah, Khoiriatal; Edi Hermanto; Reyhan Febriansyah; Wahyu Perdana
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i1.4278

Abstract

Social justice has always been the most significant component in determining the orientation and objectives of social life. Issues frequently arise in relation to social discrepancies initiated by ensuing injustices, this further instigates crucial tension among groups, particularly in the field of economic welfare. As a unitary state, Indonesia has high aspirations of accomplishing life goals that rise up from the spirit ideology of Pancasila. As an ideology, Pancasila is not an objective, it functions as a means of achieving an objective. The objective of such mutual perspective of life is nothing but the creation of a developed, prosperous, and wealthy society in which it is embodied in the spirit of social justice. This study attempts to uncover substantial matters pertaining to the concept of social justice according to Al-Qur’an and Pancasila, wherein both are inseparable from the spirit of the Indonesian community in a broad sense. As a Muslim living in Indonesia, Al-Qur’an and Pancasila have become indivisible. They serve as a foundation and guidance in attaining a wealthy and prosperous life. In this context, I try to find the point of agreement on the concept of social justice between Al-Qur’an and Pancasila in order to find similarities or harmony between the two. My aim is to synergize the power of religion and the power of state ideology in order to easily accomplish the objectives and aspirations of civil society.   [Keadilan sosial selalu menjadi komponen paling signifikan dalam menentukan orientasi dan tujuan kehidupan sosial. Isu-isu sering muncul terkait dengan kesenjangan sosial yang diawali oleh ketidakadilan berikutnya, hal ini selanjutnya memicu ketegangan krusial di antara kelompok-kelompok, khususnya di bidang kesejahteraan ekonomi. Sebagai negara kesatuan, Indonesia memiliki aspirasi tinggi untuk mencapai tujuan hidup yang muncul dari semangat ideologi Pancasila. Sebagai sebuah ideologi, Pancasila bukanlah tujuan, ia berfungsi sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan dari perspektif kehidupan bersama tersebut tidak lain adalah terciptanya masyarakat yang maju, sejahtera, dan kaya yang di dalamnya terwujud dalam semangat keadilan sosial. Penelitian ini mencoba untuk mengungkap hal-hal substansial yang berkaitan dengan konsep keadilan sosial menurut Alquran dan Pancasila, di mana keduanya tidak dapat dipisahkan dari semangat masyarakat Indonesia dalam arti luas. Sebagai seorang Muslim yang tinggal di Indonesia, Alquran dan Pancasila telah menjadi tidak terpisahkan. Mereka berfungsi sebagai landasan dan pedoman dalam mencapai kehidupan yang kaya dan sejahtera. Dalam konteks ini, saya mencoba menemukan titik temu mengenai konsep keadilan sosial antara Al-Qur'an dan Pancasila untuk menemukan persamaan atau keselarasan di antara keduanya. Tujuan saya adalah mensinergikan kekuatan agama dan kekuatan ideologi negara agar tujuan dan aspirasi masyarakat sipil dapat tercapai dengan mudah.]
Tahlilan dalam Budaya Islam: Antara Tradisi Keagamaan dan Transformasi Sosial-Ekonomi Rakhmi, Atik; Robiansyah, Firman; Rhamadani, Putri; Anisa, Siti
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i2.4274

Abstract

Tahlilan is a tradition that has been embedded in the culture of the Indonesian Muslim community and is often considered an obligation in commemorating death. For some people, tahlilan is not only a religious activity, but also reflects the social dynamics of community interaction. In addition to its religious value, tahlilan tradition can also bring socio-economic impacts, especially for families who have financial limitations. The literature review research method was chosen in this study with the aim of analyzing the tahlilan tradition as an Islamic socio-cultural phenomenon that affects the lives of Indonesian people in religious, social and economic essence. By utilizing literature review, this research is able to explore the meaning of tahlilan in the religious traditions that develop in Indonesian society and examine the transformation of socio-economic pressures that affect tahlilan events. The results show that tahlilan can reflect the social dynamics of Indonesian society, but the socio-economic pressures that arise in holding tahlilan traditions often make sincerity in worship a little marginalized by a sense of obligation that is more cultural. However, with the advancement of economic lifestyles, in big cities tahlilan events have diminished. Although for some people, tahlilan has become an economic pressure due to the expense, it does not prevent them from carrying out this tradition.
Islam Nusantara sebagai Paradigma Ustadz Hanan Attaki Hasan, Ahmad
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i2.3330

Abstract

Particularly in Indonesia, Islam Nusantara is a view initiated by Nahdlatul Ulama (NU) in response to geographical dispersion. Traditionalist Islam, also known as Islam Nusantara, is a Sufi-inspired orientation and is often generalized in NU discourse as Indonesian Islam, thereby ignoring the differences between the two. It is a hybrid form of Islam developed mainly in Java since the 16th century, which gradually blended with Javanese adat (customary law), Hinduism, Buddhism, and mystical practices. Through this argument, the phenomenon of hijrah, especially in Indonesia, has become the author's concern, one of which is the latest, namely the inclusion of Ustad Hannan Attaki in the largest organization in Indonesia, even the world, namely Nahdlatul Ulama. This study aims to describe aspects of Nahdlatul Ulama-style Islam Nusantara that can influence Ustad Hannan Attaki's views. This research is a type of descriptive qualitative research with various literature reviews. The results of this article show that the authority of Kiai as the main component of Nusantara Islam has influenced Ustad Hanan Attaki's thinking paradigm, especially through the figure of KH. Marzuki Mustamar. For Ustaz Hanan Attaki, KH. Marzuki is not only a representation of scientific sanad, but also a role model. He realizes that adhering to Ahlusunnah wal Jamaah is not enough without NU attachment, so allegiance to Nahdlatul Ulama is a form of commitment to peaceful da'wah.
Makna dan Peran Tradisi Nyadran dalam Kehidupan Sosial Keagamaan Masyarakat Jawa: Studi Kasus di Sidoarjo Alivia Anjelita Syafa Rizqi; Agus Machfud Fauzi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i2.3893

Abstract

The Nyadran tradition is one of the religious and cultural rituals that has been going on for a long time and is still maintained by the Javanese people, including in Sidoarjo Regency. Amidst the dynamics of social change and modernization, the continuity of the Nyadran tradition has become an interesting phenomenon to study, especially in relation to how people interpret and practice it in contemporary socio-religious life. This study aims to analyze the meaning and role of the Nyadran tradition in the socio-religious life of the Javanese community in Sidoarjo Regency. This study uses a qualitative method with an ethnographic approach. Data collection was carried out through participant observation, in-depth interviews with community leaders, religious leaders, and residents directly involved in the implementation of Nyadran, as well as documentation studies. Data analysis uses Max Weber's social action theory to understand the motives and subjective meanings of people's actions in following the Nyadran tradition, as well as Clifford Geertz's symbolic theory to interpret Nyadran as a symbolic system that represents and shapes the Javanese people's worldview. The results of the study show that the Nyadran tradition has multidimensional meanings. Spiritually, Nyadran is understood as a form of respect and prayer to ancestors as well as a means of self-reflection in preparing to welcome the holy month of Ramadan. Socially, this tradition functions as a mechanism for strengthening solidarity, mutual cooperation, and social equality through collective practices such as cleaning graves, praying together, and holding feasts. Culturally, Nyadran plays an important role in preserving local values and maintaining Javanese cultural identity amid the tide of modernization. Thus, Nyadran not only survives as a cultural heritage, but also as a dynamic and relevant socio-religious practice in the lives of modern Javanese society.
Tradisi Ondangan di Cigugur: Analisis Nilai Moderasi Beragama Berdasarkan Teori Empat Pilar Moderasi Beragama Abdul Mun'em Choiri; Fikrul Maarif Saleh; Ida Farida; Irfandi Andika Putra; Irma Riyani; Salma Fauziah
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i2.4053

Abstract

This study delves into the Ondangan tradition of Cigugur, a cultural practice rich in communal and spiritual significance, through the lens of the Four Pillars of Religious Moderation. The Ondangan tradition, deeply rooted in the social fabric of Cigugur offers a unique window into how religious moderation can be practiced and upheld in a diverse society. By employing a descriptive-qualitative approach, this research uncovers how the four pillars—national commitment, tolerance, non-violence, and cultural accommodation—are intricately woven into this tradition. The findings reveal that Ondangan not only nurtures social cohesion and mutual respect among diverse religious groups but also embodies a living example of how local traditions can harmonize with broader religious values. This study highlights the Ondangan tradition as a powerful model for fostering inclusivity, promoting peace, and preserving cultural identity in a pluralistic world.
Islam Kebangsaan Inklusif Formulasi Gagasan Islam Rahmat Lil 'Alamin dan Bhinneka Tunggal Ika Alfanny, M. Sa'ad; Yusuf, Kamal; Daud, Fathonah K.
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i2.4256

Abstract

The era of globalisation has changed the way Indonesian society perceives the relationship between Islam and nationality. The flow of global information has expanded intercultural interactions but has also given rise to political polarisation, digital tribalism, and a crisis of social tolerance. This study, through a descriptive-reflective approach, seeks to reformulate the relevance of integrating the Islamic value of Raḥmatan li al-‘Ālamīn and the spirit of Bhinneka Tunggal Ika as an ethical paradigm in responding to the challenges of contemporary plurality. The results of the study gave birth to the concept of Inclusive National Islam, a religious paradigm that places compassion, justice, and universal humanity at the core of national morality. In socio-political practice, this idea is realised through a movement of religious moderation and the development of an ecosystem of moderation that fosters dialogue, critical reflection, and national solidarity. Thus, Inclusive National Islam is not only a conceptual offering but also a practical model that strengthens social cohesion and reinforces Indonesian civilisation rooted in Islamic spirituality and the spirit of diversity.
Relevansi Pendidikan Islam dalam Membangun Kepemimpinan Remaja di Era Digital Ahmad Hasni; Nurhayati Nadra
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i2.4554

Abstract

Kepemimpinan remaja di era digital menjadi isu penting karena perkembangan teknologi dan globalisasi memengaruhi pola pikir, interaksi, serta perilaku generasi muda. Kondisi ini melahirkan tantangan berupa derasnya arus informasi, penyebaran hoaks, tekanan media sosial, hingga melemahnya nilai moral dan karakter remaja. Rumusan masalah penelitian ini menitikberatkan pada pengaruh era digital terhadap pembentukan kepemimpinan remaja, tantangan yang dihadapi pendidikan Islam di tengah arus globalisasi, serta perannya dalam mengembangkan kecerdasan emosional, sosial, dan etika kepemimpinan. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji bagaimana pendidikan Islam mampu merespons dampak negatif media sosial dan membentuk kepemimpinan remaja yang adaptif serta relevan dengan tuntutan zaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami peran pendidikan Islam dalam membangun kepemimpinan remaja dengan mengintegrasikan nilai agama dan keterampilan praktis sehingga mereka dapat tampil sebagai pemimpin yang bijak, adil, dan berintegritas. Penelitian ini menggunakan studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif yang menelaah literatur mengenai pendidikan Islam dan kepemimpinan remaja di era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak hanya dipahami sebagai sarana pengajaran agama, tetapi juga sebagai fondasi pembentukan karakter dan keterampilan sosial. Integrasi nilai-nilai Islam dengan kecakapan praktis dipandang mampu memberi arah bagi remaja dalam menghadapi arus digitalisasi, sehingga lahir kepemimpinan yang adaptif, visioner, dan bertanggung jawab di dunia nyata maupun maya.
Peran Nilai Dalihan Na Tolu terhadap Berdirinya Gereja HKBP Purwokerto dari Perspektif Teori Solidaritas Sosial Emile Durkheim Juan Gabriel; Tony Tampake; Gunawan Y.A. Suprabowo
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i2.4565

Abstract

Penelitian ini menganalisis peran nilai Dalihan Na Tolu dalam pendirian Gereja HKBP Purwokerto dengan menggunakan perspektif teori solidaritas sosial Emile Durkheim. Penelitian ini menyoroti bagaimana sistem kekerabatan Batak Toba, yaitu Dalihan Na Tolu memfasilitasi pembentukan rasa kebersamaan dan solidaritas di antara anggota jemaat Gereja HKBP Purwokerto. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif ini adalah penelitian yang memiliki sifat deskriptif karena peneliti harus mendeskripsikan keadaan sosial. Pengumpulan data dari penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi dan wawancara. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Temuan ini menegaskan bahwa peran nilai Dalihan Na Tolu seperti menjaga rasa hormat dan tata krama; meningkatkan tanggung jawab sosial; menjaga keharmonisan dalam masyarakat; dan mempererat persaudaraan atau kohesi sosial dalam menjalani kehidupan tentu sejalan dengan prinsip solidaritas sosial Emile Durkheim, secara khusus solidaritas mekanik di mana kesamaan latar belakang, kepercayaan, dan nilai-nilai budaya menciptakan ikatan sosial yang kuat dalam mendirikan Gereja HKBP Purwokerto.