cover
Contact Name
Muhrisun Afandi
Contact Email
risonaf@yahoo.com
Phone
+6282242810017
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat
ISSN : 25983865     EISSN : 26143461     DOI : https://doi.org/10.14421/panangkaran
Jurnal Panangkaran merupakan jurnal Assosiasi Peneliti Agama-agama yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai media komunikasi hasil penelitian para peneliti, ilmuwan dan cendekiawan. Tujuannya adalah untuk mewadahi, menyebarluaskan dan mendialogkan wacana ilmiah di bidang penelitian sosial keagamaan. Naskah yang dimuat dalam jurnal berasal dari hasil-hasil penelitian maupun kajian-kajian kritis para peneliti agama atau akademisi yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sosial keagamaan, kelekturan, pendidikan dan keagamaan, agama dan sains. Jurnal terbit setahun 2 kali pada bulan Juni dan Desember.
Articles 161 Documents
Tradisi Jamasan Pusaka Pada Bulan Suro: Penggabungan Nilai Budaya Jawa dan Ajaran Agama Islam Arisky, Leariska; Agus M. Fauzi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i1.3407

Abstract

The jamasan heirloom tradition or what is usually called the keris washing tradition is a growing tradition and is found in many areas, especially the island of Java. Jamasan heirloom is a tradition or ritual carried out on the night of the month of Suro, the aim of which is none other than to obtain safety, avoid disaster, ask for forgiveness and other religious matters. This research aims to find out what meaning is actually contained in this jamasan heirloom tradition, and the relationship between the keris and religion. This research uses a qualitative research method with Murray Edelman's framing analysis approach. The theory used in this research is the theory of the soul. The theory of the soul has an important role and is closely related to human beliefs regarding spiritual values. The results of the framing analysis of the content that discusses the heirloom jamasan tradition in the month of Suro is the tradition of washing or bathing heirloom objects using lime juice which is done every Suro month solely to clean the keris or heirloom objects from dirt. In the current era, people still carry out this tradition only to preserve a culture, there are no mystical or other religious elements. But apparently, there are still some people today who carry out this tradition for reasons of belief and an effort to leave behind the bad things from the previous year. [Tradisi Jamasan pusaka atau biasa disebut tradisi mencuci keris merupakan tradisi yang berkembang dan banyak ditemukan di daerah khususnya pulau Jawa. Jamasan pusaka merupakan tradisi atau ritual yang dilakukan pada malam bulan Suro, tujuannya tidak lain adalah untuk mendapatkan keselamatan, menghindarkan malapetaka, meminta ampun dan hal-hal berbau agamis lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna apa yang sebenarnya terkandung dalam tradisi jamasan pusaka ini dan kaitannya keris dengan agama. Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis framing milik Murray Edelman. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori jiwa. Teori jiwa memiliki peranan yang penting dan memiliki hubungan yang erat dengan keyakinan-keyakinan manusia mengenai nilai spiritual. Hasil analisis framing pada konten yang membahas tradisi jamasan pusaka pada bulan Suro ini adalah tradisi mencuci atau memandikan benda pusaka menggunakan perasan air jeruk nipis yang dilakukan setiap bulan Suro semata-mata hanya untuk membersihkan keris atau benda pusaka dari kotoran. Pada era saat ini, masyarakat yang masih melakukan tradisi ini hanya untuk melestarikan sebuah budaya, tidak ada unsur hal-hal mistis atau religius lainnya. Namun, masih terdapat juga beberapa masyarakat zaman sekarang melakukan tradisi ini sebab alasan kepercayaan dan upaya untuk meninggalkan hal buruk dari tahun sebelumnya.]
Melampaui Ritual: Tribuana Manggala Bhakti sebagai Ruang Perjumpaan Lintas Agama di Kulon Progo M Naufal Firosa Ahda; Amalia Hamida, Nur
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i1.3427

Abstract

Interreligious dialogue is still often characterised as a form of dialogue that is ideally organised formally and represented by religious leaders, elites, and government officials. Dialogue, which tends to be rigid and limit access to most of the community, is a challenge in the context of interreligious dialogue in presenting a more inclusive space that allows for broader community involvement. This research aims to explore interreligious relations through the Tribuana Manggala Bhakti tradition in the Jatimulyo Village community, Kulon Progo, Yogyakarta Special Region. A qualitative research method with a case study approach was used as a tool for obtaining data in the field. The subjects in this study amounted to four people who came from among residents, interfaith youth, religious leaders, and community leaders. The results of the study show that the Tribuana Manggala Bhakti tradition has transformed its meaning from a symbol of Buddhist tradition to a social symbol of society in general, so that it goes beyond its functions as a ritual. The shift in meaning in the tradition is due to several factors, namely: the support of the village government, having local wisdom values that are relevant to community life, and the emergence of enthusiasm and community participation in the success of the event. The challenges currently faced are related to the participation of the village youth, who are gradually decreasing in their participation to maintain and be involved, so that in the future, the tradition requires the role of youth on an ongoing basis in an effort to maintain that the space for interfaith encounters still exists in Jatimulyo Village. [Dialog lintas agama masih sering dipahami sebagai suatu cara yang idealnya dilakukan secara formal dan diwakili oleh para pemuka agama dan pejabat pemerintah. Dialog yang cenderung kaku dan membatasi akses sebagian besar masyarakat, menjadi tantangan tersendiri pada konteks dialog lintas agama dalam menghadirkan ruang yang lebih inklusif serta memungkinkan keterlibatan masyarakat secara luas. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana tradisi Tribuana Manggala Bhakti muncul dan bertransformasi menjadi kegiatan serta ruang perjumpaan lintas agama masyasrakat Desa Jatimulyo. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus digunakan sebagai alat dalam mendapatkan data di lapangan. Subjek dalam penelitian ini berjumlah empat orang yang berasal dari kalangan warga, pemuda lintas agama, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Hasil studi menunjukkan bahwa tradisi Tribuana Manggala Bhakti mengalami pergeseran makna, dari simbol tradisi warga agama Buddha ke simbol sosial masyarakat secara umum. Bergesernya makna dalam tradisi tersebut dikarenakan beberapa faktor yakni: adanya dukungan dari kalangan pemerintah desa, memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan masyarakat, dan munculnya antusias serta keikutsertaan masyarakat dalam menyukseskan acara tersebut. Adapun tantangan yang saat ini dihadapi terkait denganadalah soal keikutsertaan para pemuda desa yang lambat laun mengalami penurunan dalam partisipasinya untuk merawat dan terlibat, sehingga kedepannya tradisi tersebut memerlukan peran pemuda secara berkelanjutan dalam upaya menjaga agar ruang perjumpaan lintas agama masih tetap ada di Desa Jatimulyo]
Ekspresi Kebahasaan terhadap Liyan pada Portal Hidayatullah.com: Critical Discourse Analysis Hatta, Juparno; Sofia, Adib
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i1.3595

Abstract

Discourse in the media is always interesting to observe because it is produced by members of society, contains people's lives, and is enjoyed by society. This paper sees discourse not just as an arrangement of ideas in letters, phrases, sentences and paragraphs, but as a form of linguistic expression of writers or media managers who have backgrounds and perspectives. The Hidayatullah.com portal is the discourse observed in this paper, especially in linguistic expressions regarding parties or figures that are considered the other. This paper, which is library research with an interpretative descriptive mechanism, uses critical discourse analysis conceptualized by Norman Fairclough. This paper sees that Hidayatullah.com contains linguistic expressions that form demarcations through certain stereotypes of the other. Judging from linguistic expression, this portal builds social categories in the form of in-group-love and out-group-hate and in the context of talking about others and constructing other's identities in the second category. Furthermore, this paper reveals the background and perspective built through discourse in the media. [Wacana dalam media selalu menarik untuk diamati karena diproduksi oleh anggota masyarakat, memuat kehidupan masyarakat, serta dinikmati oleh masyarakat. Tulisan ini melihat wacana bukan sekadar susunan ide dalam huruf, frasa, kalimat dan paragraf, melainkan sebagai wujud ekspresi kebahasaan penulis atau pengelola media yang memiliki latar belakang dan perspektif. Portal Hidayatullah.com merupakan wacana yang diamati dalam tulisan ini, khususnya dalam ekspresi kebahasaan mengenai pihak atau figur yang dianggap the other atau liyan. Tulisan yang bersifat library research dengan mekanisme deskriptif interpretatif ini menggunakan critical discourse analysis atau analisis wacana kritis yang dikonsep oleh Norman Fairclough. Tulisan ini melihat Hidayatullah.com memuat ekspresi kebahasaan yang membentuk demarkasi melalui stereotipe tertentu kepada liyan. Dilihat dari ekspresi kebahasaan, portal ini membangun kategori sosial dalam bentuk in group-love dan out group-hate dan dalam konteks pembicaraan tentang liyan serta mengkonstruksi identitas liyan dalam kategori yang kedua. Selanjutnya, tulisan ini mengungkap latar belakang dan perspektif yang dibangun melalui wacana dalam media tersebut.]
Eksplorasi Nilai Moderasi Beragama Melalui Kearifan Lokal di Desa Kandangtepus Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Agustiningsih, Maulida Dwi; Salsabila, Audy Nauristmaeda Naftalena; Kamila, Faizzatul; Dahlan, Shafira Munawwaroh; Hikam, Ach. Nabilul; Mufidah, Naili Alvi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i1.3608

Abstract

The dynamics of social change and globalization present challenges for heterogeneous communities to maintain harmony and respect religious differences. Religious pluralism is a solid foundation in shaping local identity and character. Religious moderation is relevant in the context of a plural and multicultural society. Religious moderation emphasizes a middle, balanced, and tolerant attitude. One area in Indonesia that reflects diversity is Kandangtepus village, Senduro, Lumajang, East Java. Kandangtepus Village is home to various religious communities living in harmony and practicing tolerance and respect for diversity. This research aims to describe and explore the local wisdom of the Kandangtepus community in maintaining religious harmony and analyzing the values ​​of moderation. The method used is qualitative research of the phenomenological type or research that discusses a phenomenon in a living environment. The research results show that the value of religious moderation in local wisdom in Kandangtepus consists of tawasuth, tasamuh, i'tidal, muwathohah and anti-violence. Tawassuth means taking the middle path, tasamuh implies an attitude of tolerance towards differences, i'tidal means being objective, and muwathohah is defined as love of one's country. Some of the local wisdom in Kandangtepus village includes: ater-ater, village alms, village salvation and ruwatan. Based on evidence of the phenomenon of local wisdom practices in Kandangtepus village, the value of religious moderation in Kandangtepus village is declining. Even though the community has begun not to contribute to existing local wisdom, the form of tasamuh or tolerance of the Kandangtepus village community is still maintained, as evidenced by several local wisdoms that still exist, such as: ater-ater, ruwatan and village alms.[Dinamika perubahan sosial dan arus globalisasi memunculkan tantangan bagi komunitas heterogen untuk menjaga harmoni dan menghargai perbedaan agama. Pluralisme agama menjadi landasan yang kokoh dalam membentuk identitas dan karakter lokal. Moderasi beragama relevan dalam konteks masyarakat yang plural dan multikultural. Moderasi beragama menekankan pada sikap tengah, seimbang dan toleran. Salah satu daerah di Indonesia yang mencerminkan keberagaman adalah desa Kandangtepus, Senduro, Lumajang, Jawa Timur. Desa Kandangtepus menjadi rumah bagi beragam komunitas agama yang hidup berdampingan dalam harmoni dan mengamalkan prinsip toleransi serta menghargai keberagaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengeksplorasi kearifan lokal masyarakat Kandangtepus dalam memelihara kerukunan beragama serta menganalisis nilai-nilai moderasi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif jenis fenomenologi atau penelitian yang membahas sebuah fenomena dalam suatu lingkungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai moderasi beragama dalam kearifan lokal di Kandangtepus terdiri dari tawasuth, tasamuh,  i'tidal, muwathohah dan anti kekerasan. Tawassuth artinya mengambil jalan tengah, tasamuh berarti sikap toleransi terhadap perbedaan, i’tidal artinya bersikap objektif dan muwathohah diartikan sebagai cinta tanah air. Beberapa kearifan lokal di desa Kandangtepus antara lain: ater-ater, sedekah desa, selamatan desa dan ruwatan. Selain itu, berdasarkan bukti fenomena praktik kearifan lokal di desa Kandangtepus, nilai moderasi beragama di desa Kandangtepus  mulai menurun. Meskipun masyarakat sudah mulai tidak turut andil pada kearifan lokal yang ada, namun bentuk tasamuh atau toleransi masyarakat desa Kandangtepus masih terjaga, terbukti dari beberapa kearifan lokal yang masih eksis seperti: ater-ater, ruwatan dan sedekah bumi desa.]
The Problems, Potentials, and Resources of Disadventages Areas: Case Study Suranadi Village - Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat Teja Kusuma, Trio Yonatahan; Dewi Vitama Pusfitasari; Yayuk Fitriani; Zulfatun Ni’mah
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v6i2.3615

Abstract

Tourism is a sector that has great potential for economic and community development. However, in a pandemic situation, this sector experiences fatigue which also happens in Suranadi. This research is aiming for recommending tourism development in Suranadi as a preparation to face the post-pandemic tourism trend using the penta helix approach and BCG Matrix to show Suranadi’s position in the tourism market. The problem, potential, and resources of Suranadi are being identified to make a clear direction for tourism development. The method used in this research is qualitative and the data collected by observing, interviewing, and conducting a literature study about tourist attractions will be discussed. Based on the research, the direction of Suranadi's tourism development is to increase tourism innovation, empower local communities, develop tourism facilities and access, adapt to the post-pandemic era of life, promotion, and market, maintain quality and characteristics, and conduct tourism education.
Implementing Personal Hygiene Practices in a Pesantren: The Contribution of Pesantren Bina Insani Mohammad Fattahul Alim; M. Akiyasul Azkiya; Ridwan
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i1.3646

Abstract

Personal Hygiene is a step taken by a person or group of people to maintain their personal hygiene to avoid various diseases. The implementation of personal hygiene can help prevent disease-causing germs or viruses that can harm the health of the body. This is the background of the importance of implementing personal hygiene in everyday life, especially for individuals living together, such as in a pondok pesantren.  The community stigma about the pondok pesantren is often identified with a slum, dirty and poorly maintained environment. The participation of institutional administrators and individual students is the main key that must be held firmly. Institutional administrators oversee making and supervising policy regulations related to cleanliness and health in the pondok pesantren. Meanwhile, santri plays a role in maintaining personal hygiene.  This study aims to determine the role and steps of Pondok Pesantren Bina Insani in implementing Personal Hygiene pesantren and to find out how the Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mechanism for students to prevent infectious diseases. The research method used is descriptive qualitative. Data sources were obtained from literature review, observation, in-depth interviews, open questionnaires, and documentation. The results of this study indicate that Pondok Pesantren Bina Insani already has a structured system and rules related to the implementation of personal hygiene in the pesantren environment, Pondok Pesantren Bina Insani students generally understand well what personal hygiene is and have tried to implement it in their daily lives.[Kebersihan diri merupakan suatu langkah yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menjaga kebersihan diri agar terhindar dari berbagai penyakit. Penerapan kebersihan diri dapat membantu mencegah kuman atau virus penyebab penyakit yang dapat membahayakan kesehatan tubuh. Hal inilah yang melatarbelakangi pentingnya penerapan Personal Hygiene sadalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan tempat tinggal individu, seperti di Pondok Pesantren. Stigma masyarakat terhadap lingkungan Pondok Pesantren sering diidentikkan dengan lingkungan yang kumuh, kotor dan kurang terawat. Partisipasi pengurus lembaga dan individu mahasiswa menjadi kunci utama yang harus dipegang teguh. Pengurus lembaga mengawasi pembuatan dan pengawasan peraturan kebijakan terkait kebersihan dan kesehatan di lingkungan Pondok Pesantren. Sedangkan santri berperan dalam menjaga kebersihan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dan langkah Pondok Pesantren Bina Insani dalam melaksanakan Personal Hygiene Lingkungan Pesantren dan mengetahui bagaimana mekanisme Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) santri dalam mencegah penyakit menular. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari kajian pustaka, observasi, wawancara mendalam, angket terbuka, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Bina Insani sudah mempunyai sistem dan aturan yang terstruktur terkait dengan penerapan Personal Hygiene di lingkungan pesantren, santri Pondok Pesantren Bina Insani secara umum sudah memahami dengan baik apa itu Personal Hygiene dan sudah mencoba menerapkannya di lingkungan pesantren mereka. kehidupan sehari-hari.]
Potensi Pendidikan Interreligius Meminimalkan Hate Speech di Media Sosial Nole, Otniel Aurelius; Lauterboom, Mariska
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i1.3786

Abstract

Social media provides benefits for users to express language, but it can also be misused to express hatred, or what is called hate speech. It turns out that certain social media users also carry out hate speech regarding political campaigns in Indonesia. To prevent competitors from winning, certain supporters carry out strategies in the form of hate speech. Of course, hate speech is part of what disrupts the order of human life in the Indonesian context. Therefore, hate speech should be minimized based on the role of education, specifically interreligious education. This is religious education with an interreligious approach from collaborative efforts of religions that emphasize ethics. This research aims to analyze the potential of interreligious education in minimizing hate speech on social media. This research used a qualitative method by utilizing previous research and observing user’s behavior in social media content. We discovered that interreligious education has the potential as a collaborative approach in minimizing hate speech and maximizing love speech, as well as rethinking the function of social media. Essentially, interreligious education with its many settings, including in school and virtual space, supports the implementation of religious moderation. Social media users and religious communities are given the education to prioritize virtues and communicate in an informative, persuasive, and charitable way. [Media sosial memang menyediakan manfaat bagi para pengguna untuk mengekspresikan bahasa, tetapi juga bisa disalahgunakan dengan maksud mengujarkan kebencian atau yang disebut dengan hate speech. Ternyata, para pengguna media sosial tertentu turut melakukan hate speech terkait kampanye politik di Indonesia. Untuk mencegah pesaing dapat menang, pendukung tertentu melakukan strategi dalam bentuk hate speech. Tentu saja, hate speech merupakan bagian yang mengganggu tatanan kehidupan manusia dalam konteks Indonesia. Maka dari itu, hate speech seyogianya diminimalkan berdasarkan peran pendidikan, secara khusus pendidikan interreligius. Ini adalah pendidikan agama dengan pendekatan interreligius dari usaha kolaborasi  agama-agama yang menekankan etika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pendidikan interreligius dalam meminimalkan hate speech di media sosial. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan memanfaatkan penelitian terdahulu dan observasi terhadap perilaku pengguna dalam konten media sosial. Peneliti menemukan bahwa pendidikan interreligius memiliki potensi sebagai pendekatan kolaboratif yang berperan meminimalkan hate speech dan memaksimalkan love speech, serta memikirkan kembali fungsi media sosial. Secara esensial, pendidikan interreligius dengan setting yang bervariasi, seperti di sekolah dan dunia virtual, mendukung pelaksanaan moderasi beragama. Para pengguna media sosial dan umat beragama diberi edukasi untuk mengedepankan kebajikan dan berkomunikasi yang informatif, persuasif, dan karitatif.]
Kopi dalam Aktivitas Religi Masyarakat Hindu di Bali Kamandalu, Si Gede Bandem
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i2.3577

Abstract

Coffee was first introduced to Indonesia in the 16th century through colonialism activities carried out by the Dutch Colonial Government. The development of coffee began to increase since the forced planting period, during that period coffee cultivation extended to small islands in Indonesia, including Bali. In Bali, coffee gets special treatment, especially in terms of traditions and religious activities. This article attempts to explain the role of coffee in religious activities carried out by the Hindu community in Bali. Based on the research objectives, a data collection process was carried out through literature review, both from books, scientific journals and news articles. Apart from that, data collection was also carried out by applying observation and documentation methods to the research objects. The data was then processed using descriptive-qualitative analysis, so that this research prioritizes descriptions of the phenomena obtained during the research. Religious theories are also used to help the framework of thinking. The results of this research will provide an overview of the religious activities carried out by the Hindu community in Bali and their relationship to coffee, both in the form of places of worship, worship ceremonies and media of worship. [Kopi pertama kali dikenalkan di Indonesia pada abad ke-16 melalui aktivitas kolonialisme yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Perkembangan kopi mulai meningkat sejak masa tanam paksa, pada masa tersebut budidaya tanaman kopi meluas hingga ke pulau-pulau kecil di Indonesia, termasuk Bali. Di Bali, kopi mendapat perlakuan istimewa khususnya dalam hal tradisi dan aktivitas religi. Tulisan ini berupaya untuk menguraikan mengenai peran kopi dalam aktivitas religi yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali. Berdasarkan tujuan penelitian tersebut, maka dilakukan proses pengumpulan data melalui kajian pustaka, baik dari buku, jurnal ilmiah, dan artikel berita. Selain itu, pengumpulan data juga dilakukan dengan menerapkan metode observasi dan pendokumentasian terhadap objek penelitian. Data kemudian diolah menggunakan analisis deskriptif-kualitatif, sehingga penelitian ini mengedepankan pendeskripsian terhadap fenomena yang didapat selama penelitian. Teori religi juga digunakan untuk membantu kerangka berpikir. Hasil dari penelitian ini akan memberikan gambaran mengenai aktivitas religi yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali serta kaitannya dengan kopi, baik dalam bentuk tempat pemujaan, upacara pemujaan, dan media pemujaan.]
Indigenous-based Resistance: Rethinking the Barambang Katute Indigenous Community's Agrarian Conflict with the Government Through the Indigenous Religion Paradigm Muammar
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i2.3680

Abstract

The government's development narrative often victimizes Indigenous Peoples in Indonesia. Indigenous forests, sacred places for the community, are sought to be legalized for development purposes. This paper is a crisis study of government policies that use the World Religion Paradigm in developing policies toward the Indigenous Peoples of Barambang Katute. This research aims to reveal Indigenous-based resistance from the Barambang Katute Indigenous Community against government and company policies in Sinjai Regency. This article uses the Indigenous Religion Paradigm as its analysis. This research uses a literature study by analyzing written literature on the conflict between Indigenous Peoples and the government in Sinjai Regency. The results of this study mention that resistance in the Barambang Katute Indigenous Community is not only seen from the economic, political, and ecological aspects but also from the socio-religious aspects. The next result framework is written as follows: First, it discusses the history of the causes of agrarian conflicts between indigenous peoples and the government of Sinjai Regency. Second, it discusses the relationship between the Barambang Katute Indigenous Community and nature. Third, it discusses custom-based resistance as the solidarity of indigenous peoples in defending traditional territories. Through the Indigenous Religion Paradigm, we can see that in the efforts to seize the customary forest of Barambang Katute, the government has experienced dynamics and a long journey of conflict. Thus, custom-based resistance is an alternative struggle in defending the existence of customary forests as part of the spirituality of the Barambang Katute Indigenous Community. [Masyarakat Adat di Indonesia seringkali menjadi korban atas narasi pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Hutan Adat yang merupakan tempat ‘sacred’ bagi masyarakat, diupayakan dilegalkan pemanfaatannya dengan alasan demi kepentingan pembangunan. Tulisan ini merupakan studi krisis terhadap kebijakan pemerintah yang menggunakan paradigma agama dunia dalam melakukan kebijakan pembangunan terhadap Masyarakat Adat Barambang Katute. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan resistensi berbasis Adat yang dilakukan oleh Masyarakat Adat Barambang Katute terhadap kebijakan pemerintah dan perusahaan di Kabupaten Sinjai. Secara jelas, artikel ini menggunakan Indigenous Religion Paradigm sebagai analisisnya. Penelitian ini menggunakan studi literatur dengan menganalisis literatur tertulis yang berhubungan dengan konflik Masyarakat Adat dengan pemerintah di Kabupaten Sinjai. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa resistensi dalam Masyarakat Adat Barambang Katute tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi, politik dan ekologi melainkan juga dari aspek sosial-keagamaan. Berikutnya kerangka hasil ditulis sebagai berikut: Pertama, membahas tentang sejarah penyebab konflik agraria masyarakat adat dengan pemerintah Kabupaten Sinjai. Kedua, membahas tentang relasi Masyarakat Adat Barambang Katute dengan alam. Ketiga, membahas resistensi berbasis adat sebagai solidaritas masyarakat adat dalam mempertahankan wilayah adat. Melalui Paradigma Agama Leluhur kita dapat melihat upaya perampasan hutan adat Barambang Katute oleh Pemerintah telah mengalami dinamika dan perjalanan konflik yang panjang. Dengan demikian, Resistensi berbasis Adat merupakan alternatif perjuangan dalam mempertahankan eksistensi hutan adat sebagai bagian dari spiritualitas Masyarakat Adat Barambang Katute.]
Toleransi Beragama: Analisis Wacana Kritis Fairclough Pada Program LOGIN Episode 30 Season 2 Delahoya, Samuel
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v8i2.3788

Abstract

This study is based on the reality of religious diversity in Indonesia which is plural and diverse. There are many religions, both conventional and traditional religions or commonly referred to as tribal religions, such as Kaharingan, Marapu, Parmalim, Kejawen. Therefore, Indonesia is rich in diversity, especially in the dimension of religious life. The development of technology is very rapid in the current era, both on a global and national scale, one of which is in Indonesia. YouTube is a media that has experienced very rapid development. This media is in demand by its activists by uploading videos on channels for certain purposes, one of which is LOGIN on Deddy Corbuzier's Channel. The purpose of this study is to see the discourse and ideology in the videos uploaded on the LOGIN program, especially in episode 30 season 2. The method in this study is qualitative with two methods, namely Fairclough's critical discourse analysis and descriptive analysis. This study begins by presenting the theory related to interfaith dialogue from Knitter and Kung, then analyzing the LOGIN video episode 30 season 2 and 3 other videos: episodes 1 and 30 season 1, and episode 1 season 2. The results of the discourse analysis want to see the discourse of tolerance that is born through harmonious and comedic religious dialogue from each religious figure in the LOGIN program video.[Penelitian ini berangkat dari realitas keberagaman agama di Indonesia yang plural dan majemuk. Banyak sekali agama-agama, baik dari agama yang konvensional maupun agama yang tradisional atau biasa disebut sebagai agama suku, seperti kaharingan, marapu, parmalim, kejawen. Oleh karena itu, Indonesia kaya akan keberagaman, khususnya dalam dimensi kehidupan keagamaan. Perkembangan teknologi sangat pesat di era sekarang, baik dalam skala global maupun negara, salah satunya di Indonesia. YouTube menjadi media yang mengalami perkembangan sangat pesat. Media ini diminati oleh para pegiatnya dengan mengunggah video di channel untuk tujuan tertentu, salah satunya adalah LOGIN di Channel Deddy Corbuzier. Tujuan penelitian ini untuk melihat wacana dan ideologi pada video yang diunggah di program LOGIN, khususnya di episode 30 season 2. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan dua metode yakni analisis wacana kritis Fairclough dan analisis deskriptif. Penelitian ini dimulai dengan memaparkan teori terkait dialog antar agama dari Knitter dan Kung, kemudian menganalisis video LOGIN episode 30 season 2 dan 3 video lainnya: episode 1 dan 30 season 1, serta episode 1 season 2. Hasil dari analisis wacana tersebut ingin melihat wacana toleransi yang lahir melalui dialog agama yang harmoni dan bernuansa komedi dari setiap tokoh-tokoh agama di dalam video program LOGIN.]