cover
Contact Name
Jauhar Khabibi
Contact Email
jauhar_khabibi@yahoo.com
Phone
+6282213390515
Journal Mail Official
jurnalsilvatropika@unja.ac.id
Editorial Address
Kampus Pinang Masak Universitas Jambi Jl. Raya Jambi-Muara Bulian, KM 15 Mendalo Indah Kode Pos 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jurnal Silva Tropika
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26158353     EISSN : 26214113     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
The tropical forest has a unique feature. Its biological and ecological diversity relies on a very complex and interrelated system. Managing the forest sustainably required a wide application in multiple scientific disciplines. Jurnal Silva Tropika is a periodic scientific article and conceptual thinking of tropical forest management covering all aspects of forest planning, forest policy, forest resources utilization, forest ergonomics, forest ecology, forest inventory, silviculture, and management of regional ecosystems. Jurnal Silva Tropika also welcomes the topics that directly or indirectly support tropical forest management, e.g., economics, anthropology, social, and the environment.
Articles 120 Documents
Struktur Populasi dan Pola Penyebaran Pasak Bumi (Eurycoma Longifolia Jack.) di Kawasan Lindung PT Wirakarya Sakti Provinsi Jambi: Population Structure and Distribution Pattern of Pasak Bumi (Eurycoma Longifolia Jack.) in the PT Wirakarya Sakti Protected Area of Jambi Province Nursanti, Nursanti; Sari, Puja Permata; Adriadi, Ade; Albayudi, Albayudi
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.50570

Abstract

ABSTRACT Eurycoma longifolia Jack. including species from the family Simaroubaceae tree-shaped plants whose height can reach 10-15 m. E. longifolia Jack. is one of the potential medicinal plants and has high economic value if it is developed, because the extra roots of the earth pegs contain several medicinal compounds. Structure and pattern of distribution of individual populations of a species one alternative that can be done to support species conservation efforts. The area of ​​sampling area is 1 ha through 100 x 10 meter double plot vegetation analysis of 100 plots that are systematically located. In the condition of plant population structure, there are each individual growth stages most found in the 121 individual seedling stages and followed by 4 individual sapling growth stages. Through the calculation of the morisita index, it is known that the distribution pattern of the earth peg (E. longifolia Jack.) Groups with a morisita index value of 1.70. The distribution pattern of clusters shows that the presence of a plant will give an indication for similar plants, this is because individuals have a tendency to gather and look for environmental conditions that suit their needs.   Keywords: Eurycoma longifolia Jack, population structure and distribution patterns.   ABSTRAK Eurycoma longifolia Jack. termasuk spesies dari famili Simaroubaceae. Tumbuhan berbentuk pohon yang tingginya dapat mencapai 10-15 m. E.. longifolia Jack. adalah salah satu tumbuhan obat yang potensial dan punya nilai ekonomi tinggi jika dikembangkan, karena ekstra akar pasak bumi mengandung beberapa senyawa berkhasiat obat. Struktur dan pola penyebaran suatu spesies merupakan salah satu kajian yang perlu dilakukan untuk mendukung upaya konservasi spesies. Luas areal sampling 1 ha, pola penyebaran dipelajari melalui analisis vegetasi metode petak ganda ukuran 10 x 10 meter sebanyak 100 petak yang diletakkan secara acak pada tutupan hutan sekunder di areal lindung KSS PT. Wirakarya Sakti Distrik VII. Struktur populasi menunjukkan bahwa stadia pertumbuhan terbanyak pada stadia semai 121 individu dan diikuti stadia pertumbuhan pancang 4 individu. Melalui perhitungan indeks morasita diketahui bahwa pola penyebaran pasak bumi (E. longifolia Jack.) mengelompok dengan nilai indeks morasita 1,70. Pola penyebaran mengelompok menunjukkan bahwa hadirnya suatu tumbuhan akan memberikan indikasi untuk tumbuhan yang sejenis, hal ini disebabkan karena individu memiliki kecenderungan untuk berkumpul dan mencari kondisi lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya.   Kata kunci: Eurycoma longifolia Jack, struktur populasi dan pola penyebaran.
Etnobotani Pemanfaatan Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Desa Tohkuning Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah: Ethnobotany of Medicinal Plant Utilization by the Community in Tohkuning Village, Karanganyar District, Central Java Dwi Astuti, Nurayni; Agustina, Ana; Lasekti Wicaksono, Rezky
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.50715

Abstract

ABSTRACT Village communities generally still use medicinal plants as traditional medicine, one of which is the Tohkuning Village community. The use of plants as medicines has not been well documented. In fact, local knowledge of the community regarding medicinal plants can provide data on the process or ideas that are important to carry out. Therefore, the purpose of this study was to determine the types of medicinal plants and the knowledge of the Tohkuning Village community in utilizing medicinal plants and to identify medicinal plant conservation efforts carried out by the Tohkuning Village community. This research was conducted in Tohkuning Village in September-October 2024. The sample determination was carried out using purposive sampling and snowball sampling. Data analysis was carried out using qualitative and quantitative descriptive analysis. The results showed that there were 54 species of medicinal plants. The type of medicinal plant most often found in ginger (67.74%). The most commonly found organ of medicinal plants is leaves (57.41%). The conservation status of medicinal plants found in Tohkuning Village, according to the IUCN Red List, includes one species with Endangered status, namely big-leaf mahogany, and one species with Near Threatened status, namely tempuyung. Conservation efforts are carried out by cultivating and utilizing medicinal plants sustainably.   Keywords: conservation efforts, plant species, traditional medicine   ABSTRAK Masyarakat desa umumnya masih menggunakan tumbuhan berkhasiat obat sebagai pegobatan tradisional, salah satunya masyarakat Desa Tohkuning. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat-obatan belum terdokumentasi dengan baik. Padahal, pengetahuan lokal masyarakat mengenai tumbuhan obat dapat memberikan data dalam proses atau gagasan yang penting untuk dilakukan. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tumbuhan obat dan pengetahuan masyarakat Desa Tohkuning dalam memanfaatkan tumbuhan obat serta mengidentifikasi upaya konservasi tumbuhan obat yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tohkuning. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tohkuning pada bulan September-Oktober 2024. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini menunjukkan penemuan bahwa terdapat 54 macam tumbuhan obat. Jenis tumbuhan obat yang banyak digunakan yaitu jahe (67,74%). Organ tumbuhan obat yang paling banyak digunakan adalah daun (57,41%). Status konservasi tumbuhan obat yang menurut IUCN Red list salah satunya ada yang berstatus Endangered yaitu mahoni daun lebar dan Near Threatened yaitu tempuyung. Upaya konservasi dilakukan dengan membudidayakan dan memanfaatkan tumbuhan obat secara berkelanjutan   Kata kunci: jenis tumbuhan, obat tradisional, upaya konservasi
Strategi Pengembangan Ekowisata Di Kawasan Inti Geopark Kecamatan Renah Pembarap Kabupaten Merangin: Ecotourism Development Strategy in the Core Area of Geopark, Renah Pembarap Subdistrict, Merangin Regency Albayudi, Albayudi; Adriadi, Ade; Chairul, Muhammad; Aini, Yasri Syarifatul; Darsono, Beti Septiana; Nur’aini, Hanifah
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.51681

Abstract

ABSTRACT The Core Area of Merangin Geopark has high ecotourism potential based on its unique geological heritage, biodiversity, and local socio-cultural values. However, its development still faces various challenges that require appropriate and sustainable management strategies. This study aims to analyze the strategic position and formulate ecotourism development strategies in the Core Area of Merangin Geopark. The research employed a survey method by collecting primary data through observations, interviews, and questionnaires, as well as secondary data from literature reviews and relevant institutions. Data were analyzed using SWOT analysis through the development of IFAS and EFAS matrices. The results indicate that the ecotourism development position of Merangin Geopark falls within Quadrant II (ST strategy), suggesting that the area possesses strong internal strengths but faces considerable external threats. The recommended development strategy focuses on utilizing existing strengths to mitigate threats through strengthening conservation efforts, implementing zoning and carrying capacity management, enhancing environmental interpretation, and actively involving local communities in the management and monitoring of the area. This approach is expected to ensure the sustainability of natural resources and geological heritage while providing economic and social benefits for local communities.   Keywords: community-based management (CBM), ecotourism, geopark, SWOT analysis, ST strategy   ABSTRAK Kawasan Inti Geopark Merangin memiliki potensi ekowisata yang tinggi berbasis keunikan geologi, keanekaragaman hayati, dan nilai sosial budaya masyarakat lokal. Namun, pengembangannya masih menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan strategi pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis posisi strategis serta merumuskan strategi pengembangan ekowisata di Kawasan Inti Geopark Merangin. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pengumpulan data primer melalui observasi, wawancara, dan kuesioner, serta data sekunder dari studi literatur dan instansi terkait. Analisis data dilakukan menggunakan Analisis SWOT melalui penyusunan matriks IFAS dan EFAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi pengembangan ekowisata Geopark Merangin berada pada Kuadran II (strategi ST), yang mengindikasikan bahwa kawasan memiliki kekuatan internal yang dominan namun dihadapkan pada ancaman eksternal yang cukup besar. Strategi pengembangan yang direkomendasikan menekankan pada pemanfaatan kekuatan kawasan untuk mengantisipasi ancaman melalui penguatan konservasi, penerapan zonasi dan daya dukung kawasan, peningkatan fungsi interpretasi lingkungan, serta pelibatan aktif masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pengawasan kawasan. Strategi ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan warisan geologi sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat lokal.   Kata kunci: analisis SWOT, ekowisata, geopark, strategi ST, pengelolaan berbasis masyarakat
Analisis Tingkat Partisipasi Perempuan Dalam Pemanfaatan Ekowisata Bukit Khayangan Kota Sungai Penuh: Analysis of The Level of Female Participation in The Utilization of Eco-Tourism in Bukit Khayangan City of Sungai Penuh Ahyaudin, Ahyaudin; Marwoto, Marwoto; Jannah, Rofianita Nur
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.47079

Abstract

ABSTRACT Post-reform development planning in Indonesia emphasizes participatory governance and gender equality. Despite women comprising 49.42% of the population, gender gaps in education and the economy persist, limiting their roles in strategic sectors like tourism. This research aims to analyze the participation level of women in the utilization of Bukit Khayangan ecotourism in Sungai Penuh City and identify its influencing factors. This study provides crucial insights for gender-responsive policy-making and career perspectives for Forestry graduates. The research employed a mixed-methods approach, utilizing descriptive quantitative analysis with a Likert scale and the Spearman Rank correlation test processed via SPSS. The results reveal that women's participation in Bukit Khayangan ecotourism is categorized as high, with an overall score of 84.82%. Detailed analysis shows participation rates of 73.38% for access, 94.9% for economic benefits, and 89.07% for control. Among the four variables tested-age, education, husband’s income, and number of dependents-education emerged as the primary driver of participation. The Spearman Rank test yielded a correlation coefficient of 0.797, indicating a strong, positive, and significant relationship (Sig. 0.000 < 0.05). This demonstrates that higher educational attainment significantly increases women’s participation levels. These findings suggest that strengthening educational backgrounds is vital for empowering women within the ecotourism sector. Consequently, local government policies should prioritize educational access and skill development to optimize women's roles in regional development and Local Revenue (PAD) contribution. Keywords: women's participation, ecotourism, bukit khayangan, education, gender equality.   ABSTRAK Perencanaan pembangunan di Indonesia pasca-reformasi menekankan pada tata kelola partisipatif dan kesetaraan gender. Meskipun perempuan mencakup 49,42% dari total populasi, kesenjangan gender dalam aspek pendidikan dan ekonomi masih membatasi peran mereka di sektor strategis seperti pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat partisipasi perempuan dalam pemanfaatan ekowisata Bukit Khayangan di Kota Sungai Penuh serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan kebijakan responsif gender dan memberikan wawasan peluang karir bagi lulusan Kehutanan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan bantuan skala Likert dan uji korelasi Rank Spearman melalui perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi perempuan dalam pemanfaatan ekowisata Bukit Khayangan tergolong tinggi dengan skor total 84,82%. Secara spesifik, tingkat partisipasi tersebut mencakup aspek akses sebesar 73,38%, aspek ekonomi sebesar 94,9%, dan aspek kontrol sebesar 89,07%. Berdasarkan uji korelasi terhadap empat variabel umur, pendidikan, pendapatan suami, dan jumlah tanggungan ditemukan bahwa pendidikan merupakan faktor utama yang mendorong tingginya partisipasi. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,797 menunjukkan adanya hubungan kuat, positif, dan signifikan (Sig. 0,000 < 0,05). Hal ini membuktikan bahwa peningkatan taraf pendidikan berbanding lurus dengan peningkatan partisipasi perempuan. Temuan ini menyarankan bahwa penguatan latar belakang pendidikan dan keterampilan sangat penting untuk memberdayakan perempuan di sektor ekowisata. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah daerah perlu memprioritaskan akses pendidikan untuk mengoptimalkan peran perempuan dalam pembangunan daerah dan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).   Kata Kunci: partisipasi perempuan, ekowisata, bukit khayangan, pendidikan, kesetaraan gender.
Eksplorasi dan Identifikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Berdasarkan Umur Tegakan Sengon Solomon (Paraserienthes falcataria (Miq.) Barneby & Grimes) di PT. Rimba Tanaman Industri : Exploring and Identifying Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) in Relation to the Age of Solomon Sengon (Paraserianthes falcataria (Miq.) Barneby & Grimes) Stands at PT. Rimba Tanaman Industri) Airlangga, Andres Arya; Neliyati, Neliyati; Puri, Suci Ratna
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.49858

Abstract

ABSTRACT This study aimed to explore and identify the genera and spore abundance of arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) in relation to the stand age of Solomon sengon (Paraserianthes falcataria (Miq.) Barneby & Grimes) at PT. Rimba Tanaman Industri, Jambi Province, Indonesia. The research was conducted from September to November 2024 across three plantation sites with varying stand ages. Soil samples (50 grams each, triplicated) were collected from depths of 0–20 cm and 20–40 cm. AMF spores were isolated using the pour-sieving method (Pacioni) followed by centrifugation (Brundrett), and identified based on spore morphology using stereo and binocular microscopes. The results revealed the presence of four AMF genera: Glomus (7 types), Acaulospora (4 types), Gigaspora (3 types), and Scutellospora (2 types). Spore abundance varied with stand age, with the highest mean spore density (33 spores/50 g soil) recorded at the 2019 stand, 0–20 cm depth. All identified genera appeared consistently (100% frequency) across all study sites. These findings highlight the diversity and distribution of AMF associated with Solomon sengon stands, offering valuable insights for enhancing tree growth in marginal soils through mycorrhizal symbiosis.   Key words: acaulospora, arbuscular mycorrhizal fungi, glomus, Paraserianthes falcataria, soil fertility   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi genus serta kelimpahan spora fungi mikoriza arbuskula (FMA) berdasarkan umur tegakan sengon solomon (Paraserianthes falcataria (Miq.) Barneby & Grimes) di PT. Rimba Tanaman Industri, Provinsi Jambi. Penelitian dilaksanakan pada bulan September hingga November 2024 di tiga lokasi tegakan dengan variasi umur yang berbeda. Sampel tanah diambil sebanyak 50 gram dari kedalaman 0–20 cm dan 20–40 cm, masing-masing dengan tiga kali ulangan. Isolasi spora FMA dilakukan menggunakan metode tuang sari (Pacioni) yang dilanjutkan dengan teknik sentrifugasi (Brundrett). Identifikasi spora dilakukan berdasarkan karakter morfologi menggunakan mikroskop stereo dan mikroskop binokuler. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat genus FMA, yaitu Glomus (7 tipe), Acaulospora (4 tipe), Gigaspora (3 tipe), dan Scutellospora (2 tipe). Kelimpahan spora bervariasi tergantung pada umur tegakan, dengan rata-rata kepadatan spora tertinggi sebesar 33 spora per 50 gram tanah, ditemukan pada tegakan tahun 2019 pada kedalaman 0–20 cm. Seluruh genus FMA yang ditemukan memiliki frekuensi kemunculan 100% di semua lokasi. Temuan ini memberikan informasi penting terkait keanekaragaman dan distribusi FMA pada tegakan sengon solomon, yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman pada lahan marginal melalui simbiosis mikoriza.   Kata kunci: acaulospora, fungi mikoriza arbuskula, glomus, Paraserianthes falcataria, kesuburan tanah
Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang Sapi Terhadap Pertumbuhan Bibit Kaliandra Merah (Calliandra calothyrsus Meissn.): The Effect of Providing Cow Manure on The Growth of Red Calliandra Seedlings (Calliandra calothyrsus Meissn.) Putri Rahayu, Windi; Lizawati, Lizawati; Hardiyanti, Rizky Ayu; Hamzah, Hamzah
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.50300

Abstract

ABSTRACT                 The number of people in the world continues to increase causing a soaring energy needs and wood needs. The way to get raw materials for renewable energy is to use energy wood from leguminous species, such as red calliandra (Calliandra calothyrsus Meissn.). The benefits of calliandra are forage for livestock, erosion control, conservation and reclamation, and raw material for wood pellets. The success of generative calliandra cultivation is determined by many factors, one of which is the planting media. Planting media used in cultivation do not all contain sufficient nutrients, such as ultisol soil which has problems such as soil acidity, and low macro nutrients and low C-organic, to overcome these problems the addition of organic matter in the from of cow manure. The purpose of this study was to analyse the effect of cow manure and the best dose of cow manure on the growth of red calliandra seedlings. Methods the study used a CRD single-factor with 5 levels of cow manure treatment (k0 without fertilizer, k1=50 g/polybag, k2=100 g/polybag, k3=150 g/polybag, k4=200 g/polybag) repeated 6 times so as to obtain 30 experimental units, consisting of 5 seedlings so that a total of 150 seedlings. The observation variables were height, diameter, number of leaves, root and crown dry weight. The results showed that the application of cow manure had a significant effect on the growth of red calliandra seedlings, especially on the variables of height, number of leaves, and root dry weight but had no significant effect on the variables of diameter and crown dry weight. The application of cow manure at a dose of 100 g/polybag is the best dose to support the growth of red calliandra (Calliandra calothyrsus Meissn.) seedlings.   Key words: red calliandra, cow manure, ultisol.   ABSTRAK             Jumlah penduduk di dunia terus mengalami peningkatan menyebabkan melonjaknya kebutuhan energi maupun kebutuhan kayu. Cara untuk mendapatkan bahan baku Energi Terbarukan (EBT) adalah menggunakan kayu energi dari jenis leguminosa, seperti tanaman kaliandra merah (Calliandra calothyrsus Meissn.). Manfaat kaliandra yaitu hijauan makan ternak, pengontrol erosi, konservasi dan reklamasi, serta bahan baku wood pellet. Keberhasilan budidaya kaliandra secara generatif ditentukan dari banyak faktor salah satunya yaitu media tanam. Media tanam yang digunakan dalam budidaya tidak semua mengandung unsur hara yang cukup, seperti tanah ultisol yang memiliki permasalahan seperti kemasaman tanah, dan unsur hara makro yang rendah serta C-organik yang rendah, untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan penambahan bahan organik berupa pupuk kandang sapi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh pupuk kandang sapi dan dosis terbaik pada pemberian pupuk kandang sapi terhadap pertumbuhan bibit kaliandra merah. Metode penelitian menggunakan RAL faktor tunggal dengan 5 taraf perlakuan pupuk kandang sapi (k0=tanpa pupuk, k1=50 g/polybag, k2=100 g/polybag, k3=150 g/polybag, k4=200 g/polybag) diulang 6 kali sehingga diperoleh 30 satuan percobaan, terdiri dari 5 bibit sehingga total 150 bibit. Variabel pengamatan berupa pertambahan tinggi, diameter, jumlah daun, berat kering akar dan tajuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang sapi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit kaliandra merah terutama pada variabel tinggi, jumlah daun, dan berat kering akar namun tidak berpengaruh nyata pada variabel diameter dan berat kering tajuk. Pemberian pupuk kandang sapi dengan dosis 100 g/polybag merupakan dosis terbaik untuk menunjang pertumbuhan bibit kaliandra merah (Calliandra calothyrsus Meissn.).   Kata kunci: kaliandra merah, pupuk kandang sapi, ultisol.
Identifikasi Spesies Amfibi Ordo Anura pada Ekosistem Gambut Hutan Desa Pematang Rahim Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi: Identification of Amphibian Species Order Anura in the Peat Ecosystem of Pematang Rahim Village Forest, East Tanjung Jabung Regency, Jambi Province Wulan, Cory; Febrianti, Syarli; Khabibi, Jauhar
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.51599

Abstract

ABSTRACT Amphibians are one of the components of the ecosystem that have a very important role. Amphibians act as environmental bio-indicators because they have a high response to environmental changes. One of the amphibious habitats that are vulnerable to environmental changes is peat forests. Pematang Rahim Village Forest (HDPR) is one of the peat forests that serves as amphibian habitats. The condition and quality of the habitat certainly affect the diversity of amphibian species. This study aims to identify and analyze the level of diversity of amphibian species of the order Anura in the Peat Forest area of ​​Pematang Rahim Village. The research method used in this study was VES (Visual Encounter Survey) on a 500-meter transect path in aquatic and terrestrial habitats, with the Capture Mark Recapture (CMR) technique for specimen identification. Diversity analysis was carried out using the Shannon-Wiener Index, Margalef Index, Evenness Index, and Community Similarity Index. The study recorded 88 individuals comprising 7 species belonging to 4 of the 6 anuran families in Indonesia: Bufonidae, Dicroglossidae, Ranidae, and Rhacophoridae. The amphibian diversity index in the HDPR was categorized as moderate, while the amphibian species richness index was low, and the evenness of amphibian species was high.   Keywords: amphibians, anura, diversity, habitat, peat forest.   ABSTRAK Amfibi merupakan salah satu komponen penyusun ekosistem yang memiliki peranan sangat penting. Amfibi berperan sebagai bio-indikator lingkungan karena memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Habitat amfibi yang rentan terhadap perubahan lingkungan salah satunya yaitu hutan gambut. Hutan Desa Pematang Rahim (HDPR) merupakan salah satu hutan gambut yang menjadi habitat amfibi. Kondisi dan kualitas habitat tentunya mempengaruhi keanekaragaman jenis amfibi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tingkat keanekaragaman jenis amfibia ordo Anura pada areal kawasan Hutan Gambut Desa Pematang Rahim. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah VES (Visual Encounter Survey) pada jalur transek sepanjang 500 meter di habitat akuatik dan terestrial, dengan teknik Capture Mark Release (CMR) untuk identifikasi spesimen. Analisis keanekaragaman dilakukan menggunakan Indeks Shannon-Wiener, Indeks Margalef, Indeks Kemerataan, dan Indeks Kesamaan Komunitas. Hasil penelitian tercatat sebanyak 88 individu yang terdiri dari 7 spesies yang termasuk ke dalam 4 famili dari 6 famili anura yang ada di Indonesia yaitu famili Bufonidae, Dicroglossidae, Ranidae, dan Rhacophoridae. Indeks keanekaragaman amfibi di HDPR menunjukkan kategori sedang sedangkan indeks kekayaan jenis tergolong rendah, dan kemerataan spesies amfibi yang tinggi.   Kata kunci: amfibi, anura, habitat, hutan gambut, keanekaragaman.
Dinamika Pertumbuhan dan Akumulasi Serasah Tanaman Pionir Pada Lahan Bekas Tambang Batubara: Kajian Kondisi Fisik Tanah Pasca Penanaman: Dynamics of Growth and Litter Accumulation of Pioneer Vegetation on Former Coal Mining Land: A Study of Soil Physical Conditions Post Planting Nisya, Dian; Nurjanto, Handojo Hadi; Faridah, Eny
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.51799

Abstract

ABSTRACT Sengon (Falcataria moluccana), Mahoni (Swietenia macrophylla), and Jabon (Anthocephalus cadamba) are pioneer vegetation species commonly found in post-coal mining areas in Jambi, Indonesia. Each species exerts a distinct influence on soil development acceleration, linked to the accumulation of organic matter derived from overlying vegetation, including litter and root exudates. Therefore, long-term evaluation of the growth of these pioneer plants is essential to understand their effectiveness in post-mining land conditions. This study aims to integrate the analysis of plant growth, litter accumulation, and soil physical conditions within a holistic framework, which can serve as a reference for the impacts of revegetation following coal mining in tropical regions. The research was conducted from April to September 2022. Field observations, including plant growth measurements, litter and understory vegetation sampling, and soil sampling, were performed in the coal mining concession area of PT Nan Riang, while soil physical property tests were carried out in the Soil Fertility Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Jambi. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 5% significance level and the Least Significant Difference (LSD) test. Results indicate that five-year-old Sengon, Mahoni, and Jabon plants in the post-coal mining area in Jambi have average heights of 18.3 m, 9.9 m, and 11.17 m; stem diameters of 15.6 cm, 4.3 cm, and 9.8 cm; and canopy diameters of 2.2 m, 0.47 m, and 1.2 m. Litter accumulation from the three pioneer species at the study site ranged from 4 to 18 tons per hectare, with Jabon producing the highest litter accumulation, followed by Sengon and Mahoni. Furthermore, planting pioneer species in post-coal mining areas has been shown to improve soil physical properties compared to control sites, attributed to the organic matter content derived from understory and pioneer plant litter.   Key words: litter accumulation, pioneer vegetation, soil physical properties   ABSTRAK Sengon (Falcataria moluccana), mahoni (Swietenia macrophylla) dan jabon (Anthocephalus cadamba), merupakan vegetasi pionir yang dapat dijumpai pada areal bekas tambang batubara di Jambi. Tiap jenis vegetasi, tentu akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap percepatan perkembangan tanah. Hal ini berhubungan dengan akumulasi bahan organik yang berasal dari vegetasi yang ada di atasnya, berupa serasah dan eksudasi akar. Sehingga, evaluasi jangka panjang terhadap pertumbuhan tanaman pionir ini diperlukan untuk memahami efektivitasnya dalam kondisi lahan pasca tambang. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan analisis pertumbuhan tanaman, akumulasi serasah, dan kondisi fisik tanah dalam satu kerangka holistik, yang dapat dijadikan sebagai acuan dampak revegetasi pasca penambangan batubara di daerah tropika. Penelitian dilaksanakan pada April - September 2022. Penelitian lapangan berupa pengamatan pertumbuhan tanaman, pengambilan sampel serasah dan tumbuhan bawah, hingga pengambilan sampel tanah dilaksanakan pada wilayah izin usaha pertambangan batubara PT Nan Riang, sedangkan Pengujian sifat fisik tanah dilakukan di Laboratorium Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Data pengamatan dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf 5% dan uji Least Significance Different (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman sengon, mahoni dan jabon umur lima tahun yang ditanam pada areal bekas tambang batubara di Jambi memiliki tinggi rata-rata (18;3,9;11,17m), diameter batang (15,6;4,3;9,8cm) serta diameter tajuk (2,2;0,47;1,2m). Akumulasi serasah tiga jenis tanaman pionir pada lokasi penelitian mencapai 4 sampai 18 ton/Ha, dengan jenis jabon sebagai penghasil serasah terbanyak pada lokasi penelitian, diikuti oleh sengon dan mahoni. Selain itu, penanaman jenis pionir pada areal bekas tambang batubara terbukti dapat memperbaiki kondisi sifat fisik tanah, jika dibandingkan dengan lokasi kontrol. Hal ini disebabkan karena pada lokasi yang ditanami jenis pionir memiliki kandungan bahan organik yang berasal dari serasah tumbuhan bawah dan tanaman pionir itu sendiri.   Kata kunci: akumulasi serasah, sifat fisik tanah, tanaman pionir
Pencegahan Kebakaran Berulang pada Lahan Gambut dengan Pendekatan Berbasis Tapak di Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kalimantan Selatan: Preventing Recurrent Peatland Fires through a Site-Based Approach in Landasan Ulin Village, South Kalimantan Rianawati, Fonny; Kadir, Syarifuddin; Badaruddin, Badaruddin; Helmi, Muhammad; Asyisyifa, Asyisyifa; Mayawati, Sari; Hadi, Wirawan Noor
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.52633

Abstract

ABSTRACT Recurrent peatland fires in Banjarbaru threaten ecosystems, public health, and regional economies, demanding integrated, collaborative, and sustainable site-based fire management strategies. The present research goals. The objectives of this study are to identify the factors causing recurrent fires on peatlands, to assess community responsibility in preventing and controlling such incidents, and to examine site-based fire control practices implemented by local residents and related institutions. This research employs a site-based descriptive–analytical approach, in which primary data were collected through field observations (ground check), interviews, and questionnaires administered to 50 respondents using an incidental sampling method. Secondary data were obtained through Focus Group Discussions (FGDs) with the Village Government, the Banjarbaru Disaster Management Agency (BPBD), and local fire-awareness groups, selected using a purposive sampling technique. The results indicate that all recurrent fire events are associated with human activities, particularly land clearing and burning without controlled fire management, discarded cigarette butts, and the spread of fire through dry peat via underground layers. Quantitative data show that 76% of respondents stated that fires spread from other locations. Community practices in fire management remain dominated by reporting behavior (80%), while only 20% participate directly in suppression efforts during idle-land burning. This limited involvement reflects the lack of trained human resources and adequate equipment at the community level. Control measures have been implemented through the construction of firebreaks and water channels as part of peatland hydrological management. However, fires will continue to occur and recur if local residents and related institutions do not actively maintain these facilities. This study concludes that peatland fire control must be implemented in an integrated manner, involving local communities at the site level in collaboration with stakeholders and government institutions.   Keywords: preventing, peat fires, community participation   ABSTRAK Kebakaran lahan gambut berulang di Banjarbaru mengancam ekosistem, kesehatan masyarakat, ekonomi regional, serta menuntut pengendalian berbasis tapak berkelanjutan kolaboratif terpadu. Tujuan penelitian saat ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan kebakaran berulang di lahan gambut, untuk menilai tanggung jawab masyarakat mengenai pencegahan dan pengendalian insiden, dan untuk membahas pengendalian kebakaran berbasis praktik penyadapan yang diterapkan oleh penduduk setempat dan lembaga terkait. Penelitian ini merupakan studi deskriptif-analitik berbasis site-tapping dimana pengumpulan data utama dilakukan di lapangan melalui ground check, wawancara, dan kuesioner terhadap 50 responden menggunakan metode incidental sampling. Data sekunder dikumpulkan melalui FGD dengan LURD, BPBD Banjarbaru, dan Amendemenselites yang diatur dengan metode purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kejadian kebakaran berulang semuanya terkait dengan aktivitas manusia, terutama pembukaan dan pembakaran ulang tanpa api yang terkendali, puntung rokok, dan penyebaran api di gambut kering oleh lapisan bawah tanah. Berdasarkan data kuantitatif, 76% responden mengklaim bahwa kebakaran menyebar dari sumber lain. Praktik masyarakat dalam penanganan kebakaran tetap didominasi oleh pola pelaporan dengan 80%, dan 20% lainnya melalui bantuan selama pembakaran perkebunan yang menganggur, yang berlangsung pada tingkat minimum karena masyarakat tidak memiliki sumber daya dan sarana terlatih untuk membantu selama terjadinya kebakaran.  Kegiatan pengendalian dilakukan dengan pembuatan sekat bakar  dan saluran-saluran air sebagai bagian dari pengelolaan hidrologi) akan   tetapi kebakaran akan terjadi dan terjadi kembali jika penduduk setempat dan lembaga terkait tidak aktif memelihara fasilitas tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengendalian kebakaran lahan gambut harus selalu dilakukan secara terintegrasi baik oleh masyarakat ditingkat tapak, maupun stakeholgder dan pemerintah.   Kata kunci: pencegahan, kebakaran gambut, partisipasi masyarakat
Respons Perkecambahan Benih Kopi Liberika (Coffea liberica W. Bull Ex Hiern) Tungkal Jambi Terhadap Konsentrasi Ekoenzim dan Lama Perendaman: The Response of Liberica Coffee Seed Germination (Coffea liberica W. Bull Ex Hiern) from Tungkal Jambi to Eenzyme Concentration and Soaking Duration Devi Triana; Gusniwati, Gusniwati; Indraswari, Elly; Kartika, Elis; Neliyati, Neliyati
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.53027

Abstract

ABSTRACT Liberica coffee from Tungkal Jambi is an important plantation commodity in Jambi Province; however, seedling development is constrained by slow seed germination due to physical dormancy, resulting in low nursery efficiency. Seed soaking using eco-enzyme has the potential to serve as an alternative approach to overcome this constraint. This study aimed to evaluate the germination response of Liberica coffee seeds to different eco-enzyme concentrations and soaking durations. The experiment was conducted at the Teaching and Research Farm Greenhouse, Faculty of Agriculture, Universitas Jambi, from January to April 2025, using a completely randomized factorial design with two factors: eco-enzyme concentration (0, 25, 50, 75, and 100%) and soaking duration (12 and 24 h). The observed variables included germination percentage, longest hypocotyl length, longest root length, hypothetical vigor index, and seedling dry weight. The results showed no interaction between eco-enzyme concentration and soaking duration. Application of eco-enzyme at concentrations of 25–100% increased the longest root length of Liberica coffee seedlings, but did not improve other germination and seed vigor parameters. The best germination response of liberica coffea seeds is obtained at an ecoenzyme concentration of 25% and a soaking time of 12 hours.   Keywords:  ecoenzyme, germination, liberica tungkal jambi coffea   ABSTRAK Kopi Liberika Tungkal Jambi merupakan komoditas perkebunan penting di Provinsi Jambi, namun pengembangan bibitnya masih terkendala oleh lambatnya perkecambahan benih akibat dormansi fisik, sehingga menurunkan efisiensi pembibitan. Perlakuan perendaman benih menggunakan ekoenzim berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kendala tersebut. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons perkecambahan benih kopi Liberika terhadap variasi konsentrasi ekoenzim dan lama perendaman. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Teaching and Research Farm Fakultas Pertanian Universitas Jambi pada Januari–April 2025 menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dua faktor, yaitu konsentrasi ekoenzim (0, 25, 50, 75, dan 100%) dan lama perendaman (12 dan 24 jam). Variabel yang diamati meliputi daya berkecambah, panjang hipokotil terpanjang, panjang akar terpanjang, indeks vigor hipotetik, dan bobot kering kecambah. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat interaksi antara konsentrasi ekoenzim dan lama perendaman. Pemberian ekoenzim pada konsentrasi 25–100% mampu meningkatkan panjang akar terpanjang kecambah kopi Liberika, namun belum meningkatkan variabel perkecambahan dan vigor benih lainnya. Respons perkecambahan benih kopi liberika terbaik diperoleh pada konsentrasi ekoenzim 25% dan lama perendaman 12 jam.   Kata kunci: ekoenzim, kopi liberika tungkal jambi, perkecambahan

Page 12 of 12 | Total Record : 120