cover
Contact Name
Jauhar Khabibi
Contact Email
jauhar_khabibi@yahoo.com
Phone
+6282213390515
Journal Mail Official
jurnalsilvatropika@unja.ac.id
Editorial Address
Kampus Pinang Masak Universitas Jambi Jl. Raya Jambi-Muara Bulian, KM 15 Mendalo Indah Kode Pos 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jurnal Silva Tropika
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26158353     EISSN : 26214113     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
The tropical forest has a unique feature. Its biological and ecological diversity relies on a very complex and interrelated system. Managing the forest sustainably required a wide application in multiple scientific disciplines. Jurnal Silva Tropika is a periodic scientific article and conceptual thinking of tropical forest management covering all aspects of forest planning, forest policy, forest resources utilization, forest ergonomics, forest ecology, forest inventory, silviculture, and management of regional ecosystems. Jurnal Silva Tropika also welcomes the topics that directly or indirectly support tropical forest management, e.g., economics, anthropology, social, and the environment.
Articles 104 Documents
Pengaruh Steam dan Variasi Lapisan Terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Papan Partikel Hibrida Kayu Jabon dan Bambu Betung: Effect of Steam and Layer Variation on The Physical and Mechanical Properties of Jabon Wood and Betung Bamboo Hybrid Particleboard Muhamad, Soleh; Wijayanto, Arip; Nurhanifah, Nurhanifah; Mulyosari, Desy; Anggiriani, Siska
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.44191

Abstract

ABSTRACT This study aims to assess the physical and mechanical properties of hybrid particleboard fabricated from jabon wood (Anthocephalus cadamba) and betung bamboo (Dendrocalamus asper) with the application of steam treatment and variations in the arrangement of particleboard layers. The steam conditioning was executed via autoclaving at a temperature of 126 ºC for a duration of 60 minutes under a pressure of 0.14 MPa to improve particle quality prior to the board manufacturing process. The particleboards were architected following a face/core/back schema with three layered variations, namely jabon particleboard, hybrid jabon/bamboo/jabon, and bamboo/jabon/bamboo. The adhesive agent utilized was urea-formaldehyde (UF), applied at a proportion of 10% relative to the oven-dry weight of the particles. The dimensional specifications of the particleboards were fixed at 30 × 30 × 0.9 cm³, targeting a density of 0.6 g/cm³. The appraisal of the physical and mechanical properties was conducted in strict adherence to JIS A 5908-2003, encompassing density, moisture content, water absorption, thickness swelling, modulus of rupture and modulus of elasticity. The empirical outcomes intimate that the hybrid particleboard with a bamboo/jabon/bamboo subjected to steam treatment manifested superlative performance, substantially augmenting the physical and mechanical properties made from jabon wood and betung bamboo.   Keywords: betung bamboo, hybrid, jabon wood, particleboard, steam.   ABSTRAK Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengkaji sifat fisis dan mekanis papan partikel hibrida yang terbuat dari kayu jabon (Anthocephalus cadamba) dan bambu betung (Dendrocalamus asper) dengan penerapan perlakuan steam serta variasi susunan lapisan papan partikel. Perlakuan steam dilakukan menggunakan autoklaf dengan suhu 126 ºC dengan lama 60 menit dengan tekanan 0,14 MPa untuk meningkatkan kualitas partikel sebelum proses pembuatan papan. Papan partikel disusun dengan pola face/core/back dalam tiga variasi lapisan, yaitu papan partikel jabon, hibrida jabon/bambu/jabon, dan hibrida bambu/jabon/bambu. Perekat yang digunakan yaitu urea formaldehida (UF) sebanyak 10% dari berat kering partikel. Dimensi papan partikel adalah 30x30x0,9 cm³ dengan target kerapatan 0,6 g/cm³. Evaluasi sifat fisis dan mekanis mengikuti kriteria JIS A 5908-2003, mencakup kerapatan, kadar air, daya serap air, pengembangan tebal, modulus of rupture dan modulus of elasticity. Hasil penelitian mengindikasi bahwasanya papan partikel hibrida dengan susunan bambu/jabon/bambu dan perlakuan steam menghasilkan performa terbaik, serta mampu meningkatkan sifat fisis dan mekanis papan partikel berbahan kayu jabon dan bambu betung.   Kata kunci: bambu betung, hibrida, kayu jabon, papan partikel, steam.
Pengaruh Pemberian Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sungkai (Peronema canescens Jack) Di Lapangan: The Effect of Compost of Palm Oil Empty Fruit Bunches for Growth of Sungkai (Peronema Canescens Jack) In the Field Nisya, Dian; Tamin, Rike Puspitasari; Refliaty, Refliaty
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.44333

Abstract

ABSTRACT Sungkai (Peronema canescens Jack) is a locally significant commercial species whose wood production is currently declining. Therefore, it is essential to implement development and cultivation measures to enhance the production of roundwood, which can be achieved through the development of plantation forests. Palm Oil Empty Fruit Bunch Compost (TKKS) is an organic fertilizer that can be applied to ultisol land designated for planting sungkai. TKKS compost contains essential nutrients required by the soil and plants, specifically N 15%, P 0,5%, K 7,3%, and Mg 0,9%. This study employed a Randomized Block Design (RBD) based on a slope gradient of 9%. The design consisted of six treatments with four experimental groups, resulting in a total of 24 experimental plots. Each plot contained nine plants, three of which were designated as samples. The treatments tested included varying doses of TKKS compost: b0: no TKKS compost, b1: 2 kg per planting hole, b2: 4 kg per planting hole, b3: 6 kg per planting hole, b4: 8 kg per planting hole, and b5: 10 kg per planting hole. The results indicated that the application of TKKS compost improved the physical and chemical properties of the soil, including pH, organic carbon, bulk density, and soil total nutrient content. Furthermore, the application of TKKS compost significantly enhanced the growth parameters of sungkai, such as height, diameter, leaf count, dry weight of the canopy, and dry weight of the roots, with the best treatment being b2 (4 kg per planting hole).   Keywords: compost, Peronema canescens Jack., ultisol   ABSTRAK Sungkai (Peronema canescens Jack) merupakan salah satu jenis komersial lokal yang saat ini produksi akan kayunya semakin menurun, sehingga perlu dilakukannya pengembangan dan tindakan budidaya untuk meningkatkan kembali produksi kayu bulat yang dapat ditempuh melalui pengembangan hutan tanaman. Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan salah satu pupuk organik yang dapat diberikan pada lahan ultisol yang akan ditanami sungkai. Kompos TKKS sendiri memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanah dan tanaman yaitu N 15%, P 0,5%, K 7,3% dan Mg 0,9%. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang didasarkan atas tingkat kelerengan dengan total 9%. Rancangan ini terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 kelompok percobaan, sehingga terdapat 24 petak percobaan. Masing-masing petak percobaan ditempatkan sebanyak 9 tanaman yang diantaranya terdapat 3 tanaman sebagai sampel. Perlakuan yang dicobakan adalah dosis kompos TKKS yang terdiri atas b0: tanpa kompos TKKS, b1: 2 kg/lubang tanam, b2: 4 kg/lubang tanam, b3: 6 kg/lubang tanam, b4: 8 kg/lubang tanam dan b5: 10 kg/lubang tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos TKKS dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah berupa pH, C-organik, BV dan TRP tanah, selain itu pemberian kompos TKKS juga dapat meningkatkan pertambahan tinggi, diameter, jumlah daun, berat kering tajuk dan berat kering akar tanaman sungkai dengan dosis b2 (4 kg/lubang tanam) sebagai perlakuan terbaiknya.   Katakunci: kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS), Peronema canescens Jack., ultisol
Perbandingan Laju Fotosintesis pada Tanaman Tanjung (Mimusops elengi Linn.) dan Tanaman Merbau Darat (Intsia palembanica) pada Berbagai Media Tanam: Comparison of Photosynthesis Rates in Tanjung (Mimusops elengi Linn.) and Merbau Darat (Intsia palembanica) on Various Gowing Media Hardiyanti, Rizky Ayu; Puri, Suci Ratna; Handayani, Rajjitha; Rif’atunidaudina, Ria; Rumondang, Jenny; Yandi, Wahyu Nazri; Muryunika, Rince
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.44376

Abstract

ABSTRACT Sunlight plays a crucial role in the process of photosynthesis because it provides the energy source that plants need. The intensity of light received by plants greatly affects their growth and the efficiency of photosynthesis. The rate of photosynthesis in plants is also greatly influenced by the intensity of sunlight, where if there is sufficient light intensity, adequate amounts of water and carbon dioxide, and appropriate temperatures, photosynthesis will usually reach its peak. The purpose of this research is to observe the rate of photosynthesis in Tanjung (Mimusops elengi Linn.) and Merbau darat (Intsia palembanica) plants with various treatments such as the addition of topsoil, subsoil, rice husk charcoal, cocopeat, sand, cow dung fertilizer, and NPK fertilizer using a plant photosynthesis meter. The research was conducted at the Educational Forest and Nursery Laboratory of the Forestry Department, Faculty of Agiculture, Jambi University. The results of this study indicate that Tanjung with the treatment of topsoil, rice husk charcoal, and 5 g of NPK is the best fertilizer application, as evidenced by the highest photosynthesis rate of 31.7 µmolCO2 m-2s-1. Meanwhile, for the merbau darat seedlings, the treatment with topsoil, sand, and 2 g of NPK fertilizer yielded the highest results for the photosynthesis rate.   Keywords: photosynthesis rate, NPK fertilizer, merbau darat, tanjung, subsoil   ABSTRACT Cahaya matahari sangat berperan dalam proses fotosintesis karena dapat memberikan sumber energi yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Intensitas cahaya yang diterima tanaman sangat mempengaruhi pertumbuhan dan efisiensi fotosintesis. Laju fotosintesis pada tanaman juga sangat di pengaruhi oleh intensitas cahaya matahari, dimana jika intensitas cahaya yang cukup, jumlah air dan karbon dioksida yang cukup serta suhu yang sesuai, fotosintesis biasanya akan mencapai puncaknya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat seberapa tinggi laju fotosintesis pada tanaman Tanjung (Mimusops elengi Linn.) dan Merbau darat (Intsia palembanica) dengan berbagai perlakuan seperti penambahan media topsoil, subsoil, arang sekam, cocopeat, pasir, pupuk kotoran sapi dan pupuk NPK dengan alat plant photosyntesis meter. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hutan Pendidikan dan Pembibitan Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tanaman Tanjung dengan pemberian perlakuan topsoil, arang sekam dan NPK 5 g merupakan pemberian pupuk terbaik dengan hasil laju fotosintesis tertinggi yaitu 31,7 µmolCO2m-2s-1. Sedangkan pada bibit merbau darat dengan pemberian perlakuan topsoil, pasir dan pupuk NPK 2 g mendapatlan hasil tertinggi untuk laju fotosintesisnya.   Kata kunci: laju fotosintesis, merbau darat, pupuk NPK, tanjung, subsoil
Pengaruh Pemberian Pupuk NPK Terhadap Pertumbuhan Bibit Kaliandra Merah (Calliandra Calothyrsus Meissn) Pada Media Ultisol: The Effect of NPK Fertilizer Application on The Growth of Red Calliandra Seedlings (Calliandra calothyrsus Meissn) on Ultisol Media Puri, Suci Ratna; Hamzah, Hamzah; Handayani, Rajjitha; Rumondang, Jenny; Desthaniah, Mayhesti
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.44417

Abstract

ABSTRACT Red caliandra (Calliandra calothyrsus Meissn) is a plant that belongs to the Fabaceae family. Callindra has a rapid growth rate, reaching a height of 3-5 meters in the first year on suitable land. The planting medium commonly used for seedlings includes ultisol soil, which generally has sensitive aeration pores and low stability index, causing the soil to easily become compacted. The growth of quality calliandra seedlings in the nursery is influenced by soil fertility; therefore, additional treatment in the form of fertilizer is necessary to ensure sufficient nutrient content. One of the fertilizers that can be used is the NPK compound fertilizer. This fertilizer is one of the inorganic fertilizers that is very efficient in increasing the availability of macro nutrients N, P, and K. This research was conducted in the Forest Cultivation Laboratory of the Faculty of Agriculture, Jambi University, using the Completely Randomized Design (CRD) method with one factor, namely the NPK fertilizer 15:15:15. The treatments given were: P0 (without treatment), P1 (NPK 1 grams), P2 (NPK 2 grams), P3 (NPK 3 grams), P4 (NPK 4 grams), and P5 (NPK 5 grams). Observation parameters include height increase, diameter, leaf count, root dry weight, and shoot dry weight. Based on the research results, it can be concluded that the application of NPK fertilizer has no significant effect on the growth of calliandra seedlings in ultisol media, as observed in all parameters. The application of NPK at certain doses does not yield optimal results in the growth of callindra seedlings.   Keywords: NPK, red calliandra, ultisol ABSTRAK Kaliandra merah (Calliandra calothyrsus Meissn) merupakan tanaman yang termasuk ke dalam famili fabaceae. Kaliandra merah memiliki pertumbuhan yang cepat, ditahun pertama tingginya dapat mencapai 3-5m pada lahan yang memadai. Media tanam bibit yang banyak digunakan diantaranya adalah tanah ultisol yang umumnya peka memiliki pori aerasi dan indeks stabilitas rendah sehingga menyebabkan tanah mudah menjadi padat. Pertumbuhan bibit kaliandra yang berkualitas di persemaian dipengaruhi oleh kesuburan tanah, dengan demikian perlu perlakuan tambahan berupa pupuk agar unsur hara mencukupi. Salah satu pupuk yang dapat digunakan adalah pupuk majemuk NPK. Pupuk ini merupakan salah satu pupuk anorganik yang sangat efisien dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara makro N, P, dan K. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Hutan Fakultas Pertanian Universitas Jambi dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) 1 faktor yaitu pupuk NPK 15:15:15. Perlakuan yang diberikan yaitu: P0 (tanpa perlakuan), P1 (NPK 1 gram), P2 (NPK 2 gram), P3 (NPK 3 gram), P4 (NPK 4 gram), dan P5 (NPK 5 gram). Parameter pengamatan berupa pertambahan tinggi, diameter, jumlah daun, berat kering akar, dan berat kering tajuk. Berdasarkan hasil penelitan, dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk NPK berpengaruh tidak nyata terhadap pertumbuhan bibit kaliandra merah pada media ultisol yang terlihat pada semua parameter. Pemberian NPK dengan dosis tertentu tidak memberikan hasil optimal pada pertumbuhan bibit kaliandra merah.   Kata kunci: NPK, kaliandra merah, ultisol
Perbaikan Pertumbuhan Gmelina arborea Roxb dan Nauclea orientalis Linn dengan Pemangkasan Akar dan pemberian Biostimulan: Enhancement of Gmelina arborea Roxb and Nauclea orientalis Linn Growth with Root Pruning and Bio-Stimulants Farikhah, Anisatul; Wulandari, Arum Sekar
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.44488

Abstract

ABSTRACT A lack of seedling maintenance could lead to decreases in the quality of their growth. Stunted root systems could lead to future disruptions in nutrient absorption. In this research, the root system was improved by applying root pruning to improve the growth of new lateral roots. Furthermore, liquid fertilizer was added to further increase plant growth. This study aims to examine the influence of root pruning and bio-stimulants towards the growth of the saplings gmelina (Gmelina arborea Roxb) and canary wood (Nauclea orientalis Linn), both of which had stunted growth in their permanent nursery in Dramaga Bogor, Indonesia. Factorial design with two analysis factors was used in this study. These were root pruning (0% and 30%) and bio-stimulants (0% and 2%). The combination of 0% root pruning and 2% bio-stimulants increased G. arborea growth (diameter, total dry weight, and number of leaves) and N. orientalis growth (height, diameter, and total dry weight). The combination of 30% root pruning and 0% bio-stimulants showed a significant influence on the number of G. arborea leaves. The combination of 30% root pruning and 2% bio-stimulants affected the leaf colour change of G. arborea and increased both of the saplings root growth. In all treatments, G. arborea and N. orientalis saplings had a seedling quality index value in the range of 0.2 – 1.1. Keywords: bio-stimulants, Gmelina arborea, nauclea orientalis, root pruning, seedlings   ABSTRAK Kurangnya kegiatan pemeliharaan dalam persemaian dapat menyebabkan penurunan kualitas bibit bahkan dapat menyebabkan kematian bibit. Salah satu penyebab kematian bibit adalah akar tidak dapat berkembang dengan baik sehingga fungsinya sebagai alat absorpsi unsur hara akan terganggu. Pada penelitian ini, pemangkasan akar dilakukan untuk memperbaiki sistem perakaran dan meningkatkan pertumbuhan akar lateral baru. Oleh sebab itu, penambahan pupuk cair juga dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh kombinasi pemangkasan akar dan pemberian biostimulan terhadap pertumbuhan bibit gmelina (Gmelina arborea Roxb) dan gempol (Nauclea orientalis Linn) yang keduanya mengalami stagnasi di persemaian permanen Dramaga Bogor. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial, dengan 2 faktor yaitu pemangkasan akar dan pemberian biostimulan. Pemangkasan akar terdiri atas 2 taraf yaitu 0% dan 30%. Pemberian biostimulan terdiri dari 2 taraf yaitu 0% dan 2%. Pemberian biostimulan 2% dapat meningkatkan pertumbuhan G. arborea (diameter, berat kering total, dan jumlah daun) dan meningkatkan pertumbuhan N. orientalis (tinggi, diameter, dan berat kering total). Pemangkasan akar 30% menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap penambahan jumlah daun G. arborea. Sedangkan kombinasi pemangkasan akar dan pemberian biostimulan mempengaruhi perubahan warna daun pada G. arborea dan meningkatkan pertumbuhan akar pada kedua bibit. Pada semua perlakuan, bibit G. arborea dan N. orientalis memiliki nilai indeks kualitas bibit pada kisaran 0,2 – 1,1. Kata kunci: bibit, biostimulan, Gmelina arborea, nauclea orientalis, pemangkasan akar
Keanekaragaman Jenis Mangrove Di Kawasan Pesisir Pantai Pasir Putih Padang: Diversity Of Magrove Species In The Coastal Area Of White Sand Beach Padang Melayu, Melani Arma; Latifa, Anisa; Syamsurizal, Syamsurizal
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.44498

Abstract

ABSTRACT This study aims to describe the diversity of mangrove Indonesia has a wealth of diverse mangrove ecosystems, making it the country with the highest mangrove forest diversity worldwide. These ecosystems serve as a link between sea and land, and are a crucial source of life in coastal areas, providing various direct and indirect benefits to humans. This study aims to explain the diversity of mangrove species in the coastal area of Pasir Putih Beach, Padang. This research was conducted in April 2025 using the exploration method and purposive sampling technique through plot making. Observation plots were made with varying sizes according to the growth phase of mangrove plants, namely Plot A measuring 2x2 meters, Plot B measuring 5x5 meters, and Plot C measuring 10x10 meters. The results showed the presence of six mangrove species, including Nypa fruticans, Avicennia marina, Terminalia catappa, Ipomoea pes-caprae, Acrostichum speciosum, and Pandanus tectorius. This study provides basic data on mangrove species diversity in the coastal area of Pasir Putih Beach, Padang, to support further research and conservation efforts in the area. Keywords: coastal, diversity, mangrove ecosystem   ABSTRAK Indonesia memiliki kekayaan ekosistem mangrove yang sangat beragam, menjadikannya negara dengan keanekaragaman hutan mangrove tertinggi di seluruh dunia. Ekosistem ini berfungsi sebagai penghubung antara laut dan daratan, serta menjadi sumber kehidupan yang krusial di wilayah pesisir, memberikan berbagai manfaat baik langsung maupun tidak langsung kepada manusia. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui keragaman jenis mangrove yang ada di kawasan pesisir Pantai Pasir Putih, Padang. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2025 dengan menggunakan metode eksplorasi dan teknik purposive sampling melalui pembuatan plot. Plot pengamatan dibuat dengan ukuran bervariasi sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman mangrove, yaitu Plot A berukuran 2x2 meter, Plot B berukuran 5x5 meter, dan Plot C berukuran 10x10 meter. Hasil penelitian menunjukkan adanya enam jenis mangrove, antara lain Nypa fruticans, Avicennia marina, Terminalia catappa , Ipomoea pes-caprae, Acrostichum speciosum, dan Pandanus tectorius. Penelitian ini memberikan data dasar mengenai keragaman jenis mangrove di kawasan pesisir Pantai Pasir Putih, Padang, untuk mendukung penelitian selanjutnya dan upaya konservasi di area tersebut. Kata kunci: ekosistem mangrove, keanekaragaman, pesisir
Pengaruh Proses Bleaching Terhadap Finishing Kayu Pinus Dan Kayu Karet Terserang Blue Stain: The Effect of Bleaching Process on Finishing of Pine Wood and Rubber Wood Attacked by Blue Stain Mulyosari, Desy; Wijayanto, Arip; Muhamad, Soleh; Nurhanifah, Nurhanifah; Anggiriani, Siska; Fitrianto, Taufik Ramadhan; Widiyanto, Wahyu
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.44692

Abstract

ABSTRACT One of the problems faced by the furniture industry is the attack of coloring fungi or what is commonly called blue stain. The attack of coloring fungi causes color changes so that the appearance of the wood decreases. The bleaching process is one way that can be done to overcome the attack of blue stain. The bleaching process in the industry uses the chemical white agent 250 (WA-250). However, research related to the effect of the bleaching process on the finishing of pine wood and rubber wood attacked by blue stain has not been carried out. This study aims to determine the effect of the bleaching process on the finishing of pine wood and rubber wood attacked by blue stain. Finishing tests include testing the adhesion of the finishing layer (cross cut test) referring to ASTM D 3359, flexibility testing is carried out with a coin test, and hardness testing refers to ASTM D 3363. The results of this study are that the bleaching process does not affect the finishing process on pine wood and rubber wood attacked by blue stain, both those treated with bleaching and those without bleaching treatment, which are included in the same finishing quality category. Based on the adhesion test, it is included in class 4B (Good) and its flexibility gets a value of 5 (very good), while the hardness of the finishing layer is in the less category.   Keywords: bleaching, blue stain, finishing, pine wood, rubber wood   ABSTRAK Permasalahan yang dihadapi oleh industri furnitur salah satunya adalah serangan jamur pewarna atau yang biasa disebut blue stain. Serangan jamur pewarna tersebut menyebabkan perubahan warna sehingga terjadi penurunan penampilan kayu. Proses bleaching merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi adanya serangan blue stain. Proses bleaching pada industri menggunakan bahan kimia white agent 250 (WA-250). Namun, penelitian terkait pengaruh proses bleaching pada finishing kayu pinus dan kayu karet terserang blue stain belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh proses bleaching terhadap finishing pada kayu pinus dan kayu karet yang terserang blue stain. Pengujian finishing meliputi pengujian daya lekat lapisan finishing (cross cut test) mengacu pada ASTM D 3359, pengujian fleksilbilitas dilakukan dengan coin test, dan pengujian kekerasan mengacu pada ASTM D 3363. Hasil penelitian ini adalah proses bleaching tidak mempengaruhi proses finishing pada kayu pinus dan kayu karet yang terserang blue stain baik yang diberi perlakuan bleaching maupun tanpa perlakuan bleaching masuk dalam kategori kualitas finishing yang sama. Berdasarkan uji daya lekat termasuk pada kelas 4B (baik) dan fleksibilitasnya memperoleh nilai 5 (sangat bagus), sedangkan kekerasan lapisan finishingnya kategori kurang. Kata kunci: bleaching, blue stain, finishing, kayu karet, kayu pinus
Dampak Alih Fungsi Lahan Hutan Menjadi Lahan Perkebunan Terhadap Kualitas Fisik Tanah: Impact of Forest Land Use Change to Plantation Land on Soil Physical Quality Junedi, Heri; Antony, Dedy; Mastur, Agus Kurniawan
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.44721

Abstract

ABSTRACT The conversion of land from forest land to plantation land causes the surface of the land to be exposed for quite a long time. This results in rapid decomposition of organic matter so that the organic matter content in the soil decreases rapidly. As a result, there was a decline in physical quality. The research was descriptive exploratory, with a field survey approach using a 1:10,000 scale work map and supported by soil analysis in the laboratory. Representative areas were selected using the Stratified Random Sampling method for three types of land use, namely rubber plantations, oil palm plantations and shrubs. Each soil sample was taken randomly 3 times on a slope of 3-8%. Sampling was carried out at depths of 0-30 cm and 31-60 cm. The parameters observed in this research were soil texture (pipette method), soil structure (field observations), soil organic matter content (Walkley & Black method), soil volume weight (gravimetric method), porosity (based on calculations), soil permeability (De Boodt method), and available soil water content (Plate Apparatus-Gravimetric method). The research results show that the conversion of secondary forest land to plantation land has an impact on reducing organic matter content, soil porosity, soil permeability, and available soil water content and increasing soil volume weight. It is necessary to conduct further studies on the impact of land conversion on the quality of soil chemical properties and find solutions so that the decline in soil quality that has occurred is slowed.   Keywords: conversion, degradation, forest, physical quality   ABSTRAK Alih fungsi lahan dari lahan hutan menjadi lahan perkebunan menyebabkan terbukanya permukaan lahan dalam waktu yang cukup lama. Hal ini mengakibatkan terjadinya dekomposisi bahan organik secara cepat sehingga kandungan bahan organik di dalam tanah menurun secara cepat. Akibatnya terjadi penurunan kualitas fisik Penelitian bersifat deskriptif eksploratif, dengan pendekatan survei lapangan menggunakan peta kerja skala 1:10.000 dan didukung analisis tanah di laboratorium. Pemilihan area pewakil dengan menggunakan metode Stratafied Random Sampling pada tiga macam tipe penggunaan lahan yaitu lahan kebun karet, kebun kelapa sawit, dan semak belukar. Sampel tanah diambil masing-masing secara acak sebanyak 3 kali ulangan pada kemiringan lereng 3-8 %. Pengambilan sampel dilakukan pada kedalaman 0-30 cm dan 31-60 cm. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah tekstur tanah (metode pipet), struktur tanah (pengamatan di lapangan), kandungan bahan organik tanah (metode Walkley & Black), berat volume tanah (metode gravimetri), porositas (berdasarkan perhitungan), permeabilitas tanah (metode De Boodt), dan kadar air tanah tersedia (metode Plate Apparatus-Gravimetri). Hasil penelitian menunjukkan alih fungsi lahan hutan sekunder menjadi lahan perkebunan berdampak pada penurunan kandungan bahan organik, porositas tanah, permeabilitas tanah, dan kadar air tanah tersedia dan peningkatan berat volume tanah. Perlu dilakukan kajian lanjut dampak alih fungsi lahan terhadap kualitas sifat kimia tanah dan menemukan solusi agar penurunan kualitas tanah yang telah terjadi diperlambat.   Kata kunci: degradasi, hutan, konversi, kualitas fisik
Pengaruh Bleaching Terhadap Sifat Fisis Dan Perubahan Warna Kayu Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) Terserang Blue Stain: The Effect of Bleaching on Physical Properties and Color Change of Blue Stain-Infected Pine Wood Anggiriani, Siska; Wijayanto, Arip; Nurhanifah, Nurhanifah; Muhamad, Soleh; Mulyosari, Desy; Widiyanto, Wahyu; Fitrianto, Taufik Ramadhan
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.44803

Abstract

ABSTRACT Pine is one of wood species that widely used as raw material for furniture making. Pine is easy to obtain, easy to work with, and has distinctive colors and patterns. However, pine is susceptible to being attacked by contaminating fungi (blue stain) on its surface. Blue stain attack wood surface is a problem that must be solved due to its effect on wood appearance. The idea to restrain this problem is bleaching process. Bleaching process carried out in this study used 25% sodium hypochlorite which was dissolved in water in a ratio of 1:2 (w/w). The bleaching process carried out has a significant effect on  moisture content (MC) of pine wood, but does not have a significant effect on its density. The MC value of pine wood after bleaching tends to increase compared to the untreated wood. The color change of pine wood after bleaching is indicated by the ΔE value (3.0 < ΔE < 6.0) which is classified as a moderate effect. The color of the control pine wood was originally slightly desaturated orange and after bleaching it became slightly desaturated orange   Keywords: bleaching, color change, finishing, furniture, pine.   ABSTRAK Pinus merupakan salah satu jenis kayu yang banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan furnitur. Hal ini karena Pinus  mudah mudah didapatkan, mudah dikerjakan, dan memiliki warna dan corak yang khas. Namun, Pinus rentan terserang jamur pengotor (blue stain) pada permukaannya. Serangan blue stain pada permukaan kayu merupakan permasalahan yang harus diatasi karena adanya seranagn blue stain dapat mempengaruhi penampilan kayu. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melakukan proses bleaching. Proses bleaching yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan sodium hipoklorit 25% yang dilarutkan menggunakan air dengan perbandingan 1:2 (b/b). Proses bleaching yang dilakukan berpengaruh nyata terhadap kadar air (KA) kayu pinus, namun tidak berpengaruh nyata terhadap kerapatannya. Nilai KA kayu pinus setelah bleaching cenderung meningkat dibanding kontrolnya. Perubahan warna kayu Pinus setelah bleaching ditunjukkan dengan nilai ΔE (3,0 < ΔE < 6,0) yang tergolong pengaruhnya sedang. Warna pada kayu pinus control semula berwarna slightly desaturated orange dan setelah bleaching menjadi slightly desaturated orange.   Kata kunci: bleaching, finishing, furnitur, perubahan warna, pinus.
Etnobotani pada Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Dua Belas Wilayah Air Hitam: Ethnobotany of Suku Anak Dalam in Bukit Dua Belas National Park Air Hitam Region Albayudi, Albayudi; Sardi, Idris; Putra, Firmansyah; Nur'aini, Hanifah; Darsono, Beti Septiana; Aini, Yasri Syarifatul
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i1.45063

Abstract

ABSTRACT Knowledge about the interaction between indigenous communities and plants is documented in ethnobotanical studies. One manifestation of the interaction between traditional communities and plants is the use of plants for religious purposes. Suku Anak Dalam (SAD), located in Air Hitam, Sarolangun Regency, Jambi Province, is an indigenous community that utilizes plants in the performance of traditional rituals. The traditional knowledge held by the community embodies local wisdom, particularly in terms of environmental stewardship. This study aims to identify and analyze the use of plants for religious purposes by the Suku Anak Dalam (SAD) community living in the Bukit Dua Belas National Park area, Air Hitam District, Sarolangun Regency, Jambi Province. The research method employed was an ethnobotanical survey through in-depth interviews with key informants and direct field observation. The results showed that 48 plant species are used in 8 cultural expressions related to religious practices, these are: rumah adat, pohon sialang, setubung anak, balai mandi budak atau Turun de ayek, tanah pranoon, tanah banuaron, tanah bebalai, dan ruang berburu. The most frequently used plant part is the stem (36%), while the least used is the seed (6%). This knowledge reflects the local wisdom of the SAD community in preserving both spiritual values and the surrounding natural environment.   Keywords: anak dalam tribe, ethnobotany, plants, religion   ABSTRAK Pengetahuan mengenai interaksi antara masyarakat adat dengan tumbuhan didokumentasikan dalam studi etnobotani. Salah satu bentuk interaksi masyarakat adat dengan tumbuhan adalah dalam penggunaan pada aspek religi. Suku Anak Dalam (SAD) yang terletak di Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi adalah salah satu kelompok masyarakat adat yang menggunakan tumbuhan dalam pelaksanaan ritual adat. Pengetahuan tradisional yang ada di masyarakat memiliki nilai-nilai kearifan masyarakat dalam hal menjaga lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pemanfaatan tumbuhan dalam aspek religi oleh masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) yang tinggal di wilayah Taman Nasional Bukit Dua Belas, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Metode yang digunakan adalah survei etnobotani melalui wawancara mendalam dengan informan kunci serta observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 48 spesies tumbuhan yang digunakan dalam delapan bentuk ekspresi budaya yang berkaitan dengan aspek religi, yaitu rumah adat, pohon sialang, setubung anak, balai mandi budak atau Turun de ayek, tanah pranoon, tanah banuaron, tanah bebalai, dan ruang berburu. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah batang (36%), sedangkan bagian yang paling sedikit digunakan adalah biji (6%). Pengetahuan ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat SAD dalam menjaga nilai spiritual serta kelestarian alam sekitarnya.   Kata kunci: etnobotani, suku anak dalam, tumbuhan, religi

Page 10 of 11 | Total Record : 104