cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 351 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 1 (2026)" : 351 Documents clear
Pengaruh Aroma Terapi Daun Mint dengan Inhalasi Sederhana Terhadappenurunan Frekuensi Pernapasan Pada Penderita Tuberculosis Paru di RSU Royal Prima Medan Tahun 2025 Nabila Naswa; Sari Deli Napitupulu; Sabdan Sabdan; Afeus Halawa
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53853

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan biasanya menyerang paru-paru. Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit menular dengan angka kematian tertinggi di dunia. Gejala umum yang dialami pasien TB adalah peningkatan laju pernapasan. Untuk mengurangi frekuensi pernapasan, terapi nonfarmakologis yang umum digunakan adalah aromaterapi daun mint, yang secara alami meredakan saluran pernapasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi relaksasi aromaterapi daun mint terhadap frekuensi pernapasan pada pasien tuberkulosis (TB). Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental satu kelompok pretest-posttest. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 55 pasien tuberkulosis (TB). Sampel penelitian diambil menggunakan teknik sampling jenuh, menghasilkan ukuran sampel sebanyak 55 sampel. Pengumpulan data menggunakan data primer, sekunder, dan tersier, dan aspek pengukuran menggunakan lembar observasi. Pengolahan data menggunakan uji peringkat bertanda Wilcoxon. Hasil berdasarkan uji peringkat bertanda Wilcoxon, nilai p=0,00<α0,05. Kesimpulan hipotesis Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti terdapat pengaruh terapi relaksasi aromaterapi daun mint terhadap laju pernapasan pada pasien tuberkulosis (TB).
The Application of Cold Compress and Benson Therapy to Reduce Cannulation Pain in Chronic Kidney Failure Patients Undergoing Hemodialysis at Royal Prima Hospital Medan 2025 Putri Aulia Mardhini; Revalina Benedikta Br Tamba; Wikar Suci Zega; Elda Nur Saqinah; Maresa Sri Intan Gulo; Tiarnida Nababan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53856

Abstract

Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan kondisi kerusakan ginjal yang menyebabkan organ tidak mampu menjalankan fungsi penyaringan darah secara optimal. Faktor risiko yang paling sering berperan antara lain diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, serta adanya riwayat keluarga dengan gangguan ginjal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas pemberian kompres dingin dan terapi Benson dalam mengurangi tingkat nyeri saat kanulasi pada pasien dengan gagal ginjal kronis yang menjalani prosedur hemodialisis di RSU Royal Prima Medan pada tahun 2025. Metodologi penelitian yang terapkan bersifat kuantitatif dengan desain Quasi-Eksperimen, yaitu jenis One Group Pretest-Posttest, dimana pengukuran dilakukan pada kelompok yang sama, baik sebelum maupun setelah intervensi. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh pasien gagal ginjal kronik yang menerima perawatan hemodialisa di RSU Royal Prima Medan dengan jumlah sebanyak 139 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian pasien gagal ginjal kronik di RSU Royal Prima Medan yang berjumlah 35 orang. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel pada penelitian ini adalah accidental sampling. Hasil penelitian terhadap 35 responden, didapatkan data mengenai perbandingan antara tingkat nyeri sebelum dan sesudah dilakukan intervensi berupa kompres dingin dan terapi benson. Sebelum intervensi, terdapat 20 responden (57,1%) yang mengalami keluhan nyeri ringan, sedangkan sisanya sebanyak 15 responden (42,9%) mengalami nyeri sedang. Setelah diberikan kompres dingin dan terapi benson,total responden yang mengalami nyeri ringan meningkat menjadi 26 responden (74,3%), dan total responden yang mengalami nyeri sedang menurun menjadi 9 responden (25,7%). Kesimpulan adanya pengaruh kompres dingin dan terapi benson terhadap penurunan nyeri kanulasi pada pasien yang melajani hemodialisa.
Formulasi Sediaan Gargarisma Kombinasi Katekin Dengan Infusa Daun Sirih ( Piper betle L.) Serta Uji Aktivitas Antibakteri Terhadap Bakteri S.Mutans Reski Mulia; Neike Octary; Muhammad Fathurrahman
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53879

Abstract

Katekin merupakan senyawa golongan polifenol yang berpotensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, obat diare, dan obat disentri. Sirih mengandung senyawa tanin dan minyak atsiri seperti hidroksikavikol, kavikol, kalibetol, allypyroketkol, karvakol, eugenol, cyneole, dan cadine, yang berpotensi sebagai antiinflamasi, antikejang, analgetik, anestetik, antidiare, dan antimutagenik. Senyawa ini terbukti dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans yang menginisiasi pembentukan plak sehingga dapat menimbulkan karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan gargarisma kombinasi katekin dengan infusa daun sirih dan melihat aktivitas antibakteri terhadap bakteri S. mutans. Hasil evaluasi sediaan pada suhu ruang (25-30°C) menunjukan bahwa F1, F2, F3, F4 merupakan formula yang stabil dibandingkan dengan formula lain dan gargarisma X. Sediaan gargarisma yang mengandung katekin dan daun sirih memiliki daya hambat terhadap bakteri S. mutans ATCC 25175. Dari Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sediaan F1 merupakan sediaan yang memiliki diameter hambat paling besar dibandingkan sediaan lain dan gargarisma pembanding X
The Impact of Sociocultural And Gender Equality Factors on Teenage Pregnancy: A Case Report Dwi Admi Sucita; Abdul Rahman; Trika Irianta; M. Hamsah; Anna Sri Dewi; Gina Isni Iskanda
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53886

Abstract

Kehamilan pada remaja tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius dengan dampak yang luas terhadap kesehatan fisik, psikologis, dan sosial remaja putri. Faktor biologis tidak sepenuhnya menentukan fenomena ini; kondisi sosiobudaya dan ketidaksetaraan gender memiliki pengaruh yang kuat terhadapnya. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dampak faktor sosiobudaya dan ketidaksetaraan gender terhadap kehamilan pada remaja menggunakan pendekatan studi kasus. Metode deskriptif kualitatif dengan desain laporan kasus digunakan, dengan fokus pada seorang remaja perempuan berusia 14 tahun yang mengalami persalinan pertamanya di rumah sakit rujukan. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan klinis, wawancara anamnesis, dan tinjauan catatan medis, dan dianalisis secara deskriptif dengan mengintegrasikan temuan klinis dengan latar belakang sosiobudaya pasien. Temuan menunjukkan bahwa praktik pernikahan dini, literasi kesehatan reproduksi yang terbatas, dan posisi tawar yang rendah dari remaja putri memainkan peran signifikan dalam terjadinya kehamilan remaja. Meskipun proses persalinan berlangsung tanpa komplikasi, konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial tetap signifikan. Kasus ini menunjukkan bahwa kehamilan remaja adalah fenomena multidimensional yang dibentuk oleh interaksi antara norma budaya, struktur keluarga, dan sistem kesehatan. Temuan ini menyoroti pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif dan sensitif secara budaya, peningkatan keterlibatan keluarga, serta pengembangan layanan kesehatan yang ramah remaja. Pendekatan lintas sektor dianggap esensial untuk menangani kehamilan remaja secara efektif dan mempromosikan perbaikan berkelanjutan dalam hasil kesehatan remaja. Teenage pregnancy remains a major public health issue with far-reaching implications for the physical, psychological, and social well-being of adolescent girls. Biological factors do not solely determine this phenomenon; sociocultural conditions and gender inequality strongly influence it. This study aims to analyze the impact of sociocultural and gender equality factors on teenage pregnancy using a case study approach. A qualitative descriptive method with a case report design was employed, focusing on a 14-year-old adolescent girl who experienced her first childbirth at a referral hospital. Data were collected through clinical examinations, anamnesis interviews, and medical record reviews, and were analyzed descriptively by integrating clinical findings with the patient's sociocultural background. The findings reveal that early marriage practices, limited reproductive health literacy, and the low bargaining position of adolescent girls play a significant role in the occurrence of teenage pregnancy. Although the delivery process was uncomplicated, the potential long-term consequences for health, education, and social well-being remain substantial. The case illustrates that teenage pregnancy is a multidimensional phenomenon shaped by the interaction of cultural norms, family structures, and healthcare systems. These findings highlight the need for comprehensive and culturally sensitive reproductive health education, strengthened family involvement, and the development of adolescent-friendly health services. A cross-sectoral approach is considered essential to address teenage pregnancy effectively and to promote sustainable improvements in adolescent health outcomes.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anemia pada Ibu Hamil di RSUDDr. La Palaloi Maros Ika Azdah Murnita; Nurul Sri Lestari Daud; Safitri A. Ladising
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53887

Abstract

Anemia pada ibu hamil masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berdampak terhadap kondisi ibu dan janin, sehingga memerlukan upaya pencegahan yang komprehensif melalui pelayanan kesehatan maternal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil, meliputi usia ibu, usia kehamilan, paritas, tingkat pengetahuan, kunjungan antenatal care, dan kepatuhan konsumsi tablet Fe. Penelitian menggunakan desain survei analitik dengan pendekatan potong lintang dan dilaksanakan di RSUD dr. La Palaloi Kabupaten Maros. Sampel penelitian berjumlah 55 ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan data rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia kehamilan, kunjungan antenatal care, dan kepatuhan konsumsi tablet Fe memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Ibu hamil dengan usia kehamilan berisiko, kunjungan antenatal care tidak lengkap, serta ketidakpatuhan konsumsi tablet Fe memiliki proporsi anemia sedang yang lebih tinggi. Sementara itu, usia ibu, paritas, dan tingkat pengetahuan tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian anemia. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor fisiologis kehamilan dan kepatuhan terhadap pelayanan serta intervensi kesehatan lebih berperan dalam terjadinya anemia dibandingkan karakteristik demografis dan tingkat pengetahuan. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan kunjungan antenatal care dan peningkatan kepatuhan konsumsi tablet Fe sebagai strategi utama dalam menurunkan kejadian anemia pada ibu hamil. Anemia among pregnant women remains a significant public health problem that affects both maternal and fetal health outcomes, requiring comprehensive preventive strategies through maternal health services. This study aimed to analyze factors associated with anemia among pregnant women, including maternal age, gestational age, parity, level of knowledge, antenatal care visits, and adherence to iron tablet use. An analytic cross-sectional survey design was employed, and the study was conducted at RSUD dr. La Palaloi, Maros Regency. A total of 55 pregnant women were selected as respondents using a consecutive sampling technique. Data were collected through structured questionnaires and medical record reviews and analyzed using the Chi-Square test with a significance level of 0.05. The findings revealed that gestational age, antenatal care visits, and compliance with iron tablet consumption were significantly associated with anemia among pregnant women. Pregnant women with high-risk gestational age, incomplete antenatal care visits, and non-compliance with iron tablet consumption showed a higher proportion of moderate anemia. In contrast, maternal age, parity, and knowledge level were not significantly associated with anemia. These results indicate that physiological changes during pregnancy and adherence to health services and interventions play a more critical role in the development of anemia than demographic characteristics or cognitive factors. This study emphasizes the importance of strengthening antenatal care services and improving compliance with iron supplementation as key strategies to reduce the incidence of anemia among pregnant women.
Pengaruh Aromaterapi Inhalasi Lemon Terhadap Mual dan Muntah Pada Ibu Hamil Trimester I di Bpm Rosalina Munthe Medan Johor Rio Jenita Sipayung; Rizka Sititah Rambe; Rianita Siagian
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53906

Abstract

ABSTRAK Aromaterapi merupakan terapi yang memanfaatkan komponen minyak esensial dari tumbuhan. Menurut studi sekitar 40% wanita telah menggunakan aromaterapi lemon dalam meredakan keluhan mual dan muntah. Dari sekitar tersebut 26,5% melaporkan bahwa aroma lemon merupakan cara yang efektif untuk mengontrol gejala mual muntah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aromaterapi inhalasi lemon terhadap mual dan muntah pada ibu hamil trimester I di BPM Rosalina Munthe Medan Johor. Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperimen dengan rancangan penelitian One Group Pre-test Post-test. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang mengalami mual dan muntah trimester I berjumlah 28 orang dan sampel berjumlah 15 orang. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Analisa bivariat dengan uji t-dependent. Hasil penelitian univariat diperoleh rata-rata frekuensi mual dan muntah pada ibu hamil trimester I sebelum diberikan aromaterapi inhalasi adalah 4,60 kali, median 5 kali dengan stándar deviasi 1,298 kali. Frekuensi mual dan muntah terendah adalah 3 kali dan tertinggi adalah 7 kali. Rata-rata frekuensi mual dan muntah pada ibu hamil trimester I sesudah diberikan aromaterapi inhalasi lemon adalah 3,87 kali, median 4 kali dengan stándar deviasi 1,302 kali. Frekuensi mual dan muntah terendah adalah 2 kali dan tertinggi adalah 6 kali. Hasil uji statistik diperoleh nilai p (0,000) dapat disimpulkan adanya pengaruh aromaterapi inhalasi lemon terhadap mual dan muntah pada ibu hamil trimester I di BPM Rosalina Munthe Medan Johor. Diharapkan kepada bidan dapat memberikan alternatif aromaterapi inhalasi lemon dalam mengurangi mual dan muntah selama kehamilan. Kata kunci : Ibu Hamil Trimester I, Aromaterapi, Inhalasi Lemon, Mual dan Muntah
Analisis Efektivitas Kelas Ibu Hamil dalam Upaya Peningkatan Cakupan K6 Berdasarkan Pendekatan Sistem di Puskesmas Kabupaten Bondowoso Afifah Faza Maulidha; Leersia Yusi Ratnawati; Nuryadi Nuryadi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53933

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas pelaksanaan kelas ibu hamil dalam upaya peningkatan cakupan kunjungan antenatal enam kali (K6) berdasarkan pendekatan sistem di Puskesmas Kabupaten Bondowoso. Latar belakang penelitian didasarkan pada belum tercapainya target cakupan K6 serta rendahnya partisipasi ibu hamil dalam kegiatan kelas ibu hamil. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi meliputi seluruh unit kelas ibu hamil di 25 Puskesmas Kabupaten Bondowoso sebanyak 219 unit dengan teknik total sampling. Variabel independen meliputi komponen input 5M (Man, Money, Method, Materials, dan Machine), sedangkan variabel dependen adalah efektivitas kelas ibu hamil yang diukur berdasarkan pencapaian proses POAC terhadap output cakupan K6. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis dengan uji regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan seluruh komponen input 5M berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kelas ibu hamil (p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa kesiapan sumber daya dan proses pelaksanaan yang terintegrasi berperan penting dalam mendukung efektivitas kelas ibu hamil sebagai upaya peningkatan cakupan K6. Kata Kunci: kelas ibu hamil, efektivitas program, pendekatan sistem, K6
Efektivitas Latihan Exercise Walking Untuk Meningkatkan Kualitas Tidur Terhadap Lansia Yang Mengalami Diabetes Melitus di Panti Jompo Yayasan Guna Budi Bakti Medan Tahun 2025 Faarozatulo Ndruru; Dwi Apriani Anjarina; Nency Purmaya Mendrofa; Rosa Elisabeth Hutapea; Grasia Maharani Manik; Karmila Br Kaban
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53936

Abstract

Diabetes mellitus adalah kondisi metabolik jangka panjang yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah yang berkelanjutan. Ketersediaan terus-menerus dari opsi terapi yang efektif dan terjangkau, termasuk terapi insulin, memainkan peran krusial dalam menjaga kesehatan dan fungsi sehari-hari pada individu yang terkena diabetes. Salah satu manifestasi yang sering dilaporkan dari diabetes mellitus adalah nokturia, yang dapat mengganggu siklus tidur normal dan berdampak negatif pada kualitas tidur secara keseluruhan. Kualitas tidur yang buruk sering dikaitkan dengan gangguan endokrin dan metabolik, termasuk intoleransi glukosa, resistensi insulin, dan penurunan produksi insulin. Latihan berjalan dianggap sebagai strategi non-farmakologis yang praktis yang berpotensi meningkatkan kualitas tidur melalui relaksasi fisiologis dan peningkatan tekanan tidur homeostasis. Aktivitas berjalan yang konsisten mendukung pengeluaran energi, merangsang sekresi endorfin, dan menimbulkan perubahan termoregulasi yang dapat memfasilitasi onset dan kontinuitas tidur. Penelitian ini dilakukan untuk menilai dampak latihan berjalan kaki terhadap kualitas tidur pada individu lanjut usia yang didiagnosis menderita diabetes mellitus. Desain kuasi-eksperimental kuantitatif dengan pendekatan pretest–posttest satu kelompok digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini melibatkan 55 peserta yang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan dan direkrut menggunakan metode sampling total. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Wilcoxon signed-rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan yang signifikan secara statistik pada kualitas tidur setelah intervensi latihan berjalan kaki, sebagaimana tercermin dari nilai p sebesar 0.000. Dari total peserta, 42 responden (76,4%) mengalami perbaikan kualitas tidur setelah menyelesaikan program berjalan kaki yang dijadwalkan.
Hubungan Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja Perawat di RSUD Madani Provinsi Sulawesi Tengah Miranti Bulia; I Made Rio Dwijayanto; Widyawaty L. Situmorang
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53981

Abstract

Kepuasan kerja perawat merupakan aspek penting dalam mendukung mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kepemimpinan dan budaya organisasi berperan besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dan produktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan gaya kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan kerja perawat di RSUD Madani Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat di RSUD Madani sebanyak 266 orang, dengan sampel 73 responden yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Pearson Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan yang dominan diterapkan adalah gaya demokratis (61,6%). Budaya organisasi berada pada kategori baik (74,0%), dan tingkat kepuasan kerja perawat tergolong sangat puas. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara gaya kepemimpinan demokratis dengan kepuasan kerja perawat (p = 0,003), sementara gaya kepemimpinan otoriter (p = 0,836) dan partisipatif (p = 0,095) tidak menunjukkan hubungan signifikan. Selain itu, budaya organisasi memiliki hubungan yang signifikan dengan kepuasan kerja perawat (p = 0,004).
Readiness Of Health Workers To Implement Digital Integrated Patient Progress Notes For Interprofessional Collaboration: A Conceptual And Systematic Review Mera Delima; Tanti Anggreiniboti; Regidor III Dioso
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53984

Abstract

Digital transformation in healthcare services has encouraged the adoption of electronic documentation, including digitally based Integrated Patient Progress Notes (IPPN). The implementation of this system has the potential to enhance the effectiveness of interprofessional collaboration through accurate and real-time access to clinical information. However, the success of implementation is highly dependent on the readiness of health workers. This article aims to examine the readiness of health workers in implementing digitally based Integrated Patient Progress Notes to support interprofessional collaboration and to identify supporting and inhibiting factors. This study employs a conceptual approach and a systematic literature review of scientific articles published from 2018 to 2025 sourced from national and international databases, with the selection process conducted in accordance with the PRISMA 2020 guidelines. The review indicates that digital literacy, technological competence, understanding of clinical documentation, attitude toward innovation, organizational support, training, and infrastructure availability are the main factors influencing readiness for implementation. The application of digital systems has been proven to strengthen interprofessional communication and improve the quality of data-driven clinical decision-making. The implementation of digitally based Integrated Patient Progress Notes has the potential to support interprofessional collaboration if supported by adequate health worker readiness and infrastructure. These findings provide a conceptual framework that can serve as the basis for developing implementation strategies in healthcare facilities. Practical implications include the need for continuous digital literacy training and managerial support in the transformation of technology-based clinical documentation.