cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 205 Documents
PENGETAHUAN DAN PERSEPSI KEBERSIHAN TANGAN (HAND HYGIENE) PADA PENGUNJUNG INTENSIVE CARE UNIT JANTUNG Khalish, Gaviota; Kusumawati, Happy Indah; Setiyarini, Sri; Sunaryo, Eri Yanuar Ahmad Budi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 5, No 3 (2020)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v5i3.223

Abstract

ABSTRAKIntensive care unit (ICU) jantung merupakan unit dengan pasien yang rentan terhadap penularan infeksi. Pengunjung yang tidak menerapkan kebersihan tangan menunjukkan pertumbuhan bakteri penyebab Hospital associated Infections (HAIs). Kurangnya pengetahuan dan persepsi pengunjung tentang kebersihan tangan menyebabkan tingkat kepatuhan kebersihan tangan yang rendah. Tujuan Penelitian: Mengetahui gambaran pengetahuan dan persepsi kebersihan tangan pengunjung serta hubungannya dengan karakteristik responden di ICU jantung RSUP Dr. Sardjito. Metode: Menggunakan desain analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 101 responden yang dikumpulkan dengan teknik consecutive sampling. Instrumen pada penelitian ini dibuat oleh peneliti berdasarkan panduan kebersihan tangan dari World Health Organization (WHO).  Instrumen yang digunakan telah valid dan reliable. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square.  Hasil: Rata-rata skor pengetahuan kebersihan tangan 6,1 dan persepsi kebersihan tangan 31,07. Enam puluh enam responden memiliki pengetahuan yang baik dan lima puluh delapan dari seratus satu responden memiliki persepsi yang rendah. Ada hubungan antara pengetahuan dan pendidikan (p=0,0280), dan dengan riwayat penyakit (p=0,002). Ada hubungan antara persepsi dan usia (p=0,028), dan dengan riwayat berkunjung (p=0,023). Diskusi: Mayoritas pengetahuan kebersihan tangan pengunjung yang tinggi sedangkan persepsi rendah dipengaruhi oleh efektivitas pemberian informasi dan peran petugas kesehatan untuk terus mengingatkan pengunjung terkait kebersihan tangan. Kesimpulan: Perawat atau peneliti selanjutnya perlu mengembangkan strategi yang efektif guna memberikan informasi terkait kebersihan tangan kepada pengunjung.Kata Kunci: intensive care units, kebersihan tangan, pengetahuan, pengunjung pasien, persepsi Knowledge and Perceptions of Hand Hygiene in Cardiac Intensive Care Unit Visitors ABSTRACTThe cardiac intensive care unit (ICU) is a unit in which patients who are susceptible to infection transmission. Visitors who do not apply hand hygiene show the growth of bacteria that causes Hospital associated Infections (HAIs). Inadequate knowledge and perceptions of visitors about hand hygiene causes a low level of hand hygiene compliance. Objective: To obtain an overview of knowledge and perceptions of visitor hand hygiene and their correlation with the characteristics of respondents at the Cardiac ICU of Dr. Sardjito Hospital. Methods: This research employed an observational analytic design with a cross sectional design. The sample size was 101 respondents taken using consecutive sampling technique. The instrument in this research was made by the researchers based on hand hygiene guidelines from the World Health Organization (WHO). The instrument used was valid and reliable. Data were analyzed by using univariate and bivariate with the chi-square test. Results: The average score of hand hygiene knowledge was 6.1 and that of perception of hand hygiene was 31.07. Sixty-six respondents had good knowledge and fifty-eight out of one hundred and one respondents had low perceptions. There was a correlation between knowledge and education (p=0.0280), and with a history of disease (p=0.002). There was a correlation between perception and age (p=0.028), and with a history of visiting (p=0.023). Discussion: The majority of visitors' high knowledge of hand hygiene and low perception was affected by the effectiveness of providing information and the role of health workers to keep reminding visitors about hand hygiene. Conclusion: Nurses or future researchers need to develop effective strategies to provide information about hand hygiene to visitors.Keywords: intensive care units, hand hygiene, knowledge, patient visitors, perception
GAMBARAN PERSEPSI PASIEN TERHADAP KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI RAWAT JALAN Sumijatun, Sumijatun; Selviady, Selviady; Antony, Antony
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v6i1.260

Abstract

Pelayanan kesehatan terhadap pasien merupakan bahan diskusi yang sarat dengan konflik, terutama setelah adanya kebijakan pelayanan bagi pengguna BPJS. Banyak sekali keluhan pasien yang cenderung  menyatakan ketidakpuasan karena menurunnya kualitas pelayanan yang diterima. Tujuan: Penelitian bertujuan mengetahui persepsi pasien terhadap kualitas pelayanan kesehatan  di Rawat Jalan RS Pertamina Bintang Amin Lampung. Metode: Penelitian deskriptif dengan rancangan Cross sectional, teknik sampling insidental, sampel sebanyak 77 orang pasien, dilakukan pengumpulan data menggunakan instrumen yang telah valid dan reliabel, yaitu Servqual: A multiple-Item Scale Parasuraman.  Instrumen ini melihat gap dari lima dimensi kualitas jasa pelayanan, yaitu tangibles, reliability, responsiveness, assurance dan emphaty.  Data dianalisis secara univariat.  Hasil: Karakteristik responden mayoritas  wanita (75,3%), usia  >50 tahun (45,4%), pendidikan SLTA (51,9%), tidak bekerja (50,6%), peserta BPJS (93,5%)  dan kunjungan ulang >5 kali sebanyak 24 orang (31,20%).  Kualitas terendah pada dimensi keandalan (74,3%) dan kualitas tertinggi pada dimensi tangibles/nyata (79,4%). Diskusi: Ditemukan adanya gap pada semua dimensi terutama pada dimensi tangibles yakni petunjuk arah bagi pasien dan dimensi reliability adanya tenaga medis yang tidak menjelaskan terlebih dahulu tindakan yang akan dilakukan serta jam buka pelayanan klinik yang tidak tepat waktu. Kesimpulan: Kualitas pelayanan kesehatan di rawat jalan masih perlu ditingkatkan terutama dengan memperbaiki petunjuk arah bagi pasien, menyarankan tenaga medis untuk menjelaskan terlebih dahulu tindakan yang akan dilakukan serta jam buka pelayanan klinik hendaknya tepat waktu sesuai dengan yang telah ditetapkan.Kata kunci: kualitas pelayanan, pasien, rawat jalanOverview of Patients' Perception of Healthcare Service Quality in OutpatientABSTRACTHealthcare service for patients is a subject of discussion that is full of conflict, especially after a service policy for BPJS users has existed. Many complaints from patients tend to express dissatisfaction due to the declining quality of services received. Objective: This research aims to reveal the patient's perception of the quality of healthcare service at the Outpatient of Pertamina Bintang Amin Hospital in Lampung. Methods: This research is descriptive with cross sectional design. Samples were taken using incidental sampling technique with a sample size of 77 patients. Data  were collected using a valid and reliable instrument, namely Parasuraman’s Servqual: A multiple-Item Scale. This instrument assesses at the gaps in the five dimensions of service quality, namely tangibles, reliability, responsiveness, assurance and empathy. Data were analyzed univariately. Results: The characteristics of the majority of respondents were females (75.3%), age > 50 years (45.4%), high school education (51.9%), non-working (50.6%), BPJS participants (93.5%) and 24 people making repeat visits >5 times (31.20%). The lowest quality was on the dimension of reliability (74.3%) and the highest quality was on the dimension of tangibles (79.4%). Discussion: It was found that there were gaps in all dimensions, especially in the dimension of tangibles, i.e. directions for patients, and the dimension of reliability, i.e. medical personnel did not explain in advance the actions to be taken and the opening hours of clinic services were not on time. Conclusion: The quality of healthcare service in outpatient should be improved, especially by improving directions for patients, suggesting medical personnel to explain in advance the actions to be taken and the opening hours of clinic services should be on time according to what has been established.Keywords: service quality, patients, outpatient
PENGARUH GAYATRI MANTRA & EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE (GEFT) TERHADAP ACADEMIC BURNOUT SYNDROME PADA MAHASISWA KEPERAWATAN TINGKAT AKHIR Rahayu, Ni Luh Nik; Wati, Ni Made Nopita; Dewi, Ni Luh Putu Thrisna; Subhaktiyasa, Putu Gede
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v6i2.215

Abstract

Mahasiswa keperawatan berisiko mengalami Academic Burnout Syndrome (ABS) akibat tuntutan akademis yang tinggi. Kondisi ABS pada mahasiswa dapat berdampak pada proses perkuliahan yang tidak maksimal. Gayatri Mantra dan Emotional Freedom Technique (GEFT) adalah terapi nonfarmakologis yang memanfaatkan aliran energi positif dalam tubuh individu itu sendiri, namun masih sedikit diketahui pengaruhnya untuk menurunkan ABS pada mahasiswa. Tujuan: Mengetahui pengaruh GEFT terhadap ABS pada mahasiswa keperawatan. Metode: Desain penelitian ini adalah quasi-experiment dengan pre-post test design with control group. Sampel sebanyak masing-masing 16 orang pada kelompok intervensi dan kontrol yang dipilih melalui purposive sampling. Intervensi GEFT dilakukan selama ± 10 menit, satu kali sehari selama 6 hari berturut-turut. Data dikumpulkan dengan kuesioner MBI-SS. Analisis data menggunakan Uji Paired T-Test dan Uji Independent T-Test. Hasil: Pada kelompok intervensi maupun kontrol saat pre-test sebagian besar responden mengalami burnout berat yaitu sebanyak 56,2%. Namun pada saat post-test pada kelompok intervensi sebanyak 56,2% responden mengalami burnout sedang dengan nilai p=0,000.  Pada kelompok kontrol sebanyak 62,5% mengalami burnout berat dengan nilai p=0,917. Diskusi: Perubahan tingkat ABS pada mahasiswa keperawatan sesudah diberikan terapi GEFT dikarenakan pengucapan Gayatri Mantra diyakini dapat membantu membuka chakra pada tubuh manusia. Chakra terletak pada titik meridian tubuh manusia, sehingga bila Gayatri Mantra digabungkan dengan terapi EFT (menstimulasi titik meridian tubuh untuk menyeimbangkan energi) dapat membantu mengoptimalkan kesehatan fisik dan psikis. Kesimpulan: Diharapkan institusi pendidikan dapat melaksanakan latihan GEFT pada mahasiswa yang mengalami ABS agar dapat memelihara kondisi tetap stabil dan meningkatkan performa akademis mahasiswa.Kata Kunci: Academic burnout syndrome, gayatri mantra, emotional freedom technique, mahasiswa keperawatanEffects of Gayatri Mantra and Emotional Freedom Technique (GEFT) on Academic Burnout Syndrome (ABS)ABSTRACTNursing students are at risk of suffering from Academic Burnout Syndrome (ABS) due to high academic demands. The condition of ABS in students may affect their academic activities. Gayatri Mantra and Emotional Freedom Technique (GEFT) are non-pharmacological therapies that utilize positive energy flows in the individual's body, but little is known about their effect on reducing ABS in students. Objective: To reveal the effects of GEFT on ABS in nursing students. Methods: This research design was a quasi-experiment with a pre-posttest design with a control group. A sample size of 16 people each in the intervention and control groups were selected through purposive sampling. The GEFT intervention was made ± 10 minutes, once a day for 6 consecutive days. Data were collected using the MBI-SS questionnaire and analyzed using Paired T-Test and Independent T-Test. Results: In the intervention and control groups during the pre-test, most respondents (56.2%) experienced severe burnout. However, 56.2% of respondents in the intervention group experienced moderate burnout at the post-test with a p-value of 0.000. 62.5% of respondents in the control group experienced severe burnout with a p-value = 0.917. Discussion: The ABS levels in nursing students change after the GEFT therapy because reciting the Gayatri Mantra is believed to help open the chakras in the human body. Chakras are located at the meridian points of the human body. Therefore, when the Gayatri Mantra is combined with EFT therapy (stimulating the body's meridian points to balance energy), it can help optimize physical and psychological health. Conclusion: It is expected that educational institutions can perform GEFT exercises on students who suffer from ABS to maintain stable conditions and improve student academic performance.Keywords: Academic burnout syndrome, gayatri mantra, emotional freedom technique, nursing students
GAMBARAN TINGKAT KESADARAN PASIEN CEDERA KEPALA MENGGUNAKAN GLASGOW COMA SCALE (GCS) Riduansyah, Muhammad; Zulfadhilah, Muhammad; Annisa, Annisa
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 5, No 3 (2020)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v5i3.236

Abstract

Cedera kepala merupakan kasus kegawatdaruratan yang sering dijumpai di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Pasien membutuhkan penilaian tingkat kesadaran untuk menentukan tingkat keparahan dan cedera kepala yang dialami. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat kesadaran pasien cedera kepala menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS). Metode: Penelitian cross sectional ini melibatkan 30 responden yang mengalami cedera kepala dengan menggunakan metode accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen GCS yang terdiri dari tiga komponen respons kesadaran yaitu mata, verbal dan motorik. Analisis data univariat dilakukan untuk mengetahui frekuensi dan persentase. Hasil: Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (83,3%) dengan usia 36-45 tahun (53,3%) dan responden paling banyak memiliki tingkat kesadaran composmentis (30%). Respons mata terbanyak yaitu spontan (33,3%), respons verbal terbanyak yaitu orientasi baik (36,3%), dan respons motorik terbanyak yaitu mengikuti perintah (30%). Diskusi: Laki-laki lebih banyak terlibat dalam aktivitas yang berisiko tinggi sehingga kemungkinan mengalami cedera kepala lebih tinggi.  Usia perlu mendapatkan perhatian, karena semakin bertambah usia ada kemungkinan semakin buruk pemulihan pasien.  Pasien cedera kepala akan tetap sadar penuh jika sistem aktivasi retikuler (RAS) di batang otaknya tetap utuh atau tidak terganggu.  Simpulan: Diharapkan menjadi informasi tambahan bagi rumah sakit dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan pada pasien cedera kepala, terutama pemantauan tingkat kesadaran. Hasil penelitian ini juga diharapkan menjadi sumber informasi dan referensi di institusi pendidikan keperawatan mengenai gambaran tingkat kesadaran pasien cedera kepala menggunakan GCS. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membandingkan keakuratan penilaian tingkat kesadaran dengan GCS dan skala alernatif lainnya seperti Full Outline of Unresponsiveness (FOUR) atau Comprehensive Level of Consciousness Scale (CLOCS).Kata Kunci: Cedera kepala, GCS, tingkat kesadaran.Overview of Consciousness Level of Patients with Head Injury Using Glasgow Coma Scale (GCS)ABSTRACTHead injury is an emergency case that is often found in the Emergency Room (ER). Patients require an assessment of the consciousness level to identify the severity of the head injury. Objective: To obtain an overview of the consciousness level of patients with head injury using the Glasgow Coma Scale (GCS). Methods: This research is a cross-sectional study involving 30 respondents with head injury taken using the accidental sampling method. Data were collected using the GCS instrument, consisting of three components of awareness responses: eye, verbal, and motor. Univariate data analysis was performed to identify frequency and percentage. Results: The majority of respondents were male (83.3%) aged 36-45 years (53.3%), and most respondents had compos mentis (30%). The majority of eye response was spontaneous (33.3%), the majority of verbal response was good orientation (36.3%), and the majority of motor response was following orders (30%). Discussion: Men are more involved in high-risk activities, so that the possibility of having a head injury is higher. Age needs attention because the older an individual gets, the worse the recovery will be. If the reticular activation system (RAS) in the brainstem remains intact or undisturbed, patients with head injury will remain fully conscious. Conclusion: It is expected that this research results can be additional information for hospitals to improve the quality of nursing care for patients with head injury, especially monitoring the consciousness level. The results of this research are also expected can be a source of information and reference in nursing education institutions regarding the overview of the consciousness level of patients with head injury using GCS. Further research is needed to compare the accuracy of the consciousness level assessment using GCS and other alternative scales such as the Full Outline of Unresponsiveness (FOUR) or the Comprehensive Level of Consciousness Scale (CLOCS).Keywords: Head injury, GCS, consciousness level. 
ANALISIS KEBUTUHAN KADER KESEHATAN DALAM MENGATASI PENYAKIT TIDAK MENULAR SAAT PANDEMI COVID-19 DI BANTEN Nuraini, Tuti; Dewi, Nani Asna; Lestari, Retno; Wardani, Ice Yulia; Fitriani, Poppy; Rachmi, Shanti Farida
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v6i1.255

Abstract

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan komorbid yang akan memperberat kondisi kesehatan seseorang saat terserang COVID-19. Kader kesehatan berperan penting dalam meminimalkan dampak tersebut namun masih sedikit informasi yang tersedia mengenai kebutuhan kader untuk dapat mengoptimalkan peran tersebut.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan kader untuk membantu masyarakat dengan PTM di wilayah Banten saat pandemi COVID-19 di daerah yang berpotensi bencana. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan melakukan Focus Group Discussions (FGD) pada 43 orang kader dari dua desa. Pengumpulan data dilakukan masing-masing tiga kali, sepanjang bulan November 2019 dan 2020, di dua desa.  Data dianalisis dengan metode konten analisis. Hasil: Didapatkan 3 tema kebutuhan kader, yaitu: (1) Kader butuh dukungan dari keluarga, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan; (2) Masyarakat kurang sadar kesehatan; (3) Masyarakat lebih percaya pengobatan tradisional dan belum memiliki Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Diskusi: Kader adalah orang pilihan yang bersedia membantu tetangganya tanpa pamrih. Namun, tidak mudah agar dapat dipercaya masyarakat. Pembekalan kader dengan ilmu keperawatan diperlukan untuk peningkatan kesehatan masyarakat. Kesimpulan: Kader perlu dukungan berbagai pihak agar dapat melakukan perannya dengan baik. Pengetahuan dari mulai deteksi dini sampai penanganan dengan pendekatan budaya merupakan bekal yang penting untuk kader dalam mengatasi PTM di masa pandemi COVID-19. Hal ini merupakan salah satu strategi untuk mencegah risiko terjadinya dan akibat dari PTM dan terpapar COVID-19. Keterlibatan tokoh masyarakat, persepsi positif dan pengetahuan tentang PTM dan pandemi COVID-19 menjadi penentu keberhasilan program pemerintah dalam pengendalian PTM di masa Pandemi ini.Kata kunci: bencana, COVID-19, kader kesehatan, pengetahuan, penyakit tidak menular.Analysis of the Need for Health Cadres in Overcoming Non-Communicable Diseases During the Covid-19 Pandemic in Banten ABSTRACTNon-communicable diseases (NCDs) are comorbidities that will worsen a person's health condition when they are attacked by the COVID-19. Health cadres play an important role in minimizing such impact, but little information is available regarding the needs of cadres to optimize this role. Objective: This research aims to identify the needs of cadres to assist communities with NCDs in Banten region during the COVID-19 pandemic in areas with potential disasters. Methods: The research is qualitative by conducting Focus Group Discussions (FGD) on 43 cadres from two villages. Data were collected three times each, in November 2019 and November 2020, in two villages. Data were analyzed by using content analysis method. Results: There were 3 themes of cadre needs, namely: (1) Cadres need support from families, community leaders, and health workers; (2) People were less aware of health; (3) People believed more in traditional medicine and did not have health insurance from the Social Security Administering Agency (BPJS). Discussion: Cadres were chosen people who are willing to help their neighbors selflessly. However, it is not easy to be trusted by the community. It is necessary to provide cadres with nursing knowledge to improve public health. Conclusion: Cadres need support from various parties to play their roles well. Knowledge from early detection to handling with a cultural approach is important in overcoming NCDs during the COVID-19 pandemic. This is one of the strategies to prevent the risk of incidence and consequences of NCDs and exposure to COVID-19. The involvement of community leaders, positive perceptions and knowledge about NCDs and the COVID-19 pandemic are the determinants of the success of government programs in controlling NCDs during this Pandemic.Keywords: disaster, COVID-19, health cadres, knowledge, non-communicable diseases.  
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PENCEGAHAN STROKE PADA PENDERITA HIPERTENSI Suprayitna, Marthilda; Fatmawati, Baiq Ruli
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v6i2.271

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang sangat berbahaya (sillent killer).  Faktor penyebab hipertensi diantaranya adalah faktor genetik dan lingkungan.  Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang hipertensi menyebabkan tingginya angka kejadian hipertensi. Tujuan: mengetahui dampak pendidikan kesehatan melalui ceramah/seminar terhadap pengetahuan pencegahan stroke pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Penimbung Kabupaten Lombok Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasy Experiment pretest post test with control group design. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Sampel berjumlah 36 orang dan dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kontrol.  Pretest dan posttest diukur menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya.  Analisis data menggunakan Paired t-test dan Independent t-test. Hasil: Pada kelompok intervensi terdapat peningkatan yang bermakna pada skor pengetahuan setelah diberikan pendidikan kesehatan dibanding sebelumnya [101,56 (SD=2,406) vs 66,2 (SD=2,61), p=0,000].  Sedangkan pada kelompok kontrol tidak terdapat peningkatan skor pengetahuan yang bermakna [65,22 (SD=0,707) vs 65,06 9(SD=2,263), p=0,331].  Ada perbedaan skor pengetahuan secara bermakna antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah diberikan pendidikan kesehatan [101,56 (SD=2,406) vs 65,22 (SD=0,707), p<0,001].  Diskusi: Penelitian ini membuktikan bahwa pendidikan kesehatan tentang pencegahan stroke pada penderita hipertensi cukup efektif dan efisien serta memberikan pengaruh untuk meningkatkan pengetahuan.  Responden pada kelompok intervensi memiliki pengetahuan yang lebih tinggi dalam menjawab pertanyaan kuesioner dan mampu menyebutkan cara pencegahan stroke.  Kesimpulan: Terjadi peningkatan pengetahuan tentang pencegahan stroke pada kelompok intervensi. Penelitian selanjutnya diharapkan mengembangkan media dalam memberikan edukasi pada pasien hipertensi.  Kepada instansi terkait agar dapat memperbanyak sosialisasi tentang pencegahan stroke.Kata Kunci: hipertensi, pendidikan kesehatan, pengetahuan, strokeEffects of Health Education on Levels of Knowledge About Stroke Prevention in Hypertensive PatientsABSTRACTHypertension is one of the very dangerous non-communicable diseases (the silent killer). Factors that cause hypertension include genetic and environmental factors. Insufficient knowledge about hypertension causes a high incidence of hypertension. Objective: to reveal the effects of health education through lectures/seminars on knowledge of stroke prevention in hypertensive patients in the working area of the Penimbung Public Health Center, West Lombok Regency. Methods: This research employed a Quasy Experiment pretest-posttest research design with a control group design. Samples were taken using a simple random sampling method. The sample size was 36 people and divided into 2 groups: intervention and control groups. Pretest and posttest were measured using a questionnaire whose validity and reliability had been tested. Data were analyzed using Paired t-test and Independent t-test. Results: In the intervention group, there was a significant increase in the knowledge score after the health education was given compared to before [101.56 (SD=2.406) vs. 66.2 (SD=2.61), p=0.000]. Meanwhile, in the control group, there was no significant increase in knowledge score [65.22 (SD=0.707) vs. 65.06 9(SD=2.263), p=0.331]. There was a significant difference in knowledge scores between the intervention group and the control group after the health education was given [101.56 (SD=2.406) vs. 65.22 (SD=0.707), p<0.001]. Discussion: This research proves that health education about stroke prevention in hypertensive patients is quite effective and efficient and affects increasing knowledge. Respondents in the intervention group had higher knowledge in answering questionnaire questions and mentioned ways to prevent stroke. Conclusion: There is an increase in knowledge about stroke prevention in the intervention group. It is expected that further research develops media in providing education to hypertensive patients. It is recommended that relevant agencies increase socialization about stroke prevention.Keywords: hypertension, health education, knowledge, stroke
GLUKOSA DAN MORTALITAS PASIEN CEDERA KEPALA Simanjuntak, Galvani Volta; Amila, Amila; Sinaga, Janno
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v6i2.308

Abstract

Latar Belakang: Cedera kepala merupakan jenis trauma yang paling sering menyebabkan kematian dan kecacatan sehingga pengenalan indikator prognostik sangat penting untuk meningkatkan hasil.  Namun masih terdapat perbedaan hasil penelitian mengenai kadar glukosa dan peningkatan risiko mortalitas pada pasien cedera kepala.  Tujuan: studi pendahuluan ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan kadar gula darah dengan kematian pasien cedera kepala. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian case-control dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian adalah rekam medis pasien dewasa yang mengalami cedera kepala pada Januari-Desember 2018 di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.  Sampel penelitian sebanyak 88 rekam medis. Uji statistik yang digunakan adalah chi square test. Hasil: Hasil penelitian didapatkan 68,2% berjenis kelamin laki-laki, 79,5% berusia <45 tahun, mortalitas pasien dengan kadar gula darah >200 mg/dL sebesar 70%, sedangkan mortalitas pasien dengan kadar gula darah ≤200 mg/dL sebesar 33,3%. Ada hubungan kadar gula terhadap mortalitas pasien cedera kepala (p=0,001, OR=1,654). Diskusi: Peningkatan kadar gula darah dapat menyebabkan kerusakan otak yang luas dan berkaitan dengan prognosis buruk.  Simpulan. Kadar gula darah tinggi berhubungan dengan peningkatan risiko kematian pasien cedera kepala. Disarankan untuk melakukan penelitian dengan kelompok pasien yang lebih besar sehingga manfaat potensial dari kontrol glukosa pada cedera kepala dapat diketahui dengan benar.Kata Kunci: Cedera Kepala, Glukosa, MortalitasGlucose and Mortality in Patients with Head InjuryABSTRACTBackground: Head injury is a type of trauma that most frequently causes mortality and disability, so it is essential to introduce prognostic indicators to improve outcomes. However, there are still differences in studies regarding glucose levels and increased risk of mortality in patients with head injury. Objective: This preliminary study aims to identify the correlation between blood sugar levels and mortality in patients with head injury. Methods: This study is a case-control study using a retrospective approach. The population was medical records of adult patients who suffered head injuries in January-December 2018 at the H. Adam Malik Central General Hospital of Medan. The research samples were 88 medical records. Data were analyzed using the chi-square test. Results: The study results indicated that 68.2% were male, 79.5% were aged <45 years, mortality of patients with blood sugar levels of >200 mg/dL was 70%, while mortality of patients with blood sugar levels ≤200 mg/dL was 33.3%. There was a correlation between blood sugar levels and mortality in patients with head injury (p=0.001, OR=1.654). Discussion: Elevated blood sugar levels may cause extensive brain damage and are associated with a poor prognosis. Conclusion: High blood sugar levels are correlated with an increased risk of mortality in patients with head injury. It is recommended to conduct further studies with a larger group of patients to properly identify the potential benefits of glucose control in head injury.Keywords: Head Injury, Glucose, Mortality
PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS Hapsari, Elsi Dwi; Agatha, Naysilla Gisha; Rahayu, Anisa Rini; Wahyuni, Triska Septi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v6i1.315

Abstract

Pengetahuan dan sikap terhadap kontrasepsi pada remaja berkaitan dengan pilihan metode kontrasepsi di masa yang akan datang. Namun penelitian yang melaporkan tentang hubungan pengetahuan kontrasepsi dan sikap terhadap pemakaian kontrasepsi pada subyek remaja laki-laki di tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) masih terbatas. Tujuan: mengetahui hubungan pengetahuan kontrasepsi dan sikap terhadap pemakaian kontrasepsi pada siswa laki-laki yang bersekolah di satu SMA Negeri di wilayah Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Besar sampel 96 responden. Instrumen penelitian, berupa kuesioner pengetahuan dan sikap, telah diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum pengambilan data penelitian. Analisis data yang digunakan yaitu dengan uji Chi Square. Hasil: tingkat pengetahuan responden paling banyak berada pada tingkat pengetahuan cukup (43,75%). Sebanyak 73,96% responden mempunyai sikap positif terhadap pemakaian kontrasepsi. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan kontrasepsi dengan sikap pemakaian kontrasepsi (p=0,000) dengan keeratan hubungan yang kuat (r= -0,671). Diskusi: pengetahuan yang baik mengenai kontrasepsi mengarah pada sikap yang positif terhadap penggunaan kontrasepsi. Pengetahuan dapat diperoleh dan ditingkatkan dengan mencari sumber informasi agar dapat menambah wawasan untuk dapat membantu menentukan sikap. Kesimpulan: Pengetahuan kontrasepsi pada siswa laki-laki masih perlu ditingkatkan, misalnya dengan pengoptimalan peran perawat melalui Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan pemberian pendidikan kesehatan reproduksi yang disertai dengan media pembelajaran yang menarik karena hal itu akan meningkatkan sikap yang positif terhadap kontrasepsi. Sekolah diharapkan dapat membekali siswanya tentang pengetahuan kontrasepsi agar mereka memiliki wawasan yang lebih baik sehingga dapat meminimalkan kemungkinan terjadi kehamilan pada remaja.Kata kunci: kontrasepsi, pengetahuan, remaja, sikapKnowledge and Attitude Towards Contraceptive Use in High School StudentsABSTRACTKnowledge and attitudes towards contraception in adolescents are related to the preference of contraceptive methods in the future. However, there are limited studies reporting the correlation between knowledge of contraception and attitudes towards contraceptive use in male adolescent subjects at the high school education level. Objective: to reveal the correlation between knowledge of contraception and attitudes towards contraceptive use among male students attending a public high school in Bantul Regency, Yogyakarta Special Region. Methods: This research used a cross-sectional research design. Samples were taken using stratified random sampling with a sample size of 96 respondents. The research instrument was in the form of a knowledge and attitude questionnaire that its validity and reliability had been tested before the research data were collected. The data were analyzed using the Chi-Square test. Results: Most respondents’ knowledge level was sufficient (43.75%). 73.96% of respondents had a positive attitude towards the use of contraception. There was a significant correlation between knowledge of contraception and the attitude towards contraceptive use (p=0.000) with a strong correlation coefficient (r= -0.671). Discussion: Good knowledge of contraception leads to a positive attitude towards contraceptive use. Knowledge can be obtained and enhanced by searching for sources of information in order to add insight to help determine attitudes. Conclusion: Knowledge of contraception in male students still needs improving, for example, by optimizing the role of nurses through the School Health Unit and providing reproductive health education accompanied by interesting learning media to increase positive attitudes towards contraception. It is expected that schools equip their students with knowledge of contraception to have better insight to minimize the possibility of adolescent pregnancy.Keywords: contraception, knowledge, adolescents, attitude
GAMBARAN SELF-EFFICACY MAHASISWA PROFESI NERS TERHADAP PEMBELAJARAN E-LEARNING Wahyuningrum, Desti; Pertiwi, Ariani Arista P.; Harjanto, Totok
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v6i2.262

Abstract

Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran self-efficacy mahasiswa profesi ners program studi ilmu keperawatan terhadap metode pembelajaran e-learning berdasarkan 3 dimensi self-efficacy yaitu magnitude, generality dan strength. Metode:Penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa profesi Program Studi Ilmu Keperawatan tahun 2018/2019, Universitas Gadjah Mada, stase manajemen keperawatan dan praktek keperawatan dasar (PKD) yang telah mengikuti program pembelajaran online (e-learning). Penentuan sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden 102 mahasiswa (70 mahasiswa stase PKD dan 32 mahasiswa stase manajemen keperawatan). Pengambilan data menggunakan instrumen Online Learning Self-efficacy Scale. Data dianalisis dan dilaporkan dengan distribusi frekuensi. Hasil: Sebanyak 61 (59,8%) mahasiswa profesi ners memiliki self-efficacy yang tinggi terhadap pembelajaran dengan metode e-learning. Rata-rata self-efficacy tinggi pada 2 dimensi yaitu strength (mean=15,44, SD=2,3) dan generality (mean=14,53, SD=2,3), sedangkan tingkat self-efficacy yang rendah pada dimensi magnitude (mean=12,00, SD=3,1). Diskusi: Materi pembelajaran e-learning dengan video dan tugas yang dikemas secara interaktif sangat dibutuhkan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan self-efficacy mahasiswa. Penting juga untuk melakukan pengembangan materi dan tugas-tugas yang dimulai dari konsep sederhana secara bertahap ke tingkat kesulitan yang lebih tinggi  yang dapat membantu mahasiswa dalam memahami keseluruhan materi pembelajaran. Kesimpulan: Mahasiswa keperawatan yang berada pada fase rotasi klinik memiliki kecenderungan tingkat self-efficacy yang bernilai tinggi terhadap metode pembelajaran online (e-learning).Kata kunci: E-learning, mahasiswa keperawatan, pendidikan klinis, self-efficacy Overview of Self-Efficacy of Nurse Professional Students Towards E-Learning ABSTRACTObjective: This research aimed to describe nursing students’ self-efficacy in using e-learning during clinical rotation phase in the nursing study program based on 3 dimensions of self-efficacy, namely magnitude, generality and strength. Methods: This was a descriptive quantitative research with cross-sectional design. The population in this research was nursing students in the clinical rotation phase in the academic year of 2018/2019, Gadjah Mada University, who were in the nursing management stage and basic nursing practice (PKD) stage and participated in the online learning program. Samples were determined using a total sampling technique with the respondents of 102 students (70 students from PKD and 32 students from nursing management stages). Data were collected using the Online Learning Self-Efficacy Scale instrument. Data were analyzed and reported using frequency distribution. Results: 61 students (59.8%) had high self-efficacy towards learning with the e-learning method. The average self-efficacy was high in 2 dimensions, namely strength (mean=15.44, SD=2.3) and generality (mean=14.53, SD=2.3), while the low level of self-efficacy was in the magnitude dimension (mean=12.00, SD=3.1). Discussion: Interactive learning materials including videos and assignments are needed to increase students’ confidence and self efficacy.  It is also important to develop the materials start with a simple concept gradually to higher level of difficulty to help students understand the entire materials of learning.  Conclusion: Nursing students who are in the clinical rotation phase have a tendency to have a high level of self-efficacy towards online learning (e-learning) methods. Keywords: E-learning, nursing students, clinical education, self-efficacy
EFIKASI DIRI IBU YANG MEMILIKI BAYI BERAT LAHIR RENDAH DENGAN DUKUNGAN SOSIAL DAN GEJALA DEPRESI Permatasari, Ana; Hapsari, Elsi Dwi; Lismidiati, Wiwin
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 5, No 3 (2020)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v5i3.307

Abstract

Kondisi bayi berat lahir rendah (BBLR) berdampak pada efikasi diri maternal. Di Indonesia masih sedikit laporan mengenai efikasi diri maternal dikaitkan dengan dukungan sosial dan gejala depresi pada ibu yang memiliki BBLR.  Tujuan: mengetahui hubungan efikasi diri ibu dengan dukungan sosial dan gejala depresi pada ibu postpartum primipara yang memiliki BBLR (ibu-BBLR) dibandingkan ibu yang memiliki BBLN (ibu-BBLN) di RS PKU Muhammadiyah Gombong.  Metode: penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian cross sectional. Sampel dipilih dengan teknik consecutive sampling.  Responden berjumlah 90 orang, meliputi 45 ibu-BBLR dan 45 ibu-BBLN.  Pengambilan data pada Januari-Maret 2015 menggunakan kuesioner Perceived Maternal Parenting Self Efficacy (PMP-SE), dukungan sosial, dan Edinburgh Postnatal Depression Scale yang telah valid dan reliabel.  Data dianalisis dengan uji t tidak berpasangan and Chi-square test.  Hasil: Tingkat efikasi diri berbeda secara bermakna antara ibu-BBLR dan ibu-BBLN (p=0,07).  Kedua kelompok menerima tingkat dukungan sosial yang tinggi (masing-masing 97,8%).  Gejala depresi postpartum lebih banyak dialami oleh ibu-BBLR dibanding ibu-BBLN (17,8% vs 13,3%).  Tidak ada hubungan antara efikasi diri dengan dukungan sosial (p=0,28) dan gejala depresi pada ibu-BBLR (p=57).  Ada hubungan yang bermakna antara efikasi diri dengan dukungan sosial (p=0,04), namun tidak dengan gejala depresi postpartum (p=0,83), pada ibu-BBLN.  Diskusi: Ibu-BBLR menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang lebih rendah dibanding ibu-BBLN meskipun sama-sama melaporkan mendapatkan dukungan sosial yang tinggi dan tidak ada perbedaan dalam gejala depresi postpartum.  Kesimpulan: diharapkan tenaga kesahatan memberikan dukungan sosial  dan mendeteksi gejala depresi pada ibu-BBLR.  Ibu postpartum diharapkan memanfaatkan sumber-sumber dukungan sosial yang ada di sekitarnya dan mengelola stres atau kecemasan yang dialami.Kata Kunci: bayi berat lahir rendah, depresi, dukungan sosial, efikasi diri maternal, postpartum Self-Efficacy of Women Who Have Low Birth Weight Babies with Social Support and Depression Symptoms  ABSTRACTThe condition of low birth weight (LBW) babies affects maternal self-efficacy. In Indonesia, there are still few reports of maternal self-efficacy correlated with social support and depression symptoms in mothers who have low birth weight. Objective: to reveal the correlation of maternal self-efficacy with social support and depression symptoms in primiparous postpartum mothers who have LBW babies (LBW mothers) compared to mothers who have NBW babies (NBW mothers) at PKU Muhammadiyah Hospital of Gombong. Methods: This research is quantitative with cross sectional research type. Samples were selected by using consecutive sampling technique. There were 90 respondents, including 45 LBWB mothers and 45 NBWB mothers. Data were collected from January until March 2015 using the Perceived Maternal Parenting Self Efficacy (PMP-SE) questionnaire, social support, and the Edinburgh Postnatal Depression Scale which were valid and reliable. Data were analyzed using the unpaired t test and the Chi-square test. Results: The level of self-efficacy was significantly different between LBWB mothers and NBWB mothers (p=0.07). Both groups received high levels of social support (97.8% each). Postpartum depression symptoms were more experienced by LBWB mothers than by NBWB mothers (17.8% vs 13.3%). There was no correlation between self-efficacy and social support (p=0.28) and depression symptoms in LBWB mothers (p=57). There was a significant correlation between self-efficacy and social support (p=0.04), but not with symptoms of postpartum depression (p=0.83), in NBWB mothers. Discussion: LBWB mothers showed lower self-confidence than LBWB mothers although they both reported getting high social support and there was no difference in symptoms of postpartum depression. Conclusion: It is expected that health workers provide social support and detect depression symptoms in LBWB mothers. Postpartum mothers are expected to take advantage of the sources of social support that exist around them and manage their stress or anxiety.Keywords: low birth weight babies, depression, social support, maternal self-efficacy, postpartum