cover
Contact Name
Eldha Sampepana
Contact Email
editorjrti@gmail.com
Phone
+625417771364
Journal Mail Official
editorjrti@gmail.com
Editorial Address
Jl. MT. Haryono/ Banggeris No.1, Samarinda 75124 Tel.Fax: (0541) 7771364/ 745431 Whatsapp : 0821 5541 4969
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Riset Teknologi Industri
ISSN : 19786891     EISSN : 25415905     DOI : 10.26578
Jurnal Riset Teknologi Industri (JRTI) adalah jurnal ilmiah yang terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Memuat informasi bidang riset Teknologi Industri berupa hasil riset dan Ulasan Ilmiah bidang Perekayasaan Mesin, Pangan, Kimia Industri, Lingkungan dan Teknik Industri. Akreditasi Kemenristekdikti Akreditasi S2 Vol.10 No.1 Tahun 2016 samapi dengan Vol.14 No.2 tahun 2020. p-ISSN : 1978-6891, e-ISSN : 2541-5905.
Articles 306 Documents
Analisi Kontribusi Komponen Teknologi UMKM Kota Bontang Menggunakan Metode Teknometrik Sella Antesty; Alva Edy Tontowi
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.14 No.2 Desember 2020
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v14i2.6211

Abstract

ABSTRAKKeberadaan usaha mikro kecil menengah di suatu daerah seperti kota Bontang penting bagi daerahtersebut karena dapat meningkatkan kesejahteraan penduduknya lebih cepat dibanding dengan sektor lainnya. Industri tersebut perlu dibina sehingga tumbuh sehat agar produknya diminati pasar. Namun demikian, pembinaan tersebut tidak dapat efektif karena tidak ada peta teknometrik yang dapat digunakan sebagai acuan. Dalam studi ini, peta teknometrik industri dibuat dengan tujuan untuk mendapatkan peta kemampuan tingkat kontribusi teknologi yang dimiliki industri dan hasilnyadidiskusikan. Usaha mikro kecil menengah berbasis pengolahan makanan yang tersebar di wilayah kota Bontang dijadikan sebagai obyek pemetaan dan metode teknometrik digunakan untuk menghitung tingkat kontribusi teknologi yang dimiliki. Hasil studi ini menunjukkan bahwa dari 4 aspek yang diteliti yang meliputi Technoware (fasilitas teknologi), Humanware (sumberdaya manusia), Infoware (kerangka kerja) dan Orgaware (manajemen) didapatkan hasil bahwa usaha mikro kecil menengah di kota Bontang masih menitik beratkan pada aspek humanware atau sumber daya manusia dengan kemampuan fasilitas teknologi produksi yang rendah.
Evaluasi Kinerja dan Analisa Biaya Pengeringan Ubi Kayu Menggunakan Pengering Inframerah pada Beberapa Tingkat Kapasitas yang Berbeda Dadang Dayat Hidayat; Diang Sagita; Ari Rahayuningtyas; Novita Dwi Susanti
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.15 No.1 Juni 2021
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v15i1.6803

Abstract

Pengeringan ubi kayu merupakan salah satu tahap penting yang dilakukan untuk mengolah ubi kayu menjadi produk tepung. Pengeringan umumnya dilakukan menggunakan sinar matahari maupun secara mekanis menggunakan alat pengering. Namun, penggunaan alat pengering menimbulkan biaya tambahan pada proses produksinya sehingga kinerja teknis dan tekno-ekonominya perlu dianalisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja dan menganalisis biaya pengeringan ubi kayu yang dikeringkan dengan menggunakan pengering kabinet dengan pemanas keramik inframerah. Kinerja pengeringan ubi kayu menggunakan alat pengering ini telah berhasil diuji pada beban kosong dan pada tiga variasi kapasitas pengeringan (20, 29 dan 42 kg). Karakteristik suhu dan kelembaban pada ruang pengering dapat stabil dan mendekati nilai set point. Peningkatan kapasitas pengeringan tidak menunjukan perbedaan laju pengeringan, akibatnya semakin tinggi kapasitas pengeringan (hingga kapasitas maksimal) semakin tinggi efisiensi pengeringannya, semakin tinggi laju penguapannya dan semakin rendah konsumsi energi spesifiknya. Peningkatan kapasitas juga dapat menurunkan biaya pokok pengeringan hingga mencapai Rp.1,056,00 per kg ubi kayu basah pada kapasitas 42 kg/batch. Penggunaan alat pengering berbantu pemanas inframerah ini sangat ditekankan untuk dioperasikan pada kapasitas maksimal agar dapat menekan biaya operasional yang berdampak pada menurunya biaya pokok pengeringan.
Pendugaan Umur Simpan Kukis Mocaf dengan Metode Akselerasi Berdasarkan Kadar Air Kritis Woro Setiaboma; Dita Kristanti; Nok Afifah
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.14 No.2 Desember 2020
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v14i2.5939

Abstract

Umur simpan menentukan kualitas produk kukis mocaf, ditandai dengan kekerasan atau kerenyahan yang masih bisa diterima oleh konsumen. Kurva isoterm sorpsi air dapat digunakan untuk menentukan umur simpan berdasarkan kadar air kritis. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui karakteristik kukis mocaf dan memprediksi umur simpannya berdasarkan permodelan matematika. Pendugaan umur simpan diawali dengan analisa kadar air awal (M0) kemudian dilanjutkan dengan penentuan kadar air kritis (Mc) berdasarkan analisa sensoris serta kadar air kukis mocaf yang disimpan tanpa kemasan di ruang dengan suhu 30°C dan RH 75-80% pada periode waktu 0-7 jam. Penentuan kadar air keseimbangan (Me) dilakukan dengan mengukur kadar air kukis pada RH 6,95-83,62% yang dikondisikan menggunakan larutan garam jenuh. Permodelan isoterm sorpsi air (ISA) dibuat berdasarkan hubungan antara kadar air kesetimbangan dengan aktivitas air (aw). Pengujian ketepatan model ISA dilakukan dengan menghitung Mean Realtive Determination (MRD). Model persamaan dengan nilai MRD £ 10 digunakan untuk penentuan umur simpan kukis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kukis mocaf memiliki kadar air 5,04 %(bk), kadar abu 1,39%(bk), kadar protein 3,29 %(bk), kadar lemak 22,01%(bk), karbohidrat by difference68,28%(bk) dan energi sebesar 484 kal/100g. Permodelan yang tepat untuk pendugaan umur simpan kukis mocaf adalah permodelan Guggenheim-Anderson-de Boer (GAB) dengan bentuk kurva ISA sigmoid (tipe II) dan nilai MRD sebesar 8,44%. Pendugaan umur simpan kukis mocaf paling baik pada kondisi suhu 30°C dan RH 80% menggunakan kemasan aluminium dengan umur simpan selama 16,7 bulan.
Bahaya Kromium Hexavalen (Cr VI) Pada Kulit Dan Produk Kulit Samak Krom Serta Upaya Pencegahannya Rihastiwi Setiya Murti; Sugihartono Sugihartono
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.14 No.2 Desember 2020
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v14i2.6536

Abstract

Garam kromium merupakan bahan penyamak yang paling banyak digunakan oleh industri penyamakan kulit di dunia. Keberadaan dan jumlah Cr (VI) pada kulit samak sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan pada saat pengerjaan dan penggunaan bahan penyamak kulit dan bukan merupakan faktor intrinsik kulit samak krom.  Ambang batas Cr (VI) pada kulit samak krom maksimum 3 mg/kg kulit. Kromium heksavalen bersifat toksik, karsinogenik, mutagenik, nekrosis hati dan ginjal, serta merupakan penginduksi dermatitis kontak alergi. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang bahaya krom heksavalen pada kulit samak krom dan cara-cara pencegahannya. Pencegahan timbulnya kromium pada kulit samak dapat dilakukan melalui penggunaan kromium trivalen yang terbebas dari Cr (VI), dan bahan lainnya serta pengendalian pada proses penyamakan dan proses finishing.
Adsorpsi Cu(II) Menggunakan Zeolit Sintesis Kombinasi Abu Terbang dan Abu Dasar dengan Variasi Waktu Aging Adhi Setiawan; Aisyah Nur Rahmadania; Novi Eka Mayangsari
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.15 No.1 Juni 2021
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v15i1.6889

Abstract

Kandungan Si dan Al pada abu terbang dan abu dasar dapat dimanfaatkan sebagai adsorben zeolit yang dapat menyerap Cu(II) di dalam air limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan karakterisasi zeolite dari campuran abu terbang dan abu dasar serta mengaplikasikannya sebagai adsorben logam Cu(II). Sintesis zeolit menggunakan proses hidrotermal di dalam larutan NaOH pada suhu 100oC selama 5 jam. Waktu aging dilakukan selama 8 jam dan 24 jam. Proses adsorpsi Cu(II) dilakukan secara batch pada suhu 35oC dan 45oC dengan dosis adsorben 10 g/L. Konsentrasi Cu(II) yang digunakan pada adsorbsi sebesar 12,5; 25; dan 50 mg/L. Karakteristik zeolit dianalisis menggunakan SEM-EDX, XRD, FTIR, dan analisis konsentrasi Cu(II) menggunakan atomic absorption spectrophotometry (AAS). Hasil SEM menunjukkan bahwa partikel zeolit berbentuk bola teraglomerasi serta permukaan yang kasar. Peningkatan waktu aging menyebabkan peningkatan ukuran partikel dan kristalinitas zeolit. Waktu aging selama 24 jam menghasilkan partikel dengan ukuran 3,441 µm dan kristalinitas sebesar 95,98%. Semua sampel zeolite mampu menghasilkan efisiensi penyisihan Cu(II) di atas 99%. Nilai maksimum efisiensi penyisihan Cu(II) diperoleh pada kondisi konsentrasi awal 12,5 mg/L, waktu aging 8 jam, serta suhu 35oC yaitu sebesar 99,95%. Adsorpsi isotermal Cu(II) oleh zeolit sesuai dengan Model Freundlich yang dikontrol melalui pembentukan multilayer pada permukaan adsorben. Keywords: abu dasar, abu terbang, adsorpsi, hidrotermal, waktu aging, zeolit. 
Pembuatan Inti Stator Motor Listrik dengan Menggunakan Proses Milling Profil Sony Harbintoro; Luky Krisnadi
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.14 No.2 Desember 2020
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v14i2.6374

Abstract

Inti stator motor listrik terbuat dari tumpukan lempengan pelat material electrical steel lamination. Pada pembuatannya umumnya digunakan metode stamping. Pada tulisan ini dijelaskan mengenai metode alternatif pembuatan inti stator motor listrik dengan menggunakan proses milling pada mesin CNC vertical machining center. Tahapan penelitian dilakukan dengan pembuatan desain inti stator, pembuatan alat bantu untuk mencekam tumpukan pelat electrical steel lamination, kemudian dilanjutkan dengan proses penentuan parameter pemesinan, proses milling profil di mesin CNC vertical machining center, dan melakukan analisa hasil eksperimen. Berdasarkan hasil penelitian, pembuatan inti stator yang terbuat dari pelat electrical steel lamination, dapat dilakukan dengan metode alternatif yaitu proses milling profil pada mesin CNC vertical machining center. Dibandingkan dengan proses stamping, proses pembuatan inti stator dengan proses milling profil pada mesin CNC vertical machining center mempunyai kelebihan yaitu perubahan desain produk dapat dilakukan dengan cepat tanpa harus mengubah dies dan punch. Proses pembuatan pelat inti stator dengan menggunakan CNC vertical machining center lebih sesuai digunakan pada tahap purwarupa sebelum dilanjutkan ke tahap produksi massal.
Karakteristik Mi Berbasis Tepung Ubi Kayu Termodifikasi (Mocaf) Yang Diperkaya Ekstrak Wortel (Daucus carota) Ardiba Rakhmi Sefrienda; Dini Ariani; Ahmad Fathoni
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.14 No.2 Desember 2020
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v14i2.5777

Abstract

Saat ini, kebutuhan tepung terigu untuk industri pangan seperti industri mi sangat tinggi. Oleh karena itu, pengembangan bahan baku lokal untuk produksi mi menjadi sangat penting mengingat tepung terigu merupakan komoditas impor dan tingkat konsumsi mi terus meningkat setiap tahun. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakter mi kering non terigu yang dibuat dari tepung ubi kayu termodifikasi atau mocaf kaya beta karoten dengan penambahan ekstrak wortel yang kemudian disebut mi wortel mocaf kaya beta karoten. Analisis morfologi (struktur), sifat fisik (warna, kuat patah, cooking loss, tensile strength, dan water absorption), sifat kimia (proksimat), dan sensoris dilakukan dengan mi wortel mocaf komersial yang masih mengandung terigu sebagai kontrol. Analisa statistik independent sample T Test digunakan untuk melihat perbedaan nyata dari kedua produk. Hasil pengujian morfologi menunjukkan bahwa mi wortel mocaf kaya beta karoten memiliki struktur padat dan mi wortel mocaf komersial lebih berongga. Penilaian kuantitatif terhadap warna menggunakan chromameter menunjukkan bahwa mi mocaf kaya beta karoten berwarna lebih merah dan kuning berdasarkan nilai a dan b yang lebih tinggi secara signifikan (P<0,05) dibandingkan mi wortel mocaf komersial. Kuat patah, cooking loss dan kesukaan warna tidak berbeda signifikan (P<0,05) terhadap kontrol mi wortel mocaf komersial. Namun hasil pengujian tensile strength, water absorption, kesukaan rasa, aroma, kenampakan, kekenyalan, dan keseluruhan mi wortel mocaf kaya beta karoten masih lebih rendah secara signifikan dibanding mi wortel mocaf komersial.
Karakterisasi Kandungan Kimia dan Organoleptik Produk Kukis dari Tepung Komposit Berbasis Mocaf dan Tepung Sorgum Laudavian Dhanasatya; Defry Lesmana; Warsono Elkiyat; Hartati Hartati; Ahmad Fathoni; Nur Kartika Indah Mayasti
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.15 No.1 Juni 2021
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v15i1.6169

Abstract

Pengembangan produk kukis berbasis ubi kayu dan sorgum diharapkan dapat meningkatkan nilai gizi produk. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi kukis dengan komposisi tepung mocaf dari tiga genotip ubi kayu Adira 1 (ADR), Mentega 2 (MTG) dan Carvita 25 (CVT) dan tepung sorgum, serta memilih produk kukis terbaik berdasarkan analisa fisik, kimia, dan sensori produk yang meliputi penampilan, aroma, rasa, dan tekstur. Tepung sorgum digunakan sebagai sumber protein dalam tepung komposit. Komposisi tepung mocaf dan sorgum yang digunakan antara lain 75% : 25%; 50% : 50%; dan 100% tepung terigu sebagai kontrol. Uji organoleptik rating hedonik terpilih 3 sampel kukis terbaik terbuat dari tepung komposit 75 % tepung mocaf: 25 % tepung sorgum, dengan mocaf dari tiap genotip ubi kayu. Tiga sampel terbaik dilanjutkan analisis proksimat dan dihitung indek efektifitas dengan metode DeGarmo untuk memperoleh sampel terbaik. Hasil penelitian menunjukkan sampel kukis terbaik terbuat dari 75 % tepung mocaf: 25 % tepung sorgum dari genotip ubi kayu Carvita 25. Kukis terbaik mengandung kadar air 2,61 %, kadar abu 1,92%, protein kasar 2,82 %, lemak kasar 25,94% dan serat kasar 6,27 %, serta penerimaan keseluruhan yang disukai.
Karakterisasi Sifat Fisiko Kimia Serat Kara Rawe ( Mucuna bracteata ) sebagai Bahan Baku Industri Fauziati, Fauziati; Titik Nurwidayati; Hermanto Hemanto
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.14 No.2 Desember 2020
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v14i2.6665

Abstract

Sifat-sifat fisik dan kimia serat sangat diperlukan untuk diversifikasi dan pengolahan serat sesuai dengan peruntukkannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sifat fisika dan kimia serat kara rawe sesuai dengan peruntukkanya.Metode penelitian menggunakan dua perlakuan yaitu lama fermentasi (1, 2, 3 dan 4 hari) pada proses pemisahan serat dan konsentrasi NaOH (0,5%, 1% dan 1,5%) digunakan pada proses pemasakan serat (Scouring). Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa Karakteristik sifat fisika serat batang kara rawe dalam bentuk bundel adalah panjang serat antara 77,9 mm sampai dengan 1088 mm, tenacity diperoleh rata-rata 3,59 gr/tex-5,51 g/tex. Berat jenis yang dihasilkan dari ke tiga perlakuan F2, F3 dan F4 rata-rata 1,50-1,54 g/ml hampir sama dengan berat jenis serat kapas dan rami . Dimana berat jenis serat  kapas adalah 1,54 g/cm3 dan berat jenis rami 1,50 g/cm3 F2F3 dengan kadar optimal F2S3. Hasil karakterisasi sifat kimia serat batang tanaman kara rawe yaitu kandungan alpha selulosa tertinggi pada perlakuan F3S3(86,16%) dan hasil lignin tertinggi pada F4S3 (14,33%). Berdasarkan karakteristik fisika serat kara rawe dapat digunakan sebagai sumber bahan baku industri kerajinan (kriya).Kata kunci  : Serat kara rawe, sifat fisika dan kimia, serat rami,serat kapas bahan kerajinan 
Evaluasi Kinerja Pemisahan Tangkai dan Daun Teh Layu Berdasarkan Prinsip Perontokan dan Penghisapan Agus Sutejo; Sutrisno Suro Mardjan; Wawan Hermawan; Desrial Desrial; Diang Sagita
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.14 No.2 Desember 2020
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v14i2.6431

Abstract

Salah satu kelemahan pada proses pengolahan teh adalah tercampurnya tangkai dan daun teh sehingga proses grading dan sorting dilakukan pada produk akhir teh. Pada penelitian ini, dikembangkan suatu pendekatan baru pemisahan tangkai dan daun teh yaitu pada awal proses. Prinsip yang digunakan adalah dengan merontokan daun dari tangkai teh dan memisahkannya dengan berdasarkan perbedaan kecepatan terminal. Sebuah paket teknologi diperlukan untuk memisahkan tangkai dan daun teh sehingga keduanya dapat diproses secara terpisah untuk menghasilkan teh dengan kualitas terbaik (kelas satu) dalam pengolahan sistem teh ortodoks. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan mengevaluasi paket teknologi pemisah daun dan tangkai teh yang telah dilayukan. Metode penelitian terdiri dari pembuatan desain mesin, pembuatan prototipe, uji fungsional mesin dan uji kinerja mesin. Paket teknologi yang telah dibangun terdiri dari tiga unit mesin yaitu mesin perontok, mesin pengayak getar dan mesin penghisap daun teh. Hasil pengujian kinerja terbaik diperoleh pada kecepatan putar silinder perontok 480 rpm yang menghasilkan persentase daun terhisap tertinggi (91,43%) dan persentase tangkai tidak terhisap paling tinggi (86,05%). Rata-rata kecepatan udara hisap pada permukaan tray saat pengujian berada pada kecepatan terminal daun teh, yaitu 1,78-2,98 m s-1 dan kapasitas rata-rata perontokan adalah 156,71 kg jam-1. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat bahwa pemisahan dengan metode perontok sangat cocok untuk proses pembuatan teh hijau karena dengan prinsip ini dapat meminimalisir kerusakan pada daun teh.