Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya
discusses field-based research, literature research, and theoretical and methodological reflection on languages, literatures, and its teaching. This journal receives research-based articles or literary-based studies that will be published twice a year through the screening process. All articles sending to the editorial desk will be reviewed by at least two reviewers. Manuscripts relate to the fields below are welcome to submit.
Articles
395 Documents
FITUR LINGUISTIS TEKS BAHASA INDONESIA
Suhartono, Suhartono
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol 2, No 2 (2015): Vol 2 No 2 Bulan September Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/parama.v2n2.p%p
Fitur linguistis berperan strategis dalam pendekatan pengajaran bahasa berbasis teks.Peran strategis tersebut terletak pada posisinya sebagai faktor distingtif antarjenis teks.Dengan memahami fitur linguistis, peserta didik mendapatkan kemudahan dalam membedakan antarjenis teks.Akan tetapi, fakta di lapangan menunjukkan fenomena yang berbeda karena fitur linguistis disamakan dengan aspek gramatika.Akibatnya, substansi kajiannya bukan fitur-fitur linguistis per jenis teks, melainkan aspek gramatika yang tidak dapat digunakan untuk membedakan antarjenis teks.Hal tersebut dalam perspektif akademis merupakan masalah besar yang perlu penanganan secepat-cepatnya agar pembelajaran dapat segera dikembalikan pada rel yang benar dan peserta didik tidak dirugikan.Terkait dengan hal tersebut, pada tulisan ini diuraikan fitur linguistis beberapa jenis teks sebagai sampel dan contoh-contohnya. Sampel yang dapat dikembangkan pada kesempatan yang berbeda dengan berdasar prinsip analogi dan komparasi tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi penulis buku dan guru berbagai jenjang pendidikan dalam mengajarkan ragam teks bahasa Indonesia dengan pendekatan pengajaran bahasa berbasis teks.
PRINSIP KERJA SAMA DALAM PERCAKAPAN BERBAHASA INGGRIS DI RADIO
Winarsih, Suko
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol 1, No 1 (2014): Vol 1 No 1 Bulan Maret Tahun 2014
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/parama.v1n1.p%p
Studi ini bertujuan mendeskripsikan prinsip kerja sama dalam percakapan berbahasa Inggris melalui telepon di radio Mas FM. Penelitian ini menginvestigasi dua masalah, yaitu (1) rentang penggunaan prinsip kerja sama, dan (2) tujuan si penutur dalam ranah tindak ilokusi. Prinsip kerja sama mempunyai empat maksim, kuantitas, kualitas, hubungan, dan cara. Tindak ilokusi mempunyai empat fungsi: bersaing, beramah tamah, berkolaborasi, dan bertentangan. Desain penelitian adalah kualitatif. Subjek penelitian adalah para partisipan tutur: presenter, tamu di studio, dan pendengar. Hasil analisis data menunjukkan bahwa secara umum keempat maksim dalam prinsip kerja sama diaplikasikan oleh partisipan tutur. Tindak tutur yang diaplikasikan oleh para parisipan tutur adalah fungsi bersaing, beramah tamah, dan berkolaborasi. Sedangkan fungsi bertentangan tidak diaplikasikan oleh para partisipan tutur.
PENGARUH PEMAHAMAN BUSHU TERHADAP KEMAMPUAN MENGARTIKAN KANJI
Saragih, Febi Ariani;
Yulia, Lavitta
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol 5, No 2 (2018): VOL 5 No. 2 Bulan September 2018
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/parama.v5n2.p%p
One of the difficulties of kanji learning is knowing the meaning of the kanji. This is a very vital thing because kanji is basically a symbol of meaning. Bushu is a kanji-forming factor that shows meaning. For this reason, this study wants to know the influence of bushu understanding on the ability to interpret kanji (a combination of kanji). The theory used in the research is the theory of bushu and kanji. This study using ex post facto research with a quantitative approach. The instrument in this study using a test. The test questions that have been made, are used to determine the level of understanding of bushu on interpreting kanji in Japanese education students 2015. The results showed that the average understanding of bushu respondents was 81.2. While the average understanding of bushu in interpreting the respondent's logo is 85.8. Based on the results of simple linear regression analysis, the magnitude of the influence of bushu understanding (X) on the ability to interpreting kanji (Y) is 50.7%. while the remaining 49.3% is influenced by other factors besides understanding bushu (X). The conclusion of the results of this study is there is a strong influence between understanding bushu on the ability to interpret the meaning of kanji.
PENCEMARAN NAMA BAIK: KAJIAN LINGUISTIK FORENSIK
Mintowati, Mintowati
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol 3, No 2 (2016): Vol 3 No 2 Bulan September Tahun 2016
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/parama.v3n2.p%p
This paper aims to discuss lingual data of defamation cases based on analysis, lexical semantics, grammatical semantics, and pragmatic analysis (speech acts) which are part of linguistic forensic studies. From the lingual data on defamation that has been analyzed based on the three points of view, the following findings are obtained: (1) based on the lexical semantic analysis found the lexical meaning / meaning of word denotation; (2) based on the grammatical semantic analysis, the meaning of phrases, sentences, and discourse in accordance with the intended by the speaker; (3) there are speech acts of illocution and expressive perlokusi, both from speakers and partners said. Based on the results of the analysis it can be concluded that a speech is classified as defamation and this can be utilized by the investigator as one of the basis for the preparation of the investigation event (BAP) as well as the decision making for the legal sanction for the defamation perpetrator
KARAKTERISASI MELALUI GAYA BAHASA DALAM KUMPULAN CERPEN SENYUM KARYAMIN KARYA AHMAD TOHARI
Sulistijani, Endang
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol 1, No 2 (2014): Vol 1 No 2 Bulan September Tahun 2014
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/parama.v1n2.p%p
Tujuan makalah ini adalah memaparkan bentuk telaah karekterisasi melalui gaya bahasa. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode content analysis dan pendekatan struktural. Karakterisasi dalam cerita sangat berperan dalam menghidupkan tokoh imajinatf pengarang. Banyak cara dilakukan oleh pengarang dalam menggambarkan karakter tokoh-tokohnya, baik secara langsung ataupun tak langsung. Dengan berbagai macam gaya bahasa, pengarang dapat menggambarkan tokoh imajinatifnya sehingga lebih hidup dan berkesan. Kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari bertokoh orang-orang lapisan bawah. Dengan gaya bahasa yang khas, tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen tersebut bukan sekedar pembeberan watak orang kecil yang dibebani oleh masalah kehidupan. Namun, sarat pesan dalam penggambaran wataknya. Misalnya, dengan gaya bahasa ironi kemunafikan manusia dapat digambarkan dengan jelas atau bagaimana seseorang yang congkak digambarkan melalui gaya bahasa metafor yang tajam.
RELIGIUSITAS TRANSFORMATIF DALAM GURIT BANDHA DONYA (KAJIAN ANTROPODIDAKTIS)
Sulistiani, Sri
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol 6, No 2 (2019): Vol.6 No.2 Bulan September 2019
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/parama.v6n2.p%p
Questioning about religious education in literature related to divinity and religiosity. Religiosity includes belief in God, belief in supernatural powers over humans, and belief in animism and dynamism. One of the media for religious education is through literary works. The author and / or poet with the sensitivity possessed captures religious symbols and the value of faith which then transforms them into a series of words into verses of poetry. The content of beauty and the meaning in literary works reflects the religiosity experience of the author and / or the poet. Regarding faith education in literature, the focus of the problem is how transformative religiosity in Gurit Bandha Donya and how the anthropodidactic value in Gurit Bandha Donya. To answer the problem, it is done through descriptive analysis and content analysis.
SPIRITUALITAS MASYARAKAT DALAM NOVEL JATISABA KARYA RAMAYDA AKMAL
Yulisetiani, Septi
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol 3, No 1 (2016): Vol 3 No 1 Bulan Maret Tahun 2016
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/parama.v3n1.p%p
This article discusses about presentation of spiritualitty the traditional society in Jatisaba novels by Ramayda Akmal. Spirituality was the core which is one reason that someone in entities do something. Spirituality also a top to be achieved by someone after do something. Be spiritual means has ties more on this to be a chaplaincy and psychological compared with this to be physical and material. Meaning spirituality understood as a series of characteristic motivasional, the emotional common cause, direct and choose diverse mannerisms individuals. Individuals will try to building an understanding of goals and purport to live in. Spirituality open the door to expand understanding of motivation and goal individuals. Transdensi spiritual individual reflect the ability to stand erect build lives of sight more plural, with the realization and meaning deeper accompained purport to the purpose live in a relationship that more enduring; relationship with one God. The individual is a part comunity. Spirituality community to describe in this novels identified by a set of an idea or ideas related to the belief system. The belief system in perspective anthropology includes two things interconected, there are the system religious and religious ceremony.
PARADIGMA EKOLOGI DALAM KAJIAN SASTRA
Kaswadi, Kaswadi
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol 2, No 2 (2015): Vol 2 No 2 Bulan September Tahun 2015
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/parama.v2n2.p%p
Sebagaimana dikemukakan para pakar sastra bahwa karya sastra tidak berangkat dari kekosongan budaya, sistem sastra tertentu tidak tumbuh dan berkembang dalam isolasi mutlak, kemunculan karakteristik tertentu pada karya bukanlah sesuatu yang khas secara inheren pada dirinya sendiri. Hal-hal tersebut memiliki hubungan dengan aspek-aspek lain di luar sastra. Pendapat-pendapat tersebut menegaskan bahwa eksistensi karya sastra terkait dengan ekologinya. Yang dimaksud ekologi adalah segala sesuatu yang melingkupi proses dan karenanya menginspirasi penciptaan karya satra. Dalam paradigma ekologis, karya sastra diposisikan sebagai suatu species atau komponen dalam sebuah ekosistem. Hidup dan berkembangnya  sebuah karya sastra adalah akibat aksi dan reaksi ekologis dalam kondisi ekosistem tertentu yang kompleks dan kait-mengkait. Dalam paradigma ekologi, kemunculan karya sastra bisa dipandang sebagai bukti adanya evolusi, adaptasi, atau  kemungkinan-kemungkinan unik lainnya. Kajian ekologi terhadap karya sastra dimungkinkan karena ada kesejajaran antara fenomena karya sastra dan fenomena organisme dalam ekosistemnya. Oleh karena itu, kajian ekologi terhadap karya sastra juga dapat memanfaatkan pendekatan-pendekatan dalam penelitian ekologi.
STUDENTS’ WILLINGNESS TO COMMUNICATE USING ENGLISH: A SURVEY STUDY
Rihardini, Ajeng Ayu;
Yaniafari, Rahmati Putri;
Mukminatien, Nur
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol 8, No 1 (2021): Vol.8 No.1 Bulan Maret 2021
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/parama.v8n1.p60-74
In Indonesia, one of the common problems encountered by many English teachers during the process of teaching and learning in the classroom is students’ unwillingness to communicate using English. Having learners who are willing to communicate using English in class is essential in a language classroom that following the communicative approach (Riasati, 2012). This study aims to investigate students’ perceptions towards willingness to communicate using English in the classroom. It employs a quantitative approach, survey research design. To know the students’ willingness to communicate using English, a well-known FLCAS (Foreign Language Classroom Anxiety Scale) developed by Horwitz, E.K., Horwitz, and M. B., Cope J. (1986) was adapted. 115 students of SMK Negeri 10 Malang participated as the respondents. Based on the findings, it is concluded that tenth and eleventh grade students at SMK Negeri 10 Malang have a positive opinion towards willingness to communicate using English in the classroom. They stated that learning and communicating using English is essential and beneficial. However, their willingness to communicate using English itself is quite low and it is quite a serious problem.
KONSEP SOSIAL BUDAYA HUBUNGAN MANUSIA DALAM PEMBENTUKAN KATA MAJEMUK BAHASA JEPANG
Cahyo, Rizky Dwi;
Mael, Masilva Raynox
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra dan Pembelajarannya Vol 4, No 2 (2017): VOL 4 NO 2 BULAN SEPTEMBER 2017
Publisher : Universitas Negeri Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26740/parama.v4n2.p%p
Terdapat berbagai faktor yang mendasari pembentukan dan pemakaian bahasa oleh masyarakat penuturnya. Hal ini dikarenakan hubungan erat yang tak bisa dipisahkan antara bahasa dan masyarakat. Hubungan tersebut adalah (1) Bahasa mempengaruhi masyarakat, (2) Masyarakat mempengaruhi bahasa, dan (3) Saling berpengaruhnya bahasa dan masyarakat. Pengaruh tersebut satu diantaranya tampak pada pembentukan fukugougo atau komposisi kata majemuk Bahasa Jepang yang tidak semena-mena terbentuk begitu saja namun terdapat pengaruh dari konsep sosial budaya masyarakat Jepang dalam pembentukannya. Konsep masyarakat yang mempengaruhi tersebut adalah sistem stratifikasi, sistem keluarga, dan sistem jenis kelamin (gender). Pada kesempatan kali ini penulis akan memaparkan fukugougo yang terpengaruh oleh konsep sosial budaya di atas yang terdapat pada buku minna no nihongo Shokyuu I dan II, dan juga akan memaparkan bentuk variasi komposisi pemajemukannya.