cover
Contact Name
I Nyoman Santiawan
Contact Email
inyomansantiawan@gmail.com
Phone
+6281229463400
Journal Mail Official
inyomansantiawan@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah Dukuh Macanan Baru, Morangan, Mojayan, Kec. Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57414 Telepon: (0272) 3352795
Location
Kab. klaten,
Jawa tengah
INDONESIA
Widya Aksara: Jurnal Agmaa Hindu
ISSN : 2085272X     EISSN : 26589832     DOI : -
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu merupakan Jurnal Sosial, Budaya dan Agama Hindu yang menerbitkan hasil penelitian atau pemikiran tentang studi agama dan studi sosial dan budaya menggunakan perspektif interdisipliner. Lingkup Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu adalah: Studi agama Hindu seperti Fisafat, Etika dan Upacara Studi sosial dan budaya seperti sosiologi masyarakat Hindu Sumber pengajaran terkait: studi agama, pemikiran Hindu, filsafat Hindu, studi pendidikan agama Hindu, studi penerangan agama dan kajian budaya
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 27 No 1 (2022)" : 12 Documents clear
PERSEMBAHYANGAN PAGERWESI DI PURA WIJAYA KUSUMA DESA BANARAN KECAMATAN GROGOL KABUPATEN SUKOHARJO (PERSPEKTIF TRI KERANGKA DASAR AGAMA HINDU) Putu Budiadnya; I Komang Prayogi
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.173

Abstract

Agama Hindu merupakan agama yang tertua di dunia, ajaran-ajaranya bersumber pada kitab suci Veda yang merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Bila seseorang secara mantap mengikuti semua ajaran agama yang bersumber pada sabda suci Tuhan Yang Maha Esa itu, maka akan diperoleh ketentraman dan kebahagiaan hidup yang sejati yang disebut “Moksratam jagadhita ya ca iti dharma”(Titib, 2003 :2). Tri Kerangka Dasar Agama Hindu merupakan tiga konsep yang mendasari ajaran Agama Hindu tersebut. Tattwa, Susila dan Ritual atau upacara merupakan satu kesatuan yang utuh yang harus dilaksanakan secara seimbang dalam melaksanakan suatu aktivitas agama Hindu. Karena ketiga aspek ini saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Kalau salah satu dari ketiga aspek tersebut tidak dilaksanakan dengan baik, maka tujuan dari agama Hindu yaitu “Moksartam jagadhita ya ca iti dharma” tidak akan tercapai dengan sempurna. Sehingga dalam setiap melaksanakan aktivitas agama Hindu terutama dalam hal yadnya atau persembahan suci tentu tidak pernah lepas dari konsep Tri Kerangka Dasar Agama Hindu (Sudharta, 2007 : 5) Secara realita yang ada disekitar khususnya di Desa Banaran, pelaksanaan persembahyangan Pagerwesi kalau dilihat sepintas tidak diragukan lagi mengenai hal ritual atau upacaranya. Tetapi dalam hal Etika dan Tattwa atau filsafatnya kurang dipahami dan terkadang dikesampingkan. Sebagian besar umat Hindu Desa Banaran didalam melaksanakan ritual atau upacara persembahyangan pagerwesi belum memahami secara benar bagaimanakah cara beretika dengan baik dan semua hal tersebut berdasarkan tattwa yang mana. Hal inilah yang menjadi kebiasaan kurang baik oleh Umat Hindu Desa Banaran khususnya dalam melaksanakan suatu aktivitas keagamaan.
PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI IMPLEMENTASI KETERPADUAN PEMBELAJARAN Setyaningsih
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.174

Abstract

UU 20 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berangkat dari hal tersebut diatas, secara formal upaya menyiapkan kondisi, sarana/prasarana, kegiatan, pendidikan, dan kurikulum yang mengarah kepada pembentukan watak dan budi pekerti generasi muda bangsa memiliki landasan yuridis yang kuat. Namun, sinyal tersebut baru disadari ketika terjadi krisis akhlak yang menerpa semua lapisan masyarakat. Tidak terkecuali juga pada anak-anak usia sekolah. Untuk mencegah lebih parahnya krisis akhlak, kini upaya tersebut mulai dirintis melalui Pendidikan Karakter bangsa. Dalam pemberian Pendidikan Karakter bangsa di sekolah, para pakar berbeda pendapat. Setidaknya ada tiga pendapat yang berkembang. Pertama, bahwa Pendidikan Karakter bangsa diberikan berdiri sendiri sebagai suatu mata pelajaran. Pendapat kedua, Pendidikan Karakter bangsa diberikan secara terintegrasi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu, PKn, dan mata pelajaran lain yang relevan. Pendapat ketiga, Pendidikan Karakter bangsa terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran. Dalam mengimplementasikan pendidikan karakter haruslah melalui berbagai proses diataranya melalui strategi implementasi pendidikan karakter, langkah-langkah pendidikan karakter, tahap-tahap pembentukan karakter, pembentukan karakter melalui pembudayaan. Dimana strategi implementasi pendidikan karakter meliputi pengintegrasian nilai dan etika pada mata pelajaran, Internalisasi nilai positif yang di tanamkan oleh semua warga, Pembiasaan dan latihan, Pemberian contoh dan teladan, Penciptaan suasana berkarakter di sekolah dan Pembudayaan. Langkah-langkah pendidikan karakter meliputi lima langkah yang harus dilakasanakan secara tepat dan konsisten. Tahap-tahap pembentukan karakter meliputi lima tahap atau proses dari melihat-mengamati-meniru-mengingat-menyimpan kemudian mengeluarkan perilaku. Pembentukan karakter melalui pembudayaan yang dapat dilakukan dengan penciptaan budaya karakter yang bersifat vertikal dan horizontal.
KORELASI NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU DENGAN LAKON SEMAR MBANGUN KAHYANGAN Toto Margiyono; Dewi Ayu Wisnu Wardani
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.175

Abstract

Eksistensi Wayang Kulit tetap bertahan meskipun masyarakat kita telah berada dalam masa globalisasi. Hal ini terbukti dengan dipentaskannya wayang kulit dalam berbagai jenis acara. Cerita yang ditampilkan secara garis besar berasal dari epos Ramayana dan Mahabharata. Cerita Carangan merupakan cerita yang digali dari tempat dimana wayang itu dipentaskan. Lakon Semar Mbangun Kahyangan salah satu cerita carangan yang berkembang dan masih dipentaskan oleh dalang – dalang di Jawa. Lakon ini mengisahkan Ki Lurah Semar akan membangun kahyangan dengan sarana Jimat Kalimasada. Maksud Ki Lurah Semar membuat marah Bhatara Guru sebagai penguasa kahyangan mengira bahwa Ki Lurah Semar akan melengser kedudukannya sebagai Raja di Kahyangan. Ki Lurah Semar membantah semua tuduhan Bhatara Guru, dan menyampaikan bahwa kahyangan yang akan dibangun adalah kahyangan bathinnya. Struktur lakon Semar Mbangun Kahyangan terdiri dari Tancep Kayun,Jejeran Raja dan Kedhatonan, paseban jawi,jaranan,perang gagal, goro goro, adegan bambangan, perang kembang, jejer manyuro, jejer sintren dan perang brubuh. Nilai pendidikan Agama Hindu terdiri dari nilai pengabdian, nilai keadilan, nilai kerukunan, nilai etika dan nilai religius. Lakon Semar Mbangun Kahyangan pada intinya mengandung amanat bahwa antara dunia lahir dan dunia bathin memerlukan keseimbangan. Oleh sebab itu perlu penyelarasan sehingga kehidupan manusia akan mendapatkan ketentraman, kebahagiaan dan kemakmuran sesuai dengan tujuan Agama Hindu Mokshartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.
MEMBANGUN KEPRIBADIAN DAN BUDI PEKERTI LUHUR MELALUI PENERAPAN AJARAN AGAMA HINDU Titin Sutarti
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.176

Abstract

Kepribadian dan Budi Pekerti merupakan dua buah istilah yang saling melengkapi. Kepribadian merupakan sifat-sifat atau karakter yang mendasari atau yang dimiliki oleh pribadi seseorang, sedangkan budhi pekerti adalah sifat, perbuatan atau tingkah laku seseorang yang dilakukan dan dilaksanakan dengan kesadaran dalam bertindak. Budi pekerti merupakan bentuk sikap dan perilaku positif yang dilakukan dan akan membentuk kepribadian dari seseorang. Tingkah laku manusia dalam berbuat tidaklah terlepas dari adanya pengaruh intern dan ekstern. Sifat, karakter, pengalaman hidup, orientasi dan pemahaman nilai merupakan “unsur dalam” yang ada dalam diri manusia. Sedangkan lingkungan yang kondusif, sehat, aktif, positif akan mendukung tingkah laku seseorang dalam hal-hal yang positif dan tidak terlepas dari nilai-nilai etika. Budi pekerti yang salah satu unsur didalamnya adalah perilaku sopan santun atau etika dalam bertingkah laku, merupakan sebuah sikap dan tindakan yang diperoleh berdasarkan kebiasaan yang dilakukan sejak kecil. Memiliki budi pekerti luhur sangat didambakan bagi setiap orang. Dengan tingkah laku yang baik, diharapkan kelak dikemudian hari, seseorang akan memperoleh kehidupan yang jauh lebih baik, terlepas dari kesengsaraan dan pada giliranya kebahagianlah yang di diperolehnya. Maka pendidikan budhi pekerti sangat dibutuhkan oleh setiap insan manusia khususnya untuk generasi muda sebagai generasi penerus bangsa. Hal ini telah diterapkan dalam kurikulum 2013 yang awalnya disebut dengan mata pelajaran Pendidikan Agama, kini berubah menjadi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. Dengan pendidikan budi pekerti diharapkan akan membentuk sebuah karakter atau kepribadian yang baik dan dapat menciptakan hubungan yang harmonis dengan Sang Hyang Widhi, sesama manusia dan lingkungan yang disebut dengan ajaran Tri Hita Karana. Yang pada gilirannya, kehidupan masyarakat, bangsa dan negara akan menjadi ‘tata titi tentrem kerta raharja, gemah ripah lohjinawi’. Tri kerangka pokok ajaran agama Hindu telah menegaskan bahwa, disamping penguatan Tattwa dan pelaksanaan tata cara upacara keagamaan, menjunjung tinggi etika dan susila adalah mutlak harus dilaksanakan. Baik etika vertikal (hubungan manusia dengan Sang Hyang Widi) dan etika horizontal (hubungan manusia dengan sesama dan alam lingkungannya). Ajaran Etika atau Susila ini antara lain meliputi Tat Twam Asi, Tri Kaya Parisudha, Panca Satya, Tri Parartha, Dasa Nyama Bratha, Nawa Widha Bhakti, Catur Paramitha. Sudah seharusnya ajaran ini harus dijunjung tinggi dengan cara dipahami, dilaksanakan dan diwujudkan dalam bentuk normatif ideologis dan aplikatif kontekstual sebagai satu kesatuan utuh untuk dapat mendukung terwujudnya budi pekerti luhur demi terciptanya keharmonisan, keselarasan serta keberadaban semesta alam .
MAKNA DAN IMPLIKASI REPLIKA BANGUNAN SUCI DI PURA SAHASRA ADHI PURA BAGI UMAT HINDU Widhi Astuti
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.177

Abstract

Pura Sahasra Adhi Pura terletak didesa Sonosewu, Wirun, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Lokasi terletak 5 km sebelah timur kota Surakarta dan sebelah timur Bengawan Solo. Pura tersebut menempati areal seluas 9.000 meter persegi. Kompleks Pura akan membentuk pusat Metafisis Global dan Pusat Hinduisme Global. Konsep yang dikatakan masalah dunia adalah permasalahan manusia dan tidak pernah dapat diatasi jika permasalahan manusia belum dipecahkan ( Hardjanto 1953 : 19 ). Struktur Pura Sahasra Adhi Pura menggunakan dasar astronomi ( Jyotisa ),geodectic, dengan meletakkan replica bangunan suci menggunakan system ketentuan Weda, system tata surya, system galaksi bima, system cakra, system vastupurusamandala. Fungsi replika bangunan suci dunia sebagai pratima sebagai wahana mencapai tujuan tersebut. Tattwa harus dimengerti untuk meningkatkan kecerdasan emosional, pemujaan yajna dan yoga Samadhi dilaksanakan untuk meningkatkan kecerdasan spiritual. Makna replica bangunan suci dunia tersebut perwujudan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Implikasi adanya replica bangunan suci belajar mewujudkan manusia berkarakter untuk menjadi manusia budaya, manusia yang merdeka, manusia sehat sejahtera dan bijaksana berdasar kebenaran. Belajar menerapkan konsep “ Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Mangrawa” secara insentif bersama – sama “ memayu hayuning bhawana, sepi ing pamrih rame ing gawe”
PESAN DHARMA MELALUI KISAH MANDAPALA PADA KITAB ADIPARWA Sujaelanto
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.178

Abstract

Adiparwa adalah susastra Hindu yang memiliki nilai yang luas dan dalam. Nilai yang terkadung dijelaskan melalui ceritera baik berupa penokohan seseorang, ataupun ceritera binatang. Kisah tersebut sarat dengan nilai ajaran Hindu. Kitab Adiparwa terdapat kisah keluarga Mandapala dengan seorang istri dan keempat anaknya yang diperankan untuk menjaga keharmonisan dunia. Bagaimana nilai dharma yang diperankan dalam kehidupan Mandapala? Dari hasil analisis ceritera kisah pesan Mandapala kepada anak-anaknya bahwa keempat anaknya diberikan tugas masing-masing untuk melakukan tugas dharma agar keharmonisan dunia terjaga. Keempat dharma tersebut di perankan oleh Jarikeya agar melakukan tapa brahmacari, si Sarisrkwa supaya menurunkan keturunan, si Stambamitra melaksanakan tapa dan menjalankan upacara kurban dan si Drona supaya membuat tenang dunia dengan mempelajari Weda. Dari dialog dan prolog yang terdapat dalam kisah Mandapala bahwa untuk menegakkan dunia ini perlu pilar-pilar dharma sebagai penyangga yakni upacara, tapa brahmacari, berketurunan, mempelajari Weda.
AKTUALISASI NILAI TAT TWAM ASI DALAM MODERASI BERAGAMA I Nyoman Warta
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.179

Abstract

Sehebat apapun suatu nilai, jika tidak diaktualisasikan dalam kehidupan nyata dan tidak dapat memberikan manfaat bagi khalayak sesungguhnya hanya merupakan fata morgana belaka. Apa lagi sebagai bangsa Indonesia sesungguhnya keanekaragaman kita menyadari, bahwa manusia tidak bisa hidup sendirian. Sejatinya memerlukan kehadiran orang lain, rasa aman, toleransi, hidup dalam perbedaan, gotong royong, paras-paros, sarpanaya. Kita semua wajib merawatnya kebhinnekaan ini sebagai anugrah dari Tuhan. Jika salah mengelola kebhinekaan ini, akan menimbulkan berbagai kehancuran dan penderiataan. Bangsa Indonesia ibaratnya seperti pohon kering dimusim kemarau ditengah hutan, sedikit gesekan akan menimbulkan kebakaran hutan yang sulit untuk diatasi. Supaya ini tidak terjadi maka seluruh eleman masyarakat dan bangsa Indonesia mempunyai tanggung jawab yang sama menjaga keharmonisan, keutahan bangsa ini demi anak cucu kita. Dalam moderasi beragama melihat kebhinekaan ini sesungguhnya tidak bisa kita pungkiri dalam kehidupan, karena keanekaragaman tersebut justru merupakan perekat keniscayaan anugrah Tuhan. Coba kita melihat filosofi sebuah taman, ditata sedemikian rupa dengan berbagai jenis, bereneka ragam bentuk dan warna yang memberikan nilai artistik dan estetika. Sehingga berbagai Kumbang, burung, kupu-kupu, lebah dan sebagainya datang mengisap sari dan menikmani keindahan , keasrian taman tersebut. Namun apa bila taman tersebut ditanami hanya dengan satu warna dan pohon yang sejenis saja, taman akan menjadi kurang menarik, membosenkan, berbagai kumbang, kupu-kupu dan dan lain sebagainya akan menjauh, maka lama kelamaan taman tersebut akan rusak. Ada segelintir dimasyarakat ingin memurnikan baik dari segi agama, seni budaya, adat -istiadat dan tradisi mau dimurnikan menurut sudut pandang sempit mereka. Jangan kita biarkan untuk mengusak asik jati diri kita. Maka kita lawan dengan berbagai perstuan dan kesatuan sebagaianak bangsa. kita sangat luas dan sangat beranekaragam dan harmoni. Jangan mudah disulut oleh berbagai isu yang tidak jelas, mudah dipropokasi oleh yang mempunyai berbagai kepentingan sesaat sampai mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dengan mempertaruhkan jati diri bangsa dan negara. Kita dituntut untuk sungguh-sungguh melaksanakan moderasi beragama yang dilandasi dengan ajaran agama pasti akan menjadi harmoni. Dapat kita simpulkan sebagai berikut: Nilai kebajikan mengutamakan orang banyak hendaknya selalu dikedepankan dalam mengatasi dan memimpin negara, yang semakin mengglobal. Keharmonisan sangat kita dambakan dalam berbagai aspek kehidupan. Hidup saling menghargai berbagai perbedaan adalah cermin orang bijaksana dan ciri orang beragama sikap dan prilku adil dalam berbagai aspek. Memaksakan kehendak kepada orang lain bertopeng keagamaan pada hakekatnya belum memahami Agama dengan sepenuhnya.
FILSAFAT ADVAITA VEDANTA DALAM PERSPEKTIF HINDUĪŚṀE Gatot Wibowo
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.180

Abstract

Deva Īśvara mengejawantah ke dunia mengambil perwujudan sebagai Mahāṛṣi Vyasa pada masa berakhirnya Zaman Treta Yoya, dimana realitas ajaran agama Hindu yang terdapat dalam kitab śuci veda mulai berkurang untuk diceritakan secara turun temurun melalui Itihasa dan Purana dan melihat realitas kegelapan yang akan terjadi di zaman Kaliyoga. Penciptaan Catur Veda Saṁhitā, diantaranya : Rgveda, Samaveda, Yajurveda dan Atharvaveda oleh Oleh Mahāṛṣi Parāśara bersama empat muridnya yang diasuh oleh Mahāṛṣi wyasa diciptakan kedunia bertujuan untuk melakukan pembaharuan di Zaman Veda guna sebagai tuntunan dan penciptaan tambak śuci bagi umat pengikutnya untuk menghadapi dinamika yang terjadi di Zaman Kali Yoga. Kitab Rgveda Saṁhitā oleh Sumantu, Kitab Samaveda oleh Mahāṛṣi Jaimini, Kitab Yajur Veda Saṁhitā oleh Mahāṛṣi Pulaha, dan kitab Atharvaveda oleh Mahāṛṣi Vaisampayana yang mengalami perkembangan baru menjadi Catur Veda Sirah ketika sampai di Indonesia dan merupakan pedoman otodidaktis Advaita Vedāṅta seorang Brāhmaṇa kepada sisyanya dalam memahami ajaran : Bṛāhman dan Ātman yang dijabarkan dalam kitab Brāhma Śūtra atau Vedāṅta Śūtra juga dikenal dengan nama Śarīraka Śūtra secara Tattva Upaniṣad.
FUNGSI DAN MAKNA AIR DALAM KEHIDUPAN ( Perspektif Agama Hindu ) Suranto
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.181

Abstract

Air adalah kebutuhan yang paling diperlukan oleh semua makhluk hidup. Mengingat air menjadikan segala jenis makhluk hidup menjadi tumbuh dan berkembang dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pemanfaatan dan makna air dalam Veda. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatis. Kita ketahui Bersama bahwa semua kehidupan ini berwal dari air. Air banyak dimanfaatkan oleh manusia dari untuk kebutuhan diri sendiri, pertanian, perkebunan, peternakan, perindustrian, energi dan kebutuhan lainnya. Air juga tidak hanya dimanfaatkan oleh manusia. Hewan membutuhkan air. Tumbuhan membutuhkan air untuk berfotosintesis dan bahkan makhluk kecil mikro organisme pun membutuhkan air sehingga tidak salah jika kita menyampaikan bahwa air itu adalah kehidupan. Berdasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa pemanfaatan air di masyarakat bersumber dari ajaran Weda yang memiliki makna di masing-masing pemanfaatan tersebut. Adapun pemanfaatan dan makna air dalam Weda sebagai berikut : cara mendapatkan tirtha, jenis-jenis dan fungsi tirtha dan makna tirtha dalam Agama Hindu.
IMPLEMENTASI TRI KERANGKA DASAR AGAMA HINDU GUNA MENINGKATKAN SRADDHA DAN BHAKTI PEMUDA HINDU DUSUN SILIRSARI, DESA KESILIR, KECAMATAN SILIRAGUNG, KABUPATEN BANYUWANGI Made Dwiana Mustawan
Widya Aksara Vol 27 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v27i1.182

Abstract

Tri Kerangka Dasar Agama Hindu merupakan tiga dasar atau tiga pedoman hidup umat Hindu yang terdiri dari tattwa susila dan upacara. Tri Kerangka Dasar Agama Hindu sangat penting bagi pemuda Hindu karena merupakan landasan hidup bagi pemuda dan generasi Hindu, antara lain Tattwa merupakan ajaran tuntunan pengetahuan hidup, Susila merupakan Etika dalam bersosial, dan upacara adalah ajaran yadna tentang korban suci. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) Bagaimana kondisi pemuda Hindu Dusun Silirsari Desa Kesilir Kecamatan Siliragung (2) Bagaimana Fungsi Tri Kerangka Dasar Agama Hindu bagi pemuda Dusun Silirsari, Desa Kesilir, Kecamatan Siliragung dalam membentuk sradda dan bhakti pemuda Hindu Dusun Silirsari. (3) Bagaimana pemuda Hindu Dusun Silirsari Desa Kesilir Kecamatan Siliragung mengimplementasikan Tri Kerangka Dasar Agama Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk mengetahui kondisi Sradha dan Bhakti pemuda Hindu Desa Kesilir, Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi. (2) Untuk mengetahui fungsi Tri Kerangka Dasar Agama Hindu bagi Pemuda Hindu di Desa Kesilir Kecamatan Siliragung Kabupaten Banyuwangi. (3) Untuk mengetahui mengimplementasikan Tri Kerangka dasar Agama Hindu di Silirsari Desa Kesilir Kecamatan Siliragung Kabupaten Banyuwangi.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Adapun instrument dalam penelitian ini yang paling utama adalah peneliti sendiri, selain itu juga menggunakan wawancara, catatan lapangan, hanphone sebagai perekam dan kamera. Hasil penelitian menunjukan kegiatan pemuda Hindu yang mengimplementasikan Tri Kerangka Dasar agama Hindu dimulai dari perkumpulan rutin yang dilaksankan di pura dengan mengulas ajaran-ajaran kebenaran merupakan implementasi dari Tattwa. kemudian mereka mempunyai suatu organisari pemuda dengan kegiatan membentuk kemandirian pemuda dengan melaksanakan pembukaan stand expo, ikut bergabung dengan pemuda Islam Hindu dan Kristen dalam bakti sosial pembagian Takjil saat bulan suci romadon itu merupakan implementasi dari Susila. Kemudian mereka membuat sarana upacara seperti Canang, Daksina, Kwangen, aktif melaksanakan persembahyangan Purnama dan Tilem dipura dan ikut andil dalam pelalsaan Hari Raya Tahun Baru saka mulai awal sampai akhir itu merupakan implementasi dari upacara yang dilakukan pemuda Hindu Dusun Silirsari, Desa Kesilir, Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi.

Page 1 of 2 | Total Record : 12