cover
Contact Name
Adhitya Yudha Pradhana
Contact Email
buletinpalma@gmail.com
Phone
+62431-812430
Journal Mail Official
buletinpalma@gmail.com
Editorial Address
Jalan Raya Mapanget, Manado 95001
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Buletin Palma
ISSN : 1979679X     EISSN : 25287141     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Buletin Palma memuat artikel hasil-hasil penelitian kelapa dan palma lainnya. GENERAL REQUIREMENTS Bulletin of Palma is a peer-reviewed and open access journal that publishes significant and important research finding on coconut and other palm research results. SCOPE Scope of Bulletin of Palma are: 1. Scope of science: Agricultural Microbiology, Agricultural Socio-Economics, Agronomy, Bioetechnology, Plant Breeding, Plant pathology, Plant Protection, Plant Physiology, Soil Science, Seed Technology, Primary Post Harvest, Climate science, Genetic resources, Entomology,Farming system, Environment, Agricultural extension 2. Scope of commodities : spice, medicinal, aromatic and industrial crops The journal publishes Indonesian or English articles.
Articles 220 Documents
Ledakan Populasi Hama Kelapa Thosea monoloncha Meyrick (Lepidoptera: Limacodidae) di Pulau Tolonuo, Maluku Utara [Outbreaks of Coconut Pest Thosea monoloncha Meyrick (Lepidoptera : Limacodidae) at Tolonu Island, North Maluku] W. J. Sambiran; Fredy Lala; Andriko N. Susanto; Deciiyanto Soetopo; Meldy L.A. Hosang
Buletin Palma Vol 17, No 2 (2016): Desember, 2016
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v17n2.2016.127-137

Abstract

Nettle caterpillars pest Thosea monoloncha Meyrick (Lepidoptera: Limacodidae) attacking coconut palms in several regions in Indonesia such as Sulawesi, Maluku (North Halmahera, South Hamahera and Kei Islands) and New Guinea. The objectives of the research were to determine the condition of the pests population, natural enemies and palm damage due to attack T. monoloncha. The research was conducted in October to December 2014 at Tolonuo island, North Maluku Province, and Laboratory Indonesia Palm Crop Research Institute.  Samples plants are taken inside and outside the sites of the attack of T. monoloncha. At each location have been selected randomly, 10 sample plants each from immature coconut trees and mature coconut trees. The results showed that outbreaks of Coconut pest, Thosea monoloncha Meyrick have been occured in 2014 at Tolonuo Island, North Maluku Province. The level of damage caused by the pests consists of 32 ha high damage, 20 ha medium damage, and 35 ha low damage. At the location of heavy attacks from T. monoloncha, of 1056 healthy larvae, most have entered the mature larval stage (instar 4-5) with an average of 26.4 larvae/frond. Potential natural enemies that can infect the larvae of T. monoloncha is Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV). These pathogens can suppress pest populations up to 96 % in high damage locations or average 41.21% of infected larvae for the entire area is infested with the pest. ABSTRAKHama ulat api Thosea monoloncha Meyrick (Lepidoptera: Limacodidae) menyerang tanaman kelapa dan menyebar di beberapa wilayah di Indonesia antara lain Sulawesi, Maluku (Halmahera Utara, Halmahera Selatan dan Pulau Kei) dan New Guinea. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi hama, musuh alami dan kerusakan tanaman akibat serangan T. monoloncha. Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Tolonuo, Provinsi Maluku Utara  dan Laboratorium Balai Penelitian tanaman Palma. Pengambilan tanaman contoh dilakukan di dalam dan di luar lokasi serangan T. monoloncha. Pada setiap lokasi dipilih secara acak masing-masing 10 tanaman contoh dari tanaman kelapa yang belum menghasilkan dan tanaman kelapa menghasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangan hama ulat api T. monoloncha Meyrick telah terjadi pada bulan November 2014 di Pulau Tolonuo. Tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh hama ini terdiri dari 32 ha serangan berat, 20 ha serangan sedang dan 35 ha serangan ringan.  Pada lokasi serangan berat ternyata dari 1056 larva sehat, sebagian besar sudah memasuki stadia larva dewasa (instar 4-5) dengan rata-rata 26,4 larva/pelepah. Musuh alami potensial yang ditemukan menginfeksi larva T. monoloncha adalah Nuclear Polyhidrosis Virus (NPV). Patogen ini dapat menekan populasi hama sampai 96% pada lokasi serangan berat atau rata-rata 41,21% larva terinfeksi untuk seluruh areal yang terserang hama ini.
Keragaman Genetik Populasi Tetua Saudara Kandung (Sibs) Kelapa Sawit Dura Deli Berdasarkan Penanda DNA Mikrosatelit NIDA W.N.M. SOLIN; nFn SOBIR; NURITA TOURAN MATHIUS
Buletin Palma Vol 14, No 2 (2013): Vol. 14 No. 2, Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v14n2.2013.100-108

Abstract

Mikrosatelit merupakan penanda yang sangat efisien untuk mengevaluasi struktur keragaman genetik pada genus Elaeis. Dura Deli merupakan materi genetik yang digunakan sebagai tetua dalam program pemuliaan kelapa sawit yang perlu diketahui potensi genetiknya sebelum digunakan dalam perakitan varietas baru maupun produksi benih. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi keragaman genetik tetua saudara kandung (sibs) Dura Deli kelapa sawit berdasarkan penanda DNA mikrosatelit. Dua populasi Dura Deli hasil selfing dengan 30 sampel per populasi digunakan untuk dianalisis dengan 27 primer mikrosatelit. Pola pita DNA menunjukkan bahwa terdapat 20 primer yang polimorfik dan 7 primer yang monomorfik pada sampel yang diuji, dengan jumlah alel 2 sampai 5. Persentase lokus polimorfik yang diperoleh sebesar 96,30% dengan rata-rata nilai PIC 0,50. Analisis keragaman genetik menggunakan analisis PCoA, struktur, maupun NTSys, memisahkan populasi tetua Dura Deli menjadi dua kelompok besar sesuai asal usul tetuanya. Hasil klaster analisis menunjukkan formasi kedua grup berdasarkan keragaman genetiknya. Grup A, dengan keragaman genetik ~20%, merupakan hasil selfing Dura Deli 1. Sedangkan Grup B, dengan keragaman genetik ~ 28% merupakan hasil selfing Dura Deli 2. Kedua bahan genetik ini memiliki keragaman genetik yang rendah di dalam kelompok, namun keragaman genetik cukup tinggi antar kelompok (~32%), sebagaimana dikonfirmasi dengan menggunakan PCoA dan Struktur. Keragaman genetik yang rendah intra populasi tetua tersebut memungkinkan untuk digunakannya sebagai materi persilangan, dalam perakitan varietas baru maupun produksi benih sawit. Kata kunci: Kelapa Sawit, Dura Deli, lokus polimorfik, analisis kluster, keragaman genetik.ABSTRACTGenetic Diversity of Deli Dura Oil Palm’s Elder Siblings Population based on Microsatellite MarkersMicrosatellite is a marker that highly efficient to evaluate the genetic diversity structure of Elaeis genus. Dura Deliis the genetic material that is used as a parent in breeding programs palm, before is used as the crosses material for new varieties’s assembly or oil production’s seed production. This study is aimed to elucidate genetic diversity information. Two populations of Dura Deli selfing with 30 samples per population used to be analyzed with 27 microsatellites. Deoxyribose Nucleic Acid banding pattern indicates that there are 20 polymorphic and 7 monomorphic markers on samples tested, with the number of alleles from 2 to 5. The percentage of polymorphic loci obtained at 96.30 % with an average PIC value of 0.48. Analysis of genetic diversity using PCoA, structure or NTSys separating the Dura Deli parental populations into two major groups corresponding to the origin. The results of cluster analysis showed the formation into two groups based on their genetic diversity. Group A, with ~ 20% genetic diversity, is the result of Dura Deli 1 selfing. While Group B, with ~28% genetic diversity is the result of Dura Deli 2 selfing. The genetic material has a low genetic diversity within the group but higher genetic diversity between group (~32 %), as well as confirmed by PCoA and Structure. Those less genetic diversity intra population allows to be used as the crosses material for new varieties’s assembly or oil production’s seed production.
Identifikasi Sistem Penyerbukan Pinang Molinow-1 dan Mongkonai WEDA MAKARTI MAHAYU; nFn MIFTAHORRACHMAN
Buletin Palma Vol 13, No 1 (2012): Juni, 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v13n1.2012.22-26

Abstract

Sistem penyerbukan pada tanaman pinang belum diketahui secara pasti terutama pada tipe genjah sehingga untuk program pemuliaan pinang perlu diteliti sistem penyerbukannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sistem penyerbukan pada tanaman pinang Mongkonai (Genjah) dan Molinow-1 (Dalam) agar dapat ditentukan sistem persilangan yang tepat. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Kayuwatu, Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado, Sulawesi Utara pada Juni 2011 sampai Maret 2012 dalam bentuk percobaan faktorial 2 x 4 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dua faktor dan tiga ulangan, masing-masing ulangan terdiri atas 3 pohon. Faktor pertama adalah aksesi pinang (A), terdiri atas: (A1) pinang Molinow-1 dan (A2) pinang Mongkonai ; faktor kedua adalah sistem persilangan (B) yang terdiri atas: (B1) emaskulasi + kerodong, (B2) emaskulasi tanpa kerodong, (B3) tanpa emaskulasi + kerodong dan (B4) tanpa emaskulasi tanpa kerodong. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan adanya interaksi antar perlakuan. Sementara hasil uji BNT memperlihatkan bahwa, pinang Molinow memiliki sistem penyerbukan silang yang lebih besar dari sistem penyerbukan sendiri, sebaliknya pinang Mongkonai memiliki sistem penyerbukan silang dan sendiri yang hampir sama persentasenya. Dengan diketahuinya sistem persilangan kedua aksesi pinang tersebut maka dapat ditentukan sistem persilangan yang tepat dalam perbaikan sifat genetis maupun perakitan varietas baru. Kata kunci: Sistem penyerbukan, buah jadi, Molinow-1, Mongkonai.ABSTRACTIdentification of Pollination System of Molinow-1 and Mongkonai ArecanutThere is still lack of information about pollination system on Areca nut especially on dwarf type. The research was conducted to find out pollination system of areca nut that could be applied on breeding program. Three treatments had tested on nine years-old Molinow-1 and Mongkonai population at Kayuwatu Experimental Garden, Indonesian Palmae Research Institute, Manado, North Sulawesi at June 2011 – March 2012. The study was conducted in a factorial experiment of 2 x 4 with Randomized Block Design. Using two factors with three replications and each replication consisted of three trees. The first factor is the accession of areca nut (A), consists of: (A1) Molinow-1 and (A2) Mongkonai, whereas the second factor is the system crosses (B) consists of: (B1) emasculation with bagging, (B2) emasculation without bagging, (B3) without emasculation with bagging and (B4) without emasculation and no bagging. The differences of the treatments were analyzed by ANOVA and Least Significant Difference test (LSD). The result showed that there is different pollination system between accession of Molinow-1 and Mongkonai on one month fruit set, while pollination system using bag significantly different with pollination system without bagging. Molinow-1 has cross pollination greater than Mongkonai, where as Mongkonai has two pollination system with a similar percentage.
Kemampuan Makan Sexava nubila Stal (Orthoptera: Tettigoniidae) pada Daun Kelapa / Feeding Consumption of Sexava nubila Stal (Orthoptera: Tettigoniidae) on Coconut Leaf Slamet Sabbatoellah; Meldy L.A Hosang
Buletin Palma No 31 (2006): Desember, 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v1n31.2006.79-90

Abstract

The objective of the research was to study the feeding consumption of nymph and adult of Sexava under laboratory condition.  The research was done using randomized complete design with 6 treatments and 4 replications.  The treatment consist of developmental stages of the pest namely 1st instar nymph, 2nd instar nymph, 3rd instar nymph, 4th instar nymph, male and female adults.  The results showed that the leaf area consumed by 1st instar nymph same as by 2nd instar larvae but lessthan consumed by older nymph and adults. Leaf area consumed by 3rd instar nymph and female adult was not significantly different as shown by  4th instar nymph and male adult.   RINGKASAN Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemampuan makan nimfa dan imago Sexava nubila di laboratorium. Penelitian dirancang dalam rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari tahap perkembangan hama S. nubila yaitu nimfa instar 1 (N1), nimfa instar 2 (N2), nimfa instar 3 (N3) , nimfa instar 4 (N4) , imago jantan dan imago betina . Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas daun yang dikonsumsi nimfa instar 1 sama dengan nimfa instar 2 tetapi lebih sedikit dari nimfa lebih tua dan imago. Luas daun yang dikonsumsi nimfa instar 3 sama banyaknya dengan yang dikonsumsi imago betina, demikian halnya dengan jumlah daun yang dikonsumsi nimfa instar 4 sama banyaknya dengan imago jantan.
Serangan Hama Bunga Kelapa Tirathaba rufivena Walker (Lepidoptera : Pyralidae) pada Tanaman Kelapa Genjah Salak di Kebun Percobaan Kima Atas MELDY L.A. HOSANG
Buletin Palma No 39 (2010): Desember, 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n39.2010.172-180

Abstract

Incidence of the greater coconut spike moth Tirathaba rufivena Walker (Lepidoptera, Pyralidae) on Salak Dwarf Coconut at Kima Atas Experimental GardenThe objectives of this research is to study the incidence of  (Walker) pest inSalak Dwarf coconut (GSK) at experimental garden Kima Atas, North Sulawesi. The study was conducted from January to February 2007 by survey on Salak Dwarf plantation. Observation was done by counting the number of healthy and infected female flowers, larval population, symptoms of attacks, and the natural enemies. The results showed that of 647 palms observed, 118 palms (18.27%) are already flowering, and 529 (81.73%) palms have not yet bearing fruits. Of the total palms that are flowering or fruiting, 34.75% palms are not attacked and 65.25% palms were attacked by, which consisted of a light attack 20.34%, medium attack 22.88%, and heavy attack 22.03%.
Penyebaran Polen Berdasarkan Analisis SSR Membuktikan Penyerbukan SITI HALIMAH LAREKENG; ISMAIL MASKROMO; AGUS PURWITO; NURHAYATI ANSHORI MATTJIK; SUDARSONO SUDARSONO
Buletin Palma Vol 16, No 1 (2015): Juni, 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v16n1.2015.77-92

Abstract

ABSTRAK Analisis paternitas digunakan untuk mengetahui pola penyebaran serbuk sari pada kelapa (Cocos nucifera L.) tipe Dalam Kalianda. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengevaluasi pola penyebaran serbuk sari dan menentukan kisaran  jarak penyebaran serbuk sari pada kelapa tipe Dalam Kalianda, (2) menentukan persentase penyerbukan silang  (outcrossing) dan penyerbukan sendiri (selfing) yang terjadi pada kelapa tipe Dalam Kalianda, dan (3) menentukan  frekuensi pola penyerbukan silang antara kelapa tipe Dalam normal (N) dengan kelapa Dalam Kopyor (K), KxN dan KxK yang terjadi pada populasi campuran antara kelapa tipe Dalam Kopyor dan kelapa Dalam normal Kalianda.  Populasi yang digunakan terdiri atas 60 pohon kelapa tipe Dalam dewasa, 21 pohon merupakan kelapa tipe Dalam berbuah normal (homozigot KK) dan 39 merupakan pohon kelapa tipe Dalam Kopyor (heterosigot Kk). Empat belas  pohon (5 pohon KK dan 9 pohon Kk) digunakan sebagai tetua betina. Sebanyak 49 progeni dipanen dari 15 induk  terpilih dan dikecambahkan untuk sumber DNA dalam analisis paternitas. Enam lokus marka SSR polimorfik, yaitu  CnCir_B12,  CnCir_86,  CnCir_87,  CnCir_56,  CnZ_51,  CnZ_18  dan  empat  lokus  marka  SNAP  polimorfik,  yaitu  CnSUS1#14,CnSUS1#3, CnWRKY6#3 dan CnWRKY19#1 digunakan untuk menentukan genotipe seluruh progeni, seluruh kandidat tetua jantan, dan semua tetua betina yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  serbuk sari kelapa tipe Dalam Kalianda menyebar dengan jarak terjauh 63 m. Jarak penyebaran serbuk sari terbanyak pada jarak 40-50 m, dengan frekuensi sebesar 13 kejadian polinasi (27%). Dari 47 progeni yang dievaluasi, hanya satu (2%) progeni yang berasal dari penyerbukan sendiri (self pollination) dan 48 (98%) berasal dari penyerbukan silang. Dari  progeni hasil penyerbukan silang, 24 (49,0%) progeni teridentifikasi sebagai hasil persilangan antara induk dan tetua  jantan kelapa tipe Dalam kopyor heterosigot Kk, 11 (22,4%) sebagai hasil persilangan antara induk kelapa tipe Dalam  Kopyor heterosigot Kk dan normal homosigot KK, 10 (20,5%) sebagai hasil persilangan antara induk kelapa tipe Dalam normal homosigot KK dan Kopyor heterosigot Kk, serta 3 (6,1%) sebagai hasil persilangan antara induk dan tetua jantan tipe Dalam normal homosigot KK.Kata kunci : Kelapa Dalam Kopyor, kelapa Kopyor Kalianda, tingkat penyerbukan sendiri, tingkat penyerbukan silang. Pollen Dispersal Based on SSR Analysis Proves Kalianda to Kopyor Coconut PollinationsABSTRACT Paternity analysis was applied to determine the pattern of pollen spread among Kalianda Tall coconut (Cocos nucifera L.) in Kalianda, Lampung. The objectives of this research are to (1) evaluate patterns of pollen dispersal and ranges of pollen  spread, (2) determine percentage of outcrossing or selfing rates, and (3) determine the frequency of cross pollination  among normal (N) to kopyor (K), KxN and KxK in the mix population of Kalianda Tall coconut at Kalianda, Lampung. The population used in this study was 60 palms, consisted of 21 Kalianda Tall Normal coconuts (homozygous KK) and 39 Kalianda Tall Kopyor coconuts (Heterozygous Kk). Fourteen palms out of those were selected as female parents. Progeny arrays (49 nuts) were harvested from 15 female parents and they were germinated. The DNA was isolated from  young leaf of all adult palms and germinated coconut seedlings and they were used in paternity analysis. Six  polymorphic SSR marker loci used were CnCir_B12, CnCir_86, CnCir_87, CnCir_56, CnZ_51, CnZ_18 and the four  polymorphic SNAP markers used were CnSUS1#14, CnSUS1#3, CnWRKY6#1 and CnWRKY19#3. The markers were used to genotype all the progenies, the potential male and the female parents. Results of the experiment indicated pollen of Kalianda Tall Kopyor coconut farthest disperse was 63 m. Distance of the mostpollen dispersal was between 40-50  m,with the frequency of 13 pollination events (27%). Among the evaluated progenies, only one (2%) comes from self  pollination event and 48 (98%) comes from cross pollination. Results of the progeny evaluation also indicated 24  progenies (49.0%) are results of outcrossing among Kalianda Tall kopyor heterozygous Kk parents, 11 progenies (22.4%)  are outcrossing among kopyor heterozygous Kk female and normal homozygous KK male parents, 10 progenies (20.5%) are outcrossing among normal homozygous KK female and kopyor heterozygous Kk male parents, and 3 progenies (6.1%) are outcrossing among normal homozygous KK female and male parents.Keywords : Tall kopyor coconut, Kalianda Kopyor coconut, self polination, cross pollination rate.
Faktor Sosial Ekonomi dan Budaya yang Mempengaruhi Usahatani Kelapa di Kabupaten Kepulauan Talaud DANIEL J. TORAR
Buletin Palma No 36 (2009): Juni, 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n36.2009.48-61

Abstract

Social Economic and Culture Factors that Influence Coconut Farm in Talaud Island RegencyThis research was done in order to study social economic and culture factors that influence farmer income at coconut farm in Talaud Island Regency. This research was conducted by survey method with descriptif analytis approach in Kabaruan and Beo Sub District, Talaud Island from August to October 2005. A total of four villages were chosen randomly, two villages in each Sub District. In each village, 30 farmers were chosen randomly as respondents, maturing total 120 farmers. The result of multiple regression analysis showed that factors influenced at the coconut farm in Talaud Island Regency were culture value variable, extension approach variable, distance of farmer house to coconut farm variable, characteristic of technologi variable, and farmer motivation variable. Dominant factor which determines coconut farmer’s rate of return is the farmer motivation.
Pemanfaatan Lahan Bekas Tambang Batu Bara untuk Pengembangan Sagu NURHAINI MASHUD; ENGELBERT MANAROINSONG
Buletin Palma Vol 15, No 1 (2014): Juni, 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v15n1.2014.56-63

Abstract

Program Pemerintah Daerah Kutai Timur yang dikenal dengan Gerakan Daerah Pembangunan Agribisnis (GERDABANGAGI) ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat dan mewajibkan perusahaan pertambangan untuk mereklamasi lahan bekas tambang untuk peningkatan produksi pertanian. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi kesesuaian lahan bekas tambang batubara untuk pengembangan sagu. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif. Penelitian dilakukan tahun 2011 hingga 2013 di lahan bekas tambang batubara PT. Kaltim Prima Coal (KPC) Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Pengambilan contoh tanah untuk analisis sifat-sifat kimia dan sifat fisik dilakukan di lima lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemasaman (pH) tanah di lima lokasi bekas tambang batubara tergolong sangat masam hingga agak masam (4,10-6,46), C-organik rendah-tinggi (0,48-4,82%), kandungan bahan organik rendah-tinggi (1,85-8,30%), ratio C/N rendah-sedang (12,47-22,9), N total sangat rendah-sedang (0,08-0,21%), P tersedia rendah (3,52-7,72 ppm), K tersedia tinggi (11,47-92,80 ppm dan kandungan logam berat Pb rendah (4,87-11,40 ppm). Lahan bekas tambang batubara dapat dikem-bangkan sebagai lahan pertanian menggunakan tanaman sagu dengan pemupukan seimbang. Kata kunci : Kesesuaian, lahan, tambang batubara, pengembangan, sagu.ABSTRACTUtilization of Coal Mined Land for the Development of Sago PalmLocal Government of East Kutai program known as the Regional Movement Agribusiness Development (GERDABANGAGI) aimed for empowering the community and require mining companies to reclaim mined lands to increase agricultural production. The research aims to identify the suitability of the coal mined land for development of sago palm. The study was conducted by using descriptive method. The study was conducted in 2011 to 2013 in coal mining area of PT. Kaltim Prima Coal (KPC), Sangatta, East Kutai, East Kalimantan. Soil sampling for analysis of chemical properties and physical properties carried out in five locations. The results showed that the level of acidity (pH) of the soil at the five sites of a former coal mine very sour to slightly acid (4.10 to 6.46), C-organic low to high (0.48 to 4.82%), the content organic matter low to high (1.85 to 8.30%), the ratio of C/N low to moderate (12.47 to 22.9), total N was very low to moderate (0.08 to 0.21%), available P is very low (3.52 to 7.72 ppm), available K is very low (11.47 to 92.80 ppm) and a low content of heavy metals Pb (4.87 to 11.40 ppm). The cultivated of coal mined land that should be done if it will be used for the development of sago palm is organic fertilizer at five sites, liming and N fertilization at Panle 7 Surya, Dirty Coal, and Sepaso Selatan, P and K fertilization at five study sites. Mined land can be developed as agricultural land use sago plants with a balance fertilizer. Keywords: Suitability;land;coal mining;development, sago.
Efektivitas Limbah Sagu dalam Menekan Pertumbuhan Gulma Berdaun Lebar (Borreria alata (Aubl) DC dan Mikania micrantha HBK) M Syakir; M H Bintoro; H Agusta; Muh Thamrin; D Hernita
Buletin Palma No 34 (2008): Juni, 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v0n34.2008.%p

Abstract

Limbah sagu mengandung bahan aktif berupa senyawa fenolat yang mempunyai sifat beracun untuk tanaman terutama gulma berdaun lebar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas limbah sagu dalam menekan pertumbuhan gulma terutama gulma berdaun lebar. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Institut Pertanian Bogor,  Cikabayan, Darmaga, Bogor dan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik dari bulan September 2003 sampai April 2004. Penelitian menggunakan rancangan acak Kelompok dengan satu faktor, terdiri dari 14 perlakuan limbah sagu dan diulang tiga kali. Tipe gulma berdaun lebar yang dominan pada penelitian adalah Borreria alata (Aubl) DC dan Mikania micrantha HBK. Setiap perlakuan dari tiap jenis gulma terdiri dari empat polibag dan masing-masing polibag terdiri dari 6 gulma individu. Parameter pengembangan perlakuan diolah dengan menggunakan analisis statistik uji F dan jika ada perbedaan, ujinya akan dilanjutkan dengan analisa Duncan pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan limbah sagu segar 100% sebagai mulsa mampu mengurangi pertumbuhan dan dapat menyebabkan kematian B alata (Aubl) DC dan M. micrantha HBK masing-masing 23,10% dan 18,89%. Penggunaan limbah sagu sebagai herbisida organik adalah efektif dalam menekan pertumbuhan dan perkembangan gulma berdaun lebar. Limbah sagu sebagai herbisida organik mempunyai karakter yang lebih sebagai racun kontak dalam menekan pertumbuhan gulma
Analisis Kelayakan Finansial Pengolahan Tepung Sagu Menjadi Produk Kue Bagea (Studi Kasus pada Industri Rumah Tangga di Minahasa Selatan) nFn ASTHUTIIRUNDU; A. LAY
Buletin Palma Vol 14, No 1 (2013): Vol. 14 No. 1, Juni 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bp.v14n1.2013.61-68

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha pengolahan tepung sagu menjadi produk kue bagea pada industri rumah tangga dengan melakukan analisis kelayakan finansial dan analisis sensitifitas. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juni tahun 2012 pada industri rumah tangga kue bagea di Desa Buyungon, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara. Analisis finansial yang didasarkan pada harga yang berlaku untuk waktu 10 tahun menunjukkan bahwa usaha pengolahan kue bagea adalah layak dan menguntungkan ditandai BCR 1,12, NPV sebesar Rp157.195.610, PBP 5 tahun 1 bulan dan IRR 29,27%. Kelayakan industri rumah tangga ditandai dapat bertahan dan aktif sampai sekarang. Analisis sensitifitas dengan penurunan harga produksi dan kenaikan biaya produksi sebesar 10% memperlihatkan pengaruh yang cukup sensitif terhadap perubahan yang terjadi ditandai dengan menurunnya nilai NPV, BCR dan IRR disertai dengan lamanya pengembalian modal usaha. Model industri rumah tangga kue Bagea di Minahasa Selatan dapat digunakan sebagai salah satu model pengembangan industri kue bagea pada berbagai daerah yang berpotensi sagu. Kata kunci: Tepung sagu, pengolahan, kue bagea, analisis financial, analisis sensitivitas. ABSTRACT Financial Feasibility of Sago Flour for Producing Bagea Cake (A Case Study of Home Industry in South Minahasa) The objective of this research was to analyse the feasibility of processing sago starch into cake product of home industry by conducted financial analysis and sensitivity analysis. The research was conducted in April-June of 2012 on home industry of bagea cakes in the Village Buyungon, District East Amurang, South Minahasa regency, North Sulawesi province. Financial analysis was based on the prevailing price in ten years showed that the processing bagea’s cake is viable and profitable as shown by BCR 1,12 , NPV of Rp 157.195.610, PBP 5 years 1 months and IRR of 29,27 %. Sensitivity analysis with a 10 % decreased the production price and an increased the production cost showed that influence sensitivity for the changes of project. The bagea home industry in South Minahasa can be used as a model of industrial development in sago production regions.