cover
Contact Name
Alkausar Saragih
Contact Email
jp2sh@umnaw.ac.id
Phone
+6281362192627
Journal Mail Official
jp2sh@umnaw.ac.id
Editorial Address
Editor's Address: Abdul Rahman Syihab Campus First Floor Jl. Garu II No. 52 LP2M Secretariat UMN Al Washliyah
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA
ISSN : 25029622     EISSN : 25029630     DOI : 10.32696/kjhsd
urnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora (JP2SH) adalah jurnal yang menggunakan model blind review yang dapat diakses online. Tujuan dari JP2SH adalah untuk menerbitkan jurnal yang berisi artikel berkualitas yang akan dapat menyumbangkan pemikiran dari perspektif teoritis dan empiris untuk kemajuan teknologi dan pendidikan. Tulisan-tulisan di JP2SH akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pemikiran kritis dalam bidang ilmiah secara umum, khususnya di bidang Ilmu Pendidikan, Sosial dan Humaniora. Lingkup bidang yang terkandung dalam JP2SH mencakup bidang-bidang berikut: Pendidikanilmu Sosial; pendidikan sosial; sosiologi; kewarganegaraan; politik; ekonomi; sejarah; hukum; budaya dan masyarakat; multikulturalisme; dan bidang terkait lainnya. Artikel yang diterbitkan tentang hasil penelitian dan tinjauan pustaka dengan metodologi penelitian yang dapat diterima, studi kualitatif, studi kuantitatif, atau kombinasi keduanya, analisis statistik, studi kasus, penelitian lapangan, dan studi sejarah. JISH menerima manuskrip dari berbagai kalangan terkait, seperti peneliti yang relevan, dosen, profesor, mahasiswa, guru, Praktisi, ilmuwan, dan lainnya.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH" : 11 Documents clear
TANTANGAN DALAM PENGIMPLEMENTASIAN KURIKULUM MERDEKA DI JENJANG SEKOLAH MENENGAH ATAS Damaris Sinaga
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v10i2.4239

Abstract

The implementation of the Merdeka Curriculum in Senior High Schools aims to provide flexibility to schools and teachers in developing more contextual, project-based learning and strengthening student character and competence. This research aims to identify the main challenges in implementing the Independent Curriculum, especially in the aspects of teacher readiness, availability of facilities and infrastructure, and policy support. This research uses a qualitative approach with a case study method. Data was collected through in-depth interviews with teachers, school principals, and education staff, observation of the learning process, and analysis of related documents. Thematic analysis was used to identify patterns in the informants' experiences regarding curriculum implementation. The research results show that the main obstacles in implementing the Independent Curriculum include a lack of adequate training for teachers, limited supporting infrastructure, and high administrative burdens. In addition, the gap in readiness between schools with adequate and limited resources further widens disparities in the implementation of this curriculum. Even though the government has provided supporting platforms such as Merdeka Mengajar, their use is still limited due to lack of access and ongoing training. In conclusion, the implementation of the Independent Curriculum still faces various challenges that need to be overcome through improving the quality of training, providing supporting facilities, and simplifying administrative burdens. Synergy is needed between the government, schools and teaching staff so that the Independent Curriculum can be implemented effectively and evenly in all high schools in Indonesia.
PERSPEKTIF JANDA KRISTEN BATAK TOBA TERHADAP PERKAWINAN DALAM KONTEKS BUDAYA DAN AGAMA Anastecia Siagian
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v10i2.4372

Abstract

Marriage in Batak Toba culture is sacred, not only binding two individuals but also the extended family. This bond has social and cultural consequences, especially for women who become widows. The status of widows in Batak Toba society has its own dynamics, influenced by customs, religion, and social norms. The decision to remarry or remain single is complex because of cultural and religious factors that shape their perceptions of second marriages. This study analyzes the perspectives of Batak Toba Christian widows on marriage in the context of culture and religion. Using a qualitative approach and phenomenological method, this study explores the experiences of Christian widows in Urung Kompas Village, Rantauprapat City. Data were collected through interviews, observations, and literature studies. The results of the study show that the decision of widows to remarry or not is influenced by culture and religion. Although Christianity gives freedom to remarry, customs and social expectations often make it difficult. Many widows experience a dilemma between religious beliefs and cultural norms. This shows the relationship between culture and religion in shaping views on second marriages. It is hoped that society will appreciate their choices more and provide support for the decisions they make.
ANALISIS MARRIAGE IS SCARY: DALAM PERSPEKTIF TEORI PILIHAN RASIONAL JAMES S. COLEMAN Irvan, Mohammad; Mujayapura, Muhammad Retsa Rizaldi; Abdullah, Mirna Nur Alia
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v10i2.4420

Abstract

Penelitian ini menganalisis fenomena "Married is Scary" dalam perspektif Teori Pilihan Rasional yang dikembangkan oleh James Coleman. Fenomena ini mencerminkan ketakutan dan kekhawatiran individu terhadap institusi pernikahan, yang semakin meningkat di kalangan masyarakat modern. Dengan pendekatan kualitatif dan metode analisis deskriptif, penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi individu dalam mengambil keputusan untuk menikah atau menghindari pernikahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu cenderung melakukan kalkulasi untung-rugi sebelum membuat keputusan menikah, dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan emosional. Faktor-faktor seperti ketidakstabilan ekonomi, ekspektasi sosial, serta pengalaman pribadi atau lingkungan berkontribusi pada munculnya ketakutan terhadap pernikahan. Dalam kerangka Teori Pilihan Rasional, individu bertindak berdasarkan kepentingan sendiri dengan menilai manfaat dan risiko pernikahan sebelum mengambil keputusan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa "Married is Scary" merupakan fenomena sosial yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu tetapi juga oleh dinamika sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor ini dapat membantu dalam merancang kebijakan atau strategi untuk mengatasi ketakutan terhadap pernikahan di masyarakat modern.
FEAR OF MISSING OUT: TREND PERILAKU SELF-INJURY PADA MEDIA SOSIAL SEBAGAI PERILAKU BERISIKO DI KALANGAN REMAJA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Angelina, Tiara; Abdullah; Rizaldi, Muhammad Retsa Rizaldi
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v10i2.4422

Abstract

Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) di kalangan remaja telah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebiasaan atau imitasi dari aktivitas yang di anggap benar, terutama di kalangan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Fenomena ini sering kali berdampak negatif pada kesehatan mental, salah satunya dengan meningkatnya perilaku self-injury (melukai diri sendiri). Data diperoleh melalui pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dan diperkuat oleh metode studi literatur dengan membandingkan beberapa jurnal, skripsi, dan artikel yang berkaitan dengan fenomena yang dikaji, dengan kualifikasi remaja SMP berusia 12-15 tahun. Wawancara dilakukan secara online terhadap tiga remaja yang mengetahui perilaku self-injury dan memiliki riwayat self-injury dalam enam bulan terakhir guna memperkuat hasil studi literatur. Hasil menunjukan bahwa perilaku self-injury dipicu oleh pengaruh imitasi aktivitas teman sebaya, media sosial dan ketidakmampuan mengelola emosi negatif. Bentuk self-injury yang ditemukan oleh peneliti meliputi menyayat pergelangan tangan dengan cutter (barcode) atau jarum, memukul tembok dan lantai, dan mengelupas kulit bibir. Penelitian ini menekankan bahwa pentingnya intervensi yang fokus pada pengembangan keterampilan mengatur emosi, dukungan sosial yang positif, serta edukasi mengenai resiko dari aktivitas self-injury. Penelitian ini juga bertujuan untuk menyadarkan pihak-pihak terkait seperti orang tua, guru, dan masyarakat luas untuk berperan penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi remaja sehingga dapat memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental remaja dan memberikan dukungan agar remaja dapat lebih bijak untuk mengelola emosional ke arah yang lebih positif.
KONSEP DASAR DAN DINAMIKA PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK DALAM KONTEKS PENDIDIKAN ABAD 21 Sya'bani, Yahya Rafi; Indrayani , Melly; Putri, Galuh Meita; Faozan, Fadinda Syifa; Mustikaati, Wina
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v10i2.4509

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep dasar dan dinamika perkembangan peserta didik dalam konteks pendidikan abad 21. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif berbasis studi literatur terhadap sumber-sumber akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan peserta didik abad 21 tidak hanya meliputi aspek kognitif, sosial-emosional, dan moral, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, serta literasi digital. Teori perkembangan klasik seperti Piaget, Vygotsky, dan Erikson tetap menjadi fondasi, namun perlu diadaptasi dengan dinamika globalisasi dan kemajuan teknologi. Kurikulum harus dirancang berbasis pengalaman aktif, kolaboratif, dan berorientasi pada penguatan karakter. Simpulan penelitian ini menekankan pentingnya pembaruan kurikulum, peningkatan kompetensi pedagogis dan digital guru, serta integrasi teknologi dalam pembelajaran untuk membentuk peserta didik yang adaptif dan kompeten di era digital.
TRANSFORMASI PERAN PENDIDIKAN DALAM MOBILITAS DAN STRATIFIKASI SOSIAL Homang Ropu, Muh. Homsur; Kamaruddin, Syamsu A; Tenri Awaru, A. Octamaya
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v10i2.4526

Abstract

This type of research aims to determine the transformation of the role of education in shaping Social Mobility and Social Stratification This type of research is a qualitative approach with the Library Research method, data collected from several scientific articles published in databases such as Googke scholer, scopus, and springer. The results of this study show that; 1) Transformation of the role of education in the form of social mobility; Education is still relevant as a tool for social mobility, especially for those who have quality access. However, its success was influenced by economic, social, and cultural capital. Transformations such as digitalization and new curricula make the role of education now more complex and selective.; 2) whether social mobility is currently still effective as a means of social mobility or actually strengthens social stratification; Education is not always effective as a means of social mobility because there are still gaps in access, quality, and opportunities between groups, education systems tend to reproduce social stratification through symbolic selection, institutional quality inequality, and structural bias. Without equal distribution and alignment efforts, education can actually strengthen the existing social class structure. The results of this study can be a reflection for policymakers, educators, and the public to be more aware that improving education also means improving social inequality.
INTERVENSI SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN AGROWISATA MASYARAKAT KECAMATAN SIOMPU KABUPATEN BUTON SELATAN Jamaluddin Arifin, Ati Mustika, Kaharuddin,
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v10i2.4556

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis arah dan desain intervensi sosial serta kendala dalam mendorong pengembangan pariwisata di Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Data didapatkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi yang kemudian dianalisis menggunakan proses analisis data melalui tiga tahap analisis data Miles dan Huberman yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi sosial yang efektif melibatkan pemberdayaan masyarakat lokal, pelatihan sumber daya manusia, pelestarian budaya, dan kolaborasi antara pemerintah, swasta, serta komunitas lokal. Model pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (Community-Based Tourism) dipandang strategis dalam menciptakan keberlanjutan dan rasa memiliki terhadap destinasi wisata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan pengembangan pariwisata di Kecamatan Siompu sangat ditentukan oleh intervensi sosial yang inklusif, pendidikan dan pelatihan pariwisata, serta promosi yang terstruktur. Adapun kendala dalam pembangunan pariwisata seperti Keterbatasan Infrastruktur, kurangnya fasilitas umum, minimnya sarana transportasi dan akomodasi, terbatasnya sumber daya manusia (SDM )masyarakat lokal, serta kurangnya akses pemasaran berbasis digital. Rekomendasi diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat dan sinergi antar aktor dalam ekosistem pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan lokal dan daya saing daerah
PERAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MEMBENTUK SIKAP POSITIF DAN MORAL SISWA DI ERA DIGITAL Utami Dwika Sari, Haura Nabila, Wariyati, Manda Azzahra, Dinda Fania Ardhini, Fathun Najah SR
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v10i2.4676

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendidikan karakter dalam membentuk sikap positif dan moral siswa di era digital. Metode yang digunakan adalah meta-analisis dengan mengumpulkan dan menganalisis lima artikel jurnal yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter sangat penting dalam menghadapi tantangan digitalisasi yang memengaruhi perilaku dan moral siswa, terutama di tingkat sekolah dasar. Teknologi memberikan dampak positif seperti kemudahan akses informasi dan media pembelajaran, namun juga membawa dampak negatif seperti kecanduan, individualisme, dan penurunan nilai-nilai sosial. Oleh karena itu, kolaborasi antara sekolah, guru, dan orang tua sangat diperlukan dalam menanamkan dan memperkuat nilai-nilai karakter melalui strategi pembelajaran dan pengawasan yang tepat. Pendidikan karakter diharapkan mampu meminimalisir dampak negatif teknologi dan membentuk generasi yang cerdas secara intelektual serta kuat secara moral.
PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI STRATEGI PENCEGAHAN KRISIS MORAL DI ERA DIGITAL Sembiring, Laila Fidia Salam, Nur Hunava, Rutmay Prina
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v10i2.4785

Abstract

Etika dan moral merupakan aspek yang sangat penting dan harus mendapatkan perhatian serius, terutama di tengah menurunnya perilaku etis dan moral di kalangan generasi muda saat ini. Fenomena ini menjadi masalah yang mendesak untuk segera ditangani dan diperbaiki. Krisis etika dan moral ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti lingkungan keluarga, pendidikan di sekolah, kurangnya wawasan, keyakinan yang menyimpang, pengaruh budaya, serta penyalahgunaan teknologi. Kondisi ini sering kali menimbulkan dampak negatif, tidak hanya bagi pelaku tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan moral, khususnya pada anak, memang nyata dan memerlukan penanganan segera demi masa depan bangsa. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan mengembangkan pendidikan karakter.
PENDEKATAN DEEP LEARNING DALAM PENDIDIKAN: STRATEGI MEMPERKUAT IDENTITAS BUDAYA Prasetyo, Okhaifi; Rahman, Aulia; Supiyah
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v10i2.5958

Abstract

Cultural identity is the distinctive characteristics, values, and collective expressions that distinguish a group of people. However, globalization has not only facilitated the exchange of information but also eroded the boundaries of cultural identity. History lessons, which should be a bulwark of cultural identity, are instead considered boring by students. Therefore, this study aims to analyze the strategy of a deep learning approach in high school history teaching to strengthen cultural identity. This study employed library methods with a descriptive, qualitative approach, utilizing both primary and secondary data sources. The results show that the deep learning approach in history teaching emphasizes the principles of mindful, meaningful, and enjoyable learning experiences. By integrating the eight dimensions of the graduate profile, this approach yields a comprehensive learning framework that aligns with current demands. One of the primary strategies for implementing deep learning is through problem-based projects and the use of technology, which encourage students to engage in solving real-life problems. This approach not only encourages students to memorize historical facts but also to understand, apply, and reflect on historical knowledge in their daily lives. Overall, deep learning in history teaching at the high school level has great potential to strengthen cultural identity.

Page 1 of 2 | Total Record : 11