cover
Contact Name
Ngurah Indra Pradhana
Contact Email
indra_pradana@unud.ac.id
Phone
+6281933079954
Journal Mail Official
jurnalpustaka@unud.ac.id
Editorial Address
Kampus Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana Jalan Pulau Nias 13, Sanglah, Denpasar Bali Indonesia 80114
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Pustaka : Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25287508     EISSN : 25287516     DOI : https://doi.org/10.24843/PJIIB
Core Subject : Humanities,
Pustaka: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya, merupakan jurnal yang memuat artikel hasil penelitian serta kajian ilmiah di bidang sastra, Bahasa, dan Budaya. Terbit dua kali dalam setahun, pada bulan Februari dan Agustus. Jurnal ini bertujuan menjadi wadah bagi para peneliti, dosen, mahasiswa dan para praktisi di bidang Sastra, Bahasa, dan Budaya untuk mempublikasikan karya ilmiahnya secara luas
Articles 186 Documents
RADIKALISME DAN FUNDAMENTALISME AGAMA DI ERA REFORMASI I Gede wardana
Journal Social and Humaniora Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reform in Indonesia opened a space of freedom and openness. In an atmosphere of openness began to look advocates enforcement of Islamic law. The enforcement of Islamic law that, among other figures of Islamic movements such as DI / TII NII, which is a very radical return to Indonesia from exile. To enforce Islamic law, they began a radical movements and fundamentalism in the country, without any meaningful control of state institutions and laws. While on the other hand, emerging global developments in the situation which led religious groups do a movement supporting religious issues. This situation cause collisions culture in Indonesia. This paper will discuss radicalism and fundamentalism in Indonesia after the reform. Keywords: The issue of religious radicalism and fundamentalism
Nilai-Nilai Karakteristik dalam Teks Sastra The History of The Life of Ajamila Ni Ketut Dewi Yulianti
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.699 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p02

Abstract

Tulisan ini mengulas tentang teks sastra yang berjudul The History of The Life of Ajamiladengan fokus analisis pada nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya. Tulisan ini dapat menjadi referensi bagi anak didik dan tenaga pengajar baik di tingkat dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Selain nilai-nilai karakter yang terdapat dalam teks, dibahas pula hubungan nilai-nilai karakter tersebut dengan pendidikan nasional. Hal ini sangat signifikan dan perlu untuk diteliti, mengingat saat ini banyak terjadi kemerosotan karakter anak bangsa dan juga permasalahan kebangsaan, seperti bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sekalipun telah ditetapkan bahwa pendidikan karakter adalah bagian utama dari pendidikan nasional. Dengan analisis nilai-nilai karakter dalam teks tersebut serta hubungannya dengan pendidikan nasional, maka nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan dapat ditingkatkan, karena nilai-nilai karakter yang ada dalam teks tersebut dapat dengan mudah dijelaskan dan dipahami. Secara teoritis, tulisan ini dapat memberikan pemahaman tentang teks sastra yang bertema religi, terutama mengenai amanat yang terkandung di dalamnya. Secara praktis, tulisan ini dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan sehingga dapat membantu dalam meningkatkan keberhasilan pendidikan nasional, mengingat pendidikan karakter sudah menjadi bagian dari pendidikan nasional di Indonesia.
DUNIA DALAM DIRI: ASPEK LINGUISTIK SAJAK-SAJAK UMBU LANDU PARANGGI made sujaya
Journal Social and Humaniora Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/PJIIB.2017.v17.i01.p02

Abstract

The article reveals the linguistic aspects in Umbu Landu Paranggi’s rhymes. With structural approach and stylistic method, the analysis of linguistic aspects included phonology, morphology, syntax and semantics. The results of the analysis of Umbu’s rhymes showed the tendency of strong dynamics, in terms of form, phonology, morphology, syntax and semantics. Umbu truly utilized the wealth and possibilities the language has to build up poetic e?ects in his rhymes. Semantically, Umbu’s rhymes implied the messages about ‘the world within the self’. With the choices of themes, idioms and language styles that prioritized silence, love and longing, Umbu conveyed the message about the importance of holding dialog with the self in interpreting all life dynamics. Keywords: linguistic aspects, rhymes
Merajut Kebinekaan Melalui Program “Sadhar Nama” di Sekolah I Nyoman Tingkat
Journal Social and Humaniora Vol 20 No 1 (2020)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.973 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2020.v20.i01.p04

Abstract

There are a lot of negative issues in Indonesia these last few years which appear in printed media, electronic devices, or even in cyberspace. Issues related to intolerance, radicalism, and child abduction are always there. These issues become more widespeard in the lead up to the political year. Moreover, high school students took part in a demonstration without understanding what substance was being fought. Indonesia seems insecure and uncomfortable in the mass media. Schools should not be silent to face this condition. Schools should appear to educate (enlighten and educate) all educational society so as not to get caught up in issues that spread hatred to divide the unity and integrity of the nation. To respond this condition, SMA N 1 Kuta Selatan develops a program called “Sadhar Nama”. It is an acronym of Buka Puasa bersama (breaking the fast together), Dharma Shanti bersama (one of series to celebrate Nyepi hold in Hindu) , and Natal bersama (celebrating Christmas together). The reason to hold this program is simply to answer challenges over various ethnicity, religion, race, and inter-group relations-based primordial issues which are blown by people who are not responsible for dividing the Unitary Republic of Indonesia. In addition, the acronym “Sadhar Nama” refers to the meaning of identity (nation) as befits a human being and his name. As a representation of the macrocosm that transforms into a microcosm, diverse people in culture with local wisdom values need to be maintained to create a harmonious life within the trihita karana frame. The results obtained from this program are the strengthening of the five main values of the Nation's Character, namely: Religious, Mutual Cooperation, Nationalist, Integrity, and Independence. Strengthening the main value of the character has succeeded in increasing the achievement of SMA Negeri 1 Kuta Selatan. In 2016, SMA N 1 Kuta Selatan won 52 medals, in 2017 won 72 medals, and in 2018 it became 88 medals. In addition, the response to the implementation of the 'Sadhar Nama' Program at SMA Negeri 1 Kuta Selatan was very good with positive responses from 104 respondents (96.29%) out of 108 respondents.
Kesantunan Berbahasa yang Tercermin dalam Aimai Hy?gen Ni Made Andry Anita Dewi; Ni Putu Luhur Wedayanti
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 2 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.311 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i02.p05

Abstract

Kesantunan berbahasa merupakan salah satu topik kebahasaan yang cukup banyak dikaji dalam penelitian. Kesantunan berbahasa dalam beberapa tahun belakangan ini tidak hanya berfokus pada masalah linguistik, akan tetapi juga dapat dikaitkan dengan budaya masyarakat penutur bahasa yang melatarbelakanginya. Salah satunya adalah aimai hy?gen (ungkapan ambiguitas). Aimai hy?gen merupakan salah satu konsep berkomunikasi yang masih digunakan oleh penutur masyarakat Jepang. Konsep aimai hy?gen ini berfokus pada gaya bahasa yang digunakan melalui makna-makna yang tidak jelas atau tidak pasti oleh karena terlalu banyaknya makna yang dimiliki oleh ungkapan tersebut. Hal ini bertujuan untuk menghindari penggunaan ungkapan yang lugas, tegas, dan jelas. Berdasarkan fenomena tersebut, maka beberapa aimai hy?gen yang dikaitkan dengan prinsip kesantunan Leech dibahas dalam makalah ini.
Dinamika Penggunaan Ragam Bahasa Dialek Jawa Barat: Antara Politik dan Demokrasi Juanda .
Journal Social and Humaniora Vol 18 No 2 (2018)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.08 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2018.v18.i02.p03

Abstract

Bahasa Sunda merupakan bahasa dialek yang ada di Jawa Barat. Bahasa Sunda saat ini masih digunakan oleh para penuturnya untuk komunikasi sehari-hari, Namun, dalam penggunaannya, bahasa Sunda di perkotaan sudah mulai tergeser oleh bahasa asing atau bahasa Indonesia walaupun sebenarnya pemerintah sudah ada upaya memasukkan mata pelajaran bahasa Sunda pada pendidikan formal mulai dari pendidikan dasar sampai tingkat menengah. Program pemerintah ini nampaknya belum begitu memberikan hasil yang menggembirakan dalam peningkatan kompetensi berkomunikasi dalam bahasa Sunda. Salah satu hal yang menjadi fenomena dalam penggunaan bahasa Sunda adalah penerapan ”undak usuk basa”. Faktor penyebab semakin menurunnya kemampuan penggunaan ragam bahasa ini adalah tidak pernah dibiasakannya penggunaan ragam bahasa tersebut baik di lingkungan formal maupun di lingkungan nonformal seperti lingkungan keluarga atau masyarakat Beberapa kosakata yang mulai tidak dikenali masyarakat terutama kalangan pelajar atau mahasiswa seperti penggunaan kata astana, pasarean, pajaratan. Kata ini memiliki arti yang sama artinya makam. Namun, Kata ini sering diganti dengan kata makam atau kuburan dalam komunikasi sehari-hari, seharusnya kata tersebut digunakan sesuai dengan ragamnya. Astana untuk loma , pasarean untuk bahasa halus buat diri sendiri, sedangkan pajaratan bahasa halus untuk orang lain. Contoh :“Luhureun pasir eta teh aya astana”, “Pasarean pun adi teh tacan ditembok da taneuhna tacan padet”, “pajaratan pun aki mah dicirian ku hanjuang beureum”. Tulisan ini mencoba mengangkat beberapa kosakata bahasa Sunda yang masih dirasakan asing oleh penutur aslinya dan belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, Tujuannya untuk lebih memperkenalkan lagi atau mengingatkan lagi bentuk-bentuk kosakata yang seharusnya dipilih. Dari sudut pandang politik berbahasa bahwa penerapan ragam bahasa atau undak-usuk bahasa ini merupakan bagian berbudaya bahasa lokal yang harus dilestarikan sementara sisi demokrasi bahwa setiap penutur memiliki kebabasan untuk menggunakan ataupun tidak.
Setia Berbuah Petaka (Ihwal Kutuk Astabasu dan Lahirnya Bhisma dalam Cerita Adiparwa) I Nyoman Duana Sutika
Journal Social and Humaniora Vol 18 No 1 (2018)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.611 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2018.v18.i01.p06

Abstract

The story in which the curse of Astabasu and the birth of Bhisma are narrated is one of the stories in Adiparwa. It is narrated that BagawanWasistha condemned Astabasu (eight basus) for stealing Nandini, his cow. Prabhata, one of the Astabasus, stole the cow for Dyoh, his wife whom he loved so much and who wanted to consume the milk produced by the cow. Astabasu and Goddess Gangga were condemned for the mistake they had made. Goddess Gangga did not mind reducing the curse of Astabasu for which they were supposed to return to where they had come from, the heaven. When the first seven basus were born, they were returned to where they had come from by Goddess Gangga by throwing them away. Bhisma, the reincarnation of the eighth basu was more heavily and longer punished as he had been primarily responsible for the theft. During his life, Bhisma entirely served the Kuru family and strongly promised that he would never be married ‘brahmacari’ to make his parents happy.
MODEL KESALAHAN PENGGUNAAN BAHASA INGGRIS PADA PAPAN INFORMASI PUBLIK I Gusti Ngurah Parthama
Journal Social and Humaniora Vol 17 No 2 (2017)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses the misuse of English on public information boards. Data were taken randomly from public information boards installed in Badung and Denpasar, Bali. The public information boards are selected in two languages, Indonesian and English. The method used is simak method equipped with recording techniques, detailed reading and sorting data to obtain adequate data. Furthermore, qualitative descriptive method is applied with analytical techniques based on British grammatical and sociolinguistic theory. The conclusions obtained still have errors in the use of English on public information boards. The error is in the grammar error model, word selection, and writing in English. Keywords: public information boards, English, bilingual misuse
Strategi Masyarakat Nelayan Kedonganan Menghadapi Kemiskinan Purwadi Soeriadiredja
Journal Social and Humaniora Vol 19 No 1 (2019)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.446 KB) | DOI: 10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p07

Abstract

Kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat nelayan, serta kerusakan lingkungan pesisir dan laut merupakan dampak dari kebijakan pembangunan yang selama ini berorientasi ke daratan. Sekalipun pemerintah menggulirkan kebijakan modernisasi perikanan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, namun hasil yang dicapai belum memuaskan. Secara umum nelayan masih terperosok dalam perangkap kerentanan sosial-ekonomi berkepanjangan. Kenyataan tersebut membuat perekonomian nelayan memprihatinkan. Kedonganan terletak di kawasan wisata dan menjadi tujuan wisata pantai dan kuliner, namun hal itu bukan jaminan bagi para nelayan dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Awalnya perkembangan di Kedonganan tanpa kendali sehingga menimbulkan banyak permasalahan di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Hal tersebut ditengarai akan menimbulkan ketidakharmonisan dan mencoreng citra objek wisata Kedonganan, bahkan pariwisata budaya Bali. Dengan berjalannya waktu, kini pantai Kedonganan berubah menjadi tujuan wisata pantai dan kuliner yang menarik. Hal tersebut tak lepas dari peran Desa Adat Kedonganan yang telah melibatkan masyarakat mulai dari perencanaan awal, pengelolaan dan evaluasi dengan tujuan meningkatkan perekonomian masyarakat, mempertahankan adat istiadat setempat dan pengelolaan yang berkelanjutan. Dalam hal ini bagaimana masyarakat Kedonganan dengan kearifanlokalnya menciptakan strategi dalam menghadapi salah satu permasalahan hidup mereka, yaitu kemiskinan, sehingga lambat laun terjadilah peningkatan ekonomi, sosial-budaya yang signifikan.Sebagai nelayan, bermacam resiko dari pekerjaan sudah biasa mereka hadapi dan terima dengan besar hati karena bagi mereka hidup adalah sebagai anugerah. Suatu hal yang mereka harapkan adalah terciptanya keselarasan dan keserasian antara kehidupan duniawi dan kehidupan dengan Sang Hyang Widi. Untuk itu hidup harus dilandasi dengan sikap pasrah dan menerima apa adanya. Namun bukan berarti harus tetap tinggal diam saja. Pengelolaan pantai Kedonganan berbasis masyarakat ini dijiwai oleh filosofi Tri Hita Karana, karenanya hubungan masyarakat dengan lingkungan (alam, spiritual dan antar manusia) dapat terjalin secara harmonis dan berkelanjutan.
AKTIVITAS MANUSIA PENDUKUNG DI CERUK GUA GONG BARAT, JIMBARAN, BALI Heri Purwanto
Journal Social and Humaniora Vol 17 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prehistoric man made cave as a favorite place to take shelter. Moreover, it can also as a place to move. It can be traced from the traces left behind. Ceruk Gua Gong Barat located in preparation environment Angga Swara Nongkong stone, Desa Adat Jimbaran, Badung, Bali showed traces of prehistoric human activities. Namely residential activity, hunting and gathering, processing foodstu?s. Indications of such activities based on various archaeological findings in the form of shells, animal bones, animal teeth, fish bones, and shaved. Keywods: Gua Gong niche West, Prehistoric Human Activity

Page 2 of 19 | Total Record : 186