cover
Contact Name
Adi Putra
Contact Email
jurnal.luxnos20@gmail.com
Phone
+6221-5513572
Journal Mail Official
jurnal.luxnos20@gmail.com
Editorial Address
Kawasan Office Park Karawaci M 8-9, Jalan Imam Bonjol Karawaci, Tangerang Banten
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Luxnos : Jurnal Sekolah Tinggi Teologi Pelita Dunia
ISSN : 25277561     EISSN : 27223809     DOI : https://doi.org/10.47304/jl.v6i1
Jurnal Luxnos adalah Jurnal Teologi yang mempublikasikan hasil penelitian dalam lingkup penelitian Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Etika Kristen, Misiologi, Musik Gereja hingga Pendidikan Kristen.
Articles 158 Documents
Bolehkah Bercerai?: Melihat Kembali Pandangan Yesus Tentang Perceraian Dalam Matius 19:9 Dengan Pendekatan Kritik Tata Bahasa Andre Rollando
JURNAL LUXNOS Vol. 9 No. 1 (2023): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI JUNI 2023
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v9i1.224

Abstract

Abstract: Whether or not it is permissible to divorce in marriage is still being debated among interpreters when reading the Gospel of Matthew 19:9, and in general Christians see the text as legitimacy for divorce, especially in the phrase "μὴ ἐπὶ πορνείᾳ" which is for reasons of adultery. The author actually sees that there is an error in understanding the text and in fact there is no opportunity given by Jesus for divorce. The method used in this research is grammatical criticism. As a result, Matthew 19:9 especially in the phrase "μὴ ἐπὶ πορνείᾳ" is actually not like adultery which is generally understood in society. This word means unnatural sexual crimes, fornication, prostitution, and is equated with idol worship. Therefore, divorce is only done by people who do not fear God. Characteristic of an attitude that imitates Christ who loves and forgives. So Jesus remained consistent against divorce among believers. Abstrak: Boleh atau tidaknya bercerai dalam pernikahan masih menjadi perdebatan di kalangan para penafsir ketika membaca Injil Matius 19:9, dan pada umumnya orang Kristen melihat teks itu sebagai legitimasi untuk bercerai khususnya pada frase “μὴ ἐπὶ πορνείᾳ” yaitu karena alasan perzinahan. Penulis justru melihat ada kesalahan dalam memahami teks tersebut dan sesungguhnya tidak ada kesempatan yang diberikan Yesus untuk bercerai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kritik tata bahasa. Hasilnya, Matius 19:9 khususnya pada frase “μὴ ἐπὶ πορνείᾳ” sesungguhnya tidak seperti zinah yang dipahami pada umumnya dalam masyarakat. Kata tersebut berarti kejahata seksual yang tidak wajar, percabulan, persundalan, dan disetarakan dengan penyembahan berhala karena itu perceraian hanya diperbuat oleh orang-orang yang tidak takut akan Allah. Selain itu perceraian tidak mengambarkan ciri sikap yang meneladanai Kristus yang mengasih dan mengampuni. Jadi Yesus tetap konsisten menetang perceraian di kalangan orang percaya.
Trinitas di Antara Subaltern dan Politik Egaliter Lidia Theresia
JURNAL LUXNOS Vol. 9 No. 1 (2023): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI JUNI 2023
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v9i1.309

Abstract

Abstract: Colonialism in human civilization has caused comprehensive problems in all aspects of life, including gender issues. Gayatri Chakravorty Spivak, one of the literary critics, said that colonialism gave rise to a new inferiority with Eurocentrism. When Europe became the locus of power, women outside European nations were increasingly oppressed and became third-world women, which Spivak calls subaltern. The church, also formed due to colonialism, must not take advantage of itself but must be critical in highlighting social inequality. The presence of the church must respond to social problems that occur among its people and support the creation of equality in human life. For this reason, this article will show that the church can answer subaltern problems through the doctrine of the Trinity and create equality or egalitarianism in people's lives. The discussion is carried out using a qualitative research method, which presents formulations of the doctrine of the Trinity by theologians. The explanation will then show the model of the Trinity that is present to answer the subaltern problem. Thus, through the Trinity, the church can provide theological answers to the struggles felt by humans. Abstrak: Kolonialisme yang terjadi dalam peradaban manusia telah menimbulkan permasalahan menyeluruh di segala aspek kehidupan, termasuk masalah gender. Gayatri Chakravorty Spivak, salah seorang kritikus sastra, mengatakan bahwa kolonialisme memunculkan inferioritas baru dengan Eropasentris. Ketika Eropa menjadi lokus kuasa, maka perempuan di luar bangsa Eropa semakin tertindas dan menjadi perempuan dunia ketiga, yang Spivak sebut sebagai subaltern. Gereja yang juga terbentuk akibat dari kolonialisme, tidak boleh mengambil keuntungan sendiri, melainkan harus bersifat kritis dalam menyorot ketimpangan sosial yang terjadi. Kehadiran gereja harus menjawab permasalahan sosial yang terjadi di tengah-tengah umatnya, dan mendukung terciptanya kesetaraan dalam kehidupan manusia. Untuk itu, artikel ini akan memperlihatkan bahwa gereja mampu menjawab masalah subaltern melalui doktrin Trinitas, dan menciptakan kesetaraan atau egaliterisme dalam kehidupan masyarakat. Pembahasan dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, yang memaparkan rumusan-rumusan mengenai doktrin Trinitas para teolog. Pemaparan tersebut kemudian akan memperlihatkan model Trinitas yang hadir untuk menjawab masalah subaltern. Dengan demikian, melalui Trinitas gereja dapat memberi jawaban teologis atas pergumulan yang dirasakan oleh manusia.
From Disabling Community to Embracing Gospel: Duma Indah Sinaga
JURNAL LUXNOS Vol. 9 No. 1 (2023): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI JUNI 2023
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v9i1.311

Abstract

Abstract: Biblical text relating to disability usually approached with either a metaphorical or literary interpretation. Both of these approaches themselves provide a negative view of people with disabilities. Both of these approaches show that disability is a condition to be eliminated. This tendency itself arises because of the lack of attention to the context of the Bible itself and the limited approach to understanding disability only in the medical approach. This article comes with an awareness of the gap between the world of the Bible and the modern world. Therefore, using qualitativve methods through literature study, this article aims to explore the message of Luke 14:12-14 with a focus on the social-religious context of the Gospel of Luke, particularly the banquet, the understanding of the body in the Jewish context, and the meaning of sickness and healt, which are examined through the perspective of disability studies. The result is that the text finds alignments with people with disabilities in three form, namely the collapse of normalism, embracing “damaged” bodies, and eating together as an act of solidarity. This article will show that in the text of Luke 14:12-14, physical disability is not something that should be eliminated, but celebrated in communal meal. Abstrak: Teks-teks Alkitab yang berkaitan dengan disabilitas biasanya didekati dengan tafsir metaforis maupun literer. Kedua pendekatan ini memberikan pandangan yang negatif terhadap orang dengan disabilitas. Kedua pendekatan ini menunjukkan bahwa disabilitas adalah keadaan ingin dieliminasi. Kecenderungan ini muncul karena kurangnya perhatian pada konteks Alkitab itu sendiri dan terbatasnya pemahaman tentang disabilitas hanya pada pendekatan model medis. Artikel ini hadir dengan kesadaran bahwa terdapat kesenjangan antara dunia Alkitab dan dunia modern. Oleh sebab itu, dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur, artikel ini bertujuan mengupas pesan teks Lukas 14:12-14 dengan perhatian pada konteks sosial religious Injil Lukas khususnya perjamuan makan, pemahaman tentang tubuh dalam konteks Yahudi, serta makna sakit dan sehat yang didialogkan dengan perspektif studi disabilitas. Hasilnya adalah ditemukan keberpihakan teks Lukas 14:12-14 terhadap orang dengan disabilitas dalam tiga rupa, yaitu runtuhnya normalisme, tubuh-tubuh yang rusak direngkuh, dan makan bersama sebagai sebuah aksi solidaritas. Artikel ini akan menunjukkan bahwa dalam teks Lukas 14:12-14, disabilitas fisik bukanlah sesuatu yang harus dieliminasi, namun dirayakan dalam persekutuan makan bersama.
KEUNIKAN KRISTUS DALAM PANDANGAN STEPHEN TONG Sostenis Nggebu
JURNAL LUXNOS Vol. 9 No. 1 (2023): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI JUNI 2023
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v9i1.312

Abstract

Abstract: The problem of this article is the importance of recognizing the uniqueness of Christ in Stephen Tong's preaching. As a national Christian intellectual figure, Tong has traveled all over the world preaching the uniqueness of the Christ he believes in. For him, many Christians need true teaching about Christ. The purpose of this discussion leads to a description of Tong's main ideas about the uniqueness of Christ. The method used in this study is phenomenal. The result shows that Tong's thoughts about the uniqueness of Christ are firmly rooted in reformed theology. That belief became the basis for him to preach the uniqueness of Christ. Christ is God who became human to save sinners. The impact of Tong's ministry has blessed Christians, educated church members to discover the wonders of Christ and live a spiritually mature faith. In conclusion, Tong's preaching adheres to the Bible's message about the work and life of Christ. Abstrak: Problem dari artikel ini pentingnya mengenali keunikan Kristus dalam pemberitaan Stephen Tong. Sebagai tokoh intelektual Kristen nasional, Tong telah berkeliling ke berbagai penjuru dunia guna memberitakan keunikan Kristus yang diimaninya. Baginya, banyak orang Kristen membutuhkan pengajaran yang benar tentang Kristus. Tujuan pembahasan ini mengarah pada deskripsi pokok-pokok pemikiran Tong tentang keunikan Kristus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenalogis. Hasilnya, menunjukkan bahwa pemikiran Tong tentang keunikan Kristus mengakar kuat pada teologi reformed. Keyakinan itu menjadi dasar baginya untuk memberitakan keunikan Kristus. Kristus itu adalah Allah yang menjadi manusia demi menyelamatkan orang berdosa. Dampak dari pelayanan Tong telah memberkati orang Kristen, mendidik warga gereja untuk menemukan keajaiban Kristus dan menjalani iman yang dewasa secara rohani. Kesimpulannya, pemberitaan Tong patuh pada berita Alkitab tentang karya dan kehidupan Kristus.
Analisis Kritis Tentang Konsep Misi Kaum Postmodernis Dalam Perspektif Teologi Reformed Febriaman Lalaziduhu Harefa; Agustina Pasang; Triana Tambunan
JURNAL LUXNOS Vol. 9 No. 1 (2023): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI JUNI 2023
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v9i1.313

Abstract

Abstract: The aim of this research is to critically analyze the postmodernist concept of mission from a Reformed perspective. This is motivated by the phenomenon of shifting culture and thinking of modern society towards the postmodern era. This change has an impact on the perspective of Christian mission which has an impact on the church in developing its duties to carry out the great commission. The approach used is qualitative with library research methods. Research results and analysis. First, the basic mission of the postmodernists does not depart from Bible revelations, resulting in a fictional concept of mission that does not reflect the reality of the truth itself. Second, the focus of the postmodernist mission is oriented towards liberating humans from social issues and setting aside the proclamation and finality of Jesus Christ as the center of Christian mission. Third, the postmodernist mission approach only emphasizes theological dialogue, so it does not present a complete and holistic truth value. The postmodernist emphasis on one mission approach results in an imbalance in the implementation of mission applications. The conclusion of this study shows that the postmodernist concept of mission in the Reformed perspective has several weaknesses and inconsistencies in terms of biblical basis, mission focus, and mission approach. This raises inequality in the application of the mission concept. There needs to be a critical evaluation and understanding of the postmodernist concept of mission, so that the church can develop its duties in carrying out the great commission in accordance with biblical principles. Abstrak:       Tujuan penelitian adalah menganalisis secara kritis konsep misi kaum postmodernis dalam perspektif Reformed. Hal ini dilatarbelakangi oleh fenomena pergeseran budaya dan pemikiran masyarakat modern menuju era postmodern. Perubahan ini berdampak pada cara pandang terhadap misi Kristen yang berdampak kepada gereja dalam mengembangkan tugasnya untuk melaksanakan amanat agung. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan. Hasil penelitian, pertama, dasar misi kaum postmodernis bukan bertolak dari penyataan Alkitab sehingga menghasilkan konsep misi yang fiksi dan tidak mencerminkan sebuah realitas dari kebenaran itu sendiri. Kedua, fokus misi kaum postmodernis berorientasi pada pembebasan manusia dari isu sosial serta mengesampingkan proklamasi dan finalitas Yesus Kristus sebagai pusat misi Kristen. Ketiga, pendekatan misi kaum postmodernis hanya menekankan pada dialog teologis, sehingga tidak menghadirkan nilai kebenaran yang utuh dan holistik. Penekanan kaum postmodernis terhadap salah satu pendekatan misi membutikan ketimpangan dalam pelaksanaan aplikasi misi. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa konsep misi kaum postmodernis dalam perspektif Reformed memiliki beberapa kelemahan dan ketidakkonsistenan dalam hal dasar Alkitab, fokus misi, dan pendekatan misi. Hal ini memunculkan ketimpangan dalam penerapan konsep misi tersebut. Perlu adanya evaluasi dan pemahaman yang kritis terhadap konsep misi kaum postmodernis, sehingga gereja dapat mengembangkan tugasnya dalam melaksanakan amanat agung sesuai dengan prinsip Alkitab.
Eksegesis Matius 5:14-16 dalam Perspektif Identitas Para Murid Yesus Okyob Jeon; Yasti Tiran
JURNAL LUXNOS Vol. 9 No. 1 (2023): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI JUNI 2023
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v9i1.322

Abstract

Abstract: The Sermon on the Mount is the first of five critical discourses in the Gospel of Matthew. When reading the Sermon on the Mount, several scholars have emphasized the importance of δικαιοσύνη (righteousness) as well as identity formation or community building. In particular, the salt and light metaphor in 5:13-16 is one of the texts that describes the identity of the disciples. Therefore, this study read Matthew 5:14-16 again from the perspective of discipleship identity. The method used in this research is qualitative research that focuses more on exegetical studies. The results of the study are as follows. In verse 14a, Jesus declared His disciples’ identity, which is light-bearers. In verses 14b-15, he showed them the clear and vivid influence around them. In verse 16, his disciples’ mission is explained; disciples as light-bearers must definitely practice good works so that others will glorify God. In particular, the disciples of this age, who are young seminarians and servants of God, must live out God's truth through living with integrity, be faithful disciples of Jesus and do good deeds with love for believers and those who do not know Jesus. Abstrak: Khotbah di Bukit merupakan yang pertama dari lima ajaran signifikan dalam Injil Matius. Ketika membaca Khotbah di Bukit, beberapa ahli telah menekankan pentingnya δικαιοσύνη (kebenaran) dan pembentukan identitas atau pembangunan komunitas. Secara khusus, metafora garam dan terang dalam 5:13-16 adalah salah satu teks yang menggambarkan identitas para murid. Oleh karena itu, penelitian ini melihat 5:14-16 dari perspektif identitas para murid Yesus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang lebih menitikberatkan pada studi eksegesis. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Dalam ayat 14a, Yesus menyatakan identitas murid-murid-Nya, yaitu sebagai pembawa terang. Dalam ayat 14b-15, Ia menunjukkan pengaruh yang jelas dan nyata di sekitar mereka. Dalam ayat 16, misi murid-murid-Nya dijelaskan; murid-murid sebagai pembawa terang harus melakukan perbuatan baik agar orang lain memuliakan Allah. Secara khusus, murid-murid pada zaman ini, yang merupakan seminaris muda dan hamba-hamba Tuhan, harus menghidupi kebenaran Allah yang ditunjukkan melalui sikap hidup yang berintegritas, menjadi murid Yesus yang setia dan melakukan perbuatan baik dengan kasih kepada orang percaya maupun yang belum mengenal Yesus.
Pemaknaan Berkat Menurut Ulangan 28:1-14 Dalam Perspektif Teori Kebutuhan Abraham Maslow Feri Aman Mendrofa
JURNAL LUXNOS Vol. 9 No. 1 (2023): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI JUNI 2023
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v9i1.323

Abstract

Abstract: This academic work is based on the author’s observation of the inaccurate understanding of blessings among Christians. This inaccuracy is related to the belief that blessings are solely material. To clarify this issue, the author researched to explain the various blessings given by God. Using a literature review method, the author searched for data through both text interpretation and reading literature data. The interpretation of Deuteronomy 28:1-14 is conducted using the general principles and methods of biblical interpretation proposed by Hasan Sutanto, and further elaborated with Maslow's theory of needs. The findings of this research reveal that material possessions are just one aspect of the blessings bestowed by God upon the nation of Israel. Therefore, Christians should not view material wealth as the sole blessing that God provides, but rather as one component of the overall blessings. Abstrak: Penulisan karya ilmiah ini berangkat dari pengamatan penulis terhadap pemaknaan berkat yang kurang tepat di kalangan orang Kristen. Ketidaktepatan ini terkait kepada pemikiran yang menganggap bahwa berkat merupakan sesuatu yang hanya bersifat materi. Untuk meluruskan hal tersebut, penulis melakukan penelitian dengan tujuan menjelaskan berbagai berkat yang diberikan Allah. Mengunakan metode studi kepustakaan, penulis melakukan pencarian data baik melalui penafsiran teks maupun pembacaan data pustaka. Penafsirkan teks Ulangan 28-1-14 dilakukan dengan prinsip dan metode umum penafsiran Alkitab yang dikemukaan Hasan Sutanto dan kemudian dielaborasi dengan teori kebutuhan Maslow. Hasil penelitian ini, penulis menemukan bahwa materi hanyalah salah satu bagian dari berkat yang diberikan Allah kepada bangsa Israel. Oleh sebab itu orang Kristen seharusnya melihat materi bukan satu-satunya berkat yang Allah berikan tetapi hanya salah satu bagian dari keseluruhan berkat.
Yesus Kristus Lahir 25 Desember: Studi Historis Tolop Marbun
JURNAL LUXNOS Vol. 9 No. 1 (2023): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI JUNI 2023
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v9i1.327

Abstract

Abstract: This research aims to discover historical evidence of Christmas celebrations before 274AD to disprove the claim that December 25th is paganism. Christmas on December 25th is accused of being a pagan celebration. The accusation of paganism at Christmas mainly refers to a Christian theologian named Paul Ernst Jablonski asserted in the 18th century that Christmas is a pagan celebration. Jablonski's claim refers to the Emperor of Constantinople's foundation of Christmas in 316 and Emperor Aurelia's nomination of December 25th as Dies Natalis Solis Invicti in 274M. The historical technique with heuristic steps was applied in the investigation. Heuristic is a Greek word that means "to seek and find." Heuristics are used in the historical method to look for and discover sources that are relevant to research. The Author undertakes source criticism after the heuristic stage. External criticism and internal criticism are the two types of source criticism. Following that, Interpretation and Histography are applied. According to the findings of this research, Christmas has been celebrated 239 years before 274 AD, on Kislev 25th according to the Jewish calendar, January 6th according to the Julian calendar, and December 25th according to the Gregorian calendar. Abstrak: Tujuan penelitian ini menggali bukti-bukti sejarah perayaan natal sebelum tahun 274M untuk membantah tuduhan natal 25 Desember merupakan paganisme. Perayaan Natal tanggal 25 Desember sering dituduh sebagai perayaan paganisme. Tuduhan Natal merupakan paganisme pada umumnya merujuk pada seorang Teolog Kristen yang Bernama Paul Ernst Jablonski pada abad ke 18 yang menyatakan bahwa perayaan natal merupakan perayaan kafir. Tuduhan Jablonski mengacu kepada pentapan natal oleh Kaisar Konstantinopel pada tahun 316 dan penetapan kaisar Aurelia tangal 25 desember sebagai Dies Natalis Solis Invicti pada tahuan 274M. Metode yang gunakan dalam dalam penelitian metode sejarah dengan tahapan Heuristik. Heuristik berasala dari bahasa Yunani yang berarti mencari dan menemukan. Jadi dalam metode sejarah, heuristik merupakan mencari dan menemukan sumber yang relevan dengan penelitian. Setelah tahapan Heuristik, penulis melakukan kririk sumber. Kritik sumber terbagi dua yaitu kritik external dan kritik interla. Selanjutnya, digunakan Interpretasi dan Histografia. Hasil dari peneletian ini menunjukkan perayaan natal sudah laksanakan 239 tahun sebelum tahun 274M yang jatuh pada tanggal 25 Kislev menurut kalender Yahudi, 6 Januari menurut kalender Julian, dan 25 Desember menurut Kalender Gregorian.
Korelasi Fungsi Rumah Bagi Orang Kristen Dan Gereja Lengkong, Samuel; Wulus, Mega Sinta
JURNAL LUXNOS Vol. 9 No. 2 (2023): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI DESEMBER 2023
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v9i2.228

Abstract

Abstract: When dealing with the Covid-19 pandemic, churches are faced with new challenges. In the midst of these conditions, there were pro and contra responses among God's servants or congregations regarding worshiping at home, where some groups understood that Carrying out worship at home is an indication of a lack of faith, for fear of the Covid-19 pandemic. Meanwhile, the other group understands it as wisdom in the midst of the existing conditions and follows the government's direction as part of obedience to God's Word towards the government. Qualitative research methods were used in this research, with a literature study approach, researchers analyzed a number of data in the form of concepts or theories, literature and journals were analyzed by exegesis according to the research topic. This research aims to find and reveal the understanding of the Christian family home as a church. The results of this study are that the Christian family home as a church is very relevant to be applied in the midst of the covid-19 pandemic and in all ages with various challenges which are in principle the same as the covid-19 pandemic situation, even without the challenges of the times, every Christian family should carry out activities and church activities in their respective homes, because the home of a Christian family is an ark of salvation. Abstrak: Pada saat menghadapi situasi pandemik Covid-19, gereja-gereja mendapat tantangan baru. Di tengah kondisi tersebut muncul tanggapan pro dan kontra di kalangan para hamba Tuhan ataupun jemaat mengenai beribadah di rumah. Sebagian kelompok memahami bahwa melaksanakan ibadah dirumah adalah indikasi kurangnya iman, karena takut dengan pandemic Covid-19. Sedangkan kelompok lainnya memahami sebagai hikmat di tengah kondisi yang ada dan mengikuti arahan pemerintah sebagai bagian ketaatan pada Firman Tuhan terhadap pemerintah. Dalam penelitian ini perlu melihat bagaimana korelasi fungsi dari rumah bagi orang Kristen. Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan pendekatan studi literatur peneliti menganalisis sejumlah data dalam bentuk konsep atau teori, literatur dan jurnal dilakukan analisis dengan mengeksegesis sesuai topik penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk dapat menemukan dan mengungkapkan pemahaman rumah keluarga Kristen sebagai gereja. Hasil penelitian ini adalah bahwa rumah keluarga Kristen sebagai gereja menjadi sangatlah relevan diterapkan di tengah pandemic covid-19 dan dalam segala zaman dengan berbagai tantangan yang pada prinsipnya sama dengan situasi pandemik covid-19, bahkan tanpa ada tantangan zaman pun sudah seharusnya setiap keluarga Kristen melaksanakan kegiatan dan aktivitas gereja di dalam rumah masing-masing, karena rumah keluarga Kristen merupakan bahtera keselamatan.
Mengidentifikasi Kriteria Dasar Untuk Pemulihan Gangguan Makan Dan Fungsi Penyembuhannya Melalui Pembentukan Rohani Kristen Toru, Rudi; Sutrisno
JURNAL LUXNOS Vol. 9 No. 2 (2023): LUXNOS: JURNAL SEKOLAH TINGGI TEOLOGI PELITA DUNIA EDISI DESEMBER 2023
Publisher : STT Pelita Dunia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47304/jl.v9i2.288

Abstract

Abstract: Eating disorders are complex conditions that affect individuals both physically and psychologically. Christian spiritual formation offers a unique approach to overcoming this disorder by integrating faith and spirituality into the recovery process. These abstract aims to identify basic criteria for healing eating disorders and to develop how Christian spiritual formation can serve as a useful tool in their treatment. The aim of this research is to identify the basic criteria for treating eating disorders and to explore how Christian spiritual formation can be a useful tool for treating it. Physical criteria include restoring a healthy relationship with food, ensuring proper nutrition, and managing any medical complications. Psychological criteria involve helping with underlying emotional problems, overcoming distorted body images, and encouraging self-acceptance. Spiritual criteria include connecting with one's faith, finding meaning and purpose beyond distractions, and cultivating a relationship with God. The research method used in this research is a library research method that collects and manages data from book sources and journal articles which then formulates the results of the study. Through this research, Christian spiritual formation provides a framework that is in harmony with these criteria with the emphasis on integrating faith, prayer, scriptures, and community support. It offers individuals a sense of hope, as they can rely on their faith to find strength and resilience during the journey of recovery.  Abstrak: Gangguan makan adalah kondisi kompleks yang memengaruhi individu baik secara fisik maupun psikologis. Pembentukan rohani kristiani menawarkan pendekatan unik untuk mengatasi gangguan ini dengan mengintegrasikan iman dan spiritualitas ke dalam proses pemulihan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kriteria dasar untuk mengobati gangguan makan dan untuk mengeksplorasi bagaimana pembentukan rohani kristiani dapat menjadi alat yang berguna untuk mengobatinya. Tujuan penelitian ini adalah memahami kriteria dasar untuk penyembuhan gangguan makan melibatkan penanganan dimensi fisik, psikologis, dan spiritual individu. Kriteria fisik termasuk memulihkan hubungan yang sehat dengan makanan, memastikan nutrisi yang tepat, dan mengelola segala komplikasi medis. Kriteria psikologis melibatkan identifikasi masalah emosional yang mendasarinya, mengatasi citra tubuh yang terdistorsi, dan mendorong penerimaan diri. Kriteria spiritual mencakup hubungan dengan keyakinan seseorang, menemukan makna dan tujuan di luar gangguan, dan membina hubungan dengan Tuhan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian pustaka yang mengumpulkan dan mengelola data dari sumber-sumber buku, artikel jurnal yang kemudian merumuskan hasil kajian. Lewat penelitian ini maka pembentukan rohani kristiani memberikan kerangka yang selaras dengan kriteria tersebut dengan menekankan integrasi iman, doa, kitab suci, dan dukungan komunitas. Ini menawarkan kepada individu rasa harapan, karena mereka dapat mengandalkan iman mereka untuk menemukan kekuatan dan ketahanan selama perjalanan pemulihan.

Page 9 of 16 | Total Record : 158


Filter by Year

2018 2025