cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta" : 10 Documents clear
Induksi Kalus Embrio Somatik Bawang Putih Doulu dengan Perlakuan BAP dan Picloram Secara in vitro Aisyah, Fitri Nur; Sugiyono, Sugiyono; Rudiyanto, Rudiyanto; Noorrohmah, Siti
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.3.13449

Abstract

Bawang putih (Allium sativum L.) cv. Doulu merupakan bawang putih lokal yang berasal dari Desa Doulu Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Indonesia. Secara konvensional, A. sativum cv. Doulu diperbanyak melalui umbi sehingga kurang efektif karena rentan hama dan penyakit. Alternatif perbanyakan bibit A. sativum cv. Doulu dapat dilakukan melalui pembentukan kalus embrio somatik secara in vitro untuk memproduksi bibit tanaman yang seragam, bebas hama penyakit, stabil dan dapat diproduksi dalam waktu yang relatif singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis eksplan A. sativum cv. Doulu yang dikultur pada media DKW dengan penambahan zat pengatur tumbuh BAP dan picloram terhadap pembentukan kalus embrio somatik secara in vitro. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan acak lengkap faktorial dengan faktor pertama yang diuji yaitu jenis eksplan (daun, bonggol, akar) dan faktor kedua yakni konsentrasi zat pengatur tumbuh (0; 0.5; 1; 2 dan 3 mg L-1 BAP dan Picloram). Parameter yang diamati yakni, jumlah quadran eksplan membentuk kalus, diameter kalus, bobot kalus dan volume kalus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan bonggol dan akar A. sativum cv. Doulu mampu membentuk kalus lebih baik dibandingkan dengan eksplan daun. Pemberian zat pengatur tumbuh BAP dan picloram dengan konsentrasi 0.5 dan 3 mg L-1 secara signifikan meningkatkan pertumbuhan kalus A. sativum cv. Doulu, yang terlihat dari tingginya nilai diameter kalus, bobot kalus, dan volume kalus yang terbentuk. Pada perlakuan tanpa penambahan zat pengatur tumbuh BAP dan Picloram (kontrol) tidak terbentuk kalus. Kata kunci: BAP, bawang putih Doulu, embrio somatik, induksi kalus, Picloram.
Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Nacl pada Pertumbuhan Varietas Padi Logawa, Situ Bagendit, dan Inpari Secara In Vitro Rosyid Ridho, Muhammad Ainur; Aprilia, Veranita; Irwandi, Shafannisa Febrina; Helan, Maria Elfiana Ina Kewa
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.3.15581

Abstract

Studi ini menyelidiki pengaruh konsentrasi natrium klorida (NaCl) terhadap pertumbuhan tiga varietas padi: Logawa, Situ Bagendit, dan Inpari, menggunakan kultur in vitro. Media kultur disiapkan dengan konsentrasi NaCl bervariasi (150 mM, 250 mM, dan 255 mM) dan parameter pertumbuhan diukur, termasuk panjang dan jumlah daun, panjang dan jumlah akar, berat segar, kandungan klorofil, dan tinggi total tanaman. Hasil menunjukkan bahwa varietas Logawa memiliki toleransi tertinggi terhadap stres salinitas, dengan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan Situ Bagendit dan Inpari. Peningkatan konsentrasi NaCl menyebabkan penurunan kandungan klorofil dan berat segar pada semua varietas, mengindikasikan dampak negatif salinitas terhadap efisiensi fotosintesis dan kesehatan tanaman.
Struktur Struktur Komunitas dan Keanekaragaman Floristik Mangrove dalam Lanskap Ekowisata Kuala Langsa, Aceh Nasution, Hasbi Assidiqi; Syahputra, Viqi; Suwardi, Adi Bejo
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.3.15869

Abstract

Hutan mangrove merupakan ekosistem penting yang menyediakan berbagai jasa ekosistem, namun mengalami tekanan antropogenik yang menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi jenis dan struktur komunitas mangrove di kawasan ekowisata Hutan Mangrove Kuala Langsa, Aceh. Metode Line-Transect Plot digunakan pada tiga stasiun, yaitu area pertambakan, area komersial, dan area tower mangrove. Data dianalisis berdasarkan kerapatan relatif, frekuensi relatif, dominansi relatif, serta indeks Shannon-Wiener untuk menilai keanekaragaman. Hasil menunjukkan sebanyak 16 jenis mangrove ditemukan dari 10 genus dan 8 famili. Stasiun 1 (area pertambakan) memiliki nilai indeks keanekaragaman tertinggi (H’ = 1,985) dengan keseragaman tinggi (J’= 0,862) dan dominansi rendah (C < 0,5), mencerminkan komunitas yang stabil dan beragam. Sebaliknya, Stasiun 2 dan 3 menunjukkan keanekaragaman yang lebih rendah (H’ = 0,543 dan 0,877) dengan keseragaman sedang hingga rendah (J’= 0,279 dan 0,422) serta dominansi tinggi akibat dominasi Rhizophora apiculata. Akibat dominansi oleh Rhizophora apiculata, berpotensi mengurangi keanekaragaman hayati secara fungsional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengelolaan berkelanjutan, berbasis ekosistem yang mengintegrasikan konservasi mangrove berpotensi meningkatkan keanekaragaman spesies. Implikasi hasil ini menekankan perlunya pengelolaan terpadu yang mempertimbangkan aspek ekologis dan sosial ekonomi guna menjaga keberlanjutan habitat mangrove di Kota Langsa. Kata kunci: diversitas, ekowisata, line-transect plot, mangrove.
Analisis Kualitas Dan Keamanan Pangan Terasi Melalui Uji TPC Dan Coliform di Laboratorium Kesmavet Sidoarjo Puspitasari, Nurfadilah; Khumairo, Nuris Khumairo; Listianti, Nindira Cahya; Wardiyah, Sri; Faizah, Hanik
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.3.16156

Abstract

Terasi merupakan salah satu bumbu tradisional Indonesia yang tidak hanya memberikan cita rasa unik pada masakan, tetapi juga mengandung nilai gizi yang tinggi. Kualitas terasi sangat ditentukan oleh mutu bahan baku, metode pengolahan, penanganan produk akhir, serta jenis mikroorganisme yang tumbuh selama proses fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pangan terasi berdasarkan jumlah total bakteri yang terdapat pada sampel terasi melalui uji TPC, mengetahui tingkat kontaminasi bakteri coliform pada sampel terasi yang diuji di UPTD Laboratorium Keswan Kesmavet Sidoarjo dan mengevaluasi keamanan pangan terasi dengan membandingkan hasil uji TPC dan coliform terhadap standar yang berlaku di bidang keamanan pangan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis kualitas dan keamanan pangan dengan menentukan nilai TPC dan nilai MPN pada enam sampel terasi yang beredar di pasaran. Hasil penelitian menunjukkan hasil uji Total Plate Count (TPC) pada enam sampel terasi, lima di antaranya memenuhi standar SNI yaitu TR 0 sebesar 2,5 x 10⁴ CFU/gr, TR 1 sebesar 3,7 x 105 CFU/gr, TR 2 sebesar 3,9 x 10⁵ CFU/gram, TR 4 sebesar 7,8 x 10³ CFU/gr dan TR 5 sebesar 3,0 x 10⁵ , sementara 1 sampel terasi melebihi batas yang ditetapkan yaitu TR 3 sebesar 5,7 x 10⁵. Sedangkan hasil uji coliform pada seluruh sampel terasi dari TR 0 hingga TR 5 menunjukkan hasil negatif dengan nilai MPN sebesar <3 MPN/gr. Kata kunci : Coliform, MPN, Terasi, TPC
Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Termofililk Penghasil Enzim Protease Asal Sumber Air Panas Way Belerang, Lampung Suryanti, Aulia Putri; Suryanti, Erma; Asagabaldan, Meezan Ardhanu
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.3.16255

Abstract

Protease merupakan enzim yang menghidrolisis ikatan peptida pada protein. Enzim ini biasa dimanfaatkan dalam industri pangan, pertanian, medis hingga membantu dalam proses pencernaan. Pencarian enzim protease dari bakteri diperlukan terutama bakteri yang memiliki ketahanan terhadap suhu tinggi, seperti bakteri termofilik. Bakteri termofilik dapat hidup pada suhu diatas 45ºC dan dapat hidup optimal pada suhu antara 50ºC-65ºC. Bakteri termofilik dapat diperoleh salah satunya dari Sumber Air Panas Way Belerang yang terletak di Kalianda, Lampung Selatan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengisolasi bakteri termofilik asal Sumber Air Panas Way Belerang, mengkarakterisasi bakteri termofilik penghasil enzim protease, serta menguji aktivitas enzim protease secara kualitatif dan kuantitatif dari bakteri termofilik asal pemandian air panas Way Belerang. Metode penelitian ini terdiri atas isolasi sampel bakteri dari sedimen dan air dari Way Belerang, uji kualitatif enzim protease bakteri termofilik, karakterisasi makroskopik dan mikroskopik bakteri penghasil enzim protease, kurva pertumbuhan bakteri, pengujian aktivitas enzim protease secara kuantitatif, serta analisis data. Hasil penelitian diperoleh 26 isolat bakteri hasil isolasi dari Sumber Air Panas Way Belerang yang diperoleh dari sampel air dan sedimen. Isolat tersebut diujikan aktivitas protease secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif diperoleh 11 dari 26 isolat yang terdapat aktivitas proteolitik pada pengujian di suhu 53 oC dan pada media NA + 1 % skim milk powder. Isolat S5.1 memiliki Indeks proteolitik tertinggi sebesar 3.59 yang ditandai dengan adantyz zona bening di sekitar koloni bakteri pada media media NA + 1 % skim milk powder. Aktivitas protease secara kuantitatif sebesar 0.0204 unit/ml pada suhu 53 oC Karakterisasi morfologi menunjukkan bakteri A9.5 adalah Gram positip. Bakteri termofilik S5.1 berpotensi sebagai penghasil enzim protease dan perlu dikarakterisasi lebih lanjut aktivitasnya dengan variasi pH dan suhu untuk mendapatkan aktivitas enzim yang optimal untuk aplikasi industri yang memerlukan enzim termostabil. Kata kunci : Bakteri termofililk, enzim protease, Sumber air panas Way Belerang
Pengaruh Pemberian Kombinasi Vermikompos dan Eco- enzyme terhadap Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis sativus L.) Kelar, Luh Cinta Tarissyah Putri; Edi, Syahmi
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.3.16424

Abstract

Salah satu kendala utama dalam peningkatan produksi mentimun di Indonesia adalah rendahnya produktivitas tanaman berkualitas. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kandungan hara pada media tanam. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh interaksi vermikompos dan eco-enzyme, pada respon pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun (Cucumis sativus L.). Penelitian ini dilaksanakan di UPT Pengembangan Benih Hortikultura Kota Medan, penelitian berlangsung dari Agustus hingga November 2024 dengan metode Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor pertama adalah Vermikompos (A0: kontrol, A1: 10%, A2: 20%, A3: 30%), dan faktor kedua adalah Eco-enzyme (B0: kontrol, B1: 10 ml/L, B2: 20 ml/L, B3: 30 ml/L), menghasilkan 16 kombinasi perlakuan. Analisis data dilakukan dengan ANOVA dua arah pada SPSS dan uji DMRT. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi dengan dosis tertinggi yaitu A3B3 (tanah 3.5 kg + vermikompos 1.5 kg + eco-enzyme 30 ml) memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan dengan pemberian perlakuan dengan dosis yang lebih rendah terhadap setiap parameter tanaman mentimun yakni pada tinggi tanaman sebesar 285,33 cm, jumlah daun sebanyak 241 helai, jumlah buah sebanyak 9, berat buah sebesar 2165 gr, dan berat segar tanaman sebesar 100.66 gr. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian kombinasi unsur hara yang tepat seperti vermikompos dan eco-enzyme, dapat mencukupi kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman mentimun dan memberikan hasil yang lebih baik, sehingga petani dapat meningkatkan produktivitas mentimun di Indonesia melalui pembudidayaan yang maksimal Kata kunci : Mentimun, Eco-enzyme, Pupuk Organik, Vermikompos
Keragaman Jenis Tumbuhan Paku Terestrial di Kawasan Bendung Amandit Kabupaten Hulu Sungai Selatan Mahmudah, Rif'atul; Mahrudin, Mahrudin; Halang, Bunda
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.3.17014

Abstract

Tumbuhan paku merupakan kelompok tumbuhan kosmopolit yang dapat ditemukan di berbagai jenis habitat dan memiliki nilai ekologis maupun ekonomis, seperti dimanfaatkan sebagai tanaman hias, sayuran, serta bahan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis tumbuhan paku terestrial di kawasan Bendung Amandit, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode line transek pada empat transek sepanjang 500 meter, serta pengukuran parameter lingkungan seperti intensitas cahaya, kecepatan angin, pH tanah, kelembapan tanah, kelembapan udara, suhu udara, dan ketinggian tempat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 12 jenis tumbuhan paku terestrial yang termasuk ke dalam 6 famili, yaitu Christella dentata, Pityrogramma calamelanos, Taenitis blechnoides, Lygodium circinnatum, Selaginella plana, Schizaea dichotoma, Schizaea digitata, Tectaria polymorpha, Pteris fauriei, Selaginella ornata, Nephrolepis exaltata, dan Pteris ensiformis. Kata kunci: bendung amandit, hulu sungai selatan, keragaman, tumbuhan paku
Etnobotani Tumbuhan Obat pada Gradien Ketinggian di Lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah, Indonesia Budiatmadja, Sabda Apriliana; Muliawati, Aldina Himmarila; Soraya, Nova Dewi; Amri, Shoiful; Mada, Caesar Nobel Fairuz; Rifa'i, M. Aris Maulana; Suryono, Dhidhit; Setyawan, Haris
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.3.17299

Abstract

Ekosistem hutan pegunungan Indonesia, seperti kawasan Tahura KGPAA Mangkunagoro I di Gunung Lawu, merepresentasikan lanskap bio-kultural yang unik dengan keanekaragaman hayati tinggi dan tradisi pengetahuan lokal yang berkelanjutan, sehingga menjadi sumber penting bagi kesehatan, kesejahteraan masyarakat, serta konservasi lingkungan. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan etnobotani dan potensi farmakologis tumbuhan obat di sepanjang gradien ketinggian Tahura KGPAA Mangkunagoro I, Gunung Lawu, sebagai landasan ilmiah untuk konservasi dan pengembangan etnobotani tumbuhan obat. Metode transek sabuk sepanjang 8,6 km dengan lebar 10 m digunakan untuk inventarisasi spesies, dilengkapi wawancara semi-terstruktur dengan masyarakat lokal dan validasi literatur farmakologi. Hasil identifikasi menemukan 66 spesies tumbuhan obat dari 41 famili, dengan famili dominan yaitu Euphorbiaceae, Lauraceae, dan Moraceae. Zona Montana Bawah (1200–1500 mdpl) memiliki kekayaan spesies tertinggi (38 spesies, 57,58%), diikuti Zona Montana Atas (1501–2400 mdpl) dengan 22 spesies (33,33%), dan Zona Sub-Alpin (>2400 mdpl) dengan 6 spesies (9,09%). Habitus yang paling banyak dimanfaatkan adalah perdu (30,30%), diikuti herba (28,79%) dan pohon (18,18%). Daun merupakan bagian yang paling sering digunakan (44,19%), disusul akar (11,63%) dan buah (10,47%). Validasi ilmiah menunjukkan kesesuaian tinggi antara penggunaan tradisional dan khasiat farmakologis, seperti Centella asiatica untuk penyembuhan luka dan Clinacanthus nutans sebagai antidiabetik. Beberapa spesies, seperti Trevesia sundaica, masih memerlukan penelitian farmakologis lanjutan untuk membuktikan klaim tradisionalnya. Studi ini menegaskan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati dan pengetahuan tradisional di kawasan pegunungan tropis serta membuka peluang pengembangan fitofarmaka berbasis kearifan lokal. Kata kunci : etnobotani, Gunung Lawu, Tahura KGPAA Mangkunagoro I, tumbuhan obat.
Uji Pengaruh Ekstrak Etanol Buah Pedada (Sonneratia caseolaris) Terhadap Penurunan Kadar Asam Urat Mencit (Mus musculus) Jantan Handayani, Resti; Pagarra, Halifah; Mu'nisa, A.; Hala, Yusminah
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.3.17337

Abstract

Buah Pedada (Sonneratia caseolaris) ialah salah satu jenis tanaman mangrove yang memiliki banyak kandungan yang bermanfaat untuk kesehatan manusia. Asam urat adalah adalah salah satu penyakit yang paling banyak dialami karena disebabkan oleh purin yang tinggi di dalam tubuh manusia atau karena faktor makanan. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk melihat pengaruh ekstrak etanol buah pedada dalam menurunkan kadar asam urat. Penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan jumlah mencit 15 ekor yang dibagi dalam 5 kelompok perlakuan dengan ulangan 3 ulangan yaitu P1 diberi ekstrak etanol buah pedada 150 mg/kgBB, P2 diberi ekstrak etanol buah pedada 250 mg/kgBB, P3 diberi ekstrak etanol buah pedada 350 mg/kgBB, K+ diberi alloporinol 0,26 mg/kgBB, dan K- diberi pakan standar. Pada penelitian ini dilakukan Skrining Fitokimia untuk mengetahui senyawa-senyawa yang terkandung didalam ekstrak etanol buah pedada yang dapat menurunkan kadar asam urat pada mencit. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Hasil uji Skrining Fitokimia ekstrak etanol buah pedada didapatkan beberapa kandungan senyawa yang positif yaitu alkaloid, flavonoid, steroid, saponin, dan tanin. Hasil pengujian pada kadar asam urat menunjukkan adanya pengaruh pemberian ekstrak etanol buah pedada terhadap penurunan kadar asam urat pada mencit (Mus musculus) jantan. Pemberian ekstrak etanol buah pedada dengan dosis 350 mg/kgBB memberikan pengaruh yang paling tinggi untuk menurunkan kadar asam urat. Kata kunci : Asam urat, Hiperusemia, Mus musculus, Sonneratia caseolaris, Skrining fitokimia
Struktur Populasi dan Laju Eksploitasi Ikan Nilem (Osteochilus Vittatus Valenciennes, 1842) di Aliran Sungai Logending, Kebumen Hazmi, Muhammad Zikri; Rukayah, Siti; Sastranegara, Moh. Husien; Lestari, W.
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 7 No 3 (2025): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2025.7.3.16662

Abstract

Ikan nilem (Osteochillus vittatus Valenciennes, 1842) adalah anggota familia Cyprinidae yang tersebar di daerah Asia termasuk Asia Tenggara. Di Pulau Jawa ikan nilem dapat ditemukan di beberapa sungai seperti Sungai Banjaran, Sungai Cimanuk dan Sungai Brantas. Pengetahuan mengenai aspek ekologi O. vittatus sangat diperlukan untuk upaya pelestariannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis struktur populasi (kelimpahan, sebaran panjang dan bobot) serta menentukan laju eksploitasi O. vittatus di Sungai Logending. Penelitian ini dilakukan di Sungai Logending Kebumen menggunakan metode survei dan teknik purposive random sampling. Sungai Logending dibagi ke dalam 10 stasiun dengan alasan kemudahan akses masuk kedalam sungai dan pengalaman nelayan mendapat ikan. Pengambilan dilakukan 2 kali dengan interval waktu satu bulan. Hasil penelitian ini menunjukan hasil kelimpahan O. vittatus di kesepuluh stasiun berfluktuasi dan cenderung meningkat ke arah muara sungai, akan jumlah individu ikan antarstasiun tidak berbeda secara signifikan (H = 2,33 ; p > 0,05). Analisis sebaran panjang dan bobot didapat panjang maksimal 164 mm dan panjang minimum 37 mm secara berturut di Stasiun 2 dan Stasiun 10, Ikan dengan bobot maksimal 53,15 g diperoleh di Stasiun 2, ikan dengan bobot minimal 0,22 g diperoleh di Stasiun 10. Sebaran panjang dan bobot O. vittatus menunjukkan bahwa struktur populasi ikan di Sungai Logending masih tergolong sehat, ditandai oleh proporsi ikan benih, ikan matang gonad, dan ikan tua masing-masing sebesar 54,8%, 32,5%, dan 12,7%, tetapi hasil analisis ELEFAN 1 menunjukkan bahwa panjang tangkap pertama (Lc) ikan nilem adalah 49 cm, yang lebih pendek dibandingkan panjang pertama ikan matang gonad (Lm), sehingga mencerminkan bahwa praktik pengusahaan sumber daya ikan belum optimal. Analisis nilai mortalitas penangkapan (F), mortalitas alami, mortalitas total dan laju eksploitasi. berdasarkan analisis program FISAT II adalah 1,22; 1,55; 2,77; dan 0,44 per tahun menunjukkan ikan nilem belum mengalami overfishing.

Page 1 of 1 | Total Record : 10