cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 401 Documents
MORFOLOGI KEPITING Albunea symmysta (ALBUNEIDAE:CRUSTACEAE) DARI PANTAI PARANGKUSUMO YOGYAKARTA Purry, Dyah; Bhagawati, Dian; Nuryanto, Agus
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1842

Abstract

Familia Albuneidae terdiri atas Sembilan Genus dan salah satunya yaitu Albunea. Distribusi Albunea di Indonesia telah dilaporkan oleh beberapa peneliti terdahulu, diantaranya terdapat di pesisir Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Aceh, dan Bengkulu. Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan di Pantai Parangkusumo Yogyakarta telah ditemukan kepiting yang memiliki morfologi hampir sama dengan dengan spesies Albunea symmysta yang pernah ditemukan sebelumnya di lokasi yang berbeda. Atas dasar hal tersebut maka telah dilakukan kajian untuk mengetahui kepastian nama spesiesnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kepiting Albunea yang dimiliki oleh yang berasal dari pantai Parangkusumo Yogyakarta serta untuk mengetahui semua karakter performa dan meristik milik kepiting Albunea yang berasal dari pantai Parangkusumo. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan pengambilan sampel secara purposive random sampling. Sampel dari pantai Parangkusumo diambil sebanyak dua kali dengan interval waktu dua minggu, pengambilan sampel dilakukan hingga memperoleh jumlah sampel sebanyak 60 ekor. Identifikasi dilakukan berdasarkan karakter morfologi, yang meliputi performa, morfometri dan meristik. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk performa dan meristik, sedangkan morfometrik dengan uji T. Berdasarkan pengamatan performa morfologi, meristik, hasil penelitian yang didapat yaitu kepiting Albunea yang diperoleh dari Parangkusumo Yogyakarta adalah spesies Albunea symmysta yang memiliki karakter karapas dengan bentuk hampir empat persegi panjang, memiliki antenula yang sangat panjang, karapas dengan permukaan rata, memiliki dactylus pertama subchelate, memiliki 9-12 buah duri anterolateral dan memiliki tujuh buah segmen flagella antena
Isolation and Characterization of Plant Growth Promoting Rhizobacteria from Ipomoea sp. Rhizospheres Growing in Iron Sand Soil nurainy, niharoh; Oedjijono, Oedjijono; Maharning, Ardhini Rin
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1845

Abstract

Iron sand field, is mostly found along the Indonesia coast. It has low organic matter, contains 38-59% iron (Fe) and sand particles. These characteristics can be called as extreme environments, however there are bacteria capable of growing and surviving in such habitats. Several genera are known as PGPR agents such as Rhizobium, Azospirillum, Azotobacter and Pseudomonas. The research objectives were to measure total population of bacteria from rhizosphere of Ipomoea sp. in iron sand soils, to investigate the ability of bacterial isolates capable of fixing nitrogen, solubilizing phosphate, and producing plant growth hormone such as IAA, and to identify plant growth promoting rhizobacteria isolated from plant rhizospheres candidates growing in iron sand soils. Isolation on NA medium showed that the population were ranged from 1.59 x 105 to 5.2 x 105 CFU.g-1. There were 22 bacterial isolates originated from the media of Ashby, Caceres, and Pikovskaya. Six isolates (A4, A10, C10, P2, P3, and P4) showed high ability to fix nitrogen, solubilize phosphate, and produce IAA. Isolate P4 grew in nitrogen fixing and phosphate solubilizing assay as well as IAA producing. It showed high value of phosphate index (275 mm). Bacterial identification indicated that four isolates (C10, P2, P3, P4) were species members of genus Bacillus and two isolates (A4, A10) were identified as species members of Actinomycetes.
Keanekaragaman Tumbuhan Bawah pada Berbagai Umur Tegakan Jati (Tectona grandis L.) di KPH Banyumas Timur Setiayu, Dian Putri; Wibowo, Dwi Nugroho; Yani, Edy
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1856

Abstract

Salah satu unit pengelolaan Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani) yang mengembangkan hutan jati adalah Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyumas Timur. Hutan jati yang dikelola KPH Banyumas Timur terdiri dari berbagai kelompok umur. Umur tegakan berkaitan dengan tutupan tajuk dari pohon di sekitar tumbuhan bawah yang berpengaruh terhadap keanekaragaman tumbuhan bawahnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis vegetasi keanekaragaman dan kemerataan jenis tumbuhan bawah pada berbagai umur tegakan Jati (Tectona grandis L.) di KPH Banyumas Timur. Penelitian dilakukan di Hutan jati BKPH Kebasen, KPH Banyumas Timur, dengan tiga kelompok umur tegakan yaitu 16, 20 dan 22 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada berbagai umur tegakan jati di KPH Banyumas Timur terdapat 34 jenis tumbuhan bawah dari 17 familia. Tegakan jati umur 16 tahun memiliki keragaman tumbuhan tertinggi dengan indek nilai penting tertinggi sebesar 42,77% pada Echinochloa colona (L.) dari familia Poaceae. Keanekaragaman tumbuhan bawah pada tegakan jati dengan umur 16 tahun sebesar 2,12 dengan kemerataan jenis sebesar 0,73. Nilai kesamaan jenis tertinggi sebesar 30,77% dari tegakan jati berumur 20 tahun sedangkan tegakan jati berumur 16 tahun dengan 20 tahun sebesar 25% dan 26,67%. Komposisi dan distribusi serta tinggi rendahnya keanekaragaman tumbuhan bawah pada ketiga tegakan jati umur berbeda, dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang terbentuk disekitar tegakan.
Keragaman dan Kelimpahan Kupu – Kupu Familia Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah Muttaqin, Edwin; Widhiono, Imam; Darsono, Darsono
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1858

Abstract

Penelitian mengenai keanekaragaman kupu-kupu famili Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah belum pernah dilakukan sebelumnya. Mengingat pentingnya familia Papilionidae di alam dan untuk mengantisipasi kerusakan habitatnya maka perlu diadakan penelitian mengenai keanekaragaman kupu-kupu familia Papilionidae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman dan kelimpahan kupu-kupu famili Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah. Penelitian dilakukan di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah dengan menggunakan metode survey. Penelitian menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode Pollard Walk. Stasiun penelitian di bagi menjadi 5 stasiun berdasarkan jarak dari tepi hutan ke dalam hutan yaitu 0 m, 50 m, 100 m, 150 m, dan 200 m dari tepi hutan.. Setiap stasiun dibuat transek sebanyak 4 garis transek tetap dengan panjang 200 m dan lebar 5 m. Penangkapan kupu-kupu dilakukan menggunakan jaring serangga sepanjang garis transek. Data kekayaan spesies dan kelimpahan dihitung keragamanya menggunakan indeks Shannon-Wienner, indeks dominasi Simpson, dan indeks kemerataan (Shannon Evenness E). Penghitungan indeks keragaman menggunakan bantuan software Biodiversity Pro. Hasi penelitian menunjukan Keanekaragaman kupu-kupu famili papilionidae di kawasan cagar alam Bantarbolang pada jarak 0 – 150 m tepi hutan masuk kategori sedang karena memiliki nilai 1≤H’≤3. Keanekaragaman pada jarak 200 m tepi hutan masuk kategori rendah karena memiliki nilai ≤3. Kelimpahan kupu-kupu famili Papilionidae cenderung mengalami penurunan dari 0 m tepi hutan kearah 200 m tepi hutan hutan dikarenakan adanya efek tepi hutan berupa faktor lingkungan meliputi suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya. Spesies kupu-kupu paling jarang ditemukan adalah Papilio coon coon dan terdapat species langka yang dilindungi yaitu Troides Helena
Efektivitas Zat Aktif Fipronil pada Berbagai Substrat Fagostimulan untuk Pengendalian Kecoak Jerman (Blattella germanica L.) Maula, Riska Isna; Pratiknyo, Hery; Susilo, Untung; Ambarningrum, Trisnowati Budi
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1859

Abstract

German cockroach (Blattella germanica L.), is a residential insect pest and vector of various diseases. To control its population, alternative chemical control models with Fipronil 0.03% are now being developed. Fipronil has been proven to be effective and has no resistance. To increase the effectiveness of the bait in controlling German cockroaches, a fipronil 0.03% combination needs to be developed with a phagostimulant bait of bananas, durian, erythisol sugar, and sugar formulation, so this study needs to be done. This study used an experimental method with a randomized block design (RBD), five treatments such as A: bait with a combination of banana phagostimulant and 0.03% fipronil, B: bait with a combination of durian phagostimulant and 0.03% fipronil, C: bait with a combination erythisol phagostimulant and 0.03% fipronil, D: bait with a combination of sugar phagostimulant and 0.03% fipronil, K: bait with a combination of matrix and fipronil 0.03% (control positive) was used for the interest test, and bait with a matrix without fipronil 0.03% (control negative) was used for mortality testing. The observations the average results for durian, banana, sugar formulated, erytrisol sugar and controls, respectively 20%, 20%, 21.6%, 12.4%, and 22.8%, while the results bait consumed with durian stimulation are 0.29g, banana 0.31g, sugar formulation 0.28g, erytrisol sugar 0.26g and control 0.24g. However, based on statistical tests, the results of the interest test with the feed consumption test between treatments showed no significant difference (p>0.05). The test results in mortality of cockroaches Germany's feed with phagostimulan durian, banana, formulations sugar, sugar erytrisol and control consecutively 98% 100 %, 98%, 98%, and 20%, based on the statistical test there is a significant difference (p<0.05), where the difference based on the Duncan test is their treatment compared to control.
HUBUNGAN UMUR DENGAN Biomassa, Stok karbon dioksida, Tegakan POHON DUKU (Lansium parasiticum) DI DESA KALIKAJAR KECAMATAN KALIGONDANG KABUPATEN PURBALINGGA Nuranisa, Septi; Sudiana, Eming; Yani, Edy
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1866

Abstract

This research entitled "Age Relationship with Carbon Dioxide Stock of Duku Tree (Lansium parasiticum) in Kalikajar Village, Kaligondang District, Purbalingga Regency". The puspoe of this research are: 1) Knowing the effect of stand age on the amount of carbon dioxide stock stored in duku stands (Lansium parasiticum) in Kalikajar Village, Kaligondang District, Purbalingga Regency. 2) Knowing the age of duku plants (Lansium parasiticum) in Kalikajar Village, Kaligondang District, Purbalingga Regency which has the most potential carbon dioxide stock. The research used survey method by determining tree biomass using stratified random sampling. The strata used is the age of duku plants. Each age strata is taken 3 trees to measure its diameter. The land area is divided by the planting distance to get the results of plant density in that location. Measurement of stand stem diameter is carried out on stand stems at the researchers' chest height (at breast height or dbh). The measuring tape is wrapped around the stand stems in a parallel position for all directions so that the data obtained is the circumference or convolution of the stem (circumference of the stem = 2πr). Age, biomass, and carbon stock data were analyzed using variance analysis (Anova), while the relationship between biomass and carbon stock was analyzed using Pearson correlation and regression analysis. The regression analysis between age and carbon dioxide stock shows an exponential pattern. The lowest corbon dioxide stock of the duku plant is found in the age group <5 years, which is 9.54 tons/ha, while the largest carbon dioxide stock of the duku tree is in the age group > 30 years (40 years) which is 74.89 tons/ha. Thus, this study has not yet gotten the most optimal tree age in storing carbon dioxide. Therefore it is necessary to do research on duku trees that are older than 40 years.
BIOPULPING BAGASSE DENGAN MENGGUNAKAN JENIS JAMUR PELAPUK PUTIH DAN WAKTU INKUBASI YANG BERBEDA cristy, angelin marhavyna; Mumpuni, Aris; Ratnaningtyas, Nuniek Ina
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 3 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.1878

Abstract

Bagasse is fibrous residue that remains after the sugarcane is crushed to extract it’s juice. It mostly consists of lignocellulosic materials that may provide material for paper production through biopulping process. White rot fungi (WRF) is producers of extracellular ligninolytic enzymes that has the capability to mineralize lignin compounds. Three types of white rot fungi that were used in this study are Phanerochaete chrysosporium, Pleurotus ostreatus and Schizophyllum commune. Each of it was inoculated on bagasse substrate within 0, 15, and 30 days of incubation. This study was aimed to know the effect of interaction between white rot fungi and incubation time in the biopulping process and to investigate the most appropriate fungus and incubation time to produce good material for paper making obtained from sugarcane bagasse. The experimental design was done by using Completely Randomized Design (CRD) with a factorial pattern in two factors and analyzed by using Analysis of Variance (ANNOVA) then followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) on highly different significance effect of the treatment. The result of this study showed that S. commune is the most effective fungi to degrade highly lignin content (17.38% to 8.88%) at 30 days of incubation, while P. chrysosporium is the most effective fungi to lowering cellulose content in small amount (23.64% to 19.38%) during 30 days of incubation.
Pengaruh Cercospora sp. terhadap Kandungan Asam Askorbat pada MekanismePatogenisitas Bercak Daun Tanaman Cabai : Kajian secara In vitro dan In planta Yuliawati, Nasriyatun; Mumpuni, Aris; Muljowati, Juni Safitri
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1896

Abstract

Red chili is a vegetable commodity that has high economic value in Indonesia. Leaf spot disease caused by the fungus Cercospora sp. is one of the limiting factors in red chili production. The occurrence of leaf spot disease is determined by the success of the pathogenesis by the fungus Cercospora sp. In addition, red chilies that are resistant to leaf spot disease have higher ascorbic acid content than vulnerable red chilies. The purpose of this study was to determine the ability to grow pathogens Cercospora sp. on the medium which was given ascorbic acid and know the effect of inoculation of the pathogen Cercospora sp. against ascorbic acid content in red chili leaves (C. annuum L.). This study used an experimental design with a completely randomized design (CRD). In vitro tests carried out consisted of PDA and PDB medium which were given ascorbic acid with a concentration of 0 mg.l-1, 0,25 mg.l-1, 0,5 mg.l-1, 0,75 mg.l-1 and 1,0 mg.l-1. In planta testing was using hot chili red chili varieties, large red chili varieties and curly red chili varieties. The treatments that were tested included calculation of disease intensity and ascorbic acid content in red chili leaves. In vitro test the main parameters observed were the diameter colony of the fungus Cercospora sp. dan mycelium dry weight. In planta test the main parameters observed were the intensity of the disease, while the supporting parameters were the incubation period of the disease, the content of ascorbic acid in the red chili leaves, temperature and humidity. In vitro test data obtained were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 95% confidence level, then the treatment that gave a real or very real difference was followed by the Least Significant Difference test (LSD). In planta test data obtained were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 95% confidence level, then the treatment that gave a real or very real difference was followed by the Least Significant Difference test (LSD). The results showed that the pathogen Cercospora sp. able to grow well on the PDA medium and GDP medium which were given ascorbic acid. Inoculation of pathogen Cercospora sp. can increase ascorbic acid content in red chili leaves.
KEANEKARAGAMAN DAN KEMERATAAN SPESIES KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA: NYMPHALIDAE) DI HUTAN CAGAR ALAM BANTARBOLANG, PEMALANG, JAWA TENGAH Lestari, Mega; Widhiono, Imam; Darsono, Darsono
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1911

Abstract

Kupu-kupu (Lepidoptera) menjadi objek penelitian karena kupu-kupu merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestariannya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman jenisnya. Kupu-kupu mempunyai nilai penting diantaranya adalah secara ekologis kupu-kupu berperan dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem, sehingga perubahan keanekaragaman dan kepadatan populasinya dapat dijadikan sebagai salah satu indikator kualitas lingkungan. Mengingat pentingnya kupu-kupu di alam dan untuk mengantisipasi kerusakan habitatnya maka perlu diadakan penelitian mengenai keanekaragaman kupu-kupu. Metode yang digunakan yaitu sweeping. Analisis data diperoleh dengan menggunakan metode deskriptif dengan menghitung keragaman dan kemerataan. Indek yang digunakan untuk mengetahui keragaman adalah indeks Shannon-Wiener, Indeks dominansi Simpson’s, Indeks kemerataan Shannon-Evennes dan perhitungan indeks keragaman dibantu dengan software Biodiversity Pro (BDPro). Keanekaragaman famili Nymphalidae dikategorikan sedang dengan kemerataan relatif stabil. Efek tepi tidak berpengaruh terhadap kelimpahan di lokasi penelitian. Faktor lingkungan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya keanekaragaman dan kemerataan spesies dari famili Nymphalidae di Cagar Alam Bantarbolang.
EFEKTIVITAS PENYERBUKAN LEBAH MADU (Apis mellifera) PADA TANAMAN STROBERI (Fragaria x ananassa var Duch.) DI DESA SERANG, PURBALINGGA Sari, Widy Retno; Widhiono, Imam Widhiono MZ; Darsono, Darsono
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1917

Abstract

Stroberi merupakan tanaman yang memiliki bunga hemaprodit, dimana dalam satu bunga terdapat satu pasang organ reproduktif (jantan dan betina). Tingkat kematangan organ reproduktif tersebut berbeda, sehingga peryerbukan pada bunga stroberi membutuhkan bantuan salah satunya adalah peranan dari serangga penyerbuk. Lebah madu dari jenis Apis mellifera merupakan serangga paling penting sebagai penyerbuk pada tanaman. Lebah madu dapat mengangkut serbuk sari dalam jumlah banyak dan berpengaruh terhadap jumlah produksi stroberi. Efektivitas penyerbukan serangga penyerbuk dapat dilihat dari jumlah biji dan bobot buah yang dihasilkan. Aktivitas dan efektivitas Apis mellifera dalam melakukan penyerbukan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan diantaranya suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan dengan aktivitas penyerbukan Apis melifera dan efektivitas penyerbukan Apis mellifera pada tanaman stroberi dalam meningkatkan bobot buah di desa Serang, Purbalingga. Penelitian dilakukan di lahan pertanian Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Metode penelitian menggunakan metode survai Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah waktu kunjungan lebah, lama kunjungan lebah, faktor lingkungan meliputi suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya. Adapun parameter yang diamati adalah bobot buah stroberi yang dihasilkan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Regresi-Korelasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahwa intesitas cahaya mempunyai korelasi paling tinggi (r = 0,668) terhadap bobot buah dan aktivitas penyerbukan (r = 0,768), hal ini disebabkan karena cahaya merupakan salah satu faktor lingkungan yang penting untuk mencari makanan. Efektivitas penyerbukan Apis mellifera pada tanaman stoberi pada aktivitas kunjungan yang tinggi menurunkan bobot buah stroberi.