cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 401 Documents
PENGARUH Colletotrichum coccodes TERHADAP KANDUNGAN ASAM ASKORBAT PADA MEKANISME PATOGENISITAS ANTRAKNOSA TANAMAN CABAI: KAJIAN SECARA IN VITRO DAN IN PLANTA meilasari, fadhila; Muljowati, Juni Safitri; Mumpuni, Aris
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1918

Abstract

Patogen Colletotrichum coccodes merupakan salah satu patogen yang dapat menginfeksi tanaman cabai dan menyebabkan penyakit antraknosa terutama pada bagian buah dan daun. Tanaman dengan kandungan asam askorbat tinggi memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap serangan patogen. Tanaman cabai yang tahan memiliki kandungan asam askorbat yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman cabai toleran maupun rentan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan tumbuh patogen C. coccodes pada medium yang diberi asam askorbat dan mengetahui pengaruh inokulasi patogen C. coccodes terhadap kandungan asam askorbat pada daun cabai. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi, Laboratorium Lingkungan, & Greenhouse Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan dua uji yaitu uji in vitro dan uji in planta dengan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL), Uji in vitro menggunakan A) Medium PDA diberi asam askorbat; B) Medium PDB diberi asam askorbat dengan perlakuan penambahan asam askorbat sebanyak 0 mg.L-1 (kontrol); 0,25 mg.L-1; 0,50 mg.L-1; 0,75 mg.L-1; dan 1 mg.L-1, diulang sebanyak lima kali. Variabel bebas yang digunakan yaitu berbagai dosis asam askorbat, variabel terikatnya adalah pertumbuhan patogen C. coccodes. Parameter utama yaitu diameter koloni dan bobot kering miselium. Uji in planta menggunakan tiga varietas cabai (V1: Cabai merah hot chili; V2 Cabai merah keriting; V3: Cabai merah besar), uji A) Uji intensitas penyakit pada tanaman dan B) Uji kandungan asam askorbat. Masing-masing kelompok uji diulang sebanyak lima kali. Variabel bebas yang digunakan adalah varietas cabai merah, variabel terikatnya adalah nilai kerusakan tanaman berdasarkan kategori yang diamati pada waktu pengamatan yang ditentukan. Parameter utama yaitu intensitas penyakit, dan parameter pendukung yaitu periode masa inkubasi, kandungan asam askorbat pada daun cabai, temperatur, kelembaban dan pH tanah. Data uji in vitro dan uji in planta yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, dan perlakuan yang memberikan perbedaan nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian pada uji in vitro menujukkan bahwa patogen C. coccodes memiliki kemampuan tumbuh yang baik pada medium PDA dan medium PDB dengan penambahan asam askorbat. Hasil penelitian pada uji in planta, inokulasi patogen C. coccodes pada daun cabai merah dapat meningkatkan kandungan asam askorbat pada tanaman cabai merah Kata kunci : Colletotrichum coccodes, Cabai Merah, Antraknosa, Asam askorbat.
Keanekaragaman Tumbuhan Paku Terestrial di Cagar Alam Pemalang Jawa Tengah Laely, Sulistiani Nur; Widyastuti, Ani; Widodo, Pudji
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1966

Abstract

Tumbuhan paku adalah tumbuhan perintis yang dapat ditemukan di setiap tipe kawasan hutan dan memegang peranan penting dalam menyusun ekosistem hutan. Kawasan hutan dapat mengalami perubahan fungsi yang antara lain diakibatkan oleh perbedaan kondisi di tepi hutan dengan di dalam hutan. Dampak dari bertemunya dua kondisi lingkungan yang berbeda tersebut terhadap tumbuhan dan hewan dapat disebut efek tepi (edge effect). Penelitian dilakukan di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman dan faktor lingkungan tumbuhan paku terestrial di Cagar Alam Bantarbolang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Indeks Nilai Penting (INP), Indeks Keanekaragamaan (H’) Shannon-Wiener, Indeks Kemerataan Spesies (e), dan Indeks Kesamaan Komunitas (IS). Hasil penelitian di Cagar Alam Bantarbolang diperoleh tumbuhan paku terestrial sebanyak 10 spesies yang terdiri dari 400 individu termasuk dalam 6 familia. Spesies yang paling banyak ditemukan yaitu Stenochlaena palustris dengan 205 individu. Cagar Alam Bantarbolang dipengaruhi oleh efek tepi, karena semakin ke dalam hutan jumlah spesies tumbuhan paku terestrial semakin sedikit. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap jumlah spesies tumbuhan paku terestrial yaitu suhu, intensitas cahaya dan pH tanah.
Pengaruh Pemberian Asam Humat pada Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Kandungan Polifenol Daun Binahong (Anredera cordifolia) Riyandi, FNU; Proklamasiningsih, Elly; Rochmatino, Rochmatino
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1967

Abstract

Tanaman Binahong (Anredera cordifolia) merupakan salah satu tanaman obat yang bermanfaat sebagai antioksidan. Kandungan senyawa aktif utama pada daun Binahong yaitu flavonoid yang merupakan salah satu senyawa golongan polifenol. Jenis flavonoid yang terkandung pada daun Binahong adalah flavonol. Penggunaan asam humat dapat meningkatkan kualitas media tanam sehingga pertumbuhan tanaman dapat meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh asam humat terhadap pertumbuhan dan kandungan polifenol daun Binahong dan menentukan konsentrasi asam humat yang efektif untuk meningkatkan pertumbuhan dan kandungan polifenol daun Binahong. Penelitian ini dilakukan di Greenhouse dan Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan asam humat pada media pasir dengan konsentrasi 0 g. kg-1; 4 g. kg-1; 8 g. kg-1; 12 g. kg-1 dan diulang sebanyak tiga kali. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah pertumbuhan tanaman meliputi jumlah daun, berat basah dan berat kering tanaman, serta kandungan polifenol pada daun Binahong. Data yang diperoleh dianalisis ragam atau Analisis of variance (ANOVA) dengan taraf uji 1%, kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf uji 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian asam humat pada media tanam mampu meningkatkan pertumbuhan dan kandungan polifenol daun Binahong dengan konsentrasi 12 g.kg-1.
Efek Subletal Limbah Batik terhadap Aktivitas Enzim Serum Glutamat Pyruvat Transaminase pada Serum Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Hani'ah, Umi; Hernayanti, Hernayanti; Simanjuntak, Sorta Basar Ida
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1971

Abstract

Limbah batik mengandung logam berbahaya diantaranya adalah Cr, Cu, Zn, dan Mn. Limbah batik yang dihasilkan dari industri tekstil umumnya merupakan senyawa anorganik non-biodegradable, yang dapat menyebabkan pencemaran terutama lingkungan perairan. Logam yang masuk dalam bentuk ion akan diikat oleh protein darah (Metalotionin), disebut ikatan M+Mt. Ikatan tersebut bersifat stabil dan tidak mudah lepas, sehingga memicu pembentukan radikal bebas. Radikal bebas akan menimbulkan reaksi peroksidasi lipid yang dapat merusak hati, sehingga terjadi peningkatan kadar enzim SGPT yang merupakan parameter gangguan pada fungsi hati. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dianggap sebagai bioindikator untuk studi toksikologi perairan dan monitoring lingkungan, mudah beradaptasi di segala kondisi lingkungan, dan memiliki nilai komersial yang tinggi. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan perlakuan konsentrasi limbah batik Naftol 17% v/v, 34% v/v, 51% v/v, dan kontrol yang dipaparkan selama 48 jam. Analisis data menggunakan uji Anova dengan taraf kepercayaaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efek subletal limbah batik terhadap aktivitas enzim SGPT pada serum ikan Nila (O. niloticus) nilainya berbanding lurus. Hasil perhitungan rerata aktivitas enzim SGPT selama 48 jam pada perlakuan kontrol 6,17±0,98 U/L, konsentrasi 17% v/v yaitu 11,67±1,51 U/L, konsentrasi 34% v/v yaitu 17,67±1,51 U/L, dan konsentrasi 51% v/v yaitu 121.83±1,9 U/L. Analisis Anova (α=0,05) didapatkan nilai F hitung (199,552) > F tabel (4,30). Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa perlakuan limbah batik dengan konsentrasi 51% v/v selama 48 jam, paling berdampak terhadap penurunan fungsi enzim SGPT.
Toksisitas Subletal Limbah Cair Batik hasil Biosorpsi terhadap Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) ditinjau dari Differensial Leukosit Agustiana, Hana; Lestari, Sri; Wibowo, Eko Setio`
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1973

Abstract

Penelitian tentang diferensial leukosit ikan yang terpapar limbah dari biosorpsi perlu dilakukan karena diferensial leukosit merupakan salah satu indikator keberadaan kontaminan yang masuk ke dalam tubuh ikan dan untuk memeriksa status kesehatan imunitas ikan. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pemaparan dan mengetahui konsentrasi limbah cair batik hasil biosorpsi yang paling berpengaruh terhadap differensial leukosit Ikan Mas (Cyprinus carpio L.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata persentase diferensial leukosit, untuk monosit, neutrofil, dan eosinofil tertinggi terdapat pada perlakuan 3,96 v.v-1 yaitu berturut-turut 7,50 ± 1,04%; 11,50 ± 1,64 %; 2,83 ± 0,17 % dan terendah terdapat pada perlakuan 0 v.v-1 yaitu berturut-turut 3,50 ± 0,083%; 7± 1,26 %; 0,66 ± 0,08%, serta rerata persentase limfosit yang tertinggi dari perlakuan 0 v.v-1 yaitu 81,50 ± 1,87% dan terendah dari perlakuan 3,96 v.v-1 yaitu 74,5 ± 3,33 %. Kesimpulan dari penelitian yaitu limbah cair batik hasil biosorpsi berpengaruh terhadap differensial leukosit yaitu terjadi peningkatan pada monosit, neutrofil, dan eusinofil serta penurunan pada limfosit. Selain itu, konsentrasi limbah cair batik hasil biosorpsi yang paling berpengaruh terhadap differensial leukosit adalah konsentrasi 3,96 v.v-1. Kata kunci : biosorpsi, differensial leukosit, limbah batik, ikan mas, toksisitas
Ketertarikan dan Kesukaan Kecoak Jerman, Blatella germanica L. (Dictyoptera: Blattellidae) Terhadap Fagostimulan Berbeda Ilhami, Femilia Hajar; Ambarningrum, Trisnowati Budi; Pratiknyo, Hery
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1983

Abstract

German cockroaches (Blatella germanica) L. are includes in settlement bugs that are hard to terminate. One alternative to control German cockroaches that are using bait. To make bait formulation, the first thing is look for the type of phagostimulant that can be interesting and attractive to German cockroaches. The purpose of this research is to study the type of phagostimulant that has the ability to attract and liked by German cockroaches. Phagostimulant types used are bananas, durian, sugar formulations, and erythrisol. Data from observations of interest in test interest were analyzed using the t test and calculation of the attraction index, while the data for German roaches favored were analyzed using ANOVA and index feeding calculations. The results obtained were that German cockroaches were attracted to bananas, durian, sugar formulations, and erythrisol. ANOVA analysis results obtained sig 0.029 (p <0.05). The results of the calculation of the attractiveness index and feeding index obtained German cockroaches are preferred by bananas compared to other phagostimulants. The conclusion of this study is the type of phagostimulant that can attract cockroaches Germany is banana, durian, sugar formulation, and erythrisol, while the type of phagostimulant most preferred by German cockroaches is banana.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tubuh Buah Coprinus comatus Menggunakan Pelarut dan Konsentrasi yang Berbeda terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Evita, Ellen; Ratnaningtyas, Nuniek Ina; Ryandini, Dini
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1989

Abstract

Coprinus comatus merupakan salah satu jamur yang dapat menghasilkan senyawa bioaktif. Ekstrak dari jamur ini sering digunakan pada bidang medis, seperti anti-kanker, anti-diabetes, dan penyakit kardiovaskular, namun masih belum ada informasi sebagai anti-bakteri. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui jenis pelarut yang menghasilkan rendemen tertinggi dan memiliki aktivitas antibakteri lebih tinggi terhadap E. coli dan S. aureus, mengetahui pengaruh umur simplisia terhadap aktivitas anti-bakteri, mengetahui konsentrasi terendah ekstrak tubuh buah C. comatus yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan S. aureus, mengetahui aktivitas penghambatan ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol terhadap E. coli dan S. aureus. Penelitian ini diawali dengan proses ekstraksi senyawa antibakteri dari C. comatus menggunakan metode maserasi. Pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi yaitu pelarut etanol dan etil asetat. Pengujian aktivitas anti-bakteri ekstrak C. comatus dilakukan terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Uji aktivitas anti-bakteri menggunakan simplisia berumur 7 bulan yang telah disimpan di lemari pendingin dan dibandingkan dengan ekstrak dari simplisia berumur 4 minggu. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental menggunakan rancangan penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan penggunaan pelarut dan konsentrasi ekstrak yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol memiliki rendemen lebih tinggi dari ekstrak etil asetat, namun aktivitas penghambatan ekstrak etil asetat lebih baik terhadap kedua bakteri dibandingkan ekstrak etanol. Simplisia berumur 4 minggu menunjukkan aktivitas penghambatan yang lebih baik dibandingkan simplisia berumur 7 bulan. Konsentrasi terendah yang dapat menghambat E. coli dan S. aureus adalah konsentrasi 6,75% dari kedua ekstrak. Secara umum lebih baik terhadap S. aureus lebih peka terhadap kedua ekstrak dibandingkan E. coli.
Pemberian Inokulum Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) Campuran terhadap Kemunculan Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Semangka [Citrullus lanatus (Thunb.) Matsum. & Nankai] Berbiji dan Non Biji Febriyana, Riska; Dwiputranto, Uki; Purwati, Endang Sri
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.2006

Abstract

Watermelon (Citrullus lanatus) is a plant originating from the dry region of North Africa and is now cultivated in almost all regions of the world as a fruit that has high economic value. Efforts to cultivate and breed watermelons become very important related to defense against disease. One of the dominant diseases in watermelon is fusarium wilt disease caused by Fusarium oxysporum. Mycorrhiza is a symbiotic mutualism between certain fungi and higher plants. Arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) can be used as an alternative in reducing fusarium wilt effect. The purpose of this research is to know the effect and effective dose of AMF mixture inoculum to reduce Fusarium wilt disease in seeded and seedless watermelon. This research used a completely randomized design (CRD) with different doses of mixed AMF inoculums (0, 5, 10, 15, 20 g) AMF with zeolite/plant carrier medium. The main parameters discussed are the disease intensity and disease incubation period, while the supporting parameters observed were pH, temperature, humidity, and degree of infection. The data obtained were analyzed using Variance Test (F test) with a Standard Error of 5%. The results of this research shows that there is effect of inoculation AMF mixture inoculum to reduce Fusarium wilt disease in seeded and seedless watermelon. The effective dose of AMF mixture to reduce the Fusarium wilt disease in seeded watermelon is inoculation AMF mixture dose 10 g / plant and inoculation AMF mixture dose 15 g/ plant in seedless watermelon.
Perilaku Memilih Umpan Dengan Fagostimulan Yang Berbeda Pada Kecoak Jerman Blattella germanica L. (Dictyoptera: Blattellidae) Aliefia, Rizky Arjunnajat; Ambarningrum, Trisnowati Budi; Basuki, Edi
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 3 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.2007

Abstract

German cockroach (Blattella germanica L.) is one of the important residential pest insects, because of its role as a vector of disease. To reduce its population, it can be used with bait techniques. However, there was a rejection of glucose against German cockroaches against phagostimulant-based commercial bait. Therefore it is necessary to review the phagostimulant as a component of the bait to minimize failure to control German cockroaches based on bait using German cockroaches strain VCRU (Vector Control Research Unit). The first step to formulating the bait is to find the phagostimulant most sought by German cockroaches. The ingredients used as fagostimlan are sugar, durian, erythritol, and banana. The purpose of this study was to determine the behavior of choosing German cockroaches against bait with different phagostimulants and the peak of feeding activity in German cockroaches. This study used an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments giving phagostimulant and repeated 4 times divided into four test arenas. The treatment consisted of bait which each contained sugar, durian, erythritol, and banana as phagostimulants. Observation of behavior using the method of behavior sampling is recorded in continuous recording for 24 hours using a Closed Circuit Television (CCTV) camera. The parameters measured were latency, frequency, duration, and peak feeding activity of German cockroaches. The data were analyzed with ANOVA at p <0.05. The results showed that the behavior of selecting cockroaches from the VCRU strain on the bait was not significantly different (p<0.05) and was attracted to all feeds provided, but gel bait with sugar phagostimulant was the preferred bait by looking at the three parameters of latency, frequency, and duration. The results of the average latency in the VCRU strain to the durian gel for 17 minutes, the average frequency of most visits to the sugar gel in the VCRU strain by 10 times, the longest average duration of the VCRU strain gel for 1 minute 46 seconds and peak eating activity VCRU strains occur between 17:00 - 20:00.
pemanfaatan ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai pewarna alami jaringan daun dan batang krokot (Portulaca oleracea L.) Yani, Gita Fitri; Abbas, Muachiroh; Samiyarsih, Siti
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.2139

Abstract

The dye functions to clarify the plant tissue that will be observed with a microscope, the dye that is commonly used is synthetic dyes that are carcinogenic, the price is expensive and can pollute the environment. Natural dyes are an alternative to synthetic dyes because they are safe, inexpensive and environmentally friendly. natural dye sources obtained from plant parts such as fruit peels. Efforts to use mangosteen rind waste as an herbal remedy can also be used as a natural dye because it has a high enough anthocyanin content. Anthocyanins in mangosteen peel can be obtained through extraction. Maceration is an easy extraction method where the results are only affected by the type of solvent and the extraction time. Purslane (Portulaca oleracea L.) is used as research material because currently purslane has been widely used because of its nutritional content including high metabolic and antioxidant regualting substances. This study aims to determine the ability of mangosteen rind extract in coloring the leaf and stem tissue of purslane, and to determine the type of solvent and optimal immersion time to produce mangosteen rind extract so that it can color the leaf tissue and stems purslane well. The study was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) with 2 factors: factor 1 was the type of solvent using ethanol 96% and citric acid 14%, the second factor was immersion time, namely 26, 27 and 28 hours. The data obtained were analyzed descriptively qualitatively including the contrast and clarity of the preserved tissue preparation of leaf and stem purslane. The results showed mangosteen rind extract has the ability to dye leaf tissue and stems. The type of 14% citric acid solvent with 28 hours soaking time was optimal in producing mangosteen rind extract so that it was able to dye the leaf and stem tissue of purslane.