cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 379 Documents
Identification of Pollen Characteristics as Apis cerana Feed Sources in Honeycomb, in Serang Purbalingga Vanesa Yolanda; Sukarsa Sukarsa; Hexa Apriliana Hidayah
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.6 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1814

Abstract

Serang Purbalingga village is a fertile area and has the potential for the development of Apis cerana honeybee business. Honeybee products are known to have high economic value. The development of honeybee business will be better if supported by the avaibility of pollen from flowering plants as feed sources. Pollen that use to be A. cerana feed sources are taken from plants flower around the beehive and matched with pollen inside honeycomb. The purpose of this research is to determine the diversity and character of pollen from plants found around beehive and inside A. cerana honeycomb. This research conducted by descriptive survey method where the data obtained from field used as material for analysis and describing the characteristics of pollen found. Variable in this research is pollen characters with parameters are pollen units, size, shape, apertures and ornamentation. Based on results, there are 23 species of plants included in 17 families found around the beehive with varying of pollen shape, namely spheroidal, prolate-spheroidal, sub-prolate, and prolate. The smallest to largest pollen sizes are minutae, mediae, and magnae. Types of pollen ornamentations are rugulate, reticulate, echinate, psilate, scabrate, to baculate. Pollen apertures are varies monosulcate, monoporate, tricolporate, tricolpate, tetracolpate, hexacolpate to syncolpate. Pollen characters inside honeycomb are identical to 12 pollen of plant species found around the beehive where the pollen shape are spheroidal, prolate-spheroidal, sub-prolate and prolate. There are several types of ornamentation, namely reticulate, rugulate, echinate, psilate and sacbratte. Apertures are varies from monosulcate, monoporate, tricolporate, tricolpate to syncolpate. Key words : Apis cerana, characters,diversity, pollen, Purbalingga
PENGARUH Colletotrichum coccodes TERHADAP KANDUNGAN ASAM ASKORBAT PADA MEKANISME PATOGENISITAS ANTRAKNOSA TANAMAN CABAI: KAJIAN SECARA IN VITRO DAN IN PLANTA fadhila meilasari; Juni Safitri Muljowati; Aris Mumpuni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.766 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1918

Abstract

Patogen Colletotrichum coccodes merupakan salah satu patogen yang dapat menginfeksi tanaman cabai dan menyebabkan penyakit antraknosa terutama pada bagian buah dan daun. Tanaman dengan kandungan asam askorbat tinggi memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap serangan patogen. Tanaman cabai yang tahan memiliki kandungan asam askorbat yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman cabai toleran maupun rentan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan tumbuh patogen C. coccodes pada medium yang diberi asam askorbat dan mengetahui pengaruh inokulasi patogen C. coccodes terhadap kandungan asam askorbat pada daun cabai. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikologi dan Fitopatologi, Laboratorium Lingkungan, & Greenhouse Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini menggunakan dua uji yaitu uji in vitro dan uji in planta dengan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL), Uji in vitro menggunakan A) Medium PDA diberi asam askorbat; B) Medium PDB diberi asam askorbat dengan perlakuan penambahan asam askorbat sebanyak 0 mg.L-1 (kontrol); 0,25 mg.L-1; 0,50 mg.L-1; 0,75 mg.L-1; dan 1 mg.L-1, diulang sebanyak lima kali. Variabel bebas yang digunakan yaitu berbagai dosis asam askorbat, variabel terikatnya adalah pertumbuhan patogen C. coccodes. Parameter utama yaitu diameter koloni dan bobot kering miselium. Uji in planta menggunakan tiga varietas cabai (V1: Cabai merah hot chili; V2 Cabai merah keriting; V3: Cabai merah besar), uji A) Uji intensitas penyakit pada tanaman dan B) Uji kandungan asam askorbat. Masing-masing kelompok uji diulang sebanyak lima kali. Variabel bebas yang digunakan adalah varietas cabai merah, variabel terikatnya adalah nilai kerusakan tanaman berdasarkan kategori yang diamati pada waktu pengamatan yang ditentukan. Parameter utama yaitu intensitas penyakit, dan parameter pendukung yaitu periode masa inkubasi, kandungan asam askorbat pada daun cabai, temperatur, kelembaban dan pH tanah. Data uji in vitro dan uji in planta yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95%, dan perlakuan yang memberikan perbedaan nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian pada uji in vitro menujukkan bahwa patogen C. coccodes memiliki kemampuan tumbuh yang baik pada medium PDA dan medium PDB dengan penambahan asam askorbat. Hasil penelitian pada uji in planta, inokulasi patogen C. coccodes pada daun cabai merah dapat meningkatkan kandungan asam askorbat pada tanaman cabai merah Kata kunci : Colletotrichum coccodes, Cabai Merah, Antraknosa, Asam askorbat.
KEHADIRAN RAYAP Schedorhinotermes javanicus (F: RHINOTERMITIDAE) PADA TONGGAK POHON JATI (Tectona grandis) DAN WANGKAL (Albizia procera) DI CAGAR ALAM BANTARBOLANG PEMALANG JAWA TENGAH Hena Himawanti; Imam Widhiono; Hery Pratiknyo
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.355 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1695

Abstract

Rayap menjadikan kayu sebagai sumber makanan sekaligus sebagai tempat tinggal (shelter). Di hutan, terdapat banyak tonggak kayu sebagai sumber makanan rayap. Rayap akan dihadapkan pada banyak pilihan makanan sehingga rayap akan memilih tipe makanan yang paling disukai.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kehadiran rayap Schedorhinotermes javanicus (familia Rhinotermitidae) pada Tonggak Pohon Jati (Tectona grandis) dan Wangkal (Albizia procera) di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik sampling diatur dengan pola Rancangan Acak Kelompok (RAK). Sebagai plot utama adalah kedalaman masuk hutan (0 m, 50 m, 100 m, 150 m dan 200 m) dari tepi hutan, sedangkan ulangan sekaligus blok berupa kelompok umur tonggak sejak pemotongan. Spesimen rayap diambil pada tonggak kayu Jati (Tectona grandis) dan Wangkal (Albizia procera) yang terdapat pada area 0 m sampai 200 m dari tepi hutan. Dengan memperhatikan umur tonggak sejak pemotongan pohon. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari umur tonggak dan jarak tonggak dari batas tepi hutan dengan kehadiran rayap S. javanicus pada tonggak kayu Jati (Tectona grandis) dan Wangkal (Albizia procera).
OPTIMASI WAKTU INKUBASI DAN pH Ganoderma sp. DARI KEBUN RAYA BATURRADEN UNTUK DEKOLORISASI RBBR Maria Pricilia Gita; Ratna Stia Dewi; Ajeng Arum Sari
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.947 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1771

Abstract

Jamur pelapuk putih diketahui memiliki kemampuan untuk mendekolorisasi pewarna, salah satunya jamur Ganoderma sp. dari Kebun Raya Baturraden. Jamur tersebut mampu mendekolorisasi Remazol Brillliant Blue R (RBBR) yang bersifat toksik, mutagenik, karsinogenik, dan stabil terhadap perlakuan fisika maupun kimia. Proses dekolorisasi dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti waktu inkubasi dan pH. Setiap jamur pelapuk putih memiliki waktu inkubasi dan pH optimum yang berbeda dalam mendekolorisasi pewarna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan isolat Ganoderma sp. dari Kebun Raya Baturraden dengan waktu inkubasi dan pH berbeda dalam mendekolorisasi pewarna RBBR, serta mengetahui variasi waktu inkubasi dan pH yang menunjukkan hasil terbaik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan Perlakuan variasi pada penelitian ini terdiri dari waktu inkubasi yaitu 24, 48, 72, 96, dan 120 jam, serta pH 3, 4, 5, 6, dan 7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ganoderma sp. dari Kebun Raya Baturraden mampu mendekolorisasi RBBR pada waktu inkubasi dan pH berbeda dengan persentase dekolorisasi 4,10% - 83,04%. Persentase dekolorisasi tertinggi ditunjukkan pada waktu inkubasi 96 jam dan pH 6, yaitu 83,04%. Hal tersebut membuktikan bahwa Ganoderma sp. dari Kebun Raya Baturraden memiliki waktu inkubasi optimum 96 jam, serta pH optimum 6 untuk mendekolorisasi RBBR.
Pertumbuhan dan kandungan flavonoid bayam merah (Alternanthera amoena Voss) pada media tanam dengan pemberian asam humat dan urea Rezza Adianti; Elly Proklamasiningsih; Nurtjahjo Dwi Sasongko
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.947 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1792

Abstract

Bayam merah (Alternanthera amoena Voss) merupakan tanaman sayur yang mengandung banyak serat, vitamin, mineral serta flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk organikasam humat dan anorganik ureaterhadap pertumbuhan dan kandungan flavonoid tanaman bayam merah dan mengetahui konsentrasiasam humat dan urea yang paling berpengaruh, serta interaksi keduanya dalam meningkatanpertumbuhan dan kandungan flavonoid tanaman bayam merah. Penelitian termasuk eksperimental denganRancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri atas dua faktor dengan 4 taraf. Faktor pertama pemberian asam humat konsentrasi 0 (kontrol); 4 g.kg-1; 8 g.kg-1; dan 12 g.kg-1. Faktor kedua berupa pemberian urea dengan taraf konsentrasi 0 (kontrol); 0,4 g.kg-1; 0,6 g.kg-1; dan0,8 g.kg-1;masing masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali.Data dianalisis dengan ANOVA (Analysis of Variance kemudian dilanjutkan dengan uji BNT. Pemberian pupuk urea pada konsentrasi 4 g.kg-1adalah konsentrasi yang paling efektif dalam meningkatkan bobot basah dan bobot kering, namun jika urea yang dikombinasikan dengan asam humat pada semua konsentrasi yang diterapkan tidak menunjukkan adanyaperbedaan yang signifikan untuk semua parameter, yaitu bobot basah, bobot kering serta kandungan flavonoid. Kata kunci: Alternanthera amoena Voss, asam humat, flavonoid, pertumbuhan, urea
Genetic Diversity Among Three Cultivars Of Peanut (Arachis hypogaea L.) Based On Rapd Markers Suryadi Suryadi; Alice Yuniaty; Agus Hery Susanto
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 1 No 2 (2019): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.332 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2019.1.2.1709

Abstract

Peanut (Arachis hypogea) is a typical plant species of tropical regions that has high economic value. The plantation is widely spread over many areas and the production is being pushed to meet the increasing demand. Peanut breeding program is aimed to improve genetic quality, mainly with resepct of production and thus information on genetic diversity is necessary as a basis for consideration in breeding, management and sustainable utilization. One approach to analyse genetic diversity of peanut is by using molecular markers. Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) is a widely used molecular marker for genetic diversity analysis. Therefore, the aim of this study was to assess genetic diversity of peanut cultivars, i.e. Jerapah, Kancil, and Hypoma 2, based on RAPD markers. The study was conducted in a survey method, in which three individuals of each cultivar were analyzed using PCR-RAPD technique employing twelve primers, i.e. OPA-1, OPA-2, OPA-9, OPA-13, OPB-2, OPB-3, OPB-4, OPB-5, OPB-7, OPB-11, OPB-12 and OPJ-07. Data analysis based on morphological data is also included. Molecular analysis revealed that only 7.55% polymorphic band was obtained, while most of the bands were monomorphic, indicating very low variation among the cultivars. The phenogram that constructed based on literature showed that Kancil was closer to Jerapah cultivar, while RAPD-based dendogram showed that Hypoma 2 was closer to Kancil cultivar.
pemanfaatan ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai pewarna alami jaringan daun dan batang krokot (Portulaca oleracea L.) Gita Fitri Yani; Muachiroh Abbas; Siti Samiyarsih
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.845 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.2139

Abstract

The dye functions to clarify the plant tissue that will be observed with a microscope, the dye that is commonly used is synthetic dyes that are carcinogenic, the price is expensive and can pollute the environment. Natural dyes are an alternative to synthetic dyes because they are safe, inexpensive and environmentally friendly. natural dye sources obtained from plant parts such as fruit peels. Efforts to use mangosteen rind waste as an herbal remedy can also be used as a natural dye because it has a high enough anthocyanin content. Anthocyanins in mangosteen peel can be obtained through extraction. Maceration is an easy extraction method where the results are only affected by the type of solvent and the extraction time. Purslane (Portulaca oleracea L.) is used as research material because currently purslane has been widely used because of its nutritional content including high metabolic and antioxidant regualting substances. This study aims to determine the ability of mangosteen rind extract in coloring the leaf and stem tissue of purslane, and to determine the type of solvent and optimal immersion time to produce mangosteen rind extract so that it can color the leaf tissue and stems purslane well. The study was conducted experimentally using a Completely Randomized Design (CRD) with 2 factors: factor 1 was the type of solvent using ethanol 96% and citric acid 14%, the second factor was immersion time, namely 26, 27 and 28 hours. The data obtained were analyzed descriptively qualitatively including the contrast and clarity of the preserved tissue preparation of leaf and stem purslane. The results showed mangosteen rind extract has the ability to dye leaf tissue and stems. The type of 14% citric acid solvent with 28 hours soaking time was optimal in producing mangosteen rind extract so that it was able to dye the leaf and stem tissue of purslane.
HUBUNGAN UMUR DENGAN Biomassa, Stok karbon dioksida, Tegakan POHON DUKU (Lansium parasiticum) DI DESA KALIKAJAR KECAMATAN KALIGONDANG KABUPATEN PURBALINGGA Septi Nuranisa; Eming Sudiana; Edy Yani
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.886 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1866

Abstract

This research entitled "Age Relationship with Carbon Dioxide Stock of Duku Tree (Lansium parasiticum) in Kalikajar Village, Kaligondang District, Purbalingga Regency". The puspoe of this research are: 1) Knowing the effect of stand age on the amount of carbon dioxide stock stored in duku stands (Lansium parasiticum) in Kalikajar Village, Kaligondang District, Purbalingga Regency. 2) Knowing the age of duku plants (Lansium parasiticum) in Kalikajar Village, Kaligondang District, Purbalingga Regency which has the most potential carbon dioxide stock. The research used survey method by determining tree biomass using stratified random sampling. The strata used is the age of duku plants. Each age strata is taken 3 trees to measure its diameter. The land area is divided by the planting distance to get the results of plant density in that location. Measurement of stand stem diameter is carried out on stand stems at the researchers' chest height (at breast height or dbh). The measuring tape is wrapped around the stand stems in a parallel position for all directions so that the data obtained is the circumference or convolution of the stem (circumference of the stem = 2πr). Age, biomass, and carbon stock data were analyzed using variance analysis (Anova), while the relationship between biomass and carbon stock was analyzed using Pearson correlation and regression analysis. The regression analysis between age and carbon dioxide stock shows an exponential pattern. The lowest corbon dioxide stock of the duku plant is found in the age group <5 years, which is 9.54 tons/ha, while the largest carbon dioxide stock of the duku tree is in the age group > 30 years (40 years) which is 74.89 tons/ha. Thus, this study has not yet gotten the most optimal tree age in storing carbon dioxide. Therefore it is necessary to do research on duku trees that are older than 40 years.
Keragaman dan Kelimpahan Kupu – Kupu Familia Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah Edwin Muttaqin; Imam Widhiono; Darsono Darsono
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 2 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.092 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.2.1858

Abstract

Penelitian mengenai keanekaragaman kupu-kupu famili Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah belum pernah dilakukan sebelumnya. Mengingat pentingnya familia Papilionidae di alam dan untuk mengantisipasi kerusakan habitatnya maka perlu diadakan penelitian mengenai keanekaragaman kupu-kupu familia Papilionidae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman dan kelimpahan kupu-kupu famili Papilionidae di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah. Penelitian dilakukan di Cagar Alam Bantarbolang Pemalang, Jawa Tengah dengan menggunakan metode survey. Penelitian menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode Pollard Walk. Stasiun penelitian di bagi menjadi 5 stasiun berdasarkan jarak dari tepi hutan ke dalam hutan yaitu 0 m, 50 m, 100 m, 150 m, dan 200 m dari tepi hutan.. Setiap stasiun dibuat transek sebanyak 4 garis transek tetap dengan panjang 200 m dan lebar 5 m. Penangkapan kupu-kupu dilakukan menggunakan jaring serangga sepanjang garis transek. Data kekayaan spesies dan kelimpahan dihitung keragamanya menggunakan indeks Shannon-Wienner, indeks dominasi Simpson, dan indeks kemerataan (Shannon Evenness E). Penghitungan indeks keragaman menggunakan bantuan software Biodiversity Pro. Hasi penelitian menunjukan Keanekaragaman kupu-kupu famili papilionidae di kawasan cagar alam Bantarbolang pada jarak 0 – 150 m tepi hutan masuk kategori sedang karena memiliki nilai 1≤H’≤3. Keanekaragaman pada jarak 200 m tepi hutan masuk kategori rendah karena memiliki nilai ≤3. Kelimpahan kupu-kupu famili Papilionidae cenderung mengalami penurunan dari 0 m tepi hutan kearah 200 m tepi hutan hutan dikarenakan adanya efek tepi hutan berupa faktor lingkungan meliputi suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya. Spesies kupu-kupu paling jarang ditemukan adalah Papilio coon coon dan terdapat species langka yang dilindungi yaitu Troides Helena
KEANEKARAGAMAN DAN KEMERATAAN SPESIES KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA: NYMPHALIDAE) DI HUTAN CAGAR ALAM BANTARBOLANG, PEMALANG, JAWA TENGAH Mega Lestari; Imam Widhiono; Darsono Darsono
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 1 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.29 KB) | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.1.1911

Abstract

Kupu-kupu (Lepidoptera) menjadi objek penelitian karena kupu-kupu merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestariannya dari kepunahan maupun penurunan keanekaragaman jenisnya. Kupu-kupu mempunyai nilai penting diantaranya adalah secara ekologis kupu-kupu berperan dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem, sehingga perubahan keanekaragaman dan kepadatan populasinya dapat dijadikan sebagai salah satu indikator kualitas lingkungan. Mengingat pentingnya kupu-kupu di alam dan untuk mengantisipasi kerusakan habitatnya maka perlu diadakan penelitian mengenai keanekaragaman kupu-kupu. Metode yang digunakan yaitu sweeping. Analisis data diperoleh dengan menggunakan metode deskriptif dengan menghitung keragaman dan kemerataan. Indek yang digunakan untuk mengetahui keragaman adalah indeks Shannon-Wiener, Indeks dominansi Simpson’s, Indeks kemerataan Shannon-Evennes dan perhitungan indeks keragaman dibantu dengan software Biodiversity Pro (BDPro). Keanekaragaman famili Nymphalidae dikategorikan sedang dengan kemerataan relatif stabil. Efek tepi tidak berpengaruh terhadap kelimpahan di lokasi penelitian. Faktor lingkungan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya keanekaragaman dan kemerataan spesies dari famili Nymphalidae di Cagar Alam Bantarbolang.

Page 3 of 38 | Total Record : 379