cover
Contact Name
Vilya Syafriana
Contact Email
v.syafriana@istn.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sainstechfarma@istn.ac.id
Editorial Address
Fakultas Farmasi ISTN, Jl. Moh. Kahfi II, Jagakarsa, Jakarta Selatan, 12640
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian
ISSN : 20867816     EISSN : 27761878     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal ini memuat artikel penelitian kefarmasian meliputi kimia farmasi, biologi farmasi, bahan alam farmasi, teknologi farmasi, farmasi komunitas dan klinis, serta bioteknologi farmasi.
Articles 163 Documents
Uji Aktivitas Antimikroba Ekstrak Metanol Daun Sirih (Piper betle L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Propionibacterium acnes dan Khamir Malassezia furfur Rachmayanti Dewi; Amelia Febriani; Desy Muliana Wenas
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 1 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.899 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i1.415

Abstract

Indonesia memiliki beraneka ragam jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional, diantaranya adalah daun sirih (Piper betle L.) yang mengandung senyawa tanin, flavonoid, alkaloid, saponin, dan terpenoid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antimikroba dari ekstrak metanol daun sirih (Piper betle L.) terhadap pertumbuhan Propionibacterium acnes dan Malassezia furfur. Uji aktivitas antibakteri dilaukan dengan mengukur Diameter Daya Hambat (DDH) melalui metode difusi cakram dan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) melalui metode dilusi agar padat. Uji DDH dilakukan pada konsentrasi 6,25%; 12,5%; 25% dan 50%, kontrol negatif yaitu DMSO 10% serta kontrol positif yaitu cakram klindamisin 2 μg/disk (P. acnes) dan cakram ketokonazol 20 μg/disk (M. furfur). Pengujian KHM dilakukan terhadap konsentrasi 6,25%; 5,25%; 4,25%; 3,25%; 2,25% dan 1,25% untuk P. acnes, sedangkan untuk M. furfur pada konsentrasi 12,5%; 10%; 7,5% dan 6,25%. Hasil menunjukkan nilai DDH untuk P. acnes sebesar 9,05 mm ± 0,62; 11,50 mm ± 0,36 ; 12,18 mm ± 0,16 ; 13,53 mm ± 0,36 dan kontrol positif sebesar 17,55 mm ± 0,13; sedangkan pada M. furfur nilai DDH sebesar 0,00 mm ± 0,00 ; 9,47 mm ± 0,28; 15,19 mm ± 2,60; 28,70 mm ± 0,72 dan kontrol positif sebesar 44,60 mm ± 0,22. Hasil KHM untuk P. acnes yaitu pada konsentrasi 3,25%, sedangkan pada M. furfur yaitu pada konsentrasi 10%. Uji statistik menunjukkan ekstrak metanol daun sirih memiliki perbedaan akivitas antimikroba terhadap pertumbuhan P. acnes dan M. furfur (p<0,05).
Analisis Biaya Minimum Penggunaan Antibiotik Ceftriaxone dan Cefotaxime Pada Penderita Diare Akut Anak di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Periode Januari – Desember 2017 Ainun Wulandari; Ester Marintan Purba
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 1 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.556 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i1.416

Abstract

Diare akut adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair biasanya tiga kali atau lebih dalam satu hari, dengan durasi kurang dari 2 minggu. Di negara berkembang, anak- anak menderita diare lebih dari 12 kali per tahun dan hal ini yang menjadi penyebab kematian sebesar 15-43% dari semua penyebab kematian. Penyebab utama kematian akibat diare karena tata laksana yang tidak tepat. Diare yang diikuti dengan demam dan peningkatan jumlah leukosit perlu diberikan antibiotik. Ceftriaxone dan cefotaxime merupakan antibiotik sefalosporin generasi 3 yang paling banyak digunakan pada diare akut anak dengan harga yang berbeda, sehingga diperlukan kajian farmakoekonomi untuk menentukan terapi yang lebih efektif dan efisien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui antibiotik yang lebih efisien dari segi biaya, yang digunakan dalam terapi diare akut pada anak di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Bekasi periode Januari – Desember 2017. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan menggunakan data rekam medis pasien rawat inap diare akut anak yang mendapatkan antibiotik ceftriaxone atau cefotaxime. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada perbedaan bermakna, rata-rata total biaya terapi menggunakan ceftriaxone Rp. 1.474.775 dan cefotaxime Rp. 1.643.032.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Buah Paprika Merah (Capsicum annuum L.) Terhadap Bakteri Enterococcus faecalis Vilya Syafriana; Nurul Natasha; Wahidin Wahidin
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 1 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.838 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i1.417

Abstract

Paprika merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu tanaman berkhasiat bagi kesehatan yang terdapat di Indonesia, salah satunya sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan buah paprika merah (Capsicum annuum L.) yang diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% sebagai agen antibakteri terhadap salah satu bakteri patogen, yaitu Enterococcus faecalis. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah paprika merah mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan steroid. Aktivitas antibakteri dilakukan dengan mengukur Diameter Daerah Hambat (DDH) menggunakan metode difusi cakram, dan uji Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) menggunakan metode dilusi padat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah paprika merah memiliki aktivitas antibakteri terhadap Enterococcus faecalis dengan rata-rata nilai DDH sebesar 8,18 mm pada konsentrasi 10%; 9,30 mm pada konsentrasi 20%; 10,98 mm pada konsentrasi 30%; dan 12,50 mm pada konsentrasi 40%; sedangkan nilai KHM yang diperoleh dari ekstrak etanol buah paprika merah adalah pada konsentrasi 9%.
Potensi Antibakteri Ekstrak Etanol Bonggol Pisang Klutuk Wulung (Musa balbisiana BB) Terhadap Bakteri Penyebab Infeksi Pada Luka Ika Maruya Kusuma; Ami Ferliana; Susan Maphilindawati Noor
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 1 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.942 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i1.418

Abstract

Getah tanaman pisang sejak dulu sudah digunakan untuk penyembuh luka luar. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan studi mengenai ekstrak etanol bonggol pisang kepok kuning (Musa paradisiaca Linn.) sebagai antibakteri. Oleh sebab itu pada penelitian ini digunakan ekstrak etanol bonggol pisang klutuk wulung (Musa balbisiana BB) terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus epidermidis yang dapat menyebabkan infeksi pada luka. Serbuk bonggol pisang klutuk wulung dimaserasi dengan pelarut etanol 70% selama 24 jam dan dilakukan remaserasi sebanyak 5x. Ekstrak kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Untuk mengetahui kandungan bahan aktifnya dilakukan penapisan fitokimia dan diketahui bahwa serbuk dan ekstrak bonggol pisang mengandung senyawa flavonoid, tanin, saponin dan kuinon. Untuk melihat potensi antibakteri dilakukan uji Diameter Daerah Hambat (DDH dengan kontrol positif kloramfenikol. Berdasarkan hasil uji tersebut, ekstrak etanol bonggol pisang klutuk wulung memiliki aktifitas antibakteri penyebab infeksi pada luka dengan konsentrasi 100%, 50%, 25% dan 12,5% secara berturut 17.05 mm; 10.75 mm; 9.25 mm; dan 8.57 mm. Namun ekstrak bonggol pisang klutuk wulung tidak berpotensi sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli pada konsentrasi tersebut. Konsentrasi 10% merupakan Konsentrasi Hambat Minimum terhadap Staphylococcus epidermidis.
Pola Terapi Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh, Banjarmasin Periode Januari – Maret 2018 Annisa Fikry; Lisana Sidqi Aliya
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 1 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.504 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i1.419

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan jenis penyakit gangguan metabolisme yang terdiri atas dua 2 tipe yaitu DM tipe 1 akibat kurangnya produksi insulin dalam tubuh dan DM tipe 2 akibat penggunaan insulin yang kurang efektif oleh tubuh. Jumlah penderita DM di dunia semakin meningkat secara signifikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin, usia, lama rawat, dan komplikasi DM, serta pola penggunaan obat berdasarkan golongan, jenis insulin, jenis obat, dosis, aturan pakai, bentuk sediaan, rute pemberian dan jumlah terapi baik penggunaan berdasarkan jumlah pasien (n) maupun jumlah penggunaan obat selama terapi (f). Penelitian ini termasuk penelitian non eksperimental yang dilakukan secara observasional dengan rancangan analisis deskriptif dan pengambilan data secara retrospektif diambil dari rekam medik dengan kriteria inklusi pasien DMT2 yang berusia ≥45 tahun dan mendapat obat antidiabetik selama rawat inap di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin periode Januari-Maret 2018. Dari hasil penelitian ini, DMT2 terbanyak dialami oleh perempuan (59,9%) dengan rentang usia 45 - 55 tahun (47,6%), lama rawat selama 6 - 10 hari (41,5%) dengan komplikasi DM terbanyak adalah ulkus pedis (31,3%). Golongan antidiabetes oral yang terbanyak digunakan adalah golongan sulfonilurea (21,11%), sementara untuk jenis insulin terbanyak adalah insulin kerja panjang (78,2%) yakni detemir 11-20 iu (77,6%). Bentuk sediaan dan rute pemberian terbanyak adalah sediaan injeksi (88,0%) dengan rute pemberian subcutan (87,6%). Jumlah terapi terbanyak adalah terapi kombinasi 2 insulin (59,2%).
Uji Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Etanol 70% Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.) Terstandar Risma Marisi Tambunan; Greesty Finotory Swandiny; Sarah Zaidan
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 2 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.099 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i2.444

Abstract

Tumbuhan meniran adalah tumbuhan obat yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Secara klinis, ekstrak meniran telah terbukti bersifat immunomodulator atau mampu merangsang daya tahan tubuh seseorang sehingga kebal terhadap serangan penyakit. Khasiat meniran yang lain adalah sebagai diuretik, ekspektoran, dan dapat digunakan sebagai peluruh haid, penambah nafsu makan, obat demam, diare dan obat sakit kuning. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa ekstrak herba meniran memenuhi persyaratan standar mutu yang telah ditetapkan. Penapisan fitokimia pada serbuk herba meniran adanya golongan senyawa flavonoid, saponin, tanin, kuinon, triterpenoid, kumarin dan minyak atsiri. Sedangkan hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol 70% herba meniran menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, saponin, tanin, kuinon, triterpenoid, kumarin dan minyak atsiri. Hasil yang diperoleh nilai IC50 ekstrak etanol 70% herba meniran : 17,55 bpj, 17,64 bpj, 17,59 bpj termasuk antioksidan kuat, disebabkan oleh terjadinya interaksi antara metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak herba meniran tersebut. Vitamin C digunakan sebagai kontrol positif yang memiliki IC50, 2,31 bpj dan kuersein nilai IC50 2,77 bpj.
Pemanfaatan Ekstrak Kulit Buah Kawista (Limonia acidissima) Sebagai Anti Asam Urat Secara In Vivo Pada Mencit Jantan Ika Maruya Kusuma; Putu Rika Veryanti; Ervina Tri Dewi Saragih
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 2 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.866 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i2.445

Abstract

Allopurinol adalah obat yang umum digunakan oleh penderita asam urat. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan gagal hati, hepatitis, diare, konstipasi, muntah, mual dan eksim. Berdasarkan hal tersebut perlu dikembangkan obat bahan alam untuk mengatasi hiperurisemia berasal dari kulit buah kawista (Limonia acidissima). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak kulit buah kawista dalam menurunkan kadar asam urat secara in vivo terhadap mencit jantan hiperurisemia. Kulit buah kawista diekstraksi dengan metode maserasi hingga terbentuk ekstrak kental. Dilanjutkan uji skrining fitokimia dan uji in vivo dengan mencit hiperuresemia yang diberi ekstrak kulit buah kawista. Konsentrasi ekstrak kulit buah kawista yang diberikan 100 mg/kg BB (K100), 200 mg/kg BB (K200), dan 400 mg/kg BB (K400), pembanding allopurinol 10 mg/kg BB sebagai kontrol positif dan kontrol negatif aquadest. Dari penelitian ini diperoleh bahwa ekstrak kulit buah kawista memiliki aktivitas anti asam urat dengan persentase penurunan kadar asam urat melalui pemberian ekstrak kulit 100mg/Kg BB, 200mg/Kg BB, 400mg/Kg BB; secara berturut sebesar 73%, 45% dan 54%.
Analisis Rhodamin B Pada Sediaan Perona Mata yang diperoleh di Kabupaten Bekasi dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi Herdini Herdini; Cecilia Nova Wahyudiana
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 2 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.701 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i2.447

Abstract

Kosmetik merupakan kebutuhan yang telah lama dipergunakan dan dikembangkan oleh manusia. Salah satu jenis kosmetik rias adalah perona mata, produk ini bertujuan mewarnai kelopak mata, sehingga penggunanya tampak lebih cantik dan segar. Penggunaan zat warna pada produk kosmetik diatur ketat karena aktivitas kimiawi bahan pewarna berdampak pada kualitas kesehatan kulit. Bahan berbahaya yang terkandung dalam kosmetik salah satu diantaranya adalah Rhodamin B. Berdasarkan peraturan BPOM Nomor HK.03.1.23.08.11.07517 tahun 2011 Rhodamin B dilarang penggunaannya sebagai pewarna pangan dan kosmetik, karena dapat menimbulkan iritasi bila terkena mata, kulit, keracunan, gangguan fungsi hati dan kanker. Di Kabupaten Bekasi, banyak toko kosmetik dan pedagang keliling yang menjual kosmetik dengan harga murah. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui adanya kandungan Rhodamin B dan jumlah kadar Rhodamin B pada perona mata yang beredar di Kabupaten Bekasi menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Sampel dikelompokkan menjadi dua, yaitu perona mata yang teregistrasi dan tidak teregistrasi. Sebanyak 5 merk sampel perona mata teregistrasi dan 5 merk sampel perona mata tidak teregistrasi diambil dari toko-toko kosmetik yang tersebar di daerah tersebut. Masing-masing kelompok dipilih sampel yang akan diuji. Setiap sampel diekstraksi dengan aquabidest lalu dianalisis menggunakan KCKT. Berdasarkan analisis hasil pengujian diperoleh 2 sampel perona mata yang teregistrasi mengandung Rhodamin B yaitu kadar rata-rata merek “EYR1” 23,5791 bpj dan merek “EYR2” 74,5073 bpj. Sedangkan sampel perona mata yang tidak teregistrasi merek “ETR1” tidak mengandung Rhodamin B dan merk “ETR2” mengandung Rhodamin B dengan kadar rata-rata 21,3514 bpj.
Uji Cemaran Mikroba Es Batu Pada Penjual Minuman di Lingkungan Pasar Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan Tiara Cahya; Mellova Amir; Rosario Trijuliamos Manalu
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 2 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.831 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i2.448

Abstract

Es batu merupakan produk pelengkap yang sering disajikan bersama minuman dingin dan mudah terkontaminasi oleh bakteri Coliform. Bakteri Coliform merupakan golongan bakteri yang banyak digunakan sebagai indikator kebersihan dalam pengolahan pangan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya cemaran mikroba pada es batu dalam parameter mikrobiologi menggunakan metode Angka Lempeng Total ( ALT ) dan Most Probable Number (MPN), dan yang diuji adalah total mikroba dan bakteri Coliform. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari kedelapan sampel yang diuji dengan metode ALT dan MPN, semua sampel melebihi ambang batas yang ditetapkan BPOM nomor 16 tahun 2016, yaitu untuk angka lempeng total (ALT) 102-104 koloni/ ml dan MPN < 1,8 – 10 MPN/100 ml.
Analisis Biaya Kemoterapi Lini Pertama Pada Pasien Kanker Paru di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta Timur Periode Tahun 2016 Ainun Wulandari; Septiyani Monalisa; Jamal Zaini
SAINSTECH FARMA Vol 12 No 2 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian
Publisher : FAKULTAS FARMASI, INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.948 KB) | DOI: 10.37277/sfj.v12i2.449

Abstract

Kemoterapi merupakan pengobatan dengan pemberian bahan kimia yang menghambat pertumbuhan sel kanker. Terapi pengobatan yang baik dan benar akan sangat menguntungkan bagi pasien baik dari segi kesehatan atau kesembuhan penyakit yang diderita. Biaya pengobatan merupakan faktor yang penting diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran biaya medik langsung pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi lini pertama di RSUP Persahabatan. Desain penelitian ini merupakan penelitian retrospektif. Pengambilan data dalam penelitian ini berdasarkan data rekam medik dan data administrasi pembiayaan pasien kanker paru yang menjalani kemoterapi lini pertama di RSUP Persahabatan tahun 2016. Besar biaya medik langsung yang harus dikeluarkan seorang pasien kanker paru yang melakukan kemoterapi lini pertama adalah Rp. 8.869.654 untuk pasien yang menjalani perawatan di kelas I, kemudian Rp. 10.519.654 untuk pasien yang menjalani perawatan di kelas II, dan Rp. 7.304.109 untuk pasien yang menjalani perawatan di kelas III. Rata-rata biaya yang dikeluarkan seorang pasien kanker paru yang melakukan kemoterapi lini pertama untuk biaya obat sebesar Rp. 6.734.523, biaya obat non kemoterapi dan alkes sebesar Rp. 438.451, biaya tindakan kemoterapi sebesar Rp. 1.153.452, biaya laboratorium sebesar 507.584, biaya rawat inap sebesar Rp. 1.681.583, biaya jasa medis sebesar Rp. 731.661 dan biaya tindakan lain sebesar Rp. 1.194.642.

Page 5 of 17 | Total Record : 163


Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 18 No 2 (2025): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol. 18 No. 1 (2025): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 18 No 1 (2025): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 17 No 2 (2024): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 17 No 1 (2024): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 16 No 2 (2023): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 16 No 1 (2023): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 15 No 2 (2022): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 15 No 1 (2022): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 14 No 2 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 14 No 1 (2021): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 13 No 2 (2020): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 13 No 1 (2020): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 12 No 2 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 12 No 1 (2019): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 11 No 2 (2018): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 11 No 1 (2018): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 10 No 2 (2017): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 10 No 1 (2017): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 9 No 2 (2016): SAINSTECH FARMA Vol 9 No 1 (2016): SAINSTECH FARMA Vol 8 No 2 (2015): Sainstech Farma Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 7 No 1 (2014): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 6 No 2 (2013): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 4 No 2 (2012): Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 2 No 1 (2011): Sainstech Farma More Issue