cover
Contact Name
Susanto Dwiraharjo
Contact Email
jurnalgraciadeo@gmail.com
Phone
+6282310002924
Journal Mail Official
jurnalgraciadeo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO
ISSN : 26556871     EISSN : 26556863     DOI : 10.46929
Jurnal Teologi Gracia Deo merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan bidang ilmu teologi dan Pendidikan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2655-6863 (online), ISSN: 2655-6871(print), diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Jakarta. Focus dan Scope dalam Jurnal ini adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Misiologi Kepemimpinan Kristen Pendidikan Kristiani
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1: Juli 2023" : 11 Documents clear
Membangun Konsep Diri Positif melalui Konseling Pastoral bagi Remaja yang Mengalami Fatherless Nurhayati Tobing; Yanto Paulus Hermanto
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.123

Abstract

This study aims to discuss the role of pastoral counseling for adolescents who experience fatherlessness in building a positive self-concept using a qualitative descriptive research method, namely exploring and photographing social situations that are thoroughly, broadly, and deeply examined on social or humanitarian issues. The absence of a father from childhood to adolescence will be a bad experience because the father figure represents God in terms of protection and guidance. A self-concept built without clear leadership and direction will result in negative behavioral attitudes in adolescents. Pastoral counseling is a way of shepherding youth to be guided and directed towards an upbeat personality so that they have self-confidence and self-esteem and can solve their problems, which in the future can become physically, psychologically, and morally healthy teenagers.  AbstrakPenelitian ini bertujuan membahas peran konseling pastoral untuk  remaja yang mengalami fatherless dalam membangun konsep diri yang positif dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, yaitu mengekplorasi dan memotret situasi sosial yang diteliti secara menyeluruh, luas, dan dalam terhadap masalah sosial atau kemanusiaan. Ketidakhadiran ayah pada masa anak-anak sampai remaja akan menjadi pengalaman buruk karena figur ayah yang mewakili Tuhan dalam hal perlindungan dan pimpinan. Konsep diri yang dibangun tanpa kepemimpinan dan arahan yang tidak jelas dan tidak ada, akan menghasilkan sikap perilaku negatif anak remaja. Konseling pastoral merupakan cara menggembalakan remaja untuk dibimbing diarahkan menuju pribadi yang positif sehingga memiliki rasa percaya diri, penghargaa diri, mampu menyelesaikan masalahnya sendiri yang pada kemudian hari bisa menjadi remaja yang sehat secara fisik, psikis, dan moral.
Rancang Bangun Pewartaan Injil dalam konteks Keindonesian Berdasarkan Pembacaan Yohanes 4 :1- 42 Soewieto Djajadi
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.194

Abstract

Indonesia is one of the countries with the most significant ethnic groups and religions in the world. With so many ethnic groups, Indonesia is a multicultural country. A multicultural country is a country that has many cultures and religions. The many religions and beliefs have an impact on creating a sense of intolerance between adherents of the majority and minority religions. Matthew 28:18-20 says believers must evangelize to fulfill God's Great Commission. Evangelism is giving good news so that people who do not know God will believe and accept the Lord Jesus as their savior. Evangelism in a multicultural society requires a method or way to receive the gospel message well. The evangelism carried out by the Lord Jesus to the Samaritan woman, written in the book of John 4: 1-42, is believed to be used as a method of evangelizing in Indonesia. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach in the design of the Evangelization used by Jesus in his approach to the Samaritan woman can also be called an individual approach. The Lord Jesus approached the Samaritan woman so that she would believe and accept the Lord Jesus. By carrying out the four stages of the individual approach, namely the friendship stage, the empathy stage, the recovery stage, and the evangelism stage, it is hoped that someone who hears the gospel message can be saved. AbstrakIndonesia termasuk salah satu negara yang mempunyai jumlah suku bangsa dan agama yang terbanyak di dunia. Dengan banyaknya suku bangsa yang ada, maka Indonesia termasuk negara multicultural.  Negara multikurtural adalah negara yang mempunyai banyak kebudayaan dan agama. Banyaknya agama dan aliran kepercayaan berdampak menimbulkan rasa intoleransi antara pemeluk agama mayoritas dan minoritas. Matius 28 ayat 18- 20 mengatakan bahwa orang percaya harus melakukan penginjilan untuk memenuhi Amanat Agung Allah. Penginjilan adalah memberikan kabar baik supaya orang yang belum mengenal Tuhan menjadi percaya dan menerima Tuhan Yesus sebagai juruslamat mereka. Penginjilan dalam masyarakat multicultural membutuhkan sebuah metode atau cara agar berita injil dapat diterima dengan baik.  Penginjilan yang dilakukan Tuhan Yesus kepada wanita samaria yang ditulis pada kitab Yohanes 4: 1-42, diyakini dapat dijadikan sebagai metode dalam melakukan penginjilan di Indonesia. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature dalam rancang bangun Pewartaan Injil yang dipakai oleh Yesus dalam pendekatannya kepada wanita samaria tersebut dapat disebut juga dengan pendekatan secara individu. Tuhan Yesus mengadakan pendekatan kepada wanita samaria tersebut supaya menjadi percaya dan menerima Tuhan Yesus. Dengan melakukan empat tahapan pendekatan individu tersebut yaitu tahap persahabatan, tahapan empati, tahapan pemulihan dan tahap penginjilan, maka diharapkan seseorang yang mendengar berita Injil dapat diselamatkan.   
Makna Kata Rupa pada Ungkapan Paralel μορφῇ Θεοῦ dan μορφὴν δούλου dalam Filipi 2:6-7 Andreas Kurniawan Purnomo; Ken Jacks Gunawan Waoma; Andreas Danang Rusmiyanto
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.195

Abstract

This article discusses the many discussions regarding the nature of Jesus Christ and the circulation of false teachings regarding His divinity. This article discusses the meaning of the word like in the parallel expressions μορφῇ Θεοῦ (morphe Theou or the likeness of God) and μορφὴν δούλου (morphen doulou or the likeness of a servant) in Philippians 2:6-7. By conducting qualitative and hermeneutic research, this research aims to provide clear and relevant information for all believers today, which is often poorly understood by some people and groups. This word is often used to build the assumption that Jesus is only like or similar to God, but Jesus himself is not God. This view contradicts the Christian faith, which recognizes Jesus as God. This article presents a complete discussion regarding the meaning of the word μορφῇ (morphe or appearance) in the text Philippians 2:6-7. From the research results, it was found that the word "likeness" in the parallel phrases "likeness of God" and "likeness of a servant" does not need to be interpreted as something natural or abstract but is Paul's ontological statement regarding the divinity of Jesus as well as the humanity of Jesus Christ. AbstrakArtikel ini membahas banyaknya diskusi mengenai natur Yesus Kristus serta beredarnya pengajaran yang keliru mengenai keilahian-Nya, artikel ini membahas makna kata rupa dalam ungkapan pararel μορφῇ Θεοῦ (morphe Theou atau rupa Allah) dan μορφὴν δούλου (morphen doulou atau rupa seorang hamba) dalam Filipi 2:6-7. Dengan melakukan penelitian secara kualitatif dan hermeneutik, penelitian ini bertujuan untuk memberikan suatu informasi yang jelas dan relevan bagi semua orang percaya di masa kini yang seringkali kurang dipahami oleh sebagian orang maupun kelompok. Kata ini seringkali digunakan untuk membangun asumsi bahwa Yesus hanya serupa atau mirip dengan Allah, tetapi Yesus sendiri bukanlah Allah. Pandangan ini jelas bertentangan dengan iman Kristen yang mengakui Yesus sebagai Allah. Artikel ini menyajikan pembahasan yang utuh mengenai makna kata μορφῇ (morphe atau rupa) dalam teks Filipi 2:6-7.  Dari hasil penelitian didapati bahwa kata “rupa” dalam frasa paralel “rupa Allah” dan “rupa seorang hamba” tidak perlu ditafsirkan sebagai sesuatu yang nyata maupun abstrak, melainkan sesungguhnya merupakan pernyataan ontologis Paulus mengenai keilahian Yesus sekaligus kemanusiaan Yesus Kristus.   
Refleksi Misi Gereja melalui Pembacaan Narasi Kota Babel Deni Citra Damai Telaumbanua
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.190

Abstract

The church has not escaped the Covid-19 pandemic, but the church must not ignore God's mission for her because of the Covid-19 pandemic. In this paper, the author describes the story of the city of Babel from Genesis 11:1-9, where humans disobeyed God's mission to carry out cultural mandates as the reason for its creation. God must intervene as a punishment for them while simultaneously declaring His grace by returning humans to His original mission: to spread them all over the earth. Using the Proflective Church of Joas Adiprasetya, the author reflects on the story of the city of Babel on the post-Covid-19 church mission. The church, which is "wounded" by the pandemic, must continue to walk out doing God's mission in a limping way by looking to the future at a very close distance and orienting itself to others who are also limping due to the pandemic.  AbstrakGereja tidak luput dari pandemi Covid-19, namun gereja tidak boleh mengabaikan misi Allah baginya karena pandemi Covid-19. Dalam tulisan ini, penulis menguraikan narasi kota Babel dari Kejadian 11:1-9, dimana manusia tidak taat pada misi Allah untuk mengerjakan mandat budaya sebagai alasan penciptaannya. Allah harus intervensi sebagai hukuman kepada mereka, sekaligus menyatakan anugerah-Nya dengan mengembalikan manusia pada misi-Nya semula, yaitu menyebarkan mereka ke seluruh bumi. Menggunakan Gereja Proflektif Joas Adiprasetya, penulis melakukan refleksi narasi kota Babel terhadap misi gereja secara khsus pascapandemi Covid-19. Gereja yang sedang “terluka” karena pendemi, harus terus berjalan keluar mengerjakan misi Allah yang tertatih-tatih, dengan memandang ke masa depan dalam jarak yang sangat dekat, dan mengarahkan diri pada yang lain yang juga sedang tertatih karena pandemi.  
Penguatan Integritas Gembala di Era Digital: Antara Institusi Gereja dan Intuisi Ilahi Joni Manumpak Parulian Gultom; Selvyen Sophia; Rosnita Temba Kagu
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.153

Abstract

Kemajuan teknologi informasi dengan pendidikan sekuler telah menempatkan pelayanan spiritual gembala terdesak dan cenderung di tinggalkan. Integritas gembala dan institusi gereja sebagai platform utama Alkitabiah dalam pembentukan karakter spiritual manusia sedang terkendala. Kemiskinan intuisi Ilahi menghambat lahirnya Visi dan misi baru dalam era digital yang memanjakan logika dan perhitungan matematika. Integritas gembala merupakan bentuk kolaborasi yang tinggi antara tugas yang diemban sebagai pemimpin institusi gereja, namun tidak melepaskan intuisi Ilahi dalam  karya Roh Kudus untuk sebuah visi dan misi gereja yang update  dan menjadi kebutuhan umat di era kekinian. Pertanyaannya bagaimana mengembangkan integritas gembala sebagai pemimpin dari institusi gereja yang mengalami koreksi karena perubahan zaman dan intuisi ilahi dari pemberdayaan Roh Kudus yang sering diremehkan karena ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era digital? Tujuan penelitian adalah pertama untuk mendeskripsikan kembali integritas gembala yang Alkitabiah. Kedua adalah merumuskan strategi gembala sebagai pemimpin institusi gereja dan pengembangan intuisi Ilahi dalam era digital. Kontribusi penelitian ini agar para gembala dapat menjaga integritas diri dengan mengupgrade kepemimpinan diri dan intuisis Ilahi dalam menjalankan tugas sesuai dengan kompleksitas pergumulan jemaat dalam era digital
Memahami Karakteristik Gembala dalam Pembacaan Yohanes 10:11-16 Christina Adelia Manullang; Sugiono Sugiono; Eriyani Mendrofa
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v5i2.144

Abstract

This research aims to explore the characteristics of a shepherd based on the Gospel of John 10:11-16. This research uses an exegetical method that interprets Bible verses and approaches the Bible hermeneutic method. Through this method, researchers found the characteristics of a shepherd in the Gospel of John 10:11-16. Some of these characteristics consist of a good shepherd while maintaining his identity as a pastor, having the willingness to dare to sacrifice for the congregation, having an attitude of totality in serving the congregation, creating reciprocal communication to get to know each other with the congregation, maintaining a relationship of mutual trust between the pastor and the congregation. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menggali karakteristik seorang gembala berdasarkan Injil Yohanes 10:11-16. Penelitian ini menggunakan metode eksegesis yang bersifat menafsir ayat Alkitab dan mendekati metode hermeneutik Alkitab. Melalui metode ini peneliti menemukan dalam Injil Yohanes 10:11-16 terdapat karakteristik seorang gembala. Beberapa karakteristik itu terdiri atas gembala yang baik tetap mempertahankan identitasnya sebagai seorang gembala, memiliki kerelaan hati untuk berani berkorban bagi jemaat, memiliki sikap totalitas dalam melayani jemaat, menciptakan komunikasi timbal balik untuk saling mengenal bersama jemaat, menjaga hubungan saling percaya antara gembala dan jemaat.  
Demitologisasi Bultmann sebagai Analogi Jembatan Dialektika kepada Manusia Posmodern Jessica Elizabeth Abraham; Ferdinand Lisaldy; Gernaida Pakpahan
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.94

Abstract

Rudolf Bultmann introduced a hermeneutic method known as demythologizing. The authors believe that his method can be utilized to communicate the truth in postmodern era as it takes into account today’s human perspective. His approach provides the reader space to make meaning the truth in the Bible. It also makes the Gospel message urgent and requires a response from the hearers. To put forward such argument, this research will describe the characteristics of postmodern era, postmodern humans, Christian faith in the postmodern era and a little about the acceptance of Bultmann’s demythologizing. It aims to describe a point of view that places such approach in the midst of postmodern human thought. Although Bultmann tends to be avoided and is often considered heretical, the authors hope that readers can view Bultmann objectively so that they can see that his approach is indeed useful to bridge the communication gap with postmodern humans.  AbstrakRudolf Bultmann memperkenalkan metode hermeneutik yang dikenal sebagai demitologi. Penulis percaya bahwa metodenya dapat digunakan untuk mengkomunikasikan kebenaran di era postmodern karena memperhitungkan perspektif manusia saat ini. Pendekatannya memberikan ruang kepada pembaca untuk membuat makna dari kebenaran dalam Alkitab. Pendekatannya juga membuat pesan Injil bersifat mendesak dan membutuhkan tanggapan dari para pendengarnya. Untuk mengemukakan argumen tersebut, penelitian ini akan mendeskripsikan karakteristik era postmodern, manusia postmodern, iman Kristen di era postmodern dan sedikit tentang penerimaan demitologi Bultmann. Tujuannya adalah untuk menggambarkan suatu sudut pandang yang menempatkan metode tersebut di tengah-tengah pemikiran manusia postmodern. Meskipun Bultmann cenderung dihindari dan seringkali dianggap sesat, penulis berharap bahwa pembaca penelitian ini dapat melihat Bultmann secara objektif sehingga mereka dapat melihat bahwa pendekatannya memang berguna untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dengan manusia postmodern.  
Menyikapi Toxic Friendship dalam Relasi Pergaulan Kristen: Sebuah Perspektif Etis-Teologis Chardo Nardy Silitonga
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.57

Abstract

Toxic friendship refers to interpersonal relationships that harm and potentially damage one's spirituality and faith life. Grounded in Christian ethics and theology, this article identifies ethical-theological principles that can guide Christian individuals in addressing and overcoming toxic friendships and strengthening healthy relationships. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the critical role of understanding the nature and definition of Toxic Relationships can indicate how a person should behave because Toxic relationships damage relationships with God and others. Therefore, the existence of friendship relationships in theological ethics is based on a space for mutual development within the scope of the role of Christians in actualizing healthy relationships. The awareness of the impact of friendship on character and relationship with God directs us to wisely evaluate and manage interpersonal relationships to strengthen faith and glorify God. AbstrakToxic friendship merujuk pada hubungan interpersonal yang merugikan dan berpotensi merusak kehidupan spiritulitas dan iman seseorang. Dengan landasan etika dan teologi Kristen, artikel ini mengidentifikasi prinsip-prinsip etis-teologis yang dapat membimbing individu Kristen dalam menyikapi dan mengatasi toxic friendship serta memperkuat relasi pergaulannya yang sehat. Mengunakan metode kualtatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa peran penting pemahaman akan Hakikat dan definisi Toxic Relationship dapat memberikan indikator seseorang bagiamana harus bersikap. Sebab Toxic relationship merusak Hubungan kepada Tuhan dan sesama. Oleh karena itu adanya hubungan Petemanan dalam Etis Teologis di dasari sebagai ruang untuk saling membangun dalam Ruang Lingkup Peran Orang Kristen dalam Mengaktualisasikan Hubungan yang Sehat. Dari kesadaran akan dampak pergaulan terhadap karakter dan hubungan dengan Tuhan mengarahkan kita untuk dengan bijaksana mengevaluasi dan mengatur hubungan interpersonal dengan tujuan memperkuat iman dan memuliakan Tuhan.  
Playing Victim dan Manipulasi Kebenaran: Analisis Teologis dalam Pembacaan Reflektif Kejadian 3:1-24 Andreas Sese Sunarko; Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.84

Abstract

Playing victim behavior is the action of those who blame themselves on others and position themselves as victims. This contradictory sense of responsibility is widespread in everyday life. Therefore, this article aims to provide a new understanding and paradigm regarding playing victims that contradicts God's truth.Using descriptive qualitative methods, it can be concluded that playing victims in manipulating the truth is a theological reflection in reading Genesis 3:1-24; first, Christianity must understand the nature of playing victims and its impacts. Genesis 3:1-24 shows how humans blame others or circumstances to avoid responsibility for their mistakes. This also emphasizes the importance of playing the victim in theological ethics and Christian faith. Theological reflection, humility, and an attitude of responsibility in honesty through recognizing mistakes and confessing sins are not to play the victim. Jesus also taught us to live in love. Furthermore, in a theological reflective context, it helps identify the role of the Garden of Eden story and the issue of truth manipulation in the "playing victim" attitude that is actualized in human life. Therefore, the role of Christianity in the actualization of life without suffering victims becomes a role that is responsible for personal actions and decisions to live in honesty and responsibility and dare to admit mistakes.  AbstrakPerilaku playing victim merupakan tindakan merekayang melemparkan kesalahannya kepada orang lain dan memosisikan dirinya sebagai korban. Hal yang bertolak belakang akan rasa bertanggung jawab ini marak di lingkungan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan paradigam baru terkait playing victim yang tidak sejalan dengan kebenaran Allah. Menggunakan metode kualitatif deskritif maka dapat disimpulkan bahwa playing victim dalam manipulasi kebenaran: reflektif teologis dalam pembacaan kejadian 3:1-24, pertama keristenan harus memahami hakikat playing victim dan dampaknya. Sebab dalam Kejadian 3:1-24 memperlihatkan bagaimana manusia  cenderung untuk menyalahkan orang lain atau keadaan sebagai upaya untuk menghindari tanggung jawab atas kesalahan mereka. Maka hal ini juga menekankan pentingnya playing victim dalam etis teologis dan iman Kristen. Di mana refleksi teologis dan kerendahan hati serta sikap dalam bertanggung jawan dalam kejujuran melalui pengenalan kesalahan dan pengakuan atas dosa untuk tidak playing victim. Juga diajarkan Yesus untuk hidup dalam kasih. Selanjutnya dalam konteks reflektif teologis membantu mengidentifikasi peran kisah taman eden dan persoalan manipulasi kebenaran dalam sikap "playing victim" yang diaktualisasikan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu peran kekristenan dalam aktualisasi hidup tanpa palying victim menjadi peran yang bertanggung jawab atas tindakan dan keputusan pribadi untuk hidup dalam kejujuran dan tanggung jawab yang berani mengakui kesalahan. 
Pelayanan Misi bagi Anak di Era Digital: Sebuah Pemetaan Urgensitas Yulius Wijaya; Aji Suseno
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.145

Abstract

In evangelizing, we need to pay attention to who we will evangelize and what factors influence, such as mindset, culture, and habits and characters. Today, evangelism has its challenges in evangelizing the generation of children who live in the Industrial Revolution 4.0 and 5.0 era with all the increasingly sophisticated technological developments. If the methods and ways of evangelism still use traditional forms, then the current generation of children will need to understand the salvation carried out by evangelists. This research uses a qualitative description approach by examining library sources. This research aims to find the urgency of finding the principles of effective evangelism to children, namely the doctrine of the Bible and salvation, which must still be the main part for children, as well as the creativity and integrity of the evangelist. While the content principles of effective evangelism relevant to children in the digital age are following Jesus, the best "attachment" commitment, Jesus must be known through intimacy and experience, and not mere knowledge; binding friendship with Jesus is the best decision.  AbstrakDalam melakukan penginjilan kita perlu memperhatikan siapa yang akan kita injili, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi, seperti pola pikir, kebudayaan, bagaimana kebiasaan dan karakter masing-masing. Saat ini penginjilan memiliki tantangan tersendiri tentang bagaimana menginjili anak yang hidup di zaman revolusi industri 4.0 dan 5.0 dengan segala perkembangan teknologi yang semakin canggih. Bila metode dan cara penginjilan yang dipakai masih memakai bentuk tradisional, maka generasi anak sekarang kurang memahami keselamatan yang dilakukan oleh para penginjil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskripsi dengan meneliti sumber-sumber pustaka. Penelitian ini bertujuan menunjukkan urgensinya mencari prinsip-prinsip penginjilan kepada anak-anak dengan efektif, yaitu doktrin mengenai Alkitab dan keselamatan tetap harus menjadi bagian yang utama untuk anak, kreativitas dan integritas dari pemberita Injil. Keputusan menjadi pengikut Kristus sedini mungkin merupakan pondasi yang sangat penting bagi anak di zaman revolusi indurstri dan era digital sangat diperlukan untuk membangun pondasi iman yang kuat.  

Page 1 of 2 | Total Record : 11