cover
Contact Name
Susanto Dwiraharjo
Contact Email
jurnalgraciadeo@gmail.com
Phone
+6282310002924
Journal Mail Official
jurnalgraciadeo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO
ISSN : 26556871     EISSN : 26556863     DOI : 10.46929
Jurnal Teologi Gracia Deo merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan bidang ilmu teologi dan Pendidikan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2655-6863 (online), ISSN: 2655-6871(print), diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Jakarta. Focus dan Scope dalam Jurnal ini adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Misiologi Kepemimpinan Kristen Pendidikan Kristiani
Articles 112 Documents
Formasi Resiliensi Spiritual Umat dalam Pembacaan Yesaya 46:4: Sebuah Refleksi Teologis tentang Pemeliharaan Allah bagi Kelompok Usia Emas di Gereja Baptis Indonesia Grogol Jakarta Hadiningtyas, Dyah Erwina; Apolonia, Lili Soares
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.217

Abstract

 Penelitian ini mengambil fokus pada keterlibatan pelayanan usia emas dalam konteks Gereja Baptis Indonesia Grogol Jakarta, dengan landasan teks Alkitab Yesaya 46:4 yang menjanjikan pemeliharaan ilahi bagi mereka yang setia kepada Tuhan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keterlibatan pelayanan usia emas, mengeksegesis teks Yesaya 46:4 tentang pemeliharaan Allah, dan menerapkan hasil eksegesis tersebut dalam konteks pelayanan di gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan pelayanan usia emas memiliki peran yang penting dalam pertumbuhan gereja dan memberikan teladan bagi generasi muda. Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa pemeliharaan Allah senantiasa hadir bagi mereka yang setia kepada-Nya, sesuai dengan janji yang tercantum dalam Yesaya 46:4. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pelayanan usia emas memegang peranan yang signifikan dalam konteks gereja, dan pemeliharaan Allah merupakan kepastian bagi mereka yang setia dalam pelayanan tersebut. Implikasi praktis dari penelitian ini dapat menjadi landasan bagi pengembangan pelayanan usia emas yang lebih efektif dan berdaya guna di Gereja Baptis Indonesia Grogol Jakarta, serta memberikan inspirasi bagi gereja-gereja lain dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip pemeliharaan ilahi dalam pelayanan generasi yang lebih tua.Kata kunci :
Menciptakan Keluarga Kristiani yang Damai: Upaya Gembala Sidang Memitigasi Tindak Kekerasan dalam Rumah Tangga Melalui Pendidikan Kristiani Sri Gunarti Sabdaningrum; Charista Jasmine Siahaya
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 5, No 2: Januari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v5i2.178

Abstract

Domestic violence is a serious problem that threatens the identity of the Christian family, both personally as a Christian and the family and society at large. In Christian education, the role of pastors has excellent potential to educate congregations about the importance of overcoming and preventing domestic violence. The purpose of this study is to explore the effectiveness of the pastor's role in educating the congregation about domestic violence through Christian education. The research method used in this study is descriptive qualitative with a literature study approach to gain an in-depth understanding of the theory and practice of Christian education relevant to this issue. The results showed that pastors have significant potential to influence the perceptions and actions of the congregation regarding domestic violence through a holistic Christian education approach based on the first Christian values. Pastors as models, role models, and spiritual guides for Christian families. Furthermore, Christianity is important to realize the impact of domestic violence. So, the importance of Christian education as a basis for combating violence. The specificity of this study is to focus on the role of pastors in the context of Christian education related to domestic violence, offering new insights into how the church can be an effective agent of change in society. AbstrakKekerasan dalam rumah tangga merupakan masalah serius yang mengancam identitas keluarga Kristen, baik secara pribadi sebagai seorang Kristen maupun keluarga, dan masyarakat secara luas. Dalam konteks pendidikan Kristen, peran gembala memiliki potensi besar untuk mengedukasi jemaat tentang pentingnya mengatasi dan mencegah kekerasan dalam rumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi efektivitas peran dalam tugas gembala dalam mengedukasi jemaat terkait kekerasan dalam rumah tangga melalui pendidikan Kristen. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskritif dnegan pemdekatan studi literatur untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang teori dan praktik pendidikan Kristen yang relevan dengan isu ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gembala memiliki potensi yang signifikan dalam mempengaruhi persepsi dan tindakan jemaat terkait kekerasan dalam rumah tangga melalui pendekatan pendidikan Kristen yang holistik dan berdasarkan nilai-nilai kekristenan pertama. Gembala sebagai model dan teladan serta pembimbing spiritual keluarga Kristen. Selanjutnya kekristenan penting menyadari adanya dampak kekerasan rumah tangga. Maka pentingnya pendidikan kristiani sebaga dasar dalam memerangi kekekrasan. Kekhususan dari penelitian ini adalah fokus pada peran gembala dalam konteks pendidikan kristiani terkait kekerasan dalam rumah tangga, menawarkan wawasan baru tentang bagaimana gereja dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam masyarakat
Kesetaraan Gender dan Panggilan Perempuan dalam Pemberitaan Injil Ardianto Lahagu; Fredy Simanjuntak; Uswatun Hasanah; Jabes Pasaribu
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.196

Abstract

Even though the patriarchal cultural system is still inherent in Indonesia, especially in Christian society, which shows the dominant centrality of men in the Church and family, this research reveals the phenomenon of an increasing tendency for women to become more religious. In carrying out religious responsibilities, such as attendance at weekly services, daily prayer, witnessing, and preaching the Gospel in the family, women are exposed to gender disparities related to patriarchal traditions. This article aims to discover God's intended design for women as equal partners in preaching the Gospel by exploring women's responses to their call to preach the Gospel in the context of gender equality amidst men's function as priests in the family; preaching the Gospel is considered to continue. The author uses a qualitative approach through Phenomenological Studies. The research results highlight factors such as gender equality, which cannot be separated from the Bible, the reality of the rise of women as one of the church's strengths in ecclesiastical vocations, and gender responsibility as an essential element in designing women's roles in preaching the Gospel. AbstrakMeskipun sistem kebudayaan patriarki masih melekat di Indonesia, khususnya dalam masyarakat Kristen yang menunjukkan dominasi sentralitas laki-laki di Gereja dan keluarga, penelitian ini mengungkap fenomena peningkatan kecenderungan perempuan menjadi lebih religius. Dalam menjalankan tanggung jawab kewajiban religious (keagamaan), seperti kehadiran dalam pelayanan mingguan, doa harian, bersaksi, dan memberitakan Injil dalam keluarga, memperhadapkan perempuan pada kesenjangan gender yang terkait dengan tradisi patriarki. Artikel ini bertujuan untuk menemukan desain yang dimaksudkan Allah untuk perempuan sebagai mitra setara dalam pemberitaan Injil, dengan menggali respons kaum perempuan terhadap panggilan mereka dalam pemberitaan Injil dalam gugus kesetaraan gender ditengah fungsi laki-laki sebagai imam di keluarga, pemberitaan Injil dianggap tetap harus berlanjut. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif melalui Studi Fenomenologi. Hasil penelitian menyoroti faktor-faktor seperti kesetaraan gender yang tidak dapat dipisahkan dalam pandangan Alkitab, realitas kebangkitan perempuan sebagai salah satu kekuatan gereja dalam panggilan gerejawi, dan tanggung jawab gender sebagai elemen penting dalam merancang peran perempuan dalam pemberitaan Injil. 
Profil Pelajar Pancasila dalam Perspektif Pendidikan Kristiani: Sebuah Studi tentang Penguatan Karakter Siswa Saturnina Elisa; Reni Triposa; Yonatan Alex Arifianto
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.197

Abstract

In the implementation of the Pancasila student profile, the subject of civic education serves as a character education process for students within the learning framework. This theory aids students in understanding and applying the values of the Pancasila student profile in their lives. The author employs a literature review method in this study. The discussion in this study concludes that the Pancasila student profile can be implemented in Christian education. This is done to ascertain and develop the Pancasila Student Profile in the students' characters, providing an essential understanding through Christian education. Exemplary attitudes and guidance play a crucial role in effectively imparting understanding to students and enhancing their character. AbstrakDalam implementasi profil pelajar pancasila pelajaran PAK merupakan suatu proses peserta didik dalam pendidikan karakter untuk membentuk pertumbuhan karakter dengan penanaman nilai-nilai profil pelajar Pancasila sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan di sekolah dasar yaitu kurikulum merdeka belajar, melalui teori tersebut membantu peserta didik dapat memahami, mengerti, dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan peserta didik sehingga peserta didik mengalami pertumbuhan karakter yang baik. Penulis menggunakan metode pustaka dalam kajian ini. Pendidikan karakter peserta didik dalam suatu proses pembelajaran yang dilaksanakan, melalui teori tersebut membantu peserta didik dapat mengerti dan dapat mengaplikasikannya sesuai dengan nilai-nilai profil pelajar pancasila dalam kehidupan peserta didik. Penulis menggunakan metode pustaka dalam kajian ini. Uraian dari kajian ini menyimpulkan profil pelajar pancasila dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Hal ini dilakukan untuk mengetahui memperhatikan, dan mengembangkan profil pelajar Pancasila terhadap karakter peserta didik serta memberi pemahaman penting melalui proses Pendidikan Agama Kristen, sikap keteladanan dan bimbingan dalam memberikan pemahaman secara efektif kepada peserta didik. Nilai-nilai yang diimplementasikan tersebut suatu nilai yang sudah diatur dan disusun serta diusahakan kepada peserta didik agar peserta didik mengalami suatu perubahan dalam proses pembelajaran terutama pada karakter peserta didik.  
Counseling of a Traumatic Theological Student with Involvement in Syncretism: A Traumatology-Case Study to an Indonesian Theological Student Trihandarkha, Daniel
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.213

Abstract

Indonesian theological students often come to seminary with a handful of problems from the onset of their lives. The expectation from the traditional Christian family for their son and daughters to set the behavior right in the seminary is outdatedly common. This case study explores a 21-year-old theological male student who suffered verbal and physical abuse from his parents. During the initial four weeks of the therapeutic alliance with the author, he exhibits the traumatic symptoms of severe hostility and somatic re-enactment of past adverse experiences. He had been known to possess talismans and some sacred relics for witchcraft in the past, which contemporarily yielded nightmares and terror at night. The qualitative case study explored the traumatic problem of the student through 12 months of observation and in-depth interviews. Through experiential therapy of gestalt, CBT, and forgiveness therapy in the last seven months, the student showed reduced symptoms of hostility, somatic complaints, and impulse behavior. The spiritual formation of prayer and meditating on the Scripture has been seen as valuable by the patient in dealing with his spiritual problems.  
Menyikapi Toxic Masculinity melalui Fenomenologi Merleau Ponty Riko Silaen; Albertus Daniel Simanungkalit; Erastus Sabdono; Stephanie Erastus; Jemy Saleky Combi
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.204

Abstract

Toxic Masculinity is a problem that is rooted in false rationalization. This rationalization becomes crystallization since the masses agree on it together. As a result, it becomes an objective view and lifestyle. The Apostle Paul proclaimed equality in this regard, of course, equality when living in Jesus Christ. This is the foundation for those of us who believe in Him. However, this equality must be felt and experienced. This research uses a library research method with a qualitative approach. Merleau Ponty's phenomenology invites you to feel that feeling "sense," not to replace that feeling, but to accept it and then exist. Because individuals have bodies, the body is directed at "being in the world," and we must "be in the world."  AbstrakToxic Masculinity merupakan permasalahan yang berakar dari rasionalisasi keliru. Rasionalisasi tersebut menjadi kristalisasi, semenjak massa menyepakatinya bersama, alhasil itu menjadi pandangan dan gaya hidup yang objektif. Rasul Paulus mengumandakan akan kesetaraan terkait hal ini, tentunya kesetaraan ketika hidup di dalam Yesus Kristus. Ini menjadi landasan bagi kita yang beriman padaNya. Namun, kesetaraan tersebut harus dirasakan dan dialami. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan atau library research, dengan pendekatan kualitatif. Fenomenologi Merleau Ponty mengajak untuk merasakan rasa itu “sense”, bukan untuk mengganti rasa itu, tetapi menerima kemudian bereksistensi. Karena individu memiliki tubuh; tubuh tersebut terarah “ber ada-di-dunia” dan kita harus “meng ada-di-dunia”.  
Kepemimpinan Teokrasi dan Spiritualitas Kesetaraan: Sebuah Studi Teologis Kepemimpinan Kristiani dalam Keluaran Okto Sinariyo; Susiana Susiana; Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.199

Abstract

This article investigates the concept of theocracy in the Bible's Book of Exodus and its impact on ideas of justice and leadership in today's context. This research analyzes in depth the narratives in the Book of Exodus, which highlight the relationship between God and the Israelites and how this concept shaped the structure of power and leadership in Israeli society at that time. Through literature analysis and text criticism, this journal reveals that the concept of theocracy in the Book of Exodus significantly impacts views of justice and leadership. The closeness between God and Israelite society is explained as the moral basis for the authority of the government and leaders. Apart from that, this research also explores the implications of this theocracy concept for the current context. By considering the principles of theocracy in the Bible, this journal provides a perspective that can be applied to discussions of justice and leadership in contemporary society. This journal aims to explore a deeper understanding of the concept of theocracy in the Bible and how this understanding can contribute to discussions of justice and leadership in today's society. AbstrakArtikel ini menyelidiki konsep teokrasi yang terdapat dalam Kitab Keluaran dari Alkitab dan dampaknya terhadap gagasan keadilan dan kepemimpinan dalam konteks masa kini. Penelitian ini menganalisis secara mendalam narasi-narasi dalam Kitab Keluaran yang menyoroti hubungan antara Tuhan dan bangsa Israel, serta bagaimana konsep ini membentuk struktur kekuasaan dan kepemimpinan dalam masyarakat Israel pada masa itu. Melalui analisis literatur dan kritik teks, jurnal ini mengungkapkan bahwa konsep teokrasi dalam Kitab Keluaran memiliki dampak yang signifikan pada pandangan keadilan dan kepemimpinan. Kedekatan antara Tuhan dan masyarakat Israel dijelaskan sebagai landasan moral bagi otoritas pemerintah dan pemimpin. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi implikasi dari konsep teokrasi ini terhadap konteks masa kini. Dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip teokrasi yang terdapat dalam Alkitab, jurnal ini memberikan perspektif yang dapat diterapkan dalam pembahasan tentang keadilan dan kepemimpinan dalam masyarakat kontemporer. Jurnal ini bertujuan untuk menggali pemahaman lebih dalam tentang konsep teokrasi dalam Alkitab dan bagaimana pemahaman ini dapat memberikan kontribusi konstruktif terhadap diskusi keadilan dan kepemimpinan dalam masyarakat saat ini. 
“Kekayaan yang Menumbuhkan Sayap”: Faktor Tindakan-Evaluasi terhadap Disorientasi Penggunaan Harta dalam Kajian Interpretatif Amsal 23:4-5 Sualang, Farel Yosua
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.209

Abstract

The book of Proverbs stands out in the wisdom genre due to its use of figurative language, including comparison, substitution, addition, and parallelism. The interpretation of Proverbs 10-29 reveals a unique use of figurative language in the expression 'riches that grow wings' found in Proverbs 23:4-5. There has been a difference in interpretation between Thomas Ulrich and Kojo Okyere regarding the figurative use of the phrase 'wealth that grows wings'. Ulrich and Okyere believe it refers to building organizational relationships and exercising self-control when using wealth earned through one's work. However, this article's qualitative study of the sub-interpretative design of the wisdom genre, which focuses on the use of figurative language, inter-topic context, and parallelism structure, reveals that the expression 'wealth that grows wings' in Proverbs 23:4-5 serves as an action-evaluation factor against hasty action and a reminder of the futility of using wealth. The interpretation's findings are based on a stylistic debate of each stitch line of Proverbs that relates reciprocally to character building in Proverbs 23:4-5.  AbstrakKitab Amsal memberikan suatu kekhasan dari sudut pandang genre hikmat, khususnya pada penggunaan bahasa kiasan (gaya bahasa perbandingan, penggantian, penambahan) dan pemakaian paralelisme (kesejajaran). Interpretasi dalam kumpulan-kumpulan Amsal 10-29 menunjukkan adanya penggunaan bahasa kiasan yang unik terhadap ungkapan “kekayaan yang menumbuhkan sayap” dalam Kitab Amsal 23:4-5. Sejauh ini, terjadi kesenjangan interpretasi antara Thomas Ulrich dan Kojo Okyere terhadap maksud dari penggunaan bahasa kiasan “kekayaan yang menumbuhkan sayap” yang hanya berorientasi pada sarana terhadap relasi organisasi dan pengendalian diri kepada pemakaian harta sebagai suatu hasil dari pekerjaan seseorang. Namun begitu, dengan menjalankan suatu kajian kualitatif sub interpretative design genre hikmat (berpusat pada penggunaan gaya bahasa kiasan, konteks antar topik dan struktur paralelisme), artikel ini menemukan bahwa ungkapan “kekayaan yang menumbuhkan sayap” pada Amsal 23:4-5 menunjukkan adanya faktor tindakan-evaluasi terhadap tindakan yang tergesa-gesa sebagai disorientasi terhadap suatu nilai dari kesia-siaan tentang penggunaan harta. Temuan terhadap interpretasi ini didasarkan adanya suatu kekahasan gaya bahasa tindakan-evaluasi dari masing-masing baris Amsal yang berhubungan secara resiprokal kepada pembentukan karakter dalam Amsal 23:4-5.  
Pentingnya Pengajaran Firman Allah bagi Penguatan Resiliensi Umat: Sebuah Kajian Presfektif Lukas 2: 41-52
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.151

Abstract

The importance of teaching God's Word in the Church is something that believers urgently understand because, currently, many people have neglected to study God's Word. Jesus, who was an example in studying God's Word, will be an example of the importance of studying God's Word, the narrative of which is recorded in Luke 2: 40-52. This research uses a qualitative method by interpreting the narrative in Luke 2:40-52 to see why it is important to study God's Word. The results of the interpretation found that studying God's Word is essential to know Jesus correctly, grow spiritually, develop loyalty, and commit to carrying out God's will.  AbstrakPentingnya Pengajaran Firman Allah dalam Gereja sudah merupakan hal yang mendesak di pahami oleh orang percaya karena pada saat ini ada banyak orang yang sudah mengabaikan pembelajaran Firman Tuhan. Yesus yang menjadi teladan dalam belajar Firman Tuhan akan menjadi teladan untuk melihat pentingnya belajar Firman Tuhan yang narasinya di catat di Lukas 2: 40-52. Metode dalam penelitian ini mengunakan metode Kualitatif dengan menafsirkan narasi yang ada di Lukas 2:40-52 untuk melihat mengapa penting belajar Firman Tuhan. Dari hasil tafsiran maka ditemukan Pentingnya belajar Firman Tuhan adalah: untuk mengenal Yesus dengan benar, untuk menumbuhkan kerohanian, untuk menubuhkan kesetiaan dan untuk menumbuhkan komitmen dalam menjalankan kehendak Allah.  
Implikasi Teologi Kovenan terhadap Keutamaan Yesus dalam Kehidupan Jemaat: Perspektif Ibrani 7:22 Purwonugroho, Daniel Pesah; Latunussa, Reinhart Helbert Albrow
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.215

Abstract

This article aims to explore the relationship between covenant theology and the supremacy of Jesus from the perspective of Hebrews 7:22, as well as its implications for the congregation's life. Covenant theology describes the relationship between God and humanity as recorded in the Bible, from Genesis to Revelation. It articulates God's promises to humanity, including the promise of salvation. The Book of Hebrews is a text that contains both covenant theology and high Christology. The supremacy of Jesus is also described in Hebrews. Hebrews 7:22 is a verse that explains the intersection between covenant theology and the supremacy of Jesus. Understanding covenant theology can lead the congregation to reverence and awe toward a God who interacts directly with humanity. The supremacy of Jesus plays a central role as the fulfiller and guarantor of the new covenant for humanity through His redemptive work. Using a qualitative descriptive approach, this study will expose the implications of covenant theology for the supremacy of Jesus from the perspective of Hebrews 7:22. AbstrakArtikel ini dibuat untuk menjelajahi hubungan teologi kovenan terhadap keutamaan Yesus dalam persepktif Ibrani 7:22 serta implikasinya bagi kehidupan jemaat. Teologi kovenan melukiskan hubungan antara Allah dan manusia yang terdapat di dalam catatan Alkitab dari Kejadian sampai dengan Wahyu. Teologi kovenan mengartikulasikan janji Allah kepada manusia termasuk janji keselamatan. Kitab Ibrani adalah termasuk kitab yang mengandung teologi kovenan dan juga kristologi yang tinggi. Keutamaan Yesus juga dideskripsikan di dalam kitab Ibrani. Ibrani 7:22 adalah ayat yang menjelaskan persinggungan antara teologi kovenan serta keutamaan Yesus. Pengenalan teologi kovenan akan membawa jemaat mengalami rasa hormat dan takjub tentang Allah yang berinteraksi secara langsung kepada umat manusia. Keutamaan Yesus memiliki peranan sentral sebagai pemenuh dan penjamin kovenan baru bagi manusia melalui karya penebusanNya. Dengan penelitian kualitatif deskriptif, penelitian ini akan mengekspos implikasi teologi kovenan terhadap keutamaan Yesus dalam sudut pandang Ibrani 7:22.  

Page 11 of 12 | Total Record : 112