cover
Contact Name
Susanto Dwiraharjo
Contact Email
jurnalgraciadeo@gmail.com
Phone
+6282310002924
Journal Mail Official
jurnalgraciadeo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO
ISSN : 26556871     EISSN : 26556863     DOI : 10.46929
Jurnal Teologi Gracia Deo merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan bidang ilmu teologi dan Pendidikan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2655-6863 (online), ISSN: 2655-6871(print), diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Jakarta. Focus dan Scope dalam Jurnal ini adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Misiologi Kepemimpinan Kristen Pendidikan Kristiani
Articles 112 Documents
Mengaktualisasi Konsep Hidup Benar dalam Perspektif 1 Petrus 3:8-10 Kelvin Widarta; Matius I Totok Dwi Koryanto; Yosua Budi Ristiono
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i1.82

Abstract

It is crucial to apply the values of right living in daily life, focusing on how the concept of right living by biblical teachings can form healthy and harmonious relationships within the Christian community. God has a purpose in every human being. That purpose is for humans to have a life that loves, serves, glorifies, and fellowships with God. Unfortunately, God's good purpose is undermined by human beings themselves when they choose to disobey God so that sin dominates all aspects of human life. So, with this research, the author poured out Peter's advice to strengthen the faith of believers and the primary teaching that becomes the foundation of believers. To have the concept of righteous living. Using a descriptive qualitative method, the conclusion that can be drawn is that applying these values in daily life allows individuals to build healthy and harmonious relationships in the Christian community, reflecting the character of Christ and strengthening the testimony of faith. Thus, living the correct concept of life following the Bible's teachings, as Peter taught, is an essential calling for every Christian living their daily lives.  AbstrakPentingnya penerapan nilai-nilai hidup benar dalam kehidupan sehari-hari, dengan fokus pada bagaimana konsep hidup yang benar sesuai dengan ajaran Alkitab dapat membentuk hubungan yang sehat dan harmonis dalam komunitas Kristen. Allah memiliki maksud dan tujuan pada diri setiap manusia. Tujuan tersebut ialah agar manusia memiliki hidup yang mengasihi, melayani, memuliakan, dan bersekutu dengan Allah. Tetapi sangat disayangkan tujuan Allah yang amat baik ini dirusak oleh manusia itu sendiri ketika manusia memilih untuk tidak taat kepada Allah sehingga dosa menguasai seluruh aspek kehidupan manusia. Maka dengan penelitian ini penulis menuangkan nasihat Petrus diberikan bukan hanya untuk menguatkan iman orang percaya, tetapi pengajaran dasar yang menjadi fondasi orang percaya. Untuk memiliki konsep hidup benar. Menggunkan metode kualitatif deskritif maka Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa penerapan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari memungkinkan individu untuk membangun hubungan yang sehat dan harmonis dalam komunitas Kristen, yang pada gilirannya mencerminkan karakter Kristus dan memperkuat kesaksian iman. Dengan demikian, menghidupi konsep hidup yang benar sesuai dengan ajaran Alkitab, seperti yang diajarkan oleh Petrus, merupakan panggilan penting bagi setiap orang Kristen dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 
Membangun Paradigma tentang Hutang-Piutang dalam Perspektif Biblikal Coral Kolondam
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 2, No 2 (2020): Januari 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v2i2.49

Abstract

Paradigm becomes a concept of thinking that binds God's people. The wrong paradigm produces wrong life behavior. As absolute truth, the Bible is necessary to straighten out the paradigm of God's people to produce an authentic life of faith. The Biblical perspective must be the reference used. So, it is necessary to investigate with the right measuring instruments to find the proper standards regarding debts and receivables in the Christian life of God's people. Qualitative research methods are descriptive, use analysis, and emphasize perspectives generated through Bible observations. The research results found that several strategies are considered to be able to overcome the inequality problem discussed. The research results are expected to change the paradigm of God's people. AbstrakParadigma menjadi suatu konsep berpikir yang mengikat umat Tuhan. Paradigma yang salah menghasikan perilaku hidup yang salah. Alkitab sebagai kebenaran yang absolut dipandang perlu meluruskan paradigma umat Tuhan sehingga menghasilkan kehidupan beriman yang benar. Pers-perktif Alkitab harus menjadi acuan yang digunakan. Maka perlu untuk diselidiki dengan alat ukur yang tepat sehingga menemukan standar yang tepat perihal hutang piutang di tengah kehidupan kekristenan umat Tuhan. Metode penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bersifat deskripsi, cenderung menggunakan analisis dan lebih menonjolkan pada perspektif yang dihasilkan melalui observasi Alkitab. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat beberapa strategi yang dianggap bisa menjadi yang mengatasi masalah kesenjangan yang dibahas. Hasil penelitian diharapkan mengubah paradigma umat Tuhan. 
Memaknai Konsep Firman Menjadi Manusia dalam Bingkai Resiliensi Iman Kristen: Studi Eksegesis Yohanes 1:14 Susanto Dwiraharjo
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v3i2.59

Abstract

The various perspectives on Christology often create confusion among the people of God. Each perspective presents different arguments, making conducting a biblical study necessary. Therefore, this paper attempts to provide an answer based on the foundations of the Bible. The method employed is exegesis. Exegesis is a method of interpreting the Bible that emphasizes an approach with various analyses using the original language of the Bible as its primary foundation. Thus, it is hoped that a biblical truth will be obtained to address the abovementioned perspectives.  AbstrakAdanya berbagai pandangan tentang Kristologi seringkali menimbulkan kebingungan bagi umat Tuhan. Masing-masing pandangan memberi argumentasi yang berbeda-beda. Berkenaan dengan itu diperlukan suatu kajian Alkitabiah terkait hal tersebut. Oleh karena itu, makalah ini mencoba memberi suatu jawaban yang didasarkan pada dasar-dasar Alkitab. Metode yang digunakan adalah eksegesis. Eksegesis adalah metode tafsir Alkitab yang mengedepankan pendekatan dengan berbagai analisis dengan bahasa asli Alkitab sebagai dasar utamanya. Dengan demikian diharapkan nanti akan mendapat suatu kebenaran Alkitabiah yang dapat memberi jawaban atas berbagai pandangan di atas.  
Beragama yang Humanis: Sebuah Konstruksi Spiritualitas Persaudaraan Antarumat Beragama melalui Refleksi Teologis Surat-surat Paulus Gea, Sefen Krisman; Daeli, Gordenisobek
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.214

Abstract

Pluralistic societies need inter-religious brotherhood to strengthen harmony and peace, especially in Indonesia. This study aims to explore the Apostle Paul's humanistic values through textual analysis of Paul's letters and how these values can be applied in building interfaith brotherhood. The methodology used is qualitative analysis with a narrative approach, focusing on Paul's letters such as Romans, 1 and 2 Corinthians, Philippians, Galatians, and 2 Timothy. The study explores the main themes in Paul's texts, which include love, humility, and service as the basis for brotherly relationships. The findings show that Paul's teachings offer concrete guidelines for building harmonious and mutually supportive relationships between religious communities. By understanding and applying the humanistic values of Paul's teachings, individuals can strengthen interfaith relationships and create a more harmonious environment. This research contributes to a more specific understanding of the practice of brotherhood in the context of interfaith interactions. AbstrakMasyarakat majemuk memerlukan persaudaraan antarumat beragama untuk memperkuat kerukunan dan perdamaian, terutama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keteladanan humanis Rasul Paulus melalui analisis teks surat-surat Paulus dan bagaimana nilai-nilai ini dapat diterapkan dalam membangun persaudaraan antarumat beragama. Metodologi yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan naratif, fokus pada surat-surat Paulus seperti Surat Roma, Surat 1 dan 2 Korintus, Filipi, Galatia dan 2 Timotius. Penelitian ini menggali tema-tema utama dalam teks Paulus yang mencakup kasih, kerendahan hati, dan pelayanan sebagai landasan untuk hubungan persaudaraan. Temuan menunjukkan bahwa ajaran Paulus menawarkan panduan konkret untuk membangun hubungan yang harmonis dan saling mendukung di antarumat beragama. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai humanis dari ajaran Paulus, individu dapat mempererat hubungan antarumat beragama dan menciptakan lingkungan yang lebih harmonis. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman praktik persaudaraan yang lebih spesifik dalam konteks interaksi antarumat beragama.  
Berjumpa Kemajemukan dalam Ruang Virtual: Upaya Membangun Toleransi melalui Pendidikan Kristen Hakmoni Daud Parhusip; Yohanes Joko Saptono
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.203

Abstract

This article investigates and describes the role of virtual space in dealing with religious pluralism in the context of Christian religious education. Considering digital technology's advanced and massive development, virtual space has become an essential platform for interfaith interaction. Both as broadcasting and spiritual formation, but the main focus is on how individuals and Christian communities use virtual space to promote tolerance and mutual respect as the basis of social life and, of course, as an understanding of various beliefs through a descriptive qualitative method with a study approach and literature review. This journal article analyzes the strategies and practices used by Christian communities in facing the challenges of religious pluralism in virtual space. The results show the importance of inclusive approaches and inter-religious dialog in building tolerance and respect amidst the challenges of a fast-paced era full of modern technological sophistication. The practical and theoretical implications of the findings are discussed, as well as recommendations for developing Christian religious education that is more adaptive to the increasingly complex realities of virtual space.  AbstrakArtikel ini menginvestigasi dan mendeskripsikan peran ruang virtual dalam menghadapi kemajemukan agama dalam konteks pendidikan agama Kristen. Menilik semakin maju dan massifnya perkembangan teknologi digital, ruang virtual menjadi platform penting bagi interaksi lintas agama. Baik sebagai siar maupun pembinaan rohani, namjun fokus utama adalah bagaimana personal maupun komunitas kekristenan menggunakan ruang virtual untuk mempromosikan toleransi dan saling menghargai sebagai dasar dari hidup bermasyarakat, tentunya hal itu sebagai pengertian di antara berbagai kepercayaan. Melalui metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi dan tinjauan literatur. Maka artikel jurnal ini menganalisis strategi dan praktek yang digunakan oleh komunitas Kristen dalam menghadapi tantangan kemajemukan agama dalam ruang virtual. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya pendekatan inklusif dan dialog antar-agama dalam membangun toleransi dan bentyuk menghargai yang kokoh di tengah tantangan zaman yang cepat penuh dengan kecanggihan teknologi yang modern. Implikasi praktis dan teoritis dari temuan ini dibahas, serta rekomendasi untuk pengembangan pendidikan agama Kristen yang lebih adaptif terhadap realitas ruang virtual yang semakin kompleks.  
Foso Rumages Um Banua: Fungsi Pastoral Memelihara Nilai Religius Tradisi Pengucapan Syukur di Minahasa Ruty Jacoba Kapoh; Evi Kapoh; Andries Yosua; Timotius Tan; Buyung Kosaputera
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.200

Abstract

Thanksgiving is a prevalent tradition among the Minahasa tribe. It is a tradition carried out in the middle of the year when the harvest season arrives. This tradition is carried out with pure intentions as a form of gratitude to God for blessing the harvest. As time goes by, the implementation of thanksgiving increasingly experiences a shift in meaning. Its implementation is characterized by eating and drinking parties that cost a lot of money. This can cause economic problems in the family. It often causes negative things for young people, and social conflicts can also occur. This research aims to explain and describe the function of pastoral care in preserving religious values in the tradition of thanksgiving in Minahasa. The method used is descriptive qualitative based on phenomenology. Data was obtained through in-depth interviews with traditional leaders, religious leaders, cultural observers, researchers, and researchers as critical instruments. The research results concluded that the meaning of implementing the tradition of giving thanks has experienced a shift. For this reason, this research recommends that churches create creative and targeted programs to increase understanding and awareness of the people so that the religious values in this tradition will not be lost. The church and government need to work together to hold programs to educate the public.  AbstrakTradisi Pengucapan Syukur adalah tradisi yang sangat populer di suku Minahasa. Sebuah tradisi yang dilakukan pada pertengahan tahun ketika musim panen tiba. Tradisi ini dilakukan dengan niat yang murni sebagai bentuk syukur kepada Tuhan karena sudah memberkati hasil panen. Seiring waktu berjalan pelaksanaan pengucapan syukur semakin mengalami pergeseran makna. Saat ini pelaksanaannya diwarnai dengan pesta makan minum yang menghabiskan uang banyak. Hal ini dapat menimbulkan masalah ekonomi dalam keluarga. Tidak jarang menimbulkan hal-hal yang negatif bagi kaum muda dan konflik sosial juga bisa terjadi dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan fungsi pelayanan pastoral untuk melestarikan nilai religi dalam tradisi pengucapan syukur di Minahasa. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif berbasis fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama, pemerhati dan peneliti budaya dan peneliti sendiri sebagai instrumen kunci. Hasil penelitian yang ditemukan disimpulkan bahwa makna pelaksanaan tradisi pengucapan syukur telah mengalami pergeseran. Untuk itu, penelitian ini merekomendasikan kepada gereja untuk membuat program kreatif dan tepat sasaran agar dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran umat sehingga nilai religius dalam tradisi ini tidak akan hilang. Gereja dan pemerintah perlu bekerja sama dalam mengadakan program-program untuk mengedukasi masyarakat.  
Konflik Sosio-Religius Jemaat Korintus: Sebuah Investigasi tentang Kesimpangsiuran Makna Karunia Rohani Siagian, Handra
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 7, No 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v7i1.210

Abstract

 The Apostle Paul is a crucial figure in the New Testament who played a significant role in the early development of Christianity, particularly among non-Jews. He established congregations in various cities such as Corinth, Galatia, Ephesus, Philippi, and Thessalonica, successfully crossing ethnic, cultural, and religious boundaries. However, the presence of co-workers like Apollos, Cephas, and James often caused divisions among the congregations. These divisions were influenced by the immaturity of the believers' faith and the socio-economic differences within the Corinthian society, leading them to idolize certain preachers rather than focusing on the core message of the Gospel. The confusion over understanding spiritual gifts further complicated the conflicts within the Corinthian church. Paul emphasized that spiritual gifts are meant to unite and strengthen the congregation's faith, equip them with power, and build up the body of Christ. Through his letters, Paul sought to reaffirm the principles of God's Word and address the divisions, aiming to create a harmonious and strong-faith congregation in Christ. This research employs a qualitative approach with historical analysis and exegesis of biblical texts, along with contextual analysis of the social, economic, and cultural conditions of Corinthian society in the first century AD. The findings indicate that the socio-religious conflicts within the Corinthian church can be resolved by understanding the meaning of spiritual gifts and applying appropriate solutions to foster harmony in congregational life. AbstrakRasul Paulus merupakan tokoh kunci dalam Perjanjian Baru yang berperan besar dalam perkembangan awal Kekristenan, terutama di kalangan non-Yahudi. Ia mendirikan jemaat di berbagai kota seperti Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, dan Tesalonika, dan berhasil melintasi batas suku, budaya, dan agama. Namun, kehadiran saudara sepelayanan seperti Apolos, Kefas, dan Yakobus sering menyebabkan perpecahan di antara jemaat. Perpecahan ini dipengaruhi oleh ketidakdewasaan iman jemaat dan perbedaan sosial-ekonomi masyarakat Korintus, yang lebih mengidolakan pelayan tertentu daripada fokus pada inti Injil. Kesimpangsiuran pemahaman tentang karunia rohani menambah kompleksitas konflik di jemaat Korintus. Paulus menekankan bahwa karunia rohani bertujuan untuk mempersatukan dan memperkuat iman jemaat, memperlengkapi mereka dengan kuasa, dan membangun tubuh Kristus. Melalui surat-suratnya, Paulus berusaha menegaskan prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan dan mengatasi perpecahan, dengan harapan menciptakan jemaat yang harmonis dan beriman kuat dalam Kristus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis historis dan analisis kontekstual terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Korintus pada abad pertama Masehi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik sosio-religius di jemaat Korintus dapat diatasi dengan memahami makna karunia rohani dan menerapkan solusi yang sesuai untuk menciptakan keharmonisan dalam kehidupan berjemaat.  
Membumikan Injil: Menjangkau Generasi Milenial dengan Pesan Injil yang Relevan Pontus Sitorus
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.179

Abstract

This article narrates the importance of presenting a relevant gospel message in responding to the millennial generation's spiritual needs and challenges. In an era dominated by the rapid advancement of technology and massive information in all lifelines, millennials often face uncertainty, difficulty understanding life's meaning, and the search for a clear identity and purpose due to the amount of false content and information spread in the digital world. Therefore, churches and spiritual leaders need to understand the context of habits and values believed by this generation. Grounding the gospel so that it can be adjusted to deliver the gospel message without reducing the substance, essence, and norms of the truth of God's word. By utilizing language, media, and communication formats relevant to the millennial generation, churches can build strong relationships and empower them to live meaningful lives based on the teachings of Christ. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the church's role in grounding the gospel to reach the millennial generation with relevant gospel messages is necessary to understand the nature and importance of preaching the gospel to Christianity. This aims to equip it to reach the millennial generation and its existing challenges so that actualization in grounding the gospel can be accepted. It also uses evangelization strategies for the relevant Millennial generation. AbstrakArtikel ini menarasikan pentingnya menghadirkan pesan Injil yang relevan dalam merespons kebutuhan kerohanian dan tantangan yang dihadapi oleh generasi milenial. Dalam era yang didominasi oleh pesatnya kemajuan teknologi dan informasi yang masif disegala lini kehidupan, generasi milenial sering kali menghadapi ketidakpastian, kesulitan dalam memahami makna hidup, dan pencarian akan identitas serta tujuan yang jelas. Akibat banyaknya konten dan informasi palsu yang tersebar di dunia digital. Oleh karena itu, penting bagi gereja dan pemimpin rohani untuk memahami konteks habit dan nilai-nilai yang diyakini oleh generasi ini. Membumikan Injil agar dapat penyesuaian dalam penyampaian pesan Injil, tanpa mengurangi substansi dan esensi serta norma kebenaran firman Tuhan. Dengan memanfaatkan bahasa, media, dan format komunikasi yang relevan dengan generasi milenial, gereja dapat membangun hubungan yang kuat dan memberdayakan mereka untuk menjalani kehidupan yang bermakna berdasarkan ajaran Kristus. Mengunakan Metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkana bahwa peran gereja dalam membumikan injil sebagai usaha untuk menjangkau generasi milenial dengan pesan injil yang relevan, maka diperlukan pemahaman terkait hakikat dan Pentingnya memberitakan Injil kepada kekristenan. Hal ini bertujuan memperlangkapi sehingga dapat menjangkau generasi milenial dan tantangannya yang ada supaya aktualisasi dalam membumikan Injil dapat diterima. Dan hal itu memang menggunkan strategi penginjilan bagi generasi Milenial yang relevan.   
Meningkatkan Kualitas Pendidikan Kristiani Melalui Reorientasi Nilai Pendidikan David Raynold Partogi
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.202

Abstract

Education is the bridge to a better society. Through education, prosperity can be achieved. As such, individuals from all walks of life are actively encouraged to pursue education. However, problems arise as education is now certificate-oriented. The orientation of education towards certificates means pushing education towards learning outcomes. Education focuses on certificates and prioritizes the product's quality, namely the students' ability. Thus, education is currently considered to have experienced disorientation. Disorientation in education occurs due to various problem factors, such as uneven quality levels in each education unit and college, passive students, poor learning systems, the role of teachers in learning, and others. To solve the problem, the subject of education must understand the role and needs of each subject of education. Thus, the issue of disorientation in Indonesian education can be overcome properly.   AbstrakPendidikan adalah jembatan dalam pencapaian mayarakat yang lebih baik. Melalui pendidikan, kesejahteraan dapat tercapai. Karena itu, setiap individu dari berbagai lapisan masyarakat aktif didorong untuk menempuh pendidikan. Namun, masalah muncul seperti pendidikan kini berorientasi pada sertifikat (certificate oriented). Orientasi pendidikan terhadap ijazah berarti mendorong pendidikan kepada hasil pembelajaran. Padahal, pendidikan tidak hanya fokus pada sertifikat, melainkan mengutamakan kualitas produk, yakni kemampuan dari peserta didik. Sehingga, pendidikan saat ini dinilai telah mengalami disorietasi. Disorientasi dalam pendidikan terjadi karena berbagai faktor masalah, seperti: tingkat kualitas yang belum merata pada setiap satuan pendidikan dan perguruan tinggi, peserta didik yang pasif, sistem pembelajaran yang tidak baik, peran guru dalam pembelajaran, dan lain-lain. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, maka subjek pendidikan harus memahami peran dan kebutuhan dari masing-masing subjek pendidikan. Sehingga, dengan demikian masalah disorientasi dalam pendidikan Indonesia dapat diatasi dengan baik. 
Mengkaji Pinjaman Online dalam Perspektif Amsal 22:7 Viona Wong; Martina Novalina; Esther Natasaputera
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 6, No 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v6i2.198

Abstract

Debt is one option to save your financial situation, or what is known as 'digging a hole and closing a hole.' Poor financial conditions do not allow a person to pay off previous debts, thereby increasing the tendency to borrow new debts to pay old debts. This condition ultimately gave rise to a phenomenon related to online loans. This article wants to discuss debt from a Christian perspective. Using a qualitative approach through literature study, it was found that the Bible teaches good and reasonable financial advice, emphasizing that predatory loans and taking advantage of the poor are enticements that must be avoided. In Christianity, the basis for the practice of debt and receivables for Christians is love and justice. AbstrakUtang menjadi salah satu opsi untuk menyelamatkan keadaan finansial, atau dikenal dengan istilah ‘gali lubang tutup lubang’. Keadaan finansial yang buruk tidak memungkinkan seseorang untuk membayar utang sebelumnya, sehingga meningkatkan kecenderungan untuk meminjam utang baru untuk membayar utang lama. Kondisi ini akhirnya memunculkan fenomena yang terkait dengan pinjaman online. Artikel ini ingin membahas utang dari perspektif kekristenan. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi literatur didapati bahwa Amsal 22:7 mengajarkan nasihat keuangan yang baik dan masuk akal, yang menegaskan bahwa pinjaman yang bersifat predator dan mengambil keuntungan dari orang miskin merupakan suatu bujukan yang harus dihindari. Dalam kekristenan dasar praktik utang piutang bagi orang kristen adalah kasih dan keadilan.  

Page 10 of 12 | Total Record : 112