cover
Contact Name
Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Contact Email
idabaguseka09@gmail.com
Phone
+6287862277494
Journal Mail Official
idabaguseka09@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja Jl. Kresna, Gang III No 2B Singaraja Telp. (0362) 21289
Location
Kab. buleleng,
Bali
INDONESIA
GENTA HREDAYA: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja
ISSN : 25986848     EISSN : 27221415     DOI : -
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja hadir untuk memberi ruang bagi para penulis yang ingin mengembangkan dan menyebarkan nilai-nilai filsafat Hindu. Implementasi ajaran filsafat khususnya filsafat Hindu ini hampir setiap saat dijumpai dalam setiap aspek kehidupan umat beragama. Genta Hredaya sebagai Jurnal Filsafat Hindu berusaha melakukan pencerahan melalui kontemplasi hakikat berbagai macam pengetahuan keagamaan. Fokus Genta Hredaya adalah: 1. Filsafat Hindu 2. Ilmu Filsafat 3. Ilmu Agama 4. Ilmu Budaya 5. Filsafat India 6. Filsafat Nusantara 7. Kajian Susastra Hindu
Articles 124 Documents
KESETARAAN WARGA NEGARA DALAM TRADISI PERKAWINAN NYENTANA KAJIAN FILSAFAT HINDU Ida Bagus Wika Krishna
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2138

Abstract

Penelitian ini berupaya mendeksripsikan eksistensi tradisi perkawinan nyentana di tengah-tengah masyarakat patriarkhi sebagai upaya mewujudkan kesetaraan warga negara. Melalui upaya ini diharapkan menjadi solusi dalam mewujudkan tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (citizenship education) yaitu untuk membentuk warga negara yang baik dan cerdas salah satunya diwujudkan dengan sikap tidak membedakan status, kedudukan, dan gender seseorang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan nyentana itu muncul sebagai upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sesuai dengan konvensi CEDAW dan undang-undang nomor 1 tahun 1974. Hal ini dikarenakan pada tradisi perkawinan nyentana memungkinkan seorang perempuan berkedudukan sebagai purusa (memiliki kekuasaan tertinggi) di tengah-tengah masyarakat patriarkhi selain itu keluarga yang hanya memiliki anak perempuan diberi hak yang sama dengan keluarga yang memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan keturunannya dalam prinsip patriarkhi.
Tradisi Ngeningang Raga saat Tumpek Kuningan Di Desa Adat Kebonjero Desa Munduktemu Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan (Perspektif Teologi Hindu) I Nyoman Surpa Adisastra; Yunitha Asri Diantary
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2085

Abstract

Ngeningang raga saat Tumpek Kuningan yang dilaksanakan oleh Desa Adat Kebonjero merupakan tradisi yang mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan komitmen sebagai manusia. Terlebih sebagai manusia yang beragama, tradisi ini menjadi momentum berserah dan pasrah di bawah kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di sisi lain, dalam hubungannya dengan Dharma Agama dan Dharma Negara, tradisi ini menjadi bagian dari upaya penyadaran masyarakat untuk patuh dan taat kepada aturan-aturan agama dan negara. Tradisi Ngeningang raga dengan latar belakang sejarahnya dan kemuliaan niat pelaksanaannya perlu dilestarikan untuk kedepannya. Walaupun tradisi ini cukup sederhana, namun tidak mengurangi makna yang diwariskan oleh leluhur. Keharmonisan dalam masyarakat merupakan kunci dalam kesejahteraan dan kebahagiaan yang diharapkan terwujud, baik oleh agama maupun negara.
PELITA DHARMA: Keutamaan Dharma Menurut Sarasamuccaya I Ketut Wisarja; Ni Wayan Aryani; Ni Nyoman Suastini
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2282

Abstract

 Rapid progress in the field of information and technology on the one hand makes human life easier and pragmatic, but on the other hand it raises quite deep concerns because it has negative impacts, such as; triggers stress, irritability, self-determination, and selfishness. This article aims to discuss and analyze the virtues of dharma as a light or enlightenment of the spirituality of human life and its implementation for Hindus, with the aim of realizing a peaceful, peaceful, harmonious, and happy society both physically and mentally. Therefore, make dharma as a basis in seeking wealth, seeking satisfaction, obtaining happiness, and as a means to heaven. Practically, this article is expected to be useful for Hindus as a guide and foundation in carrying out all activities of daily life.
Filsafat Positivistik, Manusia Modern dan Kegagalan Modernitas Ketut Agus Nova
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2108

Abstract

AbstrakMunculnya filsafat positivistik yang menjunjung tinggi penalaran inderawi dan ilmu pengetahuan menjadi awal kelahiran zaman modern. Akan tetapi, kelahiran zaman ini tidak serta merta membawa manusia ke dalam tatanan hidup yang lebih baik. Justru meninggalkan berbagai masalah kemanusiaan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan eksplanasi mengenai kegagalan modernisme didalam membawa manusia ke tahap yang lebih baik. Metode yang dipergunakan dalam tulisan ini adalah studi kualitatif-eksploratif dengan fokus “literature review”. Modernisme menciptakan berbagai dampak kemanusiaan, seperti terjadinya “holocaust” atau “human waste”. Tragedi ini terjadi dilatarbelakangi oleh rasionalisme, konformitas dan terciptanya mekanisme otoritas legal rasional. Modernisme adalah fakta tentang kemajuan manusia yang justru membawa manusia pada penciptaan tragedi kemanusiaan.Kata kunci: positivistik, manusia, modernisme 
Nilai Agama Hindu Pada Lirik Lagu Band Subkultur Metal Rudra: Hymns from The Blazing Chariot i gusti agung ngurah agung yudha pramiswara
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2097

Abstract

Hindu sebagai sebuah agama memiliki konsep filosofis maupun teologis yang digunakan sebagai sebuah panduan kehidupan (way of life) bagi umat hindu di seluruh dunia. Nilai-nilai tersebut tersurat dan tersirat dalam berbagai bentuk literasi yang digubah oleh para rsi yang merupakan orang yang telah tercerahkan dan telah diwariskan dan diajarkan serta diterapkan secara turun temurun. Nilai-Nilai atau konsepsi kehidupan Hindu ini seringkali tidak tersampaikan dengan baik, terlebih pada era disrupsi saat ini dimana massive-nya perkembangan teknologi dan globalisasi membuat orang semakin enggan untuk membaca dan mempelajari nilai-nilai kehidupan atau way of life dari ajaran agama Hindu melalui Bhagawadgita. Melalui lagu yang berjudul “Hymns From The Blazing Chariot” dari band Rudra nilai-nilai agama Hindu di dalam Bhagavand Gita lebih mudah diserap terutama oleh kaum muda. Nilai-nilai Ketuhanan dalam agama Hindu disampaikan atau dikomunikasikan melalui lirik lagu, dimana di dalam lirik lagu tersebut disampaikan pula sloka-sloka yang mendukung pernyataan dalam lirik lagu tersebut. Nilai-nilai agama hindu mengenai pencerahan akan Atman yang mejatinya adalah bagian dari Brahman dan tidak akan dapat dimusnahkan dengan menggunakan apapun terpampang dengan jelas secara eksplisit.Kata Kunci: Bhagavand Gita, Nilai agama Hindu, Subkultur Metal, Vedic Metal
TRADISI OGOH-OGOH DI BALI DALAM TINJAUAN KRITIS FILSAFAT KEBUDAYAAN CORNELIS ANTHONIE VAN PEURSEN Gede Agus Siswadi
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2305

Abstract

This article seeks to explore the ogoh-ogoh tradition in Bali. Ogoh-ogoh which is the result of the artistic expression of the Balinese people who are always experiencing dynamics of change and development. The ogoh-ogoh tradition in Bali is developing according to the times. The ogoh-ogoh tradition in Bali when viewed critically with the cultural philosophy of Cornelis Anthonie Van Peursen by paying attention to the stages of cultural development in the mythical stage, ontological stage and functional stage. Ogoh-ogoh historically, mythology appears as a symbol and embodiment of bhuta kala which is disturbing human life, so that the energies of bhuta kala (negative energy) are always harmonized and neutralized into the powers of the gods (positive energy). Thenext development of the bhuta kala myth developed by breaking away from the shackles of myth to an ontological understanding, and finally at the functional stage as a show (parade) for cultural tourism.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM GAGURITAN WATUGANGGA Ni Putu Gatriyani
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2304

Abstract

Gaguritan Watugangga is one of the literary works full of with the value of character education. However, the lack of public knowledge against geguritan causes this geguritan not to be familiar among the people Balinese people. The purpose of this research is to describe the formal structure, narrative structure and character education values contained in the in Gaguritan Watunggangga. This type of research is literary research, with an intrinsic approach and mimesis. The types of data collected are primary data and secondary data with qualitative data. While the method used in data collection is a method of recording documents. Data analyzed by descriptive method with induction and argumentation techniques. Based on the discussion of the research results, it is concluded that: 1) The formal structure in Gaguritan Watugangga, namely: (1) the literary code that building Gaguritan Watugangga is a pupuh of 75 stanzas consisting of 8 (eight) types of pupuh, namely Pupuh Sinom, Pupuh Ginada, Pupuh Semarandana, Pupuh Pucung, Pupuh Pangkur, Pupuh Durma, Pupuh Ginanti, and Pupuh Maskumambang; (2) the variety of languages used, namely Kawi and Balinese language (basa jabag rough, base andap, base alus sor, and base alus singgih); and (3) language style consists of affirmative figure of speech (tautology and esclamation) and comparative figure of speech (hyperbole). 2) Narrative structure in Gaguritan Watugangga, namely: (1) a synopsis (Telling about the Watugangga who looking for his father named Sang Anoman); (2) the theme is a child who is looking for his father; (3) characters and characterizations, namely Sang Watugangga (a human fish, handsome, dignified, brave, honest, and responsible), Sang Rama (a king who is patient, noble and forgiving), Sang Anoman (faithful, obedient, hardworking and powerful), Mother Sang Watugangga (a big fish, dear and loves his son), Detya Narayama (a cunning giant, agitator and a liar), and Sang Sugriwa (a loyal, obedient and ape-man respect for the leader); (4) the grooves used are mixed grooves; (5) background, namely in Mount Himawan, Tasiktala, Ganges River, forest, Cretatala, Mount Swela, and the road; (6) mandate, which is selective in making friends, don't arrogant, think before doing something, and stay calm in the situation however. 3) The value of character education contained in Gaguritan Watunggangga, namely: religious values, discipline, hard work, curiosity, honesty, friendship, peace-loving, and tolerance
Kebebasan Beragama Di Indonesia Dalam Terang Hak Asasi Manusia: Sebuah Tinjauan Filosofis Jelvi Monica Mangundap; Ambrosius Markus Loho; Chandra Christofel Wohon
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i2.2565

Abstract

Freedom of religion is a principle that supports individual or societal freedom to practice religion or belief in private or public space. Therefore, it is often said that religious rights and freedoms are non-derogable human rights, namely human rights which cannot be reduced under any circumstances. The problem studied in this paper is how human rights prioritize humans as subjects and describe that humans are creatures that are valued without distinction based on race, skin color, sex, gender, ethnicity, language, or any religion. Habermas, in his study of public space and religion, for example, initiated a secular society which is a transformation of views that were originally very Hegelian. With that, in the end for him, the role of religion is very much needed as a potential source for creating solidarity. The results of this paper show that when we prioritize individuals in human rights, it does not mean prioritizing the egoistic, but also including the fact that humans who have human rights are obliged to several social demands. Individual freedom always ends with respect for other individual freedoms. Humans are free if their possibilities to act, including acting in religious life, are not limited by other people. Because freedom is intrinsically lived in relationships with other people. A large country is a country inhabited by every subject who knows and is aware of freedom and responsibility in all things. A free country is a country that of course has a big responsibility to advance its country
AJARAN DASA DHARMA DALAM TRANSCENDENTAL MEDITATION DI SMA NEGERI BALI MANDARA SINGARAJA KABUPATEN BULELENG Ni Wayan Murniti
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i2.2456

Abstract

The Transcendental Mediation technique is an easy, natural and effortless process, which allows the consciousness to experience the realm of the mind from a subtler and more subtle level so that the thought process is transcended and awareness is directly connected to the source of the thought. Transcendental Meditation ethics in meditation practice include: 1) not related to place, as long as it is not disturbed, 2) not recommended in a sleeping position, 3) without contemplation, 4) without concentration, 5) without physical exercise, 6) no change in way life, such as dressing must be special, with Transcendental Mediation able to build harmonious relationships between school members. Transcendental Mediation is able to anticipate behavioral deviations. It has been proven that students who take part in Transcendental Mediation have good character. Transcendental Mediation is able to strengthen the religious foundation of students. Keywords: Transcendental Mediation
KUALITAS, TUGAS DAN KEWAJIBAN SEORANG BRĀHMANA MENURUT PUSTAKA PURANA Ni Kadek Surpi
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i2.2497

Abstract

Varṇāśrama dharma merupakan konsep sentral dalam Pustaka purana yang mengajarkan tentang tatanan sosial dan spiritual masyarakat. Namun sayang dalam perkembangannya justru terjadi penyimpangan dengan lahirnya konsep kasta berdasarkan kelahiran. Tatanan spiritual juga tidak dijalankan secara baik oleh masyarakat Hindu di jaman modern ini, yakni dengan nyaris hilangnya pelaksanaan vanaprasta dan sanyasi. Guna membangun kembali masyarakat yang menjunjung nilai dharma, keharmonisan dan SDM yang unggul, upaya membangun kembali semangat dari kaum Brahmana menjadi sangat penting. Pustaka Purana menguraikan tugas dan kewajiban Brahmana adalah memutar roda pengetahuan, menebarkan kebajikan dan mendorong masyarakat untuk hidup berdasarkan prinsip-prinsip dharma, saling bertoleransi terhadap perbedaan keyakinan dan membangun keunggulan. Brahmana dengan keunggulan kecerdasannya semestinya memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kembali tananan masyarakat Hindu yang unggul untuk dapat hidup sejahtera sebagaimana tujuan agama Hindu ditengah masyarakat global dan penggunaan teknologi yang sangat pesat.

Page 10 of 13 | Total Record : 124