cover
Contact Name
Junaidin
Contact Email
junaidinfarm03@gmail.com
Phone
+6282119895060
Journal Mail Official
lppmstfm01@gmail.com
Editorial Address
Alamat Redaksi: Jl. KH Syekh Nawawi km.4 No.13 Tigaraksa – Kabupaten Tangerang Telp./Fax. (021) 2986 7307
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Farmagazine
ISSN : 23024933     EISSN : 26218216     DOI : 10.47653
Core Subject : Health, Science,
Jurnal (Farmagazine) adalah jurnal ilmiah tentang hasil-hasil penelitian ilmu-ilmu farmasi yang meliputi: farmasi maritim, farmasi bahan alam, formulasi, kimia farmasi, rumah sakit dan komunitas, farmakologi, dan bioteknologi farmasi.
Articles 148 Documents
REVIEW: AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BUNGA GEMITIR (Tagetes erecta Linn.) Ni Made Santi
Jurnal Farmagazine Vol 8, No 1 (2021): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v8i1.534

Abstract

Produksi radikal bebas yang melebihi kebutuhan akan menimbulkan berbagai penyakit degeneratif, sehingga diperlukan senyawa yang bersifat sebagai antioksidan. Antioksidan merupakan suatu senyawa yang mampu menghambat kerusakan akibat oksidasi radikal bebas. Senyawa antioksidan alami dapat bersumber dari beberapa tanaman, salah satunya yaitu bunga gemitir (Tagetes erecta Linn.). Aktivitas antioksidan ekstrak bunga gemitir disebabkan karena keberadaan senyawa flavonoid, fenolik, dan karotenoid. Tujuan artikel review ini adalah untuk mengetahui manfaat bunga gemitir sebagai antioksidan. Review artikel ini dibuat dengan metode studi literatur, yaitu dengan menggunakan artikel penelitian terdahulu yang diperoleh melalui proses pencarian literatur terkait manfaat ekstrak bunga gemitir sebagai antioksidan. Berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ekstrak bunga gemitir memiliki aktivitas sebagai antioksidan alami dan beberapa senyawa yang berperan yaitu flavonoid (kuersetagetin), fenolik, dan karotenoid (lutein).
FORMULASI DAN EVALUASI FISIK SEDIAAN PEWARNA PIPI DALAM BENTUK PADAT DARI EKSTRAK KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) Meta Safitri; Siti Halimatusa’diah; Mohammad Zaky
Jurnal Farmagazine Vol 5, No 1 (2018): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v5i1.90

Abstract

Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) merupakan tumbuhan yang hidup di daerah pegunungan yang batu tetapi tidak terlalu dingin. Saat ini tumbuhan kayu secang belum dimanfaatkan secara maksimal, adanya warna merah tua pada kayu secang diakibatkan adanya senyawa brazilin yang dapat digunakan sebagai pewarna alami. Penelitian ini dilakukan membuat sediaan pewarna pipi dengan memanfaatkan pewarna alami pada kayu secang. Formula sediaan pewarna pipi terdiri dari talkum, kaolin, zink oksida, paraffin cair dan metil paraben serta ekstrak kering kayu secang konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%, 25%. Pengujian terhadap sediaan meliputi pemeriksaan mutu fisik mencakup pemeriksaan homogenitas, organoleptik, pH, uji oles, uji iritasi, uji kesukaaan (Hedonic Test). Formulasi pewarna pipi menggunakan ekstrak kayu secang menunjukkan sediaan yang dibuat homogen, mudah dioleskan, memiliki pH antara 6-7, sediaan yang disukai dan tidak berubah selama penyimpanan 4 minggu adalah formula III (15%). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak kayu secang dapat digunakan sebagai pewarna alami dalam sediaan pewarna pipi dan tidak menyebabkan iritasi sehingga cukup aman digunakan. Kata kunci: kayu secang (Caesalpinia sappan L.), brazilin, pewarna pipi
FORMULASI DAN EVALUASI FISIK SEDIAAN TABLET ALLOPURINOL MENGGUNAKAN PATI SINGKONG (Manihot esculenta Crantz) SEBAGAI BAHAN PENGIKAT Nurjunaida Anggraini, S.Farm; Endang Sunariyanti, SFarm, M.Sc; Banu Kuncoro M.Farm, Apt
Jurnal Farmagazine Vol 3, No 2 (2016): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v3i2.27

Abstract

Salah satu sumber pati adalah pati singkong. Dalam kondisi panas, gel masih memiliki kemampuan mengalir yang flexibel dan tidak kaku. Berdasarkan hal tersebut peneliti melakukan penelitian menggunakan pati singkong sebagai pengikat secara granulasi basah dengan menggunakan allopurinol sebagai model obat.Mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi pati singkong terhadap fisik sediaan tablet allopurinol dan mengetahui konsentrasi yang paling baik pada formulasi tablet allopurinol.Pati singkong dibuat menjadi mucillago amily pada suhu 40°C selama ± 5 menit sampai terbentuk cairan berwarna putih bening seperti lem. Variasi konsentrasi pati singkong yang digunakan sebagai pengikat yaitu (F2) 7%, (F3) 9%, (F4) 13%, (F5) 15%, dan (F6) 17%. Uji preformulasi berupa laju alir, sudut diam, indeks kompresibilitas, kadar air dilakukan terhadap massa granul sebelum dicetak menjadi tablet. Setelah dicetak menjadi tablet dilakukan evaluasi tablet yaitu uji kekerasan, waktu hancur, kerenyahan, dan keseragaman bobot.Pati singkong dapat digunakan sebagai bahan pengikat pada formulasi tablet allopurinol. Hasil uji preformulasi granul memenuhi syarat untuk semua formula. Pada evaluasi tablet allopurinol uji kekerasan, kerenyahan, dan waktu hancur memenuhi persyaratan. Semakin ditingkatkan konsentrasi pati singkong maka akan menghasilkan kekerasan dan kerenyahan yang baik, namun waktu hancur tablet semakin lambat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pati singkong dapat digunakan sebagai bahan pengikat pada formulasi tablet allopurinol secara granulasi basah dengan konsentrasi yang baik 13%. Kata kunci :Pati singkong, bahan pengikat, dan formulasi tablet allopurinol.
EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANEMIA PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN TANGERANG TAHUN 2018 Sefi Megawati; Agil Restudiarti; Selpina Kurniasih
Jurnal Farmagazine Vol 7, No 2 (2020): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v7i2.167

Abstract

Gagal ginjal kronik adalah kerusakan ginjal selama 3 bulan atau lebihdisebabkan oleh abnormalitas struktural atau fungsional dengan atau tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus. Terapi gagal ginjal kronik yang banyak digunakan adalah hemodialisa. Dampak dari pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa salah satunya adalah anemia. Anemia pada gagal ginjal kronik muncul ketika kreatinin turun kira-kira 40ml/menit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola penggunaan obat anemia serta evaluasi penggunaan obat anemia pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa berdasarkan empat aspek ketepatan yaitu tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat dan tepat dosis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif pada rekam medik pasien di RSUD Kabupaten Tangerang periode Januari-Desember 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola penggunaan obat anemia pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa yaitu jenis terapi tunggal (74%) dan terapi kombinasi (26%). Sedangkan obat yang digunakan adalah epoetin alfa, transfusi prc, asam folat dan vitamin B12. Evaluasi penggunaan obat anemia pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa yaitu tepat pasien (100%), tepat indikasi (100%), tepat obat (96%) dan tepat dosis (100%).
ANALISA KESESUAIAN PERESEPAN OBAT PASIEN BPJS KESEHATAN DENGAN FORMULARIUM NASIONAL DI PUSKESMAS KABUPATEN TANGERANG TAHUN 2016 Trisna Lestari; Yusi Anggriani; Dian Ratih Laksmitawati
Jurnal Farmagazine Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v6i2.144

Abstract

lJaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Salah satu tempat pelayanan kesehatan tingkat pertama melalui sistem jaminan kesehatan adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS). Pemenuhan kebutuhan pasien berupa jenis obat yang harus tersedia pada peresepan dan pemesanan perlu disusun suatu daftar (formularium) dari semua obat yang ada di stok atau sudah tersedia. Dalam penggunaan obat di Puskesmas untuk pasien BPJS Kesehatan berpedoman pada standar terapi yang dikeluarkan oleh kementrian kesehatan yaitu formularium nasional (fornas) agar penggunaan obat pada pasien lebih rasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian peresepan obat pasien BPJS Kesehatan dengan Formularium Nasional berdasarkan kelas terapi dan kesesuaian ketersediaan item obat formularium nasional dengan daftar item obat formularium nasional di Puskesmas Kabupaten Tangerang Tahun 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif non eksperimental yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian Kesesuaian peresepan Obat dengan Formularium Nasional Berdasarkan Kelas Terapi dari 10 besar tertinggi sudah mencapai 100%, pada kesesuaian total peresepean yang di resepkan di puskesmas kabupaten Tangerang baru mencapai > 80%. Sedangkan rata-rata proprosi item obat formularium nasional dengan daftar item obat formularium nasional maish sangat rendah >50%. Kesimpulan penelitian ini adalah peresepan obat pasien BPJS Kesehatan dengan Formularium Nasional berdasarkan kelas terapi di puskesmas kabupaten Tangerang tahun 2016 sudah sesuai sedangkan ketersediaan item obat formularium nasional dengan daftar item obat formularium nasional masih belum sesuai. Kata kunci : BPJS Kesehatan, Peresepan, Formularium nasional
FORMULASI DAN EVALUASI FISIK SEDIAAN TABLET ALLOPURINOL MENGGUNAKAN PATI SINGKONG (Manihot esculenta Crantz) SEBAGAI BAHAN PENGIKAT Nurjunaida Anggraini1*; Mohammad Zaky2,; Meta Safitri3
Jurnal Farmagazine Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v3i1.8

Abstract

Salah satu sumber pati adalah pati singkong. Dalam kondisi panas, gel masih memiliki kemampuan mengalir yang flexibel dan tidak kaku. Berdasarkan hal tersebut peneliti melakukan penelitian menggunakan pati singkong sebagai pengikat secara granulasi basah dengan menggunakan allopurinol sebagai model obat.Mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi pati singkong terhadap fisik sediaan tablet allopurinol dan mengetahui konsentrasi yang paling baik pada formulasi tablet allopurinol.Pati singkong dibuat menjadi mucillago amily pada suhu 40°C selama ± 5 menit sampai terbentuk cairan berwarna putih bening seperti lem. Variasi konsentrasi pati singkong yang digunakan sebagai pengikat yaitu (F2) 7%, (F3) 9%, (F4) 13%, (F5) 15%, dan (F6) 17%. Uji preformulasi berupa laju alir, sudut diam, indeks kompresibilitas, kadar air dilakukan terhadap massa granul sebelum dicetak menjadi tablet. Setelah dicetak menjadi tablet dilakukan evaluasi tablet yaitu uji kekerasan, waktu hancur, kerenyahan, dan keseragaman bobot.Pati singkong dapat digunakan sebagai bahan pengikat pada formulasi tablet allopurinol. Hasil uji preformulasi granul memenuhi syarat untuk semua formula. Pada evaluasi tablet allopurinol uji kekerasan, kerenyahan, dan waktu hancur memenuhi persyaratan. Semakin ditingkatkan konsentrasi pati singkong maka akan menghasilkan kekerasan dan kerenyahan yang baik, namun waktu hancur tablet semakin lambat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pati singkong dapat digunakan sebagai bahan pengikat pada formulasi tablet allopurinol secara granulasi basah dengan konsentrasi yang baik 13%.
PERBANDINGAN POTENSI FOTO PROTEKTOR EKSTRAK ETANOL BUAH TAKOKAK DENGAN KRIM EKSTRAK ETANOL BUAH TAKOKAK (Solanum torvum Swartz) SECARA IN VITRO DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Debby Debby Juliadi; RR. Asih Juanita
Jurnal Farmagazine Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v7i1.153

Abstract

Pengujian potensi ekstrak buah takokak dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Ekstraksi menggunakan metode Maserasi kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator. Ekstrak kemusian di skrining fitokimia untuk mengetahui adanya senyawa tanin dan flavonoid kemudian dibuat dalam bentuk sediaan krim serta diuji mutu fisiknya baik dari homogenitas, pH, tipe emulsi dan stabilitas krim. Ekstrak buah takokak dan krim ekstrak buah takokak diukur serapannya setiap 5 nm pada rentang panjang gelombang 290 – 400 nm. Dari hasil penelitian diperoleh ekstrak dan krim ekstrak buah takokak hanya mampu memberikan nilai SPF minimal yaitu 2,199 pada ekstrak dengan konsentrasi 400 ppm, 2,615 pada ekstrak dengan konsentrasi 500 ppm dan 2,118 pada krim dengan konsentrasi 500 ppm, bila dilihat dari persentase eritema baik ekstrak ataupun krim belum memberikan perlindungan dari paparan sinar UVB, dilihat dari persentase transmisi pigmentasi baik ekstrak maupun krim memiliki kemampuan extra protection yang artinya ekstrak dan sediaan tersebut mampu menyerap hingga 85% sinar UVA. Kata Kunci: Buah Takokak, Tanin, Flavonoid, Potensi Foto Protektor
REVIEW ARTIKEL: METODE KROMATOGRAFI CAIR PADA PEMISAHAN ENANSIOMER OFLOKSASIN Zenith Putri Dewianti; Arini Aprillian; Hilda Damayanti
Jurnal Farmagazine Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v6i2.133

Abstract

Hampir 56% dari obat-obatan yang dipasarkan dan digunakan adalah senyawa kiral, dan88% diantaranya masih merupakan suatu rasemat.Aktivitas anti-bakteri dari (S)-ofloksasin (levofloksasin) adalah 8-128 kali lebih tinggi dari (R)-ofloksasin, yang dapat berbahaya bagi fungsi hati dan ginjal jika diberikan dalam bentuk rasemat sehingga perlu untuk menetapkan metode yang tepat dalam mendapatkan enansiomer tunggal.Metode kromatografi cair dapat digunakan untuk memisahkan enansiomer baik secara tidak langsung dengan reagen derivatisasi kiral atau penambahan fase gerak kiral,maupun dengan fase diam kiral. Metode ini telah dikembangkan sejak lama sebagai pemisahan senyawa kiral fluorokuinolon menggunakan berbagai pendekatan yang berbeda.Review artikel ini menyajikan perbandingan metode pemisahan enansiomer ofloksasin menggunakan kromatografi cairdiantaranya metode fase diam kiral dan fase gerak kiral dengan penambahan penukar ligan/siklodekstrin. Kata Kunci :Kromatografi Cair, Ofloksasin, Pemisahan Enansiomer
PENGARUH PELAKSANAAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL TERHADAP CAKUPAN KEGIATAN, MANAJEMEN DAN MUTU PELAYANAN PUSKESMAS DI KABUPATEN TANGERANG Muji Harja; Handono Ishardyatmo; Masruchin ,
Jurnal Farmagazine Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v4i1.73

Abstract

Puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat.Untuk mengetahui tingkat kinerja puskesmas yang berkualitas perlu dilakukan penilaian kinerja secara rutin meliputi cakupan kegiatan, manajemen puskesmas dan mutu pelayanan.Jumlah Puskesmas di Kabupaten Tangerang berjumlah 43 yang terdiri dari 7 Puskesmas Dengan Tempat Perawatan (DTP) dan 36 Puskesmas tanpa tempat perawatan.Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian penjelajahan (exploratory study) dengan desain studi perbandingan (comparative study).Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu Laporan Kinerja seluruh Puskesmas di Kabupaten Tangerang Tahun 2013, 2014 dan 2015. Hasil pengujian Paired sample t test menunjukkan bahwa pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berpengaruh signifikan terhadap cakupan kegiatan puskesmas (membandingkan penilaian cakupan kegiatan pada tahun 2013 dengan tahun 2014), manajemen puskesmas (membandingkan penilaian manajemen puskesmas pada tahun 2013 dengan tahun 2015) dan mutu pelayanan (membandingkan penilaian mutu pelayanan pada tahun 2013 dengan tahun 2014) Kata Kunci : Jaminan Kesehatan Nasional, Puskesmas, Manajemen, Mutu Pelayanan
Analisis Efektivitas-Biaya Tindakan Kolesistektomi Metodelaparoskopidan Kolesistektomi Terbuka Pada Rs Swasta Tipe B Di Jakarta Pusat Tahun 2013 -2017 Diana Hayati; Ahmad Fuad Afdhal; Dian Ratih L
Jurnal Farmagazine Vol 5, No 3 (2018): Jurnal Farmagazine
Publisher : STF Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47653/farm.v5i3.109

Abstract

Kolelitiasis adalah penyakit yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam ductus koledokus atau pada kedua-duanya. Dalam pelayanan kesehatan , tidak hanya outcome klinisyang diutamakan tetapi juga faktor pembiayaan. Untuk menentukan biaya yang efektif dan efisien diperlukan analisis farmakoekonomi. Salah satu tindakan yang memerlukan analisis efektifitas biaya adalah kolesistektomi yaitu tindakan pengangkatan batu empedu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efektif-biaya kolesistektomi metode laparoskopi dengan kolesistektomi terbuka (open surgery). Penelitian ini merupakan studi potong lintang, retrospektif dengan menggunakan data rekam medis penderita kolelithiasis di RS Swasta Kelas B di Daerah Jakarta Pusat tahun 2013-2017. Jumlah sampel 72 pasien yang terdiri dari 36 sampel kolesistektomi laparoskopi, dan 36 sampel kolesistektomi terbuka. Analisa farmakoekonomi belum pernah dilakukan di RS Swasta kelas B di daerah Jakarta Pusat. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah biaya pengobatan langsung yang meliputi biaya total, biaya pemeriksaan, biaya ruang perawatan, obat-obatan, dan alat kesehatan, sedangkan indikator efektivitasnya menggunakan lama hari rawat inap. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata biaya langsung kolesistektomi laparoskopi dibanding metode terbuka lebih besar. Rasio efektifitas biaya kolesistektomi laparoskopi perharilebih besar dibanding metode terbuka.Perhitungan rasio efektivitas biaya tambahan (ICER) menunjukkan bahwa kolesistektomi laparoskopi memiliki biaya lebih rendah dibandingkan dengan kolesistektomi terbuka. Dapat disimpulkan bahwa kolesistektomi laparoskopi lebih efektif-biaya daripada kolesistektomi terbuka. Kata Kunci: Kolesistektomi, Kolesistektomi Laparoskopi, Kolesistektomi Terbuka, Cost Effective Ratio

Page 8 of 15 | Total Record : 148