cover
Contact Name
Ni Luh Putu Trisdyani
Contact Email
trisdyani@unhi.ac.id
Phone
+6281239751400
Journal Mail Official
widyanatya@unhi.ac.id
Editorial Address
Jl. Sanggalangit Tembau - Penatih - Denpasar 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni
ISSN : 20888880     EISSN : 26565773     DOI : https://doi.org/10.32795/widyanatya.v2i01
Journal Widyanatya is an open access published by Education Society of Universitas Hindu Indonesia. The main objective of Widyanatya is to provide a platform for the regional, national, and international scholars, academicians and researchers to share the contemporary thoughts in the fields of religious and art. It is also aimed at promoting interdisciplinary studies in religious education and art, religious and art teaching. The journal publishes research papers in the all the fields of religious education and art, religious and art teaching such as: Paedagogy Contemporary education Religious education Arts education Traditional education Sociology of education Psychology of education Philosophy of education etc
Articles 135 Documents
IMPLEMENTASI SKEMA PEMBELAJARAN AGAMA HINDU DI SEKOLAH PENGGERAK (STUDI KASUS PENINGKATAN KESADARAN SPIRITUAL SISWA) Dewa Kadek Sudyana; Putu Maha Aryawan
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi skema pembelajaran Pendidikan Agama Hindu di Sekolah Penggerak serta menganalisis kontribusinya terhadap peningkatan kesadaran spiritual siswa. Latar belakang penelitian ini didasari oleh pentingnya pendidikan spiritual dalam membentuk karakter peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai ajaran Hindu dan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang dilaksanakan di SD Negeri 7 Pedungan dan SD Negeri 10 Pedungan, yang merupakan bagian dari Sekolah Penggerak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema pembelajaran Agama Hindu diimplementasikan melalui pembelajaran tematik, praktik spiritual (seperti sembahyang bersama dan pembuatan banten), serta penguatan nilai-nilai tatwam asi, tri kaya parisudha, dan tri hita karana dalam kehidupan sehari-hari siswa. Pembelajaran tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga pada afektif dan psikomotorik yang menumbuhkan kesadaran spiritual siswa secara menyeluruh. Implementasi ini sejalan dengan teori pendidikan transformatif dan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Penelitian ini menyimpulkan bahwa skema pembelajaran Agama Hindu di Sekolah Penggerak efektif dalam membentuk spiritualitas siswa dan mendukung visi pendidikan nasional yang holistik.
PENDEKATAN STUDENT CENTERED LEARNING PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI DALAM MEMBANGUN KARAKTER SISWA KELAS XI SMA NEGERI 2 KUTA UTARA KABUPATEN BADUNG Ni Putu Sudani
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendekatan pembelajaran yang efektif akan menarik minat siswa serta mendorong siswa untuk merubah sikap dan karakter yang ada di dalam diri mereka. Pendekatan SCL merupakan pendekatan yang berpusat pada siswa. Mata pelajaran pendidikan agama Hindu dan budi pekerti merupakan mata pelajaran yang sangat penting dalam membangun karakter siswa. Dengan diterapkannya pendekatan SCL dalam proses pembelajaran pendidikan agama Hindu dan budi pekerti akan membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman siswa terhadap pembangunan karakter. Penelitian ini merupakan kajian kualitatif dengan menggunakan teori Kontruktivisme, teori Humanistik, teori Belajar Bermakna. dimana data dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik studi dokumen Hasil dari penelitian ini menyimpulkan : 1) Pihak guru pendidikan agama hindu dan budi pekerti dalam memahami pendekatan SCL, 2) Proses penerapan pendekatan SCL pada mata pelajaran pendidikan agama hindu dan budi pekerti dalam membangun karakter siswa kelas XI SMA Negeri 2 Kuta Utara Kabupaten Badung 3) Implikasi pendekatan SCL pada mata pelajaran pendidikan agama hindu dan budi pekerti terhadap perubahan sikap siswa kelas XI SMA Negeri 2 Kuta Utara, Kabupaten Badung
KARYA SENI REJANG PUSPA CITTA NAYA PADA GONG GEDE DALAM KONTEKS PENDIDIKAN KEAGAMAAN HINDU I Nyoman Winyana; I Wayan Sukadana; I Kadek Suryantara Asmara
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menarik mencermati karya Rejang Puspa Citta Naya dalam konteks pendidikan agama Hindu. Tujuannya adalah mendapatkan kejelasan dari persoalan ide dan konsep bentuk garap sebagai simbol pencerahan bagi masyarakat Hindu di Bali. Permasalahannya bagaimana proses pendidikan keagamaan Hindu dapat menjadi media pencerahan pada bentuk karya Rejang puspa Citta Naya. Tulisan ini berangkat dari hasil pencermatan kontemplasi yang dituang dalam bentuk karya pertunjukan. Menggunakan pendakatan kualitatif di mana data sepenuhnya diolah dari dari primer dan sekunder untuk dapat kemudian disimpulkan. Beberapa temuan dari kegiatan pencermatan ini menemukan bahwa dalam koteks pendidikan karya Rejang Puspa Citta Naya tidak semata tentang estetika namun secara intrinsik tersembunyi nilai-nilai lokalitas yang menggandeng konsep keagamaan Hindu di dalamnya.
LUKISAN APEL HENDRAWAN SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER SENI RUPA RELIGIUS I Kadek Sumadiyasa; I Putu Gede Padma Sumardiana; Ni Luh Putu Trisdyani; I Ketut Suwidiarta; Ida Bagus Gede Suyogo Putra
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karakter religius pada lukisan karya Apel Hendrawan merupakan hasil dari dedikasi dan komitmen diri sebagai seorang pelukis magic yang berangkat dari keterpurukan diri dari masa rehabilitasi narkoba serta hasil penerimaan kode spiritual inisiasi dari kepercayaan pada dunia gaib atau roh-roh suci. Inilah yang menjadi Apel Hendrawan sebagai seorang pelukis dan karyanya terkandung ciri khas yang unik spesifik berkarakter pendidikan seni rupa religius. Sangat unik untuk diteliti dalam sebuah penelitian berjudul; Lukisan Apel Hendrawan sebagai media pendidikan karakter seni rupa religius. Dengan masalah; Mengapa lukisan Apel Hendrawan dipakai sebagai media pendidikan karakter seni rupa religius? Bagaimana bentuk penerapan lukisan Apel Hendrawan sebagai media pendidikan karakter seni rupa religius?, Apakah implikasi adanya penerapan lukisan Apel Hendrawan sebagai media edukasi pendidikan karakter seni rupa religius.
GAMELAN GONG BERI DALAM PELAKSANAAN UPACARA NGATURANG PAKELEM PADA PURNAMA KELIMA DI BANJAR SEMAWANG KELURAHAN SANUR, DENPASAR SELATAN I Ketut Gede Rudita; Pande Gede Eka Mardiana; I Wayan Arissusila; I Kadek Yogi Andika
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gamelan gong beri yang berada di Banjar Semawang merupakan salah satu gamelan Bali yang sangat disakralkan oleh masyarakat setempat dan juga merupakan sebuah ansamble gamelan yang tidak lepas kaitannya dengan sesolahan (tarian) baris cina. Pementasan dari gamelan Gong Beri tersebut pun tidak dilaksanakan sembarangan, ada beberapa sarana khusus baik dari hari pementasan maupun lokasi pementasan. Seperti halnya gamelan gong beri yang berada di banjar semawang, barungan gamelan tersebut dipentaskan dengan konteks sakral dan wajib dihadiri baik dari Pengempon (yang bertanggung jawab), pementasan gamelan gong beri banjar semawang dilakukan pada rahinan purnama kelima dan dipentaskan di Pantai Semawang. Prosesi tersebut dinamakan dengan ngatur pekelem serta lokasi dari pementasan pun tidak dipilih sembarangan, dikarenakan, pada pesisir Pantai Semawang, terdapat sebuah gundukan pasir yang tinggi dan biasa disebut dengan “muntig” oleh masyarakat setempat khususnya Banjar Semawang. lokasi tersebut menjadi tempat dipentaskannya gamelan gong beri pada rahinan purnama kelima dan prosesi ngatur pekelem sehingga tetap dilaksanakan sampai sekarang.
AKTUALISASI TRADISI MEBUUG-BUUGAN SEBAGAI BENTENG BUDAYA DI DESA ADAT KEDONGANAN, KECAMATAN KUTA, KABUPATEN BADUNG Sudarsana, I Made; Prayitna Dewi, Ida Ayu Gede; Artawan, I Nengah
WIDYANATYA Vol. 1 No. 2 (2019): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/w98ehs53

Abstract

The existence of traditional arts, has now become an image of regional culture and is able to have a dynamic impact on the community. The tradition that develops, and is grounded in an area certainly through a long journey process so that it becomes a system of habits that is carried out continuously. The formation of a similar perspective and associated with local mythology, is the initial foundation for an initiator and local genius to formulate his perspective in the traditional space. This shows that the role of tradition today, can be used as a barometer of wealth that has high investment in an area. The phenomenon of the emergence of tradition that has been marginalized for its existence, nowadays it is as if it will become a gem of high value and the emergence of the reconstruction of lost traditions. Particularly in the Adong Village of Kedonganan, Kuta District of Badung Regency, the Mebuug - buugan tradition has been reconstructed since 2014 ago. This tradition, which is left behind almost 60 years, is a game tradition using mud / buug in mangroves. The continuity of this tradition is able to elevate the local wisdom contained in it, especially in the Traditional Village of Kedonganan. Many philosophical contents and social values ​​can be implemented through this Mebuug buugan traditional media. The application of the Tri Hita Karana concept in the Mebuug Buugan tradition is very relevant to the efforts of the community to maintain a harmonious relationship or social interaction of the people and the ecology of the natural environment of the Mangrove.
KAJIAN SOSIO-RELIGIUS PENERAPAN SANKSI ADAT KANORAYANG DI DESA PAKRAMAN BAKBAKAN KECAMATAN GIANYAR, KABUPATEN GIANYAR Eka Suadnyana, Ida Bagus Putu; Yuniastuti, Ni Wayan
WIDYANATYA Vol. 1 No. 2 (2019): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/w9w0m957

Abstract

Pakraman Bakbakan Village is one of the areas in the Balinese customary law area which also has regulations governing the lives of its people which are basically poured into awig-awig forms that are generally owned by all Pakraman Villages in Bali. In awig-awig, Pakraman Bakbakan Village, there is one adat sanction, namely Kanorayang adat sanction which is still preserved. The application of Kanorayang customary sanctions is based on awig-awig Desa Pakraman Bakbakan Palet Kaping XX (Indik Pamidanda). The imposition of Kanorayang adat sanctions is applied as an act of expulsion from Pakraman village customary activities so that those who are subject to the kanorayang adat sanctions lose their rights and obligations within the Pakraman Village organization. For those who are subject to customary sanctions in the village of Pakraman Bakbakan will not be able to use traditional facilities such as the temple of heaven, setra or grave, infrastructure owned by the Pakraman village (wantilan, village bale, aykul kulkul, etc.). This study uses a qualitative research design through an ethnographic case study approach with an emphasis on critical and interpretive studies without ignoring the study of empirical elements. By collecting data through sampling techniques, where in this study is purposive sampling through people who are considered key (key person) and understand about the application of customary sanctions in the village of Pakraman Bakbakan Pakraman. This research can be used as a critique and suggestion so that in the process of implementing customary sanctions the canor does not deviate from the objectives of customary law itself. And with the existence of customary sanctions in the village of Pakraman Bakbakan is expected to maintain harmony and in an atmosphere of "paras-paros, gilik-saguluk, salunglung-sabayantaka".
MODEL LAYANAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PASCA ERUPSI GUNUNG AGUNG DI SLBN KARANGASEM Yuniastuti, Ni Wayan; Eka Suadnyana, Ida Bagus Putu
WIDYANATYA Vol. 1 No. 2 (2019): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/5qt8qd97

Abstract

Karangasem Extraordinary School (SLBN) is an extraordinary school located in the Regency of Karangasem, under the auspices of the Bali Provincial Government Education Office, providing proper education to students who have special needs. The responsibility for the success of the education of children with special needs in Karangasem SLBN lies in the hands of educators, namely Karangasem SLBN teachers. Special Education Teachers in Karangasem SLBN besides teaching, they also play a role in helping the development of their students. The education service model is an interesting study to study in an effort to meet the educational needs of Hinduism and Human Rights in children with special needs (ABK) in Karangasem SLBN amid the eruption of Mount Agung. Theories used to solve this research problem are behaviorism theory and humanistic learning theory.
PENGEMBANGAN RANCANGAN PEMBELAJARAN BERBASIS HIGHER ORDER THINKING SKILL (HOTS) DALAM KURIKULUM 2013 PENDIDIKAN AGAMA HINDU Surawati, Ni Made; Sudyana, Dewa Kadek
WIDYANATYA Vol. 1 No. 2 (2019): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/zpwypm91

Abstract

Higher Order Thinking Skills (HOTS) is a way of thinking that puts forward the values ​​of critical and creative thinking so that it is considered capable of providing solutions in facing the challenges of the times. To have high-level thinking skills (HOTS), teachers must be able to design HOTS-based learning to help students develop higher-order thinking skills. The ability in question is related to the ability to think critically, reflective, metacognitive, and creative thinking. This is consistent with the objectives in the 2013 curriculum in PP No. 17 of 2010, to prepare Indonesian people to have the ability to live as individuals and citizens who are faithful, productive, creative, innovative, and affective and able to contribute to the life of society, nation, state and world civilization
LANDASAN TEOLOGI PRAKTIK RITUAL HINDU Widana, I Gusti Ketut; Suasthi, I Gusti Ayu
WIDYANATYA Vol. 1 No. 2 (2019): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/jznxz383

Abstract

Basically, ritual activities are a series of sacred (sacred / sacred) actions carried out by Hindus using certain tools, places, and certain ways. Its main function is as a medium to surrender by worshiping God along with His manifestations accompanied by various offerings while accompanied by prayers (mantras) in order to obtain a gift of salvation. The rituals that are often encountered and experienced and carried out in daily life are generally life cycle rituals such as the rituals of birth, marriage, until death that are religiously believed by followers. Hinduism itself as a religion constructed by three basic frameworks positions "ritual" (event) as a supplement of material (skin / packaging) to support the element of "ethics" (moral) as part of an essence that is strengthened as well as to strengthen the foundation of "philosophy" (tattwa) as substance.