cover
Contact Name
Ni Luh Putu Trisdyani
Contact Email
trisdyani@unhi.ac.id
Phone
+6281239751400
Journal Mail Official
widyanatya@unhi.ac.id
Editorial Address
Jl. Sanggalangit Tembau - Penatih - Denpasar 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni
ISSN : 20888880     EISSN : 26565773     DOI : https://doi.org/10.32795/widyanatya.v2i01
Journal Widyanatya is an open access published by Education Society of Universitas Hindu Indonesia. The main objective of Widyanatya is to provide a platform for the regional, national, and international scholars, academicians and researchers to share the contemporary thoughts in the fields of religious and art. It is also aimed at promoting interdisciplinary studies in religious education and art, religious and art teaching. The journal publishes research papers in the all the fields of religious education and art, religious and art teaching such as: Paedagogy Contemporary education Religious education Arts education Traditional education Sociology of education Psychology of education Philosophy of education etc
Articles 135 Documents
KAJIAN NILAI PENDIDIKAN SENI TARI KEAGAMAAN HINDU PADA TARI LEKO DI DESA ADAT SIBANGGEDE KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG I MADE SUDARSANA; NI WAYAN YUNI ASTUTI; NI KOMANG TRISNAYANTI
WIDYANATYA Vol 6 No 1 (2024): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Leko di Desa Adat Sibanggede merupakan tarian yang unik dan merupakan warisan tari kuno yang terdapat di banjar Parekan Desa Adat Sibanggede. Tarian leko ini mempunyai lima bagian yaitu, Condong Leko, Kupu-Kupu Tarum, Goak Manjus, Onte Leko, dan Paibing-ibingan, namun saat ini tarian ini terancam punah karena jarang dipentaskan. Dari latar belakang tersebut maka tujuan penelitian ini secara umum adalah agar masyarakat Desa Adat Sibanggede mengetahui secara umum tentang kajian nilai pendidikan agama Hindu dalam tari leko, dan secara khusus masyarakat mengetahui fungsi, struktur. gerak dan makna yang terkandung dalam Tari Leko di desa. Tradisi Sibanggede Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan empiris. Lokasi penelitian terletak di Desa Adat Sibanggede. Subjek penelitian ini adalah masyarakat Desa Adat Sibanggede dan objeknya adalah Tari Leko di Desa Adat Sibanggede. Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara, metode observasi, dan metode pencatatan dokumen. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis analisis dengan menggunakan metode deskriptif. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) Dalam hal ini Tari Leko di Desa Adat Sibanggede berfungsi sebagai tari hiburan dan kadang juga berfungsi sebagai tari pelengkap Yadnya khususnya Manusa Yadnya karena tari ini sering digunakan oleh masyarakat. masyarakat Desa Adat Sibanggede sebagai sarana membayar nazar atau sacangi. (2) Struktur gerak pad tari leko ditentukan oleh bagian tari leko itu sendiri. Tari Leko ini mempunyai 2 bagian yaitu bagian pertama Pelembar dapat dibagi menjadi empat sesi tari yaitu Condong Leko, Kupu-Kupu Tarum, Goak Manjus, Onte Leko, dan bagian kedua tari Paibing-ibingan yang dimana penonton bisa ikut menari di atas panggung. (3) . Tari Leko di Sibanggede mempunyai beberapa nilai pendidikan tari religi Hindu, antara lain nilai pendidikan tattwa, nilai pendidikan sosial, nilai estetika dan nilai keagamaan yang terkandung dalam tari Leko.
PENANAMAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU YANG TERKANDUNG DALAM GEGURITAN PANCA DATU WIT DASAR JAGAT BALI DI DESA UBUNG KAJA KECAMATAN DENPASAR UTARA KOTA DENPASAR I NENGAH ARTAWAN; I KETUT WINANTRA; KADEK TENNY MULYANI; I KADEK BAGUS MAHAYANA RIAWAN
WIDYANATYA Vol 6 No 1 (2024): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan agama Hindu di Bali tidak bisa lepas dari aspek seni dan kebudayaan yang mengiringi didalamnya. Salah satu dari sekian banyaknya kesenian yang ada di Bali, yang berbentuk karya sastra klasik, atau lebih dikenal dengan sebutan Geguritan. Geguritan merupakan sastra klasik yang perlu dikaji, karena didalam Geguritan terdapat nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu. Salah satu karya sastra klasik yang berbentuk Geguritan adalah Geguritan Panca Datu Wit Dasar Jagat Bali. Geguritan ini merupakan geguritan yang sangat bagus dijadikan sebagai media penanaman nilai Pendidikan Agama Hindu, karena didalam Geguritan ini kaya akan nilai pendidikan yang dapat diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab permasalahan: Untuk mengetahui nilai, proses dan implikasi dari penanaman nilai-nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Geguritan Panca Datu Wit Dasar Jagat Bali di Desa Ubung Kaja Kecamatan Denpasar Utara kota Denpasar. Teori yang digunakan untuk memecahkan masalah penelitian ini adalah: Penelitian ini berbentuk rancangan kualitatif. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik kepustakaan, observasi, dan wawancara. Berdasarkan analisis tersebut, diperoleh simpulan sebagai hasil penelitian, sebagai berikut: (1) Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Geguritan Panca Datu Wit Dasar Jagat Bali yaitu Nilai Pendidikan Tattwa, Pendidikan Susila, dan Nilai Pendidikan Upacara, (2) Proses Penanaman yang digunakan yaitu melalui proses pesantian, (3) Implikasi dari penanaman nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Geguritan Panca Datu Wit Dasar Jagat Bali yaitu memberikan hasil yang cukup baik dimasyarakat, masyarakat lebih mengetahui makna dan tujuan dari upacara yang dilakukan, meningkatkan dan menumbuhkan sraddha bakti akan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa.
ORNAMEN CILI SEBAGAI MEDIA HIAS PADA SAJI BUNTILAN DI DESA ADAT SELAT, KARANGASEM I PUTU GEDE PADMA SUMARDIANA; I WAYAN ARISSUSILA; I KETUT GEDE RUDITA; MADE ARYA SEPTYASA
WIDYANATYA Vol 6 No 1 (2024): Widyanatya: Jurnal Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upacara Ngusaba Dimel di Desa Adat Selat, Karangasem dilaksanakan satu tahun sekali dengan mengambil tegak “kajeng” bertepatan pada sasih “tilem kaulu”. Dalam Upacara Ngusabe Dimel terdapat bentuk sesajen yang disebut dengan Saji Buntilan. Saji Buntilan merupakan salah satu sarana persembahan yang diperuntukan kepada masyarakat desa untuk membayar hutang. Berbicara mengenai Saji Buntilan, di dalamnya terdapat ornamen cili yang berbentuk segi tiga menyerupai wajah manusia. Ornamen Cili ini dalam masyarakat Hindu di Bali, merupakan simbol Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan dan telah memberikan anugrah hasil bumi yang melimpah. Berdasarkan latar belakang sebelumnya adapaun permasalahan yang di ajukan yaitu bagaimana bentuk dan nilai-nilai pendidikan seni rupa yang terkandung dalam ornamen cili sebagai media hias pada saji buntilan di Desa Adat Selat Karangasem. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, kepustakaan dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode kualitatif melalui langkah-langkah reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggunakan teori estetika dan teori nilai. Adapun hasil yang diperoleh berupa Ornamen Cili pada upacara Ngusaba Dimel di Desa Adat Selat Karangasem memiliki bentuk visual menyerupai wajah manusia terdiri dari: mata, hidung, mulut dan di atasnya terdapat mahkota yang terbuat dari berbagai bunga. Kesemuanya itu dikemas sedemikian rupa sehingga terbentuk Ornamen Cili yang indah dan menarik untuk di pandang serta memiliki estetika maupun makna. Sedangkan nilai-nilai pendidikan seni rupa dalam Ornamen Cili pada saji buntilan di Desa Adat Selat, Karangasem mengacu pada konsep estetika Hindu terdiri dari: Nilai pendidikan kesucian (shiwam), nilai Pendidikan kebenaran (Satyam) dan nilai pendidikan keindahan (sundaram).
UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA DUTA DHARMA SEBAGAI MEDIA EDUKASI PENGUATAN SRADDHA BHAKTI UMAT HINDU DISTRIK TANAH MIRING KABUPATEN MERAUKE I Gusti Ketut Widana; Ni Wayan Sadri; I Wayan Suasta
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendirian sebuah Pura sebagai tempat suci peribadatan mutlak diperlukan meskipun berada jauh di tanah rantau seperti yang dilakukan umat Hindu transmigran di Distrik Miring Kabupaten Merauke Papua yang berhasil membangun sebuah Pura dengan nama Pura Duta Dharma. Namun setelah 40 tahun pendirian baru bisa dilaksanakan Upacara Ngenteg Linggih, yang sekaligus juga dapat digunakan sebagai media edukasi bagi penguatan sraddha bhakti umat Hindu setempat. Atas dasar itulah penelitian ini dilakukan dengan rumusan masalah : 1) Mengapa Upacara Ngenteg Linggih dilaksanakan di Pura Duta Dharma Distrik Tanah Miring Kabupaten Merauke ?, 2) Bagaimakah prosesi pelaksanaan Upacara Ngenteg Linggih di Pura Duta Dharma sebagai media edukasi bagi umat Hindu di Distrik Tanah Miring Kabupaten Merauke ?, 3) Bagaimana implikasi pelaksanaan Upacara Ngenteg Linggih di Pura Duta Dharma sebagai media edukasi terhadap penguatan sraddha bhakti umat Hindu Distrik Tanah Miring Kabupaten Merauke ?. Penelitian ini merupakan kajian kualitatif deskripstif interpretatif dengan pendekatan sosial, agama dan pendidikan. Kajian ini menggunakan teori Religi, teori Struktural Fungsional dan teori Penguatan (Reinforcement). Adapun hasil penelitian ini menyimpulkan : 1) pelaksanaan upacara Ngenteg Linggih memiliki landasan/alasan konsepsi, baik teologi, filosofi maupun mitologi; 2) pelaksanaan upacara Ngenteg Linggih memfungsikan seluruh unsur dalam struktur masyarakat Hindu Distrik Tanah Miring; dan 3) pelaksanaan upacara Ngenteg Linggih memiliki implikasi edukasi terhadap pendidikan agama Hindu, baik Tattwa, Susila maupun Acara.
NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM UPACARA NAWARATRI PADA MASYARAKAT HINDU ETNIS TAMIL DI KUIL SHRI PARMESWARI AMMAN MEDAN Ni Wayan Sukmawati
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Etnis Tamil adalah salah satu etnis asing yang menetap di Indonesia secara turun termurun sejak dahulu. Keberadaan etnis Tamil di Indonesia lebih banyak ditemukan di daerah provinsi Sumatera Utara seperti Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Asahan, Kabupaten Karo dan beberapa daerah lainnya. Etnis Tamil berasal dari India, meskipun telah lama menetap di Indonesia mereka masih mempertahankan tradisi India baik busana adat, makanan khas India, termasuk upacara keagamaan. Upacara merupakan bagian dari Tri Kerangka Agama Hindu adalah bagian terluar yang paling gampang terpengaruh dan diamati dalam kehidupan sehari-hari sehingga memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Penilitian ini bertjuan untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam Upacara Nawaratri yang dilaksanakan di Kuil Parmeswari Amman. Nawaratri adalah salah satu hari suci yang dirayakan antara bulan September dan Oktober pada tahun masehi atau bulan Kartika pada kelender Saka. Nawaratri menitikberatkan pada pemujaan kepada Tri Sakti yaitu, Dewi Dhurga, Laksmi, dan Saraswati. Metode yang digunakan dalam penilitian ini adalah kualitatif deskripsi dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah dilakukan penelitian ditemukan hasil bahwa adapun nilai-nilai yang terkandung dalam upacara Nawaratri yaitu 1)nilai tatwa/ketuhanan; 2)nilai susila/etika; 3)nilai keindahan/estetika.
PENERAPAN AJARAN TRI KAYA PARISUDHA SEBAGAI LANDASAN NILAI PENDIDIKAN ETIKA SISWA SDN 02 KARANG MENJANGAN SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2022/2023 Ni Putu Ekawati
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berpikir yang baik, berkata yang baik, dan berbuat yang baik tentulah menjadi hal yang diinginkan oleh setiap manusia oleh karena itu perlunya pembentukan Sikap dan prilaku seseorang dengan menerapkan ajaran Tri Kaya Parisudha yang baik. Dalam agama Hindu, etika dinamakan “Susila” yang berasal dari dua suku kata yakni “Su” dan “Sila”. Su artinya baik dan sila berarti kebiasaan atau tingkah laku perbuatan manusia yang baik. Etika atau susila terdapat dalam Tri Kerangka dasar agama Hindu yaitu tattwa, etika, dan upacara, yang digunakan sebagai dasar pedoman umat Hindu. Etika adalah rasa cinta, kasih sayang dimana seseorang dapat menerima etika itu karena ia bisa mencintai dan menghargai orang lain sama seperti ia mencintai dan mengharagi dirinya sendiri. Etika sebagai landasan dalam kehidupan beragama yang terdapat dalam ajaran Tri Kaya Parisudha yaitu manacika parisudha, wacika parisudha, dan kayika parisudha. Dari ketiga bagian Tri Kaya Parisudha yang paling penting adalah Pikiran (manah), pikiranlah yang menentukan dan mempengaruhi cara manusia berbicara ataupun berbuat. Tujuan penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha adalah untuk mendalami atau lebih memahami nilai pendidikan etika siswa, yang diterapkan dalam ajaran Tri Kaya Parisudha. Hasil yang diharapkan dari penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha sebagai landasan Nilai Pendidikan Etika siswa adalah agar peserta didik menjadi orang yang memiliki prilaku, tata karma, karakter, sopan santun, disiplin, dan saling menghormati kepada orang yang lebih tua dan sesama temannya.
EKSISTENSI TAKSU PADA MASYARAKAT HINDU DI KOTA DENPASAR KAJIAN TEOLOGI HINDU I Made Rudita; I Putu Gede Budhi Danaswara; I Nyoman Surianta
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Globalisasi dan modernisasi mempengaruhi kehidupan masyarakat Hindu di Kota Denpasar terutama dalam aspek beragama Hindu. Tradisi budaya pada masyarakat Bali menyimpan banyak hal yang bersifat misterius. Salah satunya adalah konsepsi taksu, yang banyak diyakini oleh masyarakat Bali pada umumnya, dan masyarakat Denpasar pada khususnya sebagai energi puncak atau kekuatan spiritual yang sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan sosio-religius, termasuk kehidupan berkesenian Bali. Berdasarkan hal itu, maka perlu merekonstruksi ajaran ketuhanan (teologi) melalui penelitian eksistensi taksu khususnya taksu pregina (seniman ) pada masyarakat Hindu di Kota Denpasar. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini difokuskan pada pembahasan tentang Eksistensi taksu khususnya taksu pregina (seniman) pada masyarakat Hindu di Kota Denpasar, Tujuan penelitian ini adalah mengetahui, memaparkan, dan menganalis eksistensi taksu khususnya taksu pregina pada masyarakat Hindu di Kota Denpasar. Adapun teori yang digunakan dalam menganalisis rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu : (1) teori fenomenologi, dan (2) teori religi). Penelitian ini menggunakan metode ilmiah, studi kepustakaan, observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan beberapa hal berikut ini : (1) konsepsi taksu terbukti eksis sampai sekarang pada masyarakat Hindu di kota Denpasar, termasuk didalamnya (2) pelinggih atau sanggah taksu, (3) jenis-jenis taksu, (4) proses memperoleh taksu, (5) tiga pilar taksu, (6) Tri Guna, (7) taksu di era Globalisasi.
KONTESTASI TEOLOGIS PADA PURA PENATARAN AGUNG CATUR PARHYANGAN RATU PASEK DI DESA PAKRAMAN PUNDUKDAWA KABUPATEN KLUNGKUNG PROVINSI BALI I Gde Widya Suksma; Ni Putu Asri Suryati; A.A Dwi Dirgantini
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 2016 yang lalu, dibangun satu pura besar di atas bukit yang diberi nama Pura Penataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Mpu Gana, bertempat di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Latar belakang berdirinya Pura Penataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasêk Linggih Mpu Gana, di Desa Pakraman Pundukdawa, Kabupaten Klungkung adalah karena semakin terdidik dan kritisnya generasi muda Bali yang bisa menilai lingkungan sosialnya. Mereka bakti kepada Ida Bhatàra Kawitan dan Leluhur sebagai kewajiban, bhisama Ida Bhatara Kawitan dan Leluhur yang menegaskan bahwa Warga Pasêk adalah keturunan Bràhmana Jati yang harus dipatuhi. Warga Pasêk merasakan adanya diskriminasi oleh kelompok Tri Wangsa pada saat itu. Ajaran teologi Hindu yang dijadikan landasan pembangunan bangunan suci di Pura Penataran Agung adalah teologi Hindu Saiva Siddhànta khususnya ajaran yang tersurat dalam kitab Vrhaspati Tattva, Tattva Jñàna dan Mahàjñàna yang menguraikan tentang Tri Purusa (Siva, Sadasiva dan Parama Siva) dalam bentuk Padmàsana sebagai sthana suci dan implementasinya dalam wujud pura dengan bangunan suci berupa padmàsana dan meru. Upacara yang dilaksanakan adalah upacara mapeselang dengan ma-jajiwan yang mengandung ajaran anekatva menjadi ekatva, yaitu polytheisme menuju monotheisme bahkan monisme. Pembangunan pura beserta upacara-upacaranya mengikuti upacara di Pura Dasar Bhuwana Gelgel, menunjukkan kontestasi bahwa Warga Pasek adalah besar dan mampu menunjukkan dirinya mempunyai pura dengan pemujaan khusus kepada Sang Hyang Pasupati yang tidak dapat dijumpai pada pura yang lainnya di Bali atau pun juga di luar Bali.
WARAK KERURON SEBAGAI WUJUD UPACARA PITRA YADNYA PALING SEDERHANA Ida Bagus Purwa Sidemen; Ida Bagus Ngurah Bradijaya Manuaba; I Nengah Artawan
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah tradisi yang dijaga dengan baik merupakan salah satu alat penyaring bentuk serbuan kehidupan modern. Semuanya bisa dipilah, mana yang baik dan mana yang buruk, dengan mengacu pada ajaran tradisi yang memiliki nilai-nilai luhur. Umat Hindu memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada disebabkan oleh suatu hal yang ada atau terjadi sebelumnya. Dari keyakinan tersebut memunculkan sebuah konsep hukum alam yang disebut dengan Karmaphala, atau hasil dari perbuatan. Sehubungan dengan hal tersebut, sebuah upacara yaitu Warak Keruron merupakan salah satu cara untuk membebaskan roh bayi dari belenggu yang mengikatnya di dunia agar sang roh dapat kembali ke asalnya. Bilamana hal ini tidak dilaksanakan tentu dapat menimbulkan dampak yang buruk bagi kehidupan sang ibu maupun sang ayah. Selama ini istilah Warak Keruron sangat jarang terdengar di masyarakat, padahal upacara ini sendiri sudah ada sejak dahulu. Warak Keruron bertujuan serta berfungsi untuk membersihkan atau mensucikan kondisi seorang ibu secara psikologis maupun jasmani. Roh yang di upacarai akan kembali ke alamnya dengan jalan sempurna sedangkan bagi orang tua yang masih mengharapkan keturunan diberikan kemudahan dan siap secara lahir bathin. Demikian pentingnya upacara Warak Keruron sebagai bentuk paling sederhana dalam upacara Pitra Yadnya dan sebaiknya dilakukan oleh pasangan suami istri atau bagi yang mengalami keguguran.
PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI BAGI SISWA KELAS V DI SD NEGERI 3 BATUAN SUKAWATI GIANYAR Kadek Tenny Mulyani; Putu Septia Dewi
WIDYANATYA Vol. 7 No. 01 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan memiliki peran yang krusial dalam perkembangan individu serta karakter siswa. Hal ini nampak dalam pendidikan agama Hindu, yang tidak hanya menekankan pembelajaran mental dan spiritual, tetapi juga berusaha membentuk akhlak yang baik melalui ajaran agama. Dalam pembelajaran berdiferensiasi pada pendidikan agama Hindu dan budi pekerti, penekanan berada pada penggunaan metode yang dapat memenuhi kebutuhan siswa. Pembelajaran yang disesuaikan memberi guru kesempatan untuk menciptakan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan setiap siswa, sehingga meningkatkan partisipasi aktif mereka dalam proses belajar. Melalui metode ini, diharapkan siswa akan memperoleh pengetahuan yang tidak hanya terbatas pada teori, tetapi juga dapat menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilaksanakan untuk menjawab permasalahan: Bagaimana pihak sekolah memahami pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran pendidikan agama Hindu dan budi pekerti bagi siswa kelas V di SD Negeri 3 Batuan?, proses pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran pendidikan agama hindu dan budi pekerti bagi siswa kelas V di SD Negeri 3 Batuan, dan Bagaimana implikasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran pendidikan agama hindu dan budi pekerti bagi siswa kelas V di SD Negeri 3 Batuan?. Teori yang digunakan untuk memecah masalah penelitian adalah Teori Konstruktivisme dan Teori Belajar Bermakna. Penelitian ini berbentuk rancangan kualitatif deskriptif. Data yang di kumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, dan teknik studi dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan: 1) pihak sekolah memahami pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran pendidikan agama Hindu dan budi pekerti, 2) proses pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran pendidikan agama Hindu dan budi pekerti, dan 3) implikasi pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran pendidikan agama Hindu dan budi pekerti.

Page 11 of 14 | Total Record : 135