cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 145 Documents
IDENTITAS DAN REPRESENTASI TRADISI PUKUL SAPU DI NEGERI MAMALA DAN MORELLA MELALUI KAJIAN BUDAYA Siti Syamsiah Renny Tounbama; Siti Gomo Attas; Novi Anoegrajekti
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v4i1.41988

Abstract

Tradisi Pukul Sapu merupakan warisan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Negeri Mamala dan Negeri Morella. Tradisi ini berupa atraksi saling memukul badan hingga terluka dan mengeluarkan darah dengan menggunakan sapu lidi. Tradisi Pukul Sapu ini dilakukan pada tanggal delapan Syawal atau bertepatan dengan hari ketujuh setelah hari raya Idul Fitri. Tradisi yang dilakukan di dua negeri ini kerapkali dipandang sama oleh masyarakat luar. Meskipun demikian, apabila ditelaah lebih dalam terdapat perbedaan antara tradisi di kedua negeri ini. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi perbedaan dan persamaan tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Morella melalui sejarah dan pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan metode etnografi melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan pendekatan komparatif. Metode yang digunakan dalam pengambilan data , yaitu wawancara dan kajian dokumen. Berkaitan dengan metode yang digunakan, maka instrumen penelitian merupakan panduan wawancara dan peneliti sendiri. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa perbedaan tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Morella secara garis besar terletak pada sejarah dan pelaksanaan tradisi di kedua negeri. Bermula dari sejarah inilah yang kemudian berpengaruh pada perbedaan pandangan, tujuan hingga pelaksanaan tradisi di masing-masing negeri. Adapun berdasarkan hasil penelitian, ditemukan perbedaan tradisi Pukul Sapu Negeri Mamala dan Morella yaitu pada 1) Sejarah, 2) Simbol, 3) Tujuan, 4) Rangkaian acara
SISTEM PENANGGALAN CANDRA SUNDA DALAM AKULTURASI ANTARA BUDAYA SUNDA DENGAN ISLAM Emyllia Fatmawati
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v4i1.42061

Abstract

Melekatnya sistem penanggalan sebagai penentu waktu dalam budaya dan tradisi di masyarakatnya, serta banyaknya perbedaan-perbedaan sistem penanggalan sejak dulu yang sudah digunakan oleh suku-suku di Indonesia. Namun, mampukah dengan lahirnya sistem penanggalan baru yang telah lama dilupakan yang memungkinkan mengubah kegiatan budaya dengan agama yang menggunakan kalender luar dengan menggunakan sistem penanggalan nenek moyang. Tulisan ini menjelaskan bagaimana sistem penanggalanCaka Sunda yang lahir kembali, yang mampu berakulturasi dalam budaya Sunda dengan agama Islam yangsudah mengental di dalam kehidupan masyarakatnya. Penelitian ini bersifat deskriftif dengan metodologi kualitatif agar dapat memudahkan pembaca dalam menjelaskan suatu akulturasi antara budaya Sunda dengan agama Islam menggunakan konsep sistem penanggalan Caka Sunda
NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME DALAM TRADISI RUWAT DESA DI DESA PRONOJIWO KECAMATAN PRONOJIWO KABUPATEN LUMAJANG Laudyra Hakiki
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v4i1.42339

Abstract

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak pulau, suku, ras, dan agama, oleh karena itu Indonesia memiliki banyak budaya di setiap daerahnya. Setiap budaya di daerah memiliki cirinya masing–masing, setiapdaerahnya memiliki tradisi yang ditinggalkan para pendahulunya. Seperti di Desa Pronojiwo, Kabupaten Lumajang ini memiliki tradisi Ruwat Desa. Tradisi Ruwat Desa ini biasanya diadakan 1 tahun sekali pada bulan Suro dengan tujuan untuk membersihkan desa dari malapetaka. Ruwat Desa ini mempersatukan budaya dan agama yang ada. Dengan begitu penulis ingin membahas tentang nilai-nilai multikulturulisme yang terkandung dalam tradisi Ruwat Desa di Desa Pronojiwo. Adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu 1) untuk mengetahui sejarah Ruwat Desa, 2) Untuk mengetahui lambang dan makna yang terkandung dalam Ruwat Desa, 3) untuk mengetahui nilai–nilai multikulturalisme. Karya ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu mengumpulkan data dengan wawancara dan mengumpulkan data pustaka. Hasil yang diperoleh, yaitu Ruwat Desa di Desa Pronojiwo merupakan tradisi yang harus dilakukan untuk membersihkan desa dari malapetaka. 
NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME DALAM TRADISI NYANGGRING DI DESA TLEMANG KABUPATEN LAMONGAN SEBAGAI SARANA INTEGRASI SOSIAL Mei Gita Wahyu Maharani
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 4 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v4i1.42372

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai keberagaman yang cukup menyita perhatian dunia. Keberagaman di Negara Indonesia didukung karena adanya potensi alam, baik dari daratan maupun lautan. Hal tersebut yang memunculkan keragaman dari ras, kepercayaan, budaya, suku, maupun bahasa di setiap daerahnya selain dikarenakan adanya kebiasaan hidup masyarakat. Keberagaman atau multikulturalisme dapat memicu adanya disintegrasi jika tidak adanya nilai toleransi, nilai solidaritas, nilai kerjasama, maupun nilai kebersamaan dalam masyarakat. Maka, untuk mencegah terjadinya disintegrasi diperlukan adanya pendidikan multikulturalisme yang berawal dari lingkungan keluarga maupun masyarakat. Pendidikan multikulturalisme ini dapat diperoleh dari nilai-nilai multikulturalisme kearifan lokal atau budaya suatu daerah, seperti tradisi upacara Nyanggring atau Mendak Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Upacara Nyanggring atau Mendhak adalah upacara yang berkaitan dengan penghormatan roh nenek moyang di daerahnya, yaitu Ki Buyut Terik. Dari Upacara Nyanggring atau Mendak dapat diperoleh nilainilai multikulturalisme, seperti nilai solidaritas, nilai kerjasama, nilai toleransi, serta nilai kebersamaan dikarenakan perlunya kontribusi setiap lapisan masyarakat Desa Tlemang maupun daerah lainnya dalam pelaksanaan upacara tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menggunakan teknik pengambilan data berupa wawancara dan library research (studi pustaka). Tujuan penelitian ini adalah menciptakan integrasi sosial dengan nilai-nilai multikulturalisme dalam suatu budaya lokal, seperti tradisi Nyanggring di Desa Tlemang
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS KEARIFAN LOKAL: STUDI KASUS TRADISI NGATURI DI DESA WATES, KECAMATAN WATES, KABUPATEN KEDIRI Mohammad Sukron Mubin
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v4i2.42361

Abstract

AbstrakIndonesia negara multikultural yang memilki beraneka budaya, ras, suku, agama, etnis dan tradisi. Salah satu tradisi yang ada di Indonesia adalah tradisi Ngaturi di Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Tradisi Ngaturi ini merupakan tradisi turun temurun yang diwariskan nenek moyang dan masih dilakukan hingga saat ini. Tradisi Ngaturi ini merupakan tradisi yang bertujuan untuk meminta restu dan memberi tahu masyarakat bahwa tuan rumah akan melaksanakan hajatan. Dalam pelaksanaan tradisi Ngaturi ini terdapat prosesi yang harus dilakukan. Melalui prosesi inilah memunculkan nilai-nilai multikultural yang terdapat di tradisi tersebut. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih jauh tentang pendidikan multikultural berbasis tradisi Ngaturi Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, dan juga nilai-nilai mengetahui nilai-nilai multikulturalisme yang terkandung pada tradisi Ngaturi Tersebut. Metode yang digunakan yakni kualitatif dengan dengan menggunakan model studi kasus dan library research melalui literatur-literatur yang relevan dengan tradisi Ngaturi tersebut.
NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME TRADISI UPACARA SIRAMAN GONG KYAI PRADAH KECAMATAN SUTOJAYAN (LODOYO) KABUPATEN BLITAR JAWA TIMUR Aditya Eka Bagus Setyawan
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v4i2.42380

Abstract

Tradisi Upacara Siraman Gong Kyai Pradah adalah tradisi yang sudah ada dan harus dijaga seacara turun-temurun Tujuan dari penulisan artikel adalah mendeskripsikan sejarah upacara Siraman Gong Kyai Pradah, menjelaskan motivasi masyarakat Islam Lodoyo dalam mempertahankan dan melestarikan upacara siraman Gong Kyai Pradah serta menjabarkan nilai multikulturalisme tradisi Upacara Siraman Gong Kyai Pradah terhadap masyarakat Lodoyo dalam perayaan 1 Syawal bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri dan tanggal 12 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam kepenulisan ini artikel yaitu studi kepustakaan.
GAMBARAN BUDAYA GENERASI MILENIAL DI KOTA SURABAYA DITINJAU DARI ENAM DIMENSI BUDAYA HOFSTEDE Ikhwan Fadlu Fantazilu
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v4i2.45214

Abstract

This study aims to determine how the cultural picture of the millennial generation in the city of Surabaya is viewed from the six dimensions of Hofstede's culture. This research is a quantitative research that uses the "VSM 08" questionnaire to collect the desired data. The sample of this study amounted to 100 subjects who were taken using accidental sampling technique. The data that has been collected is then analyzed using the formula that has been formulated by Hofstede. The results of the study detail that the millennial generation in the city of Surabaya which is reviewed through Hofstede's cultural dimensions has: (1) the Power Distance Index (PDI) has a high index with a result of 65.5 or believes there is a distance between power holders and those under them. (2) The Individualism Index (IDV) shows a low index score with a result of 13.5, which may indicate strong collectivism. (3) Masculinity Index (MAS) with a result of 64 or millennials in Surabaya City tend to like the pattern of competition. (4) The Uncertainty Avoidance Index (UAI) has a high index score of 79, meaning that millennials do not like things that are uncertain. (5) Long Term Orientation Index (LTO) has a result of 72.5 or happy future-oriented. (6) Indulgence Index (IVR) with a result of 46 or tend not to indulge in lust.
FILSAFAH KEHIDUPAN TRITANGTU SUNDA DALAM FILM EKSPERIMENTAL ADAT “GAME OVER DRAMA” Wiki Riandi; Sandie Gunara; Erik Muhammad Pauhrizi
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.52492

Abstract

Creating an art work is a creative process of thinking and emotion in a practical and intuitive performance. Personal coding of the author in the creation of experimental film often leads to new interpretations. The empirical experience of tradition underlies the idea of creating a notable work. Sundanese Tritangtu philosophy, a tradition of the Sundanese, contributes to the formation of sundanese's creativity in working and understanding life. In this study, an experimental film entitled "Game over Drama" was interpreted heurmeneuticly with the concept of Tritangtu with the aim of making a systematic, factual visual description, and raising awareness of the Sundanese about the relationship between humans, nature and their gods. The analysis focused on the film visual content to reveal the Sundanese Tritangtu philosophy. The results of this study reveal that the Sundanese always consider that their lives will always depend on nature and their Creator and believe that their bodies are composed of elements of water, earth, air and fire which are natural elements. This view is a relationship manifestation between the Sundanese and the universe as well as a representation of the characters contained in their bodies. This research is expected to be a reference for exploring the values of local wisdom for filmmakers who try to raise local wisdom through experimental films.
KONSEP RELASIONALITAS DALAM PEPATAH “MODHO NE’E HOGA, MEKU NE’E DOA” DALAM TERANG FILSAFAT ARMADA RIYANTO Alkuinus Ison Babo
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v4i2.53470

Abstract

Abstrak Fokus studi ini adalah mengkaji terkait dengan salah satu kebudayaan Nagekeo yakni pepatah. Pepatah merupakan suatu kearifan lokal yang di dalamnya memuat nilai moral dan pesan-pesan penting dalam mewarnai kehidupan bermasyarakat. Kajian ini bertujuan untuk mengakrabi tradisi pepatah sesuai dengan pergulatan keseharian hidup orang Nagekeo. Bahwasannya orang Nagekeo hidup sesuai dengan tradisi yang mengarahkannya pada kesadaran akan relasi dengan sesama sebagai makhluk sosial. Dalam mengarungi hidup pun individu membutuhkan peranan sesama di sekitar untuk menjalin persatuan, kerja sama, persaudaraan, gotong royong dan nilai-nilai kemanusiaan yang memiliki orientasi dan motivasi untuk kebaikan bersama. Metodologi yang digunakan dalam studi ini menggunakan penelitian kepustakaan. Studi tersebut didialogkan pula dengan filsafat relasionalitas Armada Riyanto. Filsafat tersebut mengungkapkan bahwa manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang memiliki kesadaran untuk membangun relasi dengan sesama. Kontribusi studi ini adalah memberi pemahaman bahwa penghargaan terhadap sesama merupakan hal yang urgen terutama bagi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai bangsa heterogen. Kata Kunci: Relasionalitas; Pepatah; Intersubjektif; dan Budaya Nagekeo.
EKSISTENSI KETUA ADAT DAYAK DESA PADA KOMUNITAS RUMAH BETANG Annisa Dwi Lestari; Dhea Frastika; Mita; Diaz Restu Darmawan
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.53999

Abstract

The Dayak Desa community in Betang House Ensaid Panjang Village, until now still maintains the existence of customs in the midst of their lives. This paper aims to reveal the existence of Ketua Adat in the midst of the current modernization period. The method used in this paper uses a qualitative method with data collection techniques by direct observation. The narratives in this paper are based on the results of in-depth interviews with informants formed in the data and information documentation. The focus of researchers in conducting mini research is on the existence of traditional leaders as seen from the seven elements of culture. The results showed that the Dayak Desa community living in Betang's house in Ensaid Panjang Village still maintained the function and existence of informal leaders. The election of the Ketua Adat Dayak Desa is based on community beliefs based on the charisma, authority and authority of the chosen figure. In addition to the figure of the traditional leader who is obeyed, the Dayak Desa community in Betang House in Ensaid Panjang Village really appreciates the house they use as a reference and guideline for customs in all their lives.

Page 7 of 15 | Total Record : 145