cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 145 Documents
TAYANGAN FILM DOKUMENTER “THE BAJAU” KARYA WATCHDOC: SEBUAH KAJIAN ETNOPEDAGOGI Kadek Nara Widyatnyana
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.54917

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tayangan film dokumenter “The Bajau” karya Watchdoc melalui sudut pandang etnopedagogi serta melihat bagaimana problematika suku Bajo yang terdapat dalam tayangan film dokumenter “The Bajau”. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data didapatkan dari tayangan film dokumenter “The Bajau” pada kanal youtube Watchdoc sekaligus digunakan sebagai subjek penelitian. Objek penelitian ini adalah nilai etnopedagogi dan problematika suku Bajo. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah simak. Empat teknik analisis data digunakan dalam penelitian ini yaitu identifikasi, reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan. Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa ada empat nilai etnopedagogi dari suku Bajo yang terdapat di dalam tayangan film dokumenter “The Bajau” yaitu: ritual penolak bala, cara hidup di laut, kerukunan sesama pelaut, dan pantangan. Selain itu, ada problematika yang ditemukan dan dapat pelestarian nilai-nilai kearifan lokal yang ada di dalam suku Bajo. Problematika tersebut antara lain yaitu ketidakselarasan suku Bajo dengan pemerintah daerah dan suku Bajo dengan perusahaan tambang sehingga dapat membuat pelestarian kearifan lokal menjadi terganggu.
PERSEPSI PETANI TERHADAP PELAKSANAAN TRADISI METHIK PARI DALAM RANGKA MENYAMBUT PANEN PADI DI DESA KARANGANYAR KECAMATAN AMBULU KABUPATEN JEMBER Nanda Ayu Artiani; Ratih Apri Utami; Silviani; Tafvian Devara Efendy
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.55484

Abstract

Budaya di Indonesia cukup beragam dan banyak, karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau dengan keragaman suku, ras, agama, dan lainnya. Budaya yang ada muncul dari zaman nenek moyang yang terus menurun secara turun temurun. Salah satu budayanya adalah tradisi methik pari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tahapan tradisi methik pari di Desa Karanganyar Kecamatan Ambulu dan untuk mengetahui persepsi petani terhadap pelaksanaan tradisi methik pari di Desa Karanganyar Kecamatan Ambulu. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif untuk menjelaskan secara detail terkait fenomena. Subyek penelitian yang dipilih adalah para petani yang melakukan tradisi methik pari di Desa Karanganyar Kecamatan Ambulu yang kemudian dilakukan pengumpulan data melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh selanjutnya akan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang nantinya akan divalidasi dengan triangulasi. Hasil penelitian ini digunakan untuk dapat mengetahui tahapan dan persepsi petani terhadap tradisi methik pari.
RELASI ADAT DAN AGAMA DALAM TRADISI BAARAK NAGA PADA WALIMAH PERKAWINAN MASYARAKAT BANJAR Habibah Fiteriana
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.57305

Abstract

Abstrak Sebagai kodrat makhluk sosial, manusia tentu tidak dapat terlepas dari ketergantungan untuk hidup bersama orang lain. Manusia lahir di tengah-tengah masyarakat, dan tidak mungkin hidup kecuali di tengah-tengah masyarakat pula. Hal inilah yang turut membangun naluri manusia untuk hidup bersama dan terus melestarikan keturunannya. Adapun cara untuk mewujudkan hal tersebut ialah dengan melakukan perkawinan yang sah. Pada masyarakat Banjar, prosesi perkawinan yang digunakan masih berpedoman pada adat yang berlaku sebagai warisan budaya turun-temurun. Selain itu, pelaksanaannya juga dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh fiqih. Sebagai bagian dari proses kehidupan yang sangat berarti bagi pribadi seseorang, sudah sewajarnya apabila prosesi perkawinan tersebut ditandai dengan sesuatu yang sifatnya istimewa, khas, dan unik. Sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tulisan ini yaitu tradisi baarak naga pada perkawinan masyarakat Banjar. Tradisi baarak naga membawa perpaduan antara ketentuan adat sebagai panduan tidak tertulis dengan hukum perkawinan Islam sebagai ketentuan formal. Keduanya dipatuhi dan dilaksanakan secara turun-temurun tanpa pergesekan sehingga akhirnya menghasilkan hubungan yang harmonis dan lestari di masyarakat bahkan hingga saat ini. Kata Kunci: Adat dan Agama; Tradisi Baarak Naga; Masyarakat Banjar.
FUNGSI, MAKNA, DAN NILAI DARI TRADISI BODO LOPIS DI DESA KRAPYAK, KOTA PEKALONGAN Rizqi Ratna Paramitha
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v4i2.60177

Abstract

Tradisi syawalan bagi masyarakat muslim di Jawa, salah satu tradisi yang biasa dilaksanakan setiap tanggal 7 Syawal, atau seminggu setelah hari raya Idulfitri. Syawalan ini bisa disebut sebagai bodo kupat, istilah yang dipakai oleh masyarakat untuk menyebut tradisi syawalan, sebab hidangan yang disajikan adalah ketupat, tetapi tidak semua daerah menyajikan ketupat dalam tradisi syawalan. Di Kota Pekalongan dikenal dengan bodo lopis sebab hidangan yang disajikan adalah lopis. Lopis adalah kue yang dibuat dari olahan beras ketan yang dibungkus dengan daun pisang berbentuk bulat lonjong, maupun segitiga dan dinikmati dengan baluran parutan kelapa dan gula merah. Sejarah kue lopis merupakan makanan peranakan Cina yang berakulturasi dengan budaya Cina, Jawa, dan Arab. Pemilihan sajian kue lopis sebagai hidangan utama dalam tradisi syawalan di Desa Krapyak mempunyai makna dan filosofi sendiri sehingga dalam tulisan ini penulis tertarik untuk mengkaji makna fungsi dan nilai dari tradisi bodo lopis di Desa Krapyak, Kota Pekalongan dengan menggunakan pendekatan semiotika yang menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa tradisi bodo lopis mempunyai makna persaudaraan yang erat dengan menjalin silaturahmi antar masyarakat kembali suci setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, dilanjutkan dengan puasa syawal yang disimbolkan kue lopis sebagai sajian utama. Kata kunci: Fungsi Makna; Nilai; Bodo Lopis; Desa Krapyak; Kota Pekalongan
EKSISTENSI TENUN ENDEK BULELENG DI ERA POSTMODERN I Nyoman Sila
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i1.62044

Abstract

Pada era postmodern, teknologi dan globalisasi mengubah banyak aspek kehidupan manusia, keberadaan tenun endek Buleleng menjadi semakin penting sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Dalam hal ini, dikaji tentang eksistensi tenun endek Buleleng di era postmodern dan mengkaji upaya dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai budaya dan seni terkait produk tenun endek Buleleng. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari perajin tenun endek di Buleleng. Keabsahan data dalam penelitian menggunakan teknik triangulasi. Data dianalisis dengan langkah langkah:1) menelaah data, 2) reduksi data, 3) menyajikan data, 4) menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan eksistensi tenun endek Buleleng di era postmodern mengikuti perkembangan teknologi mulai dari alat, bahan, warna, dan juga melakukan inovasi pada motif untuk mendapatkan kualitas produk yang baik. Bahan tenun pada awalnya menggunakan bahan yang terbuat dari benang sutra, maka diganti atau dicampur dengan bahan katun. Sedangkan pewarna yang digunakan awalnya menggunakan pewarna alam, diganti dengan pewarna buatan. Ragam hias atau motif tenun yang pada awalnya menerapkan motif-motif tradisional seperti pepatran, tumbuh-tumbuhan, dan motif geometris, saat ini sudah banyak dikembangkan motif-motif yang menstilir dari lingkungan alam sekitar. Untuk menumbuhkembangkan kembali tradisi tenun di daerah Buleleng menggelar festifal endek, peragaan busana, pameran melibatkan para perajin pada pameran baik yang diselenggarakan oleh Pemkab Buleleng maupun ikut even skala provinsi dan nasional.
MERAWAT KEARIFAN LOKAL: STUDI KASUS MASYARAKAT SAMIN BOJONEGORO Hazim; Ardilah, Rizka; Asriningputri, Julyana Dwikustanti; Ibrahim, Galuh Syahrial
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i2.58414

Abstract

Masyarakat Samin adalah salah satu kelompok masyarakat yang  masih mampu memertahankan identitas dirinya di tengah tempaan arus teknologi informasi belakangan ini. Keunikan tersebut yang membuat peneliti tertarik untuk menggali lebih mendalam tentang kearifan lokal mereka serta pendekatan yang dilakukan dalam merawat dan memertahankan nilai budayanya.  Metode penelitian ini adalah kualitatif melalui pendekatan etnografi. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara, dan studi dokumen. Temuan investigasi menunjukkan bahwa mereka memiliki nilai budaya lokal yang dikenal dengan “Pitutur Luhur”. Ajaran ini diwariskan dari generasi ke generasi melalui sumber daya pendidikan Samin yang secara konsisten dilestarikan hingga saat ini. Meski demikian, penelitian ini masih memiliki keterbatasan yang perlu mendapatkan perhatian peneliti berikutnya. Isu yang lepas dari perhatian peneliti antara lain adalah menyangkut akulturasi budaya antara masyarakat Samin dengan masyarakat lain di luar mereka karena interaksi mereka dengan komunitas lain semakin intensif belakangan ini.
MENGGALI MAKNA RITUS HULER WAIR DAN HUBUNGANNYA DENGAN SAKRAMEN PEMBAPTISAN Kamilus Bato; Andreas Geleda Manuk; Antonio Camnahas
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i2.59323

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk memahami dan menggali makna Huler Wair pada masyarakat Sikka dalam hubungan dengan Sakramen Pembaptisan. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan metode wawancara atau interview dengan tokoh masyarakat setempat untuk bisa memperoleh data yang benar dan akurat mengenai Huler Wair. Ada pun sumber atau rujukan yang digunakan penulis dalam karya tulis ini, seperti sumber tertulis lainnya yang berkaitan langsung dengan isi tulisan ini dan kemudian dianalisis agar bisa menemukan makna Huler Wair agar bisa disandingkan dengan pemahaman atau konsep tentang Sakramen Baptis dalam Gereja Katolik. Berdasarkan data yang diperoleh melalui penelitian, terdapat dua paham yang berbeda antara ritus Huler Wair dan sakramen Baptis dalam Gereja Katolik. Ada pun persamaan dan perbedaan diantara keduanya yang memantik penulis untuk lebih giat dalam menulis tulisan ini dan berusaha untuk bisa memahaminya dengan baik. Ritus Huler Wair dan sakramen Baptis tentunya mempunyai makna yang berbeda. Oleh karena itu, penulis hendak membuat studi banding antara keduanya. Upaya yang dilakukan penulis tentu saja dapat membantu masyarakat setempat dalam memahami Huler Wair dan sakramen Baptis, sehingga masyarakat setempat tidak mengalami kebingungan
NILAI-NILAI GOOD GOVERNANCE DALAM TATA KELOLA LEMBAGA ADAT MASYARAKAT MANGGARAI NUSA TENGGARA TIMUR Yohanes Wendelinus Dasor; Stanislaus Hermaditoyo; Robertus Hudin
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i2.59400

Abstract

Prinsip good governance dalam tata kelola lembaga adat adalah bagaimana lembaga adat itu berjalan secara benar untuk kebaikan semua masyarakat adat. Lembaga Adat dalam pelaksanaannya harus memenuhi tugas untuk mengembangkan, menjaga, dan merawat kekayaan budaya dan tradisi, serta hubungan antara tokoh adat dengan masyarakat dan pemerintah, yang seharusnya mencerminkan aspirasi semua pihak dalam wilayah hukum adat. Sesungguhnya prinsip good governance telah dihidupkan dan dijalankan dalam tata kelola lembaga adat di Manggarai. Dan karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana prinsip-prinsip good governance dalam tata kelola lembaga adat di Manggarai. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi.Sedangkan teknis analisis datanya terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan  penarikan kesimpulan/ verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa prinsip good governance  dalam tata kelola lembaga adat di Manggarai yaitu nilai partisipasi, transparansi, keadilan, supremasi hukum dan responsibilitas. Kelima aspek ini telah dihidupkan dan dijalankan dalam tata kelola lembaga adat sejak awal terbentuknya lembaga adat itu sendiri. Nilai-nilai ini ada dan dihidupkan melalui aspek pembiasaan yang telah digariskan dan diwariskan secara turun temurun.
SIMBOL DALAM SUKU DAYAK KAYAN KALIMANTAN UTARA Musa Kiring
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i2.60025

Abstract

Simbol dalam Suku Dayak Kayan. Simbol adalah tanda atau suatu isyarat dalam masyarakat Dayak Kayan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat lainnya. Selain daripada itu simbol juga menjadi alat komunikasi kepada Roh nenek moyang dari masyarakat Dayak Kayan. Penelitian ini sangat penting untuk diteliti guna untuk melestarikan kebudayaan yang dimiliki agar generasi sekarang tidak melupakan kekayaan dari kebudayaan yang dimiliki, Sehingga kebudayaan itu tidak mengalami kepunahan, dan dilupakan. Adapun tujuan dari penelitian ini dilakukan yaitu untuk mendeskripsikan makna, fungsi simbol dalam masyarakat Dayak Kayan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif, sedangkan metode penelitian menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Objek penelitian dilakukan di Desa Naha Aya Kabupaten Bulungan Kalimantan Utara suku Dayak Kayan. Berdasarkan hasil dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa simbol dalam masyarakat Dayak kayan merupakan alat komunikasi antar masyarakat dan alat komunikasi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ada beberapa simbol-simbol yang digunakan dalam budaya Dayak kayan Yaitu; simbol Kalung (ukiran) merupakan bahasa tulis, dan sekaligus simbol keindahan dan keharmonisan dalam bermasyarakat, Malat (Parang) merupakan senjata yang digunakan untuk berburu dan berperang, serta sebagai perlengkapan tari. Parang memiliki simbol yaitu keberanian. Kelembit (Tameng) merupakan perlengkapan perang yang berfungsi sebagai pelindung diri dan sekaligus menjadi alat bantu dalam berenang di air.  Hiput (Sumpit), merupakan senjata untuk berburu binatang seperti babi, rusa serta binatang lainnya.  Iling Aru (Telinga Panjang) merupakan tanda atau pembeda antara orang dayak dan monyet, dan sekaligus menjadi  simbol kecantikan bagi wanita dan tampan bagi kaum laki-laki. ,Betik (tato). Merupakan simbol pembeda antara masyarakat biasa dengan masyarakat keturunan raja.
ANALISIS NILAI YANG TERKANDUNG DALAM KEARIFAN LOKAL UPACARA KEMATIAN SUKU TIONGHOA HAKKA DI KOTA SINGKAWANG, KALIMANTAN BARAT Yusawinur Barella; Aminuyati; Nurul Fahira; Maya Maulidya; Vhicka Cantika; Dea Tami Restu Bumi
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 5 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v5i2.61112

Abstract

Setiap suku tentunya memiliki kearifan lokal tersendiri seperti suku Chinese atau yang lebih dikenal sebagai suku Tionghoa yang banyak bermukim di daerah perkotaan, seperti di Kota Singkawang. Suku Tionghoa khususnya kelompok hakka memiliki banyak kebudayaan sebagai bentuk kearifan lokal salah satunya upacara kematian. Seiring perkembangan zaman, banyak orang suku hakka tidak melaksanakan upacara kematian ini atau hanya melakukan sebagian tahapan saja dikarenakan kekurangan biaya. Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti terdorong untuk meneliti tentang bagaimana tahapan upacara kematian orang suku hakka secara lengkap serta nilai yang terkandung di setiap tahapannya. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan metode pengambilan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil menunjukan bahwa dalam budaya kematian, upacara penghormatan dilakukan sebagai bentuk bakti dan kasih sayang terakhir bagi orang yang meninggal. Artikel ini menyimpulkan bahwa dalam budaya kematian, nilai berbakti dan hormat kepada orang tua sangat penting. Hal ini terlihat dalam pelaksanaan upacara kematian yang dilakukan oleh anak-anak sebagai bentuk bukti dari rasa bakti dan penghormatan kepada orang tua yang sudah merawat mereka, meskipun pelaksanaannya memerlukan proses yang panjang dan membutuhkan biaya yang besar.

Page 8 of 15 | Total Record : 145