cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 145 Documents
Makna Belis dalam Perkawinan Matrilineal Masyarakat Ngada (Ditinjau Berdasarkan Kitab Hukum Kanonik No. 1062) Kowe, Agustinus; Endi, Yohanes; Suherli, Silvius; Pao, Saferinus
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.60620

Abstract

Belis adalah sebuah tradisi adat yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Flores NTT. Belis merupakan mas kawin yang diberikan oleh pihak pria kepada pihak wanita dalam pernikahan adat. Tujuan dari penelitian ini ialah menilai makna Belis dalam perkawinan adat Ngada. Masyarakat Ngada memegang teguh bahwa perkawinan sebagai model persekutuan pribadi antara laki-laki dan perempuan. Perkawinan matrilineal merupakan bagian penting bagi masyarakat Ngada dalam kekerabatan, yang mana perempuan diutamakan sebagai ahli waris dan penerus tahta dalam keluarga. Hampir seluruh masyarakat Ngada, menganut sistem perkawinan matrilineal. Perkawinan sistem matrilineal ini tidak terletak pada kaum perempuan saja, tetapi mempunyai relasi yang erat dengan persekutuan atau lembaga tertentu. Sistem matrilineal di tengah masyarakat Ngada dijalankan berdasarkan kemampuan dan berbagai penilaian, keluarga, dan masyarakat secara luas terutama oleh kaum perempuan. Sistem perkawinan tersebut diajarkan secara turun-temurun, disepakati, dan dipatuhi. Bagi Gereja Katolik perkawinan merupakan sebuah sakramen yakni tanda dan sarana yang pada dasarnya menyelamatkan. Masalah yang muncul adalah orang tidak dapat membayar Belis apabila hal itu diminta dengan harga atau nilai yang tinggi. Tujuan agar menyajikan kepada pembaca bahwa Belis ini dapat dibayar sesuai dengan kemampuan. Metode yang digunakan adalah kepustakaan. Hasil dari makna Belis ini menyatakan sesungguhnya bahwa Belis itu dapat dilakukan sesuai dengan kesepakatan bersama.  Tulisan ini menemukan arti dan makna Belis dalam terang kitab hukum kanonik (KHK) 1062.
Analisis Modifikasi Budaya dalam Perspektif Krisis Identitas Etnis Betawi Oktaviani, Alya; Dewi, Ratna Sari; Juwandi, Ronni
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.62400

Abstract

Budaya Betawi seiring waktu semakin kehilangan makna di dalam nya dikarenakan arus urbanisasi yang pesat dan mengakibatkan masuknya kebudayaan baru ke Jakarta yang tentunya berpengaruh kepada eksistensi dari etnis Betawi ini sendiri yang perlahan hilang dan tidak dapat dipungkiri perkembangan zaman secara konsisten terjadi dari waktu ke waktu, yang mengakibatkan kehilangan identitas budaya lokal serta kurangnya wadah serta lingkungan yang sama-sama membangun upaya pelestarian kebudayaan etnis Betawi yang tentunya merujuk kepada identitas budaya maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika dan transisi dari permasalahan krisis identitas etnis Betawi, apa sajakah yang menjadi tantangan dalam menghadapi krisis identitas etnis Betawi serta upaya apa sajakah yang dapat dilakukan untuk menghadapi krisis identitas budaya tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dan fokusnya adalah modifikasi sebagai respons terhadap krisis budaya, yang tentunya akan disesuaikan seiring berjalannya waktu, dalam pengumpulan data tersebut menggunakan Teknik triangulasi sehingga kesimpulannya merujuk kepada dinamika dan transisi dalam permasalahan krisis identitas etnis Betawi secara nyata terlihat, Jakarta terus berkembang sesuai dengan gaya pembangunan kota modern dunia. Hotel, apartemen, dan mal berlomba-lomba membangun tiang beton, yang akhirnya menghancurkan perkampungan Masyarakat lokalnya. Masyarakat Betawi dan semua aspek budaya tradisionalnya secara bertahap tetapi pasti terpengaruh oleh modernitas jadi urbanisasi dan perkembangan zaman di era globalisasi juga menjadi tantangan dalam menghadapi krisis identitas tersebut untuk itulah modifikasi budaya menjadi upaya kuat dalam menghadapi krisis identitas karena sesuai dengan zaman saat ini dan menyesuaikan juga dengan generasi saat ini tanpa menghilangkan nilai asli dalam budaya tersebut.
Peran Pimpinan Daerah dalam Pelestarian dan Pengelolaan Pusaka, Studi Kasus: Kabupaten Lampung Barat Pratiwi, Rian Adetiya
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.63354

Abstract

Lampung Barat merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung yang memiliki keindahan saujana alam dan saujana pusaka. Kondisi geografis Kabupaten Lampung Barat yang berupa pegunungan dan perbukitan serta berada di kawasan pesisir menyebabkan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Selain itu, Kabupaten Lampung Barat dipercaya sebagai tempat berdirinya Kerajaan Skala Brak, yang diyakini sebagai asal mula masyarakat Lampung saat ini. Menyadari hal tersebut, upaya pelestarian pusaka saujana sudah dilakukan oleh pemerintah dan pimpinan Kabupaten Lampung Barat. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengidentifikasi tindakan pelestarian dan pengelolaan pusaka oleh pemerintah dan pimpinan daerah Kabupaten Lampung Barat berdasarkan strategi 5C+1 yang diadopsi dari konvensi pelestarian UNESCO 1972, meliputi kredibilitas, pelestarian, peningkatan sumber daya manusia, komunikasi, komunitas, serta kolaborasi. Penulisan artikel ini disusun dengan pendekatan Studi Pustaka, melalui teori-teori dari berbagai literatur yang terkait dengan penelitian. Hasil dari kajian yang dilakukan menunjukan bahwa Pemerintah dan Pimpinan Kabupaten Lampung Barat sudah memiliki kesadaran akan pentingnya pelestarian dan pengelolaan pusaka alam dan budaya yang dimilikinya. Kekurangan yang masih ditemukan adalah pada aspek peningkatan sumber daya manusia, yakni belum ada tindakan nyata yang dilakukan oleh pemerintah.  Upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong pelestarian dan pengelolaan pusaka alam serta budaya yang berkelanjutan adalah dengan penguatan peningkatan sumber daya manusia yang melibatkan masyarakat, komunitas adat, pemerintah dan pimpinan, serta pihak terkait lainnya. Hal ini dapat dilakukan untuk mengantisipasi perubahan atau kehilangan nilai pusaka lebih lanjut.
Kearifan Budaya Sambas: Kehamilan, Kelahiran dan Kematian Barella, Yusawinur; Aminuyati, Aminuyati; Nurhesti, Nurhesti; Zuvita, Alya Istiqla; Lisa, Rosita; Maharani, Maharani; Fera, Fera
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.63682

Abstract

Kelahiran dan Kematian berfokus pada kearifan lokal yang ada di daerah Sambas. Kearifan lokal merupakan sudut pandang kehidupan di dalam masyarakat yang diwariskan dan diturunkan secara turun temurun oleh leluhur dan suatu ilmu pengetahuan yang memiliki strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal untuk menjawab permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Tujuan dari penelitian ini untuk memperkenalkan budaya kelahiran dan kematian melayu Sambas. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Terdapat dua cara dalam memperoleh data yaitu data primer diperoleh melalui wawancara serta data sekunder diperoleh melalui jurnal. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat beberapa ritual serta pantangan yang harus dilakukan dalam proses kelahiran maupun kematian pada budaya melayu Sambas. Ritual ini berupa ritual kehamilan dan kemataian pada suku melayu sambas, pada ritual kehamilan terdapat beberapa proses yaitu: tuang minyak, bepapas. Kelahiran terdapat beberapa proses yaitu: Belinggang, Turun tanah, dan tepung tawar, serta kematian yaitu:kajikan, mengkafani, ngelayat, memandikan mayat, menyolatkan mayat, melewati kolong mayat, turun tanah, dan miare.
Sebuah Studi Etnografi: Akuntansi Pernikahan Ditinjau dari Perspektif Budaya Tionghua Nicholas, Irvin; Saputra, Ricky; Ginting, Rafles; Yantiana, Nella
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.64880

Abstract

Sangjit merupakan sebuah budaya dari salah satu suku di Indonesia, yakni Suku Tionghua yang berkaitan dengan pernikahan di mana sebelum pernikahan antara kedua pasangan dilangsungkan, maka pada Suku Tionghua harus terlebih dahulu melakukan prosesi Sangjit. Tujuan dari dilakukannya penelitian ini yakni untuk mengetahui makna dari budaya Sangjit jika dikaji melalui ilmu akuntansi. Dalam Sangjit sendiri terdapat prosesi seserahan barang serta tahap persiapan sebelum prosesi yang menarik jika dilihat dari kacamata akuntansi. Metode penelitian yang digunakan yakni menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi serta menggunakan data primer dengan wawancara mendalam. Teknik analisis data pada penelitian ini yakni mengelompokkan hasil wawancara ke dalam daftar kategori berdasarkan fenomena perilaku atau psikologi yang unik, pemberian label atas kategori, serta membuat kesimpulan berdasarkan daftar kategori. Lokasi penelitian berada di kota Pontianak serta responden penelitian berjumlah 5 (lima) orang yang sudah menikah dan melewati prosesi Sangjit. Hasil dari penelitian ini yaitu budaya Sangjit memiliki kaitan erat terhadap akuntansi di mana praktik akuntansi sehari-hari yang digunakan bisa kita jumpai pada prosesi Sangjit, seperti transparansi keuangan yang berkaitan juga dengan laporan keuangan, item-item yang terdapat di dalam laporan keuangan salah satunya aset lancar maupun aset tetap, serta konsistensi dalam pembentukan laporan keuangan di mana laporan keuangan harus dibentuk berdasarkan aturan yang berlaku
Ulos Tujung Sebagai Pendampingan Kedukaan Berbasis Budaya di Tanah Batak Purba, Sanny Rospita; Engel, Jacob Daan
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.68427

Abstract

Pendampingan berbasis budaya terhadap orang berduka merupakan pendampingan yang memanfaatkan nilai-nilai kebudayaan sebagai pendampingan terhadap orang yang mengalami penderitaan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa ritual mate mangkar sebagai bentuk pendampingan berbasis budaya. Adapun jenis penelitian yang akan digunakan dalam tulisan ini adalah jenis penelitian kualitatif dengan tipe pendekatan deskriptif. Data untuk hasil penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara serta studi kepustakaan. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu pendampingan berbasis budaya terhadap orang berduka di tanah Batak Toba dapat dilakukan dengan memanfaatkan nilai-nilai kebudayaan yang diyakini oleh masyarakat Batak. Ketika masyarakat Batak berduka karena kehilangan seseorang yang mereka kasihi, maka mereka akan melakukan ritual kematian. Salah satu ritual kematian di Tanah Batak, yaitu ritual mate mangkar. Dalam ritual tersebut hulahula akan menudungkan ulos tujung kepada istri yang ditinggalkan oleh suaminya. Ulos tujung menjadi simbol kepedulian masyarakat terhadap kedukaan penduka.
Ritual Barong Wae Masyarakat Manggarai Menurut Konsep Sakralitas Alam Mircea Eliade Hamat, Yulianus; Pandor, Pius
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.68523

Abstract

Fokus tulisan ini adalah menyelami makna ritual Barong Wae masyarakat Manggarai dalam terang konsep sakralitas alam karya Mircea Eliade sebagai upaya menyikapi minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan air. Ritual Barong Wae merupakan perayaan yang menunjukkan penghargaan atas air sebagai sumber kehidupan manusia. Ritual ini dilakukan dengan mengundang roh penjaga mata air (ulu wae) untuk hadir dalam perayaan Penti, sebuah upacara untuk mensyukuri hasil panen yang dilaksanakan di sebuah kampung. Ritus ini selaras dengan konsep sakralitas alam karya Mircea Eliade yang menekankan adanya keterlibatan Yang Transenden di dalam alam. Konsep Eliade ini sekaligus menegaskan bahwa air yang menjadi komponen penting di dalam ritual Barong Wae juga adalah simbol kehadiran Yang Transenden yang menyapa masyarakat Manggarai. Tujuan dari pelaksanaan ritus ini adalah untuk memulihkan kembali alam yang telah rusak akibat tindakan manusia. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan yang mendukung tujuan penulis dalam menemukan makna di balik ritual Barong Wae masyarakat Manggarai dalam terang konsep sakralitas alam Mircea Eliade. Penulis juga melakukan studi terdahulu yang membahas ritual Barong Wae dan pemikiran Mircea Eliade untuk mengetahui posisi dan kekhasan penulis dalam tulisan ini. Akhirnya, telaah kritis terhadap ritual Barong Wae berdasarkan pemikiran Mircea Eliade menghasilkan beberapa penemuan yang berguna bagi berbagai analisis berdasarkan kosmologi budaya.
Eksistensi Lembaga Adat Melayu dalam Menjaga Kelestarian Adat Istiadat dan Budaya pada Era Global di Bangka Belitung Purmawanti, Zalva; Rozi, Rozi; Nurdianti, Lili; Mulyani, Mulyani; Ameilia, Susan
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.69087

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan adat istiadat dan budaya yang beragam. Setiap daerah di seluruh Indonesia memiliki keberagaman adat istiadat dan budaya, termasuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Eksistensi dari Lembaga Adat dalam pelestarian budaya agar tidak tergerus menjadi urgensi dalam menjaga warisan sejarah, sehingga diperlukan upaya dan strategi untuk menjaga dan melestarikan adat dan budaya dengan mengoptimalkan institusi yang ada, salah satunya Lembaga Adat Melayu. Penulisan ini dilakukan dengan melakukan observasi langsung ke pengurus, perangkat desa, serta masyarakat sekitar untuk mengetahui kondisi Lembaga Adat Melayu saat ini yang memiliki peran penting dan aktif dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan dalam proses pelestarian budaya di Kampung Melayu Tuatunu Indah
Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Prasah di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara Defiana, Naily Avida; Falaq, Yusuf
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.69459

Abstract

Tradisi Prasah di Desa Sidigede Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara merupakan salah satu tradisi yang masih dilakukan hingga saat ini. Tradisi Prasah adalah tradisi memberikan seekor kerbau sebagai seserahan atau maskawin dari mempelai pria kepada isterinya. Banyak masyarakat di luar Desa Sidigede yang masih asing dengan tradisi ini sehingga peneliti tertarik untuk menyebarkan Tradisi Prasah kepada masyarakat lain dan ingin mengetahui lebih dalam bagaimana persepsi masyarakat setempat pada tradisi tersebut. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat terhadap Tradisi Prasah dan nilai-nilai luhurnya. Penelitian ini menggunakan penelitian lapangan, yaitu di Desa Sidigede. Instrumen penelitian menggunakan human interest (peneliti sendiri). Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa warga setempat mendukung Tradisi Prasah dikarenakan di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur, yakni nilai religi, nilai sosial, dan nilai solidaritas.
Menggali Konsep Filosofis Ritual Wu’u Lolo Masyarakat Lamaole-Lawomaku-Flores Timur dalam Perspektif “Being in the Other” menurut Heidegger Heribertus Ama Bugis; Riyanto, Armada
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 6 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v6i1.69706

Abstract

Fokus penelitian ini ialah mengkaji dan memahami konsep "being in the other" (berada dalam yang lain) Martin Heidegger dalam ritual Wu'u Lolo yang dilakukan oleh masyarakat Lamaholot di Indonesia Timur.  Martin Heidegger merupakan seorang filsuf terkenal dalam tradisi fenomenologi dan eksistensialisme mengembangkan pandangan filosofis yang menekankan pentingnya interaksi sosial dan konteks dalam membentuk pemahaman individu tentang eksistensi dan realitas. Dalam Ritual Wu'u Lolo, masyarakat Lamaholot terlibat dalam serangkaian upacara adat yang melibatkan interaksi sosial, pertukaran budaya, dan pemahaman kolektif tentang dunia spiritual mereka. Penelitian ini menggunakan kerangka konseptual Heidegger untuk menganalisis bagaimana peserta ritual "berada dalam yang lain" saat berpartisipasi dalam upacara ini, bagaimana pengalaman tersebut membentuk pemahaman mereka tentang eksistensi, dan bagaimana konsep ini berperan dalam mempertahankan dan memperkaya tradisi budaya masyarakat Lamaholot. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini ialah studi kepustakaan. Melalui analisis ini, penelitian ini bertujuan untuk membawa pemahaman filosofis Heidegger tentang "being in the other" ke dalam konteks budaya yang berbeda, menunjukkan relevansi dan aplikabilitas konsep tersebut dalam pemahaman eksistensi manusia di berbagai latar belakang budaya. Penelitian ini menemukan bahwa konsep Being in Other ditemukan melalui partisipasi masyarakat Lamalohot dalam ritual Wulu Lolo membuat mereka terhubung dengan orang lain, alam dan juga sang Pencipta.

Page 9 of 15 | Total Record : 145