cover
Contact Name
Sehat Ihsan Sadiqin
Contact Email
jsai@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282165108654
Journal Mail Official
jsai@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai I, Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111.Telp. (0651)7551295.
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI)
ISSN : -     EISSN : 27226700     DOI : 10.22373
The focus and Scope of JSAI is to provide a scientific article of conceptual studies of sociology of religion, religious communities, multicultural societies, social changes in religious communities, and social relations between religious communities base on field research or literature studies with the sociology of religion perspective or sociology. Fokus dan Skope JSAI adalah artikel ilmiah tentang studi konseptual sosiologi agama, komunitas agama, masyarakat multikultural, perubahan sosial dalam komunitas agama, dan hubungan sosial antara komunitas agama berdasarkan penelitian lapangan atau studi literatur dengan perspektif sosiologi agama atau sosiologi.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 3 (2024)" : 8 Documents clear
“Panggil saja Aku Abang”: Pemaknaan, Negosiasi, dan Presentasi Identitas Gender Transman di Aceh Rayyana, Fadhilah; Sadiqin, Sehat Ihsan; Musdawati, Musdawati
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v5i3.5577

Abstract

This study aims to explores how transmen in Aceh construct and negotiate their gender identity within a social and cultural context dominated by religious norms. Using the Narrative Inquiry method, this qualitative study focuses on the life stories of two transmen to uncover the interplay between personal desires, social pressures, and cultural constraints. The findings reveal that transmen in Aceh interpret their male identity as a response to internal self-awareness and external societal expectations. Despite facing significant challenges, such as family rejection and societal stigma, transmen employ various strategies to adjust their gender identity within the boundaries of Islamic norms and local culture. These strategies include selective social interactions, adhering to certain cultural expectations, and maintaining religious practices in alignment with their biological sex. The study also highlights the importance of family support and social networks in helping transmen navigate their identity amidst societal constraints. Community involvement provides a sense of solidarity, while flexible approaches to cultural norms enable transmen to sustain their identity without completely rejecting societal expectations. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana transman di Aceh membangun dan menegosiasikan identitas gender mereka dalam konteks sosial dan budaya yang didominasi oleh norma agama. Dengan menggunakan metode Narrative Inquiry, penelitian kualitatif ini mendalami kisah hidup dua transman untuk memahami hubungan antara keinginan personal, tekanan sosial, dan batasan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transman di Aceh memaknai identitas laki-laki mereka sebagai respons terhadap kesadaran diri dan harapan sosial. Meskipun menghadapi tantangan besar, seperti penolakan keluarga dan stigma masyarakat, transman mengembangkan berbagai strategi untuk menyesuaikan identitas gender mereka dalam batasan norma Islam dan budaya lokal. Strategi ini meliputi interaksi sosial yang selektif, mengikuti sebagian norma budaya, dan tetap menjalankan ibadah sesuai jenis kelamin biologis mereka. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya dukungan keluarga dan jaringan sosial dalam membantu transman menavigasi identitas mereka di tengah tekanan sosial. Keterlibatan dalam komunitas memberikan solidaritas yang memperkuat, sementara pendekatan fleksibel terhadap norma budaya memungkinkan transman mempertahankan identitas mereka tanpa sepenuhnya menolak ekspektasi sosial.
Pengaruh Perubahan Sosial dan Perilaku Konsumtif terhadap Fear of Missing Out (FoMO) pada Mahasiswa Muslim di Perkotaan Desky, Ahmed Fernanda
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v5i3.5579

Abstract

This study examines the impact of social change and consumer behavior on the Fear of Missing Out (FoMO) syndrome among Muslim students in urban settings. Social media and digitalization have influenced communication patterns and consumption behaviors, contributing to the rise of FoMO among younger generations. A quantitative survey was conducted involving 100 undergraduate Muslim students from the State Islamic University of North Sumatra, Medan. Data were collected through structured questionnaires and analyzed using Spearman correlation tests with SPSS version 22 to identify the relationships between social change, consumer behavior, and FoMO. The findings show significant relationships between social change and FoMO (r = 0.761), consumer behavior and FoMO (r = 0.866), and social change and consumer behavior (r = 0.693). Consumer behavior exerts a stronger influence on FoMO, suggesting that social media promotions and consumption trends drive impulsive buying and social anxiety. Muslim students face challenges in balancing modern social pressures with religious values. Strengthening self-regulation, family support, and digital literacy is essential to mitigate the negative effects of FoMO. Future research should expand the scope to include a broader population for a more comprehensive understanding. Abstrak Penelitian ini mengkaji pengaruh perubahan sosial dan perilaku konsumtif terhadap sindrom Fear of Missing Out (FoMO) di kalangan mahasiswa muslim di lingkungan perkotaan. Media sosial dan digitalisasi telah memengaruhi pola komunikasi dan konsumsi, yang berkontribusi pada peningkatan FoMO di kalangan generasi muda. Penelitian ini menggunakan survei kuantitatif dengan melibatkan 100 mahasiswa S1 muslim di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman dengan bantuan SPSS versi 22 untuk mengidentifikasi hubungan antara perubahan sosial, perilaku konsumtif, dan FoMO. Penelitian menemukan hubungan signifikan antara perubahan sosial dan FoMO (r = 0,761), perilaku konsumtif dan FoMO (r = 0,866), serta perubahan sosial dan perilaku konsumtif (r = 0,693). Perilaku konsumtif memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap FoMO, menunjukkan bahwa promosi media sosial dan tren konsumsi mendorong perilaku impulsif serta kecemasan sosial. Mahasiswa muslim menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan tekanan sosial modern dengan nilai-nilai agama. Regulasi diri, dukungan keluarga, dan literasi digital diperlukan untuk meminimalkan dampak negatif FoMO. Penelitian lanjutan dapat memperluas cakupan populasi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh.
Moderasi Beragama melalui Pembiasaan Beribadah di Sekolah: Studi Kasus pada Siswa SMAN 1 Bandung Anugrah, Eri; Supriadi, Udin; Faqihuddin, Achmad
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v5i3.5728

Abstract

This study explores the implementation of religious practices in schools and their influence on shaping students' attitudes toward religious moderation at SMAN 1 Bandung. Using a mixed-methods approach, the research combines observations of worship activities and survey data to analyze the relationship between these practices and students' moderate attitudes. The findings reveal a positive and significant correlation, with a Pearson correlation coefficient of 0.439, indicating that consistent worship routines are associated with higher levels of religious moderation. These routines, such as communal prayers, Quranic recitation, and weekly religious discussions, contribute to instilling core values like discipline, appreciation of diversity, and social solidarity. This study underscores that worship practices not only strengthen spiritual aspects but also serve as a practical tool for fostering inclusivity and harmony in pluralistic societies. The research offers valuable insights for educational institutions aiming to promote religious moderation through structured character education programs. Abstrak Penelitian ini mengkaji pelaksanaan kebiasaan beribadah di sekolah dan pengaruhnya terhadap pembentukan sikap moderasi beragama siswa di SMAN 1 Bandung. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran, penelitian ini mengombinasikan observasi kegiatan ibadah dan survei untuk menganalisis hubungan antara rutinitas ibadah dan sikap moderasi siswa. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan dengan koefisien korelasi Pearson sebesar 0,439. Temuan ini mengindikasikan bahwa rutinitas ibadah yang konsisten, seperti sholat berjamaah, tadarus Al-Qur'an, dan pengajian rutin, berkontribusi pada internalisasi nilai-nilai seperti disiplin, penghargaan terhadap keragaman, dan solidaritas sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa kegiatan ibadah tidak hanya memperkuat aspek spiritual siswa, tetapi juga menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai yang mendukung inklusivitas dan harmoni dalam masyarakat majemuk. Penelitian ini memberikan rekomendasi bagi lembaga pendidikan untuk mengintegrasikan kebiasaan beribadah ke dalam program pendidikan karakter secara terstruktur guna mendukung pembentukan generasi yang moderat dan toleran.
Pelecehan Verbal terhadap Siswi Berjilbab: Bentuk, Faktor, dan Dampak Sosial Julia, Rizki; Susanti, Neila
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v5i3.5869

Abstract

Verbal sexual harassment against hijab-wearing female students in Deli Serdang, North Sumatra, has become a concerning issue, particularly due to its normalization within school environments. This study explores the forms of harassment experienced by the students, examines the factors driving such behaviors, and analyzes their psychological and social impacts. A phenomenological method was applied, involving in-depth interviews, participatory observations, and documentation. The results reveal that verbal harassment manifests in various forms, such as catcalling, inappropriate comments, and mockery of the hijab. Perpetrators often perceive these actions as harmless jokes, influenced by personal tendencies, peer pressure, and cultural norms rooted in patriarchy. Victims reported feeling fear, diminished confidence, and social withdrawal, but many remain silent due to stigma or lack of institutional support. Addressing this issue requires schools to provide safe reporting mechanisms, impose appropriate sanctions on perpetrators, and incorporate gender sensitivity education into their curricula. From a religious perspective, strengthening students’ awareness of moral and spiritual responsibilities, including gender equality, can further prevent harassment. Abstrak Pelecehan seksual secara verbal terhadap siswi berjilbab di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, menjadi isu yang memprihatinkan, terutama karena adanya normalisasi perilaku ini di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk pelecehan yang dialami korban, menganalisis faktor-faktor penyebabnya, serta mengkaji dampak psikologis dan sosial yang ditimbulkan. Penelitian menggunakan metode fenomenologi dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelecehan verbal dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti siulan, komentar bernada seksual, hingga ejekan terhadap jilbab. Pelaku sering kali menganggap tindakan tersebut sebagai candaan yang tidak berbahaya, dipengaruhi oleh kebiasaan pribadi, tekanan teman sebaya, dan norma budaya patriarki. Para korban melaporkan perasaan takut, hilangnya rasa percaya diri, dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Namun, banyak dari mereka memilih bungkam karena khawatir terhadap stigma atau kurangnya dukungan dari institusi. Penanganan masalah ini membutuhkan upaya dari pihak sekolah untuk menyediakan mekanisme pengaduan yang aman, menerapkan sanksi yang tegas bagi pelaku, dan memasukkan pendidikan kesetaraan gender dalam kurikulum. Dari perspektif agama, meningkatkan kesadaran moral dan spiritual siswa, termasuk pentingnya nilai-nilai kesetaraan gender, dapat membantu mencegah terjadinya pelecehan.
Kesenjangan Sosial Ekonomi di Indonesia: Penyebab, Dampak, dan Solusi Kebijakan Ningsih, Uci; Alpendi, Alpendi; Dewi, Ambar Sari
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v5i3.6037

Abstract

This study aims to analyze socio-economic inequality in Indonesia using a meta-analysis approach. Socio-economic inequality encompasses various dimensions, such as disparities in access to education, healthcare services, economic opportunities, and digital technology. Contributing factors include uneven development policies, the effects of globalization, geographical conditions, and gender inequality. This study integrates findings from various relevant studies meeting inclusion criteria, including articles published between 2018 and 2023. Meta-analysis facilitates the identification of patterns in causes, impacts, and effective solutions for reducing socio-economic inequality. The findings indicate that the impacts of socio-economic inequality are not only economic, such as reduced purchasing power, but also social, such as increased stratification and limited social mobility. Proposed solutions include wealth redistribution through progressive tax policies, increased investment in education and digital infrastructure, and community-based empowerment in underdeveloped regions. This study concludes that reducing socio-economic inequality in Indonesia requires more inclusive policy approaches, consistent implementation, sustainable evaluation, and cross-sectoral coordination. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memahami kesenjangan sosial ekonomi di Indonesia dengan menggunakan pendekatan meta-analisis. Kesenjangan sosial ekonomi mencakup berbagai dimensi, seperti ketimpangan akses pendidikan, layanan kesehatan, peluang ekonomi, dan teknologi digital. Faktor-faktor penyebabnya meliputi kebijakan pembangunan yang tidak merata, pengaruh globalisasi, kondisi geografis, dan ketidaksetaraan gender. Penelitian ini mengintegrasikan temuan dari berbagai studi yang relevan dengan kriteria inklusi, termasuk artikel yang diterbitkan pada periode 2018–2023. Meta-analisis memungkinkan identifikasi pola penyebab, dampak, dan solusi yang efektif dalam mengurangi kesenjangan sosial ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak kesenjangan ini tidak hanya bersifat ekonomi, seperti rendahnya daya beli, tetapi juga sosial, seperti meningkatnya stratifikasi dan terbatasnya mobilitas sosial. Solusi yang dapat diterapkan meliputi redistribusi kekayaan melalui kebijakan pajak progresif, peningkatan investasi di sektor pendidikan dan teknologi digital, serta pemberdayaan berbasis komunitas di daerah tertinggal. Kajian ini menyimpulkan bahwa pengurangan kesenjangan sosial ekonomi di Indonesia memerlukan pendekatan kebijakan yang lebih inklusif, dengan implementasi yang konsisten, evaluasi berkelanjutan, dan koordinasi lintas sektor.
Sedekah Bumi sebagai Media Pendidikan Karakter Religius: Studi Kasus di Desa Batealit, Jepara Rizkiyani, Kaysa Adinda; Saefudin, Ahmad
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v5i3.6351

Abstract

Sedekah Bumi is a local tradition that integrates cultural and religious values, serving as an integral part of the lives of the community in Batealit Village, Jepara Regency. This study aims to analyze the Islamic Education values embedded in this tradition, as well as explore their relevance in addressing the challenges of modernization. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through semi-structured interviews and direct observation during the tradition’s implementation. The findings reveal that the Sedekah Bumi tradition embodies strong religious values, including gratitude to Allah SWT, social solidarity through communal cooperation (gotong royong), and ecological awareness in maintaining environmental balance. This tradition also strengthens community unity, fosters social harmony, and contributes to building the community's religious character. Despite the challenges of modernization, the tradition demonstrates adaptability, particularly through the utilization of social media for promotion and youth engagement. Thus, Sedekah Bumi functions not only as a means of preserving local culture but also as an effective medium for religious character education that remains relevant in the context of globalization. Abstrak Sedekah Bumi merupakan tradisi lokal yang memadukan nilai-nilai budaya dan agama, serta menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat Desa Batealit, Kabupaten Jepara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai Pendidikan Agama Islam yang terkandung dalam tradisi tersebut, serta mengeksplorasi relevansinya dalam menghadapi tantangan modernisasi. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi langsung selama pelaksanaan tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Sedekah Bumi mengandung nilai-nilai religius yang kuat, seperti rasa syukur kepada Allah SWT, solidaritas sosial melalui gotong royong, dan kesadaran ekologi dalam menjaga keseimbangan alam. Tradisi ini juga berperan dalam memperkuat persatuan warga, menjaga harmoni sosial, serta membangun karakter religius masyarakat. Di tengah tantangan modernisasi, tradisi ini menunjukkan kemampuan adaptasi, antara lain melalui pemanfaatan media sosial untuk promosi dan pelibatan generasi muda. Dengan demikian, Sedekah Bumi tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian budaya lokal, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter berbasis agama yang relevan dalam konteks globalisasi.
Gawe Rapah sebagai Model Resolusi Konflik Berbasis Kearifan Lokal di Pulau Seribu Masjid, Lombok Kamar, Mohammad Zaenul; Casmini, Casmini; Sa'adah, Nurus
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v5i3.6413

Abstract

This study aims to analyze the role of the “gawe rapah” tradition in addressing three forms of violence—direct, structural, and cultural—and to explore its contributions to peacemaking, peacekeeping, and peacebuilding within the multicultural context of Mareje Timur Village, Lombok Island. Employing a qualitative descriptive approach, the research utilizes direct observation, in-depth interviews, and document analysis. Data were analyzed using Galtung's conflict resolution theory. The findings reveal that the “gawe rapah” tradition effectively mitigates direct violence through dialogue, addresses structural inequalities by fostering social inclusion, and reduces cultural violence through tolerance education. Additionally, the tradition contributes to maintaining social stability (peacekeeping) and fostering long-term harmony (peacebuilding), including integration into formal education and the utilization of digital technology. This study underscores the relevance of the “gawe rapah” tradition as a conflict resolution mechanism rooted in local wisdom and highlights its potential to serve as an inclusive and sustainable model for conflict resolution in other multicultural contexts. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran tradisi “gawe rapah” dalam mengatasi tiga bentuk kekerasan—langsung, struktural, dan budaya—serta mengeksplorasi kontribusinya pada peacemaking, peacekeeping, dan peacebuilding dalam konteks masyarakat multikultural di Desa Mareje Timur, Pulau Lombok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan observasi langsung, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Data dianalisis menggunakan teori resolusi konflik Johan Galtung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi “gawe rapah” efektif dalam meredakan kekerasan langsung melalui dialog, mengatasi ketimpangan struktural dengan menciptakan inklusi sosial, dan mengurangi kekerasan budaya melalui pendidikan toleransi. Tradisi ini juga berkontribusi pada menjaga stabilitas sosial (peacekeeping) dan membangun harmoni jangka panjang (peacebuilding), termasuk melalui integrasi dalam pendidikan formal dan penggunaan teknologi digital. Kajian ini menegaskan bahwa tradisi “gawe rapah” tetap relevan sebagai mekanisme resolusi konflik berbasis kearifan lokal dan memiliki potensi untuk menjadi model penyelesaian konflik yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat multikultural lainnya.
Narasi Konflik dan Fragmentasi Pengetahuan Masa Lalu dalam Pendidikan: Studi Kasus di Kabupaten Pidie, Aceh Ikramatoun, Siti; Barakah, Fadlan
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v5i3.7489

Abstract

The way past conflict narratives are understood and taught plays a crucial role in reconciliation and peacebuilding efforts in post-conflict regions such as Aceh, Indonesia. However, the effectiveness of this process depends on how complex and sensitive historical knowledge is transmitted and internalized by key educational actors. This study aims to examine the depth, sources, and characteristics of historical knowledge about the Aceh conflict held by high school teachers and students in Pidie District. Employing a qualitative descriptive method, data were collected through in-depth interviews, passive classroom observation, and document analysis at MAN 1 Pidie. The findings reveal a significant knowledge gap. Teachers’ understanding of the Aceh conflict tends to be fragmented, heavily reliant on personal experiences, and constrained by perceptions of limited formal teaching resources. As a result, students acquire minimal formal knowledge from school, often relying on informal sources—such as family narratives and digital media—whose validity is questionable. This knowledge gap hinders the development of students’ critical understanding of the past and limits the potential of education as a transformative vehicle for peace. The study underscores the urgent need for systemic interventions, including curriculum reform, foundational capacity-building for teachers (content mastery and critical pedagogy), and the enhancement of students’ critical literacy in navigating contested historical narratives. Abstrak Bagaimana narasi konflik masa lalu dipahami dan diajarkan memainkan peran krusial dalam proses rekonsiliasi dan pembangunan perdamaian di wilayah pasca-konflik seperti Aceh, Indonesia. Namun, efektivitasnya bergantung pada bagaimana pengetahuan tentang masa lalu yang kompleks dan sensitif ditransmisikan dan dipahami oleh aktor kunci dalam sistem pendidikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedalaman, sumber, dan karakteristik pengetahuan guru dan siswa sekolah menengah atas di Kabupaten Pidie mengenai narasi konflik Aceh. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi kelas partisipan pasif, dan analisis dokumen di MAN 1 Pidie, melibatkan guru mata pelajaran relevan (Sejarah, Sosiologi, PKN) dan siswa jurusan IPS. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan yang signifikan. Pengetahuan guru mengenai narasi konflik Aceh cenderung fragmentaris, sangat bergantung pada pengalaman personal, dan terkendala persepsi keterbatasan sumber ajar formal. Akibatnya, pengetahuan siswa yang diperoleh dari sekolah sangat minimal, mendorong mereka bergantung pada sumber informasi informal (narasi keluarga, media digital) yang validitasnya diragukan. Kesenjangan ini menghambat pembentukan pemahaman kritis mengenai masa lalu (critical understanding of the past) dan efektivitas pendidikan untuk perdamaian. Studi ini menegaskan perlunya intervensi sistemik yang mencakup reformasi kurikulum, penguatan kapasitas fundamental guru (penguasaan materi & pedagogi kritis), serta pengembangan literasi kritis siswa dalam menavigasi narasi masa lalu.

Page 1 of 1 | Total Record : 8