cover
Contact Name
Sehat Ihsan Sadiqin
Contact Email
jsai@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282165108654
Journal Mail Official
jsai@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai I, Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111.Telp. (0651)7551295.
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI)
ISSN : -     EISSN : 27226700     DOI : 10.22373
The focus and Scope of JSAI is to provide a scientific article of conceptual studies of sociology of religion, religious communities, multicultural societies, social changes in religious communities, and social relations between religious communities base on field research or literature studies with the sociology of religion perspective or sociology. Fokus dan Skope JSAI adalah artikel ilmiah tentang studi konseptual sosiologi agama, komunitas agama, masyarakat multikultural, perubahan sosial dalam komunitas agama, dan hubungan sosial antara komunitas agama berdasarkan penelitian lapangan atau studi literatur dengan perspektif sosiologi agama atau sosiologi.
Articles 123 Documents
The Phenomenon of Mass Marriages in Kampung Matfa Tri Handini; Syawaluddin Nasution
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i2.2869

Abstract

This article aims to describe Mafta and the phenomenon of mass marriage occurring in Kampung Mafta and to explore the underlying reasons behind this practice. The qualitative method is used with interviews, field observations, and documentation as data collection techniques. This study shows MAFTA Indonesia prioritizes the education and practical application of Islamic teachings, as well as promoting citizenship responsibility. Its core philosophy revolves around “togetherness” and “compassion,” fostering equality among its members. Mass weddings in Kampung Matfa serve to strengthen the bonds within the community and dispel negative perceptions. Tuan Imam provides spiritual guidance, emphasizing virtues such as kindness and obedience to Allah and the Prophet. He teaches love for Allah, the Prophet, family, and nature, instilling a sense of unity within the community. The mass weddings in Kampung Matfa teach the values of love, unity, and equality while promoting goodness and citizenship responsibility.
Karakteristik Sosial Budaya dan Solidaritas Warga Rusunawa Begalon I, Surakarta Yopi Putra Raditya; Dwi Astutik; Nurhadi Nurhadi
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i2.2877

Abstract

The social and cultural characteristics of residents in Rusunawa are influenced by changes in social and economic conditions. This research aims to identify the factors causing differences and similarities in the social and cultural characteristics of the residents in Rusunawa Begalon I, Surakarta, while exploring various aspects of their social and cultural characteristics. This study adopts a qualitative approach, specifically a descriptive case study design. Emile Durkheim's theory of Social Solidarity serves as the fundamental analysis framework. The research findings indicate that the solidarity among the residents of Rusunawa Begalon I is of a mechanical nature. The distinguishing feature of the residents is their high sense of familial bond and spirit of mutual cooperation, which are not commonly found elsewhere. The interwoven solidarity among them encapsulates unique social and cultural characteristics not found in other locations. This solidarity is triggered by their longstanding cohabitation and shared backgrounds. AbstrakKarakteristik sosial budaya warga Rusunawa dipengaruhi oleh perubahan kondisi sosial dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab perbedaan dan persamaan dalam karakteristik sosial budaya warga Rusunawa Begalon I di Surakarta, serta menggali berbagai aspek karakteristik sosial budaya yang dimiliki oleh warga Rusunawa Begalon I. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus yang bersifat deskriptif. Teori Solidaritas Sosial karya Emile Durkheim menjadi dasar analisis dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solidaritas antar warga Rusunawa Begalon I bersifat mekanik. Warga Rusunawa Begalon I memiliki ciri khas yang tidak ditemukan di tempat lain, yakni tingginya rasa kekeluargaan dan semangat gotong royong. Solidaritas yang terjalin di antara mereka mengandung karakteristik sosial budaya yang unik, tidak ada di tempat lain. Solidaritas ini dipicu oleh lamanya mereka hidup bersama dan latar belakang yang serupa.
Analisis Pemberdayaan Masyarakat: Studi Komparatif Gerakan Ayo Kita Peduli dan Pusat Kesejahteraan Sosial Arini Wijayanti; Muhamad Iqbal; Mirna Nur Alia Abdullah
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i2.2878

Abstract

Poverty alleviation has become one of Indonesia's Sustainable Development Goals (SDGs) targets to be achieved by 2030, with poverty placed as a primary focus in national development. This study aims to compare the empowerment processes undertaken by “Gerakan Ayo Kita Peduli “ and “Pusat Kesejahteraan Sosial “ (Social Welfare Center, Puskesos) in Husein Sasatranegara, Bandung. The research employs a qualitative approach with a comparative model. The findings indicate that “Gerakan Ayo Kita Peduli “ is more effective in providing empowerment due to its targeting of priority groups such as the elderly, orphans, and micro, small, and medium-sized enterprise (UMKM) practitioners. The program also enhances community capacity through the establishment of “Tokopeduli. “ On the other hand, “Puskesos “ carries out planned activities through neighborhood deliberations (musyawarah kelurahan), but it has not effectively improved living standards due to limited human resources. Both initiatives can conduct evaluations and implement improvements to achieve more effective empowerment. “Gerakan Ayo Kita Peduli “ should strengthen the educational aspect, while “Puskesos “ should enhance collaboration and community involvement. Abstrak Pengentasan kemiskinan telah menjadi salah satu target Sustainable Development Goals (SDGs) yang diupayakan Indonesia untuk dicapai pada tahun 2030 dengan menempatkan kemiskinan sebagai perhatian utama dalam pembangunan nasional. Kajian ini bertujuan untuk membandingkan proses pemberdayaan yang dilakukan oleh Gerakan Ayo Kita Peduli dan Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) di Kelurahan Husein Sasatranegara, Bandung. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan model komparatif. Kajian ini menunjukkan bahwa Gerakan Ayo Kita Peduli lebih optimal dalam memberikan pemberdayaan karena menyasar kelompok prioritas seperti lansia, yatim dhuafa, dan penggiat UMKM. Program ini juga meningkatkan kapasitas masyarakat dengan pembentukan Tokopeduli. Puskesos juga memiliki kegiatan terencana melalui musyawarah kelurahan, namun belum efektif meningkatkan taraf hidup karena keterbatasan sumber daya manusia. Keduanya dapat melakukan evaluasi dan perbaikan untuk mencapai pemberdayaan yang lebih efektif. Gerakan Ayo Kita Peduli perkuat aspek pendidikan, sementara Puskesos tingkatkan kolaborasi dan keterlibatan masyarakat.
Pemberdayaan Peternak Milenial: Strategi dan Dampak Fauzi Nur Afifudin; Danang Purwanto; Ghufronuddin Ghufronuddin
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i2.2965

Abstract

Ngargosari Village is undertaken in an effort to enhance community capabilities. This article aims to comprehend the implementation of empowerment strategies for millennial farmers and their impacts. The research methodology utilized is qualitative with a case study approach, employing data collection techniques through interviews and observations. This study showed that the implementation of empowerment strategies by Komunitas Ternak Lembu Mukti involves five main activities, namely plegung, regular arisan (rotating credit association), a savings and loan system for initial capital, the principle of 3 M (Self-Management, Financial Management, and time management), and the provision of land facilities by the village. These activities have had a positive impact on the members of the community and society at large, leading to enhanced livestock management skills, productivity, and welfare. This study concludes that the implementation of empowerment strategies for millennial farmers has yielded positive outcomes in terms of enhancing capabilities, productivity, and the welfare of the community. Furthermore, the strategies align with the principles of the ACTORS theory, as they grant communities the freedom to leverage local potential with the support of external actors as empowering agents. AbstrakPemberdayaan peternak milenial oleh Komunitas Ternak Lembu Mukti di Desa Ngargosari dilakukan sebagai upaya meningkatkan kemampuan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami penerapan strategi pemberdayaan peternak milenial serta dampaknya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan teknik penugumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi pemberdayaan oleh Komunitas Ternak Lembu Mukti melibatkan lima kegiatan utama, yaitu plegung, arisan rutin, sistem simpan pinjam untuk modal awal, prinsip 3 M (Manajemen Diri, Manajemen Keuangan, Manajemen Waktu), serta fasilitas lahan yang diberikan oleh desa. Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan dampak positif pada anggota komunitas dan masyarakat, meningkatkan kemampuan mengelola ternak, produktivitas, dan kesejahteraan. Kajian ini menyimpulkan bahwa penerapan strategi pemberdayaan peternak milenial berdampak positif dalam meningkatkan kemampuan, produktivitas, dan kesejahteraan masyarakat serta sesuai dengan konsep teori ACTORS yang memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk memanfaatkan potensi lokal dengan dukungan pihak lain sebagai pemberi daya.
Kemiskinan Kultural Masyarakat Nelayan di Desa Panipahan Kecamatan Pasir Limau Kapas: Cultural Poverty among Fisherfolk in Panipahan Village, Pasir Limau Kapas Sub-district Alfin Muttaqin; Ismail Ismail
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i2.2815

Abstract

This study aims to examine the poverty among fisherfolk in Panipahan Village, Pasir Limau Kapas Sub-district. The research method used is qualitative with data collection techniques through interviews and observations. The findings indicate that the cultural poverty experienced by the fisherfolk in Panipahan Village is attributed to a set of cultural norms and lifestyle patterns that have become ingrained in their mindset and worldview. The fisherfolk tend to perceive their income from fishing as only sufficient to meet their daily needs, leading them to be reluctant to save or invest their earnings for future ventures. This way of life is then passed down from generation to generation. The study concludes that the poverty experienced by the fisherfolk is a result of a culture, mindset, and impoverished way of life that are inherited and shape their approach to daily living and economic opportunities. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang kemiskinan pada masyarakat nelayan di Desa Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawacara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan kultural yang dialami oleh masyarakat nelayan di Desa Panipahan disebabkan oleh seperangkat budaya dan pola kehidupan yang telah menjadi bagian dari pola pikir dan pandangan hidup mereka. Masyarakat nelayan di Desa Panipahan cenderung beranggapan bahwa pendapatan dari hasil tangkapan laut hanya mencukupi untuk memenuhi kebutuhan harian, sehingga mereka enggan menabung atau menginvestasikan penghasilan mereka untuk membuka usaha lain sebagai persiapan untuk masa depan. Pola kehidupan semacam ini kemudian diturunkan dari generasi ke generasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kemiskinan yang dialami masyarakat nelayan merupakan hasil dari budaya, pola pikir, dan kebiasaan hidup miskin yang diwariskan secara turun-temurun kepada anak cucu mereka. Hal ini membentuk pendekatan hidup dan kesempatan ekonomi yang mereka pilih dalam kehidupan sehari-hari.
Relasi Agama, Kebudayaan dan Politik pada Masyarakat Batak Toba di Kabupaten Samosir: The Relationship between Religion, Culture, and Politics in the Batak Toba Community in Samosir Regency Harisan Boni Firmando; Elvri Teresia Simbolon; Roida Lumbantobing
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.2939

Abstract

Religion, culture, and politics form a unified entity in society that cannot be separated. These three elements shape human life both socially and as citizens. The purpose of this study was to explore the relationship between religion, culture, and politics within the Toba Batak community in Samosir Regency. This research utilized qualitative methods to comprehensively understand the experiences of the subjects. The findings reveal that the relationship between religion, culture, and politics is evident in the implementation of the 'dalihan na tolu' kinship system. The Toba Batak community exhibits openness towards others outside their tribe, a practice facilitated by incorporating clan affiliations as a basis for determining kinship. The culture of solidarity in the Batak Toba community influences their political behavior. The community supports their family members who run in general elections, with this solidarity serving as both social and economic capital for the Toba Batak people engaging in political activities, particularly for those aspiring to become regional head candidates or council members. In selecting leaders, the Batak Toba community considers not only the educational and other qualifications of potential leaders but also their sociological background. AbstrakAgama, kebudayaan, dan politik merupakan satu kesatuan di dalam masyarakat yang tidak dapat dipisahkan. Ketiga hal tersebut menyebabkan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai warga negara berlangsung. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui relasi agama, kebudayaan dan politik pada masyarakat Batak Toba di Kabupaten Samosir. Kajian ini menggunakan metode kualitatif untuk memahami. Hasil Kajian ini menunjukkan relasi agama, kebudayaan dan politik terlihat dalam implementasi sistem kekerabatan dalihan na tolu. Masyarakat Batak Toba dengan orang lain di luar suku Batak Toba, keterbukaan tersebut dilakukan dengan penabalan marga sebagai dasar suku Batak Toba untuk menentukan sistem kekerabatan. Budaya solidaritas menjadi pedoman masyarakat Batak Toba dalam berperilaku politik. Masyarakat akan membantu keluarganya yang maju dalam pemilihan umum. Solidaritas ini merupakan modal sosial sekaligus modal ekonomi bagi masyarakat Batak Toba yang melakukan aktivitas politik, khususnya anggota masyarakat yang maju menjadi calon kepala daerah dan anggota dewan. Pemilihan pemimpin pada masyarakat Batak Toba hingga kini masih memperhitungkan latar belakang calon seorang pemimpin. Latar belakang bukan hanya dari pendidikan atau modal lain dari calon pemimpin yang mumpuni, namun lebih kepada aspek-aspek sosiologis.
Harmony in Diversity: The Dynamics of Interfaith Families Mochamad Taufiqurrachman; Agus Machfud Fauzi
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3207

Abstract

In Indonesia, a nation characterized by its diverse religious landscape, the phenomenon of interfaith families provides a distinctive lens to comprehend religious coexistence. This investigation delves into how religious beliefs are shaped within interfaith families, scrutinizing the ways in which these households manage the intricacies of varying religious views. Utilizing qualitative research methodologies, the study zeroes in on four Indonesian families, each hailing from different religious backgrounds. The research method includes thorough interviews and observational techniques, aiming to unravel the nuances of religious observance, communication, and the resolution of conflicts within these families. The results highlight the critical roles of mutual respect, transparent communication, and a collective dedication to familial harmony in preserving a balanced atmosphere. Notwithstanding their religious disparities, these families demonstrate significant levels of tolerance and comprehension, allowing individual members to freely engage in their respective religious practices. This study accentuates the significance of embracing diversity and nurturing tolerance as fundamental factors for the harmonious coexistence of varied religions within a domestic framework. AbstrakDi Indonesia, negara yang ditandai oleh pluralitas agama, fenomena keluarga beda agama menawarkan konteks unik untuk memahami koeksistensi agama. Penelitian ini mengeksplorasi konstruksi kepercayaan agama dalam keluarga beda agama, mengkaji bagaimana keluarga-keluarga ini menavigasi kompleksitas perbedaan keyakinan agama. Menggunakan metode penelitian kualitatif, studi ini berfokus pada empat keluarga Indonesia dengan latar belakang agama yang beragam. Melalui wawancara mendalam dan observasi, penelitian ini menyelidiki dinamika praktik agama, komunikasi, dan resolusi konflik dalam keluarga tersebut. Temuan menunjukkan bahwa saling menghormati, komunikasi terbuka, dan komitmen bersama terhadap kesatuan keluarga sangat penting dalam menjaga harmoni. Meskipun ada perbedaan agama, keluarga menunjukkan tingkat toleransi dan pemahaman yang tinggi, dengan anggota keluarga bebas mempraktikkan keyakinan masing-masing. Studi ini menekankan pentingnya merangkul keragaman dan menumbuhkan toleransi sebagai elemen kunci dalam koeksistensi damai agama yang berbeda dalam satu keluarga.
Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Budaya Rimpu di Kabupaten Bima: Islamic Educational Values in the Rimpu Culture in Bima Regency Hairunnisa Hairunnisa; Ishomuddin Ishomuddin; Muhammad Kamaludin
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3310

Abstract

Rimpu represents one of the local cultures that has undergone acculturation with Islamic teachings and has become an identity for Muslim women in the Bima area. This study aims to identify the Islamic educational values contained within the Rimpu. The research method used is qualitative, with data obtained through interviews and documentation and data analysis performed using data condensation, data presentation, and drawing conclusions. The findings show that Rimpu embodies values of morality, worship, and aesthetics. Rimpu reflects a personality that preserves, maintains courtesy, and upholds modesty between men and women in terms of morality. In terms of worship, the use of Rimpu signifies compliance in covering one’s aurat, reflecting devotion and worship to Allah SWT. Aesthetically, the colors and motifs on tembe nggoli, the main material of Rimpu, hold deep meanings and philosophies in line with Islamic teachings. This study concludes that Rimpu is not just clothing but also a medium that integrates religious, social, and aesthetic aspects, reflecting the identity and values within the Bima community society. AbstrakRimpu mewakili salah satu budaya lokal yang telah mengalami akulturasi dengan ajaran Islam dan menjadi identitas bagi Muslimah di daerah Bima. Penelitian bertujuan mengetahui nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalam Rimpu. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, data diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi serta analisis data menggunakan kondensasi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rimpu menggambarkan nilai-nilai akhlak, ibadah, dan estetika. Dalam aspek akhlak, Rimpu mencerminkan kepribadian yang terjaga, sopan santun, dan menjaga pandangan antara perempuan dan laki-laki. Secara ibadah, penggunaan Rimpu menandakan kepatuhan dalam menutup aurat, merefleksikan bentuk penghambaan dan ibadah kepada Allah SWT. Dari segi estetika, warna dan motif pada tembe nggoli, bahan utama Rimpu, memiliki makna dan filosofi mendalam sesuai dengan ajaran Islam. Kajian ini menyimpulkan bahwa Rimpu tidak hanya sebagai pakaian, tetapi juga sarana yang mengintegrasikan aspek keagamaan, sosial, dan estetika yang merefleksikan identitas serta nilai-nilai dalam komunitas masyarakat Bima.
Resiliensi Masyarakat terhadap Bencana Banjir di Kecamatan Pebayuran, Bekasi Jawa Barat: Community Resilience to Flood Disasters in Pebayuran District, Bekasi, West Java Wisnu Wardana; Agung Adiputra
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3363

Abstract

This study aims to assess the community's resilience to flood disasters in Pebayuran District. A descriptive method with quantitative data was employed, measuring community resilience through various indicators. Data collection involved random surveys and interviews in the affected locations. The findings reveal that the community's knowledge of asset protection during floods scored 44 (moderate), while the robustness of disaster management structures scored 29 (low). The educational sector's commitment to flood knowledge was marked at 35 (moderate), flood alertness at 20 (low), flood disaster preparedness at 34 (moderate), post-flood household income sustainability strategies at 45 (moderate), knowledge of first aid during floods at 38 (moderate), and community or municipal disaster risk reduction plans at 41 (moderate). Villages with high resilience include Bantarjaya, Bantarsari, and Kertajaya, whereas those with moderate resilience are Karang Haur, Karang Segar, Karangharja, Karangjaya, Karangpatri, Karangreja, Kertasari, Sumber Sari, Sumber Urip, and Sumbereja. Despite most villages exhibiting moderate to high resilience, the overall resilience level of Pebayuran District remains low, primarily due to the absence of early flood warning systems. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat resiliensi masyarakat terhadap bencana banjir di Kecamatan Pebayuran. Metode yang digunakan adalah kuantitatif untuk mengukur resiliensi melalui berbagai indikator. Data dikumpulkan melalui survei dan wawancara acak di lokasi terdampak. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan perlindungan aset saat banjir berada pada skor 44 (sedang), struktur organisasi tangguh bencana pada skor 29 (rendah), komitmen pendidikan terhadap pengetahuan banjir skor 35 (sedang), kewaspadaan banjir skor 20 (rendah), kesiapsiagaan bencana banjir skor 34 (sedang), strategi keberlanjutan pendapatan pasca banjir skor 45 (sedang), pengetahuan pertolongan pertama saat banjir skor 38 (sedang), dan rencana penanggulangan risiko bencana oleh masyarakat skor 41 (sedang). Desa dengan resiliensi tinggi adalah Bantarjaya, Bantarsari, dan Kertajaya, sementara desa dengan resiliensi sedang meliputi Karang Haur, Karang Segar, Karangharja, Karangjaya, Karangpatri, Karangreja, Kertasari, Sumber Sari, Sumber Urip, dan Sumbereja. Meskipun mayoritas desa memiliki resiliensi sedang hingga tinggi, tingkat resiliensi keseluruhan Kecamatan Pebayuran masih rendah, terutama karena kurangnya fasilitas peringatan dini banjir.
Strategi Nafkah Komunitas Petani Garam dalam Menghadapi Variabilitas Iklim di Gampong Cebrek Kabupaten Pidie: Livelihood Strategies of the Salt Farmer Community in Facing Climate Variability in Cebrek Village, Pidie Regency Ibnu Phonna Nurdin; Khairulyadi Khairulyadi; Cut Lusi Chairunnisak; Dara Fatia
Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jsai.v4i3.3374

Abstract

Climate variability in coastal regions presents significant challenges for salt farmer communities in their daily activities. This article aims to describe the impact of climate variability on salt farmer communities, as well as the livelihood strategy patterns they adopt in response to this variability. The study was conducted in Gampong Cebrek, Simpang Tiga Subdistrict, Pidie District, using qualitative methods. Data were collected through in-depth interviews and observations of specifically chosen salt farming communities. The findings indicate that these communities face difficult situations due to climate variability, including issues like flooding of fields during the rainy season, salt production difficulties, and vulnerable settlements. Adaptations include storing salt production soil in huts, raising the floor levels of homes and salt huts, and cleaning water channels. These challenges have led farmers to adopt strategies such as land intensification and extensification, livelihood diversification, and migration. Although these strategies are effective, migration, in particular, has negative impacts like the loss of future generations of salt farmers. Therefore, government support is needed to help salt farmer communities face the challenges of climate variability. AbstrakVariabilitas iklim di wilayah pesisir menyajikan tantangan signifikan bagi komunitas petani garam dalam menjalankan aktivitas harian mereka. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan terkait paparan variabilitas iklim pada komunitas petani garam serta pola strategi nafkah petani garam dalam menghadapi variabilitas iklim tersebut. Studi ini dilakukan di Gampong Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi pada komunitas petani garam yang dipilih secara purposive. Temuan menunjukkan bahwa komunitas ini menghadapi situasi sulit akibat variabilitas iklim, dengan masalah seperti banjir di lahan saat musim hujan, kesulitan produksi garam, dan pemukiman yang rentan. Adaptasi yang dilakukan termasuk penyimpanan tanah produksi di pondok, peninggian lantai rumah dan pondok garam, serta pembersihan saluran air. Permasalahan ini mendorong petani mengembangkan strategi adaptasi, termasuk intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, diversifikasi nafkah, dan migrasi. Meskipun strategi ini efektif, migrasi menimbulkan dampak negatif berupa hilangnya regenerasi petani garam. Oleh karena itu, diperlukan dukungan pemerintah untuk membantu komunitas petani garam menghadapi tantangan variabilitas iklim.

Page 7 of 13 | Total Record : 123