cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 198 Documents
Gerakan Adaptasi Politik Komunitas Samin di Kudus Jawa Tengah Rosyid, Moh
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.12516

Abstract

The purpose of writing this paper is to description the form of political adaptation the Samin community in Kudus, Central Java at the married don’t written married in Civil Registry Service Office (Dukcapil) and don’t formal school. Data obtained by interview, literature review, and observation. The data was analyzed using a qualitative descriptive approach. Result, people non-Samin in Kudus City, formal school and married listed in Civil Registry Service Office (Dukcapil) stigmatization for people non-Samin. As a result, Samin community out from Samin. In order to continue to exist in Samin, two attempts were made by the Samin figure, (1) record mating and (2) have regular meetings about study teaching Samin. Local government Kudus positive respons attend the Samin marriage, make marriage certificate, and publish change ID-card colom, the first setrip (-) make indegeneous religion (penghayat).  Government Kudus have to explain married must be listed in Civil Registry Service Office in order to get married sertificate. If not, breaking married law and people administration.Abstrak: Artikel ini ditulis bertujuan mendedahkan adaptasi politik komunitas Samin di Kudus, Jawa Tengah atas peraturan negara bidang pencatatan perkawinan. Data didapatkan dengan observasi, kajian referensi, dan wawancara yang selanjutnya dianalisis dengan telaah kualitatif-deskriptif. Hasil riset, warga di Kudus ada yang masih mempertahankan Saminisme berupa tidak menyekolahkan anaknya di sekolah formal dan pernikahannya tak dicatatkan pada Dukcapil. Akibatnya menerima stigma dari warga non-Samin berdampak banyaknya warga Samin yang keluar dari Samin. Agar komunitas Samin eksis, upaya yang dilakukan tokoh Samin di Kudus (1) mencatatkan perkawinan warga Samin dengan diawali mendaftarkan komunitasnya berbadan hukum, dan (2) melakukan temu rutin warga Samin untuk mendalami ajaran Samin. Pemkab Kudus merespons positif upaya warga Samin dengan menghadiri perkawinan di rumah warga Samin ketika kawin perdana warga Samin dicatatkan, menerbitkan akta kawinnya, dan menerbitkan perubahan kolom agama warga Samin yang semula tertulis setrip (-) menjadi penghayat kepercayaan. Pemerintah Kabupaten Kudus harus melakukan upaya memberi pemahaman pada warga Samin bahwa tidak mencatatkan perkawinan adalah melanggar undang-undang Perkawinan dan Administrasi Kependudukan.
Rasionalitas Pangilang Saka dalam Aktivitas Usaha Gula Merah pada Masyarakat Nagari Bukik Batabuah Kabupaten Agam Jannah, Miftahul
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.13307

Abstract

This study discusses the rationality of pangilang saka in palm sugar business activities, including the work activities of pangilang saka and toke, the classification of pangilang saka, the production process to the packaging and distribution of palm sugar, and the rational considerations of pangilang saka. The research subjects were pangilang saka, who used to sell their brown sugar to the traditional market but now prefer to sell their brown sugar to toke. Toke was chosen based on their rational considerations. To obtain data, seven informants and three observers were taken. This number is considered to represent the others. The research used a qualitative research method with a descriptive approach that aims to describe the rationality of pangilang saka in brown sugar business activities. Data collection techniques were carried out by observation, in-depth interviews, document studies, and literature studies. The research findings show that pangilang saka in Nagari Bukik Batabuah have behaved rationally, which initially pangilang saka sold their brown sugar production to the traditional market, but now they sell their brown sugar production to toke. The selected toke also uses rational considerations, namely: choosing a toke based on the similarity of location; choosing a toke based on a mutually beneficial relationship; and choosing a toke based on a higher selling price.Abstrak: Kajian ini mendeskripsikan tentang rasionalitas pangilang saka dalam aktivitas usaha gula merah yang mencakup aktivitas kerja pangilang saka dan toke, klasifikasi pangilang saka, proses produksi hingga pengemasan dan distribusi gula merah, serta pertimbangan-pertimbangan rasional pangilang saka. Subjek penelitian adalah pangilang saka, di mana dulunya mereka menjual hasil produksi gula merah ke pasar tradisional kini lebih memilih menjual hasil produksi gula merah kepada toke. Toke dipilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasionalnya. Untuk mendapatkan data diambil tujuh informan pelaku dan tiga informan pengamat. Jumlah ini dianggap dapat mewakili yang lainnya. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskripstif yang bertujuan untuk mendeskripsikan tentang rasionalitas pangilang saka dalam aktivitas usaha gula merah. teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, studi dokumen, dan studi literatur. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pangilang saka di Nagari Bukik Batabuah sudah bersikap rasional, yang pada awalnya pangilang saka menjual hasil produksi gula merah ke pasar tradisional, namun sekarang sudah menjual hasil produksi gula merah ke toke. Toke yang dipilih juga menggunakan pertimbangan rasional, yaitu: memilih toke berdasarkan kesamaaan lokasi bermukim; memilih toke berdasarkan hubungan saling menguntungkan; dan memilih toke berdasarkan harga jual yang lebih tinggi.
Tradisi Berguru dalam Budaya Pernikahaan Adat Gayo Hamda, Erna Fitriani; Kintan TH, Sri; Lasri, Lasri; Al-Fairusy, Muhajir
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.12347

Abstract

Custom is a habit that cannot be separated from the daily life of humans or individuals who live in certain areas or tribes. One of the traditions developed in Gayo is the procedure for getting married, starting with studying before the bride is brought to the mosque or KUA to accept consent. Studying plays an important role in providing guidance to the bride and groom in building a sakinah, mawaddah wa rahmah household. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. This approach aims to find out and describe things found in the field. The research process was carried out by observing, interviewing and studying literature, in order to collect and analyze references related to the research problem. The results of this study indicate that berguru is the final momentum before the wedding event which is called berguru/ejer angry, namely giving advice to remind the values and principles of Islamic teachings to the prospective bride and groom. The most important subject matter includes matters of faith, worship and shariah as well as structured physical and spiritual needs. The Gayo Traditional Council is an autonomous institution and partner of the Regional Government in carrying out and administering traditional life. This is so that the culture or customs that exist in the Gayo community are always maintained and maintained and practiced in people's lives. The Gayo Traditional Council plays a role in maintaining this berguru custom.Abstrak: Adat merupakan kebiasaan yang tidak lepas dari keseharian manusia atau individu yang tinggal didaerah atau suku tertentu. Adat yang di kembangkan di Gayo salah satu dalam tata cara menikah adalah dimulai dengan berguru sebelum mempelai di bawa ke masjid atau KUA untuk mengijab qabul. Berguru sangat berperan penting dalam memberikan bimbingan kepada calon pengantin dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan tersebut bertujuan untuk mengetahui dan menjabarkan hal yang ditemukan di lapangan. Proses penelitian ini dilakukan dengan adanya observasi, wawancara dan studi kepustakaan, guna mengumpulkan serta menganalisis referensi-referensi yang berkaitan dengan masalah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berguru merupakan momentum terakhir menjelang acara pernikahan yang disebut berguru/ ejer marah yaitu memberi nasehat mengingatkan nilai dan prinsip ajaran Islam kepada calon mempelai laki-laki dan perempuan. Materi pelajaran yang paling penting antara lain mengenai akidah, ibadah dan syariah serta kebutuhan jasmani dan rohani secara terstruktur. Majelis Adat Gayo adalah lembaga otonom dan mitra Pemerintah Daerah dalam menjalankan dan menyelenggarakan kehidupan adat. Hal ini dimaksudkan agar budaya atau Adat Istiadat yang ada dalam masyarakat Gayo tetap selalu terpelihara dan terjaga serta dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. Majelis Adat Gayo berperan dalam mempertahankan adat berguru ini.
Harmonisasi Kehidupan Masyarakat Beragama pada Lingkungan Gated Community di Kelurahan Panggungharjo Yogyakarta Fitrianatsany, Fitrianatsany
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15986

Abstract

Living harmoniously in religious communities is crucial to fostering amicable relationships between different religious groups, especially in gated communities. A  gated community is a diverse group of people from different ethnicities, religions, and cultures living together. Gated communities offer comfortable, safe, and exclusive housing with security systems, such as a gate arrangement. They also provide public facilities like green open spaces and even a place of worship for residents. This study uses qualitative research methods to explore the development trends of gated communities and how religious life can harmonized within them. The results of this research show that millennials living in  gated community complexes view many communities as exclusive, and they do not find these gated communities appealing. However, they still live in harmony with the residents by smiling, greeting each other, being polite, and welcoming to everyone. Additionally, residents of these communities use public facilities for routine gatherings and social-religious activities to strengthen kinship and promote harmony between residents.Abstrak: Kehidupan masyarakat beragama yang harmonis menjadi kunci dalam sebuah kerukunan hidup antar umat beragama pada umumnya dan khususnya di lingkungan  gated community atau yang sering disebut sebagai komunitas berpagar.  gated community merupakan tempat bermukim masyarakat dengan beragam suku bangsa, agama dan juga budaya. Selain itu,  gated community juga menawarkan hunian yang nyaman dan aman serta ekslusif dengan menawarkan sistem keamanan seperti one gate system. Di dalamnya juga menawarkan fasilitas umum seperti ruang terbuka hijau dan bahkan tempat ibadah bagi para penghuninya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk melihat lebih dalam terkait dengan tren perkembangan  gated community dan harmonisasi kehidupan beragama masyarakat  gated community di Kelurahan Panggungharjo Yogyakarta. Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah kehidupan kaum milenial yang bermukim di kompleks  gated community atau perumahan yang notabene di konstruks oleh masyarakat luas sebagai masyarakat yang ekslusif dan individual ternyata tidak ditemukan di komunitas berpagar tersebut. Mereka justru menerapkan hidup rukun dengan para warga dengan saling senyum, sapa, sopan, ramah dan tamah kepada setiap orang. Selanjutnya warga hunian tersebut juga memanfaatkan fasilitas umum untuk perkumpulan rutin dan kegiatan sosial keagamaan yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan dan kerukunan antar warga.
Persepsi Masyarakat terhadap Upaya Penurunan Angka Stunting di Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Gianyar Dewi, Ni Putu Vita Karina; Kumbara, A. A. Ngr. Anom; Aliffiati, Aliffiati
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.11759

Abstract

Despite the availability of various healthcare facilities, Singakerta Village remains one of the ten villages in Gianyar Regency with a high prevalence of stunting. This research aims to describe the community's perceptions, behaviors, and actions taken in the prevention and reduction of stunting in Singakerta Village, Ubud District, Gianyar Regency. Employing a qualitative interpretive approach, this study utilizes ethnographic paradigm for data collection, including interviews, observations, literature review, and documentation. Informants for this research were selected purposively, based on specific criteria and relevance to the topic under investigation. Based on the findings, the prevalence of stunting in Singakerta Village has decreased between 2018 and 2020. The socio-cultural determinants, including beliefs, perceptions, and community actions, influence the prevention and reduction processes of stunting in Singakerta Village. Although it is not yet optimal, the community's perception of efforts to reduce stunting in Singakerta Village is relatively positive, as demonstrated by the synergy among primary sectors such as parental caregiving and family support, secondary sectors involving healthcare providers, as well as the government and other relevant stakeholders, all of which contribute to the reduction of stunting in Singakerta Village.Abstrak: Desa Singakerta merupakan salah satu wilayah yang secara administratif termasuk dalam Kecamatan Ubud di mana merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Bali. Walaupun terdapat berbagai fasilitas kesehatan yang tersedia, Desa Singakerta masih menjadi salah satu dari sepuluh desa di Kabupaten Gianyar yang memiliki angka stunting yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat meliputi kepercayaan, perilaku, dan tindakan yang dilakukan masyarakat dalam upaya pencegahan dan penurunan angka stunting di Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif interpretatif dengan metode etnografi dalam proses pengumpulan datanya, yaitu melalui wawancara, observasi, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini dipilih melalui teknik purposive yang telah ditentukan oleh peneliti sesuai kriteria dan kesesuaian terhadap topik yang dikaji. Berdasarkan hasil penelitian, kondisi stunting di Desa Singakerta mengalami penurunan terhitung sejak tahun 2018-2020. Determinan sosial budaya termasuk kepercayaan, persepsi, dan tindakan masyarakat mempengaruhi proses pencegahan dan penurunan angka stunting di Desa Singakerta. Walaupun belum optimal, persepsi masyarakat terhadap upaya penurunan stunting di Desa Singakerta cukup baik yang dapat dilihat dari sinergitas dari sektor primer seperti pola asuh orang tua dan keluarga, sektor sekunder seperti petugas dan pelayanan kesehatan serta pemerintah maupun pihak terkait lainnya yang mempengaruhi proses penurunan angka stunting di Desa Singakerta.
Transformasi Beut Gampong: Dari Sarana Komunikasi Menuju Gerakan Derma Arifin, Awaludin
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.16002

Abstract

The significance of why the Beut Gampong tradition still persists in the village of Paloh Lada lies in its multifaceted benefits. Specifically, Beut Gampong aims to impart religious knowledge to the community. Therefore, its activities are inseparable from religious rituals (Islam) such as Quranic recitation, studying classical Islamic texts (kitab kuning), reciting blessings upon the Prophet Muhammad (salawat), listening to lectures, and communal prayers. Additionally, Beut Gampong serves as a complex communication tool. Within it, residents discuss various topics to be used as discussion material that will be analyzed by the Tengku (spiritual leader). As a communication tool, Beut Gampong is closely related to instruments that connect the communicator (Tengku) with the congregation. Beut Gampong can be interpreted as a tradition of seeking religious knowledge initiated by both village residents and village institutions themselves. For residents who organize it, these religious gatherings are usually held in private halls, residents' homes, or in locations donated by individuals for public use. Meanwhile, gatherings organized by the village are typically held in the Meunasah or village hall. Moreover, this tradition still endures amidst the challenges posed by the increasingly massive use of communication media for acquiring religious knowledge. However, the role of communication media cannot entirely replace this tradition, considering the values embedded in the traditional communication mechanisms of the Beut tradition are irreplaceable. Among these values are those inherent in the Teungku (teacher), who influences the thoughts and decisions of the community.Abstrak: Salah satu asalan penting mengapa tradisi Beut Gampong masih bertahan di Desa Paloh Lada adalah kemanfaatannya yang tidak tunggal. Secara khusus, Beut Gampong bertujuan untuk membakali pengetahuan agama kepada masyarakat. Karenanya, kegiatan tersebut tidak terlepas dari ritual keagamaan (Islam) seperti membaca Al-Quran, mengkaji kitab Islam klasik (kitab kuning), shalawat, mendengar ceramah, dan bershalawat. Selain itu, Beut Gampong sebagai satu sarana komunikasi yang kompleks. di dalamnya, warga akan membicarakan banyak hal untuk dijadikan sebagai bahan diskusi yang akan dibedah oleh Tengku yang membimbing kegiatan. Sebagai sarana komunikasi, Beut Gampong sangat erat kaitannya dengan instrumen yang dapat menghubungkan antara komunikator (Tengku) dengan jamaah.  Beut Gampong dapat dimaknai sebagai trdisi menuntut ilmu agama yang diinisiasi oleh warga desa maupun institusi desa itu sendiri. Bagi warga desa yang menyelenggarakannya biasanya pengajian dilakukan di balai-balai milik pribadi, rumah warga juga di lokasi yang diwakafkan oleh seseorang untuk kepentingan umum. Sedangkan, pengajian yang diselenggarakan oleh desa biasanya diselenggarakan di Meunasah atau balai desa. Selain itu, tradisi ini masih bertahan di tengah tantangan media komunikasi yang semakin massif digunakan untuk mendapatkan pengalaman belajar ilmu agama. Hanya saja peranan media komunikasi tidak seutuhnya mampu menggantikan tradisi ini secara total mengingat nilai-nilai yang dikandung dalam mekanisme komunikasi tradisional pada tradisi beut tidak tergantikan. Diantaranya ialah nilai-nilai yang terkandung pada diri Teungku (pengajar) yang mempengaruhi pemikiran dan keputusan masyarakat.  
Hubungan Timbal Balik Filantropi dan Antropologi Hanifah, Hana
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.11423

Abstract

Philanthropic activity is one of the activities that humans have been doing for a long time. It contributes greatly to improving people's welfare, which makes the topic continue to grow. Thanks to the internet, philanthropy has become an icon of the intense dynamic process of social relations that increasingly prominent in today's technological life. Based on the development, this article aims to discuss how the anthropological perspective on philanthropy. With the literature review method, this study shows two things. First, the reciprocal relationship between anthropology and philanthropy that leads to the potentiality of philanthropy as additional project areas for anthropology. Second, the implication related to the urgency of Digital Anthropology to be increasingly considered by anthropologists today as a bridge in studying how people react and communicate with today's digital world.Abstrak: Kegiatan filantropi merupakan salah satu kegiatan yang telah dilakukan manusia sejak lama. Kegiatan ini memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sehingga topik ini terus berkembang. Berkat internet, filantropi telah menjadi ikon dari proses dinamis yang intens dalam hubungan sosial yang semakin menonjol dalam kehidupan teknologi saat ini. Berdasarkan perkembangan tersebut, artikel ini bertujuan untuk membahas perspektif antropologi tentang filantropi. Dengan metode tinjauan literatur, penelitian ini menunjukkan dua hal. Pertama, hubungan timbal balik antara antropologi dan filantropi yang mengarah pada potensi filantropi sebagai area proyek tambahan untuk antropologi. Kedua, implikasi terkait urgensi Antropologi Digital yang semakin perlu dipertimbangkan oleh ahli antropologi saat ini sebagai jembatan dalam mempelajari bagaimana orang bereaksi dan berkomunikasi dengan dunia digital.
Islamist Networks in Southeast Asia Abdul Rahman Puteh, Al Chaidar; Kamil, Ade Ikhsan
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15968

Abstract

Before we examine the Islamist networks in Southeast Asia, we need to clarify what we mean by Islamism and jihadism. These are two related but distinct concepts that often cause confusion and misunderstanding. Islamism is a political ideology that seeks to apply Islamic principles and values to public life. Jihadism is a militant strategy that uses violence and armed struggle to achieve Islamic goals. Islamism and jihadism are not synonymous, nor are they mutually exclusive. There are different types of Islamists and jihadists, and they do not always agree or cooperate with each other. We will also discuss some of the challenges and opportunities for dialogue and cooperation among Muslims and non-Muslims in the region, as well as the implications for regional and global security. The Islamist networks in Southeast Asia are diverse and complex, and they draw their inspiration and influence from various sources and categories of Islamist and jihadist ideologies.
Makna Budaya Bajapuik dalam Pernikahan Etnis Minangkabau di Kota Pariaman Sumatra Barat Anita, Nurul; Brata, Nugroho Trisnu
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.12718

Abstract

Bajapuik is a wedding tradition characteristic of the Pariaman area, West Sumatra. Bajapuik culture considers the obligation of women to give some money to men. The amount of japuik money women must prepare depends on the agreement between the parties. The purpose of this study was to analyze the meaning of bajapuik culture in community marriages in the city of Pariaman. The data collection technique in this study employs observation, interviews and documentation studies. In contrast, data analysis uses data reduction, presentation, and conclusion. The validity of the data uses triangulation. Bajapuik culture has undergone many changes, one of which is in the value of japuik money. Historically, moral values were prioritized when indigenous people implemented the bajapuik culture. Still, nowadays, economic values are prioritized due to the strengthening of modern culture and materialism culture. The meaning of the Bajapuik culture in the Pariaman area is as a form of appreciation for men. The japuik money given by the woman to the man, money can later use to finance the household with his wife. This study suggests that people outside the Pariaman area better understand the meaning of the bajapuik culture itself and do not assume that men in Pariaman city are "bought" but are japuik by custom. And there is no coercion at all to give the japuik money.Abstrak: Bajapuik adalah tradisi pernikahan yang menjadi ciri khas daerah Pariaman, Sumatra Barat. Budaya bajapuik dianggap sebagai kewajiban pihak perempuan untuk memberikan sejumlah uang kepada pihak laki-laki, jumlah uang japuik yang harus dipersiapkan oleh pihak perempuan tergantung pada kesepakatan antara kedua belah pihak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengalisis makna budaya bajapuik pada pernikahan masyarakat di kota Pariaman. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi, wawancara dan studi dokumentasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan cara triangulasi. Budaya bajapuik banyak mengalami perubahan salah satunya dalam nilai uang japuik. Pada zaman dahulu nilai moral yang lebih diutamakan apabila dilaksanakannya budaya bajapuik, namun pada zaman sekarang nilai ekonomis yang lebih diutamakan disebabkan oleh menguatnya budaya modern dan budaya materialisme. Makna dari adanya budaya bajapuik di daerah Pariaman adalah sebagai bentuk penghargaan kepada pihak laki-laki. Adanya uang japuik yang diberikan oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki nantinya dapat digunakan untuk membiayai rumah tangga bersama istrinya. Saran dalam penelitian ini yaitu agar masyarakat di luar daerah Pariaman lebih memahami lagi apa makna dari budaya bajapuik itu dan tidak beranggapan bahwa laki-laki di kota Pariaman itu “dibeli” melainkan di japuik dengan adat dan tidak ada paksaan sama sekali untuk memberikan uang japuik tersebut.
Pengetahuan Masyarakat Mengenai Peraturan Perilaku Membuang Sampah pada Masyarakat Belakang Balok Kota Bukit Tinggi Wirandi, Hazqi Shahib; Afrida, Afrida; Ermayanti, Ermayanti
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15624

Abstract

Waste problem that occurs in Bukittinggi City, namely the accumulation of garbage at several points that are not accordance with the schedule set by the Bukittinggi City government. Garbage accumulation was allegedly caused by people disposing garbage outside the schedule, according to one department head of Bukittinggi Government. This behaviour related to knowledge that community have to disposing their garbage and how this behaviour can affect the environment in which the community is located. The purpose of this research to describe how the community behaviour in disposing garbage, especially at people in Urban Village of Belakang Balok and how the influence on the environment. This research conducted using case study qualitative research method, with data collection techniques through observation, interviews, and documentation also informants selection using purposive sampling technique. This study find that the community knowledge related to regulations and methods of disposing of garbage are good. The behaviour of disposing garbage according to the schedule for the majority of the people at Urban Village of Belakang Balok are good. Furthermore, regarding the disposing garbage behaviour that not according to schedule, it was found that there were local and outside people that dispose their garbage outside schedule. The interactions carried out by individuals to their environment have several influences, such as the accumulation of garbage, and unpleasant odor from the piles of garbage. There are community efforts to protect the environment from this behaviour and influence such as cleaning by officers, community cooperation and reprimands or sanctions by related parties.Abstrak: Permasalahan sampah yang terjadi di Kota Bukittinggi yaitu penumpukan sampah di beberapa titik yang tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh pemerintah Kota Bukittinggi. Penumpukan sampah diduga disebabkan oleh masyarakat yang membuang sampah di luar jadwal, menurut salah satu kepala dinas Pemerintah Kota Bukittinggi. Perilaku ini berkaitan dengan pengetahuan masyarakat dalam membuang sampah dan bagaimana perilaku tersebut dapat mempengaruhi lingkungan dimana masyarakat tersebut berada. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan bagaimana perilaku masyarakat dalam membuang sampah khususnya pada masyarakat di Kelurahan Belakang Balok dan bagaimana pengaruhnya terhadap lingkungan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi serta pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menemukan bahwa pengetahuan masyarakat terkait peraturan dan cara membuang sampah sudah baik. Perilaku membuang sampah sesuai jadwal untuk sebagian besar masyarakat Kelurahan Belakang Balok sudah baik. Selanjutnya mengenai perilaku membuang sampah yang tidak sesuai jadwal, ternyata masih ditemukan adanya masyarakat setempat dan luar Kelurahan Belakang Balok yang membuang sampahnya di luar jadwal. Perilaku membuang sampah yang dilakukan individu tersebut terhadap lingkungan setempat mempunyai beberapa pengaruh, seperti penumpukan sampah, dan bau tidak sedap dari tumpukan sampah. Terdapat beberapa upaya masyarakat untuk menjaga lingkungan dari perilaku dan pengaruh tersebut seperti pembersihan oleh petugas, gotong royong masyarakat dan teguran maupun sanksi oleh pihak terkait.