cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 198 Documents
Film Miracle in Cell: Analisis Pesan Moral Melalui Pendekatan Semiotika Rolland Barthes Ayuni, Putri; Fitri, Dwi; Anismar, Anismar; Hasan, Kamaruddin
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i2.18287

Abstract

Mass communication is communication that involves the production and distribution of messages continuously (continuously) which are widespread so that they are accepted by individuals in society, based on existing technology and institutions. One of the mass communication forms of production and distribution that is most accepted by society is film. . Films are loved by all ages, in Indonesia films are currently experiencing quite rapid progress, one of which is the drama genre film, namely the film Miracle In Cell No.7. The film Miracle In Cell No.7 is a family film that contains many moral messages that can be used as life lessons for viewers, especially parents and children. Therefore, the focus of the research is to analyze the meaning of denotation, connotation and myth through the moral messages implied by the scenes, settings and characters presented in the film Miracle In Cell No.7. This research uses descriptive qualitative research. The object in this research is a scene that contains a moral message between children and their parents and the surrounding environment in the film Miracle in Cell 7. The results of this research can be concluded that in the film Miracle in Cell 7, which lasts 2 hours 25 minutes, using Indonesian, 12 scenes were found. there are 12 denotation sentences, 12 connotation sentences, 11 myth sentences and 12 moral message contents.Abstrak: Komunikasi massa adalah komunikasi yang melibatkan produksi dan distribusi pada pesan secara terus menerus (kontiniyu) yang bersifat meluas sehingga diterima oleh individu dalam masyarakat, berdasarkan teknologi dan lembaga yang ada, salah satu komunikasi massa yang bersifat produksi dan distribusi yang paling diterima oleh masyarakat adalah film. Film sangat banyak disukai oleh seluruh usia, di Indonesia saat ini film sedang mengalami kemajuan yang cukup pesat, salah satunya adalah film yang bergenre drama yaitu film Miracle In Cell No.7. film Miracle In Cell No.7 merupakan film keluarga yang terdapat banyak pesan moral yang bisa dijadikan pelajaran hidup bagi para penonton terutama bagi orang tua dan anak. Oleh sebab itu, fokus penelitiannya adalah menganalisis pemaknaan denotasi, konotasi dan mitos melalui pesan moral yang tersirat dari adegan, latar, serta tokoh yang disuguhkan dalam film Miracle In Cell No.7. Penelitian ini menggunakan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Objek dalam penelitian ini merupakan adegan atau Scene yang terdapat pesan moral anak dengan orang tua dan lingkungan sekitarnya film Miracle in Cell 7. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan pada film Miracle in Cell 7 yang berdurasi 2 jam 25 menit detik menggunakan bahasa Indonesia ditemukan 12 scene tersebut yang terdapat 12 kalimat denotatsi, 13 kalimat konotasi, 11 kalimat mitos dan 12 isi pesan moral.
Pengelolaan dan Pemanfaatan Sampah Rumah Tangga: Studi Kasus Bank Sampah Sakinah di Kelurahan Batu Gadang Yulia, Regina; Yunarti, Yunarti; Syahrizal, Syahrizal
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i2.17947

Abstract

This study describes the management and utilization of household waste in the Sakinah Waste Bank. Waste banks are present as an alternative in household waste management, expected to help overcome waste management problems and reduce the amount of waste in landfills. This research aims to look at the management of household waste in the Sakinah Waste Bank, as well as the utilization of household waste through the Sakinah Waste Bank in the Batu Gadang Village community. This research uses a qualitative method with a case study approach, then uses data collection techniques in the form of observation, interviews, literature study, and documentation. The selection of informants was carried out using purposive sampling technique, with a total of 15 informants, consisting of 10 key informants and five ordinary informants. The results showed that the management of household waste in the Sakinah Waste Bank, there is a change in the view of waste from dirty and useless items to items that can be reprocessed. through the Sakinah Waste Bank, the community is educated on how to manage plastic recycled waste so that it will produce economic value for the community, especially customers of the Sakinah Waste Bank. The existence of the Sakinah Waste Bank also makes changes in the community, starting from the view of waste, the habit of managing waste to the economic benefits felt by the community.Abstrak: Penelitian ini menjelaskan tentang pengelolaan dan pemanfaatan sampah rumah tangga di Bank Sampah Sakinah. Bank sampah hadir sebagai alternatif dalam pengelolaan sampah rumah tangga, diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan pengelolaan sampah dan berkurangnya jumlah sampah di tempat pembuangan akhir. Penelitian ini bertujuan melihat pengelolaan sampah rumah tangga pada Bank Sampah Sakinah, serta pemanfaatan sampah rumah tangga melalui Bank Sampah Sakinah di masyarakat Kelurahan Batu Gadang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, kemudian menggunakan teknik pengempulan data berupa observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, dengan total 15 informan, yang terdiri dari 10 informan kunci dan lima informan biasa. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengeloaan sampah rumah tangga di Bank Sampah Sakinah, adanya perubahan pandangan terhadap sampah yang awal yang barang kotor dan tidak berguna menjadi barang yang dapat diolah kembali. melalui Bank Sampah Sakinah masyarakat diedukasi mengenai cara pengelolaan sampah daur ulang plastik hingga nantinya menghasilkan nilai ekonomis bagi masyarakat khususnya nasabah Bank Sampah Sakinah. Keberadaan Bank Sampah Sakinah juga membuat perubahan yang ada dimasyarakat mulai dari pandangan mengenai sampah, kebiasaan mengelola sampah hingga manfaat ekonomis yang dirasakan masyarakat.
Konsep Pemasaran Brand Wisata Halal dalam Mewujudkan Industri Pariwisata Kelas Dunia di Kota Banda Aceh Rizal, Mukhsin; Saprijal, Saprijal; AS, Adnin; Syahroni, Faez; Jamali, Yusra
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i2.18274

Abstract

Halal tourism is a tourism activity that provides facilities and services in accordance with sharia principles, such as food, drinks, places of worship, accessories that meet halal standards. The purpose of this study was to determine the Marketing Concept of Halal Tourism Brands in Realizing a World-Class Tourism Industry in Banda Aceh City. The research method uses qualitative research, technical data collection observation, interviews and documentation. Data analysis techniques, data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of this study indicate that the marketing concept uses tourism activities, supported by various facilities and services that meet the provisions according to Islamic values, the Banda Aceh halal tourism marketing system carries out effective strategies to increase tourist visits and promote halal tourist destinations such as destinations, origins, time, promotional strategies, certification and standardization, management and improvement of facilities and infrastructure, and digital media. The advantages of Banda Aceh halal tourism can grow great tourism potential, implementation of halal tourism strategies, development of tourism based on Islamic law, attractive tourist destinations, national and international awards, community economic growth, halal certificates, and so on.Abstrak: Wisata halal merupakan suatu kegiatan pariwisata yang menyediakan fasilitas dan layanan yang sesuai dengan prinsip syariah, seperti makanan, minuman, tempat ibadah, asesoris memenuhi standar kehalalan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Konsep Pemasaran Brand Wisata Halal Dalam Mewujudkan Industri Pariwisata Kelas Dunia di Kota Banda Aceh. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif, teknis pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pemasaran menggunaakan kegiatan pariwisata, didukung oleh berbagai fasilitas dan layanan yang memenuhi ketentuan sesuai nilai-nilai islami, sistem pemasaran wisata halal Banda Aceh melakukan strategi yang efektif untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan mempromosikan destinasi wisata halal seperti destination, origin, time, strategi promosi, sertifikasi dan standarisasi, pengelolaan dan pembenahan sarana dan prasarana, dan media digital. Keunggulan wisata halal Banda Aceh dapat menumbuhkan potensi wisata yang besar, implementasi strategi wisata halal, pengembangan pariwisata berdasarkan syariat Islam, destinasi wisata yang menarik, penghargaan nasional dan internasional, pertumbuhan ekonomi masyarakat, sertifikat halal, dan sebagainya.
Persepsi Masyarakat Nagari Sungai Pinang terhadap Konservasi Hutan Mangrove Putri, Nadya Melati; Syahrizal, Syahrizal; Indrizal, Edi
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i2.18570

Abstract

In Nagari Sungai Pinang, Pesisir Selatan Regency, West Sumatra Province, from 2016 to 2021, there was a decline in both the extent and quality of Mangrove areas. In response to this, a conservation group was initiated by a local community member in 2016. This study aims to understand the perceptions of the Nagari Sungai Pinang community towards Mangrove forest conservation by examining their knowledge and utilization of mangroves. The researchers employed a qualitative case study method, utilizing data collection techniques such as observation, participant observation, in-depth interviews, literature review, and documentation. The results indicate that the utilization of Mangrove plants by the community in Nagari Sungai Pinang is minimal and involves personal, subsistence, and commercial use, leading to a low intensity of exploitation. Consequently, the efforts by the community to independently maintain the Mangrove forests are minimal. This also contributes to the community's lack of interest in participating in conservation activities, compounded by their limited knowledge and understanding of the role of Mangrove forests in protecting ecosystems. As a result, the community's perceptions are divided into two groups: those who support and those who are indifferent to Mangrove forest conservation in Nagari Sungai Pinang. These differing perceptions are related to their livelihoods, residential locations, knowledge of Mangrove functions, and daily interactions with mangroves.Abstrak: Di Nagari Sungai Pinang, Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat, tahun 2016 sampai dengan 2021 kondisi Mangrove mengalami penurunan luas dan kualitas. Menanggapi hal tersebut, muncul kelompok konservasi yang diinisiasi oleh salah satu anggota masyarakat pada tahun 2016. Penelitian ini dilakukan untuk memahami persepsi masyarakat Nagari Sungai Pinang terhadap konservasi hutan Mangrove melalui pengetahuan dan cara masyarakat dalam  memanfaatkan Mangrove. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, observasi partisipasi, wawancara mendalam, studi kepustakaan dan dokumentasi.  Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan tumbuhan Mangrove oleh masyarakat di Nagari Sungai Pinang secara pribadi, subsistensi dan komersial dengan jumlah yang sangat sedikit sehingga intensitas pemanfaatannya tidak tinggi. Oleh karena itu usaha dalam mempertahankan keberadaan hutan Mangrove secara mandiri oleh masyarakat sangat kecil. Hal ini juga menjadi alasan bagi masyarakat kurang tertarik dalam berpartisipasi pada setiap kegiatan konservasi yang melibatkan masyarakat di samping kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang fungsi hutan Mangrove dalam melindungi ekosistem. Sehingga persepsi yang terbentuk terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok masyarakat yang mendukung dan masyarakat yang abai terhadap konservasi hutan Mangrove di Nagari Sungai Pinang. Persepsi masyarakat yang berbeda-beda berkaitan dengan mata pencaharian, lokasi tempat tinggal, pengetahuan mereka terhadap fungsi Mangrove itu sendiri serta interaksi mereka dengan Mangrove dalam kehidupan sehari-hari.
Pola Kerja Perempuan Pencari Cacing Sutra Nasriyanti, Mega; Effendi, Nursyirwan; Setiawati, Sri
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.15799

Abstract

This study explores the lives of women who work as silk worm (Tubifex sp.) collectors in Batipuh Panjang Subdistrict, Padang City. Although this occupation is often viewed negatively by society due to its association with waste, dirt, and unsanitary conditions, for the women involved, it serves as a crucial source of household income. The research aims to describe both the socio-economic background of these workers and the daily work patterns they follow. A descriptive qualitative approach was employed, using literature review, participant observation, in-depth interviews, and documentation as data collection techniques. Informants were selected through purposive sampling, consisting of seven women collectors as key informants, and their family members and neighbors as supporting informants. The findings reveal that the main factors driving women to pursue this work include economic necessity, limited educational background, and social influence from their environment. Their work patterns typically involve balancing domestic responsibilities with river-based worm collection, followed by sorting, selling, and income management. The study highlights the dual and significant role of women in sustaining household economies, and illustrates how they adapt socially within the constraints of informal labor markets.Abstrak: Penelitian ini mengkaji kehidupan perempuan yang bekerja sebagai pencari cacing sutra di Kelurahan Batipuh Panjang, Kota Padang. Profesi ini kerap dipandang rendah oleh masyarakat karena berhubungan dengan limbah, sampah, dan lingkungan kerja yang dianggap kotor. Namun, bagi para perempuan yang menjalani pekerjaan ini, cacing sutra justru menjadi sumber penghidupan utama yang menopang ekonomi rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan latar belakang sosial ekonomi para pekerja serta pola kerja yang mereka jalani dalam keseharian. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka, observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan terdiri atas tujuh perempuan pencari cacing sutra sebagai informan kunci, serta anggota keluarga dan lingkungan sekitar sebagai informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan utama perempuan bekerja mencari cacing sutra adalah tekanan ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan, serta pengaruh sosial dari lingkungan sekitar. Pola kerja mereka umumnya melibatkan pembagian waktu antara aktivitas domestik dan pencarian cacing di sungai, serta pengelolaan hasil tangkapan untuk dijual dan diolah lebih lanjut. Temuan ini mengungkapkan bahwa perempuan memiliki peran ganda dan signifikan dalam ekonomi keluarga, serta menunjukkan bentuk adaptasi sosial dalam menghadapi keterbatasan peluang kerja di sektor formal.
The Qur'an as a Guide to Creating Harmony in Multicultural Societies Ma'wa, Izzatul; Yumna, Riqqotul; Ichwan, Moh. Nor
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.19171

Abstract

This study explores the role of harmony in multicultural societies and how the values contained in the Quran can contribute to creating a harmonious environment. The issues investigated include the challenges multicultural communities face, such as the potential for conflict and discrimination, and the importance of building respectful relationships among diverse cultural, religious, and ethnic backgrounds. The research design employs a qualitative approach with content analysis of relevant Quranic texts alongside in-depth interviews with community leaders and religious figures. The analysis results indicate that values of harmony, such as tolerance, mutual respect, and cooperation, are strongly emphasized in the Quran. The main findings also suggest that applying these values in daily life can reduce group tensions and foster positive collaboration. Additionally, communities that embrace the principles of harmony tend to be more socially and economically stable, attracting investment and creating job opportunities. In the author's interpretation, the significance of harmony in multicultural societies is not only relevant in the context of conflict avoidance but also as a key to sustainable development. The author concludes that by prioritizing Quranic values in social interactions, communities can create a safe and inclusive environment where every individual feels valued and can contribute positively. This research provides important insights for efforts to build stronger and more united communities in the era of globalization.Abstrak: Penelitian ini mengeksplorasi peran kerukunan dalam masyarakat multikultural dan bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur'an dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang harmonis. Isu yang diteliti meliputi tantangan yang dihadapi masyarakat multikultural, seperti potensi konflik dan diskriminasi, dan pentingnya membangun hubungan yang saling menghormati di antara berbagai latar belakang budaya, agama, dan etnis. Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis isi teks-teks Al-Qur'an yang relevan serta wawancara mendalam dengan para pemimpin masyarakat dan tokoh agama. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai-nilai kerukunan, seperti toleransi, saling menghormati, dan kerja sama, sangat ditekankan dalam Alquran. Temuan utama menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari dapat mengurangi ketegangan kelompok dan mendorong kolaborasi yang positif. Selain itu, masyarakat yang menganut prinsip-prinsip kerukunan cenderung lebih stabil secara sosial dan ekonomi, menarik investasi dan menciptakan lapangan pekerjaan. Menurut interpretasi penulis, pentingnya kerukunan dalam masyarakat multikultural tidak hanya relevan dalam konteks penghindaran konflik, tetapi juga sebagai kunci pembangunan berkelanjutan. Penulis menyimpulkan bahwa dengan mengedepankan nilai-nilai Qur'ani dalam interaksi sosial, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif di mana setiap individu merasa dihargai dan dapat berkontribusi secara positif. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi upaya membangun masyarakat yang lebih kuat dan bersatu di era globalisasi.
Masyarakat Adat dan Toba PULP Lestari: Pemetaan Aktor dan Analisis Konflik Agraria Alfian, Alfian; Kudussisara, Kudussisara; Maimunah, Nur Siti; Susana, Ida
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.20332

Abstract

This study examines the agricultural disputes involving the Batak Toba population in Pandumaan and Sipituhuta Village within the Pollung District of Humbang Hasundutan Regency, North Sumatra. The dispute occurs between the indigenous populations and PT. Toba Pulp Lestari, chiefly because the company's activities infringe upon the traditional territories of the local community. The research approaches involved collecting literature and pertinent sources to correctly represent actual happenings in the field. The research seeks to identify the principal participants in the conflict and examine its fundamental dynamics. Research reveals that the violence was caused by overlapping land claims between the Pandumaan-Sipituhuta indigenous community and PT. Toba Pulp Lestari. The problem is exacerbated by the government-sanctioned concession of property to the firm, which immediately overlaps with the territories historically inhabited by the indigenous population. The principal stakeholders in this dispute comprise the indigenous communities, the corporation, federal and local government agencies, security forces, NGOs, and the media, which significantly influences the reporting of these developments.Abstrak: Penelitian ini mengkaji konflik agraria di antara masyarakat Batak Toba yang berada di Desa Pandumaan dan Desa Sipituhuta, Kec Pollung, Kab Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Konflik antara masyarakat adat dan PT. Toba Pulp Lestari yang menjamah wilayah adat dari masyarakat adat tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan literatur dan bacaan terkait, guna memperoleh kejadian real di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan aktor yang terlibat dalam konflik dan juga menganalisis konflik yang terjadi. Hasil penelitian menyebutkan bahwa konflik yang terjadi dipicu oleh tumpang tindih penguasaan lahan oleh masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta dengan PT. PTL. Hal ini dikarenakan wilayah konsensi perusahaan yang diberikan kuasa oleh pemerintah bersinggungan dengan wilayah adat yang ditempati oleh masyarakat. Aktor yang terlibat dalam konflik ini antara lain adalah masyarakat adat, perusahaan, pemerintah pusat dan daerah, aparat keamanan, dan LSM, serta media sebagai pihak luar yang turut memberitakan konflik tersebut.
Ketiadaan Paguyuban dalam Sistem Manajemen Pedagang Kaki Lima di Jalan Karang Menjangan, Kota Surabaya Alaydrus, Sayf Muhammad
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.21292

Abstract

This study explores the informal management system of street vendors operating in Karang Menjangan Street, Surabaya. Using a qualitative descriptive approach, data were collected through in-depth interviews with three active vendors and analyzed thematically. The findings reveal that the street vendors do not form any official community or association, primarily because they experience minimal external pressure, particularly the absence of relocation threats from local authorities. Instead, informal arrangements”such as payments for cleanliness, security, and electricity to the neighborhood association”have served as a substitute for formal organization. Despite the lack of an official community, strong social solidarity and healthy economic competition are present among the vendors. Communication remains effective, mostly occurring face-to-face. However, the study also highlights the exclusion of new or unregistered vendors, indicating the emergence of ingroup-outgroup dynamics. This research contributes to urban anthropology by showing how informal social networks can substitute formal organization, while also raising concerns about inclusivity in urban informal economies.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem pengelolaan informal pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Karang Menjangan, Kota Surabaya. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tiga PKL aktif dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para PKL tidak memiliki paguyuban resmi, yang diduga disebabkan oleh minimnya konflik dengan aparat pemerintah, khususnya ancaman relokasi. Sebagai gantinya, pembayaran rutin untuk kebersihan, keamanan, dan listrik kepada pihak RT telah menjadi bentuk pengakuan informal atas keberadaan mereka. Meski tanpa paguyuban, solidaritas sosial tetap kuat dan kompetisi ekonomi berlangsung sehat. Namun, ditemukan adanya eksklusi terhadap pedagang baru yang belum terintegrasi secara sosial, menciptakan dinamika ingroup-outgroup. Temuan ini menunjukkan bahwa jaringan sosial lokal dapat menggantikan peran struktur formal, sekaligus menggarisbawahi pentingnya inklusivitas dalam ekonomi informal perkotaan.
Suku Polahi: Kelompok Marginal Warisan Kolonialisme di Pegunungan Gorontalo Pomalingo, Samsi; Yusuf, Indra Dewi Sery; Tangahu, Wirna
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.21318

Abstract

The Polahi tribe is one of the ethnic groups living in the Gorontalo Mountains of Indonesia and is a legacy of colonialism that has significantly impacted their social and cultural structure. This study analyzes the marginalization of the Polahi tribe in Gorontalo, rooted in Dutch colonial policies. This research employs a qualitative approach through anthropology with ethnographic methods. Data collection was conducted through participatory observation, in-depth interviews, and documentation. The data were analyzed thematically using data triangulation. The findings indicate that geographical isolation reinforces social disconnection, stigma, and stereotypes as a primitive group. Marginalization occurred due to the taxation system and forced labor, which compelled the Polahi tribe to isolate themselves in the Boliyohuto Mountains to avoid exploitation and abuse by the Dutch colonizers. Colonial policies that forced them to flee to the mountains created significant social disconnection, reinforcing their position as a marginalized group. This isolation not only affects their social and economic structures but also shapes a unique way of life that differs from the dominant society. The Polahi tribe continues to uphold their cultural practices and traditions, although they are often threatened by external pressures. Colonialism has created a social hierarchy that results in unequal access to resources and public services.Abstrak: Suku Polahi merupakan salah satu kelompok etnis yang hidup di Pegunungan Gorontalo, Indonesia, dan merupakan warisan dari kolonialisme yang membawa dampak signifikan terhadap struktur sosial dan budaya mereka. Penelitian ini menganalisis marginalisasi Suku Polahi di Gorontalo yang berakar pada kebijakan kolonial Belanda. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif melalui pendekatan antropologi dengan metode etnografi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi. Data dianilisi secara tematik menggunakan trianggulasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa isolasi geografis memperkuat keterputusan sosial, stigma, dan stereotip sebagai kelompok primitif. Marginalisasi terjadi karena sistem pajak dan kerja paksa yang memaksa suku polahi untuk mengisolasi diri di pegunungan Boliyohuto untuk menghindari eksploitasi dan penyiksaan oleh kolonial Belanda. Kebijakan kolonial yang memaksa mereka mengungsi ke pegunungan menciptakan keterputusan sosial yang signifikan, memperkuat posisi mereka sebagai kelompok marginal. Isolasi ini tidak hanya memengaruhi struktur sosial dan ekonomi mereka, tetapi juga membentuk pola kehidupan yang unik dan berbeda dari masyarakat dominan. Suku Polahi masih mempertahankan praktik budaya dan adat istiadat mereka, meskipun sering kali terancam oleh tekanan eksternal. Kolonialisme telah menciptakan hierarki sosial yang mengakibatkan ketidakadilan akses terhadap sumber daya dan layanan publik.
Model Eksplanatori Sawan Mayit dan Proses Pencarian Perawatan dalam Masyarakat Mayong, Jepara Romadhonia, Fadhila Nurul Laili; Husain, Fadly
Aceh Anthropological Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v9i1.21458

Abstract

Sawan mayit is a Javanese illness associated with death. This article aims to examine the explanatory model of sawan mayit and explore the care-seeking process by sawan mayit sufferers and family caregivers in Mayong, Jepara. The research method used was descriptive-qualitative with data collection techniques through documentation, participatory observation, and in-depth interviews. Data analysis included data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The exploratory model represents the local knowledge system of the Mayong community regarding sawan mayit through five conceptual frameworks, namely etiology, onset of symptoms, pathophysiology, course of illness, and treatment. The results of the analysis show that sawan mayit is understood and explained as a disorder of bodily functions after experiencing a series of death-related experiences. Common symptoms include fever, dizziness, weakness, sleep disturbances, and emotional disturbances such as fear and anxiety. The mechanism of sawan mayit is explained through the concept of medical syncretism, which combines biomedical concepts and traditional beliefs. Sawan mayit not only affect the physical and emotional aspects, but also affect the social aspects of the sufferer. There are dynamics in the process of seeking sawan mayit treatment, which uses three sectors of health care: the popular sector, the professional sector, and the traditional sector. The explanation and understanding of sawan mayit not only affect the labeling process of the illness, but also the care-seeking process.Abstrak: Sawan mayit adalah penyakit dalam kepercayaan masyarakat Jawa yang dikaitkan dengan peristiwa kematian. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji model eksplanatori masyarakat Mayong, Jepara mengenai sawan mayit serta mengeksplorasi proses pencarian perawatan oleh penderita sawan mayit. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi, observasi partisipatif, dan wawancara mendalam. Analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Model eksplanaori merepresentasikan sistem pengetahuan lokal masyarakat Mayong mengenai sawan mayit melalui lima kerangka konsep yaitu etiologi, gejala, patofisiologi, perjalanan penyakit, dan perawatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sawan mayit dipahami dan dijelaskan sebagai gangguan fungsi tubuh setelah mengalami serangkaian pengalaman berkaitan dengan kematian. Gejala umum meliputi demam, pusing, lemas, gangguan tidur, hingga gangguan emosional seperti ketakutan dan cemas. Adapun mekanisme terjadinya sawan mayit dijelaskan melalui konsep sinkretisme medis yang menggabungkan konsep biomedis dan kepercayaan tradisional. Sawan mayit tidak hanya berdampak pada aspek fisik dan emosional, tetapi juga memengaruhi aspek sosial penderitanya. Terdapat dinamika dalam proses pencarian perawatan sawan mayit yang menggunakan tiga sektor perawatan yaitu sektor populer, sektor profesional, dan sektor tradisional. Penjelasan dan pemahaman mengenai sawan mayit tidak hanya memengaruhi proses pemberian label terhadap penyakit, tetapi juga proses pencarian perawatan.