cover
Contact Name
Iromi Ilham
Contact Email
ajj.antro@unimal.ac.id
Phone
+6282349345557
Journal Mail Official
ajj.antro@unimal.ac.id
Editorial Address
Gedung Program Studi Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh. Kampus Bukit Indah Jln. Sumatera No.8, Kec. Muara Satu Kota Lhokseumawe, Prov. Aceh, Indonesia.
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Aceh Anthropological Journal
ISSN : 26145561     EISSN : 27460436     DOI : 10.29103
Aceh Anthropological Journal (AAJ) accepts the results of empirical research as well as a scientific view of theoretical conceptual using the Anthropological perspective of researchers, academics, and anyone interested in Anthropology studies. These journals apply peer-reviewed process in selecting high quality article. Author’s argument doesn’t need to be in line with editors. The main scope of the submitted article is ethnographic research / qualitative research on topics related to certain ethnic / community communities, arts and cultures of specific communities, cultures and belief systems, ecological studies and their relationships with cultures, belief systems and humanity in Indonesia, in Aceh. The critical review should be concerned with the literature relating to anthropological studies
Articles 198 Documents
Analisis Penyebab Tingginya Kasus Penyalahgunaan Narkoba di Kabupaten Aceh Utara Sukmawati, Cut; Murniati, Murniati; Yunanda, Rizki; Sakdiah, Sakdiah; Safrina, Safrina
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.11597

Abstract

The issue of drug abuse and illicit trafficking is increasing every year. North Aceh District of Aceh Province is one of the districts with a high number of drug abuse cases, as in 2018 there were 124 cases of drug abuse and in 2019 there were 96 cases. This article describes the reality of the causes of high drug abuse cases in North Aceh District. The study was conducted in North Aceh District, Aceh, Indonesia, using qualitative methods in the research process. Observation, interviews and document utilization were used to collect data on the causes of high drug abuse in North Aceh district. The data collected was then classified, arranged in patterns, organized, interpreted, given meaning and concluded. This study found that there are different views, from the North Aceh local government, which is still not fully committed to the implementation of P4GN facilitation so that there is still high drug abuse, from the BNNK and North Aceh Police. The causes of the high number of cases of drug abuse and illicit trafficking in North Aceh Regency are lack of public awareness, non-existent rehabilitation facilities, the number of drug entry points into North Aceh, the existence of individual factors that cannot say NO to drugs. The influence of environmental factors (family, school and socialization), and the absence of local regulations and P4GN Action Plans.Abstrak: Permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika setiap tahunnya semakin mengalami peningkatan. Kabupaten Aceh Utara  Provinsi Aceh merupakan salah satu Kabupaten dengan tingginya jumlah kasus penyalahgunaan narkotika, seperti halnya tahun 2018 ada 124 kasus penyalahgunaan narkoba dan pada tahun 2019 ada 96 kasus. Artikel ini mendeskripsikan realitas penyebab tingginya kasus penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Aceh Utara. Studi yang dilakukan di Kabupaten Aceh Utara, Aceh, Indonesia ini menggunakan metode kualitatif dalam proses penelitiannya. Observasi, wawancara (interview) dan pemanfaatan dokumen digunakan untuk mengumpulkan  data  tentang penyebab masih tingginya penyalahgunaan narkotika di kabupaten Aceh Utara. Data yang berhasil dikumpulkan kemudian diklasifikasikan, disusun dalam pola-pola, diorganisasikan, ditafsirkan, diberi makna dan kesimpulan. Penelitian ini menemukan bahwa ada perbedaan pandangan, dari Pemda Aceh Utara masih belum berkomitmen penuh untuk implementasi Fasilitasi P4GN sehingga masih tingginya penyalahgunaan narkoba, dari pihak BNNK dan Polres Aceh Utara. Penyebab masih tingginya kasus penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Kabupaten Aceh Utara yaitu kurangnya kesadaran masyarakat, fasilitasi rehabilitasi yang belum ada, banyaknya jalur masuk narkoba ke Aceh Utara, Adanya faktor individu yang tidak bisa berkata TIDAK pada narkoba. Adanya pengaruh faktor lingkungan (keluarga, sekolah dan pergaulan), dan belum adanya Peraturan daerah dan Rencana Aksi P4GN.
Membentuk Karakter Pemuda melalui Pencak Silat Sekinci-Kinci Suranti, Bibit; Karsiwan, Karsiwan
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15974

Abstract

The increasing tide of globalization penetrating Indonesia is having an impact on the erosion of the moral character of Indonesian youth. Globalization causes between nations in the world to no longer have a boundary wall, so that information, culture, and negative impacts from other countries easily enter Indonesia. The character of Indonesian youth, which should be based on Pancasila and the Constitution as the identity of the nation, has been replaced by characters that should not be such as hedonism, capitalism and individualism. Pencak silat is a typical Indonesian culture that can be used as a means of building the character of the nation's youth. Pencak Silat training, incorporating both spiritual and physical elements, aims to cultivate individuals with civility and good character. Qualitative research is applied to this research by utilizing a number of data sources from interviews, documentation, internet content, literature reviews, and observations. The results of this study can be concluded if the character of the youth can be formed through the practice of pencak silat sekinci-kinci based on art, martial arts, sports, brotherhood, and spiritual. Meanwhile, the characters that can be formed in young people are such as, love of the country, love of local culture, simple, confident, polite and polite. Harmonization of the concept of youth character building with the aim of pencak silat sekinci-kinci, namely; Maintaining kinship, solidarity, mutual love and nurturing within the framework of the unity of the Indonesian nation based on the teachings of Islam, Pancasila and the 1945 Constitution.Abstrak: Arus globalisasi yang semakin meningkat berdampak pada terkikisnya karakter moral yang dimiliki para pemuda Indonesia. Globalisasi menyebabkan antar bangsa di dunia tidak lagi memiliki dinding pembatas, sehingga informasi, budaya, serta dampak negatif dari negara lain mudah masuk ke Indonesia. Karakter pemuda Indonesia yang seharusnya berdasarkan Pancasila dan UUD sebagai identitas jati diri bangsa telah beralih dengan karakter yang tidak seharusnya seperti hedonisme, individualis, dan kapitalisme. Pencak silat ialah kebudayaan khas Indonesia yang dapat dijadikan sebagai sarana pembentukan karakter pemuda bangsa. Unsur rohani serta jasmani yang terkandung pada latihan pencak silat diharapkan dapat melahirkan individu yang beradab dan berkarakter baik. Penelitian kualitatif diterapkan pada penelitian ini dengan memanfaatkan sejumlah sumber data dari hasil wawancara, dokumentasi, konten internet, tinjauan pustaka, serta observasi. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan jika karakter para pemuda bisa dibentuk melalui latihan Pencak Silat Sekinci-kinci berdasarkan pada kesenian, bela diri, olahraga, persaudaraan, serta spiritual. Sementara karakter yang dapat terbentuk di dalam diri pemuda yakni seperti, cinta tanah air, cinta kebudayaan lokal, sederhana, percaya diri, sopan dan santun. Harmonisasi konsep pembentukan karakter pemuda dengan tujuan Pencak Silat Sekinci-kinci yakni; menjaga kekeluargaan, kesetiakawanan, saling asah asih dan asuh dalam kerangka persatuan bangsa indonesia berdasarkan ajaran islam, pancasila dan UUD 1945. 
Pengetahuan Generasi Z tentang Penyakit Masuk Angin Perdana Putri, Shaumti Ramadhani; Harahap, Junardi
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.12452

Abstract

This study examines the knowledge that is understood by generation Z in Kelurahan Pondok Karya, Kecamatan Pondok Aren, South Tangerang City. This is something interesting because masuk angin, a disease with a folk-natural thinking concept and doesn't exist in modern medical science, actually can still be felt by generation Z whose stereotype is a generation that grew up with the internet and technology, making this urban settled generation more exposed to more information than previous generations. This study aims to find out how the knowledge of urban communities, especially Generation Z, regarding masuk angin. The research method used in this research is descriptive qualitative method with data collection techniques in the form of observation, interviews and literature studies. Interviews and field observations to determine the characteristics of informants were carried out in Pondok Jaya Bintaro housing. In-depth interviews were conducted with six youth IRPJ members who belong to the z generation at Perumahan Pondok Jaya Bintaro. The results of this study show an overview of Generation Z's knowledge about masuk angin including definitions, sources of knowledge, and ways to prevent and treat colds. The results of the study concluded that generation Z in Perumahan Pondok Jaya Bintaro saw masuk angin as a term to describe one or more early symptoms of various diseases.Abstrak: Penelitian ini mengkaji tentang pengetahuan yang dipahami oleh generasi Z di Kelurahan Pondok Karya, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan. Hal ini menjadi sesuatu yang menarik karena masuk angin, suatu penyakit yang konsepnya merupakan sebuah folknatural thinking dan tidak ada dalam ilmu medis modern, ternyata tetap dapat dirasakan oleh generasi Z yang stereotipnya adalah suatu generasi yang tumbuh bersama internet dan teknologi, menjadikan generasi ini lebih terpapar banyak informasi daripada generasi-generasi sebelumnya. Terlebih lagi, lokasi tempat tinggal yang berada di wilayah perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengetahuan masyarakat perkotaan khususnya generasi Z mengenai masuk angin. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan studi literatur.  Wawancara dan observasi lapangan untuk mengetahui karakteristik informan dilakukan di perumahan pondok jaya Bintaro. Wawancara mendalam dilakukan pada enam remaja anggota IRPJ yang termasuk dalam generasi z di perumahan pondok jaya Bintaro. Hasil dari penelitian ini menunjukkan gambaran pengetahuan generasi Z mengenai masuk angin termasuk definisi, sumber pengetahuan berasal, serta cara-cara pencegahan dan pengobatan masuk angin. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa generasi Z di perumahan pondok jaya melihat masuk angin sebagai suatu istilah untuk menggambarkan satu atau lebih gejala awal dari berbagai penyakit.  
Pengelolaan Objek Wisata Ie Suum dalam Peningkatan Daya Tarik Wisatawan Luar Daerah di Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar Saprijal, Saprijal; Bariah, Chairul; Syahroni, Faez
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.12699

Abstract

: Ie Suum Tourist attraction is one of the tourist attractions that has a unique and very strategic location in the village of Ie Suum, Mesjid Raya District, Aceh Besar Regency, which is surrounded by mountains and hills. This tourist attraction is also known as health tourism. Hence, it needs to be preserved and managed properly so that the local community can utilise tourism potential and tourists are interested in visiting tourist attractions on holidays. The purpose of this study was to determine the management of Ie Suum tourist attractions and the attraction of tourists outside the region. The method uses qualitative research, technical data collection observation, interviews and documentation. Data analysis techniques, data reduction, data presentation and conclusion drawing. The results showed that the management of Ie Suum tourist attraction emphasises the values of natural sustainability, namely making 3 hot spring pools for men, women and children, forming a management team of 6 people, collaborating with the village government and promoting through social media and print media. The attraction of Ie Suum tourist attraction, is the strategic location, beautiful scenery, guaranteed security, and the availability of a clean hot spring pool and open 24 hours from morning to night.Abstrak: Objek wisata Ie Suum merupakan salah satu objek wisata yang memiliki keunikan dan lokasi yang sangat strategis di desa Ie Suum, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, yang dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan. Objek wisata ini juga dikenal dengan sebutan wisata kesehatan. Oleh karena itu, perlu dilestarikan dan dikelola dengan baik agar masyarakat setempat dapat memanfaatkan potensi wisata dan wisatawan tertarik untuk berkunjung ke tempat wisata pada hari libur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan tempat wisata Ie Suum dan daya tarik wisatawan luar daerah. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif, teknis pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan objek wisata Ie Suum mengedepankan nilai-nilai kelestarian alam yaitu membuat 3 kolam pemandian air panas untuk pria, wanita dan anak-anak, membentuk tim pengelola yang terdiri dari 6 orang, melakukan kerjasama dengan pemerintah desa dan melakukan promosi melalui media sosial dan media cetak. Daya tarik dari objek wisata Ie Suum adalah lokasi yang strategis, pemandangan yang indah, keamanan yang terjamin, dan tersedianya kolam pemandian air panas yang bersih dan buka 24 jam dari pagi hingga malam hari.
Kehidupan Rumah Tangga Pasangan yang Menikah Dini di Desa Koto Tengah Nabila, Hanifah Putri; Setiawati, Sri; Yunarti, Yunarti
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i1.15801

Abstract

This research was motivated by early marriages that occurred in Koto Tengah Village. Early marriage in this study includes the age at which marriage is stated in the marriage law, the mental and physical readiness of the couple, as well as the domestic life of the couple who entered into the early marriage. The Marriage Law states that marriages can be carried out when they are aged 19 years and over, but in one of Koto Tengah Villages every year there are residents who marry under the age of 19 years. Based on this, this research aims to identify the factors that cause couples to marry early and analyze how socio-economic life occurs in the households of early married couples in Koto Tengah Village. This research uses a descriptive qualitative method, using data collection techniques in the form of observation, interviews, literature study and documentation. Meanwhile, the selection of informants was carried out using purposive sampling. This research uses the concepts of marriage, early marriage, family, household and socio-economics and Radclift Browm's functional structural theory. The results of this research explain that the factors that cause couples to marry early are factors community habits, factors MBA (marriage by accident), factors of parents economic condition, and factors quit or drop out of school. Socio-economic life in the households of early married couples is not running properly because they still live in the house of the woman's parents, meaning that in one house there is more than 1 household where their parents still help fulfill their daily needs..Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pernikahan dini yang terjadi di Desa Koto Tengah. Pernikahan dini dalam penelitian ini meliputi usia pernikahan yang tertera dalam undang-undang perkawinan, kesiapan mental dan fisik pasangan, serta kehidupan rumah tangga pasangan yang melangsungkan pernikahan dini tersebut. Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa pernikahan dapat dilakukan ketika sudah berusia 19 tahun ke atas, namun di salah satu Desa Koto Tengah setiap tahunnya terdapat warga yang menikah di bawah usia 19 tahun. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan pasangan menikah dini dan menganalisis bagaimana kehidupan sosial ekonomi yang terjadi pada rumah tangga pasangan yang menikah dini di Desa Koto Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Sementara itu, pemilihan informan dilakukan dengan menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan konsep pernikahan, pernikahan dini, keluarga, rumah tangga dan sosial ekonomi serta teori struktural fungsional Radclift Browm. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan pasangan menikah dini adalah faktor kebiasaan masyarakat, faktor MBA (marriage by accident), faktor kondisi ekonomi orang tua, dan faktor berhenti atau putus sekolah. Kehidupan sosial ekonomi dalam rumah tangga pasangan pernikahan dini tidak berjalan sebagaimana mestinya karena mereka masih tinggal di rumah orang tua pihak perempuan, artinya dalam satu rumah terdapat lebih dari 1 kepala keluarga yang mana orang tua mereka masih membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kearifan Lokal Raja Bondar dalam Sistem Pengairan Sawah pada Masyarakat Batak Toba Simangunsong, Indri Yollanda; Pasaribu, Payerli
Aceh Anthropological Journal Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v7i2.12013

Abstract

Raja bondar is the name given to farmers who manage the irrigation of rice fields in Partoruan Lumban Lobu. This article aims to describe the background of Raja bondar, the requirements for becoming a Raja bondar and the local wisdom practiced by Raja bondar. The research method used are descriptive qualitative. The data collection techniques used are observation, interviews, and documentation.  The results of this study show that Raja bondar are motivated by the physical conditions of the rice field environment, the distant location of water sources, the susceptibility of irrigation channels to damage, the varying sizes of farmers land and seasonal changes. The requirements to become a Raja bondar include owning rice fields, residing in partoruan lumban lobu village and being known as a diligent person. The local wisdom practiced by Raja bondar includes leading mutual cooperation or called mamampe bondar, determining the seeding time, providing irrigation water using bamboo pieces or sibulu-bulu, maintaining waterways or mangaligi aek, mediating conflict, and getting reward in the form of rice or money from farmers.Abstrak: Raja bondar merupakan sebutan bagi petani yang mengelola irigasi sawah di Desa Partoruan Lumban Lobu. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang adanya Raja bondar, syarat terpilihnya Raja bondar dan bentuk-bentuk kearifan lokal Raja bondar. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Raja bondar dilatar belakangi oleh keadaan fisik lingkungan persawahan yaitu sumber air yang jauh, jaringan irigasi yang rentan rusak, luas lahan petani yang berbeda serta perubahan musim. Syarat menjadi Raja bondar adalah memiliki sawah, bertempat tinggal di Desa Partoruan Lumban Lobu dan dikenal sebagai seorang yang rajin. Kearifan lokal yang dilakukan Raja bondar ialah memimpin gotong royong atau mamampe bondar, menentukan waktu membibit, membagi air menggunakan potongan bambu atau sibulu-bulu, pemeliharaan saluran air atau mangaligi bondar, menengahi konflik, dan mendapatkan imbalan berupa padi atau uang dari para petani.
Adaptasi Organisasi Dalam Menghadapi Kemajuan Teknologi di Era Digital Rofi', Muhammad Ahsanur; Adib, Mohammad
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i2.16718

Abstract

This research aims to analyse the adaptation efforts of the Culture Division Office in facing technological advances in the digital era. This research is analysed using Denison's organisational culture adaptation theory with three indices: creating change, customer focus, and organisational learning. This research method is descriptive qualitative with a case study approach. Data collection was conducted through interviews, observation, and documentation. Data analysis was carried out by collecting data, classifying, reducing, presenting data, and drawing conclusions. This research was conducted at the Office of the Culture Division of the Gresik Regency Disparekrafbudpora. The subjects of this research are the head of the culture division, young cultural advisor, language and literature analyst staff, and cultural heritage and museum analyst staff. The results of this study found that a) In terms of creating change, the cultural division office adapts by creating cultural heritage barcode innovations, utilising Instagram social media for promotional media, and utilising the OSS System; b) In terms of focusing on the community, the cultural division office adapts by utilising website platforms, social media, official numbers, and email as a means of receiving criticism and suggestions; dan c) In terms of organisational learning, the cultural division office adapts by creating a Virtual Museum, utilising the Zoom Platform, and implementing technical guidance programs.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya adaptasi Kantor Bidang Kebudayaan dalam menghadapi kemajuan teknologi di era digital. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori adaptasi budaya organisasi dari Denison, dengan tiga indeks yaitu menciptakan perubahan, fokus pada pelanggan, dan pembelajaran organisasi. Metode penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data, mengklasifisikasi, mereduksi, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Penelitian ini dilakukan di Kantor Bidang Kebudayaan Disparekrafbudpora Kabupaten Gresik. Subjek penelitian ini yaitu kepala bidang kebudayaan, pamong budaya ahli muda, staf analis bahasa dan sastra, dan staf analis cagar budaya dan museum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: a) Dalam hal menciptakan perubahan, kantor bidang kebudayaan beradaptasi dengan membuat inovasi barcode cagar budaya, memanfaatkan media sosial Instagram untuk media promosi, dan memanfaatkan Sistem OSS; b) Dalam hal berfokus pada masyarakat, kantor bidang kebudayaan beradaptasi dengan memanfaatkan platform website, media sosial, nomor dinas, dan email sebagai sarana untuk menerima kritik dan saran; c) Dalam hal pembelajaran organisasi, kantor bidang kebudayaan beradaptasi dengan menciptakan Museum Virtual, memanfaatkan Platform Zoom, dan melaksanakan program bimtek.
Makna Ornamen Pelaminan Meuracu Tunggang Baliak dalam Upacara Pernikahan Suku Aneuk Jamee Mastura, Gita; Rahmi, Reysa Dwi; Munis, Alfian; Fatia, Dara; Nurdin, Ibnu Phonna
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i2.19041

Abstract

The Aneuk Jamee tribe has unique customs, one of which is the use of a kasab altar in wedding ceremonies, known as pelaminan meuracu tunggang baliak*. Each shape, motif, and color on this altar carries specific symbolic meanings. This research aims to describe the motifs and meanings in the pelaminan meuracu tunggang baliak of the Aneuk Jamee tribe in Tapaktuan District. Using qualitative methods and a descriptive approach, the study applies symbolic interaction theory to analyze the altar's motifs and meanings. The findings reveal the following: (1) colorful fans represent the king, commander, intelligence, and cleverness; (2) kaniang symbolizes men's and women's tongues; (3) meuracu refers to three kings; (4) banta gadang conveys parental messages to the younger generation about carrying on tradition; (5) banta basusun represents four parties from eight family groups; (6) dalansi symbolizes life, likened to plants, which reflect the nature of human existence; (7) the pandak mattress features the dalimo motif and intricate root patterns; and (8) butun fruit symbolizes the kings umbrella. Other symbolic elements include daluang and ceurano (betel containers).Suku Aneuk Jamee memiliki berbagai adat istiadat yang unik, salah satunya yaitu menggunakan pelaminan kasab dalam upacara pernikahan yang diberi nama pelaminan meuracu tunggang baliak. Dalam pelaminan meuracu tunggang baliak ini setiap bentuk, motif dan warna tersebut mempunyai makna atau arti tersendiri. Penelitian ini memepunyai tujuan untuk mendeskripsikan motif dan makna dalam pelaminan meuracu tunggang baliak suku Aneuk Jamee di Kecamatan Tapaktuan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif, menggunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan data primer dan data sekunder. Penelitian ini memakai teori interaksi simbolik untuk menggambarkan motif dan makna dari pelaminan tersebut. Motif dan makna dari pelaminan meuracu tunggang baliak suku aneuk jamee di Kecamatan Tapaktuan adalah (1) kipas warna-warni yang memiliki makna raja, hulubalang, cerdik dan pandai; (2) kaniang/lidah-lidah yang bermakna lidah perempuan dan lidah laki-laki; (3) meuracu yang diinterpretasikan sebagai tiga raja; (4) banta gadang diartikan sebagai pesan orang tua untuk anak muda yang akan menjadi penerus adat dan kehidupan; (5) banta basusun dimaknai sebagai empat pihak delapan kaum yaitu saudara dari orang tua yang merupakan kakak atau adik laki-laki dari orang tua; (6) Dalansi mewakili simbol tentang kehidupan di dunia ini yang diibaratkan dengan tumbuh-tumbuhan yang mempunyai filosofi menyimpan makna tentang hakikat kehidupan manusia; (7) tilam pandak ini memakai motif dalimo utuh dan akar berjalin dua petak dan empat petak dari akar yang bergolak; (8) buah butun merupakan simbol dari payung raja. Selain itu juga terdapat properti seperti daluang dan ceurano (tempat sirih).
Senjata Kurambik Sebagai Atribut dalam Silat pada Sasaran Silek Tuo Siunyuik Marapi, Nagari Sungai Pua Ravika, Nadila; Yunarti, Yunarti; Arifin, Zainal
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i2.18407

Abstract

The kurambik weapon is an original Minangkabau handheld weapon, curved in shape on the blade and has a hollow handle and is used as a secret weapon in silat. The use and inheritance of kurambik weapons in West Sumatra is not much and not just anyone can use this weapon. Kurambik weapons are usually associated with the silek harimau genre in Minangkabau. However, data was obtained that there are also silek tuo genre that use and inherit kurambik weapons. The sasaran Silek Tuo Siunyuik Marapi in Sungai Pua Nagari, Agam Regency is an silek tuo genre that was found to use and pass on kurambik weapons and make them an attribute in silat. This study aims to describe what is the reason for using kurambik weapons and explain how the fighter's knowledge of kurambik weapons in the sasaran Silek Tuo Siunyuik Marapi in Nagari Sungai Pua. This qualitative research uses descriptive analysis with observation, interview, literature study, and documentation methods. Informants were selected purposively, consisting of actors and observers of kurambik weapons. The results showed that there are two reasons for the use of kurambik weapons in the sasaran Silek Tuo Siunyuik Marapi. The first reason is because the kurambik weapon is a legacy and the second reason is because the kurambik weapon is an identity. The fighter's knowledge of the form, function, value and use of kurambik weapons is knowledge or understanding gained while learning to use kurambik at sasaran Silek Tuo Siunyuik Marapi. This knowledge is certainly connected to their behavior towards the kurambik weapon, one of which is shown through how carefully they use this weapon when practicing.Abstrak: Senjata kurambik merupakan suatu senjata genggam asli Minangkabau, berbentuk melengkung pada bilahnya dan memiliki gagang yang berlubang dan digunakan sebagai senjata rahasia dalam silat. Penggunaan dan pewarisan senjata kurambik di Sumatera Barat tidaklah banyak dan tidak sembarang orang pula yang bisa menggunakan senjata ini. Senjata kurambik biasanya selalu dikaitkan dengan aliran silat harimau di Minangkabau. Hanya saja, didapatkan data bahwa ada pula aliran silek tuo yang menggunakan dan mewariskan senjata kurambik. Sasaran Silek Tuo Siunyuik Marapi yang berada di Nagari Sungai Pua, Kabupaten Agam yang beraliran silek tuo yang ditemukan menggunakan dan mewariskan senjata kurambik dan menjadikannya atribut dalam silat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa yang menjadi alasan penggunaan senjata kurambik serta menjelaskan bagaimana pengetahuan pesilat tentang senjata kurambik pada sasaran Silek Tuo Siunyuik Marapi di Nagari Sungai Pua. Penelitian kualitatif ini menggunakan analisis deskriptif dengan metode observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan dokumentasi. Informan dipilih secara sengaja, terdiri dari pelaku dan pengamat senjata kurambik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua hal yang menjadi alasan penggunaan senjata kurambik pada sasaran Silek Tuo Siunyuik Marapi. Alasan pertama adalah karena senjata kurambik sebagai warisan dan alasan kedua yaitu karena senjata kurambik sebagai identitas. Pengetahuan pesilat terhadap bentuk, fungsi, nilai dan cara penggunaan senjata kurambik merupakan pengetahuan atau pemahaman yang didapatkan selama belajar menggunakan kurambik di sasaran Silek Tuo Siunyuik Marapi. Pengetahuan ini tentunya terhubung pada perilaku mereka terhadap senjata kurambik, salah satunya ditunjukkan melalui bagaimana mereka begitu hati-hati menggunakan senjata ini ketika berlatih.
Ritual Larung Sesaji: Studi Etnografi Komunikasi pada Masyarakat Nelayan Kecamatan Puger Kabupaten Jember Maharani, Mutiara Ria Despita; Puspitasari, Phinky; Pramudia, Krisna Budi
Aceh Anthropological Journal Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v8i2.16459

Abstract

Larung Sesaji is a ritual communication that gives rise to social interactions between individuals and individuals, individuals and society, and individuals and the creator. This article aims to describe in depth the ethnography of Larung Sesaji ritual communication in the fishing community of Puger District, Jember Regency. This research uses qualitative research methods with an ethnographic approach. The data collection techniques are observation, interviews, and document study. The research results show that Larung Sesaji is considered a way to communicate by expressing gratitude to God Almighty. This tradition is seen by the fishing community as sacred which has religious values and togetherness among the fishing community as well as an effort to seek safety from various disasters.Abstrak: Larung Sesaji merupakan komunikasi ritual yang memunculkan interaksi sosial baik interaksi antar individu dengan individu, individu dengan masyarakat, dan individu dengan sang pencipta. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan secara mendalam etnografi komunikasi ritual Larung Sesaji pada masyarakat nelayan Kecamatan Puger Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Larung Sesaji dianggap sebagai cara untuk berkomunikasi dengan mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini dipandang oleh masyarakat nelayan sebagai keramat yang memiliki nilai keagamaan dan kebersamaan antar masyarakat nelayan serta upaya meminta keselamatan terhadap berbagai bencana.