cover
Contact Name
Acep Aripudin
Contact Email
staialfalah19@gmail.com
Phone
+6222-7948748
Journal Mail Official
staialfalah19@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kapten Sangun No.6, Panenjoan, Bandung, Jawa Barat 40395
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS)
ISSN : 00000000     EISSN : 27155374     DOI : -
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) menerima dan mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dengan tema kajian keislaman pendekatan sejarah, sosial, budaya, pendidikan, sains, politik dan ekonomi dan kajian Quran. AJIQS menerapkan sistem Double Blind Peer Review dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Falah Cicalengka Bandung dua kali terbit setiap tahunnya. Tujuan AJIQS untuk memfasilitasi dan mempublikasikan tulisan-tulisan ilmiah dalam bentuk artikel dari para peneliti dalam maupun luar negeri. Artikel dapat ditulis dalam bahasa Inggris, Indonesia atau Arab yang mengacu pada aturan penulisan yang dijadikan pijakan AJIQS.
Articles 115 Documents
Islamic Sermon at Islamic Boarding Schools in Developing Public Speaking Skills Faisal Arifin; Yaya Yaya; Zaini Hafidz
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 4, No 1 (2022): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research departs from extracurricular activities which are one of the activities in schools and non-formal educational institutions, which are oriented towards developing self-capacity, channeling the capacity of students' interests and talents. This extracurricular is an additional lesson outside of class hours, the purpose of this extracurricular activity is to increase the interests and talents of students. The purpose of this study was to find out how the concept of missionary activities, the implementation of missionary activities, and to find out what were the inhibiting and supporting factors of missionary activities at the Nurul Falah Bungbulang Islamic Boarding School. This study uses a qualitative approach with a descriptive method. To obtain the information and data needed in the study, the researchers used data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that the extracurricular activities of muballighin at the Nurul Falah Bungbulang Islamic boarding school had been going well, this activity was carried out on the basis of need with the intention that students had skills, courage, honesty and discipline, then this activity aimed to make students mentally strong and have the ability to speak in public. This extracurricular activity of the preacher is carried out every Sunday night alternately with other activities, all students who have registered as participants should attend and take part in these activities. The students who are selected as champions will be trained and fostered better, so that they can be used as participants in other activities outside the pesantren. The expertise gained from this missionary activity is that students have the ability to speak in public, students have the ability to communicate, and students have the ability to read situations and conditions around them. The inhibiting factors for these activities are the psychological factors of students such as fear, shame, and hesitation to appear in public, then ineffective time management, and the unpreparedness of students. While the supporting factors for these activities include the cohesiveness of the management, supporting facilities and infrastructure, and enthusiastic students. Thus, it can be ascertained that the extracurricular activities of the muballighin at the Nurul Falah Bungbulang Islamic boarding school have been going well. Keywords: Da'wah, Extracurricular, Muballighin, Islamic Boarding School. Abstrak Penelitian ini bertolak dari kegiatan ekstrakurikuler yang merupakan salah satu kegiatan di sekolah maupun di lembaga pendidikan non-formal, yang berorientasi untuk pengembangan kapasitas diri, penyaluran kapasitas minat dan bakat santri. Ekstrakurikuler ini merupakan pelajaran tambahan di luar jam pelajaran, tujuan kegiatan ekstrakurikuler ini adalah untuk meningkatkan minat dan bakat peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana konsep kegiatan muballighin, implementasi kegiatan muballighin, serta untuk mengetahui apa saja faktor penghambat dan faktor pendukung kegiatan muballighin di pesantren Nurul Falah bungbulang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Untuk memperoleh informasi dan data-data yang diperlukan dalam penelitian, maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan ektrakurikuler muballighin di pesantren Nurul Falah Bungbulang telah berjalan dengan baik, kegiatan ini dilaksanakan atas dasar kebutuhan dengan maksud agar santri memiliki keterampilan, keberanian, kejujuran dan kedisiplinan, kemudian kegiatan ini bertujuan agar santri memiliki mental yang kuat dan memiliki kemampuan berbicara didepan umum. Kegiatan ektrakurikuler muballighin ini dilaksanakan setiap malam minggu secara bergantian dengan kegiatan lain, seluruh santri yang telah terdaftar menjadi peserta hendaknya hadir dan mengikuti kegiatan tersebut. Santri yang terpilih menjadi juara akan dilatih dan dibina lebih baik, sehingga mereka bisa dijadikan peserta pada kegiatan lain diluar pesantren. Keahlian yang didapat dari kegiatan muballighin ini adalah santri memiliki kemampuan berbicara didepan umum, santri memiliki kemampuan berkomunikasi, serta santri memiliki kemampuan membaca situasi dan kondisi di sekitar. Faktor penghambat kegiatan tersebut adalah faktor psikologis santri seperti takut, malu, dan ragu untuk tampil didepan umum, kemudian manajemen waktu yang tidak efektif, dan ketidaksiapan santri. Sedangkan faktor pendukung kegiatan tersebut antara lain yaitu kekompakan pengurus, sarana dan prasarana yang mendukung, dan santri yang antusias. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kegiatan ekstrakurikuler muballighin di pesantren Nurul Falah Bungbulang telah berjalan dengan baik. Kata kunci: Dakwah, Ekstrakurikuler, Muballighin, Pesantren.
Religious Dialogue on Social Media: The Khilafah Issue Between Pluralist and Scripturalist Muslims Muhammad Kasim
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 4, No 1 (2022): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Great efforts have been exhausted to bring religion closer to the media (as opposed to bringing media closer to religion), or to break down the traditional boundaries between "religion" and "media". In light of these efforts and various studies, some have tried to point out the need to build new bridges between religion and the media. This effort has even led scholars to believe that in the "age of media", the secular is holy and the holy is secular. This effort is aimed at unifying the two important elements of contemporary human life, which historically can also be understood in the context of challenging the relationship between science and religion. In this paper, we classify various theories and approaches regarding the essence of media into three branches: functionalistic, essentialist, and hypothetical interactive. After a brief review of the ramifications of each theory's compatibility or incompatibility with media, religion, and religious teachings, it is shown that more fundamental steps must be taken to unify religion and media in the era known as "Global", "Religion", or "The Age of Religion". Media". Another section of this paper is devoted to the necessary distinction between media religion and mediated religion, emphasizing the main characteristics of religious media theory. Although the basic tenets of media essentialism have been accepted, religion, which is neither institutional ministry nor absolute personal experience, has the potential to be consistent with the exclusive nature of its media. The last section of this article points to the religious focus axis of the media hypothesis in which the elements of religion, culture, globalization, and media are balanced and stable. This is religious pluralism. Keywords: Religion, Interactive Dialogue Abstrak Upaya-upaya besar telah habis untuk mendekatkan agama ke media (sebaliknya daripada mendekatkan media dengan agama), atau mendobrak batas-batas tradisional antara "agama" dan "media". Mengingat upaya tersebut dan berbagai penelitian, beberapa telah mencoba untuk menunjukkan perlunya membangun jembatan baru antara agama dan media. Upaya ini bahkan membuat para sarjana percaya bahwa di "era media", sekuler itu suci dan yang suci itu sekuler. Upaya ini ditujukan untuk penyatuan dari dua elemen penting kehidupan manusia kontemporer, yang secara historis dapat juga dipahami dalam konteks menantang hubungan antara sains dan agama. Dalam tulisan ini, dilakukan klasifikasi berbagai teori dan pendekatan tentang esensi media dalam tiga cabang: fungsionalistik, esensialis, dan interaktif hipotesis. Setelah tinjauan singkat tentang konsekuensi dari kompatibilitas masing-masing teori atau ketidaksesuaian dengan media, agama, dan ajaran agama, ditunjukkan bahwa lebih langkah mendasar harus diambil untuk menggabungkan agama dan media di era yang dikenal sebagai ”Global”, ”Agama”, atau ”Zaman Media”. Bagian lain dari karya tulis ini dikhususkan untuk perbedaan yang diperlukan antara media agama dan agama yang dimediasi, menekankan karakteristik utama teori media religi. Meskipun prinsip dasar media esensialisme telah diterima, agama, yang bukan kementerian institusional maupun pengalaman pribadi yang mutlak, memiliki potensi untuk konsisten dengan eksklusif sifat medianya. Bagian terakhir dari artikel ini menunjuk ke poros fokus agama hipotesis media di mana unsur-unsur agama, budaya, globalisasi, dan media seimbang dan stabil. Inilah pluralisme agama. Kata Kunci: Agama, Dialog Interaktif
Jihad: Meaning, Essence, and Contextualization of Revolutionary Experience Hadratussyaikh K.H. Hasyim Ash'ari Muhammad Taufiqurrohman; Aprilia Nur Islami; Muhaemin Muhaemin; Sri Nur Hasanah
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 4, No 2 (2022): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The term jihad has various meanings, not only connoting the meaning of "physical movement" and homogeneity. However, it can be meaningful according to the context of social and mental change, both evolution and revolution. The socio-political and ideological context therefore greatly influences the meaning of jihad which has implications for behavior and actions, such as its relationship with fighting for human rights and freedom. In this article, it is concluded that jihad (struggle) is one of the three important components according to Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy'ari. First, the momentum of the Netherlands and its status as a non-Muslim who wants to control Indonesia after declaring independence. Second, Hadratussyaikh's extensive mass mobilization structure, both official and unofficial. Third, framing dissatisfaction with the presence and policies of the Netherlands with the belief that maintaining independence is part of jihad fi sabilillah as well as a spirit of da'wah that is equivalent to revolution. Keywords: Da'wah, Social Change, jihad fi sabilillah, revolution Abstrak Istilah jihad memiliki makna beragam, bukan hanya berkonotasi makna “gerakan fisik” dan homogen. Namun, dapat bermakna sesuai konteks perubahan sosial maupun mental, baik evolusi maupun revolusi. Konteks sosio-politik maupun ideologi karenanya sangat mempengaruhi makna jihad yang berimplikasi pada perilaku dan tindakan, seperti hubungannya dengan memperjuangkan hak-hak asasi dan kemerdekaan manusia. Pada artikel ini, disimpulkan bahwa jihad (perjuangan) menjadi salah satu dari tiga komponen penting menurut Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari. Pertama, momentum Belanda dan statusnya sebagai non-muslim yang ingin menguasai Indonesia pasca memproklamasikan kemerdekaan. Kedua, struktur mobilisasi massa Hadratussyaikh yang luas, baik yang resmi maupun tidak resmi. Ketiga, framing ketidakpuasan terhadap kehadiran dan kebijakan Belanda dengan berkeyakinan bahwa mempertahankan kemerdekaan merupakan bagian dari jihad fi sabilillah sekaligus spirit dalam dakwah yang disetarakan dengan revolusi. Kata Kunci: Dakwah, Perubahan Sosial, jihad fi sabilillah, revolusi
Religious Relations on Social Media: Hadith Verification, Hoax News and Forward Quote of Religious Advice Beni Ahmad Saebani; Adib Gunawan
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 4, No 2 (2022): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nowadays there is a phenomenon, where there is news or chain reports circulating in the media whose truth is invalid. This invalidity can be in the form of content that is not in accordance with the original, whether in the form of what, where, when, and who was involved in the reporting. Not only that, sometimes the title seems to have bias in it. This is from the side of the news source. It doesn't stop there, in terms of people's behavior it also shows its own uniqueness, namely that they easily pass on the news without first checking and checking the truth of the news. Finally, the invalid news, which we call a hoax, spread very quickly via FB, Twitter, IG, WAG, etc. How Islamic caution first used to verify and convey news. Apart from that, we will also invite readers to see the method of practicing good and evil, preaching in accordance with the recommendations of religious scholars based on the Koran and Alhadist. The results obtained are that passing on religious content advice on social media is not as easy and simple as the intention to preach and preach good and evil, because in it there are religious boundaries that must be taken into account, including whether the religious content is valid or not, and the party giving advice has done so or not. Keywords: Hoax, Islam, social media Abstrak Dewasa ini ada fenomena, di mana ada berita atau kabar berantai yang beredar di media yang kebenarannya tidak sahih. Tidak sahih tersebut bisa dalam bentuk isi yang tidak sesuai dengan aslinya, baik berupa apa, di mana, kapan, dan siapa yang terlibat dalam pemberitaan tersebut. Tidak hanya itu, terkadang judul yang dibuat terkesan ada bias di dalamnya. Ini dari sisi sumber berita. Tidak berhenti di situ, dari sisi perilaku masyarakat juga memperlihatkan keunikan tersendiri, yaitu dengan mudahnya meneruskan berita tersebut tanpa terlebih dahulu memberikan cek dan ricek akan kebenaran berita tersebut. Akhirnya, berita yang tidak sahih tersebut yang kita sebut sebagai hoax tersebar begitu cepatnya menyebar via FB, twitter, IG, WAG, dan lain-lain. Bagaimana kehati-hatian Islam pertama dulu memverifikasi dan menyampaikan berita. Selain itu kami juga akan mengajak pembaca untuk melihat bagaimana metode dalam beramar ma’ruf nahi munkar, berdakwah yang sesuai dengan anjuran dari para alim ulama berdasarkan Alquran dan Alhadist. Diperoleh hasil bahwa meneruskan nasihat-nasihat konten agama dalam media sosial tidak semudah dan sesederhana dengan alasan niat untuk berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar, karena di dalamnya ada batas-batas agama yang harus diperhatikan, diantaranya adalah konten agama tersebut sahih atau tidak, dan pihak yang memberi nasihat sudah melakukan atau belum. Kata kunci: Hoaks, Islam, media sosial
Disorientation of Religious Sacred Values in Religious Content on Youtube Dadang Kuswana; Leon Rohendi
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 4, No 2 (2022): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Religious content on YouTube is increasingly popular and provides an opportunity for individuals and organizations to spread religious teachings and practices to a global audience. However, this platform has the potential risk of disorienting religious sacred values. This article aims to identify the factors that cause disorientation of religious sacred values in religious content on YouTube. A literature study with a qualitative approach was carried out to analyze the content of several religious contents selected purposively from YouTube. The article shows that commercialization, violence and extremism give rise to an attitude of indifference to the social and cultural context, and a lack of knowledge about religion (permissiveness) is the cause of disorientation and desacralization of religious values in religious content on YouTube. The role of producers who produce, consume and publish religious content is central in avoiding the production of religious content that has the potential to trigger conflict and tension between people of different religions. Keywords: value disorientation, religious sacredness, religious content, Youtube Abstrak Konten keagamaan di Youtube semakin populer dan memberikan kesempatan bagi individu dan organisasi untuk menyebarkan ajaran dan praktik keagamaan pada audiens global. Namun, platform itu memiliki potensi risiko terjadinya disorientasi nilai-nilai sakralitas agama. Artikel ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya disorientasi nilai-nilai sakralitas agama pada konten keagamaan di Youtube. Studi literatur dengan pendekatan kualitatif dilakukan guna menganalisis konten terhadap beberapa konten keagamaan yang dipilih secara purposive dari Youtube. Dalam artikel ditunjukkan bahwa komersialisasi, kekerasan dan ekstremisme menimbulkan sikap tidak peduli terhadap konteks sosial dan budaya, dan kurangnya pengetahuan tentang agama (permisif) menjadi sebab terjadinya disorientasi dan desakralisasi nilai-nilai agama pada konten keagamaan di Youtube. Peran produsen yang memproduksi, mengonsumsi, dan memublikasikan konten-konten agama menjadi sentral posisinya dalam menghindari produksi konten-konten agama yang berpotensi memicu konflik dan ketegangan antarumat berbeda agama. Kata kunci: disorientasi nilai, sakralitas agama, konten keagamaan, Youtube
Equality Between Muslims and Christians in Tolerant Inter-Religious Dialogue in Bekasi Acep Aripudin; Luthfi Riza Firdaus
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 4, No 2 (2022): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Equality Between Muslims and Christians in Tolerant Inter-Religious Dialogue in Bekasi Acep Aripudin Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Luthfi Riza Firdaus Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung Abstract Indonesian society is known as a plural, plural and heterogeneous society. This heterogeneity is manifested by the many ethnicities, cultures, religions, and customs. This pluralism places Indonesia as a conflict-prone society as well as a portrait of harmony between people of different religions. This article constructs the effectiveness of equality in dialogue between Islam and Christianity in realizing harmonious and equal relations between people of different religions through tolerant dialogue between Islam and Christianity. The practice of equality in this dialogue can be seen in the process of interaction and communication between Muslims and Christians in Kampung Sawah Bekasi in realizing a harmonious life despite different beliefs. Tolerant dialogue is carried out at moments of hospitality and religious events, such as sharing at Eid and Christmas events. Keywords: Equality, Islam, Christianity, Tolerant Dialogue Abstrak Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang plural, majemuk, dan heterogen. Heterogenitas tersebut berwujud dengan banyaknya etnis, budaya, agama, dan adat istiadat. Kemajemukan tersebut menempatkan Indonesia sebagai masyarakat yang rentan konflik sekaligus potret kehidupan harmoni antarumat berbeda agama. Artikel ini mengontruksi efektivitas kesetaraan dalam dialog di antara Islam dan Kristen dalam mewujudkan relasi antarumat berbeda agama yang harmoni, dan setara melalui dialog yang toleran antara Islam dan Kristen. Praktik equality dalam dialog tersebut nampak pada proses interaksi dan komunikasi antara umat Islam dan Kristen di Kampung Sawah Bekasi dalam mewujudkan kehidupan harmonis meskipun berbeda keyakinan. Dialog toleran dilakukan pada momen-momen silaturahmi dan event keagamaan, seperti saling berbagi pada acara Lebaran dan Natal. Kata Kunci: Equality, Islam, Kristen, Dialog Toleran
Religious Aggressiveness In Scales of Interfaith Communication Rifki Rosyad; Amin Rais Iskandar; Mamin Mamin
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol 4, No 2 (2022): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aggressive behavior (aggressiveness) often appears to trigger conflicts between religious communities. Conflicts occur that are triggered by aggressive attitudes in verbal and nonverbal forms. The response to uncontrolled verbal aggressiveness increases in the form of physical aggressiveness and/or nonverbal communication. This article aims to reveal and analyze how to control aggressive behavior in relationships between different religions between Muslims, Jews and Christians. Referring to the results of the review, it shows that one effective way to control aggressive behavior is through implementing inter-religious dialogue and giving punishment as a consequence of this aggressive attitude. The results of the analysis also show the importance of improving the image of religion from hostility, disputes and disputes that lead to conflict between people of different religions through a cross-cultural communication approach. Keywords: aggressiveness, religious conflict, interfaith communication Abstrak Perilaku agresif (agresivitas) seringkali muncul menjadi pemicu konflik antar umat beragama. Konflik terjadi muncul dipicu oleh sikap agresif dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Respon atas agresivitas verbal tersebut yang tidak terkontrol meningkat pada bentuk agresivitas fisik, dan atau komunikasi nonverbal. Artikel ini bertujuan mengungkap dan menganalisis bagaimana mengendalikan perilaku agresif dalam relasi kehidupan berbeda agama antara Islam, Yahudi, dan Kristen. Mengacu pada hasil review menunjukkan bahwa salah satu cara efektif dalam mengendalikan perilaku agresif melalui pelaksanaan dialog antarumat beragama serta memberi hukuman (punishment) sebagai konsekuensi sikap agresif tersebut. Hasil analisis juga menunjukkan pentingnya memperbaiki citra agama dari permusuhan, perselisihan dan pertikaian yang menjurus pada konflik antarumat berbeda agama melalui pendekatan komunikasi lintas budaya. Kata Kunci: agresivitas, konflik agama, komunikasi lintas agama
Halaqah: Media Komunikasi, Publikasi Eksistensi Hizbut TahrirIndonesia sebelum dan Pasca Pembubaran Aisyah, Siti
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 1 No. 1 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keputusan pemerintah membubarkan ormas keagamaan Islam HTI sempat diikuti debat dan tarik-menarik antara tuntutan masyarakat dan pertimbangan politik yang menimbulkan pro kontra di antara elemen masyarakat. Eksistensi gerakan kelompok Islam Pasca pembubaran HTI menjadi taruhan bagi keberlangsungan organisasi. Pembubarab HTI tidak menyurutkan organisasi keagamaan Islam ini surut mempublikasikan gagasan-gagasannya, terutama terkait konsep khilafah atau sistem pemerintahan Islam. Halaqah merupakan model cara paling intensif dan efektif memelihara dan menyebarkan gagasan HTI. Metode halaqah karenanya, menjadi sentral dalam proses distribusi dan pola komunikasi gagasan-gagasan HTI yang dilakukan secara intensif dan kontinu. Dalam praktinya, halaqah berisi penyampaian pesan keislaman, indoktrinasi dan bimbingan oleh syarif dan syarifah. Pembimbing tersebut merupakan penyambung lidah imam HT sekaligus guru ideology HT, yaitu an-Nabhani. Kata Kunci: HTI, halaqah, distribusi komunikasi dan indoktrinasi
Membangun Masyarakat ‘Gemeinschaft’ Islami Sebuah Wacana Yaya, Yaya
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 1 No. 1 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

’The model of gemeinschaft relationship, particulariy its main principle that is unity and solidarity, is a sort of emanation from inner belief of a Muslim. Islam itself commands any Muslim to avoid any kind of pragmatism and opportunism. From the very beginning Islam appeals Muslims to put aside all bad character such as egoísm, selfishness, and nepotism, and otherwise promote altruism, emphaty, and solidarity. This is because human beings cannot live in alienation from other people as they are social beings. They ought to complement each other in satisfying their needs for living. Islam therefore teaches Muslims some moral codes for social interrelationship: (1) brotherhood, (2) equity, (3) tolerance, (4) amr ma’ruf and   nahy munkar, (5) democracy,(6) justice, and (7) equilbrium. These Islamic principies is thought of to insure the so called baldatun thayyibatun wa rabbun ghafúr. Kata kunci: Da'wah of Hizbiyah, Islamic Gemeinschaft, Discourse   Abstrak Model hubungan gemeinschaft, khususnya prinsip utamanya yaitu persatuan dan solidaritas, adalah semacam emanasi dari keyakinan batin seorang Muslim. Islam sendiri memerintahkan setiap Muslim untuk menghindari segala bentuk pragmatisme dan oportunisme. Sejak awal, Islam meminta umat Muslim untuk mengesampingkan semua karakter buruk seperti egoisme, selfishness , dan nepotisme, dan sebaliknya mempromosikan altruisme, empati, dan solidaritas. Ini karena manusia tidak dapat hidup dalam keterasingan dari orang lain karena mereka adalah makhluk sosial. Mereka harus saling melengkapi dalam memuaskan kebutuhan hidup mereka. Karena itu, Islam mengajarkan kepada umat Islam beberapa kode moral untuk hubungan timbal balik sosial: (1) persaudaraan, (2) kesetaraan, (3) toleransi, (4) amr ma'ruf dan nahi munkar, (5) demokrasi, (6) keadilan, dan (7) ) keseimbangan. Prinsip-prinsip Islam ini dianggap untuk memastikan apa yang disebut baldatun thayyibatun wa rabbun ghafúr. Kata kunci: Dakwah Hizbiyah, Gemeinschaft Islami, Wacana
APLIKASI PENDIDIKAN KARAKTER PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Mulyana, Yana
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 1 No. 1 (2019): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research departs from a phenomenon that shows a shift in values ​​among students, brawls, free sex, drugs and other problems reflecting the failure of our education. Character Education is expected to be able to build life values ​​to be developed in one's personality, while PAI is a subject that not only delivers students to master various Islamic studies, but PAI emphasizes more on how students are able to master Islamic studies while practicing them in daily life day in the midst of society. The purpose of this study is to see the extent of the application of character education to PAI subjects, so that it is expected to be a model of character education in PAI subjects. This research uses descriptive analytical method with a qualitative approach, in this study there are four questions which include goals, programs, processes and evaluations, then in data collection in the reserch using three techniques, namely observation, interviews and documentation. This research found a number of things, namely the first most dominant character value applied at SMPN 3 Cisarua and became a characteristic is the cultivation of disciplinary values, so that discipline became the core of school culture, second, there were eight (8) character values ​​developed in SMPN 3 Cisarua in particular on PAI subjects namely religiousness, discipline, politeness, love of knowledge, curiosity, confidence, intelligence, responsibility spread through 13 activities Keywords: Character education, PAI, SMP   Abstrak Penelitian ini berangkat dari sebuah fenomena yang menunjukan telah terjadi pergeseran nilai dikalangan para pelajar, tawuran, seks bebas, narkoba dan masalah lainnya mencerminkan gagalnya pendidikan kita. Pendidikan Karakte diharapkan mampu membangun nilai-nilai kehidupan untukditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang, sedangkan PAI merupakan mata pelajaran yang tidak hanya mengantarkan peserta didik dapat menguasai berbagai kajian keislaman, tetapi PAI lebih menekankan bagaimana peserta didik mampu menguasai berbagai kajian keislaman sekaligus dapat mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari ditengah-tengah masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat sejauhmna aplikasi pendidikan karakter pada mata pelajaran PAI, sehingga diharapkan  bisa menjadi model pendidikan karakter pada  mata pelajaran PAI. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis dengan pendekatan kualitatif, didalam penelitian ini ada empat pertanyaan yang meliputi tujuan, program,proses serta evaluasi, selanjutnya dalam pengumpulan data pada penelitian  menggunakan tiga tekhnik yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menemukan beberapa hal, yaitu pertama nilai karakter yang paling dominan yang diterapkan di SMPN 3 Cisarua dan menjadi ciri khas adalah penanaman nilai kedisiplinan sehingga kedisiplinan menjadi core budaya sekolah, kedua, ada delapan  (8)  nilai karakter yang dikembangkan di SMPN Cisarua khususnya pada mata pelajaran PAI  yaitu  kerelijiusan, kedisiplinan,kesantunan,cinta ilmu,keingintahuan,percaya diri, kecerdasan, tanggung jawab yang tersebar melalui 13 kegiatan Kata Kunci: pendidikan Karakter, PAI, SMPN

Page 5 of 12 | Total Record : 115