cover
Contact Name
Sofyan Musyabiq Wijaya
Contact Email
obiqwijaya@gmail.com
Phone
+6281559678993
Journal Mail Official
jkunila@gmail.com
Editorial Address
Jl Prof.Dr.Soemantri Brojonegoro No 1 , Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung)
Published by Universitas Lampung
ISSN : 25273612     EISSN : 26146991     DOI : 10.23960/jku
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) is a journal of scientific publications published every six months using a peer review system for article selection. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) can receive original research articles relevant to medicine and health, meta-analysis , case reports and medical science update.
Articles 319 Documents
Peran Gut Microbiome (Disbiosis Usus) sebagai Faktor Risiko DM Tipe 2 pada Anak dan Remaja: Ayu Tiara Fitri, Shellya Puti Sudesty Ayu Tiara Fitri
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp128-134

Abstract

Kejadian Diabetes Melitus (DM) tipe 2 pada kelompok usia anak-anak dan remaja terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Selain faktor risiko seperti obesitas, pola hidup dan riwayat keluarga, penelitian terbaru secara konsisten mengarahkan perhatian pada ekosistem mikroorganisme usus atau gut microbiome sebagai bagian baru pada penyakit ini. Tinjauan literatur naratif ini disusun dengan tujuan mengkaji secara mendalam mengenai bagaimana kondisi dysbiosis usus berkontribusi sebagai faktor risiko DM tipe 2 pada anak dan remaja. Penelurusan dilakukan melalui PubMed, Scopus, dan Google Scholar, mencakup publikasi tahun 2017-2026. Berdasarkan telaan yang dilakukan terhadap artikel terpilih, disbiosis usus memiliki andil dalam pathogenesis DM tipe 2 melalui jalur molekuler yang saling berkaitan, antara lain penurunan [roduksi short chain fatty acids (SCFA) terutama butirat, endotoksemua metabolik yang disebabkan oleh transmigrasi lipopolisakarida (LPS) bakteri gram negative menuju sirkulasi sistemuk, peningkatan permeabilitas epitel usus (leaky gut) serta disregulasi metabolisme asam empedu melalui reseptor FXR dan TGR5. Pada kelompok usia ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang memperberat derajar dysbiosis, seperti perubahan hormonal pada masa pubertas, penggunaan antibiotic yang berulang dan pola makan tinggi gula tambahan dan lemak jenuh. Pemahaman terhadap hubungan antara disbiosis dab DM tipe 2 pada anak dan remaja memberikan perspektif baru dalam upaya deteksi dini dan pencegahan yang lebih terarah berbasis modulasi microbiome. Kata Kunci: Anak, diabetes melitus tipe 2, disbiosis usus, gut microbiome, remaja, resistensi insulin
Penggunaan Magnesium Sulfat Sebagai Tata Laksana Asma Eksaserbasi Berat: Adityo Wibowo adityo wibowo
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp135-140

Abstract

Eksaserbasi asma merupakan kondisi kegawatan respirasi yang ditandai oleh peningkatan inflamasi saluran napas, bronkokonstriksi, edema mukosa, dan hipersekresi mukus sehingga menyebabkan perburukan obstruksi aliran udara. Pada sebagian pasien yang tidak responsif terhadap terapi lini pertama (bronkodilator kerja cepat, kortikosteroid sistemik, oksigenasi, dan antikolinergik inhalasi), diperlukan terapi adjuvan untuk memperbaiki obstruksi saluran napas dan mencegah perburukan lebih lanjut. Magnesium sulfat intravena direkomendasikan pada Global Initiative for Asthma (GINA) 2026 sebagai terapi tambahan pada eksaserbasi asma derajat berat atau refrakter pasca terapi lini pertama. Magnesium berperan sebagai penghambat kontraksi otot polos bronkus dan memiliki efek modulasi inflamasi pada kondisi eksaserbasi asma. Penggunaan magnesium sulfat intravena sebagai terapi adjuvan yang efektif pada eksaserbasi asma derajat berat harus memperhatikan beberapa kondisi yang meliputi dosis, profil keamanan, efek samping, dan pemantauan pasca administrasi obat.
Association Between Age and Fibrinolytic Success in ST-Segment Elevation Myocardial Infarction Patients Treated with Streptokinase: Iswandi Darwis, Yahya Kemas Abdillah, Icmi Dian Rochmawati iswandi darwis
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp141-147

Abstract

Background: ST-Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI) is a cardiovascular emergency requiring immediate reperfusion therapy. Fibrinolytic therapy remains an important treatment option, particularly in healthcare facilities where access to primary Percutaneous Coronary Intervention (PCI) is limited. Advanced age has been associated with poorer prognosis in STEMI patients; however, the relationship between age and fibrinolytic success remains controversial. Objective: To analyze the association between age and fibrinolytic success among STEMI patients treated with streptokinase. Methods: This retrospective cross-sectional analytic study utilized medical record data from STEMI patients who received fibrinolytic therapy at Yukum Medical Centre Hospital between January 2024 and December 2025. Subjects were selected using a total sampling method. Patients were categorized into two age groups: <60 years and ≥60 years. Successful fibrinolysis was defined as a ≥50% resolution of ST-segment elevation within 60–90 minutes after fibrinolytic administration. The association between age and fibrinolytic success was analyzed using the Chi-square test, with a significance level of p<0.05. Results: A total of 98 patients met the inclusion criteria, with a mean age of 56.24 ± 11.68 years. Most participants were male (73.47%). Successful fibrinolysis was observed in 49 patients (50.0%). In the ≥60 years age group, successful fibrinolysis occurred in 16 patients (44.44%), whereas 33 patients (53.23%) in the <60 years group achieved successful fibrinolysis. Statistical analysis demonstrated no significant association between age and fibrinolytic success (PR=1.188; 95% CI: 0.800–1.763; p=0.402). Conclusion: There was no significant association between age and fibrinolytic success among STEMI patients treated with streptokinase. Reperfusion success is likely influenced more by other factors, including treatment delay, clinical characteristics, and coronary thrombotic burden. Keywords: ST-segment elevation myocardial infarction, STEMI, fibrinolysis, streptokinase, age.
Green Pharmacy dan Sustainability di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sistematis tentang Praktik, Tantangan, dan Arah Masa Depan: M. Aditya Permana M Aditya Permana
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp148-158

Abstract

Green Pharmacy merupakan pendekatan yang mengintegrasikan prinsip keberlanjutan lingkungan ke dalam praktik kefarmasian mencakup pengadaan, dispensing, hingga pembuangan obat. Tinjauan sistematis ini bertujuan memetakan bukti empiris Green Pharmacy di Indonesia periode 2016–2026. Pencarian dilakukan melalui Google Scholar dengan kata kunci green pharmacy, pharmaceutical waste, limbah farmasi, green hospital, dan sustainability dikombinasikan dengan Indonesia. Dari 800 rekaman yang diidentifikasi, 37 dieksklusi karena di luar rentang tahun, 675 dieksklusi pada skrining judul/abstrak, dan 60 dieksklusi setelah penilaian full text, sehingga 28 studi memenuhi kriteria inklusi. Studi mencakup manajemen limbah farmasi di rumah sakit dan Puskesmas (n=18, 64,3%), implementasi Green Hospital (n=6, 21,4%), literasi dan kebijakan Green Pharmacy (n=3, 10,7%), serta inovasi teknologi ramah lingkungan (n=1, 3,6%). Temuan utama menunjukkan kesenjangan antara regulasi dan implementasi manajemen limbah B3 farmasi, rendahnya kesadaran tenaga kesehatan terhadap pembuangan obat yang ramah lingkungan, keterbatasan infrastruktur pada fasilitas primer, dan kurangnya integrasi Green Pharmacy dalam kurikulum pendidikan. Rekomendasi strategis mencakup penguatan regulasi operasional, integrasi pembiayaan limbah ke dalam JKN, penguatan kurikulum farmasi berbasis keberlanjutan, dan edukasi publik tentang pembuangan obat.
Perspektif Stakeholder terhadap Kompetensi Dokter: Implikasi bagi Pengembangan Kurikulum Pendidikan Kedokteran: Rika Lisiswanti, Oktafany, Tri Umiana Soleha, Winda Trijayanthi Utama, Soraya Rahmanisa Rika Lisiswanti
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp159-166

Abstract

Latar Belakang: Analisis kebutuhan berbasis stakeholder merupakan langkah penting dalam pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan saat ini dan masa depan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi perspektif stakeholder mengenai kompetensi yang diperlukan oleh dokter serta implikasinya terhadap pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran. Metode: Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2025 dengan menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan metode Focus Group Discussion (FGD). Jumlah partisipan sebanyak 20 responden dibagi menjadi dua kelompok FGD. Partisipan terdiri atas stakeholder eksternal yang meliputi pengelola rumah sakit, dokter pendidik klinis, kepala puskesmas, perwakilan dinas kesehatan, pengelola program kesehatan, dan pengguna lulusan. Data dikumpulkan melalui FGD semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan pendekatan thematik. Hasil: Analisis menghasilkan lima tema utama kebutuhan pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran, yaitu: (1) Pembentukan identitas profesional yang mencakup etika, profesionalisme, karakter, motivasi, dan digital professionalism; (2) Soft Skills dan Komunikasi yang meliputi komunikasi dokter-pasien, komunikasi interprofesional, dan kolaborasi tim; (3) Kesiapan klinik dan penalaran klinis yang mencakup kesiapan praktik klinis, penalaran klinis, pengalaman klinis, dan supervisi; (4) Ilmu sistem kesehatan yang meliputi pemahaman sistem kesehatan, kebijakan kesehatan, regulasi janiman kesehatan, serta patient safety; dan (5) Kesehatan digital and literasi AI yang mencakup literasi kesehatan digital, pemanfaatan teknologi kesehatan, dan kompetensi kecerdasan buatan. Stakeholder juga menekankan pentingnya orientasi pelayanan kesehatan berbasis masyarakat serta kemampuan dalam menghadapi tantangan kesehatan di masa depan. Kesimpulan: Stakeholder mengharapkan kurikulum pendidikan kedokteran yang mampu menghasilkan dokter yang kompeten secara klinis, profesional dan beretika, komunikatif, memahami sistem kesehatan, berorientasi pada masyarakat, serta siap menghadapi transformasi digital.
The Potential of Modified Cassava Flour (MOCAF) as a Low Glycemic Index Functional Food for the Prevention and Management of Diabetes Mellitus: A Literature Review: Wiwi Febriani ,Ramadhana Komala Wiwi Febriani Febriani
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp167-172

Abstract

Diabetes mellitus is a chronic metabolic disease whose prevalence continues to increase and has become a major global public health challenge. Dietary management through the consumption of low-glycemic-index foods is considered an important strategy for the prevention and control of diabetes mellitus. Modified Cassava Flour (MOCAF) is a fermented cassava flour with improved physicochemical and functional properties compared to conventional cassava flour. This article aimed to review the potential of MOCAF as a low-glycemic-index functional food for the prevention and management of diabetes mellitus. The study employed a literature review approach by examining scientific publications related to MOCAF characteristics, glycemic index, resistant starch, and their associations with glucose metabolism. The findings indicate that MOCAF contains resistant starch and slowly digestible starch, which may reduce glycemic response, improve insulin sensitivity, and support blood glucose regulation. Furthermore, MOCAF has promising potential as a local food alternative to support food diversification and diabetes prevention programs. However, further clinical studies are required to strengthen the evidence regarding the effectiveness of MOCAF in diabetes management.
Infeksi Virus Dengue dan Keterlibatan Hati: Imunopatogenesis, Mekanisme Cedera Hepatik, dan Implikasi Klinis: Maya Ulfah Maya Ulfah
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp173-181

Abstract

Abstrak Infeksi virus dengue merupakan salah satu penyakit arboviral paling penting di dunia yang tidak hanya menyebabkan manifestasi sistemik, tetapi juga dapat menimbulkan keterlibatan hati dengan berbagai tingkat keparahan. Keterlibatan hati pada dengue mencakup spektrum yang luas, mulai dari peningkatan ringan kadar aminotransferase hingga hepatitis berat dan gagal hati akut yang berpotensi mengancam jiwa. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengevaluasi mekanisme patogenesis yang mendasari cedera hati akibat infeksi dengue serta implikasi klinisnya. Artikel ini mensintesis bukti ilmiah terkini mengenai epidemiologi, virologi, tropisme hati, respons imun bawaan dan adaptif, peran sitokin dan kemokin, apoptosis hepatosit, serta nilai diagnostik dan prognostik biomarker hati. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kerusakan hati pada dengue merupakan hasil interaksi kompleks antara replikasi virus, aktivasi sistem imun, disregulasi sitokin, disfungsi endotel, dan gangguan mikrosirkulasi. Hepatosit dan sel Kupffer berperan sebagai target utama yang berkontribusi terhadap perkembangan inflamasi dan cedera jaringan. Selain itu, mekanisme antibody-dependent enhancement (ADE), badai sitokin, dan sitotoksisitas sel T turut memperberat kerusakan hepatoseluler. Biomarker seperti aspartate aminotransferase (AST), alanine aminotransferase (ALT), albumin, bilirubin, dan parameter koagulasi memiliki potensi untuk mendukung deteksi dini serta stratifikasi risiko, meskipun nilai prediktifnya bervariasi antar populasi dan fase penyakit. Secara keseluruhan, keterlibatan hati merupakan komponen penting dalam patogenesis dengue yang berkaitan erat dengan keparahan penyakit dan luaran klinis. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai mekanisme biologis yang mendasarinya diperlukan untuk mendukung pengembangan biomarker yang lebih akurat dan strategi terapeutik yang lebih efektif.
Perkiraan Waktu Kematian Berdasarkan Lebam Mayat: Septia Eva Lusina, Ruben Ferdian, Faizah Zahrah Sidik, Zahra Ramadhani Fatwa, Adrina Rizka Rahmani Septia Eva Lusina; Ruben Ferdian; Faizah Zahrah Sidik; Zahra Ramadhani Fatwa; Adrina Rizka Rahmani
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp182-189

Abstract

Perikiraan waktu kematian atau postmortem interval (PMI) merupakan aspek kritis dalam kedokteran forensik. Lebam mayat (livor mortis) adalah perubahan pascamati dini yang dapat diobservasi lebih awal dibanding tanda-tanda lain dan memberikan informasi diagnostik yang bermakna dalam investigasi medikolegal. Tinjauan ini bertujuan mengkaji patofisiologi, stadium perkembangan, signifikansi forensik, faktor-faktor yang memengaruhi, serta perkembangan metode objektif dalam penilaian lebam mayat sebagai dasar estimasi PMI. Dilakukan tinjauan literatur naratif terhadap artikel ilmiah yang diterbitkan dalam rentang tahun 2022-2025 melalui basis data PubMed/MEDLINE dan Google Scholar. Lebam mayat berkembang melalui tiga stadium, yaitu awal (0-2 jam), konfluens (2-12 jam), dan fiksasi (>12 jam), dengan peran forensik meliputi estimasi PMI, deteksi perpindahan jenazah, dan penelusuran penyebab kematian melalui karakteristik warna. Metode spektrofotometri menggunakan Antera 3D terbukti mampu mengkuantifikasi kadar hemoglobin secara objektif dan menghasilkan formula matematis untuk estimasi PMI, termasuk pada individu berkulit gelap. Lebam mayat merupakan parameter tanatochronological yang bernilai namun tidak dapat berdiri sendiri; pendekatan multiparametrik yang mengintegrasikannya dengan tanda pascamati lain merupakan standar terbaik dalam estimasi PMI yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara medikolegal. Kata kunci: lebam mayat, livor mortis, postmortem interval, kedokteran forensik, spektrofotometri.
Perkiraan Waktu Kematian Berdasarkan Kaku Mayat: Septia Eva Lusina, Amanda Febby Febrina, Muhammad Fauzan Iqbal, Nabila Aulia Safitri Septia Eva Lusina; Amanda Febby Febrina; Nabila Aulia Safitri; Muhammad Fauzan Iqbal
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp190-197

Abstract

Perkiraan waktu kematian merupakan salah satu aspek penting dalam investigasi forensik untuk membantu rekonstruksi peristiwa kematian. Berbagai perubahan pascakematian dapat digunakan dalam perkiraan waktu kematian, salah satunya adalah kaku mayat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji metode perkiraan waktu kematian berdasarkan karakteristik kaku mayat serta faktor-faktor yang memengaruhi kemunculan dan hilangnya fenomena tersebut. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah berupa buku teks kedokteran forensik, artikel penelitian, dan publikasi akademik yang membahas kaku mayat sebagai indikator perkiraan waktu kematian. Hasil kajian menunjukkan bahwa kaku mayat terjadi akibat habisnya adenosin trifosfat (ATP) pada jaringan otot setelah kematian sehingga terbentuk ikatan permanen antara aktin dan miosin. Kaku mayat umumnya mulai muncul dalam 1–2 jam setelah kematian, berkembang sempurna dalam 6–12 jam, bertahan selama 12–24 jam, kemudian menghilang secara bertahap dalam 24–36 jam akibat proses autolisis dan pembusukan. Kemunculan dan hilangnya kaku mayat mengikuti pola kraniokaudal yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam memperkirakan waktu kematian. Namun, akurasi metode ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suhu lingkungan, usia, status gizi, aktivitas fisik sebelum kematian, serta penyebab kematian. Dengan demikian, penilaian kaku mayat sebaiknya dikombinasikan dengan tanda-tanda pascakematian lainnya untuk memperoleh perkiraan waktu kematian yang lebih akurat.