cover
Contact Name
Syamsuri
Contact Email
syamsuri@untirta.ac.id
Phone
+6281289613991
Journal Mail Official
tirtamath@untirta.ac.id
Editorial Address
Program Studi Magister Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Jl. Raya Jakarta KM 4 Pakupatan Kota Serang Provinsi Banten.
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Tirtamath : Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika
ISSN : 26859890     EISSN : 27209083     DOI : https://doi.org/10.48181/
Core Subject : Education,
TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika menerbitkan artikel ilmiah terkait penelitian bidang pengajaran dan pendidikan matematika. Pengajaran matematika mencakup penelitian tentang perencanaan, desain, proses dan evaluasi pembelajaran matematika baik di tingkatan sekolah dasar, menengah maupun tinggi. Jurnal ini mempublikasikan juga terkait kajian proses berpikir siswa dalam aspek kognitif dan afektif ketika belajar matematika. Selain itu, jurnal ini meliputi pula kajian tentang kurikulum pendidikan matematika.
Articles 88 Documents
KARAKTERISTIK SELF-EFFICACY GURU MATEMATIKA SMP DI KOTA SERANG Hafsah Hafsah; Syamsuri Syamsuri; Jaenudin Jaenudin
TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika Vol 2, No 1 (2020): TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48181/tirtamath.v2i1.8418

Abstract

Learning mathematics is inseparable from how mathematics is taught in educational institutions, but also the success of a teacher in teaching. This means that the teacher's role is very important to influence students' success in learning. In the learning process a teacher must have confidence (self-efficacy) in order to achieve learning goals. The teacher is a profession of a person who has the duty to educate, to teach, to guide, to assess and to evaluate students in the process of growth and development of students in order to achieve learning goals. Self-efficacy to the teacher is a teacher's self-confidence in his ability to organize and run learning programs so that the success of teaching assignments is specific to certain material contexts and can affect student performance. The purpose of this study was to describe the characteristics of the self-Efficacy of junior high school mathematics teachers in Serang City. This type of research is qualitative research. The subjects of the study were junior high school mathematics teachers in Serang City. Data collection techniques in this study used observation, interviews and documentation. The interview instrument was modified from the General Self-Efficacy (GSE) instrument which consisted of 10 question items. The data that has been obtained is then analyzed using the constant comparative method. The results showed that there were characteristics of the self-efficacy of mathematics teachers in Serang City which could be grouped into 2 groups is  constructive groups and normative groups. Constructive groups are teachers who have high self-efficacy. While normative groups are teachers who have moderate self-efficacy.
ANALISIS HASIL UJIAN NASIONAL MATEMATIKA BERDASARKAN STATUS SEKOLAH (NEGERI DAN SWASTA) DAN KOMPETENSI GURU TINGKAT SMP/MTs KOTA TANGERANG Rahmawati Intan Sopiany; Cecep Anwar Hadi Firdos Santosa; Yani Setiani
TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika Vol 1, No 1 (2019): Tirtamath: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48181/tirtamath.v1i1.6887

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya masyarakat yang beranggapan bahwa status sekolah merupakan sebuah hal yang harus dipertimbangkan pada saat pendaftaran sekolah hal, sehingga dibutuhkan informasi yang sesuai dengan fakta sebenarnya agar masyarakat dapat mengetahui dan mempertimbangkan pengaruh dari status sekolah juga aspek lain seperti kompetensi guru yang mengajar di sekolah tersebut. Untuk mengetahui informasi tersebut peneliti melakukan penelitian menggunakan sampel besar yang mewakili siswa kelas IX yang mengikuti ujian nasional tahun 2017/2018 di Kota dan menggunakan metode survei. Pengumpulan data menggunakan metode angket untuk mengetahui Self-Asessment kompetensi guru dan pengambilan data hasil ujian nasional matematika tahun 2017/2018. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa tidak terdapat pengaruh status sekolah terhadap hasil ujian nasional matematika dan terdapat pengaruh tingkat Self-Asessment kompetensi guru terhadap hasil ujian nasional matematika.
ANALISIS BUTIR SOAL KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DENGAN MENGGUNAKAN GRADED RESPONSE MODEL (GRM) Ariyanti, Davi; Ihsanudin, Ihsanudin; Khaerunnisa, Etika
TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika Vol 1, No 2 (2019): Tirtamath: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48181/tirtamath.v1i2.7326

Abstract

This research aims to analyze the items about mathematical problem solving ability using Graded Response Model (GRM). and obtain overview about mathematical problem solving ability. The main instrument in this study was the researcher ownself assisted with observation sheets, tests of mathematical problem solving abilities, and interview guidelines. The research subjects were student first grade of SMP Negeri 3 Cilegon with 28 people selected by one person in each category, namely very high, high, medium, low and very low. There are 4 steps to solving mathematical problem solving abilities used in this study, namely understanding the problem, devising a plan, carrying out the plan, and looking back. The results showed that 1) students who had very high mathematical problem solving abilities were able to do all stages, 2) students with high mathematical problem solving abilities were able to understand the problem, devising plan, and carrying out the plan, 3) students who have medium mathematical problem solving abilities were able to solve problems in the steps of understanding the problem and devising plan, 4) students with low problem solving abilities are only able to understand the problem, 5) students with very low mathematical problem solving abilities are unable to do anything.
ANALISIS BEBAN KOGNITIF SISWA PADA KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS DALAM POKOK BAHASAN PERBANDINGAN Avianti Permata Yuniar; Aan Hendrayana; Yani Setiani
TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika Vol 1, No 1 (2019): Tirtamath: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48181/tirtamath.v1i1.6873

Abstract

This study was aimed to know cognitive load that arise in students when show theirs mathematical problem solving ability to solve about comparison topic. This study used descriptive study methods because the issue raised is not yet clear, holistic, complex, dynamic and full of meaning, so that the data may not be captured by quantitative research methods. While the instrument used is the Test of problem solving ability with Polya’s steps, observation and interviews. The results of this study proved that the mathematical problem solving abilities are supported by their high germane cognitive load is high, whereas the intrinsic and extrinsic cognitive load is not too obtrusive.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS Amanatul Khaeroh; Nurul Anriani; Anwar Mutaqin
TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika Vol 2, No 1 (2020): TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48181/tirtamath.v2i1.8570

Abstract

Salah satu masalah utama dalam pembelajaran di kelas yang berimbas terhadap pemahaman menyelesaikan masalah matematis adalah kemampuan penalaran matematis yang masih rendah. Adapun tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis kemampuan penalaran matematis melalui model pembelajaran dan gaya belajar.  Alasan dari penelitian ini tentu dapat dijadikan salah satu acuan pembelajaran di sekolah untuk mewujudkan suasana lingkungan kelas yang kondusif sehingga antusiasme peserta didik dalam belajar matematika semakin meningkat. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental semu dengan desain Pretest-Postest Control Group Desain. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMKN Pertanian Kota Serang Propinsi Banten dan sampel dipilih secara purposive sampling sehingga diperoleh 2 kelas sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengumpulan data dilakukan melalui tes, tes berupa soal essay berindikator kemampuan penalaran matematis. Pretes diberikan sebagai tes awal sebelum penelitian ini berlangsung pada kedua kelas tersebut. Serta pada awal pembelajaran kedua kelas mengerjakan instrument gaya belajar dengan tujuan untuk mengklasifikasi peserta didik yang termasuk kelompok tahap visual, auditori atau kinestetikl. Sedangkan postes diberikan setelah akhir penelitian pada kedua kelas berupa soal yang sama dengan sebelumnya. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah: 1.  Terdapat pengaruh kemampuan penalaran matematis peserta didik  yang diberi model pembelajaran PBL lebih tinggi dari pada peserta didik yang diberi model pembelajaran ekspositori; (2) Terdapat perbedaan kemampuan penalaran matematis siswa berdasarkan gaya belajar; (3) . Tidak terdapat  interaksi antara model pembelajaran dan gaya belajar terhadap kemampuan penalaran matematis.
PERBANDINGAN MODEL DISCOVERY LEARNING DAN BLENDED LEARNING TERHADAP PENCAPAIAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS Irfan Septiyan; Nurul Anriani; Aan Hendrayana
TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika Vol 1, No 2 (2019): Tirtamath: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48181/tirtamath.v1i2.7110

Abstract

The purpose of this study is to examine theachievement of mathematical problem solving abilitiesbetween students who obtain learning with the discoverylearning model and students who obtain learning with theblended learning model. This research is a mixed methodresearch with concurrent embedded method. This studyconsisted of two experimental groups who learned bydiscovery learning and blended learning models. Theresearch population is students in one of the junior highschools in Serang Regency. Banten with a class VIIIresearch sample. Data analysis was performedquantitatively and qualitatively. Quantitative analysis isused to calculate differences in the achievement ofstudents' mathematical problem solving abilities, whilequalitative data analysis is used to strengthen the resultsof quantitative analysis. The results showed thepercentage of achievement of students' mathematicalproblem solving abilities that obtained learning with thediscovery learning model with students who obtainedlearning with the blended learning model in the mediumcategory. There was no significant difference in theachievement of mathematical problem solving abilitiesbetween the two experimental groups.
Analisis Kemampuan Pemahaman Matematis Dengan Memanfaatkan Aplikasi Microsoft Teaams di Masa Pandemi Covid-19 Laras Yulia; Maman Fathurrohman; Hepsi Nindiasari
TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika Vol 3, No 1 (2021): TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48181/tirtamath.v3i1.11134

Abstract

This study aimed to analyze and describe the seventh-grade junior high school students’ mathematical understanding ability on comparison material using Microsoft Teams application during the covid-19 pandemic. This study employed a qualitative descriptive. The sampling technique used was the purposive random sampling technique. Subjects of this research were 35 students of class VII F SMP Negeri 1 Cilegon. The results show that student’s mathematical understanding using Microsoft Teams application during the covid-19 pandemic ability is 68% at high level category and 32% at low level category. Microsoft Teams is highly recommended for online learning in time of this pandemic.
Perbedaan Persepsi dan Kemandirian Belajar Siswa SMA Terhadap Pembelajaran Daring Ditinjau Dari Gender Fery Fauzan; Maman Fathurrohman; Syamsuri Syamsuri
TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika Vol 2, No 2 (2020): TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48181/tirtamath.v2i2.8901

Abstract

In learning mathematics, students' affective abilities are also important to pay attention to in achieving learning goals. The affective ability referred to is the perception and independence of student learning. This study aims to obtain information: (1) knowing there are differences in perceptions between students in class XI and XII IPA on online learning (2) knowing that there are differences in perceptions between male students and female students regarding online learning (3) knowing there are differences in learning independence Between class XI and XII IPA students on online learning (4) there are differences in learning independence between male students and female students towards online learning. This research is a descriptive quantitative research. The research subjects were 231 respondents. Data collection using a questionnaire instrument to collect data on students' perceptions and learning independence. Based on the calculation results, the average percentage of students' perceptions of online learning was 38.44%. This means that almost half of students have a perception of learning mathematics using an online model. While the average percentage of students' learning independence was 46.96%. This means that almost half of the students are independent in learning mathematics. The results of the calculation of the Mann Whitney test show that (1) the significant value is 0.0055, so there is a difference in perceptions between class XI and XII IPA students on online learning (2) the Sig value is 0.095, so there is no difference in the perception of male students and female students towards online learning. (3) the Sig value is 0.095, so it can be concluded that there is no difference in independence between class XI and XII IPA students on online learning (4) the Sig value is 0.162, so there is no difference in independence between male students and female students on online learning
Analisis Kemandirian Belajar Matematika Pada Siswa Kelas IX SMPN 7 Kota Serang Ditinjau Berdasarkan Gender Ari Saprizal; Hepsi Nindiasari; Syamsuri Syamsuri
TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika Vol 3, No 1 (2021): TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48181/tirtamath.v3i1.8954

Abstract

Situasi kehidupan saat ini sudah semakin mengarah pada kehidupan dunia global. Kehidupan yang mengarah pada arus dunia global ini banyak membawa dampak negatif pada masyarakat yang belum siap menerimanya. Oleh karena itu, saat ini masyarakat perlu membentengi dirinya dengan memiliki sikap kemandirian. Seseorang yang mempunyai sikap kemandirian berarti orang tersebut mampu mengontrol dirinya sendiri, bertanggung jawab pada dirinya sendiri tanpa tergantung orang lain. Selain itu seseorang yang memiliki sikap kemandirian juga terlihat dari tindakan yang dilakukannya berdasarkan inisiatifnya sendiri karena dilandasi rasa kepercayaan diri yang dimilikinya. Sikap kemandirian ini sangat penting dimiliki oleh seseorang khususnya para remaja, hal ini dikarenakan para remaja merupakan kelompok yang paling rentan terbawa arus dunia global. Para remaja yang merupakan kelompok paling rentan terbawa arus dunia global, hal ini dikarenakan masa remaja adalah masa pencarian jati diri, oleh karena itu kemandirian seseorang sangat penting dibangun pada masa-masa ini.Kemandirian belajar merupakan salah satu unsur yang penting dalam pembelajaran. Kemandirian menekankan pada aktivitas siswa dalam belajar yang penuh tanggung jawab atas keberhasilan dalam belajar. Siswa yang memiliki kemandirian yang kuat tidak akan mudah menyerah. Sikap kemandirian dapat ditunjukkan dengan adanya kemampuan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tingkah laku. Dengan adanya perubahan tingkah laku maka siswa juga memiliki peningkatan dalam berfikir, menganggap bahwa dalam belajar harus bisa mandiri tanpa mengandalkan bantuan dari orang lain terus dan juga tidak menggantungkan belajar dari guru saja, tapi belajar juga bisa dari media cetak, elektronik, alam, atau yang lainnya. Mohammad Takdir Ilahi (2012 : 188), sikap mandiri akan membawa anak didik pada sebuah kesuksesan selama menempuh jenjang pendidikan. Di lembaga sekolah, mereka dilatih dan dibina secara mental dan fisik agar menjadi pribadi yang siap berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) pada masa depan dan tentunya diimbangi dengan bekal ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang dapat diandalkan untuk membuktikan bahwa anak didik tersebut memiliki potensi.Menurut Sugandi (2013) kemandirian belajar siswa merupakan hal yang turut menentukan berhasilnya pengimplementasian pembelajaran dan turut menentukan pencapaian hasil belajar, hal ini cukup beralasan karena pembelajaran yang menciptakan situasi pemecahan masalah sangat diperlukan kemandirian siswa dalam belajar. Ditambahkan pula menurut Isnaini, dkk (2018) kemandirian belajar adalah kondisi aktifitas belajar siswa yang mandiri tidak tergantung pada orang lain. Dengan kemandirian belajar siswa dapat menilai kemampuan diri sendiri akan memahami, menalar, dan mengerjakan suatu soal atau masalahPentingnya kemandirian belajar didukung oleh pendapat beberapa pengamat dan praktisi pendidikan. Kemandirian merupakan kemampuan seseorang yang meliputi mengolah informasi, memecahkan masalah, memotivasi dan membuat keputusan (Boekaerts, R. Pintrich, & Zeidner, 2000). Menurut Tandiling menyatakan bahwa kemandirian belajar siswa ikut menentukan keberhasilan belajar matematika siswa. Selain itu, menurut Tahar (2006) juga mengungkapkan bahwa kemandirian merupakan sikap yang mendorong siswa belajar dengan motivasi sendiri, kemampuan mengatur diri sendiri untuk menyelesaikan masalah dan mempertanggung-jawabkan hasil keputusannya. Sedangkan menurut  Yunita, Kohar, & Refnida (2007) kemandirian belajar dapat diasah dengan terlebih dahulu memahami pengetahuan tentang dirinya, subjek yang dipelajari, tugas, strategi belajar, dan penerapan subjek yang dipelajari. Kemandirian belajar yang baik mampu mempengaruhi hasil belajar ke arah yang lebih baik dari pada sebelumnya karena dorongan belajar berasal dari diri siswa.Menurut Sumarmo (2006: 5) dengan kemandirian, siswa cenderung belajar lebih baik, mampu memantau, mengevaluasi, dan mengatur belajarnya secara efektif, menghemat waktu secara efisien, akan mampu mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri dalam berfikir dan bertindak, serta tidak merasa bergantung pada orang lain secara emosional. Siswa yang mempunyai kemandirian belajar mampu menganalisis permasalahan yang kompleks, mampu bekerja secara individual maupun bekerja sama dengan kelompok, dan berani mengemukakan gagasan.Kemandirian belajar juga merupakan tugas pendidikan sebagaimana telah dijelaskan dalam UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasioanal pasal 3 yaitu pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk manusia Indonesia yang bermartabat dalam rangka 3 mencerdasakan kehidupan bangsa. Pendidikan juga bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, kreatif, menjadi warga Negara yang demokratis, bertangung jawab serta mandiri. Penjabaran fungsi pendidikan di atas menyatakan bahwa kemandirian siswa menjadi hal yang penting dan perlu dicapai dalam sebah proses pendidikan, aspek kemandirian yang menjadi tujuan pendidikan tentunya bukan saja kemandirian secara umum, namun juga kemandirian dalam belajar yang merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri.Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemandirian pada seseorang menurut Masrun yaitu: usia, jenis kelamin, konsep diri, pendidikan, keluarga, interaksi sosial. Bila ditinjau dari jenis kelamin, tentunya akan ditemukan perbedaan kemandirian antara laki-laki dan perempuan dilihat dari pandangan masyarakat laki-laki lebih mandiri dari perempuan. Perbedaan tersebut karena orang tua dalam meperlakukan anak laki-laki dalam kehidupan sehari-hari, lebih cenderung memberikan perlindungan yang besar terhadap anak perempuan daripada laki-laki, hal inilah yang menyebabkan timbulnya anggapan masyarakat bahwa anak laki-laki lebih mandiri daripada perempuan.Ciri-ciri yang mendasar pada laki-laki dan perempuan menurut Hurlock dalam Windi secara fisik perempuan dan lakilaki berbeda dalam beberapa segi diantaranya dalam segi biologis perempuan memiliki kemampuan untuk mengandung dan melahirkan anak, memiliki tulang pinggul yang lebih besar dan kadar kandungan lemak yang lebih tinggi daripada laki-laki sedangkan laki-laki memiliki tubuh yang lebih kekar dan dada yang bidang, tenaga yang kuat dan otot-otot yang lebih menonjol, Anak perempuan lebih dulu berkembang tetapi setelah menginjak masa remaja, laju pertumbuhan fisik tidak sebesar laki-laki. Laki -laki dan perempuan mempengaruhi perilaku sikap dan peranan yang berbeda di masyarakat seperti laki-laki lebih mandiri, kuat, agresif, dan mampu berkompetisi, tegas dan dominan sedangkan perempuan lebih bergantung, sensitif, keibuan serta bisa menekan dorongan agresif dan seksual kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari terlihat bahwa orang tua maupun masyarakat memperlakukan anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan. Perbedaan kemandirian remaja perempuan dan laki-laki tidak hanya didapatkan saat berada di sekolah, namun kemandirian juga bisa di latih di luar sekolah. Kemandirian disekolah berkaitan dengan peraturan yang ada di sekolah serta sistem pengajaran yang ada dapat memberikan perkembangan kemandirian kepada siswa.Menurut informasi yang diperoleh melalui wawancara dengan guru matematika kelas IX SMPN 7 Kota Serang siswa masih memiliki kemandirian belajar cukup rendah. Dijelaskan lebih lanjut siswa cenderung kurang inisiatif dalam belajar ketika menghadapi tugas-tugas baru yang ditugaskan oleh guru matematik. Tidak semua siswa bisa menuntaskan tugas yang diberikan, apalagi disaat kondisi pandemic ini belajar secara online  siswa dituntut untuk mandiri belajar dirumah. Adapun tugas-tugas yang dikerjakan belum diselesaikan dengan baik, beberapa tugas tidak terselesaikan pada umumnya, meskipun sudah ada panduan pengerjaan tugas yang berikan agar mudah dipahami. Dalam pembelajaran online seperti ini dalam pengumpulan tugas hanya 60% yang mengerjakan tepat waktu. Begitu juga saat pembelajaran online dengan media google meet hanya 60% saja siswa yang mengikuti. Saat pembelajaran hanya sedikit siswa yang bertanya tentang materi yang disampaikan oleh guru, namun saat diberikan tugas baru siswa merasa kesulitan mengerjakannya.  Oleh sebab itu peneliti akan melakukan tentang permasalahan kemandirian belajar matematik pada siswa kelas SMPN 7 Kota Serang jika dikaitkan berdasarkan gender.
Analisis Minat Belajar Siswa pada Pembelajaran Matematika Kelas Virtual di SMA Avianti Permata Yuniar; Syamsuri Syamsuri; Aan Hendrayana
TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika Vol 3, No 1 (2021): TIRTAMATH: Jurnal Penelitian dan Pengajaran Matematika
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48181/tirtamath.v3i1.11341

Abstract

This study aims to obtain information on students' interest in learning on virtual classes in mathematics at SMA Negeri 1 Cikande. This type of research is quantitative with the research method used is descriptive method. The data collection technique used was a questionnaire. The research instrument used was a scale questionnaire of interest in learning mathematics. The population in this study were all students of SMA Negeri 1 Cikande, while the sample was class XI as many as 4 classes and XII as many as 5 classes totaling 233 students from 9 classes. The results obtained from this study indicate that student interest in learning mathematics virtual classes on four indicators, namely; 37.77% of students felt happy, 42.49% of students were interested in learning, 42.06% of students were involved in learning, and 47.21% of students showed attention into the learning. These results indicate that the interest in learning mathematics in mathematics learning in virtual classes needs to be increased.