cover
Contact Name
Johan Winarni
Contact Email
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Phone
+6281314950038
Journal Mail Official
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Editorial Address
Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, RT.6/RW.5, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410 +62 21-7693262/7657156
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
ISSN : 25800795     EISSN : 27162648     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles 224 Documents
Lembaga Swadaya Masyarakat untuk Wanita dan Keaksaraan: Namtip Aksomkool. Ph.D') Pendahuluan 40 Solusi apa yang diupayakan? Namtip Aksornkool, Ph. D
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 1 (2012): April 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i1.221

Abstract

Pendahuluan Salah satu masalah dari sederet persoalan dibidang pendidikan yang masih menjadi "PR" bagi seluruh elemen bangsa adalah isu keaksaraan. Ditengah era globalisasi dengan segala kecanggihan teknologi yang semakin berkembang, tingkat ketunaaksaraan masih menduduki angka yang tinggi. Ketertingalan dan keterbelakangan atas ilmu pengetahuan menyebabkan masyarakat pada posisi tawar yang rendah dalam pergaulan ekonomi dan sosial. Penduduk buta aksara tidak dapat memberikan kontribusi secara optimal terhadap proses pembangunan di berbagai segmen kehidupan. Hak ini sebenarnya merupakan masalah krusial yang memerlukan perhatian dan penanganan serius, Pemberdayaan masyarakat adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Semua pihak harus menyadari bahwa peningkatan kapasitas dan kemampuan masyarakat harus dilakukan seiring antara harapan dan tujuan. Oleh karena itu, pengadaan LSM yang bergerak dalam bidang keaksaraan dipandang perlu untuk bekerjasama dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk menuntaskan masalah ketunaaksaraan sebagai langkah strategis untuk mencerdaskan dan mengentaskan bangsa dari keterpurukan. Karenanya, elaborasi ini akan berfokus pada urgensi pangadaan LSM untuk meningkatkan keaksaraan yang menjadi pengetahuan dasar (basic) dan prasyarat mutlak bagi seseorang untuk mengetahui dunia.
Penyediaan Dana dan Tenaga Ahli dari Masyarakat Cecilia V. Soriano'
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 1 (2012): April 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i1.223

Abstract

Hanya untuk memngingatkan sedikit prinsip dasar, perkenankan saya mengutip nilai inti Asia South Pacific Association for Adult and Basic Education (ASPBAE) berdasarkan mandat dalam Deklarasi Pendidikan untuk Semua (PUS) dan Kerangka Aksi Belem pada CONFINTEA VI. Prinsip tersebut adalah “Pemerintah harus mengedepankan penyediaan kesempatan bagi para pelajar orang dewasa untuk memerangi kemiskinan, melawan segala bentuk diskriminasi, membekali warga untukberpartisipasi aktif dalam pembangunan dan pemerintahan. Kami percaya bahwa ketika kerunaaksaraan dientaskan, masyarakat akan berdaya dan mampu bertahan dan mengubah kondisi mereka untuk membangun budaya perdamaian.“ Apakah ini hanya sebatas pemikiran yang berangan-angan? Kami percaya tidak. Kami berani mengatakan bahwa “pendidikan dan pembelajaran sepanjang hayat untuk semua, terutama keaksaraan untuk semua perempuan, dapat dicapai melalui kemauan politik dan sumber daya yang memadai yang diberikan dan dilaksanakan oleh pemerintah di Utara dan Selatan.” Ketika pemerintah mengatakan “Ya!” untuk keaksaraan perempuan, maka hal ini akan bermanifestasi pada kemauan politik yang sedang berjalan. Tapi kemauan politik seperti ini akan diuji oleh kebijakan konkrit dan tindakan nyata yang diambil baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Banyak perhatian telah difokuskan pada peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Ini merupakan sebuah tindakan terpuji. Memang, ketika pemerintah serius bekerja untuk meningkatkan akses ke pendidikan berkualitas di sekolah untuk anak perempuan dan anak laki-laki, ini sudah akan menyelesaikan setengah tantangan pendidikan. Sayangnya, akses ke program- program berkualitas untuk wanita dewasa yang tuna aksara (dan laki-laki) tidak memperoleh prioritas yang sama. Selama satu dekade terakhir, kami melihat program keaksaraan sering dijadikan proyek jangka pendek: sering tidak berkualitas karena tidak adanya pembelajaran dan bahan ajar, dan sebagian besar waktu tidak sensitif terhadap kebutuhan dan situasi perempuan. Dalam upaya untuk membantu pemerintah dan masyarakat memperoleh program keaksaraan yang berkualitas, Kampanye Global untuk Pendidikan (GCE) pada tahun 2005 melakukan survei global kepada para praktisi keaksaraan untuk mengetahui keaksaraan seperti apa yang efektif dan efisien. Melalui upaya ini, GCE mampu keluar dengan 16 benchmark keaksaraan, dua di antaranya aka saya bahasa dalam tulisan ini. Pertama, program keaksaraan yang berkualitas paling tidak memerlukan biaya 50 hingga 100 dollar AS per peserta didik per tahun selama setidaknya tiga tahun. Dua tahun adalah untuk belajar awal dan satu tahun lagi untuk memastikan adanya kesempatan untuk terus belajar. Untuk memastikan program keaksaraan sepenuhnya didanai dan berkualitas, pemerintah harus mendedikasikan setidaknya 3% dari anggaran nasional mereka untuk sektor program pendidikan keaksaraan orang dewasa. Ketika pemerintah mewujudkan hal ini, donor internasional harus mengisi kesenjangan sumber daya yang tersisa. Sementara kita berupaya meraih benchmark ini, kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa pemerintah kesulitan dengan peningkaran criteria dan kompetensi keaksaraan. Program keaksaraan dan pendidikan dasar pada umumnya dihadapkan dengan tantangan kurangnya sumber daya. Berdasarkan Laporan Pemantauan Global PUS pada tahun 2007, di Asia Tenggara, kecuali Malaysia, sebagian besar negara mengalokasikan kurang dari 6% dari Produk Nasional Bruto mereka untuk pendidikan. Thailand mengalokasikan 4,3, Indonesia 3,8, Filipina 2,3, dan Kamboja 1,8. Gelombang krisis keuangan yang dimulai pada tahun 2009 mempengaruhi anggaran untuk pendidikan secara keseluruhan. Namun di Asia, bahkan sebelum krisis, sebagian besar negara, kecuali Korea, Bangladesh dan Jepang, telah menurunkan anggaran pendidikan per siswa, apabila kita membandingkan pengeluaran perkapita pada kurun waktu 2006-1999. Karena perempuan tidak bisa menunggu lama, masyarakat sudah mulai melakukan advokasi dan memobilisasi sumber daya masyarakat untuk program keaksaraan dalam rangka membantu pemerintah. Upaya ini menjadi mungkin karena adanya rasa kesukarelaan kuat beserta strategi yang berbeda untuk memobilisasi dukungan bagi keaksaraan perempuan. Strategi 1: Menelusuri Pendanaan Lokal untuk Pendidikan Salah satu cara untuk memastikan dana yang dikhususkan untuk program keaksaraan masyarakat benar diberikan kepada yang berhak mendapatkannya, kita perlu berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan di tingkat pemerintah daerah. Penganggaran partisipatif telah menjadi strategi utama dalam memastikan sumber daya keaksaraan perempuan di Asia Selatan, khususnya di Pakistan, Sri Lanka dan India serta di Asia Tenggara, di Filipina dan beberapa kabupaten di Indonesia. Dilaksanakan oleh para relawan, penganggaran partisipatif merupakan panggilan untuk mengawasi penggunaan dana untuk pendidikan secara bijaksana dan terukur, mengingatkan pemerintah bahwa keaksaraan perempuan adalah hak pendidikan dasar. Pada masyarakat miskin perkotaan di Manila, kita telah belajar bahwa sebagian besar perempuan dewasa di sana merupakan penduduk tuna aksara ataupun tuna aksara parsial. Pada masa muda mereka, anak perempuan berusia sembilan tahun, bermigrasi ke kota-kota untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar dapat mengirim uang kepada orang tua mereka dan dengan harapan bahwa majikan mereka akan mengirim mereka ke sekolah. Sayangnya, mereka tumbuh tanpa uang dan pendidikan dan akhirnya menikah di usia muda. Kami bertanya mengapa mereka tidak mengikuti pendidikan non-formal. Jawaban mereka sangat jelas (rapi sering dilebih-lebihkan) --- mereka harus mengurus anak-anak! Strategi 2: Membangun Lingkungan Pendukung bagi Perempuan untuk Belajar. Di daerah miskin perkotaan, perempuan membantu perempuan lainnya, memperluas pekerjaan sukarela dalam mempertahankan kelompok bermain masyarakat atau pusat-pusat penitipan anak di mana anak-anak tinggal selama 3 jam. Wanita bergiliran mengelola kelompok bermain atau pusat penitipan anak sementara wanita lainnya menggunakan waktu ini untuk belajar keaksaraan, keterampilan hidup, dan bahkan untuk melakukan beberapa kegiatan memasak atau binatu di rumah. Di India, Nirantar sedang melaksanakan program keaksaraan melalui pendekaran etnografi di mana akuisisi keaksaraan perempuan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari perempuan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa bahan pembelajaran tidak perlu mahal dan dapat dengan cepat diakses. Kalender digunakan untuk belajar membaca dan berhitung. Kotak obat yang digunakan untuk membaca dan belajar mengukur. Tag harga di toko digunakan untuk belajar penambahan dan pengurangan, sementara buletin dipasang di aula masyarakat dan bahkan tanda-tanda bus dibaca dan dianalisis. Semua ini menunjukkan pentingnya strategi berikutnya. Strategi 3: Menggunakan Bahan Ajar dan Kearifan Lokal untuk Keaksaraan Perempuan Ada beberapa tantangan dalam menggunakan bahan-bahan ajar yang disebutkan pada strategi 2 di atas, misalnya bacaan pada kotak obat dan beberapa buletin terlalu kecil bagi perempuan untuk dibaca. Meningkatkan keaksaraan perempuan melalui kehidupan sehari-hari dan bahan ajar yang sudah ada di masyarakat setempat dapat mendorong mobilitas perempuan di dalam dan di luar komunitas. Hal ini juga akan berkontribusi terhadap kemampuan perempuan untuk membuat keputusan dalam masalah sehari-hari mereka seperti dalam urusan kesehatan dan bermasyarakat. Mereka juga meningkatkan kepercayaan diri agar dapat berkomunikasi dengan rekan-rekannya di masyarakat. Sebagaimana teknologi seperti telepon seluler telah menjadi bagian dari kehidupan sehari- hari masyarakat, tidaklah mengejutkan apabila Nirantar akhirnya menggunakan telepon seluler dan teknologi lainnya dalam program keaksaraan. Berbeda dengan sebuah kelas di mana guru langsung masuk ke inti pelajaran, program keaksaraan perempuan sering dikemas melalui cerita perjalanan kisah hidup perempuan sebelum akhirnya masuk kepada pelajaran membaca dan menulis. Siapa yang lebih memahami cerita perempuan daripada perempuan sendiri! Di sini saya melihat pentingnya penggunaan strategi berikutnya. Strategi 4: Menjadikan Perempuan sebagai Pendidik Masyarakat Strategi ini sangat lazim digunakan pada program keaksaraan di berbagai tempat seperti di masyarakat miskin perkotaan di Manila, di keaksaraan perempuan etnografis di India dan di hampir semua program keaksaraan yang efektif. Menciptakan jaringan sosial untuk mendukung keaksaraan perempuan merupakan sumber daya komunitas yang menopang kinerja satu komunitas dan memungkinkan pertukaran ide. Di Jakarta, Kapal Perempuan dengan tujuannya untuk meningkatkan sistem dukungan bagi NGOs’ dan organisasi masyarakat yang melaksanakan program dan advokasi kebijakan untuk keaksaraan perempuan membentuk jaringan yang disebut KAMI MENGAWASI (WE WATCH) yang terdiri atas lebih dari 20 organisasi. Organisasi telah menggabungkan energi, waktu, dan sumber daya, sehingga bersama-sama dengan para pendidik berupaya menciptakan ruang belajar untuk berbagi strategi dan kepedulian lainnya yang akan mempermudah pekerjaan mereka. Mereka terus melakukan pertukaran ide melalui halaman web yang telah dibuat oleh para relawan. Memang menakjubkan apa yang dapat dilakukan halaman web tersebut, apalagi apabila dimediasi oleh teknologi, untuk menjaga api semangat keaksaraan perempuan. Strategi 5: Memanfaatkan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk Keaksaraan Perempuan Strategi ini cukup kontroversial karena beberapa organisasi sangat berhati-hati dengan kepentingan kelompok usaha dalam menciptakan kemitraan untuk pendidikan. Sementara itu, yang lain menerima CSR lokal sebagai upaya untuk meningkatkan sumber daya mereka. Ada perusahaan-perusahaan seperti 'McDonalds (Jollibee di Filipina) yang bekerja sama dengan NGOs’ untuk membangun taman bacaan membaca di mana ada buku untuk dibaca secara gratis serta kelas membaca di mana semua orang dapat berpatisipasi. Ada juga perusahaan yang mengembangkan program keaksaraan untuk pegawainya. Upaya ini sering dikaitkan dengan pelatihan keterampilan dan kompetensi di luar keaksaraan dan apa yang dibutuhkan oleh perusahaan. Pada skala yang lebih besar, ada komunitas di mana sekelompok perusahaan lokal mendanai program pendidikan dan keaksaraan bagi masyarakat setempat. Sekarang saya membahas skala yang lebih besar dari mobilisasi sumber daya masyarakat. Menurut pandangan tradisional, ketika ada sumber daya, kita membuka program keaksaraan kita sendiri dan dalam prosesnya membangun kemitraan dengan pemerintah atau pemangku kepentingan lainnya. Di Mindanao, di bagian selatan Filipina, NGOs' yang disebut Ploughshares menyelenggarakan program keaksaraan fungsional untuk perempuan muda putus sekolah. Akan tetapi, masalah yang sering dihadapi adalah gadis-gadis muda yang putus sekolah tidak melanjutkan program karena pernikahan dini dengan pemikiran agar dapat keluar dari kemiskinan. Alih-alih menyelesaikan masalah kemiskinan mereka, gadis-gadis tersebut berakhir di lingkaran setan kemiskinan ketika mereka mulai memiliki anak. Untuk mengatasi tantangan ini, Ploughshares berkeliling untuk melakukan ke daerah setempat dengan mengajukan dua pertanyaan yang berkaitan dengan masalah tersebut keapda pemangku kepentingan terkait: 1) Apa untungnya bagi saya apabila membantu memecahkan masalah ini? dan 2) Bagaimana saya bisa memberikan solusi? Dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam serangkaian pertemuan, Ploughshares mampu memfasilitasi pembentukan program untuk anak perempuan putus sekolah dan menegosiasikan kontribusi dari para pemangku kepentingan. Pemerintah setempat menginginkan gadis-gadis muda tersebut menjadi produktif dan kemudian mengalokasikan anggaran untuk itu. Kelompok keuangan mikro ingin memperluas program keuangan mikro berbasis perempuan dan oleh karena itu memberikan sesi pengembangan usaha dan keuangan mikro. Pada akhir sesi mereka, kelompok keuangan mengevaluasi rencana bisnis dari anak-anak perempuan tersebut dan menyetujui pendanaan untuk proyek-proyek yang mereka anggap layak. Organisasi pemerintah yang disebut Technical Education Skill Development Authority (TESDA) memberikan sesi pengolahan makanan dan pengelasan dan pada akhir program memberikan kesempatan para gadis muda tersebut untuk bekerja. Akhirnya, NGOs dan masyarakat memfasilitasi sinergi antara pelaku utama dan peserta didik selama program berjalan. Sebagai sebuah kesimpulan, kita mencari praktik terbaik dalam rangka meningkatkan dan menjangkau lebih banyak peserta didik. Saya percaya pengalaman saya bagi dengan Anda adalah praktik yang baik. Pengalaman tersebut diperoleh berdasarkan informasi kebutuhan perempuan, dilakukan dalam kemitraan dengan perempuan dan ditenun dalam kain sosial kehidupan perempuan di masyarakat. Dengan cara yang sama, kita sebagai pendidik dan akwvis juga harus terus menemukan, berinovasi dan menginspirasi satu sama lain dalam visi untuk mengentaskan ketunaaksaraan perempuan dan lingkaran setan kemiskinan yang menjebak para perempuan di dalamnya.
Alat dan Kerangka untuk Menganalisis Isu Gender dalam Program Keaksaraan Huma Masood
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 1 (2012): April 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i1.226

Abstract

Pendahuluan Dewasa ini, isu kesetaraan gender menjadi topik hangat untuk ditelaah. Hal ini dikarenakan tindakan-tindakan yang diskriminasi yang dipengaruhi oleh gender masih sering terjadi. Perlu diketahui bahwa gender memiliki konsep yang berbeda dengan 'sex'. ‘Sex’ mengandung arti bilogis (perempuan atau laki-laki). Namun gender, memiliki arti yang lebih luas yang berkaitan dengan konteks sosial seperti (peran dalam masyarakat, tanggungjawab sosial, harapan-harapan, kebiasaan dan juga aktivitas yang berhubungan dengan sosial). Hal inilah yang belakangan menjadi sorotan karena masalah gender ini seringkali berkontribusi terhadap banyak aspek kehidupan seperti pengambilan kebijakan, pemerataan pendidikan, dan juga pembagian tugas kelembagaan di dalam institusi-institusi tertentu. Berdasarkan hal inilah, elaborasi ini akan membahas mengenai analisis gender beserta kerangka, alar dan juga contoh pengaplikasiannya yang sangat berkaitan erat dengan pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan.
Peran SIKIB dalam Pemberdayaan Perempuan drg. Laila Mohammad Nuh
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 1 (2012): April 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i1.230

Abstract

Pendahuluan SIKIB (Solidariras Istri Kabinet Indonesia Bersatu) ada lah suatu organisasi yang dibentuk oleh Ibu Negara Ibu Ani Bambang Yudhoyono, beranggotakan para istri menteri dan wakil menteri, istri panglima TNI dan istri Polri yang tergabung dalam Kabinet Indonesia Bersatu. SIKIB terbentuk pada tanggal 28 Desember 2004, sebagai wujud keprihatinan Ibu Negara pasca bencana alam (tsunami) di Aeeh dan Nias. SIKIB dibentuk atas cita-cita luhur untuk dapat memberikan pengabdian tanpa pamrih dalam turut serta melengkapi peran pernerintah untuk mensejahterakan bangsa dalam berbagai aspek melalui program "Menuju Indonesia Sejahtera".
Meningkatkan Kualitas Hidup Perempuan Marjinal melalui Keaksaraan Berbasis Organisasi Perempuan (Muslimat NU) Ora. Hj, Vies Sa'diyah Maksum, M.Pd
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 1 (2012): April 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i1.232

Abstract

Meningkatkan Kualitas Hidup Perempuan Marjinal melaluiKeaksaraan Berbasis Organisasi Perempuan (Muslimat NU) Muslimat NU adalah organisasi perempuan muslim terbesar di Indonesia dengan sekitar 15 juta anggota. Organisasi ini memiliki komitmen yang kuat untuk memberantas buta aksara terutama yang dialami perempuan. Sampai sekarang, Muslimat NU telah membarantas 1.600.000 buta aksara dan memilik: 13.400 lembaga Pendidikan Anak Usia Diri. Bagi Muslimat NU, perempuan yang baru melek aksara mampu meningkatkan pendapatan keluarga mereka, memliki self-esteem yang baik, dan menjadi mandiri, Selain itu, Muslimat NU juga menerapkan strategi blok, yang berarti bahwa pemberantasan buta aksara harus dimulai dari daerah-daerah padat penduduk buta aksara dan terus ke daerah-daerah tetangga, sehingga buta aksara dapat benar-benar diberantas, Dengan demikian, daerah tersebut meliputi daerah kumuh di Jakarta (Ibu kota). Surabaya (Jawa Timur, Makassar (Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat yang memiliki infrastruktur minim. Muslimat NU juga menerapkan jaminan kualitas dengan memanfaatkan standar kompetensi keaksaraan dan karena itu 85% buta aksara lulus dari penilaian dan menerima Sertifikat Keterangan Melek Huruf (SUKMA). Komitmen pemberantasan buta aksara Muslimat NU dapat terlihat dari metode dan pendekatan pengajarannya. Muslimat NU menggunakan metode trans literasi dimana kemampuan peserta dalam membaca Al-Qur’ran dan menghafal huruf Arab dialihkan ke dalam kemampuan membaca huruf Latin. Hal ini dilakukan di semua daerah di seluruh Indonesia yang memiliki program Keaksaraan Fungsional dan semua pesertanya diambil dari anggota Majelis Taklim. Sementara itu, bagi peserta selain dari anggota Majelis Taklim, metode yang digunakan untuk program pendidikan keaksaraan adalah metode konvensional. Pendekatan yang digunakan untuk program pembelajaran adalah pendekatan Andragogi, yaitu pendekatan pembelajaran untuk orang dewasa yang penuh dengan pengalaman hidup. Bahan pembelajarannya dipilih herdasarkan apa yangsekiranya diminati para peserta. Muslimat NU juga memiliki banyak kegiatan yang khusus ditujukan untuk meningkatkan pendapatan keluarga, Contoh-contoh kegiatan tersebut adalah membuat makanan tradisional dan resepnya, sabun dan proses pembuatannya, kerajinan tangan dari limbah plastik, bunga kering dan lain sebagainya. Program pendidikan keaksaraan yang diselenggarakan Muslimat NU telah berhasil memobilsasi banyak anggota masyarakat untuk bergabung karena mereka memiliki kemauan kuat untuk membaca, mengenal dunia, dan memberdayakan diri mereka sendiri. Selain dari itu, program pendidikan keaksaraan Muslimat NU benar-benar didukung oleh orang-orang religius di sekitarnya dan karenanya, merangsang para peserta untuk mengikut program pendidikan sampai selesai. Pada akhirnya, program keaksaraan Muslim NU menumbuhkan kecintaan dan kepedulian para peserta terhadap Muslimat NU sebagai sebuah organisasi yang memberikan layanan publik dalam rangka membangun solidaritas dan meningkatkan kualitas hidup dan keagamaan mereka. Komitmen pemberantasan buta aksara Muslimat NU: bisa terlihat dari metode dan pendekatan pengajarannya sebagai berikut: Metode trans literasi. Kemampuan peserta dalam membaca Al-Qur’an dan menghafal huruf Arab dialihkan ke dalam kemampuan membaca huruf Latin. Hal ini dilakukan disemua daerah di seluruh Indonesia yang memiliki program Keaksaraan fungsional dari sera pesertanya diambil dari anggota Majelis taklim. Sementara itu, bagi peserta selain dari anggora Majelis Taklim, metode vang digunakan untuk program pendidikan keaksaraan adalah metode konvensional. Pendekatan yang digunakan untuk program pembelajaran adalah pendekatan Andragogi, yaitu pendekatan pembelajaran untuk orang dewasa yang penuh dengan pengalaman hidup. Bahan pembelajarannya dipilih berdasarkan apa yang sekiranya diminati para peserta. Belajar melalui kegiatan khusus ditujukan untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Contoh-contoh kegiatan tersebut adalah membuat makanan tradisional dan resepnya, sabun dan proses pembuatannya, kerajinan tangga dari limbah plastik, bunga kering. dll Ada juga program pendidikan keaksaraan intensif khusus bagi mereka yang buca aksam parsial. Program pendidikan keaksaraan menarik bagi para peserta dan jumlah drop out-nya kecil karena mereka memiliki kemauan kuat untuk membaca, mengenal dunia, dan memberdayakan diri mereka sendiri. Program keaksaraan juga digunakan untuk meningkatkan agama dan kepercayaan peserta dengan selalu memulai dan mengakhiri setiap kerjaan dengan membaca Al-Qur’an. Solidaritas dan kebersamaan peserta juga dibangun dengan cara membawa hasil panen atau uang jika diperlukan untuk membeli atau digunakan sebagai bahan kerajinan dan seni ukir. Program pendidikan keaksaraan benar-benar didukung oleh orang-orang religius dan karenanya, merangsang para peserta untuk mengikuti program pendidikan sampai selesai. Untuk peserta yang mencintai budaya lokal, program keaksaraan dapat meningkatkan kreativitas seni mereka dan memotivasi mereka untuk membuat sebuah klub. Program keaksaraan menumbuhkan kecintaan dan kepedulian para peserta terhadap Muslimat NU sebagai sebuah organisasi yang memberikan layanan kepada publik dalam rangka membangun solidaritas dan meningkatkan kualitas hidup dan kesamaan mereka.
Situasi Keaksaraan Dunia Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D.
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.233

Abstract

Pendahuluan Dewasa ini sering kita dengar isu mengenai krisis keaksaraan. Meskipun bahasan akan situasi krisis tersebut terkesan sedikit dibesar-besarkan untuk kepentingan politik, kita tidak dapat pungkiri bahwa isu keaksaraan saat ini masih memegang peran penting untuk diidentifikasi dan ditelaah lebih jauh. Sebagian besar isu keaksaraan berhubungan dengan tuntutan kompetensi beraksara yang semakin meningkat di masyarakat dan tidak meratanya distribusi kompetensi tersebut. Keaksaraan telah dan akan terus menjadi dasar untuk aspirasi politik dan budaya manusia kontemporer. Hal ini menjadikan keaksaraan memegang peran penting dalam dunia pendidikan, pemberdayaan dan pengembangan. Situasi keaksaraan terkini di negara-negara E-9, ASEAN dan Timor Leste akan menjadi fokus elaborasi dalam tulisan ini. Keaksaraan perlu dipahami dalam konteks pendekatan berbasis hak azasi manusia dan bagian dari prinsip inklusi untuk pembangunan manusia. Rasionalisasi pengakuan terhadap keaksaraan sebagai hak terletak pada himpunan manfaat dan dampak yang diberikan kompetensi keaksaraan pada individu, keluarga, masyarakat dan bangsa. Keaksaraan adalah hak. Hal ini tersirat dalam hak atas pendidikan. Dalam lingkup internasional, keaksaraan diakui sebagai hak. baik bagi anak- anak maupun orang dewasa. Keaksaraan telah diakui bukan hanya sebagai hak. tetapi juga sebagai mekanisme untuk mencapai hak asasi manusia lainnya: keaksaraan menganugerahkan berbagai manfaat dan memperkuat kemampuan individu. keluarga dan masyarakat untuk mengakses peluang kesehatan, pendidikan, ekonomi, politik, dan budaya. Keaksaraan, selain menjadi hak asasi manusia yang fundamental, merupakan landasan untuk mencapai Pendidikan untuk Semua, termasuk mengurangi kemiskinan manusia. Dengan demikian. dalam konteks ini, keaksaraan merupakan hal yang lebih dari sekedar fundamental.
Pengembangan Kewirausahaan melalui Layanan Pendidikan Masyarakat Dr. Elih Sudiapermana
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.235

Abstract

Pendahuluan Pendidikan, kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi merupakan tiga hal yang saling terkait. Pendidikan dapat membantu menekan angka pengangguran dan kemiskinan, dengan syarat pendidikan dapat ditransformasi menjadi instrumen progresif, sehingga mampu memproduksi sumberdaya manusia yang kreatif dalam skala masif. Tingkat pendidikan yang rendah sering kita jumpai melekat pada penduduk yang kurang beruntung perekonomiannya (marjinal). Rendahnya pendidikan yang dimiliki oleh penduduk miskin membuat mereka kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, sehingga menghambat mereka untuk berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi, karena tidak memperoleh pekerjaan yang layak ataupun tidak dapat mengembangkan potensi kewirausahaannya. Kewirausahaan di Indonesia belum berkembang optimal. Secara kuantitatif, jumlah wirausaha di ini hanya 0.8% dari jumlah penduduk sebesar 230 juta. Setidaknya diperlukan wirausaha sebanyak 2.5% dari total jumlah penduduk untuk mampu menunjang perekonomian suatu Negara. Hal ini dikarenakan wirausaha mampu menghasilkan output yang bernilai ekonomi tinggi sekaligus pada saat yang sama mampu mengatasi tingginya angka penggangguran. Strategi menumbuhkembangkan wirausaha baru dapat dilakukan melalui jalur pendidikan baik formal maupun nonformal. Oleh karena itu, pendidikan kewirausahaan memiliki nilai strategis untuk dibelajarkan pada setiap jenjang dan jalur pendidikan. Sebuah studi dengan menggunakan data dari Survey Keaksaraan Orang Dewasa Internasional menyimpulkan bahwa perbedaan tingkat rata-rata keterampilan di antara negara Organization for Economic Coaperation and Development (OECD) dimana terdapat 55% perbedaan pertumbuhan ekonomi pada tahun 1960-1994, menyiratkan bahwa peningkatan level keterampilan dapat menghasilkan kembalinya perekonomian yang besar. Studi lainnya yang dilakukan terhadap 44 negara Afrika menemukan bahwa keaksaraan merupakan salah satu variabel yang berefek positif pada pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) per kapita. Sementara itu, sebuah survey pada sebagian besar 33 negara Islam sedang berkembang menyimpulkan bahwa tingkat keaksaraan orang dewasa dan pendaftaran sekolah, keduanya memiliki dampak positif pada pertumbuhan ekonomi. Data hasil sensus penduduk Indonesia tahun 2010 sebagaimana gambar-I dibawah ini menggambarkan adanya keterkaitan keberaksaraan penduduk dan kondisi ekonomi suatu daerah.
Pembelajaran Kewirausahaan Masyarakat Yoyon Suryono
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.236

Abstract

ABSTRAK Pendidikan kewirausahaan masyarakat melalui program aksara kewirausahaan yang memiliki tiga kegiatan utama pelatihan, rintisan inkubator bisnis, dan rintisan sentra wirausaha dirancang untuk menumbuhkan semangat kewirausahaan masyarakat yang membuka peluang munculnya para wirausahawan yang mampu mengembangkan keberaksaran masyarakat pada berbagai bidang. Pada tahun: 2010 dan 2011 telah diujicoba di berbagai provinsi melalui PKBM dan LPK, yang mengajukan bantuan dana untuik menyelenggarakan program aksara kewirausahaan. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa program aksara kewirausahaan telah dilaksanakan dengan tingkat ketercapaian tujuan yang masih beragam. Beberapa kendala yang di hadapi antara lain belum optimalnya pemanfaatan faktor masukan dan proses pembelajamn sehingga ketercapaian tujuan belum maksimal yang pada akhirnya juga keterwujudan manfaat dan dampak dari program ini belum nampak kelihatan. Memerlukan upaya penguatan ke depan dengan menata dan !ebih memberdayakan faktor masukan dan proses pembelajaran sehingga keluaran, manfaat, dan dampak dari program ini akan semakin terlihat dalam kehidupan masyarakat.
Strategi Pengembangan Kewirausahaan Masyarakat melalui Aksara Kewirausahaan Sungkowo Ed Mulyono
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.237

Abstract

Abstrak Salah satu masalah besar yang terjadi di Indonesia adalah pegangguran. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2010 tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7, 14% atau 8,3 juta orang dan 116,5orang angkatan kerja. Angka tersebut sebenarnya masih under value, artinya jumlah yang sebenarnya jauh lebih besar karna beberapa indikator tidak dimasukan, seperti para pekerja informal yang sebenarnya sedang mencari pekerjaan. Sedangkan menurut Presiden Boston lnstitut for Developing Economies, Gusta F Papanek setiap tahun ada 2 juta orang Indonesia mencari pekerjaan. Berarti sejak krisis ekonomi 1998, ada 22 juta pengangguran, sedangkan yang mendapat pekerjaan hanya 5.5 juta orang (Tempo Interaktif 2 April 2010). Untuk mengatasi persoalan pengangguran tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencanangkan salah satunya adalah pendidikan aksara kewirausahaan yang terintegrasi dengan kecakapan hidup yang mana bertujuan untuk memberikan keterampilan berupa wirausaha masyarakat, agar mereka memiliki mata pmcaharian serta mampu meniingkatkan kesejahteraan hidupnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi studi literature. Lokasi penelitian berada di 6 provinsi dan Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 6 informen dan 12 responden yaitu peserta didik dalam pendidikan dan pelatihan kewirausahaan masyarakat. Hasil penelitian menghasilkan profil aksara kewirausahaan model strategis pengembangan kewirausahaan . Penelitian ini menyimpulkan bagaimana model kewirausahaan melalui aksara kewirausahaan. Saran peserta pelatihan yang sekaligus pelaku kewirausahaan diharapkan dapat lebih kreatif dan inovatif yang mampu membuat produk baru , selain itu juga menjalin kerjasama dengan pihak terkait sehingga pemasaran produk memiliki akses yang lebih luas.
Hubungan Efikasi Diri dan Minat Berwirausaha pada Orang Dewasa (Survei Pada Karyawan Universitas Negeri Jakarta) Dedi Purwana, ES; Dra. Nurahma Hajat, M5i.; Setyo Ferry Wibowo. S.E.,M5i.
Jurnal AKRAB Vol. 3 No. 3 (2012): Desember 2012
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v3i3.239

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui hubungan efikasi diri dengan minat berwiirausaha karyawan saat memasuki masa purnabakti. Populasi penelitian adalah tenaga kependidikan di UNJ yang bukan pimpinan dan saat ini tidak memiliki usaha yang menjadi sumber penghasilan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode acak, khususnya teknik acak sederhana. Teknik Analisis yang digunakan adalah teknik analisis statistik deskriptif, korelasi dan regresi linier sederhana. Merujuk pada temuan pada analisis deskriptif variabel penelitian, beberapa indikator dari efikasi diri yang direspon rendah oleh responden adalah mampu menciptakan produk yang unik, memiliki hemampuan untuk meyakinkan investor; dan mampu membangun kepercayaan investor. Berdasarkan uraian deskriptif tentang karakteristik responden, beberapa temuan antara lain: relative sedikitnya jumlah responden yang telah memasuki masa purnabakti dan tetap diperbantukan sebagai karyawan; terkait dengan jenjang pendidikan responden, sebagian responden memiliki jenjang pendidikan menengah atas, dan diduga kurikulum SMA belum memasukkan kewirausahaan sebagai bagian dari kompetensi yang harus dikembangkan pada saat mereka menempuh pendidikan; pada kelompok pengeluaran di bawah Rp. 1 juta sampai dengan kelompok pengeluaran Rp. 3-3,99 juta, terdapat tren pengeluaran yang meningkat seiring dengan meningkatnya usia, dengan rata­rata waktu menjelang pensiun ketiga kelompok tersebut adalah 15 tahun dan diasumsikan laju pertumbuhan inflasi adalah 8% per' tahun, maka pengeluaran responden akan meningkat 2,17 kali lipat saat mereka memasuki masa purnabakti; sebagian responden hanya memiliki satu sumber penghasilan, mayoritas responden dalam kelompok ini sudah berkeluarga dan diduga memiliki pasangan yang tidak bekerja; responden yang memiliki lebih dari 2 sumber penghasilan hanya 1,4% responden. Dalam pengujian hipotesis, seluruh persyaratan penggunan teknik analisis terpenuhi. Hasil uji Hipotesis mendukung dugaan awal terdapatnya hubungan antara efikasi diri dan minat berwirausaha. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan: 1) secara umum dapat dideskripikan bahwa responden memiliki tingkat efikasi dan minat berwirausaha yang relatif tinggi, dan 2) terdapat hubungan positif antara efikasi diri dengan minat berwirausaha. Sebesar 266% variasi nilai minat berwirausaha dijelaskan oleh efikasi diri.