cover
Contact Name
Johan Winarni
Contact Email
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Phone
+6281314950038
Journal Mail Official
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Editorial Address
Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, RT.6/RW.5, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410 +62 21-7693262/7657156
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
ISSN : 25800795     EISSN : 27162648     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles 224 Documents
Tanggung Jawab Lembaga Pendidikan dalam Pembangunan Karakter FNF WURYADI
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 3 (2010): September 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i3.57

Abstract

Akibat praktik penjajahan yang panjang dan kekuasaan feodal yang timbul karenanya telah melahirkan karakter terikat dan tergantung pada kekuasaan penjajah yang berpengaruh pada kebanyakan kalangan masyarakat waktu itu. Ketidakmerdekaan karena penjajahan dan feodalisme tersebut membelenggu jiwa dan karakter masyarakat. Sejak digunakan untuk pertama kalinya nama “Indonesia” oleh Ki Hadjar Dewantara, pada tahun 1918, untuk memberi nama organisasinya “Indonesische Pers Bureau”, dan mencapai titik kulminasinya pada tanggal 28 Oktober 1928, saat terjadinya peristiwa sangat bersejarah “Sumpah Pemuda”, nama “Indonesia” kemudian menjadi identitas karakter bangsa dengan karakter pokok, yaitu kesadaran, kemauan, dan perbuatan sebagai bangsa. Kesadaran, kemauan, dan perbuatan berbangsa tidak dapat dilakukan hanya dengan cara formal di sekolah, akan tetapi perlu dilakukan dalam khasanah pergaulan yang lebih luas dan melibatkan berbagai pengalaman dari keluarga, masyarakat, dan berbagai lembaga pendidikan dalam pengertian yang seluas-luasnya. Lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab dan kontribusi yang besar dalam pembangunan karakter bangsa.
Tantangan untuk Meningkatkan Jatidiri Bangsa YOYO MULYANA
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 3 (2010): September 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i3.58

Abstract

Pendidikan selayaknya harus mampu mengembangkan values creation, recreation, dan pembiasaan untuk berpikir, bersikap, dan bertindak menjadi anggota masyarakat yang baik, serta menjadi warga negara yang baik. Pendidikan tujuannya adalah membangun academic and social curiosity. Oleh karena itu diperlukan karakter yang kuat untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut. Pendidikan harus ditata secara sinergis antara konsep, pelaksanaan dengan kebutuhan lapangan kerja. Selayaknya pendidikan dilakukan dalam kerangka lifelong education for all sebagai salah satu tujuannya. Pendidikan harus ditata secara sinergis antara konsep, pelaksanaan dengan kebutuhan lapangan kerja. Proses dan hasil pendidikan harus mengembangkan curiousity; creation of innovation. Cara yang tepat adalah meninjau kembali kurikulum, sehingga kita perlu melakukan langkah reformasi pendidikan agar kita dapat membangun pendidikan yang bermakna untuk menunjang proses membangun karakter dan jati diri bangsa yang selalu akan mendorong bangsa Indonesia untuk berpikir dan bertindak inovatif.
Menjamin Keberhasilan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan Melalui Penganggaran Responsif Gender HAMID MUHAMMAD; NINA SARDJUNANI
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i4.59

Abstract

Penyusunan anggaran responsif gender berkaitan dengan upaya untuk menjamin agar anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah beserta kebijakan dan program yang mendasarinya dilaksanakan untuk menjawab kebutuhan setiap warga negara dari kelompok manapun, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam hal ini penyusunan anggaran responsif gender tidak hanya melihat kesenjangankesenjangan yang dapat terjadi karena jenis kelamin tetapi pada saat yang sama juga mempertimbangkan ketidakberuntungan yang dialami akibat faktor lain seperti suku, status kemiskinan, wilayah tempat tinggal, atau umur.
Kemitrasejajaran Gender: Pria dan perempuan dalam pembangunan AGNES S. DJARKASI
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i4.62

Abstract

Pembangunan nasional di Indonesia harus memiliki strategi yang bersifat responsif gender. Tulisan ini menawarkan strategi kemitrasejajaran gender dalam pembangunan nasional. Dalam pemahaman kemitrasejajaran gender, pembangunan mengakomodasi pria dan perempuan sebagai pelaku pembangunan tanpa memihak hanya satu peran. Meski demikian, perlu dipertimbangkan bahwa kemitrasejajaran tersebut tetap menjunjung tinggi kekhasan masingmasing gender. Pria dan perempuan terlibat secara bersama-sama dalam pembangunan dengan kekhasannya masing-masing, juga dengan tingkat kompetensi atau profesionalisme yang memadai.
Model Pemberdayaan Perempuan Miskin Melalui Pengembangan Kewirausahaan Keluarga Menuju Ekonomi Kreatif Di Kabupaten Karanganyar1 ISMI DWI ASTUTI NURHAENI; SRI MARWANTI
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i4.64

Abstract

Riset ini menggarisbawahi beberapa isu yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan miskin melalui pemgembangan kewirausahaan berbasis keluarga menuju ekonomi kreatif. Selain itu, riset ini cenderung untuk mengeksplorasi potensi, kemungkinan, dan kebijakan yang bersentuhan dengan pemberdayaan perempuan miskin serta berusaha untuk merumuskan sebuah model bagi pemberdayaan. Pengumpulan data dilakukan melalui tahapan seperti observasi lokasi, diskusi kelompokm dan studi pustaka. Teknik analisis yang diterapkan dalam riset ini juga mencakup analisis interaktif dan analisis gender oleh Sara Longwee. Hasil dari riset ini adalah sebuah model yang disebut dengan “Pro-poor Capacity Improvement” yang merangkum beberapa komponen termasuk potensi, tantangan, kesempatan, dan intervensi perempuan miskin dalam bentuk kewirausahaan berbasis keluarga dan kesejahteraan
Konsep Diri Perempuan NTT dan Keterlibatan Dalam Ranah Politik MIEN RATOE OEDJOE
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i4.65

Abstract

Perempuan NTT yang mendapat stereotipe sebagai perempuan rumahan, ibu rumah tangga, tidak boleh banyak bicara, dan lain-lain sebagai hasil bentukan budaya patriarki perlu merekonstruksi dan memperkuat diri dengan konsep diri yang lebih positif. Konsep diri positif dibentuk lewat relasi diri dengan lingkungan sekitar dan karena itu bersifat kontekstual dan relevan bagi kebutuhan masyarakat. Konsep diri positif inilah yang memungkinkan perempuan, khususnya di NTT, untuk terlibat dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara secara utuh, termasuk terlibat dalam ranah politik yang selama ini didominasi hanya oleh kaum pria.
Pembekalan Pengetahuan dan Keterampilan Bagi Tenaga Kerja Indonesia S. BUDHI SANTOSA
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i4.66

Abstract

Tenaga kerja Indonesia perlu dibekali dengan kepribadian yang kuat serta pengetahuan dan kecakapan hidup yang baik guna menjadi manusia yang professional. Kepribadian yang baik tersebut untuk seorang tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di luar negeri antara lain rasa percaya diri yang kuat, jujur, mampu bekerja keras, serta memiliki skill yang handal. Mereka harus dapat memadukan pengetahuan dengan budaya serta etos kerja di tempatnya bekerja, khususnya penguasaan teknologi tepat guna yang menjadi alat-alat kerja yang berhubungan dengan piranti elektronik.
Krisis Pendidikan Anak Laki-laki: Siapa yang Peduli? NFN SUHARTI; CECEP CECEP SOMANTR
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i4.67

Abstract

Statistik mengenai pendidikan anak laki-laki menunjukkan kenyataan yang mengejutkan. Anak laki-laki di 65 negara di dunia tertinggal dalam hal membaca dan menulis dengan nilai yang sangat signifikan. Di Indonesia, hasil Ujian Nasional (UN) anak laki-laki pada hampir semua tingkat pendidikan dan mata pelajaran tertinggal daripada anak perempuan di hampir semua provinsi. Di sisi lain, anak perempuan menunjukkan kinerja yang terus meningkat pada bidang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), dan secara konsisten terus mengungguli anak laki-laki dalam bidang bahasa dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Kini saatnya pengarusutamaan gender (PUG) bidang pendidikan mempertimbangkan layanan khusus pendidikan anak lakilaki dalam muatan pelaksanaannya
Sejarah Perjalanan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan LILIK SULISTYOWATI; NFN SARDIN; NFN KURNIATI
Jurnal AKRAB Vol. 1 No. 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v1i4.70

Abstract

Pengarusutamaan gender (PUG) bidang pendidikan bukan barang jadi, melainkan hasil dari proses sejarah dan kristalisasi pemikiran para pakar gender. Kementerian Pendidikan Nasionaltelah menggagas berbagai pertemuan untuk mensatuvisikan berbagai gagasan mengenai gender yang berkembang dalam masyarakat dan menghasilkan suatu pemikiran yang utuh mengenai gender. Pemikiran utuh tersebut telah ditempa dan melewati tiga tahap periodisasi: periode I (2000-2004) meliputi tahap sosialisasi dan pengembangan program, periode II (2005-2008) meliputi tahap pemeliharaan komitmen dan perluasan, dan periode III (2009-2010) meliputi tahap penguatan dan implementasi.
Hubungan Antara Taman Bacaan Masyarakat dan Minat Baca (Sebuah Penelitian) Fakhruddin Arbah; Henny Herawati
Jurnal AKRAB Vol. 4 No. 1 (2013): Desember 2013
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v4i1.73

Abstract

Satuan, jenis dan lingkup pendidikan nonformal terdiri atas keluarga, kelompok belajar, lembaga kursus dan pelatihan, majelis taklim, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), dan lembagalembaga yang menyelenggarakan pendidikan yang sejenis. Salah satu program kegiatan dalam PKBM ini adalah adanya Taman Bacaan Masyarakat. Pada PKBM Al-Ishlah, Taman Bacaan ini sudah berfungsi mendorong semangat warga belajar untuk memiliki kesadaran membaca secara relatif optimal, terutama bagi warga belajar Keaksaraan Fungsional. Masalahnya adalah bahwa pengelolaan TBM ini kurang profesional, dan pengelola pun kurang mengerti bagaimana harus melaksanakan program taman bacaan masyarakat. Warga belajar pun belum terpanggil nuraninya khususnya warga belajar keaksaraan fungsional tentang pentingnya kegiatan membaca. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data empiris mengenai ada tidaknya hubungan antara fungsi pendirian taman bacaan dengan minat baca warga belajar KF di TBM Al-Ishlah. Penelitian ini dan Minat Baca Sebuah Penelitian Fakhruddin Arbah dan Henny Herawaty *) berlangsung dari bulan Oktober 2010 sampai dengan bulan Februari 2011. Subjek penelitiannya adalah warga belajar program Keaksaraan Fungsional berjumlah 20 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan taman bacaan masyarakat sebagai penunjang pembelajaran bagi warga belajar keaksaraan fungsional merupakan wahana berbagai sumber pengetahuan, bacaan dari berbagai macam/ variasi buku, baik buku cerita, resep-resep masakan, pengetahuan umum, pengetahuan agama dan juga buku pelajaran. Hipotesis menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara fungsi Taman Bacaan Masyarakat dengan minat baca warga belajar dapat diterima. Pola hubungan antara kedua variabel ini dinyatakan dengan persamaan regresi Y = 44,95 +0,53 X. Persamaan ini menginformasikan bahwa setiap perubahan satu tingkat variabel X (fungsi Taman Bacaan Masyarakat) dapat mengakibatkan terjadinya perubahan variabel Y (Minat Baca Warga Belajar) sebesar 0,53 pada konstanta 44,59.

Page 3 of 23 | Total Record : 224