cover
Contact Name
Johan Winarni
Contact Email
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Phone
+6281314950038
Journal Mail Official
jardik.jurnalakrab@gmail.com
Editorial Address
Jalan RS Fatmawati, Cipete Selatan, Cilandak, RT.6/RW.5, Cipete Sel., Kec. Cilandak, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12410 +62 21-7693262/7657156
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
ISSN : 25800795     EISSN : 27162648     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles 224 Documents
Strategi Pengembangan Kegemaran Membaca Khotijah Kamsul
Jurnal AKRAB Vol. 4 No. 1 (2013): Desember 2013
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v4i1.74

Abstract

Potensi bangsa Indonesia sangat besar apabila ditinjau dari jumlah penduduknya yang terdiri dari berbagai suku, yang memiliki beraneka budaya yang perlu dikembangkan dan dilestarikan keberadaannya. Namun demikian, potensi yang begitu besar secara kuantitas itu perlu diimbangi dengan kualitas. United Nations Development Program pada tahun 2000 melaporkan bahwa Human Development Index Indonesia berada pada peringkat 109 dari 174 negara dan kondisi ini lebih parah lagi pada tahun 2003, HumanDevelopment ndex Indonesia berada pada peringkat 112 dari 175 negara. Hal ini berarti kualitas sumber daya manusia masih rendah dan mengalami proses penurunan dari tahun ke tahun.
TBM dan Peretasan Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila Agus M. Irkham
Jurnal AKRAB Vol. 4 No. 1 (2013): Desember 2013
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v4i1.75

Abstract

Peran Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tidak hanya sekadar tempat orang membaca dan meminjam buku. Lebih dari itu adalah sebagai tempat persemaian nilai-nilai Pancasila—melalui kegiatan dan bahan bacaan yang disediakan. Artinya mendirikan dan mengelola Taman Bacaan Masyarakat, serta menyediakan beragam bacaan inspiratif kepada masyarakat itu merupakan tindakan mulia. Ia tidak saja pilihan hidup yang bersifat ideologis, tapi juga politis. Soft politic. Ini merupakan siasat perubahan sosial melalui jalan kebudayaan. Ia menjadi bagian dari ikhtiar mengukuhkan Pancasila sebagai “Rumah Kita” bersama. Dalam pandangan penulis, sebaran keberadaan TBM di Tanah Air juga menjadi salah satu ukuran keadilan kebijakan pemerataan informasi dan pendidikan. Peran TBM ini semakin mendapati dasarnya saat kita bercermin pada permasalahan kebangsaan yang tengah dialami negara ini yakni persoalan persatuan dan integrasi Bangsa. Beragam bacaan yang terdapat di TBM dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengenal Negeri ini. Harapannya dari kenal dan tahu itu akan muncul rasa ingin mengalami. Dari mengalami titik terjauh harapan yang ingin dicapai adalah lahirnya rasa mencintai Bangsa dan Negara. Baik dari sisi geografi (kewilayahan-spasial) maupun dari segi sosiopsikologis (budaya dan kesadaran sama-sama sebagai warga negara). Dari rasa mencintai akan memicu keberanian untuk bercita-cita tinggi. Cita-cita yang melampaui batas kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya.
Upaya Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Yanuar Jatnika; Ayu Lestari
Jurnal AKRAB Vol. 4 No. 1 (2013): Desember 2013
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v4i1.77

Abstract

minat baca generasi muda Indonesia rendah karena minimnya buku-buku bacaan, atau sebaliknya, buku-buku bacaan yang terbit di Indonesia minim karena budaya baca yang rendah? Bila minat baca masyarakat, terutama generasi muda sudah tumbuh, hal itu akan mendorong tumbuhnya Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Tema Kita: Sketsa Perkembangan Pendidikan Keaksaraan di Indonesia NFN Dr. Wartanto
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i1.80

Abstract

Berbagai kajian menunjukkan bahwa pendidikan keaksaraan di belahan bumi manapun tidak akan pernah berhenti. Pendidikan keaksaraan terus mengalami perkembangan luar biasa dari pendidikan keaksaraan yang berupa “calistung” berkembang ke arah pendidikan keaksaraan “digital” sebagai wujud dari pentingnya keaksaraan masyarakat yang berkait dengan kemajuan teknologi informasi. Dalam konteks ini tercatat pentingnya multi keaksaraan dalam berbagai bidang seperti yang sudah dikembangkan selama ini oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat dalam bentuk keaksaraan bencara, keaksaraan berbasis teknologi, dan sejenisnya. Dengan berkembangnya aspek “bisnis keuangan” bukan tidak mungkin, suatu saat, diperlukan pendidikan keaksaraan “jual beli saham”. Termasuk juga keaksaraan “pilkada”, keaksaraan “keselamatan di jalan raya” dan keaksaraan “perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi” serta sejenis itu lainnya.
Hari Aksara Internasional (HAI) Tingkatkan SDM yang Unggul dan Berkarakter H.M Norsanie Darlan
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i1.81

Abstract

Hari Aksara Internasional adalah sebuah peristiwa dunia, dalam bidang pendidikan. Tidak ada dari suatu negara yang bercita-cita bahwa warga negaranya agar terbelenggu sebagai akibat masyarakatnya masih dalam situasi budaya yang non literasi. Kemelekhurufan yang tinggi di suatu negara mencerminkan rendahnya keberhasilan tingkat pendidikan. Padahal di semua negara di dunia bercita-cita rakyatnya agar tidak satupun penduduk di negerinya yang buta huruf. Namun karena keterbatasan, membuat pengambil kebijakan jadi tidak berkutik. Oleh sebab itu, ada berbagai cara pihak pemerintah untuk mengatasinya. Agar negerinya terbebas dari bencana itu, karena rendahnya budaya membaca ini, berarti rendah pula tingkat pendidikan.
Multikeaksaraan: Model Konseptual Pengasuhan dan Perlindungan Anak dari Keterlantaran Mochamad Fatchan Chasani
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i1.82

Abstract

Dalam konteks keaksaraan multiaksara, pengetahuan dan keterampilan tentang pengasuhan dan perlindungan anak dari keterlantaran yang dapat dilakukan oleh siapapun, anak dan orangtua, perlu dimiliki oleh semua orang. Oleh karena itu dalam tulisan singkat ini akan dipaparkan tentang salah satu model konseptual pengasuhan dan perlindungan anak dari keterlantaran berikut ini. Anak didefi nisikan sebagai seorang laki-laki maupun perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas atau belum pernah menikah dengan rentang usia 6-18 tahun. Undang-undang Nomor 23 Pasal 1 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dalam rentang usia tersebut anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik fi sik maupun mental. Pertumbuhan dan perkembangan anak pada dasarnya tidak terlepas dari peran lingkungan dan orang-orang sekitar, mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga sampai pada lingkungan masyarakat.
Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri Sebagai Upaya Pengembangan Sumber Daya Manusia Secara Sosial dan Ekonomi Puspita Handayani
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i1.83

Abstract

Di Indonesia kemiskinan hampir melanda seluruh lapisan masyarakat, baik kemiskinan absolut maupun kemiskinan struktural. Persoalan kemiskinan bukanlah persoalan kecil, namun justru merajalela dan menimbulkan sebuah tanda tanya besar ditengah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemiskinan tidak lahir dengan sendirinya (given) dan muncul tanpa sebab. Masyarakat menjadi miskin karena dibuat miskin oleh struktur ekonomi, politik dan sosial. Mereka miskin karena dipaksa oleh sistem ekonomi dan politik yang tidak adil, dilestarikan menjadi miskin dan diposisikan sedemikian rupa untuk menjadi kaum tertindas yang dieksploitasi, diperas, dijarah, dan dirampok hak-haknya. Kesenjangan ekonomi dan sosial disebabkan oleh adanya sekelompok elite yang hidup mewah di atas penderitaan orang banyak, serta ketidakmampuan penduduk miskin itu sendiri dalam mengelola sumberdaya yang ada sebagai akibat dari kurangnya pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki. Kesenjangan adalah sebuah kondisi dimana di dalamnya terjadi ketimpangan akses pada sumber-sumber ekonomi (Usman, 2010, p.33). Sehingga dengan kata lain, penyebab utama kemiskinan penduduk disebabkan oleh dua hal, yakni kesenjangan sosial ekonomi dan ke butaaksaraan penduduk yang bersangkutan.
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Potensi Lokal pada Program Pendidikan Keaksaraan Usaha Mandiri NFN Sujarwo
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i1.84

Abstract

Tujuan penelitian dan pengembangan ini untuk (1) mengupayakan tersedianya bahan atau materi ajar yang representatif dalam pembelajaran keaksaraan usaha mandiri, (2) Mengetahui kelayakan bahan ajar berbasis potensi lokal yang dikembangkan menurut pendapat ahli media/bahan ajar. ahli materi. dan peserta didik, (3) mengetahui efektifi tas bahan ajar berbasis potensi lokal yang dikembangkan dalam pembelajaran di lapangan. Penelitian ini menggunakan model penelitian pengembangan dengan menggunakan pendapat Borg and Gall yang kegiatannya meliput; penelitian pendahuluan, menyusun desain, membuat produk, melakukan validasi ahli, melakukan uji coba, dan uji lapangan, serta revisi produk. Pada akhir perbaikan produk dilakukan uji efektivitas produk (bahan ajar). Data dianalisis dengan teknik deskriptif kualititif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil pengembangan diperoleh data sebabagai berikut: (1) Langkah-langkah pengembangan bahan ajar berbasis potensi lokal pada program keaksaraan usaha mandiri (KUM) dilakukan melalui beberapa tahapan; (a) penelitian pendahuluan, (b) menyusun desain pengembangan, (c) membuat produk, (d) melakukan validasi dan uji coba produk (validasi bahan ajar, validasi materi, uji coba satu-satu dan uji coba kelompok besar atau lapangan), (e) revisi produk. (2) Bahan ajar berbasis potensi lokal pada program pendidikan keaksaraan usaha mandiri yang dikembangkan menurut pendapat ahli media sangat ayak, hal ini ditunjukan dengan skor yang diperoleh sebesar 4.31 termasuk kategori sangat baik, (3) menurut ahli materi sangat layak, hal ini ditunjukan dengan skor yang diperoleh sebesar 4.18 termasuk kategori sangat baik, (4) menurut pendapat peserta didik. Baik melalui uji coba satu-satu maupun kelompok besar sangat layak, hal ini ditunjukan dengan skor yang diperoleh pada uji lapangan kelompok besar sebesar 4.315 termasuk kategori sangat baik, (5) Untuk melihat efektifi tas produk, dilakukan analisis berdasarkan hasil praktek dan tes pengetahuan peserta didik. Berdasarkan analisis dari 10 peserta uji coba kelompok besar (lapangan), jumlah peserta didik yang berhasil mencapai skor 70 ke atas sebanyak 10 peserta didik (100%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengembangan bahan ajar berbasis potensi lokal dalam uji coba lapangan sudah memenuhi kategori “sangat baik” dan layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran pembuatan aneka makanan ringan berbahan dasar ubi jalar.
Pendidikan Multi Keaksaraan: Urgensi dan Substansi Yoyon Suryono
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i1.85

Abstract

Kemampuan membaca, menulis, berhitung calistung) diperlukan bagi warga masyarakat yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung. ada awalnya kemampuan calistung merupakan bagian penting dari pendidikan keaksaraan dasar yang maknanya sekarang diperluas tidak sekedar pada kemampuan calistung tersebut. Konsep pendidikan keaksaraan dasar telah mengalami perkembangan yang diikuti kemudian oleh perkembangan konsep pendidikan keaksaraan itu sendiri yang ditandai munculnya gerakan konsep pendidikan keaksaraan dalam bentuk multi keaksaraan. Di Indonesia gerakan pendidikan keaksaraan mengalami perubahan penting dimulai dengan pendidikan keaksaraan dasar, pendidikan keaksaraan lanjut, dan pendidikan keaksaraan mandiri sejalan dengan apa yang dikembangkan oleh UNESCO. Konsep dasar pendidikan keaksaraan yang sedang dikembangkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat secara lebih lengkap berupa: (1) Pendidikan keaksaraan dasar yang berupa calistung dan diakhiri dengan peroleh surat tanda melek aksara (dikenal dengan istilah SUKMA); (2) Pendidikan keaksaraan lanjut yang berupa gerakan aksara agar berdaya (AKRAB) dan berkembang pada tahap berikutnya dalam bentuk gerakan aksara kewirausahaan atau keaksaraan usaha mandiri (KUM) sebagai dasar bagi peserta didik dapat mengikuti program Paket A. (3) Pendidikan keaksaraan mandiri yang berupa multi keaksaraan seperti keaksaraan digital, keaksaraan bencana, dan lain-lain yang pada fase berikutnya dapat mengikuti program Paket A, Paket B, dan Paket C sesuai persyaratan yang ditetapkan. Dalam konsep yang sedang dikembangkan itu, salah satu bentuk pendidikan keaksaraan yang diperlukan pada saat ini berupa multikeaksaraan. Mengapa diperlukan multikeaksaraan dan bagaimana bentuknya? Tulisan singkat ini akan membahas kedua hal itu secara konseptual dan faktual dalam batas-batas tertentu sepanjang tersedia data yang mendukungnya.
Literacy for The Remote Area Puji Yanti Fauziah
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i1.86

Abstract

Indonesia sebagai Negara besar yang memiliki wilayah yang sangat luas yaitu 1.910.931.32 km2, luas laut seluas 3.257.357 km², dengan garis pantai terpanjang kedua setelah kanada yaitu 54.716 km2 dan jumlah pulau 13.ooo pulau. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 241 juta jiwa menjadi potensi besar. Sumber daya alam yang melimpah serta jumlah penduduk yang besar menjadi modal utama untuk membangun Negara Indonesia yang berwibawa dan bermartabat di dunia Internasional. Pendidikan menjadi salah satu strategi yang digunakan untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Sistem pendidikan di Indonesia terbagi menjadi jalur jenjang dan jenis pendidikan. Jalur pendidikan di Indonesia terbagi menjadi tiga jalur yaitu jalur formal, nonfmal dan informal. Jalur formal berada dalam system persekolahan yang memiliki struktur yang mapan, berorientasi pada ijazah, peserta didik yang homogen dan kurikulum yang memiliki yang berorientasi ke depan, waktu yang ketat dan terjadwal serta kurikulum yang mapan.

Page 4 of 23 | Total Record : 224