Jurnal Akrab (Aksara agar Berdaya)
JURNAL AKRAB (Aksara agar Berdaya) adalah jurnal untuk mempublikasikan tulisan ilmiah populer, hasil penelitian/pengkajian, dan pengembangan model pembelajaran di bidang pendidikan nonformal, khususnya pendidikan keaksaraan dan pengembangan budaya baca masyarakat. Pengguna Jurnal adalah tenaga fungsional dari unsur Perguruan Tinggi, UPT PAUD dan Dikmas. Sanggar Kegiatan Belajar, dan para praktisi pendidikan nonformal. Jurnal Akrab diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal AKRAB menerima seluruh hasil penelitian dan pengembangan model pembelajaran meliputi bidang: Pendidikan keaksaraan dasar Pendidikan keaksaraan usaha mandiri Pendidikan multikeaksaraan Pengembangan budaya baca dan literasi masyarakat
Articles
224 Documents
Tema Kita: Pendidikan Keaksaraan, Modal Sosial dan Masyarakat Bermartabat
NFN Dr. Wartanto
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i2.88
Tema kita kali ini adalah pendidikan keaksaraan, modal sosial, dan masyarakat bermartabat. Setidaknya, ada dua subtema dari tema itu. Subtema kita yang pertama menyangkut hubungan pendidikan keaksaraan dengan modal sosial dan masyarakat sejahtera. Masyarakat memiliki modal sosial dan keinginan untuk menjadi masyarakat sejahtera. Masyarakat sejahtera dapat dicapai antara lain melalui pengembangan modal sosial. Selain itu, pengembangan modal sosial dan masyarakat sejahtera dapat dicapai melalui pendidikan, salah satunya melalui pendidikan keaksaraan. Oleh karena itu, pendidikan keaksaraan turut berperan dalam membangun modal sosial dan mewujudkan masyarakat sejahtera.
Model Pembelajaran Keaksaraan Menggunakan Media “Lagu Aksara”
A. Ismail Lukman
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i2.89
Dalam konteks pemberantasan buta aksara diperlukan metode khusus dalam pembelajaran keaksaraan. Media dipandang sebagai alat atau sarana pembelajaran yang memainkan peran dalam menyampaikan materi-materi keaksaraan. Inovasi media pembelajaran menjadi kunci keberhasilan program keaksaraan, salah satunya dengan pemanfaatan media “lagu aksara” sebagai bentuk pengembangan media audio visual. Keaksaraan menjadi permasalahan tersendiri bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Buta aksara merupakan salah salah satu bentuk ketertinggalan yang menjadi persoalan, dimana masyarakat yang mengalaminya tidak memiliki daya guna sama sekali. Semua masyarakat ingin menempati posisi teratas dan menjadi nomor satu di tempat dia berada. Namun, masyarakat yang mengalami buta aksara sangat jauh dari impian tersebut, tempat terbawah dan menjadi pekerja kasar merupakan tempat yang mau tidak mau akan menjadi tempatnya.
Modal Sosial dalam Penyelenggaraan Pendidikan Literasi Menuju Masyarakat yang Sejahtera
Entoh Tohani
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i2.90
Modal sosial sebagai suatu potensi yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan bermasyarakat perlu dikelola dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan literasi sebagai suatu wujud usaha edukatif guna mengembangkan warga masyarakat menjadi bermartabat dan sejahtera memerlukan modal sosial. Hal ini dapat dipahami bahwa penyelenggaraan pendidikan literasi terjadi melalui dan dalam hubungan para pelaku atau aktor yang memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Hubungan antar pelaku yang positif menjamin keefektivan pendidikan literasi.
Peran Pendidikan Literacy Ganda Dalam Pembentukan Masyarakat Bermartabat
NFN Sumarno
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i2.91
Krisis identitas dikawatirkan terjadi apabila masyarakat tidak memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai peradaban; hanyut, tenggelam, atau terlibas oleh perubahan-perubahan yang menghasilkan imajinasi semu seperti fatamorgana. Masyarakat membutuhkan kemampuan dan perlu melakukan upaya nyata agar supaya tidak menjadi korban perubahan, dapat melestarikan identitas diri, dan akan lebih baik lagi kalau berhasil mengarahkan dan mengendalikan perubahan; baik perubahan yang bersumber pada faktor internal, maupun perubahan yang bersumber pada kekuatan-kekuatan eksternal. Begitulah gambaran konteks dan tantangan mendasar yang dihadapi pendidikan dewasa ini. Pendidikan diharapkan secara simultan berkontribusi nyata dalam: pencerahan dan pengendaliannya; memperkuat ketahanan; dan secara cerdas bijaksana melakukan konservasi dan transformasi. Masyarakat berpengetahuan merupakan salah satu solusi kunci; dengan literasi ganda artinya memiliki kemampuan cukup untuk menghadapi persoalan di berbagai sektor kehidupan, sosial-kultural-ekonomi-politikipteks dan lingkungan alam. Pendekatan formal- nonformal-informal dalam pendidikan akan dapat isi mengisi secara sinergis untuk mengemban fungsi yang diamanatkan dalam pembentukan masyarakat bermartabat.
Pembelajaran Pendidikan Keaksaraan di Perguruan Tinggi
Yoyon Suryono
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i2.92
Salah satu mata kuliah yang dikembangkan di program studi S1 pendidikan luar sekolah (mulai tahun akademik 2014/2015 berubah menjadi program studi pendidikan nonformal) adalah mata kuliah pendidikan keaksaraan sebagai salah satu bidang penting dari delapan bidang pendidikan nonformal seperti tertuang pada Pasal 26 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Secara lengkap Pasal 26 ayat (3) menjelaskan bahwa pendidikan nonformal mencakup pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Keaksaraan Berbasis Potensi Lokal Dalam Upaya Pemberdayaan Masyarakat Desa
Yudan Hermawan
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i2.93
Masih belum optimalnya pengembagan sumber daya manusia melalui dinia pendidikan ternyata masih menjadi perasalahan di negara indonesia sehingga mengakibatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) Indonesia tergolong rendah. Hasil survei tentang HDI pada tahun 2013, sebagaimana laporan indeks pembangunan manusia yang dikeluarkan program perserikatan bangsa-bangsa atau United National Development Program (UNDP) atau HDI Indonesia hanya mencapai nilai 0,617 (http://www.id.undp.org). Hasil survei lembaga internasional tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk terus meningkatan mutu pendidikan. Upaya yang selama ini dilakukan selam ini ternyata belum maksimal dan belum mampu memecahkan masalah dasar pendidikan. Berdasarkan hal tersebut, maka dipandang perlu adanya langkah-langkah mendasar, konsisten dan sistematik baik melalui pendidikan formal, non formal dan informal.
Pengantar Redaksi: Tema Kita: Aksaraan dan Kemandirian Masyarakat
NFN Dr. Wartanto
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 3 (2014): September 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i3.94
Pemberdayaan Masyarakat Mentawai Melalui Program Pembelajaran Keaksaraan Fungsional Ade Rachmat Fikri
Ade Rachmat Fikri
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 3 (2014): September 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i3.97
Salah satu usaha untuk meningkatkan sumber daya manusia dilakukan dengan pendidikan, tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan kemampuan berfi kir, perubahan sikap, dan penambahan keterampilan hidup. Untuk mencapai tujuan itu pendidikan di Indonesia dapat diperoleh melalui tiga jalur sebagaimana dituangkan dalam Undang-undang (UU) No. 20 pasal 13 tahun 2003 tentang sitem pendidikan nasional yaitu “ Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.” Dengan adanya tiga jalur pendidikan ini, maka adanya kemungkinan bagi setiap warga negara Indonesia untuk memperoleh semua jenis pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Konsep Pendidikan Keaksaraan untuk Masyarakat Desa Oenunutno, Kabupaten Kupang–NTT “Sebuah Alternatif Solusi”
Afni Pascalia Vidapriyanti Taei
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 3 (2014): September 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i3.98
Pada pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945, tujuan pendidikan dicantumkan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan merupakan proses sistematis dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan merupakan tuntutan yang harus dilaksanakan oleh setiap warga Negara. Namun pada beberapa daerah seringkali ditemukan kasus rendahnya melek aksara masyarakat yang berdampak terhadap rendahnya kualitas hidup mereka, sebagai akibat tidak terlayaninya pendidikan keakasaran bagi seluruh lapisan masyarakat. Umumnya masyarakat yang tidak melek aksara menghadapi banyak kendala dalam memenuhi kebutuhan hidup termasuk kegiatan ekonomi keluarga akibat keterbatasan dalam keaksaraan.
Pendidikan Multikeaksaraan: Belajar Kehidupan dari Masyarakat Samin
NFN Mu'arifuddin
Jurnal AKRAB Vol. 5 No. 3 (2014): September 2014
Publisher : Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51495/jurnalakrab.v5i3.99
Tujuan kajian penulisan ini adalah memahami kebermaknaan pendidikan multi keaksaraan yang terjadi pada kehidupan masyarakat Samin sebagai kajian yang dapat kita ambil hikmat menjadi bahan belajar bersama dalam menjalani kehidupan secara sosial. Terbentuknya interaksi sosial sangat penting dalam menjalin keragaman kehidupan baik dalam hal ini adalah budaya, dalam menapaki kehidupan secara hakiki yang dapat dipertanggungjawabkan kelak di akhir hayat nanti. Kajian penulisan ini menggunakan metode studi pustaka. Sumber data didapatkan dari beberapa sumber pustaka, baik dari buku; artikel jurnal; web posting; serta penelusuran dari sumber lain yang relevan. Hasil kajian dapat disampaikan meski telah terbentuk pencitraan terhadap masyarakat Samin yang dilekatkan sangat kuat karena telah diformulasikan sedemikian rupa selama bertahun-tahun. Stereotipe negatif selalu mengikuti pendapat umum tentang masyarakat Samin. Pada umumnya masyarakat Samin dinilai sebagai masyarakat yang terbelakang, bodoh, sulit menerima modernisasi, serta tidak memiliki agama dan penyuka kehidupan ”kumpul kebo”. Dibalik itu semua, ada sisi positif yang dimiliki oleh masyarakat Samin dan ini diketahui masyarakat umum, yaitu kejujuran; kepolosan; dan perilaku kritis yang selalu selaras dengan alam lingkungannya.