BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Bonafide: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen is a scientific journal that publishes some original articles in Christian theology and education. Our focus and scope are biblical studies, Christian education, contextual theology, Christian leadership, church services, practical theology, systematic theology, and sociology of religion.
Articles
91 Documents
Tinjauan Buku: Iman dan Agama
Arthur Aritonang
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i1.133
Buku ini berisikan hasil seminar pembinaan iman Kristen yang berjudul “Iman dan Agama” yang diadakan oleh GRII (Gereja Reformend Injili Indonesia) dan ketika itu Dr. Stephen Tong menjadi keynote speaker. Tujuan dari hasil seminar ini dibukukan ialah: Pertama, agar umat memiliki keyakinan dan kepercayaan yang teguh. Kedua, memperdalam pengertian akan kebenaran dalam Yesus Kristus. Ketiga, memperoleh kekuatan untuk bersaksi bagi-Nya di dalam masyarakat. Secara isi penyajian buku ini hendak meresponi berbagai serangan yang diarahkan kepada iman Kristen di era modern. Dasar argumentasi yang dibangun oleh Stephen dalam menyingkapi serangan tersebut ialah Alkitab sebagai standar dan nilai tertinggi kebenaran. Bagi Stephen dari zaman ke zaman Alkitab mampu berdiri kokoh terhadap berbagai serangan yang ingin melemahkan Iman Kristen.
KAJIAN FILSAFAT KRISTEN TERHADAP PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA PADA PRAKTIK PEMBELAJARAN HYBRID
Egilia Lucky;
Jessica Elfani Bermuli
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i1.150
Keterampilan berpikir tingkat tinggi penting bagi siswa. Namun kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa di Indonesia semakin menurun, terutama di masa pandemi Covid-19 akibat penerapan pembelajaran daring. Siswa dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi melalui pembelajaran hybrid. Tujuan dari proyek ini adalah untuk menguji pentingnya filsafat Kristen pada keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dalam pembelajaran hybrid. Metode penulisan yang digunakan adalah kajian literatur. Filsafat Kristen yang digunakan adalah Antropologi Kristen yang membahas manusia sebagai gambaran Tuhan yang jatuh dalam dosa, sehingga membutuhkan anugerah keselamatan Kristus untuk kembali menjadi manusia sejati. Guru harus memiliki pemahaman yang benar tentang Antropologi Kristen agar kemampuan berpikir siswa berkembang. Siswa harus bertanggung jawab atas kemampuan berpikir yang diberikan oleh Tuhan. Dapat disimpulkan bahwa penting menggunakan filsafat Kristen untuk melihat perkembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam pembelajaran hybrid karena kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu sifat Allah yang terdapat pada manusia yang merupakan gambar Tuhan sehingga harus ditingkatkan. Saran yang diberikan adalah membahas semua filosofi Kristen untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas. Kata kunci: Antropologi Kristen, keterampilan berpikir tingkat tinggi, pembelajaran hybrid
MEMBACA KISAH ZAKHEUS DALAM PERSPEKTIF DISABILITAS
Imanuel Teguh Harisantoso
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i1.153
Penelitian bertujuan untuk menganalisis kisah Zakheus yang terdapat dalam Lukas 19:1-10 dalam perspektif disabilitas. Pemungut cukai, orang kaya, badan pendek dan orang berdosa adalah gambaran karakterisasi pribadi Zakheus. Ia diidentifikasi dalam citra negatif, tidak disukai masyarakat karena pekerjaan dan status sosialnya; diisolasi dari banyak orang, termasuk peran sosial agama dan politiknya. Pendekatan penafsiran disabilitas-poskolonial akan membantu peneliti menguarai stigma negatif yang menempel dalam identitas diri Zakheus. Pendekatan yang pro keadilan ini akan memandu untuk melihat secara objektif citra diri negatif, realisme sosial, kekuatan sosial, politik dan ideologis keagamaan yang mengkonstruksi Zakheus dalam balutan teks-teks suci agama. Ini akan menjadi pendekatan baru untuk menganalisis kekuatan ideologi dominan terhadap orang-orang lemah yang dikarakterisasi negatif. Hasilnya, asumsi fisignomi tubuh pendek sebagai gambaran karakteristik manusia dan rendahnya spiritualitas seseorang tidak patut untuk dijadikan ukuran; ketiadaan kesembuhan fisik sebagaimana pendekatan model medis menandakan bahwa persoalan disabilitas tidak hanya soal personal, melainkan masalah relasi sosial; dan kehadiran Yesus di rumah Zakheus merupakan simbol aksesibilitas dan inklusivitas bagi semua orang.
KAJIAN TEOLOGIS TERHADAP BUDAYA BELIS DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT SUMBA
Yunus Selan;
Apliana Beili;
Sri Dwi Harti
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i1.156
This study discusses the theological analysis of giving belis in marriages for the people of Sumba. This culture or custom has been passed down from generation to generation and always intersects with church marriage. There are many different responses to belis in Sumba community marriages, especially from Christians. The research method used is a literature study. The object of study is the giving of dowries in the marriages of Isaac and Rebekah, Jacob and Rachel, David and Michal, and Shechem and Dina. Theological reflections obtained from this study: First, dowry in the Bible is given as a sign of respect for women and their families. Second, dowry is not coercion but rather the ability of a man to prove his love for a woman who wants to be his wife. Therefore, if it is applied to the belis culture in the Sumbanese people, belis does not conflict with the Christian faith, and belis has positive things that aim to help each other. The implications include: First, belis must be given according to the man's ability. Second, belis may not be held to fulfill the personal ambitions of the bride and groom or their family. Purchase payments must be made for the common good. Third, belis is given in an honorable way. There is no need to justify any means to prove the ability to pay belis at high prices.
ETIKA KOMUNIKASI GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI TENGAH KEMAJUAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
Yosia Belo;
Rika S.
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i1.157
The Communication Ethics of Christian Religious Education teachers in the midst of advances in information and communication technology is an urgent topic for research. Because Christian Religious Education teachers need to know the right way to communicate so that they can have a positive and significant impact on every student they teach. By using qualitative methods, especially analyzing related literature, several research results related to this topic were obtained. There are five principles described as follows: prioritizing communication with God, being able to filter any information found and obtained on the internet, using every information technology tool and service always based on the principles of the true Christian faith, upholding wise communication in teaching, and practicing communication that renews and embraces.
KRITIK TERHADAP PENGANUT AGAMA KRISTEN DAN AGAMA SUKU MENURUT PERSPEKTIF IMMANUEL KANT DALAM KONTEKS SUKU BOTI
Remegises Pandie
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i1.158
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan kritik Immanuel Kant terhadap agama dalam konteks kehidupan beragama yang terjadi di desa Boti. Tulisan ini mengacu pada kerangka teoritis Imannuel Kant dan urgensinya bagi kehidupan beragama, khususnya di desa Boti. Seperti yang dijelaskan Kant bahwa keyakinan agama murni bukanlah untuk membangun institusi manusia baru, tetapi untuk melakukan kritik rasional terhadap agama-agama yang ada dan mencoba membimbing agama-agama dalam kemajuan menuju cita-cita komunitas manusia universal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode fenomenologi dan studi kepustakaan. Dalam penelitian, Peneliti menemukan bahwa kritik Immanuel Kant memberikan pemahaman baru kepada orang Kristen dan penganut agama suku (halaika) untuk menempatkan agama dengan benar dan terbuka baik secara logis maupun moral. Ini berarti bahwa moral dan logika tidak berdiri sendiri tetapi berjalan bersama dengan tujuan membuat perubahan yang baik untuk semua orang. Kritik Kant berguna karena memberikan kontribusi konstan terhadap peningkatan moralitas agama dan logika agama pada setiap orang.
Tinjauan Buku: Jumpa Allah Dalam Markus
Riste Tioma Silaen
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i1.161
Buku ini ditulis dengan sederhana, memakai sumber Injill Markus secara ketat. Di dalamnya ada ajakan nyata untuk pembaca agar mengalami perjumpaan dengan Yesus secara nyata. Perjumpaan dengan Yesus Kristus telah dialami oleh tokoh gereja lainnya dan memberi dampak besar bagi gereja. Tentu pembaca Injil Markus masa kini akan berdampak bagi pertumbuhan dan perkebangan Gereja jika mengalami perjumpaan dengan Yesus.
R-20 DAN AMBIVALENSI AGAMA: TANTANGAN DALAM MEREKONSTRUKSI IDENTITAS AGAMA
Eikel Ginting
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i1.162
Forum G20 dimana Indonesia sebagai tuan rumah yang berlangsung pada tahun 2022, ternyata diiringi dengan pelaksanaan forum R20 yang diinisiasi oleh PBNU. Forum yang menjadi perjumpaan tokoh-tokoh antar agama dari berbagai belahan dunia. Perjumpaan antar tokoh agama ini, menjadi dorongan untuk agama dalam melakukan aksi-aksi perdamaian dan kemanusiaan. Sebagai wadah yang menjadi jembatan antar tokoh agama ini, terdapat tantangan dan juga perbedaan tujuan yang menjadi jembatan. Belum juga narasi luka dan sejarah kekerasan yang terjadi antar agama, menjadikan hambatan dalam perjumpaan-perjumpaan antar agama menjadi kaku dan sekedar formalitas belaka. Maka dalam tulisan ini ingin menelisik peran dan makna forum R20, dalam merekonstruksi identitas agama. Identitas agama yang bersifat dualistik makna, bisa dimaknai sebagai akar kekerasan bisa juga dimaknai sebagai akar perdamaian. Penelitian ini menggunakan kajian literatur, dengan menggunakan sumber-sumber yang mengulas tentang hasil dan arah dari Forum R-20. Dilengkapi dengan analisa kepustakaan terkait dengan makna agama, dan identitas agama yang dualistik. Melalui tulisan ini ditemukan bahwa forum R-20, menjadi harapan baru agama, untuk berfokus masalah kemanusiaan, ekologis, dan juga permasalahan sosial-ekonomi. Dengan mengedepankan nilai-nilai tersebut, maka konstruksi wajah agama yang ambivalensi akan mengarahkan setiap umat beragama untuk mengedepankan nilai perdamaian dan pembangunan kemanusiaan.
MAKNA TANGGUNG JAWAB GEMBALA JEMAAT BERDASARKAN TEKS II TIMOTIUS 4:1-8 DALAM PERSPEKTIF BIBLIKAL
Manna Y. Sanderan;
Yusuf L. M;
Kristin Oktaviani
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i1.165
Dalam artikel ini menguraikan tentang tanggung jawab gembala jemaat yang didasarkan pada perspektif Biblikal dari teks surat II Timotius 4:1-8. Secara umum tanggung jawab gembala jemaat adalah memelihara jemaat Tuhan dalam hal kerohanian dengan tujuan agar jemaat tersebut mengalami pertumbuhan iman yang baik kepada Kristus. Namun secara khusus dalam teks ini, rasul Paulus memberikan potret tanggung jawab gembala secara sistematik dan terperinci kepada Timotius mengingat bahwa di hadapan Allah Tritunggal yang akan menghakimi, pesan ini disampaikan dengan otoritas agar Timotius hendaknya siap sedia mengkhotabhkan Kabar Baik (Injil) meski dalam situasi dan kondisi yang tidak baik, Timotius hendaknya berani menegor dan menyatakan kesalahan dengan penuh pengajaran, memiliki penguasaan diri, sabar menderita serta menunaikan tugas pelayanan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Artikel ini bertujuan untuk memberikan sumbangsi pemikiran tentang makna tanggung jawab gembala jemaat dalam perspektif Biblikal yang didasarkan pada teks II Timotius 4:1-8 yang kemudian dapat berimplikasi kepada para gembala jemaat masa sekarang untuk dapat menerapkan dan merealisasikan tugas tanggung jawab tersebut dalam pelayanan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan Eksegetis yaitu analisis terhadap Historical Gramatical. Adapun makna tanggung jawab gembala jemaat di dalam teks surat II Timotius 4:1-8 adalah siap sedia mengkhotbahkan Kabar Baik (Injil) meski dalam situasi dan kondisi yang tidak baik, berani menegor dan menyatakan kesalahan dengan penuh pengajaran, memiliki penguasaan diri, sabar menderita serta menunaikan tugas pelayanan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Kata kunci: Gembala, Jemaat, Tanggung Jawab
KAJIAN TERHADAP KISAH PARA RASUL 10:34-36: UNTUK MENJAWAB PANDANGAN PLURALIS MENGENAI YESUS TUHAN SEMUA ORANG
Hendrik Yufengkri Sanda
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 1 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i1.168
Iman Kristen unik dari semua bentuk kepercayaan manapun di dunia, sebab iman Kristen percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan satu-satunya Juruselamat manusia. Klaim eksklusif tersebut menimbulkan berbagai macam pertanyaan: Bagaimana dengan segala bentuk kepercayaan yang lain? Bukankah hal itu merupakan suatu anggapan yang subjektif berdasarkan semangat fanatisme agama dan sikap arogansi yang berlebihan mentuhankan seorang manusia Yesus? Bukankah benar anggapan para teolog pluralis agama-agama bahwa di semua agama juga memiliki kebenaran dan juruselamat lain sehingga dapat memimpin kepada keselamatan tanpa perlu percaya kepada Yesus? Bukankah Yesus yang disembah orang Kristen hanyalah Tuhan bagi mereka saja sebab dalam agama-agma lainpun memiliki tuhan yang lain? Dan masih banyak pertanyan lainnya. Penelitian ini bermaksud memahami makna asli dari ungkapan rasul Petrus bahwa Yesus Kristus Tuhan semua orang. Metode yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutis. Berdasarkan hasil eksegesis terhadap teks Kis.10:34-36 maka Frasa Yesus Kristus Tuhan semua orang berarti Yesus Kristus adalah Tuhan yang berkuasa atas seluruh ciptaan-Nya sehingga Ia layak disembah sebagai Tuhan dan Juruselamat manusia.