cover
Contact Name
Trisno Subekti
Contact Email
lppm@stikesdhb.ac.id
Phone
+6285220045869
Journal Mail Official
lppm@stikesdhb.ac.id
Editorial Address
Jalan Terusan Jakarta No. 75 Antapani Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Sehat Masada
ISSN : 19792344     EISSN : 25025414     DOI : https://doi.org/10.38037
Core Subject : Health,
Sehat Masada adalah sebuah Jurnal untuk menampung hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan kesehatan, khususnya tentang Kesehatan Masyarakat, Keperawatan, Kebidanan, dan Refraksi Optisi. Jurnal ini terbit dua kali setahun (Januari dan Juli).
Articles 511 Documents
Tingkat Pengetahuan Siswa SMA tentang Kacamata Koreksi sebagai Alat Bantu Penglihatan Alisa Novianti; Trisno subekti; Heri Hermawan
Jurnal Sehat Masada Vol 18 No 1 (2024): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v18i1.598

Abstract

Kacamata koreksi adalah salah satu pilihan pada koreksi kelainan refraksi. Koreksi pada kelainan refraksi perlu diperhatikan untuk mendapat tajam penglihatan yang sempurna. Pemakaian kacamata koreksi pada anak harus dilakukan secara rutin yaitu dipakai setiap saat selama sekolah dan melakukan aktivitas lain terutama membaca. Apabila pemakaiannya tidak rutin atau tidak akurat maka akan menimbulkan ambliopia, menganggu proses belajar, penurunan fungsi penglihatan dan mengurangi quality of life. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa/i Kelas XI SMA Negeri 1 Cikalongwetan tentang Kacamata koreksi sebagai Alat Bantu Penglihatan. Jenis penelitan ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan pengambilan sampel secara purposive sampling yang berjumlah 73 siswa. Hasil penelitian ditemukan bahwa berdasarkan tingkat pengetahuan pada siswa kelas xi yang berjumlah 73 orang siswa didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan sebelum diberi edukasi sebagian besar kategori kurang yaitu sebanyak 42 responden (58%), kategori cukup sebanyak 24 responden (33%) dan kategori baik sebanyak 7 responden (9%). Hal ini menyebabkan banyak siswa yang memiliki kelainan refraksi namun mereka tidak menggunakan kacamata dikarenakan banyak siswa yang belum pengetahui peran penting kacamata sebagai alat bantu penglihatan.
ANALISIS IMPLEMENTASI PENANGGULANGAN HIV AIDS DI DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT Gugum Pamungkas; Gultom Oktavia Indah
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hingga tahun 2024, Provinsi Jawa Barat mencatat 80.060 kasus HIV dan 17.668 kasus AIDS. Untuk mendukung target Ending AIDS 2030, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat melaksanakan berbagai strategi penanggulangan HIV sesuai kebijakan Kementerian Kesehatan RI melalui pendekatan Getting Three Zero. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan penanggulangan HIV/AIDS berdasarkan teori implementasi kebijakan George C. Edwards III yang meliputi komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif evaluatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi telah dilakukan melalui berbagai media, namun kejelasan dan konsistensinya belum merata, terutama pada lintas sektor. Ketersediaan sumber daya manusia, anggaran, dan informasi kebijakan masih belum memadai dibandingkan cakupan wilayah serta kompleksitas program. Disposisi pelaksana tergolong baik, meskipun pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan belum optimal. Struktur birokrasi telah didukung SOP yang jelas, tetapi koordinasi lintas sektor masih lemah sejak tidak aktifnya Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi. Secara keseluruhan, implementasi kebijakan telah berjalan cukup baik, namun memerlukan penguatan sinergi lintas sektor, sumber daya, dan komunikasi agar efektivitas program meningkat.
HUBUNGAN USIA DAN LAMA BEKERJA PERAWAT DENGAN GAYA MANAJEMEN KONFLIK DI PUSAT MATA NASIONAL RUMAH SAKIT MATA CICENDO BANDUNG Yunita Fitri Rejeki; Sari Nurrita
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Konflik dalam organisasi pelayanan kesehatan, khususnya di lingkungan rumah sakit, merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari dan memiliki dampak signifikan terhadap kinerja serta kualitas layanan. Perbedaan usia dan lama bekerja perawat diperkirakan turut memengaruhi gaya manajemen konflik yang mereka terapkan. Tujuan: Menganalisis hubungan antara usia dan lama bekerja perawat dengan gaya manajemen konflik di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan rancangan cross-sectional. Sampel berjumlah 91 perawat ditentukan melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner demografi dan Rahim Organizational Conflict Inventory-II (ROCI-II). Uji statistik menggunakan Chi-square dan Fisher Exact Test dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil: Sebagian besar responden berusia 30–50 tahun (73,6%) dan memiliki masa kerja 11–20 tahun (46,2%). Gaya manajemen konflik yang dominan digunakan adalah gaya integrating (78,0%) dan compromising (18,7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia dan gaya manajemen konflik (p = 0,042), serta antara lama bekerja dan gaya manajemen konflik (p = 0,321), dimana nilai p > 0.05 sehingga secara statistik tidak terdapat antara lama bekerja perawat dengan gaya manajemen konflik. Kesimpulan: Usia perawat berhubungan signifikan dengan gaya manajemen konflik yang diterapkan. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan faktor usia dalam perencanaan pelatihan serta pengelolaan sumber daya manusia keperawatan.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS AKUPRESUR PADA TITIK PERIKARDIUM 6 (PC6) DAN ZU SAN LI (ST36) DALAM MENGATASI INTENSITAS MUAL MUNTAH PADA IBU HAMIL TRIMESTER I DI KLINIK AMI MEDIKA KABUPATEN SUKABUMI Yeti Hernawati; Agustin Yuniava Sidiq; ida suryani; Oktarina Sri Iriani
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mual muntah pada trimester I kehamilan merupakan keluhan yang sering dialami ibu hamil dan dapat mengganggu aktivitas serta status gizi ibu. Salah satu intervensi untuk mengatasi mual muntah adalah dengan akupresur. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas akupresur pada titik PC6 dan ST36 dalam mengatasi intensitas mual muntah pada ibu hamil trimester I di Klinik Ami Medika Kabupaten Sukabumi. Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimen dengan rancangan Pretest–Posttest Two Group Design. Sampel terdiri dari 30 responden ibu hamil trimester I yang mengalami mual muntah dan dibagi menjadi dua kelompok perlakuan, yaitu 15 responden pada kelompok akupresur PC6 dan 15 responden pada kelompok akupresur ST36. Intensitas mual muntah diukur menggunakan skala Pregnancy-Unique Quantification of Emesis and Nausea (PUQE) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian terhadap perbandingan efektivitas akupresure PC6 dan ST36 sama-sama memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan mual muntah pada ibu hamil Trimester I (P=0,000). Namun, pada rata-rata penurunan dan rentang nilai Confidence Interval, titik PC6 menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi (CI 95%: 4,660-7,340) dibandingkan dengan titik ST36 (CI 95%: 4,644-6,356). Hal ini menunjukkan bahwa intervensi akupresure titik PC6 lebih efektif dalam menurunkan mual muntah pada ibu hamil trimester I dibandingkan dengan titik ST36. Disarankan tenaga kesehatan dapat mengajarkan teknik akupresur ini sebagai upaya nonfarmakologis dalam menangani keluhan mual muntah pada kehamilan.
PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO COMPUTER VISION SYNDROME PADA ANAK Anggit Nugroho; Motris Pamungkas; Feranita Alisha Hendra
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan perangkat digital yang intensif di kalangan anak usia sekolah memicu peningkatan risiko gangguan mata. Penelitian bertujuan mengidentifikasi tanda dan gejala, menghitung prevalensi berdasarkan karakteristik demografis, menganalisis faktor risiko, serta menelaah hubungan antara Computer Vision Syndrome (CVS) dengan kelainan refraksi miopia pada anak. Penelitian menggunakan metode kajian literatur (literature review). Data dari berbagai database elektronik ilmiah bereputasi berfokus pada populasi anak usia 8–18 tahun. Data disintesis dan dianalisis secara deskriptif komparatif. Temuan utama menunjukkan prevalensi CVS anak usia sekolah mencapai lebih dari 60%, dengan keluhan paling dominan berupa mata lelah, mata merah, penglihatan kabur, dan sakit kepala. Faktor risiko signifikan meliputi durasi screen time yang panjang, posisi duduk yang tidak ergonomis, dan pencahayaan buruk. Karakteristik individu memengaruhi variasi keluhan, laki-laki cenderung lebih banyak melaporkan gejala akut. Sintesis data juga menegaskan bahwa miopia tidak berhubungan secara kausal langsung sebagai penyebab CVS, melainkan kondisi sekunder yang dapat diperparah oleh kebiasaan penglihatan yang buruk saat menatap layar. CVS pada anak memberikan dampak fisiologis dan psikologis yang nyata. Implikasi potensial dari hasil penelitian ini menekankan pentingnya intervensi dini berbasis edukasi kesehatan mata. Direkomendasikan bagi orang tua, pendidik, dan praktisi optometri untuk menerapkan aturan ergonomi dan pembatasan durasi layar seperti metode 20-20-20, serta menggalakkan pemeriksaan mata berkala sejak dini.
ANALISIS HASIL DETEKSI DINI GANGGUAN PENGLIHATAN DAN PEMERIKSAAN KELAINAN REFRAKSI PADA MASYARAKAT PULAU TIDUNG, KEPULAUAN SERIBU Arief Witjaksono; Anggit Nugroho; Motris Pamungkas
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterbatasan akses layanan kesehatan mata di wilayah kepulauan menyebabkan tingginya kasus gangguan penglihatan yang belum terdiagnosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis hasil deteksi dini gangguan penglihatan dan kelainan refraksi pada masyarakat Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, sebagai dasar penyusunan program kesehatan mata berkelanjutan. Penelitian menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan kuantitatif pada 184 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pemeriksaan meliputi skrining tajam penglihatan menggunakan Snellen chart, refraksi objektif dengan autorefraktometer, dan refraksi subjektif menggunakan trial frame serta lensa. Data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil menunjukkan presbiopia merupakan kelainan terbanyak (53,6%), diikuti astigmatisme (33,8%), miopia dan astigmatisme miopia (masing-masing 14,7%), serta hipermetropia (3,8%). Kelainan refraksi lebih banyak ditemukan pada kelompok usia 46–55 tahun dan perempuan. Sebanyak 90,7% peserta membutuhkan kacamata koreksi yang langsung diberikan di lokasi. Tingginya prevalensi kelainan refraksi menunjukkan perlunya penguatan layanan kesehatan mata melalui skrining berkala, edukasi masyarakat, dan penyediaan fasilitas koreksi penglihatan yang berkelanjutan di wilayah kepulauan.
EVALUASI TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA TINGKAT TIGA DIPLOMA III OPTOMETRI STIKES DHARMA HUSADA TENTANG ANATOMI MATA Desi Utami Helisarah; Fiqria Nur Rizqiyanti
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemahaman anatomi mata merupakan kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa optometri sebagai landasan dalam pemeriksaan dan pelayanan kesehatan mata. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat pengetahuan mahasiswa tingkat III Program Diploma III Optometri STIKes Dharma Husada Bandung mengenai anatomi mata. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel ditentukan menggunakan teknik total sampling terhadap 34 mahasiswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertutup berisi 10 soal pilihan ganda yang telah divalidasi dan dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa masih tergolong rendah dengan rata-rata skor 43%. Sebanyak 73,5% responden memiliki tingkat pengetahuan kurang, 17,7% cukup, dan hanya 8,8% berkategori baik. Berdasarkan area anatomi, pemahaman terendah terdapat pada struktur anterior mata (91% kategori kurang), diikuti struktur posterior mata (64,5%), sedangkan pengetahuan mengenai otot bola mata relatif lebih baik. Temuan ini menunjukkan perlunya evaluasi kurikulum serta pengembangan metode pembelajaran yang lebih inovatif dan interaktif, seperti pemanfaatan media visual, model tiga dimensi, dan simulasi digital, guna meningkatkan pemahaman anatomi mata mahasiswa optometri.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL DENGAN MINAT PENGGUNAAN IUD POST PLACENTA DI WILAYAH KERJA DESA BUNIASIH KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2025 Lilis Siti Rukoyah; Naili Rahmawati; Roni Rowawi; Siti Sugih Hartiningsih
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IUD post placenta merupakan metode kontrasepsi yang dipasang segera setelah plasenta lahir. Di wilayah kerja Desa Buniasih, Kabupaten Tasikmalaya, penggunaan IUD pada tahun 2024 masih rendah (7,99%) dibandingkan metode kontrasepsi lainnya, yang diduga dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan dan kekhawatiran ibu terhadap pemasangan IUD pascapersalinan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan ibu hamil dengan minat penggunaan IUD post placenta. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan bivariat, teknik purposive sampling, dan melibatkan 34 responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 61,8% responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik, sedangkan minat menggunakan IUD post placenta terbagi sama antara kategori tinggi dan rendah (masing-masing 50%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pengetahuan ibu hamil dan minat penggunaan IUD post placenta di wilayah kerja Desa Buniasih, Kabupaten Tasikmalaya.
ANALISIS PENGETAHUAN DAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PENYAKIT KATARAK DI DESA CIBURIAL KECAMATAN CIMENYAN, KABUPATEN BANDUNG Mayarani Mayarani; Fitri Kustiawati
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v20i2.612

Abstract

Penyakit katarak merupakan penyebab utama gangguan penglihatan global yang dapat mengakibatkan kebutaan jika tidak ditangani sejak dini. Di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, karakteristik wilayah dataran tinggi dengan aktivitas luar ruangan yang intens meningkatkan risiko paparan sinar ultraviolet bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat di Desa Ciburial terhadap pencegahan dan penanganan penyakit katarak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian mencakup warga RT.05 RW.01 Desa Ciburial yang berjumlah 437 orang. Sampel dipilih menggunakan teknik probability sampling dengan rumus Slovin hingga diperoleh 100 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis univariat melalui distribusi frekuensi persentase. Hasil analisis menunjukkan karakteristik responden didominasi oleh kelompok usia 17–25 tahun (73%) dan berpendidikan SMA (52%). Sebanyak 67% responden memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori cukup, 30% berkategori baik, dan 3% berkategori kurang. Dari aspek sikap, mayoritas responden menunjukkan sikap dalam kategori baik (73%), diikuti kategori sangat baik (13%), kurang (9%), dan sangat kurang (5%). Secara umum, masyarakat Desa Ciburial memiliki pengetahuan yang cukup dan sikap yang baik terhadap penyakit katarak. Namun, keberadaan kelompok usia tua dan berpendidikan rendah memerlukan intervensi yang lebih spesifik. Tenaga kesehatan seperti optometris disarankan meningkatkan penyuluhan menggunakan media yang aplikatif, memfasilitasi program skrining mata gratis secara rutin, serta melatih kader kesehatan desa demi menekan risiko kebutaan akibat keterlambatan penanganan katarak.
PREVALENSI GANGGUAN PENGLIHATAN PADA MASYARAKAT DI PONDOK PESANTREN PESISIR IBNU BATUTAH PAKISJAYA, KABUPATEN KARAWANG, PROVINSI JAWA BARAT Motris Pamungkas; Ade Rachmatulloh; Iwan Nirwana; Alwi Awaludin; Evi Evi; Muhammad Hisyam; Pian Hermansah; wildan Agustin Suangsa
Jurnal Sehat Masada Vol 20 No 2 (2026): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v20i2.614

Abstract

Gangguan penglihatan di wilayah pesisir sering kali terabaikan akibat keterbatasan akses pelayanan kesehatan mata dan paparan lingkungan yang ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gangguan penglihatan pada masyarakat di Pondok Pesantren Pesisir Ibnu Batutah, Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Penelitian kuantitatif deskriptif ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional). Dari populasi target sebanyak 307 orang, diperoleh sampel sebanyak 289 peserta yang memenuhi kriteria inklusi menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data klinis dilakukan melalui pemeriksaan tajam penglihatan (Snellen chart), pemeriksaan refraksi objektif (autorefraktometer) dan subjektif, skrining kelainan organik, serta pengukuran tekanan darah. Analisis data dilakukan secara statistik deskriptif menggunakan persentase distribusi frekuensi. Mayoritas responden berada dalam kondisi emetropia (81%), sedangkan 19% lainnya mengalami ametropia (kelainan refraksi). Prevalensi presbiopia ditemukan sangat tinggi, yaitu mencapai 76% dari total peserta yang diperiksa. Selain itu, sebanyak 8% peserta terdeteksi memiliki suspek kelainan organik seperti katarak, pterigium, dan konjungtivitis. Intervensi langsung diberikan berupa kacamata koreksi gratis bagi penderita ametropia dan presbiopia, serta rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan bagi penderita suspek kelainan organik. Terdapat prevalensi kelainan refraksi, presbiopia, dan suspek patologi mata yang cukup signifikan di komunitas pesantren pesisir Karawang. Program skrining berkala terintegrasi dan penyediaan alat bantu penglihatan sangat direkomendasikan untuk mencegah penurunan kualitas hidup dan menekan angka kebutaan yang dapat dihindari di wilayah pesisir.