cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Fitopatologi Indonesia
ISSN : 02157950     EISSN : 23392479     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Fitopatologi Indonesia (JFI) is an official publication owned by the Indonesian Phytopathology Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia). In 2010, JFI management was given to PFI Komda Bogor. Since then, JFI has been published 6 times (January, March, May, July, September, and November).
Arjuna Subject : -
Articles 412 Documents
Keragaman Morfologi dan Molekuler Lasiodiplodia theobromae dari Tanaman Jeruk, Kakao, Karet, Manggis, dan Pisang Fitri Kemala Sandra; Yayu Siti Nurhasanah; KIKIN MUTAQIN; Suryo Wiyono; Efi Toding Tondok
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 2 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.2.58-66

Abstract

Morphological and Molecular Diversity of Lasiodiplodia theobromae Isolated from Citrus, Cocoa, Rubber, Banana and Mangosteen Plants The fungus Lasiodiplodia theobromae is an important and cosmopolitan pathogen in the tropics and subtropics. The range of host plants is very wide, including economic commodities in Indonesia, i.e. citrus, cocoa, rubber, banana and mangosteen. The intraspecies diversity of fungi isolates from those five plants from different provinces in Indonesia was observed based on the morphological characteristics and molecular markers of RAPD-PCR. The intraspecies diversity was shown from the growth rate of the vegetative growth of the colonies on PDA as a base medium and the ability to produce reproductive structures. The fungal isolates from citrus, rubber and banana were able to grow faster and produce pycnidium and conidium in both PDA and modified-WA medium, while the cocoa and mangosteen isolates grow slower and only could produce these reproductive structures in the WA medium. The diversity between isolates in L. theobromae species was indicated by the morphological difference of the reproductive structures. Young conidium (aseptate) has a length ranging from 13.5-25.7 μm, width 8.1-14.0 μm, and length/width ratio 1.5-2.2; while for mature conidium (septate) 15.4-23.6 μm long, 10.7-12.8 μm wide, length/width ratio 1.4-1.9. Although the conidium sizes between isolates showed differences, they were still within the range of size of the L. theobromae species. The profile of RAPD-PCR DNA fragments using single primers OPB-01 and OPB-07 each resulted in different numbers and sizes of DNA bands between the five isolates, thus indicating the existence of molecular diversity between isolates within the same species.
Molecular Characters of AB-FAR Gene 1 of Aphelenchoides besseyi from Five Rice Varieties Fitrianingrum Kurniawati; Efi Toding Tondok; Yayi Munara Kusumah; Abdul Munif
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 3 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.3.121-130

Abstract

Aphelenchoides besseyi merupakan nematoda penyebab penyakit pucuk putih yang terbawa benih padi. Gen AB FAR-1 diketahui sebagai gen penting yang mengendalikan patogenisitas A. besseyi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui karakter gen AB FAR-1 yang diisolasi dari nematoda yang berasal dari benih padi. Ekstraksi nematoda dilakukan dengan metode corong Baerman dari benih 5 varietas padi “Ciherang“, “Inpari Sidenuk“, “Sintanur“, “Hibrida Prima“ dan “Pak Tiwi“. Ekstraksi DNA total nematoda menggunakan metode CTAB dilanjutkan dengan amplifikasi gen AB FAR-1 menggunakan primer spesifik FAR-F1/R1 dan analisis urutan nukleotidanya. Pita DNA spesifik gen AB FAR-1 berukuran 150 pb berhasil diamplifikasi dari semua sampel nematoda. Analisis sekuen menunjukkan bahwa gen AB FAR-1 tersebut memiliki homologi tertinggi (92.5 – 100%) dengan aksesi Genbank JQ686690.1, yaitu gen AB FAR-1 A. besseyi asal Cina. Walaupun memiliki homologi yang tinggi, terdapat beberapa perbedaan nukleotida pada sampel gen AB FAR-1 A. besseyi asal “Ciherang“, “Inpari Sidenuk“ dan “Hibrida Prima“. Analisis pohon filogenetika lebih lanjut mengelompokkan gen AB FAR-1 A. besseyi menjadi 2 grup, yaitu grup 1 terdiri atas gen AB FAR-1 A. besseyi asal Cina, “Sintanur“, “Hibrida Prima“ dan “Pak Tiwi“ dan grup 2 gen AB FAR-1 A. besseyi asal “Ciherang“, dan “Inpari Sidenuk“.
Pola Teknik Budi Daya dan Sifat Kimia Tanah yang Berhubungan dengan Penyakit Blas pada Padi Sawah Yuyun Andriyani; Suryo Wiyono
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 2 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.2.76-82

Abstract

Penyakit blas yang disebabkan Pyricularia oryzae merupakan penyakit yang paling merusak di semua negara penghasil padi. Namun epidemi penyakit blas pada padi di Indonesia tergolong baru, yang sebelumnya dikenal sebagai penyakit utama padi gogo. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor agronomi dan tanah yang berhubungan dengan perkembangan penyakit blas padi. Penyakit blas dinilai pada 50 petak sawah menggunakan sistem skor IRRI. Petani yang menanam padi di petak pengamatan diwawancarai menggunakan kuesioner terstruktur tentang teknik budi daya yang meliputi varietas, pupuk organik dan pupuk sintetik NPK, penggunaan insektisida, fungisida, dan herbisida. Analisis kimia tanah dilakukan terhadap pH, C organik, N, P, K, Ca, Mg, Si, Zn, Mn, Cu pada tanah yang diperoleh dari ledakan penyakit blas berat dan ringan, dengan lima sampel untuk masing-masing kategori. Data faktor teknik budi daya (varietas, pemupukan, penggunaan pestisida, penggunaan bahan organik) ditabulasi silang dalam tabel kontingensi terhadap dua tingkat keparahan penyakit, dan selanjutnya dianalisis tingkat nyata keterkaitan. Sifat kimia tanah plot yang keparahan penyakitnya berbeda dianalisis. Faktor agronomi yang berhubungan dengan tingginya keparahan penyakit blas padi sawah ialah penggunaan varietas Ciherang, penggunaan pestisida frekuensi tinggi, dan penggunaan herbisida. Sifat tanah yang berhubungan dengan tingkat epidemi ledakan penyakit ialah kadar N, P, K, S, Si, dan unsur mikro tanah.
The Keefektifan Bakteri Asal Lahan Gambut sebagai Agens Pengendalian Penyakit Kresek dan Pupuk Hayati pada Tanaman Padi Giyanto Giyanto; Ali Nurmansyah
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 2 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.2.67-75

Abstract

Penggunaan mikrob untuk pengendalian penyakit dan pupuk hayati telah dikembangkan sebagai alternatif bagi pengembangan pertanian ramah lingkungan. Upaya mendapatkan mikrob tersebut terus dilakukan dengan eksplorasi mikrob dari berbagai tipe habitat ekologi untuk mendapatkan yang diinginkan. Lahan gambut diduga mengandung banyak jenis mikrob khususnya bakteri yang berpotensi sebagai agens antagonis sekaligus pupuk hayati yang bermanfaat bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan mendapatkan galur bakteri yang berpotensi mengendalikan penyakit kresek atau hawar daun bakteri yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv. oryzae sekaligus sebagai pupuk hayati. Tahapan penelitian mencakup pengambilan sampel, isolasi bakteri asal lahan gambut serta uji potensinya sebagai agens hayati terhadap X. oryzae pv. oryzae, uji keamanan hayati, karakterisasi galur potensial, uji keefektifan bakteri sebagai agens antagonis sekaligus pupuk hayati in planta. Bakteri yang diisolasi dari tanah hutan gambut dan sawah bekas lahan gambut ialah sebanyak 134 isolat bakteri dan 40 di antaranya memiliki karakteristik morfologi yang berbeda. Sebanyak 14 galur bakteri asal tanah gambut mampu menekan perkembangan X. oryzae pv. oryzae. Karakterisasi 14 galur bakteri terhadap uji hypersensitive response, hemolisis agar-agar darah, kemampuan menambat nitrogen, siderofor yang dihasilkan, pelarut fosfat serta degradasi selulosa menghasilkan empat galur bakteri potensial. Keempat galur ini tidak berpotensi sebagai patogen terhadap tanaman maupun mamalia serta memiliki karakter sebagai pupuk hayati. Uji in planta empat galur bakteri ini menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu menekan keparahan penyakit hawar daun pada padi serta meningkatkan pertumbuhan padi pada fase vegetatif.
Pengaruh Kombinasi Perlakuan Air Panas dan Kultur Jaringan terhadap Infeksi Virus pada Bawang Merah Astri Windia Wulandari Wulandari; Sobir Sobir; Sri Hendrastuti Hidayat
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 2 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.2.49-57

Abstract

Sebagian besar petani bawang merah di Indonesia menggunakan umbi sebagai bahan perbanyakan meskipun banyak penyakit diketahui ditularkan melalui umbi. Perlakuan air atau udara panas pada organ aktif seperti biji atau umbi adalah metode yang umum digunakan untuk menghasilkan tanaman bebas virus. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan umbi bawang merah bebas virus melalui perlakuan air panas dikombinasikan dengan kultur jaringan. Deteksi virus sebelum perlakuan menggunakan Dot immuno binding assay (DIBA) untuk memastikan infeksi genus Potyvirus (Onion yellow dwarf virus/OYDV), Carlavirus (Shallot latent virus/SLV dan Garlic common latent virus/GCLV) dari umbi. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga faktor, yaitu kultivar (Sumenep dan Bima Curut), suhu (45 °C, 50 °C, dan suhu kamar), dan waktu pemanasan (15 dan 30 menit). Secara umum, perlakuan air panas yang dikombinasikan dengan kultur jaringan tidak memengaruhi kemampuan tumbuh dan jumlah daun planlet. Berdasarkan deteksi virus menggunakan RT-PCR, suhu 45 °C selama 15 menit mampu mengeliminasi 100% Potyvirus dan Carlavirus pada bawang merah ‘Bima Curut’; sedangkan pada bawang merah ‘Sumenep’ perlakuan air panas pada suhu 50 °C selama 15 menit mampu mengeliminasi 100% Potyvirus dan 33.33% Carlavirus.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 17 No. 2, Maret 2021 Sri Hendrastuti Hidayat
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 2 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.2.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page and back cover of the Indonesian Journal of Phytopathology, Volume 17, No. 2, March 2021.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 17 No. 1, Januari 2021 Sri Hendrastuti Hidayat
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 1 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.1.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page and back cover of the Indonesian Journal of Phytopathology, Volume 17, No. 1, January 2021.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 17 No. 3, Mei 2021 Sri Hendrastuti Hidayat
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 3 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.3.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page, and back cover of the Indonesian Journal of Phytopathology, JFI Vol. 17 No. 3, Mei 2021.
Diversity of Rhizoctonia solani Isolates of Rice Varieties of Ciherang, IR 64, Mekongga, and Situ Bagendit Arina Manasikana; Sri Sulandari; Achmadi Priyatmojo
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 4 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.4.141-150

Abstract

Padi (Oryza sativa) termasuk ke dalam komoditas penting di Indonesia. Salah satu penyakit penting pada tanaman padi ialah penyakit hawar pelepah yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dan kelompok anastomosis R. solani yang diisolasi dari tanaman padi varietas Ciherang, IR 64, Mekongga, dan Situ Bagendit; dan mengetahui keragaman genetiknya menggunakan primer universal, dan tingkat kekerabatannya. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2019 hingga Juli 2020 di Laboratorium Teknologi Pengendalian UGM. Pengambilan sampel dilaksanakan di Kecamatan Pandak, Bantul yang selanjutnya dilakukan isolasi dan pemurnian cendawan Rhizoctonia menggunakan medium agar-agar dekstrosa kentang. Isolat R. solani diklasifikasikan berdasarkan keragaman kultur, keragaman morfologi, jumlah inti sel, kemampuan anastomosis (AG), dan keragaman genetik. Analisis keragaman genetik dilakukan dengan PCR menggunakan primer universal ITS1 dan ITS4. Berdasarkan pengamatan keragaman kultur dan keragaman morfologi diperoleh hasil yang bervariasi. Hasil pengamatan jumlah inti sel pada keseluruhan isolat berkisar antara 5 hingga 7 inti pada sel yang termasuk dalam kategori multinukleat. Pengamatan kelompok anastomosis (AG) pada 13 isolat yang digunakan masuk ke dalam kategori C3 (anastomosis sempurna). Analisis PCR diperoleh pita DNA dengan hasil sesuai target yaitu 600–750 pb. Hasil secara sikuensing diketahui bahwa 12 isolat R. solani menunjukkan kekerabatan yang tinggi dengan isolat AG-1 IA, kecuali pada isolat CH 3.
Variasi Morfometri dan Patogenisitas Peronosclerospora spp. Penyebab Penyakit Bulai Jagung di Pulau Jawa, Indonesia Satriyo Restu Adhi; Fitri Widiantini; Endah Yulia
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 17 No 5 (2021)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.17.5.173-182

Abstract

Morphometric and Pathogenecity Variation of Peronosclerospora spp. The Causal Agent of Maize Downy Mildew in Java Island, Indonesia Downy mildew disease in maize caused by Peronosclerospora spp. has been reported to cause yield loss in several production centers in Java. This study aimed to determine the morphometric characteristics and pathogenicity of Peronosclerospora spp.. Ten strains of Peronosclerospora were collected from maize production center in Blitar (BLT), Kediri (KDR), Kediri 2 (KDR2), Klaten (KLT), Cianjur (CJR), Garut (GRT), Jatinangor Sumedang (JTN), Rancakalong Sumedang (RCG), Indramayu (IMY), and Sukabumi (SKB). Morphometric variation was determined using microscope by observing shape of conidium; measuring cell wall thickness, length of conidiophores, dimensions of conidia; and counting the number of branches. Differences in morphology and pathogenicity between strains was evidenced. Dendogram analysis based on morphometric characters differentiated strains of Peronosclerospora into 2 main clusters. One strain, KDR2 is in the same group and identical with reference strain P. philippinensis; while the others are in the same group and identical with reference strain P. maydis. Pathogenicity test showed that IMY strain caused the lowest disease incidence (8.33%) and KLT strain caused the highest disease incidence (47.92%).

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 1 (2025): Maret 2025 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 5 (2024): September 2024 Vol. 20 No. 4 (2024): Juli 2024 Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024 Vol. 20 No. 2 (2024): Maret 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024 Vol 19 No 6 (2023): November 2023 Vol 19 No 5 (2023): September 2023 Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023 Vol. 19 No. 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023 Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023 Vol. 19 No. 2 (2023): Maret 2023 Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023 Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022 Vol. 18 No. 5 (2022): September 2022 Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022 Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022 Vol. 18 No. 2 (2022): Maret 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): Januari 2022 Vol 17 No 6 (2021) Vol 17 No 5 (2021) Vol 17 No 4 (2021) Vol 17 No 3 (2021) Vol 17 No 2 (2021) Vol 17 No 1 (2021) Vol 16 No 6 (2020) Vol. 16 No. 5 (2020) Vol 16 No 4 (2020) Vol. 16 No. 3 (2020) Vol 16 No 2 (2020) Vol 16 No 1 (2020) Vol 15 No 6 (2019) Vol 15 No 2 (2019) Vol 15 No 1 (2019) Vol 14 No 6 (2018) Vol 14 No 5 (2018) Vol 14 No 4 (2018) Vol. 14 No. 3 (2018) Vol. 14 No. 2 (2018) Vol 14 No 1 (2018) Vol. 14 No. 1 (2018) Vol. 13 No. 6 (2017) Vol 13 No 5 (2017) Vol. 13 No. 5 (2017) Vol 13 No 4 (2017) Vol. 13 No. 3 (2017) Vol. 13 No. 2 (2017) Vol. 13 No. 1 (2017) Vol 12 No 6 (2016) Vol 12 No 5 (2016) Vol 12 No 4 (2016) Vol 12 No 3 (2016) Vol 12 No 2 (2016) Vol 12 No 1 (2016) Vol 11 No 6 (2015) Vol 11 No 5 (2015) Vol 11 No 4 (2015) Vol 11 No 3 (2015) Vol 11 No 2 (2015) Vol 11 No 1 (2015) Vol 10 No 6 (2014) Vol 10 No 5 (2014) Vol 10 No 4 (2014) Vol 10 No 3 (2014) Vol 10 No 2 (2014) Vol 10 No 1 (2014) Vol 9 No 6 (2013) Vol 9 No 5 (2013) Vol 9 No 4 (2013) Vol 9 No 3 (2013) Vol 9 No 2 (2013) Vol 9 No 1 (2013) Vol 8 No 6 (2012) Vol 8 No 5 (2012) Vol 8 No 4 (2012) Vol. 8 No. 3 (2012) Vol. 8 No. 2 (2012) Vol. 8 No. 1 (2012) More Issue