cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Fitopatologi Indonesia
ISSN : 02157950     EISSN : 23392479     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Fitopatologi Indonesia (JFI) is an official publication owned by the Indonesian Phytopathology Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia). In 2010, JFI management was given to PFI Komda Bogor. Since then, JFI has been published 6 times (January, March, May, July, September, and November).
Arjuna Subject : -
Articles 412 Documents
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 18 No. 5, September 2022 Editors
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 5 (2022): September 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.5.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page, and back cover of the Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 5, September 2022
Plant Parasitic Nematode of Strawberry in Ciwidey-West Java Kurniawati, Fitrianingrum; Anindita, Devina Cinantya; Supramana
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.1.30-38

Abstract

Stroberi merupakan tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan di dataran tinggi. Salah satu hambatan dalam produksi stroberi ialah infeksi nematoda parasit tanaman. Kecamatan Ciwidey merupakan salah satu sentra produksi stroberi di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Beberapa kebun stroberi di Ciwidey menunjukkan gejala serangan nematoda yang memakan bagian akar dan tajuk tanaman. Laporan nematoda parasit tanaman pada tanaman stroberi di Indonesia masih terbatas sehingga penelitian ini bertujuan mengidentifikasi genus nematoda yang berasosiasi dengan stroberi dan menghitung kelimpahannya. Sampel tanaman diambil dengan metode pemilihan dengan sengaja pada tanaman yang bergejala. Sampel tanah diekstraksi dengan metode flotasi sentrifugasi, sampel akar dengan metode pengabutan; sedangkan sampel daun dipotong-potong, direndam di dalam cawan, lalu diinkubasi di lemari pendingin selama 24 jam. Nematoda diidentifikasi dan dihitung kelimpahannya. Gejala serangan nematoda parasit tanaman yang ditemukan pada tajuk tanaman stroberi berupa pertumbuhan terhambat, daun memerah, daun kecil menggulung atau berkerut, dan klorosis. Gejala pada akar ialah berupa lesio akar, akar memendek, jumlah akar berkurang, pembengkakan pada ujung akar, dan puru akar. Nematoda dari seluruh sampel ialah Aphelenchoides besseyi, A. bicaudatus, Meloidogyne spp., Pratylenchus sp., Scutellonema sp., dan Tylenchus sp. Kelimpahan nematoda yang didapatkan bervariasi antara 1–42 ekor nematoda 100 mL-1 tanah dan 2–29 ekor 5 g akar-1 . Diantara nematoda yang ditemukan, Scutellonema merupakan nematoda yang pertama kali dilaporkan berasosiasi dengan tanaman stroberi di Indonesia.
Population of Soil Nematodes in The Treatment of Brassicaceae Plant Waste Ibrahim, Ahmad Yusuf; Supramana; Giyanto
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.1.19-29

Abstract

Tanaman famili Brassicaceae diketahui mengandung glukosinolat yang dapat terhidrolisis menjadi senyawa yang bersifat biofumigan. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh biofumigasi limbah tanaman Brassicaceae terhadap dinamika populasi nematoda tanah. Percobaan rumah kaca dilakukan pada empat jenis limbah tanaman Brassicaceae, yaitu limbah daun lobak (Raphanus sativus), brokoli (Brassica oleracea var. italica), kubis (Brassica oleracea var. capitata), dan seluruh bagian gulma kamanilan (Roripa indica) dalam pot berisi 5 L tanah terinfestasi nematoda. Limbah tanaman dicacah berukuran ±1 cm, sebanyak 117 g per pot dicampurkan dalam tanah terinfestasi nematoda, disiram air hingga basah, dan ditutup rapat untuk proses biofumigasi selama 14 hari. Pot dibiarkan terbuka selama 3-5 hari, ditanami bibit mentimun varietas Roberto 92 berumur 7 hari, dan dipelihara di rumah kaca hingga 8 minggu setelah tanam. Pengamatan jenis dan populasi nematoda tanah dilakukan tiga kali, yaitu sebelum perlakuan, setelah perlakuan, dan 8 minggu setelah tanam. Percobaan ini disusun dalam rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 5 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan nematoda free-living (nematoda bakteriovora dan nematoda fungivora) pada seluruh perlakuan limbah tanaman Brassicaceae. Sebaliknya, terjadi penurunan populasi fitonematoda secara nyata pada perlakuan limbah daun brokoli. Semua jenis limbah tanaman Brassicaceae dapat menekan populasi fitonematoda Helicotylenchus sp., Rotylenchulus sp., dan Xiphinema sp., secara nyata. Limbah daun brokoli menunjukkan nilai penghambatan tertinggi terhadap seluruh genus fitonematoda dengan penghambatan mencapai 100%.
Infection of Ageratum yellow vein virus on Weed Crassocephalum crepidioides in Bengkulu Marpaung, Nia Kurniati Br.; Sutrawati, Mimi; Ganefianti, Dwi Wahyuni; Novanda, Ridha Rizki; Pamekas, Tunjung
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.1.39-44

Abstract

Beberapa jenis gulma dengan gejala infeksi virus ditemukan pada tiga sentra pertanaman pepaya (Carica papaya) di Provinsi Bengkulu, Indonesia. Gejala pada gulma ialah tulang daun dan lamina daun menguning, mosaik kuning, dan keriting. Gejala tersebut mirip dengan gejala infeksi Begomovirus pada beberapa jenis tanaman. Penelitian dilakukan dengan tujuan mendeteksi dan mengidentifikasi spesies Begomovirus pada spesies gulma Crassocephalum crepidioide. Deteksi Begomovirus dilakukan dengan metode polymerase chain reaction menggunakan sepasang primer universal Begomovirus, SPG1/SPG2. Pita DNA berukuran 912 pb berhasil diamplifikasi dari sampel gulma C. crepidioides dengan gejala daun keriting. Berdasarkan analisis Blastn, sampel Begomovirus asal gulma C. crepidioides memiliki kekerabatan yang paling dekat dengan Ageratum yellow vein virus (AYVV) isolat asal Taiwan (DQ866134.1) dengan homologi sebesar 99%. Hasil penelitian ini merupakan laporan pertama infeksi AYVV pada C. crepidioides di Indonesia.
Infrared Thermography for Early Detection of Pepper yellow leaf curl virus on Chili Plants Triyani Dumaria; Sri Hendrastuti Hidayat; Purnama Hidayat
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.1.1-10

Abstract

Infrared Thermography for Early Detection of Pepper yellow leaf curl virus on Chili Plants Observations of plant pests and diseases are generally carried out by looking for visual symptoms for each disease target. Agricultural technology 4.0 began to be used for the development of plant disease detection methods. It was reported that there were differences in color and temperature between diseased and healthy plants which could be recorded by a thermal camera. This study aimed to determine the potential of the FLIR One Pro-IOS thermal camera to record differences in color and temperature between viral-infected and healthy chili plants. Chili plants in the greenhouse that were inoculated with Pepper yellow leaf curl virus (PYLCV) experienced an increase in temperature 3 days after inoculation (28.62 ℃) compared to plants that were not inoculated with PYLCV (27.32 ℃). Digital image recording of chili leaf samples from the field showed that plants infected by multiple viruses (Chilli veinal mottle virus, Pepper mottle virus and PYLCV) has higher temperature than those infected with a single virus. The lowest and highest mean temperatures were recorded in plant samples infected with PepMV (17.74 ℃) and mixed infected by PYLCV and ChiVMV (25.68 ℃). Digital images of virus-infected plants tend to show a predominance of bright yellow, while virus-free plants showed a predominance of dark purple. Further analysis confirmed higher digital numbers for diseased plant images than healthy plants. The thermography method has the potential to be an early detection method because it can detect viral infection before visual symptoms appear.
Effectiveness of Various PGPR Lineage in Controlling White Rust Diseases and Growth Promotion of Chrysanthemum Wiyono, Suryo; Suryaningsih, Andika Septiana; Pratiwi, Astika Widhi
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.1.11-18

Abstract

Karat putih merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman krisan di Indonesia. Teknologi yang efektif untuk pengendalian penyakit ini di Indonesia tidak tersedia. Penelitian ini bertujuan menguji potensi lima galur (Pseudomonas diminuta P14, Bacillus firmus J8, Lysinibacillus fusiformis C71, AKBR, AKS) plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) untuk pengendalian penyakit karat putih yang disebabkan Puccinia horiana pada tanaman krisan di lapangan. Formulasi komersial Pseudomonas fluorescens dan Bacillus polymyxa dipilih sebagai pembanding. Percobaan dilakukan di lapangan dengan mengaplikasikan suspensi rizobakteri pada tanaman krisan. Semua galur PGPR yang diuji mampu menekan insidensi dan keparahan penyakit karat putih. PGPR galur Bacillus firmus J8 paling efektif menekan karat putih, sedangkan galur Lysinibacillus fusiformis C71 paling efektif meningkatkan pertumbuhan tanaman krisan. Kelima galur rizobakteri dan formulasi komersial meningkatkan diameter bunga.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 19 No. 1, Januari 2023 Editors Jurnal Fitopatologi Indonesia
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.1.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page, and back cover of the Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 19 No. 1, January 2023
Application of Guano Filtrate on Infection of Pepper yellow leaf curl virus in Chilli Plants Nada, Azmi Khoirin; Hidayat, Sri Hendrastuti
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 16 No. 5 (2020)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.16.5.191-199

Abstract

Application of Guano Filtrate on Infection of Pepper yellow leaf curl virus in Chilli Plants Pepper yellow leaf curl virus (PYLCV) is a member of Begomovirus genus, which causes yellow leaf curl disease in chili plants in Indonesia. This virus is transmitted by vector Bemisia tabaci (Hemiptera: Aleyrodidae). Research was carried out to determine the potential of guano in suppressing yellow leaf curl disease in chili pepper. Field experiment was conducted using factorial design in a randomized block design with 2 factors. The first factor was chili cultivar (‘Gelora’, ‘Bara’, and ‘Pelita 8’) and the second factor was treatment of guano filtrate (before virus inoculation, 1 week after virus inoculation, 2 weeks after virus inoculation, virus inoculation without guano, without virus inoculation nor guano). Virus inoculation was carried out using B. tabaci. In general, symptoms were developed 1 to 3 weeks after inoculation although the incubation period varied between chili cultivars. Green mosaic with leaf curling was mostly found in ‘Gelora’, whereas yellowing with leaf cupping was mostly found in ‘Bara’ and ‘Pelita 8’. Begomovirus infection on plant showing symptoms has been confirmed by polymerase chain reaction method. Application of guano did not cause suppression on disease incidence and severity. Similarly, it did not affect plant height and flowering period.
Corynespora cassiicola Causes Black Spots on Papayas Mucharomah, Kurniasih; Soesanto, Loekas; Mugiastuti, Endang
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 16 No. 5 (2020)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.16.5.200-206

Abstract

Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam produksi tanaman pepaya tersebut ialah penyakit noda hitam kelabu yang menyebabkan penampilan buah kurang menarik dan akhirnya menurunkan harga jual. Penelitian ini bertujuan mengisolasi, mengidentifikasi, dan menguji tingkat patogenisitas penyebab penyakit noda hitam pada pepaya varietas California. Identifikasi dilakukan berdasarkan karakter morfologi, sedangkan pengujian in vivo menggunakan rancangan acak lengkap dengan ulangan sebanyak lima kali. Perlakuan yang dicoba ialah letak buah vertikal (pertama, kedua, ketiga, keempat, dan kelima), semua buah diinokulasi cendawan patogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala bercak kecil berwarna kekuningan hingga cokelat tua adalah penyakit noda hitam, yang disebabkan oleh cendawan Corynespora cassiicola. Cendawan C. cassiicola mempunyai koloni berwarna cokelat kehitaman, permukaan koloni halus dengan tepian yang rata, dan melengkung seperti beludru. Cendawan C. cassiicola memiliki konidiofor tegak, sedikit bengkok, bersepta, tunggal dan ada yang bercabang, berwarna cokelat, sedangkan konidium tunggal, sedikit bengkok, dan bersepta 2–12. Patogenisitas cendawan ini tergolong sedang. Masa inkubasi tercepat terjadi pada buah dengan letak vertikal keempat, luas serangan tertinggi pada buah dengan letak vertikal pertama, dan keparahan penyakit tertinggi ialah pada buah dengan letak vertikal pertama.
Potency of Some Endophytic Bacteria Isolates for Biocontrol of Fusarium oxysporum f.sp cepae on Shallot munif, abdul; Novitasari , Wahyuning Dwi
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 16 No. 5 (2020)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.16.5.227-234

Abstract

Penyakit busuk pangkal (Fusarium oxysporum f.sp cepae) merupakan penyakit penting pada tanaman bawang merah yang menyebabkan kehilangan hasil tinggi. Penelitian bertujuan menguji kemampuan beberapa isolat bakteri endofit (APE22, APE35, BAT2-2, dan MER) yang berasal dari tumbuhan paku-pakuan, bakau, dan tanaman lada untuk mengendalikan F. oxysporum f.sp cepae pada bawang merah secara in vitro dan in planta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat bakteri yang diuji mampu menghambat pertumbuhan F. oxysporum f.sp cepae secara in vitro dengan persentase penghambatan berkisar 37.78%–83.33% bergantung pada isolat yang diuji. Uji in planta di rumah kaca menunjukkan bakteri endofit mampu memacu pertumbuhan tanaman bawang merah dan menurunkan insidensi serta keparahan penyakit busuk pangkal. Di antara seluruh bakteri endofit uji, isolat BAT2-2 menunjukkan kemampuan menekan keparahan penyakit paling tinggi dibandingkan dengan isolat lainnya.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 1 (2025): Maret 2025 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 5 (2024): September 2024 Vol. 20 No. 4 (2024): Juli 2024 Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024 Vol. 20 No. 2 (2024): Maret 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024 Vol 19 No 6 (2023): November 2023 Vol 19 No 5 (2023): September 2023 Vol. 19 No. 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023 Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023 Vol. 19 No. 2 (2023): Maret 2023 Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023 Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022 Vol. 18 No. 5 (2022): September 2022 Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022 Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022 Vol. 18 No. 2 (2022): Maret 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): Januari 2022 Vol 17 No 6 (2021) Vol 17 No 5 (2021) Vol 17 No 4 (2021) Vol 17 No 3 (2021) Vol 17 No 2 (2021) Vol 17 No 1 (2021) Vol 16 No 6 (2020) Vol. 16 No. 5 (2020) Vol 16 No 4 (2020) Vol. 16 No. 3 (2020) Vol 16 No 2 (2020) Vol 16 No 1 (2020) Vol 15 No 6 (2019) Vol 15 No 2 (2019) Vol 15 No 1 (2019) Vol 14 No 6 (2018) Vol 14 No 5 (2018) Vol 14 No 4 (2018) Vol. 14 No. 3 (2018) Vol. 14 No. 2 (2018) Vol 14 No 1 (2018) Vol. 14 No. 1 (2018) Vol. 13 No. 6 (2017) Vol. 13 No. 5 (2017) Vol 13 No 5 (2017) Vol 13 No 4 (2017) Vol. 13 No. 3 (2017) Vol. 13 No. 2 (2017) Vol. 13 No. 1 (2017) Vol 12 No 6 (2016) Vol 12 No 5 (2016) Vol 12 No 4 (2016) Vol 12 No 3 (2016) Vol 12 No 2 (2016) Vol 12 No 1 (2016) Vol 11 No 6 (2015) Vol 11 No 5 (2015) Vol 11 No 4 (2015) Vol 11 No 3 (2015) Vol 11 No 2 (2015) Vol 11 No 1 (2015) Vol 10 No 6 (2014) Vol 10 No 5 (2014) Vol 10 No 4 (2014) Vol 10 No 3 (2014) Vol 10 No 2 (2014) Vol 10 No 1 (2014) Vol 9 No 6 (2013) Vol 9 No 5 (2013) Vol 9 No 4 (2013) Vol 9 No 3 (2013) Vol 9 No 2 (2013) Vol 9 No 1 (2013) Vol 8 No 6 (2012) Vol 8 No 5 (2012) Vol 8 No 4 (2012) Vol. 8 No. 3 (2012) Vol. 8 No. 2 (2012) Vol. 8 No. 1 (2012) More Issue