cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Fitopatologi Indonesia
ISSN : 02157950     EISSN : 23392479     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Fitopatologi Indonesia (JFI) is an official publication owned by the Indonesian Phytopathology Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia). In 2010, JFI management was given to PFI Komda Bogor. Since then, JFI has been published 6 times (January, March, May, July, September, and November).
Arjuna Subject : -
Articles 412 Documents
Integration of Patchouli Waste Compost, Antagonistic Microbes and Essential Oils to Control Budok Disease (Synchytrium pogostemonis) Sriwati, Rina; Pratiwi, Vinny; Oktarina, Hartati
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.4.153-159

Abstract

Penyakit budok yang disebabkan oleh Synchytrium pogostemonis merupakan masalah utama pada budi daya nilam di Provinsi Aceh (Pogostemon cablin). Tujuan penelitian ini ialah untuk mendapatkan cara pengendalian S. pogostemonis dengan menggabungkan kompos limbah ampas nilam (LAN), mikrob antagonis, dan minyak atsiri sebagai anticendawan. Penelitian dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama ialah pengujian efek penambahan kompos LAN terhadap pertumbuhan tanaman nilam. Tiga spesies mikrob antagonis, yaitu Trichoderma harzianum (ThC6), T. asperellum (TaC1), dan Pseudomonas aureginosa (AJ14) diinokulasikan pada LAN sebagai biodekomposer sekaligus agens antagonis baik secara tunggal maupun kombinasi. Kompos LAN diaplikasikan pada medium tanam sebelum penanaman setek nilam dengan dua taraf rasio tanah dan kompos LAN (1:1 dan 1:2). Parameter yang diamati ialah pertumbuhan tanaman nilam meliputi tinggi tanaman dan jumlah daun. Pada tahap kedua diamati pengaruh kombinasi kompos LAN dan minyak atsiri terhadap keparahan penyakit budok. Minyak atsiri yang digunakan adalah minyak atsiri serai wangi dan nilam dengan konsentrasi 0.5% dan 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan mikrob antagonis baik secara tunggal maupun kombinasi pada LAN dapat meningkatkan tinggi batang dan jumlah daun tanaman nilam masing-masing sebesar 22% dan 38%. Keparahan penyakit terendah ditunjukkan oleh perlakuan kombinasi kompos LAN dan 1% minyak atsiri serai wangi, yaitu sebesar 10%.
Effectiveness of Endophytic Bacteria and Arbuscular Mycorrhizal Fungi in Suppressing Ralstonia solanacearum in Eucalyptus pellita Plants Yuliana Susanti; Giyanto Giyanto; Meity Suradji Sinaga; Kikin Hamzah Mutaqin; Budi Tjahjono
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 16 No 4 (2020)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.16.4.166-176

Abstract

Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman eukaliptus (Eucalyptus pellita) di Indonesia. Salah satu pendekatan teknik pengendalian adalah melalui pemanfaatan bakteri endofit dan fungi mikoriza arbuskula (FMA). Penelitian ini ditujukan untuk mengevaluasi keefektifan bakteri endofit dan FMA dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri. Terdapat sepuluh kombinasi bakteri endofit dan FMA yang di-ujikan pada bibit eukaliptus berumur satu bulan. Inokulasi R. solanacearum secara buatan dilakukan tiga bulan setelah introduksi bakteri endofit dan FMA. Percobaan dilakukan di ruang growth chamber. Peubah pengamatan meliputi periode inkubasi, insidensi penyakit, laju penyakit, agresivitas kolonisasi bakteri dengan mengamati cairan bakteri (ooze) R. solanacearum pada bibit eukaliptus, pengukuran aktivitas phenylalanine ammonia lyase (PAL), dan total fenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B5F1 (Paenibacillus polymyxa dan Glomus mosseae) memiliki kemampuan penekanan tertinggi terhadap perkembangan penyakit layu bakteri pada bibit eukaliptus, yaitu sebesar 100%. Perlakuan B5F1 menunjukkan periode inkubasi R. solanacearum lebih lama, persentase insidensi penyakit paling rendah, laju infeksi penyakit rendah, dan penghambatan agresivitas kolonisasi R. solanacearum pada eukaliptus. Sementara perlakuan B4F1 (Serratia marcescens dan G. mosseae) mampu meningkatkan aktivitas PAL dan total fenol tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil penelitian ini, perlakuan B5F1 dan B4F1 berpotensi mengendalikan penyakit layu bakteri pada tanaman eukaliptus.
Uji Viabilitas dan Virulensi Fusarium oxysporum f.sp. zingiberi Isolat Boyolali dan Temanggung Setelah Disimpan Tujuh Belas Tahun dalam Tanah Steril Soesanto, Loekas; Fakhiroh, Zaqiatul; Suharti, Woro Sri
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 2 (2022): Maret 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.2.91-99

Abstract

Viabilitas dan Virulensi Fusarium oxysporum f. sp. zingiberi Asal Boyolali dan Temanggung Setelah Disimpan Tujuh Belas Tahun di Dalam Tanah Steril Fusarium oxysporum f. sp zingiberi merupakan cendawan penyebab busuk rimpang pada jahe. Patogen ini dapat bertahan di tanah selama bertahun-tahun tanpa tanaman inang. Penelitian bertujuan untuk menguji viabilitas dan virulensi 21 galur F. oxysporum f. sp. zingiberi setelah disimpan tujuh belas tahun di dalam tanah steril. Variabel yang diamati adalah warna dan diameter koloni, bentuk makrokonidium dan mikrokonidium, waktu pertumbuhan, berat kering miselium, kepadatan konidium, masa inkubasi, luas serangan pada rimpang, selisih bobot basah rimpang, dan indeks sampah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua galur F. oxysporum f. sp. zingiberi asal Temanggung dan Boyolali yang disimpan di tanah steril selama 17 tahun mampu tumbuh baik pada medium PDA dan mengisi penuh cawan petri antara 11–36 hari. Selain itu, semua galur menyebabkan gejala penyakit pada rimpang jahe var. Gajah. Isolat dengan tingkat virulensi yang rendah ditandai oleh masa inkubasi yang panjang (6–12 hari setelah inokulasi) dan luas area rimpang terserang yang terkecil.
Aplication of Trichoderma harzianum T10 Secondary Metabolites in Effervescent Tablets Formula towards Cucumber Damping-off Ismi, Sinta Fajriatul; Soesanto, Loekas; Mugiastuti , Endang
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.4.177-186

Abstract

Pembuatan formula metabolit sekunder cendawan antagonis dalam tablet larut-air (TLA) merupakan hal baru. Penelitian ini bertujuan meramu metabolit sekunder Trichoderma harzianum T10 sebagai TLA untuk menekan pertumbuhan Pythium sp. secara in vitro dan pengendalian penyakit rebah semai mentimun di lapangan terbatas. Penelitian menggunakan kontrol dan 1–3 tablet per 15 mL, serta metabolit sekunder Trichoderma harzianum T10 per 15 mL dengan frekuensi penyiraman dari satu sampai empat kali. Variabel yang diamati ialah penghambatan pertumbuhan, masa inkubasi, insidensi penyakit, area under the disease progress curve (AUDPC), tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar dan kering tanaman, serta senyawa fenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metabolit sekunder T. harzianum T10 dalam formula TLA dapat menghambat pertumbuhan Pythium sp. secara in vitro. Aplikasi metabolit sekunder T. harzianum T10 dalam formula TLA satu kali mampu mengendalikan penyakit rebah semai dengan menunda masa inkubasi sebesar 76.9%, mengurangi insidensi penyakit sebesar 85%, dan menurunkan AUDPC sebesar 85.35%-hari; meningkatkan pertumbuhan dari tinggi tanaman hingga 54.53%, jumlah daun sebesar 51.04%, bobot kering tanaman sebesar 49.46%, serta meningkatkan senyawa metabolit sekunder tanaman (saponin, tanin, dan hidrokuinon).
The Potentials of Cabbage Phyllospheric Bacteria as Biocontrol Agents of Soft Rot Disease Caused by Pectobacterium carotovorum on Chinese Cabbage Af’idzatuttama; Nawangsih, Abdjad Asih; Mutaqin, Kikin Hamzah
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.3.115-124

Abstract

Busuk lunak yang disebabkan oleh Pectobacterium carotovorum (Syn. Erwinia carotovora subsp. carotovora) merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman sawi putih. Bakteri ini menghasilkan enzim pektinase yang dapat menguraikan pektin pada dinding sel tanaman bagian lamela tengah. Salah satu alternatif pengendalian penyakit busuk lunak ialah menggunakan agens biokontrol dari filosfer. Penelitian ini bertujuan menyeleksi dan menguji bakteri filosfer dari daun kubis yang berpotensi menghambat penyakit busuk lunak P. carotovorum pada sawi putih. Bakteri filosfer diisolasi dari wilayah Cianjur, Tegal, dan Bogor. Bakteri filosfer diuji keamanan hayati berdasarkan pada reaksi hipersensitivitas dan kemampuan lisis pada agar-agar darah, serta diuji kemampuan penghambatannya terhadap P. carotovorum berdasarkan pada uji antagonis secara in vitro dan uji penghambatan penyakit secara in vivo. Bakteri filosfer dikarakterisasi berdasarkan pada morfologi koloni dan sifat Gram. Dua galur bakteri filosfer paling berpotensi mengendalikan penyakit busuk lunak pada sawi putih diidentifikasi sebagai Chryseobacterium sp.
Pythium ultimum dan Phytoppythium vexans, Patogen Potensial yang Diisolasi dari Risosfer Kentang di Jawa Tengah Indonesia Karmila, Miratun; Widiastuti, Ani; Wibowo, Arif; Suryanti, Suryanti
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 5 (2022): September 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.5.187-194

Abstract

Phytophthora dan Pythium merupakan kelompok Oomycetes yang banyak berasosiasi dengan penyakit pada tanaman kentang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Oomycetes yang berasosiasi dengan rizosfer kentang yang menunjukkan gejala penyakit hawar daun. Empat isolat berhasil dikoleksi dari empat wilayah sentra pertanaman kentang di Jawa Tengah (isolat UGM_St_TM, UGM_St_BK , UGM_St_BNJ , dan UGM_St_KJ berturut-turut dari Temanggung, Bakal, Banjarnegara dan Kejajar) dan satu isolat UGM_St_NG koleksi dari Laboratorium Ilmu Penyakit Tumbuhan. Identifikasi molekuler dari semua isolat dilakukan menggunakan penanda gen internal transscribed spacer (ITS1/ITS4), Nuclear large-ribosomal subunit (LSU), dan cytochrome C oxidase subunit 1 (COX1). Berdasarkan hasil penelitian, isolat UGM_St_TM, UGM_St_BK, dan UGM_St_BNJ teridentifikasi sebagai Phythium ultimum sedangkan isolat UGM_St_KJ dan UGM_St_NG teridentifikasi sebagai Phytopythium vexans.
Probe DNA sebagai Kandidat Biosensor Clavibacter michiganensis subsp. michiganensis pada Tanaman Tomat Hidayati, Muslihah Nur; Suranto; Susilowati, Ari
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.3.125-133

Abstract

Probe DNA sebagai Kandidat Biosensor Clavibacter michiganensis subsp. michiganensis pada Tanaman Tomat Penelitian dilakukan untuk menguji teknik deteksi gen menggunakan DNA probe spesifik untuk mendeteksi gen tomA pada Clavibacter michiganensis subsp. michiganensis, bakteri penyebab kanker pada tomat. Probe dirancang menggunakan program Primer3Plus, dilabel dengan molekul nonradioaktif digoxigenin (DIG) dan digunakan pada metode hibridisasi dengan teknik dot blot. Sampel uji terdiri atas dua jenis, yaitu sampel DNA genom yang berasal dari kultur bakteri murni dan dari benih tomat yang diinfeksi buatan dengan C. michiganensis subsp. michiganensis. Sampel yang berasal dari kultur murni bakteri menunjukkan hasil hibridisasi positif pada semua tingkat konsentrasi DNA; sedangkan sampel yang berasal dari biji tomat hanya menunjukkan reaksi positif pada konsentrasi 10, 8, 6, dan 4 µg µL-1. Studi ini menyimpulkan bahwa probe yang dirancang berpotensi untuk digunakan dalam pengembangan metode deteksi C. michiganensis subsp. michiganensis pada biji tomat berbasis biosensor dan bersifat cukup spesifik karena tidak ada reaksi silang dengan kelompok bakteri bukan target.
Suppression of Rigidoporus microporus Inoculum Sources with Soil Solarization and Organic Matter Amendmend Fitriani, Lisa Bela; Widodo, Widodo
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.3.107-114

Abstract

Cendawan akar putih (Rigidoporus microporus) merupakan salah satu patogen penting yang dapat menyebabkan kerusakan di pertanaman karet. Kemampuan hidup yang tinggi sebagai saprob pada tunggul tanaman dan sisa-sisa akar yang mati menjadikan bagian ini sebagai sumber inokulum penting, baik untuk tanaman karet yang sehat di sebelahnya maupun pada saat melakukan penanaman ulang. Oleh karena itu, pengurangan sumber inokulum ini menjadi kunci penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Solarisasi tanah merupakan salah satu metode disinfeksi tanah sebelum tanam dalam pengendalian beberapa hama penyakit tertentu dan dapat mengurangi penggunaan senyawa sintetik di dalam tanah. Penelitian ini bertujuan menentukan solarisasi tanah dan penambahan bahan organik terhadap kelangsungan hidup R. microporus. Solarisasi tanah secara nyata menekan kelangsungan hidup R. microporus pada kedalaman lokasi patogen, yaitu 5 dan 15 cm dari permukaan tanah. Sementara itu perlakuan bahan organik tidak berpengaruh nyata dalam menekan perkembangan R. microporus. Semakin lama waktu solarisasi, kemampuan penekanan terhadap daya hidup inokulum semakin tinggi. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa solarisasi tanah memicu aktivitas bakteri kelompok fluoresens yang diduga dapat menekan inokulum patogen penyebab busuk akar tersebut.
Viability and Inhibition of Endophytic Bacteria Pseudomonas fluorescens 4RS1 Against Phytophthora palmivora in Flour Formula Khaeruni, Andi; Hariyani; Hisein, Waode Siti Anima; Satrah, Vit Neru; Wijayanto, Teguh; Sutariati, Gusti Ayu Kade; Taufik, Muhammad
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.4.145-152

Abstract

Viability and Inhibition of Endophytic Bacteria Pseudomonas fluorescens 4RS1 Against Phytophthora palmivora in Flour Formula Pseudomonas fluorescens 4RS1 is an endophytic bacterium that has good inhibition against Phytophthora palmivora, and it has the potential to be developed as a biological agent for black pod rot disease in cocoa. It is necessary to have a formulation that can maintain viability and inhibition and facilitate its use and application, to apply this bacterial agent at the farm level. This study aimed to determine the ability of talc and tapioca flour as the ingredients of formulations that have strong solubility and maintain the viability and inhibition of P. fluorescens 4RS1. The results showed that the use of tapioca flour as the basis for the formulation of P. fluorescens 4RS1 was better than talc because it had high solubility and low precipitation. The addition of nutrients in the form of brown sugar, peptone, and CMC in the tapioca flour formulation was able to maintain the viability and inhibition of P. fluorescens 4RS1 for 12 weeks of storage.
Insect Vector and Seedborne Transmission of Papaya ringspot virus Hidayat, Sri Hendrastuti; Harmiyati, Tutik; Adnan, Abdul Muin
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.3.101-106

Abstract

Insect Vector and Seedborne Transmission of Papaya ringspot virus Ringspot disease of papaya caused by Papaya ringspot virus (PRSV) is widely spread in Indonesia. Dissemination of this disease is known to occur through infected seedlings and aphid vectors. This study was conducted to determine transmission efficiency of PRSV through two aphid species, i.e. Aphis gossypii and Myzus persicae and to confirm that PRSV cannot be transmitted through seeds. Aphid transmission of PRSV isolate from Medan was carried out in papaya var. California with an acquisition feeding period and an inoculation feeding period of 10 minutes each. A minimum of 5 A. gossypii and 10 M. persicae were required for successful PRSV transmission. Transmission of PRSV by A. gossypii resulted higher disease incidence and more severe disease symptoms than transmission by M. persicae. Disease symptoms was not observed in all papaya seedlings grown from seeds extracted from fruits showing ringspot symptoms. Detection of PRSV by reverse transcription polymerase chain reaction method showed no amplification of specific DNA fragment of PRSV. The results of this study confirmed the potential of aphids as PRSV vectors and proved that PRSV was not seed borne.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 1 (2025): Maret 2025 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 5 (2024): September 2024 Vol. 20 No. 4 (2024): Juli 2024 Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024 Vol. 20 No. 2 (2024): Maret 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024 Vol 19 No 6 (2023): November 2023 Vol 19 No 5 (2023): September 2023 Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023 Vol. 19 No. 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023 Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023 Vol. 19 No. 2 (2023): Maret 2023 Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023 Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022 Vol. 18 No. 5 (2022): September 2022 Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022 Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022 Vol. 18 No. 2 (2022): Maret 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): Januari 2022 Vol 17 No 6 (2021) Vol 17 No 5 (2021) Vol 17 No 4 (2021) Vol 17 No 3 (2021) Vol 17 No 2 (2021) Vol 17 No 1 (2021) Vol 16 No 6 (2020) Vol. 16 No. 5 (2020) Vol 16 No 4 (2020) Vol. 16 No. 3 (2020) Vol 16 No 2 (2020) Vol 16 No 1 (2020) Vol 15 No 6 (2019) Vol 15 No 2 (2019) Vol 15 No 1 (2019) Vol 14 No 6 (2018) Vol 14 No 5 (2018) Vol 14 No 4 (2018) Vol. 14 No. 3 (2018) Vol. 14 No. 2 (2018) Vol 14 No 1 (2018) Vol. 14 No. 1 (2018) Vol. 13 No. 6 (2017) Vol 13 No 5 (2017) Vol. 13 No. 5 (2017) Vol 13 No 4 (2017) Vol. 13 No. 3 (2017) Vol. 13 No. 2 (2017) Vol. 13 No. 1 (2017) Vol 12 No 6 (2016) Vol 12 No 5 (2016) Vol 12 No 4 (2016) Vol 12 No 3 (2016) Vol 12 No 2 (2016) Vol 12 No 1 (2016) Vol 11 No 6 (2015) Vol 11 No 5 (2015) Vol 11 No 4 (2015) Vol 11 No 3 (2015) Vol 11 No 2 (2015) Vol 11 No 1 (2015) Vol 10 No 6 (2014) Vol 10 No 5 (2014) Vol 10 No 4 (2014) Vol 10 No 3 (2014) Vol 10 No 2 (2014) Vol 10 No 1 (2014) Vol 9 No 6 (2013) Vol 9 No 5 (2013) Vol 9 No 4 (2013) Vol 9 No 3 (2013) Vol 9 No 2 (2013) Vol 9 No 1 (2013) Vol 8 No 6 (2012) Vol 8 No 5 (2012) Vol 8 No 4 (2012) Vol. 8 No. 3 (2012) Vol. 8 No. 2 (2012) Vol. 8 No. 1 (2012) More Issue