cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Fitopatologi Indonesia
ISSN : 02157950     EISSN : 23392479     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Fitopatologi Indonesia (JFI) is an official publication owned by the Indonesian Phytopathology Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia). In 2010, JFI management was given to PFI Komda Bogor. Since then, JFI has been published 6 times (January, March, May, July, September, and November).
Arjuna Subject : -
Articles 412 Documents
Korelasi Keparahan Penyakit Belang dan Kelimpahan Serangga Vektor Terhadap Hasil Panen Lada Miftakhurohmah; Wahyuno, Dono; Hidayat, Sri Hendrastuti; Mutaqin, Kikin Hamzah; Soekarno, Bonny Poernomo Wahyu
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.3.127-132

Abstract

Korelasi Keparahan Penyakit Belang dan Kelimpahan Serangga Vektor Terhadap Hasil Panen Lada Epidemi penyakit virus tular serangga dipengaruhi oleh interaksi antara tanaman inang, virus dan vektornya serta kondisi lingkungan. Dua spesies kutuputih yaitu Planococcus minor dan Ferrisia virgata diketahui sebagai vektor virus belang pada tanaman lada (Piper nigrum). Penelitian dilakukan untuk menentukan faktor utama yang berpengaruh terhadap penyebaran penyakit belang di lapangan. Pengamatan dilakukan terhadap 30 tanaman lada umur produktif di kebun Sukabumi, Jawa Barat. Peubah yang diamati ialah kelimpahan kutuputih, keparahan penyakit, dan produksi lada. Keparahan penyakit dan produksi lada diamati selama tiga musim berturut-turut, sedangkan jumlah kutuputih dihitung selama satu tahun dengan interval dua bulan sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan kutuputih tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat keparahan penyakit dan produksi lada. Hal ini mengindikasikan bahwa serangga vektor bukan menjadi faktor utama yang terlibat dalam penyebaran penyakit. Regresi linear sederhana antara keparahan penyakit dan produksi lada menunjukkan korelasi negatif dengan koefisien determinasi R2 sebesar 0.4351 mengindikasikan efek yang berlawanan antara keparahan penyakit dan produksi lada. Peningkatan keparahan penyakit akan menurunkan produksi lada dengan kategori sedang. Penggunaan bibit bebas virus dan praktik budi daya lada yang baik akan menghambat perkembangan dan penyebaran penyakit di lapangan yang akan berpengaruh terhadap produksi optimal yang berkesinambungan.
Yield Loss Due to Tuber Rot and Identification of the Causal Agents in Sweet Potatoes in Cilimus District, Kuningan Regency, West Java Province Zahra, Atiqah Luthfi Anawati; Giyanto; Widodo
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.6.239-247

Abstract

Pada tahun 2019 terjadi peningkatan insidensi busuk umbi pada tanaman ubi jalar bersamaan dengan musim hujan berkepanjangan yang melanda sebagian besar Pulau Jawa sehingga menyebabkan kehilangan hasil. Salah satu daerah yang terdampak ialah Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilakukan untuk menghitung kehilangan hasil ubi jalar yang diakibatkan oleh permasalahan busuk umbi dan mengidentifikasi penyebabnya di Kecamatan Cilimus. Kehilangan hasil akibat busuk umbi berkisar 4.3% dan 19.7% dengan rata-rata 9.4%. Jika disandingkan dengan data penurunan produksi ubi jalar di Kecamatan Cilimus dari tahun 2018 sampai tahun 2021 maka permasalahan busuk umbi tersebut menunjukkan peran yang penting terhadap penurunan produksi di daerah tersebut. Hasil identifikasi patogen mengonfirmasi Ralstonia solanacearum sebagai bakteri penyebab busuk umbi. Berdasarkan gejala morfologi diketahui bahwa R. solanacearum menjadi penyebab utama permasalahan busuk umbi (56.8%), diikuti oleh hama Cylas formicarius (29.1%), dan kombinasi keduanya (14.1%). Pola tanam dan teknik budi daya yang dilakukan oleh petani diduga memicu perkembangan permasalahan busuk umbi di area penelitian tersebut.
Combination of Biocontrol Agents to Control Shallot Disease in The Field Widodo, Widodo; Khamidi, Thamrin; Sobir, Sobir; Wiyono, Suryo; Suryaningsih, Andika Septiana
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.6.248-254

Abstract

Produksi bawang merah di Indonesia menghadapi permasalahan hama dan penyakit yang berat. Penggunaan pestisida menjadi andalan petani hingga saat ini untuk pengendalian hama dan penyakit tersebut. Beberapa agens biokontrol hama dan patogen bawang merah terbukti efektif secara individual, namun belum terintegrasi di lapangan. Tujuan penelitian ialah mengevaluasi kombinasi agens biokontrol dengan efektivitas terbaik untuk menekan insidensi penyakit utama bawang merah di lapangan. Percobaan lapangan dilakukan di Tegal, Jawa Tengah, salah satu sentra penghasil bawang merah di Indonesia. Perlakuan yang diuji ialah kombinasi Fusarium nonpatogenik (FNP) + plant growth promoting rhizobacteria (PGPR)+ khamir antagonis (KA), FNP + KA, PGPR + KA, FNP+PGPR, fungisida sintetik, dan tanpa perlakuan (kontrol). Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok dengan empat ulangan sebagai blok. Semua perlakuan kombinasi agens pengendali hayati dan fungisida sintetik menunjukkan perbedaan nyata dengan perlakuan kontrol dalam menekan penyakit busuk batang (Fusarium oxysporum f. sp. cepae) dan bercak ungu (Alternaria porri), tetapi tidak berbeda nyata antarperlakuan. Produktivitas bawang merah dengan perlakuan agens pengendali hayati memiliki bobot umbi segar yang cukup tinggi. Tanaman dengan perlakuan agens hayati PGPR + KA dan FNP + PGPR memiliki bobot umbi segar yang paling tinggi di antara perlakuan agens pengendali hayati lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi kombinasi agens pengendali hayati berpotensi menekan penyakit bawang merah di lapangan.
Isolation and Morphological Characterisation of Cercospora janseana Infecting Rice Leaves Tondok, Efi Toding; Sa’adah, Rima Nur Halimatu
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.6.255-263

Abstract

Penyakit bercak cokelat sempit pada tanaman padi menjadi salah satu penyakit yang paling merugikan. Di Indonesia, informasi mengenai penyakit ini masih terbatas dan kurang mendapatkan perhatian petani dan peneliti. Pengetahuan dasar mengenai patogen penyebabnya—Cercospora janseana—diperlukan sebagai acuan dalam tindakan pengendalian dan memahami epidemiologinya di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan menentukan teknik isolasi yang sesuai untuk C. janseana serta melakukan karakterisasi morfologinya dari beberapa varietas tanaman padi. Teknik isolasi yang digunakan ialah metode penanaman jaringan, suspensi spora, penyebaran spora, dan penempelan spora. Pengamatan morfologi dilakukan dengan mengamati warna dan pertumbuhan koloni, konidium dan konidiofor, serta pertumbuhan koloni pada medium tumbuh yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik isolasi yang sesuai untuk C. janseana ialah dengan penempelan spora pada agar-agar air dan menumbuhkannya pada medium agar-agar Martin. Teknik ini lebih baik dibandingkan dengan tiga teknik isolasi lainnya dan berhasil memudahkan proses isolasi C. janseana hingga diperoleh isolat murni.
Variasi Morfologi dan Karakteristik Molekuler Isolat Phytophthora palmivora dari Beberapa Area Pertanaman Kakao serta Virulensinya Pada Kakao Klon Sulawesi 2 Kuswinanti, Tutik; Patandjengi, Baharuddin; Melina; Hardina, Nur
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.4.145-155

Abstract

Morphological characterization of Phytophthora isolates commonly was done on the basis of the colony and hyphal swelling characteristics, form, and shape of chlamydospore, sporangia as well as oogonia and antheridia. Molecular characterization was conducted using specific primer pairs Pal1 s and Pal2a for Phytophthora palmivora and universal primer ITS4 and ITS5 followed by sequencing of isolates. The virulence of Phytophthora palmivora isolates was tested on a cocoa pod of the Sulawesi2 clone. A total of 21 Phytophthora isolates were collected from Palopo, Gowa, and Pinrang Districts. Based on colony morphology and microscopic features i.e. chlamydospore, sporangium, and its papilla form, all isolates indicated Phytophthora palmivora. Molecular identification using a specific primer showed that all ten representative group isolates had the same band in size of 650 bp, whereas using universal ITS4 and ITS5 primers, all isolates generated one band in the size of 900bp. The sequencing result showed, that all isolates were placed in the group P. palmivora. The virulence of P. palmivora isolates on the Sulawesi2 clone revealed a varying degree of virulence, from less virulent to highly virulent. All isolates from Pinrang were classified as highly virulent because induced necrotic in more than 50% of the tested cocoa pod.
Exploration, Screening, and Application of Silica Solubilizing Bacteria and Silica Fertilizer to Suppress Fusarium Wilt Disease in Abaca Werdiningtyas, Cyrilla Kinanti; Wibowo, Arif; Subandiyah, Siti; Widiastuti, Ani
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.3.111-117

Abstract

Exploration, Screening, and Application of Silica Solubilizing Bacteria and Silica Fertilizer to Suppress Fusarium Wilt Disease in Abaca Abaca (Musa textilis) is producing high quality natural fibre with the main problem is fusarium wilt disease caused by Fusarium oxysporum f. sp. cubense TR4. The study aims to obtain silica solubilizing bacteria (SSB), determine the role of SSB and silica fertilizer to inhibit fusarium and to stimulate plant growth. Six isolates of SSB were obtained from healthy abaca rhizosphere, three of them had antagonistic activity against F. oxysporum f. sp. cubense TR4. The four treatments tested showed no different severity of fusarium wilt. Likewise, the four treatments did not show any difference in the observed growth variables. Silica solubilizing bacteria and silica fertilizer have not been able to control F. oxysporum f. sp. cubense TR4. Therefore, abaca proved to be susceptible to F. oxysporum f. sp. cubense TR4.
Potensi Bacillus subtilis subsp. subtilis RJ09 sebagai Agens Pengendali Hayati Penyakit Bercak Daun Cengkih Wisanggeni, Gen Adi; Suryanti, Suryanti; Joko, Tri
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.3.118-126

Abstract

Potensi Bacillus subtilis subsp. subtilis RJ09 sebagai Agens Pengendali Hayati Penyakit Bercak Daun Cengkih Cengkih merupakan tanaman asli Indonesia yang menjadi salah satu komoditas utama sektor perkebunan. Penyakit bercak daun berupa nekrosis sering ditemukan pada tanaman cengkih. Gangguan terhadap fotosintesis yang disebabkan oleh penyakit bercak daun dapat menyebabkan kematian pada tanaman. Bacillus diketahui dapat menghambat perkembangan patogen melalui mekanisme persaingan nutrisi dan antibiosis. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi Bacillus sp. RJ09 secara molekuler dan mengetahui potensinya dalam menekan perkembangan Pestalotiopsis sp., penyebab bercak daun tanaman cengkih secara in vitro. Identifikasi cendawan dilakukan dengan mengamati morfologi yang meliputi warna koloni, bentuk, dan ukuran konidium cendawan hasil isolasi. Identifikasi Bacillus sp. RJ09 dilakukan dengan polymerase chain reaction (PCR) menggunakan sepasang primer yang mengamplifikasi wilayah gen gyrB sebesar ±1400 pasang basa (pb) yang dilanjutkan dengan analisis sikuen. Pengujian kemampuan Bacillus sp. RJ09 sebagai agens hayati terhadap cendawan yang berasosiasi dengan bercak daun dilakukan dengan metode kultur ganda in vitro. Hasil identifikasi cendawan bercak daun tanaman cengkih diperoleh Pestalotiopsis sp. yang dapat menyebabkan bercak nekrosis berwarna kehitaman pada daun. Hasil identifikasi molekuler Bacillus sp. RJ09 menunjukkan nilai kemiripan tertinggi 99.40% dengan B. subtilis subsp. subtilis. Pengujian in vitro menunjukkan B. subtilis subsp. subtilis RJ09 dapat menghambat pertumbuhan koloni Pestalotiopsis sp. sebesar 75%.
Detection of Fusarium wilt on Local Bananas in Pandeglang Nani, Maryani; Harahap, Elmira Oktaria Raihan; Khastini, Rida Oktorida; Ahmad, Fajarudin
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.4.133-144

Abstract

Pandemi layu fusarium pisang atau Panama disease, yang disebabkan oleh tropical race 4 (TR4), menjadi ancaman budi daya pisang baik industri maupun skala kecil. Di Indonesia, layu fusarium menyerang varietas ekspor pisang Cavendish dan varietas lokal populer seperti Pisang Raja, Kepok, dan Barangan. Meskipun demikian, TR4 masih belum banyak diketahui keberadaannya pada pisang-pisang lokal di berbagai wilayah Indonesia. Penelitian ini bertujuan mendeteksi TR4 pada pisang-pisang lokal Pandeglang, yang merupakan wilayah terbesar penghasil pisang di Provinsi Banten. Survey dilakukan di sembilan lokasi yang tersebar di lima kecamatan: Banjar, Cadasari, Jiput, Labuan, dan Menes. Total 13 aksesi pisang lokal menunjukkan gejala internal dan eksternal layu fusarium. Sampel pseudostem bergejala ditumbuhkan pada medium agar-agar dekstrosa kentang. Kultur spora tunggal digunakan untuk identifikasi dan isolasi DNA. Berdasarkan karakter mikroskopisnya, 27 galur Fusarium yang terdiri atas 3 komplek species berhasil diidentifikasi yaitu F. cugenangense, F. foetens dan F. oxysporum (Fusarium oxysporum species complex; FOSC), F. equiseti dan F. incarnatum (Fusarium incarnatum-equiseti species complex) dan F. solani (Fusarium solani species complex atau Neocosmospora). Deteksi molekuler duplex PCR menggunakan primer translation elongation factor-1α (Tef-1α) dan primer specific TR4, memberikan hasil positif hanya pada galur-galur yang merupakan TR4, anggota dari FOSC. Penelitian ini memperkaya pengetahuan keberadan TR4 pada daerah yang belum teridentifikasi dan potensi ancaman TR4 yang menyerang pisang-pisang lokal di Pandeglang. Analisis molekuler lebih lanjut menggunakan sikuen gen penanda atau whole genome sequencing dapat memberikan pengetahuan akan diversitas genetik Fusarium asal Pandeglang sehingga metode penanganan yang tepat dapat dilakukan.
Keragaman Rhizomikrobiom Bawang Merah dan Penekanan Penyakit Moler dengan Perlakuan Bacillus spp. dan Trichoderma asperellum Sundari, Dini; Wibowo, Arif; Joko, Tri; Widiastuti, Ani; Pustika, Arlyna Budi
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.4.156-165

Abstract

Twisted disease (Fusarium spp.) is an endemic disease that reduces shallot production in the coastal land area of Samas, Bantul, Yogyakarta. The application of Bacillus spp. can suppress the twisted disease by secreting secondary metabolites and enhancing soil suppressiveness. This study aimed to determine the effectiveness of adding spraying Bacillus spp. on the disease incidence, production of shallots, and their effect on the diversity of rhizomicrobiome by culture microbe approaches. Bacillus spp. with a density 108 cfu mL-1, Trichoderma asperellum 106 cfu mL-1 was applied by spraying to the shallot. Fungicide chlorothalonil, propiconazole, and prochloraz were used to control the disease. The diversity of rhizobacteria and fungi was analyzed using the ribosomal intergenic spacer analysis (RISA) method. Based on the analysis result, the addition of spraying B. velezensis B-27, combination B. velezensis B-27 and B. cereus RC76, and T. asperellum was unable to enhance the suppression of twisted disease, but it was able to enhance the production of shallot bulbs reaching 7.10, 7.80, and 8.43 ton ha-1. Furthermore, the result revealed the diversity of the rhizomicrobiome, spraying Bacillus sp. showed 39% differences in bacterial diversity with control while T. asperellum caused 43% difference in the diversity. Spraying Bacillus spp. has not been able to suppress the incidence of twisted diseases compared to control. However, the similar disease incidence on a spraying Bacillus spp. and control showed a higher production until 70% compared to control. This result showed that the addition of spraying Bacillus spp. able to increase the tolerance of shallot plants toward twisted disease.
Combination of Barrier Crop, Chitosan, Bougaivillea Leaf Extract to Manage Virus on Soybean Cahyati, Iwe; Damayanti, Tri Asmira; Santoso, Sugeng
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 19 No. 4 (2023): Juli 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.4.166-175

Abstract

Infeksi virus menjadi salah satu pembatas produksi kedelai di Indonesia. Penelitian bertujuan menguji efektivitas kitosan, ekstrak daun bugenvil, dan kombinasinya, serta insektisida dalam mengendalikan infeksi virus pada kedelai di lapangan. Efektivitas perlakuan diuji dalam petak utama tanpa dan dengan pembatas jagung. Peubah penyakit, populasi serangga, dan peubah agronomi diamati mingguan. Populasi kutudaun pada perlakuan kontrol dengan tanaman pembatas lebih rendah daripada perlakuan kontrol tanpa tanaman pembatas, menunjukkan tanaman pembatas mampu menghalangi kutudaun masuk ke pertanaman kedelai. Inkorporasi perlakuan kitosan, ekstrak daun bugenvil, dan kombinasinya mampu menekan populasi kutudaun sebanding dengan perlakuan insektisida pada kedua petak utama. Area under population progress curve (AUPPC) kutudaun selaras dengan lebih rendahnya area under disease progress curve (AUDPC), insidensi dan keparahan penyakit serta AUDPC secara nyata dibandingkan dengan kontrol tanpa perlakuan. Efektivitas perlakuan pada petak dengan tanaman pembatas mampu menurunkan populasi kutudaun, insidensi dan keparahan penyakit lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang sama pada petak tanpa tanaman pembatas. AUDPC antarperlakuan kitosan, ekstrak daun bugenvil, kombinasi, dan insektisida secara umum berbeda nyata lebih rendah pada kedua petak utama dibandingkan dengan kontrol tanpa perlakuan. Hasil panen kedelai menunjukkan lebih tinggi secara signifikan daripada perlakuan kitosan, ekstrak daun bugenvil, dan kombinasinya dibandingkan dengan perlakuan kontrol pada kedua petak utama. Penggunaan tanaman pembatas yang disatukan dengan salah satu perlakuan kitosan dan ekstrak daun bugenvil dapat menjadi paket pengelolaan yang ramah lingkungan untuk mengendalikan infeksi virus pada tanaman kedelai di lapangan.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 1 (2025): Maret 2025 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 5 (2024): September 2024 Vol. 20 No. 4 (2024): Juli 2024 Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024 Vol. 20 No. 2 (2024): Maret 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024 Vol 19 No 6 (2023): November 2023 Vol 19 No 5 (2023): September 2023 Vol. 19 No. 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023 Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023 Vol. 19 No. 2 (2023): Maret 2023 Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023 Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022 Vol. 18 No. 5 (2022): September 2022 Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022 Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022 Vol. 18 No. 2 (2022): Maret 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): Januari 2022 Vol 17 No 6 (2021) Vol 17 No 5 (2021) Vol 17 No 4 (2021) Vol 17 No 3 (2021) Vol 17 No 2 (2021) Vol 17 No 1 (2021) Vol 16 No 6 (2020) Vol. 16 No. 5 (2020) Vol 16 No 4 (2020) Vol. 16 No. 3 (2020) Vol 16 No 2 (2020) Vol 16 No 1 (2020) Vol 15 No 6 (2019) Vol 15 No 2 (2019) Vol 15 No 1 (2019) Vol 14 No 6 (2018) Vol 14 No 5 (2018) Vol 14 No 4 (2018) Vol. 14 No. 3 (2018) Vol. 14 No. 2 (2018) Vol 14 No 1 (2018) Vol. 14 No. 1 (2018) Vol. 13 No. 6 (2017) Vol. 13 No. 5 (2017) Vol 13 No 5 (2017) Vol 13 No 4 (2017) Vol. 13 No. 3 (2017) Vol. 13 No. 2 (2017) Vol. 13 No. 1 (2017) Vol 12 No 6 (2016) Vol 12 No 5 (2016) Vol 12 No 4 (2016) Vol 12 No 3 (2016) Vol 12 No 2 (2016) Vol 12 No 1 (2016) Vol 11 No 6 (2015) Vol 11 No 5 (2015) Vol 11 No 4 (2015) Vol 11 No 3 (2015) Vol 11 No 2 (2015) Vol 11 No 1 (2015) Vol 10 No 6 (2014) Vol 10 No 5 (2014) Vol 10 No 4 (2014) Vol 10 No 3 (2014) Vol 10 No 2 (2014) Vol 10 No 1 (2014) Vol 9 No 6 (2013) Vol 9 No 5 (2013) Vol 9 No 4 (2013) Vol 9 No 3 (2013) Vol 9 No 2 (2013) Vol 9 No 1 (2013) Vol 8 No 6 (2012) Vol 8 No 5 (2012) Vol 8 No 4 (2012) Vol. 8 No. 3 (2012) Vol. 8 No. 2 (2012) Vol. 8 No. 1 (2012) More Issue