cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Fitopatologi Indonesia
ISSN : 02157950     EISSN : 23392479     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Fitopatologi Indonesia (JFI) is an official publication owned by the Indonesian Phytopathology Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia). In 2010, JFI management was given to PFI Komda Bogor. Since then, JFI has been published 6 times (January, March, May, July, September, and November).
Arjuna Subject : -
Articles 412 Documents
Phytonematode Community in The Robusta and Arabica Coffee Plantation in East Java Budiman, Aris; Supramana, Supramana; Giyanto, Giyanto; Kurniawati, Fitrianingrum
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 16 No. 5 (2020)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.16.5.207-215

Abstract

Fitonematoda merupakan salah satu penyebab penyakit pada tanaman kopi robusta dan arabika. Penelitian ini bertujuan menganalisis komunitas fitonematoda pada kopi robusta dan arabika serta distribusinya pada kondisi kesehatan pertanaman yang berbeda. Lokasi pengambilan sampel berada di Kebun Percobaan Sumber Asin (Desa Krajan, Kecamatan Sumbermanjing, Kabupaten Malang), Blawan (Desa Sempol, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso), dan Kalisat Jampit (Desa Kalisat, Kecamayan Ijen, kabupaten Bondowoso) Provinsi Jawa Timur. Sampel akar dan tanah diambil pada tanaman bergejala penyakit, tanaman di antara tanaman sakit dan sehat, dan tanaman sehat. Ekstraksi nematoda dari sampel akar dilakukan dengan metode pengabutan (mist chamber) dan sampel tanah dengan flotasi sentrifugasi. Peubah yang diamati ialah nilai prominensi (NP) dan proporsi sebaran fitonematoda penting. Fitonematoda yang diperoleh pada kopi robusta ialah Pratylenchus coffeae, Rotylenchulus reniformis, Meloidogyne spp., dan Hemicriconemoides cocophillus. Fitonematoda yang diperoleh pada kopi arabika ialah Radopholus similis, Meloidogyne spp., Paratylenchus sp., Criconemoides sp., dan Helicotylenchus sp. Fitonematoda didominasi oleh spesies P. coffeae dan R. reniformis pada kopi robusta serta R. similis dan Meloidogyne spp. pada kopi arabika. Terdapat perbedaan nilai prominensi pada masing-masing fitonematoda yang ditemukan. Nilai prominensi fitonematoda tertinggi dari ekstraksi perakaran kopi robusta terdapat pada P. coffeae, yaitu sebesar 295.83, sedangkan pada perakaran kopi arabika terdapat pada R. similis sebesar 259.16. Secara umum, pada spesies tersebut terjadi peningkatan populasi dari tanaman sehat ke tanaman bergejala penyakit.
The Effectiveness of Hot Water and Guano Tea Treatments on Aphelenchoides besseyi Nematode on Rice Seeds and Their Effects on the Growth of Rice Seedling Syarifah, Syarifah; Supramana, Supramana; Triwidodo, Hermanu
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 16 No. 5 (2020)
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.16.5.216-226

Abstract

Aphelenchoides besseyi merupakan salah satu nematoda penting terbawa benih yang menginfeksi padi dan dapat menyebabkan kehilangan hasil serta mengurangi kualitas gabah. Penelitian ini bertujuan mendapatkan metode yang efektif untuk mengendalikan nematoda A. besseyi pada benih padi melalui perlakuan air panas dan teh guano. Penelitian dilakukan terhadap tiga varietas padi, yaitu Pak Tiwi 1, Ciherang, dan IPB 3S, dua perlakuan perendaman, yaitu perendaman air panas suhu 55 °C dan perendaman dalam teh guano, serta tujuh waktu perendaman, yaitu 0, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 menit. Perlakuan air panas suhu 55 °C dan teh guano efektif menurunkan populasi nematoda, namun pengaruhnya berbeda pada setiap varietas. Pada varietas Pak Tiwi 1 perendaman air panas efektif menurunkan populasi nematoda pada waktu perendaman 5-30 menit, dan daya tumbuh paling baik pada perendaman air panas dengan waktu 10 menit dan kontrol dengan waktu 20 menit. Pada varietas Ciherang, metode perendaman air panas efektif dengan rentang waktu 5-30 menit dan perendaman teh guano selama 30 menit efektif menurunkan populasi nematoda, serta interaksi terbaik yang menghasilkan daya tumbuh paling tinggi ditunjukkan pada perlakuan kontrol dengan waktu 10, 15, 20, 25, dan 30 menit, perendaman teh guano dengan waktu 5, 10, 25 menit, dan perendaman air panas dengan waktu 5 dan 10 menit. Pada varietas IPB 3S, penurunan populasi terbaik ditunjukkan pada perendaman teh guano dengan waktu 5 dan 30 menit, sedangkan daya tumbuh terbaik ditunjukkan pada perendaman air panas dengan waktu 5 menit.
The The Effect of Gamma Rays on Local Chilli Infected to Pepper Yellow Leaf Curl Virus Infection (Begomovirus) Tarigan, Rasiska; Hanafia, Diana Sofia; Sinuraya, Mariati; Barus, Susilawati; Marpaung, Agustina E; Murtiningsih, Rini; Sebayang, Amelia
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.2.74-82

Abstract

Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi di Indonesia. Cabai lokal Karo berbatang ungu merupakan cabai yang memiliki keunggulan produksi dan pertumbuhan vegetatif tinggi, namun sangat rentan terhadap penyakit virus keriting kuning oleh begomovirus. Salah satu upaya pengendalian begomovirus ialah dengan perakitan genotipe baru yang tahan melalui induksi iradiasi sinar gamma. Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh iradiasi sinar gamma pada benih cabai lokal Karo berbatang ungu terinfeksi begomovirus untuk mendapatkan calon genotipe mutan yang tahan. Benih dari tanaman cabai terinfeksi begomovirus diberi perlakuan iradiasi sinar gamma dengan taraf dosis 150, 200, dan 250 Gy untuk mendapatkan tanaman mutan 1 (M1). Benih sehat dan benih berasal dari tanaman sakit tanpa perlakuan digunakan sebagai tanaman kontrol. Parameter yang diamati meliputi insidensi dan keparahan penyakit, AUDPC dan deteksi begomovirus pada tanaman M1 dan benih generasi kedua (M2). Perlakuan iradiasi sinar gamma taraf dosis 150 Gy pada benih cabai terinfeksi begomovirus menunjukkan rata-rata insidensi, keparahan penyakit, dan AUDPC paling rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya pada tanaman mutan M1 dan M2. Berdasarkan deteksi dengan PCR pada tanaman mutan M2, dari perlakuan dosis 150 Gy didapatkan 7 calon genotipe tahan begomovirus terbanyak di antara perlakuan lainnya.
Mansoa alliacea and Allamanda cathartica Extract Formula for The Control of Stem Rot Disease on Soybean Plants Made Susun, Ni Made Susun Parwanayoni; Darsini, Nyoman
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.2.57-62

Abstract

Potensi keanekaragaman hayati flora di Indonesia belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai pestisida nabati yang ramah lingkungan, dan mengurangi penggunaan pestisida sintetis pada tanaman. Daun Mansoa alliacea dan Allamanda cathartica memiliki potensi sebagai pestisida nabati karena secara in vitro mampu menghambat Athelia rolfsii, penyebab penyakit busuk batang pada tanaman kedelai. Penelitian dilakukan pada skala lapangan untuk menguji formula aplikasi ekstrak daun M.allicea dan A. cathartica yang berpengaruh terhadap perkembangan penyakit busuk batang, pertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai. Tahapan penelitian meliputi: ekstraksi, pembuatan formula dengan mencampurkan ekstrak daun M.allicea dan A. cathartica, aplikasi formula pada tanaman kedelai, pengamatan, dan pemanenan. Formula ekstrak 1.5% daun M. alliacea dan A. cathartica direkomendasikan untuk diaplikasikan karena dapat menekan penyakit busuk batang, meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil panen di lapangan.
Biological Control of Bacterial Grain Rot Disease Caused by Burkholderia glumae Using Actinomycetes Nurmujahidin; Giyanto, Giyanto; Dadang
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.2.63-73

Abstract

Biological Control of Bacterial Grain Rot Disease Caused by Burkholderia glumae Using ActinomycetesBacterial grain rot disease is an important disease in rice plants caused by the bacterium Burkholderia glumae and causes yield loss up to 70%. In general, it is recommended to control this disease by seed treatment using various biological agents, including actinomycetes which produce antibacterial bioactive compounds. The aim of this study was to obtain actinomycetes strains that have the potential to control bacterial grain rot caused by B. glumae. The stages of the research included isolating and screening actinomycetes as potential biological agents against B. glumae, testing the phytotoxicity of actinomycetes on rice seeds, and testing the effectiveness of actinomycetes in controlling B. glumae on rice in the nursery phase. There were 40 actinomycetes isolated from rice plants and the rhizosphere and 17 of them had no potential as pathogens for plants or mammals. The suppression potency of the actinomycetes based on antibiosis test yielded 7 actinomycetes strains that were able to suppress the development of B. glumae and 5 strains had an inhibition zone of more than 2 mm, were not phytotoxic to rice plants and had the ability to promote plant growth. This actinomycete strain affects the growth of B. glumae and also suppresses the degree of its infection. Actinomycetes ST1, ST27, and BT23 strains were effective in suppressing bacterial grain rot in the nursery phase.
Character Diversity of Black Rot Bacterial Strains (Xanthomonas campestris pv. campestris) on Cabbage against Mixture of Active Ingredients Azoxystrobin and Diphenoconazole Af'idzatuttama; Nawangsih, Abdjad Asih; Giyanto
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.2.45-56

Abstract

Character Diversity of Black Rot Bacterial Strains (Xanthomonas campestris pv. campestris) on Cabbage against Mixture of Active Ingredients Azoxystrobin and Diphenoconazole Xanthomonas campestris pv. campestris is a bacterium that causes black rot on cabbage. Farmers still rely on the synthetic pesticides azoxystrobin and difenoconazole to control diseases in cabbage which are feared to have an impact on the diversity of X. campestris pv. campestris. The objective of the research was to obtain genetic and phenotypic diversity data on X. campestris pv. campestris, as well as obtaining data on the resistance response of these bacterial isolates to a mixture of the active ingredients azoxystrobin and difenoconazole. The study consisted of five stages (1) sampling on land with black rot symptoms; (2) isolation of bacteria using tissue implant technique; (3) selection of isolates by testing properties of Gram, hypersensitivity, starch hydrolysis, and pathogenicity; (4) identification using specific and universal 16S rRNA primers; and (5) analysis of genotypic diversity by in silico RFLP method and phenotypic diversity by measuring EPS weight. The results of molecular characterization and identification obtained five isolates of X. campestris pv. campestris (CLT01, CDA08, SDA02, SDA22, and SDA26). The results of the analysis of genotypic diversity showed that the five isolates had genetic diversity based on the cutting of the 16S rRNA gene DNA fragment, while phenotypically indicated different Inhibition concentration (IC) values. SDA22 isolate had the highest IC50 value and different genetic diversity compared to other X. campestris pv. campestris. The use of synthetic pesticides azoxystrobin and difenoconazole continuously for a long time is feared to have an impact on pathogenic microbes such as X. campestris pv. campestris. So that other control alternatives are needed so that there is no resistance to these pathogenic microbes.
Pengembangan Deteksi Spesifik untuk Mungbean Yellow Mosaic India Virus yang Menginfeksi Kacang Panjang di Jawa, Indonesia Nurulita, Sari; Mutaqin, Kikin; Hidayat, Sri
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.2.83-88

Abstract

Yellow mosaic disease was reported for the first time in Indonesia in 2008. Its infection on yard long bean caused significant yield loss. Mungbean yellow mosaic India virus (MYMIV), member of genus Begomovirus was identified as the main causal agent. Specific and accurate detection is important for disease monitoring as part of disease management strategy. The aim of this study was to construct specific primer pairs for quick and robust detection of MYMIV using polymerase chain reaction method. A pair of primers MY1/MY2 was designed in this study to amplify part of MYMIV coat protein. In silico and in vitro test showed that MY1/MY2 primers specifically amplified MYMIV.
Distribution of Yellow Curly Leaf Disease in Chili Plantations in Southeast Sulawesi and Identification of the Causes Muhammad Taufik; HS, Gusnawaty; Syair, Syair; Mallarangeng, Rahayu; Khaeruni, Andi; Botek, Muhammad; Hartono, Sedyo; Aidawati, Noor; Hidayat, Purnama
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.3.89-98

Abstract

Penyakit daun keriting kuning pada pertanaman cabai di Sulawesi Tenggara telah dilaporkan sejak tahun 2018, yaitu di Kabupaten Kolaka Timur dan Kota Kendari. Gejala penyakit di lapangan semakin meluas seiring dengan perluasan penanaman cabai. Penelitian bertujuan menghitung kembali insidensi penyakit daun keriting kuning pada pertanaman cabai di Sulawesi Tenggara, mengidentifikasi serangga yang berasosiasi dengan tanaman cabai, dan mengidentifikasi penyebab penyakitnya. Pengamatan insidensi penyakit dilakukan di pertanaman cabai yang berada di Kabupaten Bombana, Konawe Selatan, Konawe, Kendari, Kolaka Timur, Kolaka, dan Kolaka Utara. Identifikasi kutukebul dilakukan berdasarkan karakter morfologi. Deteksi dan identifikasi begomovirus menggunakan metode polymerase chain reaction, yang dilanjutkan dengan analisis sikuensing. Rata-rata insidensi penyakit daun keriting kuning di tujuh kabupaten ialah 36%–90%. Spesies kutukebul yang ditemukan adalah Aleurotrachelus trachoides. Fragmen DNA spesifik begomovirus berukuran 580 pb berhasil diamplifikasi dari sampel tanaman cabai asal tujuh kabupaten di Sulawesi Tenggara. Analisis sikuen mengonfirmasi infeksi Pepper yellow leaf curl Indonesia virus pada pertanaman cabai di Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara, Bombana, Konawe, dan Konawe Selatan.
Intensity of Main Disease in Several Superior Sugarcane Clones at Krebet Baru Sugar Factory, Malang Rizqiyah, Sakinah Inayatur; Yulianti, Titiek; Hidayat, Sri Hendrastuti
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.18.6.231-238

Abstract

Tebu (Saccharum officinarum) merupakan tanaman perkebunan penting sebagai penghasil utama gula di Indonesia. Penurunan produksi gula tebu dalam beberapa tahun terakhir tidak sejalan dengan permintaan gula tebu yang kian meningkat. Pemuliaan tanaman diarahkan untuk mendapatkan varietas-varietas tebu unggul yang diharapkan memiliki produktivitas tinggi dan tahan terhadap faktor-faktor gangguan yang dapat menurunkan produktivitas tanaman. Pengamatan penyakit mosaik bergaris (Sugarcane streak mosaic virus/SCSMV), pokahbung (Fusarium moniliforme), dan luka api (Sporisorium scitamineum) dilakukan pada 14 klon tebu unggul di PG Krebet Baru, Malang. Pengamatan intensitas penyakit dilakukan setiap 2 minggu selama 3 bulan dan sampel tanaman yang menunjukkan gejala penyakit dideteksi penyebab penyakitnya di laboratorium. Gejala penyakit mosaik bergaris terjadi pada tiga klon tebu dengan intensitas antara 8.33% dan 63.89%; sedangkan gejala penyakit pokahbung dan luka api ditemukan pada 11 dan 14 klon tebu dengan intensitas berturut-turut 2.78% sampai 22.22% dan 11.11% sampai 25%. Konfirmasi keberadaan SCSMV diperiksa dengan metode polymerase chain reaction; sedangkan cendawan F. moniliforme dan S. scitamineum melalui isolasi jaringan dan pengamatan jaringan meristem. Secara umum insidensi penyakit tergolong rendah pada klon 8 dan 12 sehingga klon tersebut dapat direkomendasikan sebagai klon potensial yang digunakan dalam mengendalikan penyakit utama tebu.
Antagonistic Mechanism of Entomopathogenic Fungi Against Fusarium oxysporum f. sp. cubense, The Causal Agents of Banana’s Panama Disease Listiyowati, Sri; Rustiani, Tya; Rahayu, Gayuh
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.19.3.99-110

Abstract

Fusarium oxysporum f. sp. cubense merupakan cendawan tular tanah penyebab penyakit panama pada tanaman pisang. Agens hayati dari kelompok cendawan telah banyak dilakukan untuk mengendalikan penyakit tanaman. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi empat koleksi cendawan entomopatogen berdasarkan pada ciri morfologinya dan mengevaluasi mekanisme antagonismenya terhadap F. oxysporum f. sp. cubense IPBCC 19 1472. Galur cendawan entomopatogen dengan kode PS 4, PS 9, PS 11 berasal dari kawasan Situ Gunung, Sukabumi, Jawa Barat dan galur KRC berasal dari Kebun Raya Cibodas, Jawa Barat. Identifikasi cendawan dilakukan berdasarkan ciri morfologi pada medium agar-agar dekstrosa kentang. Mekanisme antagonistik diteliti menggunakan metode biakan ganda dan sebagai kontrol digunakan biakan tunggal F. oxysporum f. sp. cubense. Pengamatan dilakukan terhadap daya hambat cendawan entomopatogen dan pertumbuhan koloni F. oxysporum f. sp. cubense. Semua cendawan entomopatogen tidak dapat diidentifikasi secara morfologi karena tidak bersporulasi. Pertumbuhan koloninya lebih lambat daripada F. oxysporum f. sp. cubense. Semua cendawan entomopatogen menghambat F. oxysporum f. sp. cubense melalui mekanisme kompetisi ruang. Galur KRC memiliki aktivitas antagonisme paling besar, diikuti berturut-turut oleh galur PS 9, PS 11, dan PS 4. F. oxysporum f. sp. cubense membentuk klamidospora sebagai respons terhadap cendawan entomopatogen galur PS9 dan vakuolisasi ketika berinteraksi dengan tiga galur cendawan entomopatogen lainnya.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 1 (2025): Maret 2025 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 5 (2024): September 2024 Vol. 20 No. 4 (2024): Juli 2024 Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024 Vol. 20 No. 2 (2024): Maret 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024 Vol 19 No 6 (2023): November 2023 Vol 19 No 5 (2023): September 2023 Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023 Vol. 19 No. 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023 Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023 Vol. 19 No. 2 (2023): Maret 2023 Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023 Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022 Vol. 18 No. 5 (2022): September 2022 Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022 Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022 Vol. 18 No. 2 (2022): Maret 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): Januari 2022 Vol 17 No 6 (2021) Vol 17 No 5 (2021) Vol 17 No 4 (2021) Vol 17 No 3 (2021) Vol 17 No 2 (2021) Vol 17 No 1 (2021) Vol 16 No 6 (2020) Vol. 16 No. 5 (2020) Vol 16 No 4 (2020) Vol. 16 No. 3 (2020) Vol 16 No 2 (2020) Vol 16 No 1 (2020) Vol 15 No 6 (2019) Vol 15 No 2 (2019) Vol 15 No 1 (2019) Vol 14 No 6 (2018) Vol 14 No 5 (2018) Vol 14 No 4 (2018) Vol. 14 No. 3 (2018) Vol. 14 No. 2 (2018) Vol 14 No 1 (2018) Vol. 14 No. 1 (2018) Vol. 13 No. 6 (2017) Vol 13 No 5 (2017) Vol. 13 No. 5 (2017) Vol 13 No 4 (2017) Vol. 13 No. 3 (2017) Vol. 13 No. 2 (2017) Vol. 13 No. 1 (2017) Vol 12 No 6 (2016) Vol 12 No 5 (2016) Vol 12 No 4 (2016) Vol 12 No 3 (2016) Vol 12 No 2 (2016) Vol 12 No 1 (2016) Vol 11 No 6 (2015) Vol 11 No 5 (2015) Vol 11 No 4 (2015) Vol 11 No 3 (2015) Vol 11 No 2 (2015) Vol 11 No 1 (2015) Vol 10 No 6 (2014) Vol 10 No 5 (2014) Vol 10 No 4 (2014) Vol 10 No 3 (2014) Vol 10 No 2 (2014) Vol 10 No 1 (2014) Vol 9 No 6 (2013) Vol 9 No 5 (2013) Vol 9 No 4 (2013) Vol 9 No 3 (2013) Vol 9 No 2 (2013) Vol 9 No 1 (2013) Vol 8 No 6 (2012) Vol 8 No 5 (2012) Vol 8 No 4 (2012) Vol. 8 No. 3 (2012) Vol. 8 No. 2 (2012) Vol. 8 No. 1 (2012) More Issue