cover
Contact Name
Muhammad Alfan Sidik
Contact Email
rusydiah@stainkepri.ac.id
Phone
+6282221297011
Journal Mail Official
rusydiah@stainkepri.ac.id
Editorial Address
P3M (Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau- Indonesia Jl. Lintas Barat KM 19 Ceruk Ijuk, Toapaya Kab. Bintan, Kepulauan Riau Phone +62 85274649662 Email: mahfuzah@stainkepri.ac.id
Location
Kab. bintan,
Kepulauan riau
INDONESIA
Rusydiah: Jurnal Pemikiran Islam
ISSN : 27234894     EISSN : 27234886     DOI : https://doi.org/10.35961/rsd.v1i1.128
Jurnal Rusydiah fokus mempublikasikan artikel berdasarkan penelitian yang berkaitan dengan pemikiran Islam
Articles 66 Documents
Synthesizing Islam with Local Values: The Philosophy of Minangkabau Speech Kato nan Ampek and the Qur’an Rezi, Muhamad; Raya, Ahmad Thib; Hariyadi, Muhammad; Ibrahim , Mohamed Akhiruddin; Kirin, Arwansyah
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/rsd.v6i1.2388

Abstract

This article examines the possibility of synthesizing substantively two different components, namely the Qur'an and the local wisdom of Nusantara, Indonesia. In this case, Kato nan Ampek is a philosophy of speech acts in Minangkabau. There are four Kato: Mandaki, Manurun, Malereng, and Mandata. Each of the Kato nan Ampek is used according to the speech partner. This research was conducted qualitatively with a synthesis approach. It was found that Kato Mandaki, in substance and use, is by the principles of Qawlan Karîma; Kato Manurun, in substance, can be synthesized with Qawlan Sadîda, and the principle of the practice of Kato Manurun should be based on the principle of Qawlan Sadîda; and with Kato Malereng, in practice, it should also be based on the principle of Qawlan Balîgha; as well as Kato Manurun, its use should also be based on the principle of Qawlan Layyina.
Pendekatan Komplementasi Antara Al-Qur’an dan Psikologi Tentang Proses Kunci Ketahanan Keluarga Orang Tua Tunggal Lazim, Muhammad; Raya, Ahmad Thib; Febriani, Nur Arfiyah; Ayu, Nur Meity Sulistia
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/rsd.v6i2.2053

Abstract

Munculnya paradigma keilmuan bercorak teoatroposentris-integralistik-interkonektif yang menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sentral keilmuan dengan mengembangkan beragam pola ijtihad menjadikan solusi atas problematika kehidupan lebih kongkrit. Di antara pendekatan yang digunakan adalah komplementasi yaitu pendekatan sains dan ajaran Islam yang saling memperkuat tetapi tetap mempertahankan eksistensinya masing-masing. Dalam konteks keluarga dengan orang tua tunggal, beragam problematika yang dihadapinya seringkali berujung pada kerentanan institusi keluarga. Al-Qur'an sebagai hudan memberikan pedoman melalui keteladanan profil keluarga orang tua tunggal yang sukses. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap ranah managemen internal keluarga orang tua tunggal yang profilnya dipaparkan dalam Al-Qur'an dalam meraih ketahanan keluarga. Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan murni dengan metode kualitatif. Metodologi penafsiran yang digunakan adalah tafsir tematik dengan pendekatan komplementasi psiko-sosial. Teori Psiko-sosial yang diacu adalah key processes in family resilience versi Froma Walsh sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an yang diacu adalah ayat-ayat yang berkisah (qashah Al-Qur’an) tentang orang tua tunggal yang sukses dalam menghadirkan ketahanan keluarga. Penelitian ini menemukan bahwa berdasarkan subjek percontohan Al-Qur’an, ranah manajemen internal keluarga sebagai proses kunci membangun ketahanan keluarga yang meliputi sistem kepercayaan, proses organisasi, dan proses komunikasi. Kajian ini merekomendasikan agar para orang tua tunggal menerapkan managemen internal keluarganya agar tetap dapat merealisasikan ketahanan keluarga meskipun secara struktural fungsional ada kepincangan.   The emergence of a theoanthropocentric-integralistic-interconnective scientific paradigm that makes the Qur'an and As-Sunnah the center of knowledge by developing various patterns of ijtihad makes solutions to life's problems more concrete. Among the approaches used is complementarity, namely the approach of science and Islamic teachings that strengthen each other but still maintain their respective existence. In the context of single-parent families, the various problems they face often lead to the vulnerability of the family institution. The Qur'an as a guide provides guidance through the exemplary profiles of successful single-parent families. This study, which aims to uncover the internal management of single-parent families, whose profiles are described in the Qur'an in achieving family resilience, is a purely library research using qualitative methods. The interpretation methodology used is thematic interpretation with a psycho-social complementarity approach. The psycho-social theory referred to is Froma Walsh's key processes in family resilience, while the Qur'anic verses referred to are verses that tell stories (qashah Al-Qur'an) about single parents who have succeeded in presenting family resilience. This study found that based on the Qur'anic exemplary subjects, the internal family management domain is a key process in building family resilience that includes belief systems, organizational processes, and communication processes. This study recommends that single parents implement internal family management so that they can still realize family resilience even though there are structural and functional flaws.
Transformasi Nilai Uzlah di Era Modern: Studi Kasus Fenomena “Self Healing” di Kalangan Artis Indonesia Anggraini, Reski
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/rsd.v6i1.2072

Abstract

Penelitian ini fokus mengkaji tentang fenomena “self healing” pada tiga tokoh artis atau influencer Indonesia dengan menggunakan perspektif tasawuf modern Buya Hamka. Kebutuhan manusia terhadap agama semakin dirasakan, terutama ketika muncul berbagai penyakit mental seperti depresi, stres, kegelisahan, penderitaan hidup, dan gangguan kejiwaan lainnya. Dalam hal ini, tasawuf sebagai aspek esoterik agama memberikan kontribusi sebagai solusi untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Studi kualitatif penelitian menggunakan sumber primer dari postingan media Instagram, dan sumber pendukung dari berbagai literature seperti jurnal. Penelitian ini mengambil kasus tiga selebriti perempuan muslim yang menjadi public figure di Indonesia. Dengan menganalisis unggahan mereka terkait wisata religi atau biasa kita sebut self healing pada postingan media sosial ‘Instagram’ penulis menemukan bahwa fenomena self healing yang religious dapat dikaji dari dampaknya yakni melalui perilaku manusia dan bahwa peningkatan religiusitas Islam dapat diamati dan dicatat dalam lingkup spiritualisme dan penerapan ajaran Islam, khususnya uzlah, di era modern. Penelitian ini menunjukkan nilai uzlah kontemporer yang sudah mengalami pergeseran bentuk dalam impikasinya, tetapi tetap mempunyai unsur spiritualitas. Selanjutnya, artikel ini juga berkontribusi dalam menguatkan penelitian sebelumnya tentang uzlah modern.
Dari Masyumi Ke Partai Bulan Bintang: Kontinuitas Ideologi dan Pengaruhnya dalam Politik Pemerintahan Indonesia Nisa, Khoirun; Yusuf, Kamal; Basuki, Syachrazad Niken; Mohd Fadzil, Huda Binti
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/rsd.v6i1.2058

Abstract

Masyumi merupakan partai Islam modernis terbesar pada era demokrasi parlementer yang menekankan demokrasi, ekonomi syariah, dan antikomunisme. Pembubarannya oleh Presiden Soekarno pada 1960 menghilangkan wadah politik Islam modernis. Pada era Reformasi, Partai Bulan Bintang (PBB) didirikan untuk melanjutkan perjuangan Masyumi, tetapi menghadapi tantangan besar dalam meraih dukungan politik yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontinuitas ideologi dan perbedaan antara Masyumi dan Partai Bulan Bintang dalam dinamika politik Islam di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun PBB mewarisi landasan ideologis Masyumi, terutama dalam menjadikan Islam sebagai prinsip utama perjuangan politik, partai ini tidak mampu mengulangi kesuksesan historis pendahulunya. Faktor-faktor seperti perubahan lanskap politik nasional, menurunnya basis pemilih ideologis, serta dinamika internal partai turut mempengaruhi lemahnya posisi PBB di panggung politik nasional. Kajian ini menegaskan bahwa keberlanjutan ideologi tidak menjamin keberhasilan politik apabila tidak diikuti dengan kemampuan adaptasi terhadap tantangan zaman.
Transforming Religious Authority: Islamic Epistemology in the Digital Age Muhdi Ali; Farih, Awan; Sholahuddin Al Ayubi; Andi Rosa
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/rsd.v6i1.2079

Abstract

The rapid development of digital technology has brought substantial changes in the production, distribution, and validation of Islamic knowledge, triggering fundamental epistemological challenges regarding the authority and legitimacy of religious discourse in the social media era. This study critically analyzes how digitalization transforms traditional religious authority and reconstructs the epistemology of contemporary Islamic thought, focusing on shifting patterns of production, validation, and distribution of religious knowledge. Using a qualitative approach that integrates literature studies and Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA), this study analyzes academic literature and digital content to uncover the ideological dimensions and power relations behind epistemological shifts in online Islamic discourse. The results show that digitalization shifts knowledge production from an institutional-hierarchical framework to a more flexible, participatory, and algorithm-driven space, where validation now relies more on popularity metrics than scientific accuracy. This shift gives rise to epistemic populism that replaces scientific authority with performative influence, implicating a decline in methodological depth and the polarization of Islamic identity. This study concludes that digitalization acts as an agent of epistemological transformation that demands the development of a hybrid Islamic epistemology, which combines classical scientific values with digital participatory methods to maintain scientific integrity.
The Cross-Faith Nyadran Tradition: Navigating Popular Religion for Harmonious Living in Contemporary Indonesia Prihantoro, Hijrian Angga
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/rsd.v6i1.2432

Abstract

This study investigates the interfaith Nyadran tradition practiced by the Getas-Temanggung community, addressing the scholarly question of how local religious and ritual practices sustain their relevance amid the intensifying forces of modernization. The research aims to elucidate the dynamics of Nyadran as a form of folk religion and its function in navigating interfaith harmony. Data were obtained through participant observation to capture ritual practices, interviews with interfaith participants, and analysis of pertinent documents. Employing an analytical framework grounded in the concepts of popular religion and religious harmony, the findings reveal that the interfaith Nyadran tradition integrates formal religious values with local customs, thereby creating an inclusive space for interfaith engagement. This ritual promotes social solidarity, cultivates tolerance, and supports ecological harmony through practices that demonstrate respect for nature. The practical implications underscore the significance of respecting and preserving local traditions as a strategy for enhancing social cohesion within the context of modernity, alongside advocating for an inclusive religious ideology as a counter-narrative to fundamentalist and exclusivist perspectives. The study recommends that governmental bodies and religious organizations endorse similar practices as models for strengthening social cohesion in multicultural, multiethnic, and multireligious societies.