cover
Contact Name
Ida Sofiyanti
Contact Email
fakultaskesehatanunw@gmail.com
Phone
+6287747996725
Journal Mail Official
fakultaskesehatanunw@gmail.com
Editorial Address
http://e-abdimas.unw.ac.id/index.php/jhhs/about/editorialTeam
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS)
ISSN : -     EISSN : 26863812     DOI : https://doi.org/10.35473/jhhs.v2i1
Core Subject : Health,
Menerima hasil penelitian dalam bidang kesehatan, keperawatan, kebidanan, dan farmasi. Jurnal ini diterbitkan pada bulan Maret dan September
Articles 239 Documents
Penerapan Teknik Distraksi Menggambar dan Mewarnai dalam Menurunkan Anxietas Hospitalisasi pada Anak Geds Febris : Application of Drawing and Coloring Distraction Techniques to Reduce Hospitalization Anxiety in Children with GEDs Febris Sumijan, Sumijan; Boediarsih
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.698

Abstract

Hospitalization in children often triggers an anxiety response characterized by crying, refusal of medical treatment, and fear of healthcare professionals. If left untreated, this condition can hinder the healing process. One non-pharmacological intervention to address this is play therapy with drawing and coloring distraction techniques. This study aims to describe the application of nursing care using drawing and coloring distraction techniques to reduce hospitalization stress in children with febrile moderate dehydration gastroenteritis (GEDS). The research method used a case study with a nursing process approach in two pediatric patients in the Nakula 2 Ward, K.R.M.T. Wongsonegoro Regional Hospital, Semarang. Data were collected through interviews, observations, and physical examinations over three days of treatment. The instrument to measure anxiety was the Facial Image Scale with a scale of 5-1. The study results showed that after the drawing and coloring intervention, the anxiety levels of both patients decreased significantly, as indicated by the children being calmer, more cooperative during procedures, and a reduction in tension from a scale of 4 to 2. This technique is effective as a supporting strategy in pediatric nursing care to improve adaptation during hospitalization.   ABSTRAK Hospitalisasi pada anak sering kali memicu respons kecemasan (anxietas) yang ditandai dengan perilaku menangis, menolak tindakan medis, dan ketakutan terhadap tenaga kesehatan. Kondisi ini, jika tidak ditangani, dapat menghambat proses penyembuhan. Salah satu intervensi nonfarmakologis untuk mengatasi hal tersebut adalah terapi bermain dengan teknik distraksi menggambar dan mewarnai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan asuhan keperawatan dengan teknik distraksi menggambar dan mewarnai dalam menurunkan stres hospitalisasi pada anak dengan gastroenteritis dehidrasi sedang (GEDS) febris. Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan pada dua pasien anak di Ruang Nakula 2 RSD K.R.M.T. Wongsonegoro Semarang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik selama tiga hari perawatan. Instrumen untuk mengukur anxiety menggunakan Facial Image Scale dengan skala 5-1. Hasil studi menunjukkan bahwa setelah pemberian intervensi menggambar dan mewarnai, tingkat kecemasan kedua pasien menurun secara signifikan, yang ditandai dengan anak lebih tenang, kooperatif saat tindakan, dan ketegangan berkurang dari skala 4 menjadi 2 . Teknik ini efektif sebagai strategi penunjang dalam asuhan keperawatan anak untuk meningkatkan adaptasi selama hospitalisasi.
Hubungan Stres Akademik dengan Derajat Sindrom Pramenstruasi pada Mahasiswi Kebidanan: The Relationship between Academic Stress and the Severity of Premenstrual Syndrome among Midwifery Students Ariyantini, Kadek Desy; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Pratiwi, Putu Irma
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.703

Abstract

Premenstrual Syndrome (PMS) is a common condition experienced by women of reproductive age, including university students, characterized by a combination of physical, psychological, and emotional symptoms that occur during the luteal phase of the menstrual cycle. Psychological stress is recognized as one of the factors that may exacerbate PMS symptoms, particularly among students facing academic demands. This study aimed to determine the relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome among midwifery students at the Faculty of Medicine, Universitas Pendidikan Ganesha. This research employed a correlational analytic design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all active midwifery students at the Faculty of Medicine, Universitas Pendidikan Ganesha. A total of 159 respondents were included using a total sampling technique. Data were collected using the Perceived Stress Scale (PSS) to assess stress levels and the Shortened Premenstrual Assessment Form (SPAF) to measure the incidence and severity of PMS. Data analysis included univariate analysis to describe respondent characteristics and bivariate analysis using the Spearman Rank correlation test with SPSS software. The results showed that most respondents experienced moderate stress levels (81.1%), while 13.8% experienced high stress and 5.0% experienced low stress. Regarding PMS, the majority of respondents experienced PMS of moderate severity (36.5%) and severe severity (31.4%), while only a small proportion did not experience PMS (3.1%). Statistical analysis revealed a significant relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome, with a p-value of 0.001 (p < 0.05). Higher stress levels were associated with increased severity of PMS symptoms. In conclusion, there is a significant relationship between stress levels and the incidence of Premenstrual Syndrome among midwifery students. These findings indicate that psychological stress plays an important role in the occurrence and severity of PMS. Therefore, stress management interventions and reproductive health education are essential to improve the well-being and academic performance of midwifery students.   ABSTRAK Premenstrual Syndrome (PMS) adalah gangguan yang sering terjadi pada perempuan dalam usia subur, termasuk mahasiswi, yang ditandai dengan munculnya berbagai keluhan fisik, emosional, dan psikologis pada fase luteal siklus menstruasi. Mahasiswi kebidanan termasuk kelompok yang berisiko mengalami stres akibat tekanan akademik dan praktik klinik yang berkelanjutan. Tingginya prevalensi sindrom pramenstruasi yang berpotensi dapat mengganggu fungsi akademik dan psikososial mahasiswi. Apabila faktor yang berhubungan dengan PMS, khususnya stres psikologis, tidak diidentifikasi, maka penanganan yang diberikan cenderung bersifat simptomatik dan tidak menyentuh faktor predisposisi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan perburukan gejala, penurunan kualitas hidup, serta gangguan performa akademik. Oleh karena itu, penelitian ini penting sebagai dasar dalam penyusunan program manajemen stres dan promosi kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan tinggi. Penelitian ini menggunakan rancangan analitik korelasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional). Seluruh mahasiswi program studi D3 dan S1 Kebidanan angkatan 2023–2025 dijadikan populasi, dengan teknik total sampling sehingga diperoleh 159 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen Perceived Stress Scale (PSS) untuk menilai tingkat stres dan Shortened Premenstrual Assessment Form (SPAF) untuk mengukur kejadian serta tingkat keparahan PMS. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rank dengan bantuan SPSS. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami tingkat stres sedang (81,1%), dengan 13,8% mengalami stres tinggi dan 5,0% mengalami stres rendah. Berdasarkan kejadian Premenstrual Syndrome (PMS), sebagian besar responden mengalami PMS dengan derajat sedang (36,5%) dan berat (31,4%), sedangkan 3,1% tidak mengalami PMS. Hasil uji statistik Spearman Rank menunjukkan nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05), yang menandakan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres dan kejadian PMS. Semakin tinggi tingkat stres, semakin berat derajat PMS yang dialami. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan derajat sindrom pramenstruasi pada mahasiswi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha. Stres psikologis berperan dalam meningkatkan keparahan gejala PMS, sehingga diperlukan upaya manajemen stres serta edukasi kesehatan reproduksi guna meningkatkan kualitas hidup dan kesiapan akademik mahasiswi.
Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Keteraturan Siklus Menstruasi pada Mahasiswi Kebidanan: The Relationship Between Body Mass Index (BMI) and Menstrual Cycle Regularity in Midwifery Students Dewi, I Gusti Ayu Agung Intan; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Pratiwi, Putu Irma
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.705

Abstract

The menstrual cycle is an important component in assessing women's reproductive health, reflecting the balance of the hormonal system. Irregular menstrual cycles can be an indication of metabolic or hormonal disorders, one of which is related to Body Mass Index (BMI). A BMI that is below or above the normal range has the potential to disrupt estrogen hormone regulation, thereby increasing the risk of menstrual cycle disorders, especially among female students. This study aims to analyze the relationship between Body Mass Index (BMI) and menstrual cycle patterns among midwifery students at the Faculty of Medicine, Ganesha University of Education (Undiksha). This study used a cross-sectional design with a total sampling method, involving 158 active students who completed a questionnaire. Data collection was carried out by distributing questionnaires online through Google Forms. The data were analyzed using the Chi-Square test. The results showed that the majority of respondents had a normal BMI (69.6%) and a normal menstrual cycle (75.9%). Statistical analysis showed that respondents with abnormal BMI (underweight or overweight) had a higher tendency to experience irregular menstrual cycles compared to respondents with normal BMI. Statistical tests showed a p-value of 0.040 (p <0.05), indicating a significant relationship between   ABSTRAK Siklus menstruasi merupakan salah satu komponen penting dalam menilai kesehatan reproduksi perempuan yang mencerminkan keseimbangan sistem hormonal. Ketidakteraturan siklus menstruasi dapat menjadi indikasi adanya gangguan metabolik atau hormonal, yang salah satunya berkaitan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Status IMT yang berada di bawah maupun di atas batas normal berpotensi mengganggu regulasi hormon estrogen sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan siklus menstruasi, khususnya pada kelompok mahasiswi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan pola siklus menstruasi pada mahasiswi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan metode pengambilan sampel yakni total sampling, melibatkan 158 mahasiswi aktif yang mengisi kuesioner. Proses pengumpulan data dilaksanakan dengan membagikan kuesioner secara daring melalui Google Form. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki IMT dalam kategori normal (69,6%) dan siklus menstruasi normal (75,9%). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa responden dengan IMT tidak normal (kurus maupun overweigth) memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur dibandingkan dengan responden yang memiliki IMT normal. Uji statistik menunjukkan nilai p = 0,040 (p <0,05), sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dan keteraturan siklus menstruasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa IMT berhubungan dengan keteraturan siklus menstruasi pada mahasiswi Kebidanan FK Undiksha. Oleh karena itu, disarankan untuk mempertahankan IMT dalam rentang normal sebagai upaya menjaga kesehatan reproduksi.
Analisis Hubungan Paritas dan Usia Ibu dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada Ibu Hamil : Analysis of the Association Between Parity and Maternal Age and the Occurrence of Chronic Energy Deficiency (CED) Among Pregnant Women Rahayu, Kadek Karunia Dita; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Pratiwi, Putu Irma; Mertasari, Luh
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.700

Abstract

Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnancy remains a nutritional problem that may increase maternal health risks and hinder fetal growth. Parity and maternal age are often discussed as related factors, yet previous evidence is inconsistent, especially across midwifery care settings. This study examined the association of parity and maternal age with CED among pregnant women attending antenatal care (ANC) at TPMB Luh Mertasari in 2024-2025. A quantitative analytical observational study with a cross-sectional design was conducted using ANC medical records. Total sampling included 188 pregnant women. CED status was determined using mid-upper arm circumference (MUAC): MUAC <23.5 cm was classified as CED and MUAC ≥23.5 cm as non-CED. Data were summarized using frequencies and percentages. Associations were tested using Fisher’s Exact test (two-sided) because at least one contingency-table cell had an expected count <5, with p<0.05 considered significant. Most participants were non-CED (90.4%). No CED cases were found in the high-risk parity group (n=26), while 18 women (11.1%) in the non-high-risk parity group (n=162) were classified as CED (p=0.141). In the high-risk age group (n=33), 3 women (9.1%) were classified as CED, and in the non-high-risk age group (n=155), 15 women (9.7%) were classified as CED (p=1.000). In conclusion, CED in this setting was not significantly associated with parity or maternal age. Given the multifactorial nature of CED, prevention should emphasize routine nutritional screening and strengthened nutrition interventions for all pregnant women during ANC. ABSTRAK Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil masih menjadi masalah gizi yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan ibu dan menghambat pertumbuhan janin. Paritas dan usia ibu kerap dipertimbangkan sebagai faktor yang berkaitan dengan KEK. Namun, temuan penelitian terdahulu masih bervariasi sehingga diperlukan bukti pada konteks pelayanan kebidanan. Penelitian ini menganalisis hubungan paritas dan usia ibu dengan kejadian KEK pada ibu hamil yang melakukan kunjungan antenatal (ANC) di TPMB Luh Mertasari tahun 2024-2025. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh dari rekam medis pelayanan ANC, dengan total sampling sebanyak 188 ibu hamil. Status KEK ditentukan berdasarkan Lingkar Lengan Atas (LiLA), yaitu KEK jika LiLA <23,5 cm dan tidak KEK jika LiLA ≥23,5 cm. Analisis univariat disajikan dalam frekuensi dan persentase, sedangkan analisis bivariat menggunakan Fisher’s Exact (2-sided) karena terdapat expected count <5, dengan p<0,05. Hasil menunjukkan sebagian besar responden tidak mengalami KEK (90,4%). Pada paritas berisiko (n=26) tidak ditemukan KEK, sedangkan pada paritas tidak berisiko (n=162) terdapat 18 responden (11,1%) dengan KEK, uji Fisher menunjukkan p=0,141. Pada usia berisiko (n=33) terdapat 3 responden (9,1%) dengan KEK dan pada usia tidak berisiko (n=155) terdapat 15 responden (9,7%) dengan KEK, uji Fisher menunjukkan p=1,000. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian KEK pada ibu hamil di TPMB Luh Mertasari tahun 2024-2025 tidak berkaitan secara signifikan dengan paritas maupun usia ibu. Mengingat KEK bersifat multifaktorial, upaya pencegahan perlu menekankan skrining status gizi secara rutin dan penguatan intervensi gizi pada seluruh ibu hamil selama pelayanan ANC.
Hubungan Antara Ukuran Lingkar Lengan Atas dan Indeks Massa Tubuh dengan Risiko Anemia pada Ibu Hamil Trimester Awal: The Relationship Between Upper Arm Circumference And Body Mass Index With The Incidence Of Anemia In First Trimester Pregnant Women Lionita, Ni Luh Erlya; Pratiwi, Putu Irma; Sekarini , Ni Nyoman Ayu Desy
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.702

Abstract

Anemia in pregnant women remains a public health problem that requires serious attention, especially in the first trimester when physiological changes begin to increase the need for iron. Nutritional status is a major factor associated with anemia in pregnant women. Assessment of nutritional status of pregnant women can be performed using Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) and Body Mass Index (BMI). However, data describing the relationship between MUAC and BMI and the incidence of anemia in pregnant women in the first trimester, particularly in midwifery practice, is still limited. Most studies still focus on the later trimester and are conducted in health facilities at the hospital and community health centers (Puskesmas). Therefore, research is needed to support early detection of anemia from early pregnancy. This study was conducted to examine the relationship between MUAC and BMI and the occurrence of anemia in pregnant women in the first trimester. This study applied a quantitative design with a descriptive analytical approach using a cross-sectional method. The population in this study included all pregnant women in the first trimester who visited the TPMB Putu Agustini in Tukadmungga Village, Buleleng Regency in 2025, totaling 91 respondents, with a total sample of 63 respondents determined using a purposive sampling technique. The data used were secondary data sourced from the antenatal care register. The instrument used in this study was an observation sheet or checklist used to record data from the register, including data on LiLA, BMI, and Hb levels of pregnant women. Data analysis was carried out through univariate and bivariate stages using the Fisher's Exact Test. The results of the study showed a significant relationship between LiLA and the occurrence of anemia (p = 0.014). In addition, a significant association was also found between BMI and anemia (p < 0.001). This study concluded that LiLA and BMI showed a significant relationship to anemia in pregnant women in the first trimester.   ABSTRAK Anemia pada ibu hamil hingga kini masih tergolong sebagai masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius, terutama pada trimester pertama ketika perubahan fisiologis mulai meningkatkan kebutuhan zat besi. Status gizi berperan sebagai faktor utama yang berkaitan dengan terjadinya anemia pada ibu hamil. Penilaian status gizi ibu hamil dapat dilakukan dengan menggunakan parameter Lingkar Lengan Atas (LiLA) dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Namun, data yang menggambarkan hubungan ukuran LiLA dan IMT terhadap kejadian anemia pada ibu hamil trimester I, khususnya pada pelayanan praktik mandiri bidan masih terbatas. Mayoritas studi masih memusatkan perhatian pada trimester lanjut serta dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat rumah sakit dan puskesmas. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mendukung deteksi dini anemia sejak awal kehamilan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan ukuran LiLA dan IMT terhadap terjadinya anemia pada ibu hamil trimester I. Studi ini menerapkan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik menggunakan metode cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh ibu hamil trimester I yang melakukan kunjungan ke TPMB Putu Agustini Desa Tukadmungga Kabupaten Buleleng pada tahun 2025 sebanyak 91 responden, dengan total sampel sebanyak 63 responden yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Data yang digunakan berupa data sekunder yang bersumber dari register pelayanan antenatal. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi atau checklist yang dipakai untuk mencatat data dari register, meliputi data LiLA, IMT, dan kadar Hb ibu hamil.  Analisis data dilakukan melalui tahap univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara LiLA terhadap terjadinya anemia (p = 0,014). Selain itu, ditemukan pula keterkaitan yang signifikan antara IMT terhadap anemia (p < 0,001. Penelitian ini menyimpulkan bahwa LiLA dan IMT menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap anemia pada ibu hamil trimester I.
Hubungan Tingkat Alexithymia dengan Kecanduan Media Sosial pada Remaja di SMA Negeri 1 Tuntang: The Relationship Between Alexithymia Levels and Social Media Addiction in Adolescents at SMA Negeri 1 Tuntang kumalasari, Reike; Mona Saparwati
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.704

Abstract

The development of digital technology has encouraged increased use of social media among adolescents, which has the potential to cause addiction because adolescents are still in the stage of emotional and social development. One psychological factor that is thought to play a role is alexithymia, which is the inability of individuals to recognize and express emotions. Adolescents with alexithymia tend to use social media as a means of emotional escape, thereby increasing the risk of addictive behavior. This study aims to determine the relationship between the level of alexithymia and social media addiction among adolescents in SMA Negeri 1 Tuntang. The study used a correlational quantitative design with a population of 336 tenth-grade students and a sample of 77 students determined using quota sampling techniques. The instruments used were the Toronto Alexithymia Scale (TAS-20) and the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS). Data analysis was performed using the Chi-Square test. The results showed that most respondents were in the high alexithymia category (53.2%), while the level of social media addiction was mostly in the moderate category (35.1%). The Chi-Square test showed a significant relationship between the level of alexithymia and social media addiction). The conclusion of this study is that alexithymia is significantly related to social media addiction. Suggestions for future researchers include expanding the scope of research variables by examining other psychological aspects that play a role in addiction.   ABSTRAK Perkembangan teknologi digital mendorong peningkatan penggunaan media sosial pada remaja, yang berpotensi menimbulkan kecanduan karena remaja masih berada pada tahap perkembangan emosi dan sosial. Salah satu faktor psikologis yang diduga berperan adalah alexithymia, yaitu ketidakmampuan individu dalam mengenali dan mengekspresikan emosi. Remaja dengan alexithymia cenderung menggunakan media sosial sebagai sarana pelarian emosional sehingga meningkatkan risiko perilaku adiktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat alexithymia dengan kecanduan media sosial pada remaja di SMA Negeri 1 Tuntang. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan populasi 336 siswa kelas X dan sampel sebanyak 77 siswa yang ditentukan menggunakan teknik quota sampling. Instrumen yang digunakan adalah Toronto Alexithymia Scale (TAS-20) dan Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berada pada kategori alexithymia tinggi (53,2%), sedangkan tingkat kecanduan media sosial paling banyak berada pada kategori sedang (35,1%). Uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat alexithymia dengan kecanduan media sosial. Simpulan penelitian ini adalah alexithymia berhubungan signifikan dengan kecanduan media sosial. Saran bagi peneliti selanjutnya dapat memperluas cakupan variabel penelitian dengan mengkaji aspek psikologis lain yang berperan dalam kecanduan media sosial.
Hubungan Motivasi Dengan Self-Care Management pada Lansia Hipertensi di Puskesmas Tengaran: The Relationship Between Motivation and Self-Care Management in Elderly with Hypertension at Tengaran Community Health Center Yulia Eka Ariani; Suwanti
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.711

Abstract

Hypertension is a chronic disease commonly experienced by the elderly and requires continuous management through self-care management to prevent complications. However, the implementation of self-care management among the elderly is often not optimal. Motivation is an internal factor that plays an important role in encouraging elderly individuals to consistently engage in self-care behaviors. This study aimed to analyze the relationship between motivation and self-care management among elderly with hypertension at Tengaran Primary Health Center. This study employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The population consisted of 79 elderly individuals with hypertension, and all participants were included as samples using a total sampling technique. Data were collected using the HBP-SCP Motivation Scale and HBP-SCP Behaviour Scale questionnaires. Data analysis was conducted using Spearman Rank correlation test. The results showed that most elderly participants had moderate motivation (58 respondents; 73.4%) and moderate self-care management (63 respondents; 79.7%). Spearman Rank test show (p-value = 0.000 <0,05; r = 0.422) indicated positive and moderate strenght relationship between motivation and self-care management, indicated  a positive correlation with moderate strength.There is a significant relationship between motivation and self-care management among elderly with hypertension at Tengaran Primary Health Center. Therefore, improving motivation in elderly with hypertension is necessary use micro-habit approach.   ABSTRAK Hipertensi merupakan penyakit kronis yang banyak dialami lansia dan memerlukan pengelolaan berkelanjutan melalui self-care management untuk mencegah komplikasi. Namun, pelaksanaan self-care management pada lansia sering belum optimal. Motivasi merupakan faktor internal yang berperan penting dalam mendorong keterlibatan lansia dalam menjalankan perawatan diri secara konsisten. Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan motivasi terhadap self-care management pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Tengaran Penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 79 lansia dengan hipertensi, dan seluruh populasi dijadikan sampel menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner HBP-SCP Motivation Scale dan HBP-SCP Behaviour Scale. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar lansia memiliki tingkat motivasi pada kategori sedang sebanyak 58 responden (73,4%) dan self-care management juga pada kategori sedang sebanyak 63 responden (79,7%). Hasil uji spearman rank menunjukkan (p-value = 0,000 < 0,05 dan r= 0,422) untuk hubungan yang positif dengan kekuatan sedang antara motivasi dengan self-care management pada lansia dengan hipertensi di Puskesmas Tengaran. Terdapat hubungan yang signifikan atara motivasi dan self-care management pada lansia hipertensi di Puskesmas Tengaran. Oleh karena itu meningkatkan motivasi pada lansia dengan hipertensi perlu dilakukan dengan cara pendekatan kecil tapi konsisten (micro-habits)
Hubungan Paritas dengan Terjadinya Depresi pada Ibu Hamil di Puskesmas Krapyak Kidul Kota Pekalongan: The Relationship Between Parity and the Occurrence of Depression in Pregnant Women at the Krapyak Kidul Community Health Center, Pekalongan City Nurul Firdaus; Masruroh
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.717

Abstract

Pregnancy is a process in a woman's life that can cause physical and psychological changes that can increase the risk of mental health disorders, one of which is antenatal depression. Antenatal depression not only receives less attention, but data is also difficult to find. Nulliparous pregnant women tend to experience higher levels of mental health problems due to their first pregnancy and childbirth. The purpose of this study was to determine the relationship between parity and depression in pregnant women. This quantitative study used an observational analytical design with a cross-sectional approach. The study population was all pregnant women in their first and third trimesters at the Krapyak Kidul Community Health Center in Pekalongan City. The sample was drawn from a total population of 67 pregnant women. Data were collected using the EPDS questionnaire and analyzed using the Chi-Square test. The results of this study showed that nulliparous pregnant women had a higher risk of depression (65.5%) compared to primiparous/multiparous women (13.2%). The Chi-Square test showed a significant association between parity and depression in pregnant women, with a p-value of 0.000. This indicates a significant association between parity and depression in pregnant women, with nulliparous women at higher risk of depression than primiparous/multiparous women. Suggestions include providing prenatal counseling on healthy pregnancy planning and physical and psychological changes during pregnancy, including education on the signs and symptoms of depression during pregnancy, so that mothers can recognize their psychological condition early.   ABSTRAK Kehamilan adalah suatu proses dalam kehidupan seorang wanita yang dapat menimbulkan perubahan fisik dan psikologis yang beresiko menyebabkan gangguan kesehatan mental salah satunya depresi antenatal. Depresi antenatal selain kurang mendapat perhatian, juga datanya sulit ditemukan. Ibu hamil nullipara cenderung mengalami masalah kesehatan mental lebih tinggi karena menghadapi kehamilan dan persalinan pertama kali. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan paritas dengan terjadinya depresi pada ibu hamil di Puskesmas Krapyak Kidul Kota Pekalongan Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil Trimester I dan ibu hamil Trimester III di wilayah Puskesmas Krapyak Kidul Kota Pekalongan sebanyak 67 ibu hamil . Teknik pengambilan Sample total populasi yang berjumlah 67 ibu hamil. Pengumpulan data untuk variable depresi ibu hamil menggunakan lembar kuesioner EPDS dan data paritas diperolah dari buku KIA serta dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil dari penelitian ini didapatkan ibu hamil nullipara memiliki proporsi resiko depresi lebih tinggi (65,5%) dibandingkan dengan primipara / multipara (13,2%). Uji Chi-Square menunjukkan hubungan yang signifikan antara paritas dengan terjadinya depresi pada ibu hamil dengan p value = 0,000 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dengan kejadian depresi pada ibu hamil, dimana kelompok ibu hamil nullipara lebih beresiko mengalami depresi dibandingkan kelompok primipara / multipara. Saran memberikan konseling prenatal tentang perencanaan kehamilan sehat dan perubahan fisik dan psikologis selama kehamilan, termasuk didalamnya edukasi tentang tanda dan gejala depresi selama kehamilan, sehingga ibu dapat mengenali kondisi psikologisnya sejak dini.
Perilaku Menstrual Hygiene Management Yang Baik pada Remaja Putri dalam Menjaga Kebersihan Saat Menstruasi: Good Menstrual Hygiene Management Behavior in Adolescent Girls in Maintaining Cleanliness During Menstruation Dyah Ayu Puspitasari; Natalia Devi Oktarina
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.719

Abstract

Menstrual Hygiene Management (MHM) is an important aspect of adolescent reproductive health, especially in early adolescence when adolescent girls begin to experience menstruation. Poor menstrual hygiene practices can increase the risk of reproductive tract infections. Based on the results of the preliminary study, MHM's behavior is still not good, because adolescent girls have not received information about MHM practices. The purpose of this study is to find out the description of menstrual hygiene management behavior in adolescent girls at Al-Mas'udiyyah Putri Junior High School. This study uses a quantitative method with a descriptive research design. Data collection was carried out through an observational method using a structured questionnaire consisting of 22 question items related to menstrual hygiene management. The population in this study is all adolescent girls in grade VII who have experienced menstruation at Al-Mas'udiyyah Junior High School Putri. The research sample amounted to 120 respondents with a total sampling technique. Data analysis was carried out univariate to describe the characteristics of respondents and menstrual hygiene management behavior. The results showed that most of the respondents were 12 years old, namely 76 respondents. Based on menstrual hygiene management behavior, as many as 73 respondents (60.8%) were in the good category. Most of the young women at Al-Mas'udiyyah Putri Junior High School have good menstrual hygiene management behavior. Young women are expected to improve correct menstrual hygiene management  behavior, especially in the use of underwear, the use of sanitary pads, and the hygiene of the body, skin, and hair.   ABSTRAK Menstrual Hygiene Management (MHM) merupakan aspek penting dalam kesehatan reproduksi remaja, khususnya pada masa awal remaja ketika remaja putri mulai mengalami menstruasi. Praktik kebersihan menstruasi yang kurang baik dapat meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi. Berdasarkan hasil studi pendahuluan, perilaku MHM masih kurang baik, karena remaja putri belum mendapat informasi tentang praktik MHM. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran perilaku menstrual hygiene management pada remaja putri di SMP Al–Mas’udiyyah Putri. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui metode lembar observasional menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri dari 22 item pertanyaan terkait menstrual hygiene management. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas VII yang telah mengalami menstruasi di SMP Al–Mas’udiyyah Putri. Sampel penelitian berjumlah 120 responden dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan perilaku menstrual hygiene management. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 12 tahun, yaitu sebanyak 76 responden. Berdasarkan perilaku menstrual hygiene management, sebanyak 73 responden (60,8%) berada pada kategori baik. Sebagian besar remaja putri di SMP Al–Mas’udiyyah Putri memiliki perilaku menstrual hygiene management yang baik. Remaja putri diharapkan dapat meningkatkan perilaku menstrual hygiene management yang benar, khususnya dalam penggunaan pakaian dalam, penggunaan pembalut, dan kebersihan tubuh, kulit,dan rambut
Studi Analisis Kecemasan pada Remaja Putri dengan Obesitas di Kabupaten Semarang: Anxiety Analysis Study in Obese Adolescent Girls in Semarang Regency Trimawati; Mona Saparwati; Abdul Wahid
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.721

Abstract

Adolescent obesity is a growing public health problem worldwide and is associated not only with physical health consequences but also with mental health problems, particularly anxiety. Adolescent girls are more vulnerable to anxiety due to social and cultural pressures related to body image. This study aimed to examine the relationship between nutritional status based on body mass index (BMI) and anxiety levels among adolescent girls. This study employed a quantitative cross-sectional design. A total of 155 adolescent girls aged 15–18 years from SMAN 1 Bergas and SMAN 1 Tuntang were selected using proportional sampling. Nutritional status was assessed by measuring body weight and height to calculate BMI, while anxiety levels were measured using the Generalized Anxiety Disorder (GAD) questionnaire. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses, including Fisher’s Exact test. Most participants had normal nutritional status (58.7%), while 10.3% were overweight and 1.9% were classified as obese. The most common anxiety level was mild anxiety (37.4%), followed by moderate (26.5%) and severe anxiety (10.3%). Bivariate analysis revealed a significant association between nutritional status and anxiety levels (p < 0.001), with a clear trend of increasing anxiety severity as nutritional status progressed from normal to overweight and obesity. Nutritional status, particularly overweight and obesity, is significantly associated with higher anxiety levels among adolescent girls. These findings highlight the importance of integrated interventions addressing both obesity prevention and mental health promotion in adolescent populations.   ABSTRAK Obesitas pada remaja merupakan masalah kesehatan masyarakat yang semakin meningkat dan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kesehatan mental, khususnya kecemasan. Remaja putri merupakan kelompok yang lebih rentan mengalami kecemasan akibat tekanan sosial terkait citra tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) dengan tingkat kecemasan pada remaja putri. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah 155 remaja putri usia 15–18 tahun yang bersekolah di SMAN 1 Bergas dan SMAN 1 Tuntang, yang dipilih menggunakan teknik proportional sampling. Status gizi diukur melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk menghitung IMT, sedangkan tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Generalized Anxiety Disorder (GAD). Analisis data dilakukan menggunakan uji univariat dan bivariat dengan uji Fisher Exact. Mayoritas responden memiliki status gizi normal (58,7%), namun ditemukan 10,3% gizi lebih dan 1,9% obesitas. Tingkat kecemasan terbanyak berada pada kategori cemas ringan (37,4%), diikuti cemas sedang (26,5%) dan cemas berat (10,3%). Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan tingkat kecemasan (p < 0,001), dengan kecenderungan peningkatan tingkat kecemasan seiring meningkatnya status gizi dari normal menuju gizi lebih dan obesitas. Status gizi, khususnya gizi lebih dan obesitas, berhubungan signifikan dengan peningkatan tingkat kecemasan pada remaja putri. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik yang mengintegrasikan intervensi pengendalian obesitas dan dukungan kesehatan mental pada remaja putri.

Filter by Year

2019 2026