cover
Contact Name
Daniel Fajar Panuntun
Contact Email
niel398@gmail.com
Phone
+6285747332374
Journal Mail Official
jurnalkinaa@gmail.com
Editorial Address
Kantor IAKN Toraja, Jalan Poros Makale-Makassar KM 11,5, Lembang Bungtu Tangti, Kecamatan Mengkendek, Kab. Tana Toraja, Prov. Sulawesi Selatan.
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Kinaa: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat
ISSN : 27228819     EISSN : 27228827     DOI : https://doi.org/10.34307
KINAA merupakan istilah dari bahasa Toraja yang menunjukan suatu sifat kebijaksanaan. Kinaa merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin sehingga dapat menunjukan kepemimpinan yang baik, benar, dan berpengaruh. Jurnal Kinaa adalah Jurnal Jurusan Kepemimpinan Kristen IAKN Toraja. Jurnal ini akan membahas mengenai beragai artikel ilmilah mengenai kepemimpinan Kristen dan laporan ilmiah suatu kegiatan pemberdayaan, berdasarkan hal tersebut fokus jurnal ini membahas mengenai Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Jurnal ini memiliki fokus dan scope pada bidang artikel ilmiah yang berkaitan dengan Kepemimpinan Kristen dan juga laporan kegiatan pengabdian kepada warga Jemaat. Spesifikasi ranah kepemimpinan Kristen dan pengabdian kepada warga jemaat meliputi Kajian teks biblika PL atau PB mengenai Kepemimpinan Kristen Kajian histori mengenai Kepemimpinan Kristen Kajian Praktika mengenai Kepemimpinan Kristen Kajian-kajian sistematis yang dapat mengekpos ataupun menambahkan teori ataupun praktika mengenai kepemimpinan Kristen Laporan kegiatan yang ditulis secara sistematis berdasarkan aspek-aspek karya ilmiah mengenai pelayanan dan pemberdayaan jemaat
Articles 59 Documents
Peranan Pemimpin Gereja Bagi Jemaat Dalam Menjaga Keutuhan NKRI Dari Ancaman Radikalisme Harita, Novi Saria; Setiawan, David Eko
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 3 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v3i1.32

Abstract

Abstract:   Radicalism is an understanding or practice of a doctrine that is considered true and is also an extreme idea. This kind of understanding can be a threat to the sustainability of the nation, religion, ethnicity and race in Indonesia. This understanding arises because the values ​​of Pancasila are no longer implemented in the life of the nation and state. So what is the role of church leaders in maintaining the integrity of the Republic of Indonesia from the threat of radicalism in the lives of their congregations? To answer these questions, in this study the author uses a descriptive qualitative approach with the library method. The purpose of this study is to explain the role of a church leader in maintaining the integrity of the Unitary State of the Republic of Indonesia from the threat of radicalism to the congregation he leads. The results of this study are church leaders must provide guidance to local church members, encourage congregations to care for each other through deacon services and encourage congregations to be involved in the nationalism movement. Abstrak:  Radikalisme adalah paham atau pengamalan suatu doktrin yang dianggap benar dan juga merupakan gagasan yang ekstrim. Pemahaman seperti ini dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan bangsa, agama, suku dan ras di Indonesia. Pemahaman ini muncul karena nilai-nilai Pancasila tidak lagi diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Lantas bagaimana peran pimpinan gereja dalam menjaga keutuhan NKRI dari ancaman radikalisme dalam kehidupan jemaatnya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kepustakaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan peran seorang pemimpin gereja dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman radikalisme kepada jemaat yang dipimpinnya. Hasil dari penelitian ini adalah pemimpin gereja harus melakukan pembinaan terhadap warga gereja lokal, mendorong jemaat untuk saling peduli melalui pelayanan diakonia dan mendorong jemaat untuk terlibat dalam pergerakan nasionalisme.
Kepemimpinan Kapuangan Balusu dan Relevansinya Terhadap Peran Pandu Budaya Gereja Toraja Palamba', Simon
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 3 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v3i1.43

Abstract

Abstract: The Balusu are indigenous peoples who are in the kaparengesan leadership area who also apply the kapuangan leadership. This leadership model finds a unique form. In addition, this community context is the site of the presence of the Toraja Church. So, this article aims to review the leadership model of the kapuangan Balusu and build the Toraja Church response with the perspective of the role of cultural guides that has been rolled out since the holding of the Toraja Ma’kombongan which emphasizes that there has been a shift in values ​​and meanings in various Toraja cultural practices. This meeting proposed the reinterpretation and actualization of Toraja culture. Therefore, the Toraja Church is responsible for taking on a guiding role in each of its local contexts. We want to contribute to the discourse on reinterpreting Toraja culture, specifically the kapuangan leadership model. The description of this article involves qualitative research methods, namely literature studies and interviews with traditional leaders in Balusu. In the end, this article attempts to review the kapuangan leadership model in Balusu in relation to the role of cultural guides by the Toraja Church to carry out Christian transformation. Abstrak: Balusu merupakan masyarakat adat yang berada dalam wilayah kepemimpinan kaparengesan yang juga menerapkan kepemimpinan kapuangan. Model kepemimpinan ini menemukan bentuk unik. Selain itu, konteks masyarakat ini merupakan situs kehadiran Gereja Toraja. Maka, artikel ini bertujuan untuk mengulas model kepemimpinan kapuangan Balusu dan membangun Gereja Toraja dengan perspektif peran pandu budaya yang telah digulirkan sejak diselenggarakannya Toraja Ma’kombongan yang menandaskan bahwa telah terjadi pergesaran nilai dan makna dalam berbagai pelaksanaan budaya Toraja. Pertemuan ini mengusulkan reinterpretasi dan reaktualisasi budaya Toraja. Karena itu, Gereja Toraja bertanggung jawab mengambil peran pandu di masing-masing konteks lokalnya. Kami hendak memberikan sumbangsi diskursus reinterpretasi budaya Toraja, secara khusus model kepemimpinan kapuangan di Balusu. Uraian artikel ini melibatkan metode penelitian kualitatif, yakni studi pustaka dan wawancara dengan tokoh-tokoh adat di Balusu. Pada akhirnya, artikel ini berupaya untuk mengulas model kepemimpinan kapuangan di Balusu dalam kaitannya dengan peran pandu budaya oleh Gereja Toraja untuk melakukan transformasi kristiani.
Pembinaan Membaca Alkitab Dengan Baik Di SDN Inpres No 318 Padakka, Lembang Maroson, Kecamatan Kurra, Kabupaten Tana Toraja Sumiaty, Sumiaty
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 3 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v3i1.47

Abstract

Abstract: The purpose of this community service is to foster students of SDN Inpres No. 318 Padakka in reading the Bible well. The type of research in this service is Classroom Action Research (CAR) with a qualitative approach. This research was conducted at SDN Inpres No. 318 Padakka, Lembang Maroson. The subjects of this study were students of class V and VI with a total of 20 students. The methods are lecture, practice, and question and answer. Giving material content by explaining PUEBI, especially on the use of punctuation marks, explaining PUEBI material at the beginning of the activity is a strategy so that students can understand the use of punctuation well. Besides that, teaching aids such as Bible picture stories are also used so that students are more interested in reading the Bible. The research action design was carried out through 1 cycle in which there were four stages in the cycle, namely: a) observation, b) preparation of materials and teaching materials, c) implementation of activities, and d) monitoring. The result of the implementation of this coaching is that students are able to provide good responses, taking into account the material provided by the service team. Students can practice how to read the Bible well according to the explanations from the service team. The students are very enthusiastic about participating in the coaching, it can be seen when students play an active role in the coaching process. The success of this coaching is due to the ability of the service team in delivering and making interesting material so that students don't get bored.  Abstrak: Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk membina siswa SDN Inpres No 318 Padakka dalam membaca Alkitab dengan baik. Jenis penelitian pada pengabdian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Inpres No 318 Padakka, Lembang Maroson. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V dan VI dengan jumlah 20 siswa. Adapun metodenya yaitu ceramah, praktik, dan tanya jawab. Pemberian muatan materi dengan menjelaskan PUEBI khususnya pada penggunaan tanda baca, penjelasan materi PUEBI pada awal kegiatan merupakan strategi agar siswa dapat memahami penggunaan tanda baca dengan baik. Selain itu digunakan juga alat peraga seperti cerita bergambar Alkitab agar siswa lebih tertarik lagi dalam membaca Alkitab. Rancangan tindakan penelitian dilakukan melalui 1 siklus di mana pada siklus tersebut terdapat empat tahap yaitu: a) observasi, b) persiapan materi dan bahan ajar, c) pelaksanaan kegiatan, dan d) monitoring. Hasil pelaksanaan pembinaan ini adalah siswa mampu memberikan tanggapan yang baik, dengan memperhatikan materi yang diberikan oleh tim pengabdi. Siswa dapat mempraktikkan cara membaca Alkitab dengan baik sesuai dengan penjelasan dari para tim pengabdi. Para siswa sangat antusias mengikuti pembinaan, hal itu dapat dilihat saat siswa berperan aktif dalam proses pembinaan. Keberhasilan pembinaan ini tidak lain berkat kemampuan yang dimiliki oleh tim pengabdi dalam penyampaian dan pembuatan materi yang menarik sehingga para siswa tidak bosan.
Pemberdayaan DUIT:: Signifikansi Kepemimpinan Partisipatif Dalam Pemberdayaan Jemaat di Masa PPKM Pandemi Covid-19 Kawangmani, Soleman; Harjanto, Hery
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 3 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v3i1.49

Abstract

Abstract: The Covid-19 pandemic has hampered the ministry of church leaders to the congregation, including when implementing the PPKM policy. Mutual attention between congregations is also reduced. However, the emergence of the "Immanuel Tresno (DUIT) Public Kitchen" has eased the burden on the GKJ Immanuel congregation in Surakarta who was exposed to Covid-19. This research aims to explain the significance of participatory leadership through the DUIT forum in empowering the congregation during the PPKM Covid-19 pandemic. This research uses a qualitative approach with a case study method. Collecting data through interviews with DUIT managers and congregations served by DUIT and DUIT's written sources. The research was carried out from July to October 2021. The results of the research are that there are four main points of significance for participatory leadership, namely being responsive, active, effective, and creative in empowering the congregation during the PPKM Covid-19 pandemic to serve victims exposed to Covid-19. This finding is important to inspire leaders in their ministry to the congregation and other communities, especially during emergency situations. Abstrak: Pandemi Covid-19 membuat pelayanan pemimpin gereja kepada jemat mengalami hambatan termasuk saat penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).  Saling perhatian antar jemaat juga berkurang.  Namun munculnya wadah “Dapur Umum Immanuel Tresno (DUIT)”, telah meringankan beban jemaat GKJ Immanuel di Surakarta yang terpapar Covid-19. Penelitan ini bertujuan untuk menjelaskan signifikansi kepemimpinan partisipatif melalui wadah DUIT dalam pemberdayaan jemaat pada masa PPKM pandemi Covid-19.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data melalui wawancara kepada pengelola DUIT dan jemaat yang dilayani oleh DUIT dan sumber-sumber tertulis milik DUIT.  Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai Oktober 2021. Hasil penelitian yaitu adanya empat pokok signifikansi kepemimpinan partisipatif yaitu responsif, aktif, efektif, dan kreatif dalam memberdayakan jemaat di masa PPKM pandemi Covid-19 untuk melayani korban yang terpapar Covid-19. Temuan ini penting untuk memberi inspirasi kepada para pemimpin dalam pelayanannya kepada jemaat dan masyarakat lainnya terlebih ketika dalam situasi darurat.
Menilik Keberadaan Perempuan Sebagai Pemimpin Dalam Gereja: : Analisis Naratif Terhadap Teks Hakim-hakim 4-5 Randan, Sindy; Randan, Sandy
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 3 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v3i1.54

Abstract

Abstract: Women as leaders are often underestimated and considered incapable of leading. In this regard, it can be seen that women are still under the shadow of a patriarchal culture that places men as rulers. This ideology regards women as second-class citizens. In various fields, women's space for movement is limited, such as in the world of leadership. This is because there is an assumption that men are entitled to lead. This is happening not only in the secular world but also in the Christian world. Often this is the reason for limiting and not having space for women to become leaders. Deborah as a judge in Judges 4-5 represents how God chose a woman to be a leader. This paper was written through a narrative analysis of Judges 4-5 to respond to these problems. Readers can understand that a person's effectiveness in leading is not based on gender. Therefore, this study concludes that the church should provide space and opportunity for women to become leaders. In leadership, it is not about who has the right to lead, but how the leader can influence and impact the organization he leads. Abstrak:   Perempuan sebagai seorang pemimpin seringkali dipandang sebelah mata dan dianggap tidak mampu memimpin. Berkaitan dengan hal tersebut dapat dilihat bahwa perempuan masih di bawah bayang-bayang budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai penguasa. Ideologi ini menganggap perempuan sebagai warga kelas dua. Dalam berbagai bidang ruang gerak perempuan dibatasi, seperti dalam dunia kepemimpinan. Sebab adanya anggapan bahwa yang berhak memimpin adalah laki-laki. Ini terjadi tidak hanya di dunia sekuler, tetapi juga di dunia Kristen. Seringkali ini menjadi alasan untuk membatasi dan bahkan tidak adanya ruang bagi perempuan untuk menjadi pemimpin. Debora sebagai hakim dalam Hakim-Hakim 4-5 mewakili bagaimana seorang perempuan yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi seorang pemimpin.  Tulisan ini ditulis melalui analisis naratif kitab Hakim-Hakim 4-5 dengan tujuan untuk merespon permasalahan tersebut. Pembaca dapat memahami bahwa efektivitas seorang dalam memimpin tidak didasarkan pada gender. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa gereja seharusnya memberikan ruang dan kesempatan kepada perempuan untuk menjadi pemimpin. Dalam kepemimpinan soal bukan siapa yang berhak memimpin, tetapi bagaimana pemimpin tersebut dapat berpengaruh dan memberi dampak di dalam organisasi yang dipimpinnya.
Implementasi Pelatihan Metode Baca Gali Alkitab (BGA) Berbasis Genre Kitab bagi Anak Asrama GBI Rock Sikakap Hutahaean, Hasahatan; Mangentang, Matheus; Wibowo, Moses; Pakpahan, Rugun
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 3 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v3i2.68

Abstract

Abstract: Reading activities, and digging into the Bible are believed to be able to form a strong, fresh, and swift spirituality amid the congregation. Both categorical children, adolescents, adults, and the elderly because the Bible is the Word of God that can transform people in the work of the Holy Spirit. This study aims to find the right method to give to the younger generation is facing an era that is constantly advancing, and changing but in that, but it has a good and bad impact at the same time. Of course, it is bad if faith is not solid. The activity was carried out by the workshop method by providing Bible Reading (BGA) training to GBI Rock dormitory children in South Pagai, Mentawai Islands. The result seems to arouse the curiosity of the younger generation in reading and meditating on God's Word. Together with this passion, faith with good quality, bibles, and is believed to be swift to walk the future. Abstrak: Kegiatan membaca, menggali Alkitab diyakini mampu membentuk kerohanian yang kuat, segar dan sigap di tengah-tengah jemaat. Baik kategorial anak, remaja, dewasa hingga warga lansia sebab Alkitab adalah Firman Allah yang sanggup mengubah manusia dalam karya Roh Kudus. Penelitian ini bertujuan menemukan metode yang tepat untuk diberikan kepada generasi muda dalam menghadapi zaman yang terus-menerus maju, berubah namun memberi dampak baik dan buruk sekaligus. Tentu berdampak buruk jika iman tidak kokoh. Kegiatan dilakukan dengan metode workshop dengan memberikan pelatihan Baca Gali Alkitab (BGA) kepada anak asrama GBI Rock di Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai. Hasilnya tampak menggugah keingintahuan generasi muda dalam membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Bersama dengan gairah tersebut tumbuh juga iman dengan kualitas yang baik, biblis dan diyakini sigap untuk menapaki masa depan.
Urgensi Kepemimpinan Kristen di Era Society 5.0 Topayung, Semuel Linggi
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 3 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v3i2.70

Abstract

Abstract: At this time, all aspects of each individual's life will be supported by technology. Industrial revolution 4.0 is not over yet, now Society 5.0 has arrived. This shows that the changing times, and the development of culture, is a reality that the church must face. How the role of church leaders in dealing with these challenges is highlighted. To answer this, the author uses a descriptive qualitative approach that is seen from the existing phenomena, either directly or through other literature. The role of leaders in providing spiritual guidance is so very important, church leaders must return to their functions to preach, teach, and serve as a form of love for God and fellow human beings. Church leaders must realize that the use of technology in church services is not necessarily accepted by all circles. All the conveniences presented in technology media have an impact on the growth of the congregation. Christian leaders must set an example for the congregation by being an example in their lives, and providing spiritual and social guidance. Abstrak: Pada masa ini, seluruh sendi kehidupan setiap individu hendak disokong oleh teknologi. Belum usai Revolusi industri 4.0, kini telah hadir Society 5.0. Hal tersebut menunjukkan, bahwa perubahan zaman, perkembangan budaya, merupakan suatu kenyataan yang harus dihadapi gereja. Bagaimana peran pemimpin gereja menghadapi tantangan tersebut begitu sangat disorot. Untuk menjawab hal tersebut, penulis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilihat dari fenomena yang ada, baik secara langsung ataupun melalui literatur lainnya. Peran pemimpin dalam memberikan pembinaan kerohanian begitu sangat penting, pemimpin gereja mesti mengembalikan kepada fungsinya untuk memberitakan, mengajarkan, dan melayani sebagai bentuk kasihnya kepada Tuhan dan sesama manusia. Pemimpin gereja mesti menyadari bahwa, penggunaan teknologi dalam layanan gereja tidak serta-merta diterima semua kalangan. Semua kemudahan yang tersaji dalam media teknologi, berdampak juga kepada pertumbuhan jemaat. Pemimpin Kristen mesti memberikan keteladanan kepada jemaat dengan menjadi contoh dari kehidupannya, memberikan bimbingan rohani, dan juga sosial.
Respon Pertobatan Daud sebagai Pemimpin dan Relevansinya bagi Pelaksanaan Tradisi Mandaka’ Penaa di Kurra, Tana Toraja Natalia, Sumiati Putri; Bunga, Sepriadi; Tanggo, Iren
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 3 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v3i2.73

Abstract

Abstract: This study aims to reveal Daud's repentance as a leader and its relevance to the implementation of the mandaka' penaa tradition. The benefit of this writing is first to link leadership to calls for repentance from the Christian tradition with local traditions. Second, it can conserve local cultural traditions through their relation to Christian values. Third, adopting local culture as a wealth that is preserved by the church as an institution and as a believer. To achieve the research objectives, this research uses qualitative research methods with ethnographic and theological research types. The data collection was carried out, namely by literature study and interviews. The analysis uses Miles Huberman's interactive analysis which consists of data collection, data condensation, data presentation, and drawing conclusions. This research was conducted in Ratte Village, Kurra District, Tana Toraja Regency. Sources of data in this study, namely primary data and secondary data. The results of the study show that the response of King David's confession of repentance to the warning of Prophet Nathan is relevant to the mandaka' penaa tradition carried out by the Kurra people. This is supported by the acknowledgment of the source that the confession of guilt/sin that the sick person makes is not confessing to gods or ancestors but to God. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pertobatan Daud sebagai pemimpin dan relevansinya bagi pelaksanaan tradisi mandaka’ penaa. Manfaat dari penulisan ini adalah pertama mengkaitkan kepemimpinan terhadap seruan pertobatan dari tradisi kekristenan dengan tradisi lokal. Kedua, dapat melakukan konservasi tradisi budaya lokal melalui keterkaitannya dengan nilai-nilai kekristenan. Ketiga, mengadopsi budaya lokal sebagai satu kekayaan yang dilestarikan oleh gereja sebagai institusi dan orang percaya. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian etnografi dan teologis. Adapun pengumpulan data yang dilakukan, yaitu dengan studi pustaka dan wawancara. Analisis menggunakan analisis interaktif Miles Huberman yang terdiri atas pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Ratte, Kecamatan Kurra, Kabupaten Tana Toraja. Sumber data dalam penelitian ini, yaitu data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon pengakuan pertobatan Raja Daud terhadap peringatan Nabi Natan relevan dengan tradisi mandaka’ penaa yang dilaksanakan oleh masyarakat Kurra. Hal ini didukung oleh pengakuan narasumber bahwa pengakuan salah/dosa yang orang sakit utarakan bukan mengaku kepada dewa atau nenek moyang akan tetapi kepada Tuhan.
Analisis Konsep Kepemimpinan Gembala Berdasarkan Injil Yohanes 10:1-18 dan Implikasinya Terhadap Tanggungjawab Pendeta Gereja Napa', Uli
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 3 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v3i2.74

Abstract

Abstract: The reality in the realm of Church Pastor leadership at this time, what is happening is that there is still a lack of understanding of the values ​​of their vocation as leaders of the congregation, so actualization is still very limited and there is a lack of commitment. In responding to this problem, the transformation process is very necessary for Pastors who are leaders in the congregation how to really explore the call from God as told in the Gospel of John 10:1-18. Therefore, this paper aims to understand how the concept of Shepherd leadership based on the Gospel of John 10:1-18 relates to the responsibilities of the church Pastor as a leader in the congregation. The research method used in this research is qualitative research. The approach used is descriptive analytic. Furthermore, at the end of this paper it is concluded that the concept of pastoral leadership according to the Gospel of John 10:1-18 is one of the leadership concepts that is urgently needed by today's Pastors in the congregation as a reference and guideline to lead and build congregations to get closer, know and discover peace and prosperous. Abstrak: Realita dalam ranah kepemimpinan Pendeta Gereja pada saat ini, yang terjadi adalah masih kurangnya pemahaman akan nilai-nilai panggilan mereka sebagai pemimpin warga jemaat, sehingga dalam mengaktualisasikannya masih sangat terbatas. Dalam menanggapi persoalan tersebut, proses transformasi sangatlah perlu dari Pendeta yang adalah pemimpin dalam jemaat bagaimana sesungguhnya mendalami panggilan dari Allah itu. Peneliti mengangkat topik ini yaitu dengan tujuan untuk memahami bagaimana konsep kepemimpinan Gembala berdasarkan injil Yohanes 10:1-18 dan implikasinya terhadap tanggungjawab Pendeta gereja sebagai pemimpin dalam jemaat. Adapun metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Pada bagian akhir tulisan ini, penulis memberikan kesimpulan bahwa konsep kepemimpinan gembala menurut injil Yohanes 10:1-18 merupakan salah satu konsep kepemimpinan yang sangat dibutuhkan oleh Pendeta untuk diimplikasikan dalam jemaat yaitu sebagai acuan dan pedoman memimpin dan membangun jemaat untuk semakin dekat, mengenal dan menemukan damai sejahtera.
Karakter Gembala sebagai Pemimpin Jemaat dalam Membangun Spiritualitas Jemaat Pada Kristus Berdasarkan Surat 1 Timotius 3:1-7 Angelina, Claudia; Santosa, Monica; Pasra, pasra
KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Vol. 3 No. 2 (2022): Desember 2022
Publisher : IAKN TORAJA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kinaa.v3i2.88

Abstract

Abstract: A church leader or more precisely a pastor is known for his integrity which is able to influence and direct others to achieve a goal that leads to a life that pleases both humans and God. However, it is still found that church leaders or pastors do not understand their duties as leaders based on the teachings of Jesus Christ. This research aims to provide an explanation of the character that a church leader must have in directing and developing the potential of the younger generation in leading and having a close relationship with God. In this study, the author uses a text analysis method that focuses on the text itself and is compared with other texts in the Bible, journals, and others that can support the author in completing this article well and hopefully will provide benefits in the ministry of a servant of God. In 1 Timothy 3:1-7, the author suggests that there are eleven characters that must be possessed by a church leader, namely: flawless, able to hold back, wise, polite, likes to give hospitality, proficient in teaching, not drinking, not grumpy, peacemaker, not a slave to money, not arrogant. Abstrak:  Seorang pemimpin gereja atau lebih tepatnya seorang gembala dikenal dengan integritasnya yang mampu mempengaruhi dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan yang mengarah pada kehidupan yang menyenangkan manusia dan Tuhan. Namun masih ditemukan pemimpin gereja atau gembala yang kurang memahami tugasnya sebagai pemimpin berdasarkan ajaran Yesus Kristus. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin gereja dalam mengarahkan dan mengembangkan potensi jemaat dalam memimpin dan menjalin hubungan yang erat dengan Tuhan. Dalam penelitian ini, penulis mengunakan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif analisis dengan eksposisi teks Alkitab terhadap 1 Timotius 3:1-7. Melalui analisa teks ini, diharapkan dapat memberikan suatu pemahaman yang jelas bagi gembala sebagai pemimpin jemaat untuk memiliki karakter dalam membangun spiritualitas jemaat pada Kristus berdasarkan Surat 1 Timotius 3:1-7 Dalam 1 Timotius 3:1-7, penulis mengemukakan bahwa ada sebelas karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin gereja, yaitu: tidak bercela, dapat menahan diri, bijaksana, santun, suka memberi tumpangan, pandai mengajar, tidak peminum. , tidak pemarah, pembawa damai, bukan budak uang, tidak sombong.